Love by Accident

Cerita cinta yang berisi tentang cinta pertama, sakit hati, bahkan cinta yang bersemi karena sebuah insiden yang tidak disengaja./Tahukah kau terkadang orang yang paling sering membuatmu tertawa adalah orang yang paling bisa membuatmu menangis?/GS!/NEW!

Cast :

EXO member

And other cameo

Guru matematika sekaligus wali kelas mereka membuka kacamatanya. Pria itu mengurut dahinya yang terasa berdenyut. Rasanya sangat frustasi mengajak bicara dua patung hidup.

"Apa kalian masih tidak mau bicara?", tanya Kangin songsaenim. Ia sudah cukup jenuh menghadapi kelakuan anak muridnya yang berbuat onar. Terlebih lagi Kris. Sudah banyak skorsing yang diberikan untuk anak muridnya ini berharap agar ia jera dan merubah sikap, namun Kris kelihatannya sangat menikmatinya. Buktinya ia tidak bosan membuat onar di sekolah.

"Kau anak baru!", panggil Kangin. Chanyeol yang berdiri berhadapan dengannya kini menatap gurunya itu dengan pandangan dingin. Seakan tidak tau kenapa ia berada di ruangan ini sekarang.

Kangin melipat kedua tangannya di meja dan menatap Chanyeol lurus-lurus. "Kau masih bersikeras menutup mulutmu?", tanya Kangin. Sebenarnya bukan hanya sekali ia bertanya kepada kedua anak muridnya tentang apa alasan mereka saling pukul saat jam pelajarannya. Lagi-lagi kedua muridnya ini menutup rapat mulutnya.

"Baiklah, karena kalian berdua keras kepala, jangan salahkan aku memberikan skorsing pada kalian", ujar guru itu.

Chanyeol cukup terkejut mendengarnya namun pria itu tidak mengatakan apapun sedangkan Kris lebih terlihat santai. Ia sudah terbiasa dengan kata 'skorsing'.

"Chanyeol-ssi, sebenarnya aku ingin memberikan keringanan padamu karena ini hari pertamamu bersekolah, tapi memukul murid lain bukanlah hal yang dianggap ringan. Aku minta orangtua kalian datang menemuiku besok", ujar guru mereka tegas.

Kris menyunggingkan senyum kecutnya. "Mengapa selalu memanggil orangtuaku?", tanya Kris tidak terima.

Chanyeol melirik Kris sekilas. Baru bertemu dengan teman sebangkunya ini, Chanyeol langsung tau Kris murid bermasalah.

"Jangan salahkan aku. Kau yang memaksaku untuk melakukan ini. Aku harus membicarakan sikap kekanakanmu ini dengan orangtuamu dan memikirkan bagaimana cara mendidikmu lebih baik", jawab Kangin songsaenim.

Kris memandang gurunya itu dengan pandangan menantang. "Harusnya anda tau mereka tidak akan pernah datang", ucap Kris dingin. Setelah itu pria itu pergi dari ruangan tanpa sopan santun.

Guru mereka hanya bisa menghela nafas. Ia sudah biasa dengan sikap muridnya yang satu itu. Chanyeol masih berdiri disana sampai akhirnya gurunya mempersilahkan ia pergi.

Di luar ruangan, Baekhyun menunggu Kris dengan cemas. Ia takut Kris kembali mendapat masalah. Padahal sudah jelas siapa tersangkanya. Murid baru itu yang lebih dulu memukuli kekasihnya.

Baekhyun bermain dengan kukunya. Ia bersandar pada tembok menunggu seseorang keluar dari sana. Setelah cukup lama menunggu, pintu ruangan itu terbuka, Baekhyun buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia segera mendekati Kris yang baru saja keluar dengan khawatir. Wajah pacarnya itu terlihat penuh lebam kebiruan.

