Haaahhhh…. Akhirnya dibuat juga chap 2. Capek juga sih buatnya. Kubales dulu reviewnya:
Miyu201: Makasih atas reviewnya, selamat membaca ya….
Ya udah, kita mulai aja cerita…
TentenHolic: Tunggu dulu.
Me: Apa, sih?
TentenHolic: Loe harus review punya gw dulu!
Me: Kan udah yang headmaster sucks….
TentenHolic: Lebih banyak…..
Me: Gak, ah. Cape….-tidur dengan sukses-
TentenHolic: BANGUNNNNNNN!! BEGO!!-jitak kepala-
……
Udah, mulai aja!
Chap.2
Suna 23 November 2005
"Kemana mereka? Bukannya mereka sedang ada di kamar?"tanya petugas kepada bos mereka.
"Entahlah, sepertinya mereka ada di Konoha…."jawab anak sulungnya.
"Masa, sih?"tanya gadis berkacamata yang berada di sebelah gadis berambut panjang.
"Kalau begitu, cari mereka."pinta bos mereka.
"Baik."
Konoha….
"Aduh, berat banget, nih."seru Hinata yang sedang mengangkat belanjaannya.
"Sini, biar kubantu."jawab Naruto.
"Ma….makasih, Naruto-kun."
Ketika sedang memberi barang, tiba-tiba…
DUUG
"Akh, sakit."ujar Hinata.
"Ma….maaf."seru gadis itu.
Hinata terkejut ketika melihat wajahnya.
"I….ibu…"seru Hinata.
"Hinata?"tanya gadis itu.
"IBU!"
"Hinata…kau sudah besar, ya."seru gadis itu sambil memeluk Hinata.
"I…itu ibunya. Manis sekali."batin Naruto.
"NARUTO!"
"Kak…Pein…"seru Naruto.
"Dari mana saja kau?"tanya Pein.
"Aku membantu Hinata belanja."jawab Naruto.
Pein pun menoleh ke arah Hinata dan ibunya.
"Ka…kau…?"
"PEIN??"
"KONAN??"
"Lama tak bertemu!"seru Pein.
"Iya, aku juga."jawab Konan.
"I..ibu kenal dia?"tanya Hinata.
"Iya, dia teman ibu."jawab Konan.
"HAH? Teman?"seru Naruto.
"Ya."jawab Pein.
"Ayo, kita ke rumah."ajak Konan.
Rumah Hinata..
"Wahhh, kangen banget rasanya..."seru Hinata.
"Lu...luas sekali..!"batin Naruto.
"Hinata, bantu mama masak, dong."teriak Konan.
"Ya!"
Konan mulai mencentikkan jari dan keluarlah api untuk memasak.
"Uwa, hebat. Api keluar dari jari sendiri."puji Naruto.
"Ya, entah kenapa, tiba-tiba keluar saja."jawab Konan.
"Sejak kapan?"tanya Naruto.
"3 SMA."
"Oh.."
Malam hari...
"Kak Pein nggak tidur?"tanya Naruto.
"Gak. Kamu tidur saja, mungkin aku agak malam."jawab Pein.
"Ya sudah."
RRRRR
"Uzumaki."jawab Pein.
"Pein, ini aku."seru penelepon.
"Oh, kau. Ada apa?"tanya Pein.
"Kau lihat, dia sudah tumbuh besar. Bagaimana kalau kau katakan yang sebenarnya?"tanya dia.
"Jangan, nanti saja memberitahunya. Bisa-bisa citraku sebagai ayah bisa rusak."jawab Pein.
"Ih, kau seperti biasanya, pandai melucu. Tapi, apa Hinata akan sedih?"serunya.
"Tak apa, Naruto akan terus menjaganya."jawab Pein.
"Ya, baiklah."
"Sudah lama aku tak bertemu denganmu, kau makin lama makin cantik, Konan."puji Pein.
"Kau juga, makin lama makin tampan."seru Konan.
"Ah, bisa saja."
Pagi hari di markas Jiraiya.
"AAAKKKHHHH! SATORU!! Jangan beritahu!!"teriak Jiraiya.
"Eh, papa. Katanya paman Jiraiya pernah ngintip mama waktu mandi di hotel."seru Satoru ke ayahnya.
"YANG BENAR??"teriak semua.
"Ya, kalau nggak percaya, tanya ke paman Jiraiya saja."jawab Satoru sambil menunjuk ke arah Jiraiya.
