FF DraRry
The Wind Contractor
Title : The Wind Contractor
Summary : setahun setelah perang besar berlalu, draco malfoy menghilang dari dunia sihir tanpa jejak sedikit pun. 3 tahun kemudian, suatu kejadian yang aneh memaksa Harry agar mencari pewaris Malfoy itu. Namun, ia terkejut ketika menemukan pemuda bisa mengendalikan angin dan seorang anak yang berumur 6 tahun terlihat persis sepertinya.
Genre : fantasy, romance, (gak pandai nentuin genre)
Cast : DMHP, RWHG, etc.
Rating : untuk saat ini T
Warning : boys love, A little bit ooc, garing, alur cerita agak membosankan, gaje, many typo(s), saat perang besar kedua, fred memang meninggal namun Severus Snape tidak meninggal. Beliau selamat. Remus dan Sirius juga selamat.
Disclaimer : Harry Potter hanya milik bu J.K Rowling tercinta. Tapi plot cerita ini milikku. Buk, minta izin minjam ya…XD XD XD
o.O.o
Suara ketukan itu kembali terdengar. Kali ini bukan dari jendela kamarnya. Melainkan dari beranda balkon kamarnya. Merasa penasaran, ia berjalan ke arah balkon dan membukanya.
Sesaat tidak ada yang terjadi. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali terkejut untuk yang entah ke berapa kalinya hari ini.
Draco Malfoy melayang di balkonnya. Benar-benar melayang.
o.O.o
Part 2
"ma.. Malfoy.." jerit Harry tertahan. Ia menatap pemuda di hadapannya tanpa berkedip. Pemuda berambut Platinum itu masih sama seperti yang di ingatnya. Rambut pirang platinum nya masih tampak lembut. Ekspresi sombong masih terpasang di wajahnya. Namun Harry yakin ada yang berubah darinya. Malfoy yang ini terlihat lebih tampan, lembut dan kejam pada saat yang sama. rahangnya terlihat makin kokoh. Pundaknya juga terlihat lebar dari terakhir kali Harry melihatnya. Dan yang paling aneh adalah bentuk telinganya. Yah bukan berarti pakaian yang di kenakannya tidak terlihat aneh. Pakaian yang di pakainya seolah-olah terbuat dari perak.
Malfoy hanya menatap Harry datar seolah tak tertarik. Ia mendarat di beranda Harry dan langsung menerobos masuk, berjalan ke arah eragon yang kelihatannya sudah tertidur. Di belakangnya beberapa orang berjubah putih mengikutinya.
"apa yang kau lakukan, Malfoy? Mereka siapa?" Harry mengikuti Malfoy yang berjalan ke arah tempat tidurnya.
"mengambilnya kembali." Jawab Malfoy.
Suaranya berdenting bagaikan lonceng. Harry terdiam sejenak, baru kali ini ia mendengar suara semerdu itu. Bagaimana mungkin itu suara malfoy? Ia sudah mengenal Malfoy 7 tahun selama di Hogwarts dan setaunya suara pria di hadapannya lebih mirip piring pecah. "a.. apa yang terjadi padamu? Mengambil apa? Dan mereka siapa?"
"kau bertingkah seperti ikan dengan mulutmu yang terbuka dan tertutup itu, Potty. Menjijikkan."
Ya ampun, suaranya bahkan masih merdu ketika mengejek Harry. Harry menggelengkan kepala pelan, mencoba berkonsentrasi.
Malfoy membungkuk di samping tempat tidur dan menggoyangkan tubuh Eragon Perlahan. "Yang Mulia, " panggil nya pelan.
Yang mulia? Ok. Harry benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Kenapa Malfoy memanggil Eragon dengan Kata Yang Mulia?
"hmm.. " Eragon Perlahan membuka kedua matanya dan mengerjap pelan. "ah, Draco sudah datang,,"
Malfoy hanya mengangguk pelan.
"kembali besok. Aku tidak ingin pulang." Jawab eragon. Ia menarik selimutnya dan menyembunyikan kepalanya di baliknya.
"tapi yang mulia.." Malfoy mencoba membantah.