"Apa yang dikatakan songsaenim? Kau tidak apa-apa kan? Ayo pergi ke UKS", Baekhyun menarik tangan Kris untuk mengikutinya namun kekasihnya itu justru menepisnya pelan.

"Tidak perlu", jawab Kris dingin. Pria itu kemudian meninggalkan Baekhyun di belakangnya. Baekhyun meremas tangannya dengan cemas. Ia ingin mengikuti Kris, tapi ia tau Kris tidak ingin diganggu. Pria itu pasti ingin sendirian.

Baekhyun teringat pertemuan pertamanya dengan Kris. Hari itu musim semi, hari pertama ia akan mengikuti orientasi sekolah. Baekhyun ingat ia berdiri di bawah pohon sakura. Jeruji sepedanya tiba-tiba lepas, membuatnya harus berhenti dan memperbaikinya. Baekhyun berusaha memperbaikinya, berkali-kali ia berusaha menempatkan jeruji sepedah itu dengan benar. Meletakkannya lalu memutarnya perlahan, namun tidak berhasil. Baekhyun nyaris frustasi, ini hari pertamanya sekolah dan ia sudah mendapat masalah. Gadis itu melihat kedua tangannya yang dipenuhi noda oli. Baekhyun hanya bisa mengeluh sambil terus berusaha.

"Kau perlu bantuan?"

"Ne", jawab Baekhyun cepat. Gadis bertubuh mungil itu mengadah untuk melihat siapa yang bicara dengannya. Saat melihat pria tinggi di depannya, ia merasa waktu berhenti berputar seakan pria ini adalah poros hidupnya. Wajah pria itu terlihat seperti malaikat dengan siraman cahaya matahari pagi.

"Ya Tuhan, apa aku melihat seorang malaikat?", tanya Baekhyun dalam hati.

Pria tinggi itu kemudian berjongkok di sebelah Baekhyun. Ia melihat penyebab sepeda ini berhenti berjalan. "Sepertinya kau kesulitan memasang jerujinya ya?", tanya Kris sambil memperhatikan sepeda di depannya.

Baekhyun hanya mengangguk takjub. Ia masih memperhatikan wajah pria disampingnya yang terpahat sempurna. Kris tentu saja tidak melihat Baekhyun mengangguk padanya. Jadi ia melirik Baekhyun untuk mengulang pertanyaannya.

"Kau tidak keberatan kalau aku membantumu kan?", tanya Kris.

Baekhyun yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia sadar sikapnya terlalu berlebihan. Ia akhirnya kembali mengangguk.

Selama Kris sibuk dengan sepedanya, Baekhyun justru sibuk memperhatikan Kris. Baekhyun tidak pernah bertemu dengan pria sebaik ini sebelumnya. Kris tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit saja, sepeda Baekhyun sudah kembali seperti semula.

Kris tersenyum melihat hasil kerjanya. Ia kemudian melirik Baekhyun. "Sudah selesai", ucap Kris. Baekhyun seakan sadar dari lamunannya. Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa mengangguk. Mengapa begitu sulit untuk sekedar mengucapkan terimakasih?

Kris baru sadar saat melihat seragam sekolahnya dan Baekhyun ternyata sama. "Kau sekolah di SM High School?", tanya Kris antusias.

Baekhyun juga baru sadar kalau seragam sekolah mereka sama. Pasti karena daritadi ia terlalu terpesona pada pria tampan yang membantunya ini sampai tidak memperhatikan hal yang begitu mencolok seperti itu.

Kris kemudian mengulurkan tangannya kearah Baekhyun, "Namaku Kris, namamu siapa?"

Baekhyun dengan gugup, ikut mengulurkan tangannya, "Byun Baekhyun", jawab Baekhyun pelan. Kris mengangguk. Ia menjabat tangan Baekhyun lalu tersenyum saat melihat noda hitam yang sama di tangan mereka.

"Oh lihatlah bagaimana tangan kita sekarang", ujar Kris dengan tawanya.