Jiraiya sweatdropp.
"Mati gw..."batin Jiraiya.
"Jiraiya..."seru Sasuke.
"Apa...Sasuke...?"tanya Jiraiya gemetar.
"BERANI-BERANINYA KAU MENGINTIP ISTRIKU!!"teriak Sasuke sambil menunjukkan jari tengahnya.
"WAAAAA!! JANGAN DONG! ITU JUGA NGGAK SENGAJA!"Jiraiya memohon ke Sasuke dengan puppy eyes.
"CHIDORIIIIIII!!"
"TIDAKKKKKKKKK!!"
"Hei kalian, jangan ribut. Neji lagi-lagi..."seru Tenten yang melihat Sasuke dan Jiraiya sedang jambak-jambakan rambut.
"Eh?"
"UKHHH!! Kepalaku..."rintih Neji.
"Neji, bertahanlah..."seru Tenten.
Neji mengeluarkan byakugannya.
"Dia...apa yang akan di lukisnya?"batin Jiraiya.
Gambar itu menunjukkan Gaara sedang memegang pedang dan bertarung dengan monster aneh.
"Ga...gaara..."seru Kankurou.
"Bagaimana caranya aku bisa menemukan pedang itu?"tanya Gaara.
"Di museum."jawab Satoru.
"Eh?"
"Aku sudah mengendalikan benda yang ada di kota ini, dan pedang itu ada di museum."jelas Satoru.
"Wah! Anak pintar, beda banget sama bapaknya."Jiraiya memuji Satoru dan mengejek Sasuke.
"Kau..."
"TIDDAAKKK!!"teriak Jiraiya.
"Hah...mulai lagi, deh."seru Naruto.
"Kenapa aku harus sama si bokep? Tapi kalau sama Itachi sih, nggak apa-apa."seru Gaara dengan stress.
"Jiraiya berkata kita bentuk kelompok dan bagi 3 orang. Naruto Hinata Pein, Jiraiya Tenten Neji, Sasuke ama keluarga tercinta, lalu kita bertiga."jelas Itachi.
PIP PIP
"Panggilan dari Naruto."seru Kankurou.
"Kalian, apa kalian tahu Dr.Orochimaru?"tanya Naruto.
"Dr.Orochimaru?"tanya Gaara.
"Aku...rasanya aku pernah bertemu dengannya."seru Itachi.
"Benarkah?"
"Ya... dia hero yang bisa menyembuhkan para heroes yang terkena luka dari serangan Sylar."jelas Itachi.
"Kalau kalian tahu dia dimana, tolong panggil Jiraiya."
"Baik."
Otogakure.
"Dokter, kelihatannya pasiennya sudah sembuh."seru Kabuto.
"Ya sudah. Kau yang praktek berikutnya, kan? Aku ingin pulang."jawab Orochimaru.
"Ya."
Ketika tidur, Orochimaru bermimpi aneh..
"Aku dimana?"tanya Orochimaru.
"Kau berada di mimpimu."jawab seorang gadis kecil di depannya.
"Siapa kau?"tanya Orochimaru.
"Aku Hanabi. Mari ikut denganku."ajak Hanabi.
"Ya."
"Lihat, apa yang terjadi dengan pasienmu?"tanya Hanabi.
Orochimaru melihatnya dengan seksama dan ia terkejut.
"A...apa?"tanya Orochimaru.
"Benar, pengikutmu, Suigetsu, telah membunuhnya."jawab Hanabi.
"Ta...tapi kenapa?"tanyanya.
"Karena pasienmu telah membunuh orangtuanya."jawab Hanabi tanpa ekspresi.
"Eh?"
"Aku pernah masuk ke dalam mimpinya, ia melihat orangtuanya dibunuh, tapi temanmu, Kabuto menolongnya."
"Begitu."seru Orochimaru.
"Ingatlah, kita akan selalu bertemu pada mimpimu. Buat dirimu berguna."seru Hanabi.
"Ya."
Pagi hari, bandara Otogakure.
"Dokter, aku terkena luka cukup parah, tolong datang ke restoran Ichiraku"
"Ya, aku segera datang, Tuan Teuchi."
"Terima kasih."
Ketika selesai bertelepon, Orochimaru melihat Hanabi.
"Ka...kau.."
Hanabi hanya tersenyum kecil.
"Berjuanglah!"serunya.
"Ya."jawab Orochimaru dengan tegas.