"kau yang meninggalkanku. Aku lelah dan aku ingin tidur." Eragon membuka selimutnya. Dia duduk dan menghadap beberapa orang berjubah putih tadi. "Sequere me decretum est."
"sequens Disciplinam tibi, nobile" Orang-orang berjubah itu membungkuk dan menjawab dengan serentak.
Harry mengernyit. Bahasa apa itu?, pikirnya. Ia belum pernah mendengar bahasa itu sama sekali. Mereka siapa? Apa yang terjadi disini? Harry sangat membenci situasi dimana ia tidak tahu apapun. Ia merasa seperti orang bodoh sekarang.
"cih." Malfoy mengumpat pelan. "terserah kau saja." Ia bangkit dan berjalan kembali ke arah beranda.
Ehh? Apa yang terjadi disini? Kenapa mendadak sikap malfoy berubah?
"hoy Potty?"Malfoy berbalik dan menghadap Harry.
"a.. apa?"
"aku titip bocah nakal itu dulu. Kalau dia tergores sedikit saja, kau mati." Kata Malfoy dengan nada mengancam.
"kau pikir kau siapa bisa mengancamku?" jawab Harry dengan nada kesal. Siapa yang tidak kesal bila kau tidak tahu apa yang terjadi dan mendadak musuh(?)mu mengancammu dengan nada serius? Jangan bercanda!
"kau tidak tahu apapun, Potter." Balas Malfoy. Ada nada lelah di suaranya. Ia berbalik ke arah orang-orang berjubah. "ayo pergi." Perintahnya tegas.
"Yang mulia, Anda yakin meninggalkan Raja Agung disini?" Kata salah seorang dari kerumunan itu.
"bocah itu yang minta." Balas Draco singkat. "kalian duluan saja. Laporkan pada para pendeta, dia sudah di temukan."
"tapi yang mulia.."
"ire!" Perintah Malfoy.
Para kerumunan itu tampak masih kurang yakin.
Malfoy mendesah. "tidak apa-apa. Dia kenalanku. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya sebentar."
Para orang berjubah itu membungkuk dan berjalan ke beranda lalu melayang pergi.
"hoy Potter. Kau punya FireWhiskey?"
o.O.o
Harry tak mengerti kenapa ia bisa mengiyakan Bloody-Fucking-Malfoy. Mungkin karena suaranya yang mendadak jadi merdu atau karna ia punya banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada sosok di sampingnya sekarang. Sosok yang sedari tadi hanya memainkan gelasnya setelah tegukan pertamanya. Tapi bisa jadi karna ia hanya penasaran.
Harry meneguk Firewhiskey di gelasnya. Ia meresap pelan rasa pahit yang khas dari firewhiskeynya. Ia ingin memulai percakapan tapi tidak tau harus mulai dari mana. Dia sudah mulai muak dengan suasana hening sejak mereka berdua berakhir di bar mini miliknya.
"orang tuaku.. " tanpa disangka, yang terlebih dahulu memecahkan keheningan mencekam itu adalah Sosok di sampingnya ini. Pemuda itu hanya menatap gelas di hadapannya. "mereka baik kan?"
"hmm. Mereka baik." Jawab Harry Singkat.
"ah.,"
"kenapa kau tidak pulang? Mereka benar-benar mengkhawatirkanmu."
"tidak bisa"
"kenapa?"
"bukan urusanmu."
"cih" Harry mengumpat pelan. "kau masih menyebalkan seperti dulu."
"terima kasih" balas Malfoy dengan santai.
"aku tidak memujimu, bodoh."
Malfoy hanya tersenyum sinis.
"hey Malfoy. Katakan padaku, bagaimana kau membobol Wardku?" tanya Harry dengan nada serius.
"Wardmu terlalu lemah untukku." Jawab Malfoy santai. "terlalu banyak Celah. Tapi yah, Penyihir Biasa tidak akan bisa membobolnya."
"jadi kau bukanlah penyihir biasa sekarang? Apa yang terjadi padamu? Aku bahkan mendengar beberapa rumor aneh tentangmu."
"aku bahkan bukan lagi penyihir." Jawab Malfoy.
"maksudmu?"