Baekhyun merasa tidak enak karena ia yang menyebabkan noda hitam itu. Baekhyun menarik mundur tangannya membuat Kris menghentikan tawanya saat melihat ekspresi Baekhyun. "Mian", ujar gadis itu pelan.

Kris sempat terkejut mendengar ucapan Baekhyun. Ia menyimpulkan bahwa Baekhyun adalah gadis lugu dan baik hati. Kris kembali tersenyum lalu mengeluarkan sapu tangannya dan menyodorkannya ke arah Baekhyun. "Kau bisa menggunakan ini", kata Kris.

Baekhyun ragu untuk mengambilnya. Kris juga membutuhkan ini. Jadi ia memilih menggeleng tanda bahwa ia menolaknya namun Kris menarik tangan Baekhyun dan membantu gadis itu membersihkannya. Baekhyun membelalakkan matanya saat melihat pria ini menyentuh tangannya. Tanpa ia duga, Kris justru tersenyum kearahnya membuat jantungnya berdegup cepat.

Kris membantu Baekhyun berdiri. Baekhyun langsung memegangi sepedanya. "Kalau begitu sampai jumpa di sekolah", ujar Kris. Pria itu kemudian melambai ke arah Baekhyun dan berjalan menjauh. Namun Baekhyun segera menghentikannya.

"Permisi", ujar Baekhyun agak keras. Kris kembali menoleh kearah gadis bersepeda itu.

"A-apa k-kau mau berangkat bersama? Aku membawa sepeda", ujar Baekhyun sambil menunduk. Ia menawarkan Kris tumpangan dengan wajah merona. Ya Tuhan apa yang baru saja aku katakan? Gadis itu merutuk dirinya sendiri. Untuk apa ia bicara seperti itu? Tanpa mengatakannya pun Kris bisa melihat bahwa ia membawa sepeda.

Kris tersenyum lebar, "Aku pikir kau tidak akan menawariku tumpangan". Pria itu kemudian kembali mendekati Baekhyun.

"Kau serius kan?", tanya Kris. Baekhyun mengangguk pelan. Kris kemudian menaiki sepeda milik Baekhyun sedangkan pemiliknya masih mematung di sampingnya.

"Naiklah", ucap Kris sambil mengisyaratkan kursi kosong dibelakangnya. Dengan langkah berat Baekhyun mendekati sepedanya dan mengambil posisi duduk. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas paha.

Kris memperhatikan Baekhyun sekilas lalu menarik senyumnya. "Kau siap?", tanya murid laki-laki itu. Kris bersiap seakan ia akan balap motor. Ia kemudian mengayuh sepeda Baekhyun cepat-cepat membuat penumpang di belakangnya menutup kedua matanya karena takut. Kris mengendarai sepedanya terlalu cepat. Saat melewati belokan, Baekhyun nyaris terjatuh. Dengan spontan, ia menarik seragam Kris dan menahannya erat. Ia memperhatikan punggung Kris dengan gugup namun akhirnya ia tersenyum bahagia.

Baekhyun masih belum melepaskan pandangannya dari punggung Kris yang menjauh. Baekhyun tidak tau apa alasan Kris sering berbuat onar di sekolah, apa demi kesenangannya sendiri atau memang karena sikap pembangkangnya. Bahkan saat masih orientasi, Kris sudah berani memukul seniornya. Ia juga membolos di hari pertama mereka belajar. Namun hal itu tidak membuat Baekhyun membenci lelaki itu sekalipun banyak orang mulai menjauhinya karena tidak ingin terkena masalah.

Baekhyun memperhatikan Kris setiap hari, entah itu saat Kris tertidur di sudut perpustakaan, saat bermain basket di lapangan, atau makan siang di kantin. Ia memang tidak mempunyai hubungan dekat dengan Kris, sejak mereka naik sepeda bersama, hubungan mereka biasa saja. Tidak ada pertemuan yang berarti. Namun semua berubah saat memasuki semester kedua, entah mengapa Kris lebih sering mendekati Baekhyun, memberikan perhatian sampai mendeklarasikan kalau tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu Baekhyun di sekolah. Dan semakin lama hubungan mereka semakin dekat sampai akhirnya mereka bisa berpacaran seperti sekarang.