TING TONG
" Gerbang Pesawat KA344 menuju Konoha telah dibuka"
"Dokter..."seru Kabuto.
"?"
"Semoga sukses. Mungkin suatu hari aku akan datang."
"Thank You."
Naruto sedang terbang untuk mencari Orochimaru di sekitar bandara.
"Ah, itu dia."batin Naruto.
Naruto pun turun.
"Dr.Orochimaru!"teriak Naruto.
"Siapa kau?"tanya Orochimaru.
"Aku Naruto, tolong ikut denganku."seru Naruto.
"Maaf, aku sedang ada pasien."jawab Orochimaru.
"Tolong ikut denganku sebentar."pinta Naruto.
"Maaf, aku tidak ada niat."seru Orochimaru.
"Tolonglah, ini perintah Jiraiya."Naruto memohon kepadanya.
"Jiraiya? Jiraiya yang berambut putih itu?"tanya Orochimaru.
"Ya!"jawab Naruto.
"Baiklah, tapi, aku harus pergi ke tempat pasienku di restoran Ichiraku."jawab Orochimaru.
"Tak apa, nanti kuberi tahu."
"Terima kasih."
TING TONG
"Ya, siapa?"tanya Teuchi.
"Ini aku, Dr.Orochimaru."jawab Juugo yang menyamar sebagai Orochimaru.
"Begini, aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku."jelas Teuchi.
"Biar kubantu."
"Naruto, kau menemukannya?"tanya Sasuke.
"Ya!"jawab Naruto.
"Ngomong-ngomong, Gaara dan Kankurou sudah ada di museum belum, ya?"tanya Tenten.
Di museum...
"Gaara, itu pedangnya."seru Kankurou.
"Lho, Itachi mana?"tanya Gaara.
"Dia sudah balik ke markas, katanya dia agak males ke sini."
"Hm."
"Bagaimana ini? Banyak petugas keamanan!"tanya Kankurou.
"Terpaksa..."
Gaara mulai memejamkan matanya dan orang-orang yang berada di sana diam seperti patung.
"Gaara, cepatlah. Waktunya hanya 5 menit."seru Kankurou takut.
"Ya, sebentar."jawab Gaara.
"Bagus, kita KABUR!!."teriak Kankurou.
Tiba-tiba ada mobil yang menghampiri mereka.
"Siapa kalian?"tanya Gaara.
"Tuan Muda, anda di panggil oleh bos."jawab mereka sambil membawa Gaara dan Kankurou ke dalam mobil.
"Tuan muda? Bos? Aku tak menger...Ayah, Temari Nee-san, Na-chan, Sasa-chan."seru Gaara.
HAH
"Gawat, kak Gaara dan kak Kakurou tertangkap."seru Satoru.
"APA??"teriak mereka.
"Tapi, biarkan saja."jawab Satoru.
"Kenapa?"
"Karena ayahnya akan melatih mereka untuk melawan Juugo."seru Neji.
"Terserah. Yang penting mereka selamat."ujar Naruto.
Restoran Ichiraku.
TING TONG
Juugo keluar dari dapur setelah menyembunyikan mayat Teuchi dan menghampiri Orochimaru.
"Permisi, apa anda Tuan Teuchi?"tanya Orochimaru.
"Ya, benar."jawab Juugo.
"Suara anda, sepertinya agak berbeda ketika anda menelepon saya."ujar Orochimaru.
"Itu...tenggorokkan saya agak sakit."jawabnya.
"Oh, apa saya boleh minta darah anda?"tanya Orochimaru sambil memberikan jarum suntik.
"Ya, sebentar."
Di dapur, Juugo mengambil darah Teuchi yang ia sembunyikan.
"Ini, darahnya."seru Juugo.
"Terima kasih. Aku pergi dulu."ujar Orochimaru.
"Ya."
Akhirnya chap 2 selesai, tadinya pengen yang baru, tapi katanya nanti. Makasih buat sasaji karena udah ngebantuin aku buat bikin cerita ini.
Tentenholic: Cerita apaan nih? Kurang seru!! Seruan dikit kenapa?? Boring liat ceritanya. APALAGI MUKANYA!! Yang ngeliat pada meluncur...
Me:eh, lu ama kakak gitu banget yeh..muka lu sendiri gimana?? Dasar KNALPOT!!
Tentenholic:Masa bodo ama muka, yang penting hati nih baik...-digebuk ama anggota FBI-
Review tak diwajibkan, tapi sebaiknya Give me REVIEW!!