Malfoy menjulurkan tangannya ke arah perapian. Api yang di perapian mendadak mulai menari. Api tersebut berubah menjadi serpihan kecil bercahaya dan melayang ke arah Malfoy sesuai dengan gerakan tangan pemuda itu. Serpihan Kecil bercahaya itu berhenti bergerak di atas telapak tangan Malfoy sebelum kembali berubah menjadi api disana. Api itu membakar telapak tangan Malfoy dan pemuda itu hanya menatap telapak tangannya dengan tatapan bosan tanpa memperdulikan ekspresi ngeri yang tampil di wajah Harry yang memperhatikan semuanya dari Awal. Malfoy mengarahkan tangannya ke arah perapian dan api yang di tangannya kembali ke perapian.
"bagaimana? Bagaimana kau melakukan itu?"
"ku beri tahu pun, otakmu yang bodoh itu tidak akan bisa mencernanya." Kata Malfoy sinis.
"aku tidak sebodoh itu, Ferret sialan." Entah kenapa Harry mendadak jadi ingin menyarangkan tinjunya ke pipi Malfoy.
Malfoy tidak menjawab. Ia hanya meneguk firewhiskeynya perlahan.
"tanganmu? Tanganmu tidak terbakar?"
Malfoy mengulurkan tangannya. Tak ada bekas luka bakar disana. Bahkan tak ada tanda merah. Tangan itu putih. Mulus. Seolah tak terjadi apapun.
"waw."
Draco kembali meneguk firewiskeynya.
"lalu apa yang terjadi padamu selama 3 tahun ini?"
Bukannya menjawab, Malfoy bangkit dari kursinya. "sudah lama aku tidak minum Firewhiskey. Terima kasih atas hidangannya. Aku akan menjemput Eragon besok pagi." Usai mengatakan itu pemuda itu menghilang dari hadapan Harry yang hanya bisa melongo. Bagaimana? Bagaimana mungkin Malfoy bisa menghilang begitu saja? Pemuda itu.. pemuda itu tadi tidak berapparete kan?
o.O.o
"HARRY! KAU DIMANA? AKU MENDENGAR HAL YANG ANEH DARI RON DAN LANGSUNG KEMBALI KE INGGRIS PAGI INI JUGA.."
"ah Sirius. Diamlah. Aku masih ngantuk.." balas Harry.
"harry? Kenapa kau tidur di sofa? Tanpa selimut? Untung aku yang melihatmu. Jika itu remus. Kau akan di omeli 3 hari 3 malam, Harry." Celetuk Sirius. Pria berusia hampir setengah baya(?) itu memandang Anak baptisnya heran.
Harry duduk. Ia mengusap matanya pelan sambil menguap. "bagaimana liburanmu ke paris, Padfoot? Mana remus?"
"aku disini harry. Kenapa kau tidur di sofa dan tidak memakai selimut?" seorang pria paruh baya muncul di belakang sirius. Pria itu mengernyitkan dahinya. "apa yang terjadi Harry?"
"tidak ada apapun" jawab Harry. "sekarang boleh aku minta kopiku?"
Remus mengulurkan segelas kopi ke arah Harry. "ini kopimu. Tapi aku tak percaya pada kata-kata 'tidak ada apapun', Harry. Kami mendengar Hal aneh dari ron tadi malam dan memutuskan untuk langsung kembali. Jadi, apa yang terjadi?"
"Yang terjadi? Bukankah tak ada hal yang terjadi kecuali.. aaaaa.." mendadak Harry bangkit dari sofa yang didudukinya dan berlari ke kamarnya. Gawat.. gawat.. bagaimana mungkin aku bisa lupa pada anak itu?, pikirnya.
Ia membuka pintu kamarnya dengan gebrakan kuat dan mendesah lega ketika melihat eragon masih berbaring disana. Bocah yang masih di tempat tidur itu menatap Harry dengan pandangan mengantuk.
"ah, maaf. Aku membangunkanmu ya?" Harry duduk di pinggir tempat tidur.
"hmm.. tak apa.." jawab eragon sambil menggeleng pelan.
"kau lapar?"
Eragon menggeleng. Ia duduk menghadap Harry.