Chanyeol keluar dari ruang guru, membuat Baekhyun menoleh sinis padanya. Baekhyun kemudian mendekati Chanyeol. "Sebenarnya apa masalahmu dengan Kris?!", Baekhyun menatap pria tinggi itu dengan tajam. Namun Chanyeol sepertinya tidak peduli, ia memilih mengabaikan Baekhyun dan berjalan pergi.

Namun Baekhyun tidak menyerah, ia menghalangi jalan Chanyeol. "Aku sedang bicara padamu!", seru Baekhyun.

Chanyeol dengan ekspresi datarnya, meletakkan kedua tangannya di kantong celananya. "Kalau begitu bicaralah", ucap pria itu dingin.

Baekhyun heran bagaimana ada pria semacam ini. Sekalipun Kris murid berandalan dan pembuat masalah, namun Kris tidak pernah sekalipun memandang remeh Baekhyun. Pria itu selalu melindunginya dari tangan murid jahil. Yang jelas murid baru ini sangat berbeda dengan Kris.

Baekhyun membusungkan dadanya. Ia tidak takut dengan Chanyeol. "Kau ini murid baru tapi beraninya kau memukul murid lain. Apa kau mau jadi preman disini? Apa kau tidak belajar sopan santun di Amerika? Baiklah, aku tidak peduli apa yang kau lakukan di sana, tapi ingat sekarang kau tinggal di Korea, jangan kau pikir Amerika dan Korea itu sama. Aku tidak peduli kalau kau tidak terima dengan perkataanku tapi aku tekankan padamu kalau aku tidak takut padamu. Aku peringatkan padamu, jangan dekat-dekat dengan Kris!", kata Baekhyun dengan suara lantang.

Chanyeol masih dengan ekspresi datarnya. Ia kemudian membuka mulutnya. "Kau sudah selesai bicara?", tanya Chanyeol dengan suara beratnya.

Baekhyun dibuat menganga mendengar perkataan pria ini. Apa hanya itu yang bisa ia katakan? Baekhyun sedang bicara serius dengannya sekarang dan ia hanya bereaksi seperti itu. Keterlaluan!

Chanyeol menunggu, namun sepertinya Baekhyun memang sudah selesai bicara dengannya. Jadi ia memilih untuk berjalan lurus meninggalkan gadis cerewet yang bahkan tidak dikenalnya. Namun baru beberapa langkah berjalan, Chanyeol berhenti.

"Bukan aku yang harus menjauhi anak itu, tapi kau", kata Chanyeol tanpa berbalik. Baekhyun segera memutar tubuhnya untuk menatap punggung Chanyeol. Apa maksudnya? Baru saja ia ingin buka mulut, namun anak baru itu sudah melebarkan langkahnya meninggalkan Baekhyun.

Setelah insiden pemukulan yang dilakukan murid baru itu, Kris tidak masuk ke kelas. Baekhyun berkali-kali menoleh ke belakang, namun tidak ada yang berubah. Bangku itu masih tetap kosong. Chanyeol sudah pindah ke bangku tengah yang masih sejajar satu baris dengan tempat duduk Baekhyun. Hanya saja ada satu meja diantara mereka yang membuat Baekhyun tidak sudi menatap ke sampingnya.

Baekhyun mencoret-coret kertasnya dengan garis-garis yang tidak terbentuk. Tao yang sedang memperhatikan guru di depannya melirik Baekhyun sekilas tapi ia tidak mengucapkan apapun. Ia tau Baekhyun pasti mengkhawatirkan pacarnya yang berandalan itu. Tao hanya bisa menghela nafas. Ia masih terheran-heran bagaimana bisa seorang murid teladan memilih memberikan cinta pertamanya pada murid yang memiliki image buruk seperti Kris? Tao pikir cerita semacam itu hanya ada dalam novel namun kenyataannya, temannya sendiri yang mengalaminya.

