A/N:

Ini saya gunakan sebagai tempat khusus untuk menuangkan drabbles NH

Dari pada nganggur di laptop jadi saya tuangkan saja.

Mohon maaf jika terkadang ada yang receh ya :v


Disclaimer :

Karakter yang saya gunakan dalam cerita ini diambil dari Naruto milik Masashi Kishimoto

Cerita diambil dari kisah nyata teman-teman saya (tentu saja saya sudah meminta izin yang bersangkutan untuk menerbitkannya dalam cerita saya) dan bukan tidak mungkin nanti ada cerita saya sendiri

Penuangan cerita dan ide tambahan/perubahan di bagian-bagian tertentu (jika ada) murni dari saya


ForgetMeNot09

presents:

.

.

.

GURU DAN MURID

(Cerita dari seorang kawan dekat yang lain, masih sesama NHL juga sih)

.

.

.

Deru suara motor terdengar di lapangan parkir sebuah sekolah menengah kejuruan. Tampak seorang pria muda turun dari motor bebek yang baru saja terparkir. Ia membuka helm yang seketika menampakkan rambut kuning cepaknya yang tersisir rapi. Wajahnya bisa dikatakan cukup tampan. Ia lalu mengedarkan pandangan. Lantas menatap bangunan tua gedung sekolah tempatnya mengabdi selama satu tahun terakhir ini.

Pria itu tersenyum. Kakinya melangkah tegas menuju gerbang sekolah dan memasukinya. Sempat ia berpapasan dengan rekan sesama guru, berbincang sejenak dan berlalu pergi. Terkadang juga bertemu dengan kumpulan siswa laki-laki. Mereka mengajaknya mengobrol perihal permainan sepak bola dan cabang olahraga lain. Hal seperti ini sudah biasa terjadi. Ia yang memang seorang pria muda dan posisinya sebagai guru baru, terpaut usia tidak terlampau jauh dengan anak didiknya, membuat pria itu menjadi tempat bercerita dan kadang wadah pencurahan isi hati bagi para siswanya. Ia sudah layaknya kawan saja bagi siswa laki-laki di SMK ini.

Tak hanya siswa laki-laki, siswa perempuan pun banyak yang menganggapnya sebagai guru yang "asyik", nyaman sebagai teman mengobrol baik perihal urusan sekolah atau terkadang urusan percintaan. Ya, maklum saja, kalau orang bilang kids jaman now memang begitu kelakuannya. Kadang pria itu merasa seperti terlalu akrab antara dirinya sebagai guru dengan siswa siswi itu sebagai anak didik.

Ia tidak mempermasalahkan itu. Selama tidak melampaui batasan yang seharusnya ada di antara mereka.

Benarkah?

Benarkah tidak melampaui batasan?

Mata biru itu berkilat jengah saat melihat gerombolan siswi sekolahnya berjalan di koridor sekolah, di arah yang berlawanan dengan dirinya. Bukan masalah siapa mereka, melainkan cara salah satu dari mereka berpakaian yang membuatnya sedikit risih.

Siswi dengan rambut indigo panjang itu mengenakan atasan yang terlalu ketat hingga menonjolkan aset tubuhnya di bagian atas.

Pria itu menggeleng. Sudah berkali-kali ia memperingatkan anak didiknya, terkhusus gadis itu, untuk memperbaiki cara berpakaiannya. Bukan hanya terkait masalah kesopanan, jujur dia sendiri sebagai laki-laki normal kadang merasa gerah disuguhi pemandangan semacam itu. Kalau tidak kuat iman juga mungkin ia sudah lama gila.

Saat berpapasan, keempat siswi tersebut menyapanya centil.

"Naruto-sensei ..."

Yang dipanggil hanya tersenyum kecut. Sebagian besar dari siswi didiknya memang demikian. Tidak bisa tenang melihat guru muda nan tampan seperti dirinya. Maunya menggoda saja.

"Ehem."

Ia berdehem. Mata birunya menatap si gadis bermata ametis yang juga tengah menatap dirinya.

"Hinata."

"Iya, Sensei."

"Sudah berapa kali kamu diperingatkan untuk tidak memakai baju yang terlampau ketat."

"Memangnya kenapa, Sensei? Toh dadaku tidak terlalu menonjol."

Hinata melangkah maju mendekati Naruto dan membelai sepasang buah dadanya yang, dengan kesengajaan teramat sangat, ia busungkan.

Seketika Naruto ingin menjedotkan kepalanya ke pilar selasar sekolah.

"Tuhan! Beri aku umur panjangggggg!"

.

.

.

END


PS: Ada yang bisa menebak ini cerita siapa? :v