"Malfoy belum menjemputmu. Jadi ayo makan dahulu disini. Kau ingin mandi dahulu? Akan kusiapkan air hangat untukmu." Harry mengacak rambut Eragon pelan.
Eragon mengangguk. "aku ingin mandi dulu."
"bagus. Kau ingin telurmu di apakan?"
"telur?"
Harry mengangguk. "iya. Bukankah sarapan itu paling enak itu telur?"
"ah, baru kali ini ada yang bertanya padaku aku ingin telur seperti apa."
Harry tertawa pelan. "jadi?"
"mata sapi. Jangan terlalu matang." Jawab Eragon sambil tersenyum.
"okk.. " Harry menggendong Eragon. "ayo mandii.."
o.O.o
"Jadi siapa bocah itu? KENAPA WAJAHNYA MIRIP SEKALI DENGAN BLOODY BASTARD MALFOY?" teriak Sirius panik.
"namanya Eragon. Aku tidak tau kenapa wajahnya sama seperti malfoy. " jawab Harry. "aku tidak mengerti apapun, Sirius. Malfoy datang tadi malam. Menjemput anak itu. Tapi dia tidak mau pulang."
"jadi kau berencana menjaga anak itu untuk sementara, Harry? Lebih baik jangan. Aku punya firasat buruk tentang ini." Timpal Remus yang sedari tadi hanya mendengarkan. "lebih baik kau ceritakan secara rinci pada kami."
Harry mendesah. Sepertinya ia tak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya. Termasuk misi yang di tugaskan padanya, bagaimana ia bertemu eragon di perbatasan hogsmeade hingga pembicaraannya dengan malfoy serta tingkah aneh pemuda itu di mini barnya.
"sudah ku duga. Cepat kembalikan bocah itu pada Malfoy, Harry. Berhubungan dengan Elf itu berbahaya sekali. Firasatku benar-benar buruk tentang ini."
"justru itu, Remus. Jika Malfoy benar-benar berhubungan dengan kaum Elf, aku benar-benar harus tahu. Itu misiku."
"tapi itu membahayakan nyawamu, Harry."
"aku juga berhutang banyak pada Aunt Cissy dan Uncle Luce selama beberapa tahun terakhir ini. Aku harus memastikan anak mereka akan baik-baik saja."
"lupakan soal mereka, Harry. Nyawamu jelas lebih penting dari pada anak Bloody Bastard Malfoy itu." Timpal Sirius.
"jangan berkata kejam seperti itu, Sirius. Malfoy memang orang yang menyebalkan. Tapi ia bukan lagi musuhku. Kami sudah sepakat mengakhiri permusuhan bodoh kami ketika perang berakhir. Ron dan Hermione tahu itu. Walau Ron masih belum bisa menerimanya."
"wajar saja. Aku pun belum bisa menerimanya. Kau menjadi kesayangan Lucius Malfoy saja membuatku gatal-gatal ketika mengingatnya.."
"Uncle Luce tidak seburuk itu, Sirius," bantah Harry. "kalian sudah menceramahiku soal itu 3 tahun terakhir ini dan menurutku kalian hanya perlu membiarkannya berlalu. Perang sudah merubah mereka, sirius." Lanjutnya.
"perang tidak merubah mereka. Perang merubahmu." Sungut Sirius.
Harry hanya mengangkat bahunya. Ia menyesap kopinya pelan.
"jadi apa rencanamu saat ini Harry?" tanya Remus.
"entahlah. Aku masih belum tahu pasti." Jawab Harry sambil lalu. "hanya saja, Malfoy yang sekarang membuatku sedikit penasaran."
o.O.o
To Be Continued
o.O.o
lama tak berjumpa. 3 tahun ya? Maaf. Sepertinya aku benar-benar menelantarkan ff ini. Hanya saja saat ini ku rasa aku mulai bersemangat lagi untuk menulis. Semoga mulai sekarang aku akan semakin konsisten. Akan ku usahakan untuk update setiap minggu. Jadi sekali lagi. Aku mohon review nya u.u
mohon maaf sebesar-besarnya.
Ff ini tidak akan didiscontinued kok. Akhir akhir ini aku dapat ilham bagus soalnya
Review please. Biar aku tahu bagaimana pendapat kalian