Bel berbunyi nyaring membuat guru di depan kelas terpaksa menghentikan penjelasannya tentang zat kimia yang belum selesai. Murid-murid justru bersorak gembira. Rasa bosan, kantuk dan penat berganti gempita. Murid laki-laki maupun perempuan buru-buru membereskan alat tulisnya dan dengan sembarangan memasukkannya ke dalam tas lalu berlari keluar kelas. Berbeda dengan mereka, Baekhyun justru terlihat tidak bersemangat. Ia bergerak dengan malas karena belum melihat wajah kekasihnya sejak tadi.

Di kelas tinggal beberapa murid saja, Tao masih mengajak Baekhyun bicara yang dijawab dengan malas oleh Baekhyun.

Suara geseran kursi terdengar cukup keras di kelas yang sudah sepi membuat Baekhyun dan Tao menoleh ke arah meja si anak baru. Baekhyun memandang murid baru itu dengan tatapan tidak suka. Chanyeol terlihat menarik tasnya lalu berjalan angkuh keluar kelas membuat Baekhyun mendengus sebal.

"Anak baru itu membawa petaka. Karena dia, Kris tidak mau bertemu denganku atau mengangkat teleponku", ujar Baekhyun sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.

"Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Chanyeol. Lagipula Kris mengabaikanmu memang karena tabiatnya saja yang buruk", balas Tao.

"Tao!", Baekhyun memasang wajah sebal.

Tao melirik Baekhyun lalu mengangguk. "Baiklah, baiklah. Maafkan aku", kata Tao dengan setengah hati. Lagipula yang ia katakan memang ada benarnya.

Baekhyun buru-buru mengancing tasnya lalu berdiri. "Kau pulang sendiri saja, aku mau mencari Kris", ucap Baekhyun. Gadis itu lalu melangkah cepat keluar kelas.

"Ya! Byun Baekhyun! Aku hanya bercanda, mengapa kau marah?!", teriakan Tao tidak berarti untuk Baekhyun. Buktinya gadis itu tetap berjalan pergi tanpa menoleh.

Baekhyun menghentakkan sepatunya dengan kesal. Ia sudah cukup sebal karena ulah si anak baru, lalu khawatir setengah mati pada Kris yang tidak kunjung mengabarinya, dan sekarang temannya sendiri menambah buruk moodnya. Baekhyun melihat ponselnya lalu menghela nafas. Tidak ada pesan masuk ataupun panggilan dari Kris. Sebenarnya kemana pria itu?

Baekhyun kemudian ingat tempat favorit Kris. Biasanya Kris akan bermain disana sampai malam apabila ia malas pulang ke rumah. Dimana lagi kalau bukan lapangan basket di belakang sekolah? Baekhyun tersenyum lebar. Ia buru-buru berlari kesana. Ia berharap menemukan Kris disana.

Chanyeol berjalan ke tempat parkir, ia meraba kantong celananya namun tidak menemukan benda yang dicarinya. Pria itu mulai panik, ia meraba kantong belakangnya namun tetap tidak menemukannya. Chanyeol baru ingat dimana ia meletakkannya lalu mengeluh, bagaimana mungkin ia lupa mengambil kunci motornya?

Pria itu kembali ke kelasnya dan tidak mendapati siapapun. Ia buru-buru berjalan ke mejanya dan meraba kolongnya. Ia menemukan kunci motornya disana. Chanyeol kemudian melemparnya ke udara lalu menangkapnya. Pria itu kemudian melangkah keluar untuk segera pulang. Namun siluet gadis berseragam sekolah berjalan ke belakang sekolah membuat Chanyeol penasaran. Siapa yang masih berkeliaran di sekolah selain dirinya?

Baekhyun sampai di lapangan belakang sekolah. Ia melihat tidak ada yang bermain basket disini. Ekspresi ceria milik Baekhyun langsung memudar perlahan. Jadi dimana Kris sekarang? Baekhyun kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Kris di kontaknya. Gadis itu menempelkan ponselnya ke telinganya. Baekhyun menggigit kukunya cemas. "Angkatlah…", ujar Baekhyun pelan.

Suara ringtone membuat Baekhyun terkejut. Gadis itu perlahan menjauhkan ponselnya dari indra pendengarannya untuk mendengar suara itu lebih jelas. Baekhyun melirik ke sekitarnya. Apa ada orang lain disini?

Hari sudah mulai gelap karena menjelang malam. Sekolah mereka memang baru selesai pada sore hari. Baekhyun menajamkan penglihatannya dan pendengarannya berharap menemukan sesuatu. Baekhyun mengikuti suara itu sampai berhenti di ujung lapangan yang dipenuhi bangku-bangku untuk siswa yang ingin istirahat atau sekedar bermain.

Baekhyun melihat ada orang lain selain dirinya disana. Baekhyun berjalan perlahan. Ia berusaha melangkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Cahaya yang minim membuat Baekhyun kesulitan melihat. Namun semakin ia menyipitkan matanya, itu semakin terlihat jelas untuknya. Bukankah itu Kris?

Baekhyun membulatkan matanya tidak percaya. Dengan gemetar, gadis itu mendekati bayangan itu. Ia menggenggam erat ponselnya.

Baekhyun sangat mengenal kekasihnya itu. Ia masih ingat bagaimana wajahnya, bentuk tubuhnya, warna rambutnya, tinggi badannya. Dan Baekhyun sedang tidak salah lihat sekarang. Tanpa sadar, air mata jatuh di kedua pipinya. Rasa sesak memenuhi paru-parunya. Seperti mendapat pukulan keras di kepalanya, Baekhyun merasa sakit luar biasa. Gadis itu perlahan mengambil langkah mundur. Matanya sudah memerah dan berair. Rahangnya mengeras karena tegang. Dengan hati-hati Baekhyun mengambil langkah mundur. Ia tidak kuat lagi, perasaannya sekarang seperti barang yang sudah terpecah belah. Baekhyun segera berlari meninggalkan tempat itu.

Chanyeol melihat siluet seorang murid perempuan berjalan ke belakang sekolah. Karena penasaran, Chanyeol mengikutinya. Tak lama, Chanyeol sadar kalau itu adalah gadis cerewet yang mengomelinya tadi siang. Chanyeol sudah tidak tertarik, ia memilih untuk meninggalkan tempat itu, namun ia terkejut saat melihat gadis itu keluar dari lapangan basket dengan wajah basah. Chanyeol mengernyit heran. Gadis berseragam itu sudah berlari menjauh. Chanyeol kemudian masuk ke dalam lapangan untuk melihat apa yang sebenarnya membuat gadis itu keluar dengan wajah seperti itu.

Chanyeol melihat gerak mencurigakan di sudut lapangan. Di deretan bangku kedua, ada seorang murid laki-laki dan seorang murid perempuan yang sedang….. bercumbu? Chanyeol menajamkan penglihatannya. Matanya membulat seketika saat tau siapa pria itu. Jas sekolahnya sudah tergeletak entah kemana, murid laki-laki itu hanya mengenakan kemeja putihnya. Bahkan kancing atasnya sudah terlepas. Ia terlihat mencium murid perempuan lain yang Chanyeol tidak tau siapa. Yang jelas perempuan itu bukan teman sekelasnya, karena ia tidak pernah melihat perempuan itu berada di kelas sebelumnya.

Chanyeol langsung mengingat anak perempuan yang menangis. Ia buru-buru keluar dari lapangan dan mencari murid cerewet itu. Chanyeol mencari ke sekitar lapangan namun tidak menemukannya. Chanyeol kembali ke kelasnya dan tetap tidak menemukannya. Laki-laki itu kemudian memilih mencari ke area parkir. Siapa tau saja murid perempuan itu membawa kendaraannya ke sekolah. Namun nihil. Chanyeol tidak menemukan apapun. Pria itu kemudian berhenti dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mungkin saja dia sudah pergi. Chanyeol kemudian mengingat perkataan Kris tadi pagi. Ia mengepalkan tangannya keras.

-Love by Accident-

Pagi ini kelas ribut seperti biasanya. Beberapa murid perempuan memilih mengobrol dengan temannya sambil menunggu bel masuk berbunyi. Sedangkan anak laki-laki terlihat bercanda satu sama lain seakan bertindak akan memukul temannya namun akhirnya mereka tertawa bersama. Ada juga murid yang memilih memakan roti bekalnya karena belum sarapan pagi ini.

Chanyeol memilih duduk di bangkunya dengan mendengarkan earphone-nya. Ia memejamkan matanya sambil bersandar di kursinya. Seseorang menepuk pundak Chanyeol, membuat pria itu membuka matanya. Ia menggantungkan earphone-nya di leher lalu menatap anak laki-laki di sampingnya. Anak laki-laki itu adalah teman sebangkunya yang baru. Kim Jongin.

"Aku belum mendengarmu bicara sejak kemarin", ujar Jongin jujur. Sebenarnya ia paling tidak nyaman dengan suasana sepi. Chanyeol lebih suka mendengarkan musik daripada bicara dengannya.

Chanyeol menatap Jongin. Suara keras dari arah pintu membuat seisi kelas menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Kris masuk ke dalam kelas dengan gaya angkuhnya. Tatapannya tajam kearah Chanyeol. Murid bertubuh tinggi itu kemudian mengisyaratkan Jongin untuk pergi yang akhirnya hanya dituruti oleh Jongin. Seisi kelas penasaran dengan apa yang akan terjadi. Apa perselisihan yang kemarin akan berlanjut hari ini? Mereka tau jelas tidak ada seorang pun yang berani memukul Kris. Bila ada orang yang berani melakukan itu, pasti jawabannya adalah si murid baru Park Chanyeol.

Chanyeol terlihat tak gentar, ia justru menantang Kris dengan tatapan tajamnya. Kris duduk diatas meja dan kakinya menopang pada kursi.

"Kau masih bisa menatapku rupanya?", tanya Kris dengan tersenyum sinis. Chanyeol tidak bergeming, ia masih menatap pria ini lurus-lurus.

"Kau menantangku rupanya? Bagaimana kalau kita berkelahi saja?", tanya Kris. Tatapan pria itu jelas terlihat dingin. Chanyeol tidak peduli, ia kembali memasang earphone-nya seakan tidak ada Kris yang sedang bicara dengannya.

Kris tertawa keras. Ini pertama kalinya ia menemui orang yang berani mengabaikannya. Dengan berani, Kris menarik earphone milik Chanyeol lalu membantingnya ke lantai. Murid lainnya memandang kedua orang itu dengan ketakutan. Kris pastilah sedang dalam mood yang buruk pagi ini.

Chanyeol memandang benda miliknya sudah hancur. Anak laki-laki itu menggeram kesal. Ia memandang Kris tajam sedangkan yang dipandang tersenyum puas.

"Sebenarnya apa maumu?", tanya Chanyeol dingin.

Kris menarik ujung bibirnya. "Aku merasa yang kemarin itu tidak adil, bagaimana kalau kita tanding ulang, hm?"

Chanyeol melipat kedua tangannya, "Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan anak balita sepertimu", balas Chanyeol. Lelaki itu memasang ekspresi datarnya.

Kris tersenyum namun kemudian senyumnya menghilang dan berganti dengan wajah menyeramkan. "Balita katamu? Hei, memangnya kau sudah dewasa? Beraninya kau memukuli anak balita", ujar Kris.

Di tempat yang tak jauh dari sana, Tao memandang dua orang murid laki-laki itu. Kris memang suka memancing keributan. Harusnya Baekhyun ada disini sekarang dan memperhatikan sikap kekanak-kanakan kekasihnya. Tao melihat jam dinding di depan kelas. Lima belas menit lagi kelas akan dimulai tapi Baekhyun belum juga datang. Apa ia membuatkan Kris tugas lagi? Benar-benar keterlaluan.

Kris membungkukan tubuhnya lebih dekat kearah Chanyeol, "Kau ini pengecut sekali", ucap Kris dengan nada rendah.

Chanyeol mengingat kejadian kemarin di sekolah. Apa yang dilakukan lelaki ini di sekolah. Chanyeol kemudian membuka mulutnya, "Dan kau adalah seorang bajingan". Bukan hanya Kris yang terkejut mendengar Chanyeol seberani itu. Seisi kelas juga tidak menyangka Chanyeol berani mengatakan hal seperti itu pada Kris. Anak bau ini bisa dibilang pemberani atau jutru nekat.

Kris sudah merasa geram. Ia menarik kerah kemeja Chanyeol, sebentar lagi ia siap melayangkan pukulannya namun suara debaman pintu membuatnya menoleh kearah pintu. Siapa yang berani mengganggu aktivitasnya?

Baekhyun berdiri di depan pintu, tidak peduli dengan tatapan seisi kelas padanya. Gadis itu menatap Kris tajam sebelum akhirnya melangkah ke tempat duduk dengan sikap tidak peduli. Chanyeol melirik kearah murid perempuan itu. Baekhyun terlihat santai meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.

Kris merasa ada yang aneh pada Baekhyun pagi ini. Biasanya Baekhyun akan mati-matian melerainya bila ia tertangkap basah akan berkelahi. Tapi sikap Baekhyun pagi ini membuatnya heran. Dengan kesal, Kris melepaskan kerah seragam Chanyeol. Murid lain bisa bernafas lega karena tidak perlu ada keributan pagi ini. Kris berjalan mendekati Baekhyun yang sedang mengeluarkan bukunya ke atas meja.

Chanyeol memungut earphone miliknya. Ia hanya bisa menghela nafas melihat benda kesayangannya dihancurkan oleh Kris. Jongin mendekat kearah Chanyeol dan duduk disampingnya. "Kau tidak apa-apa kan?", tanya Jongin cemas. Chanyeol mengangguk dengan tersenyum simpul.

"Ah, ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum", ujar Jongin senang. Chanyeol hanya menunduk untuk meletakkan earphone-nya di kolong mejanya.

Kris sudah duduk di sebelah Baekhyun setelah sebelumnya menarik kursi murid lain. Seisi kelas lega karena tidak perlu melihat pertumpahan darah. Ayolah, ini masih pagi.

Baekhyun terlihat tidak peduli dengan kehadiran Kris. Gadis itu justru terlihat cuek dengan kedatangan Kris. Tao bahkan sampai heran melihat tingkah temannya. Tidak biasanya Baekhyun seperti ini. Biasanya ia sudah menebar senyum saat Kris mendekatinya.

"Baekhyun-ah, mengapa kemarin kau tidak mengangkat teleponku?", tanya Kris dengan nada lembut. Tao bahkan tercengang mendengar kalimat Kris. Baekhyun mengabaikan telepon dari Kris? Ini sejarah!

Baekhyun menghentikan aktivitasnya lalu melirik Kris dengan dingin. "Aku tidak mendengarnya. Mian", jawab Baekhyun cuek. Dan lagi-lagi Tao dibuat tercengang dengan jawaban dingin Baekhyun. Sebenarnya ada apa dengan dua orang ini? Apa mereka bertengkar? Tao tidak pernah menyangka hari ini akan tiba.

Kris mengangguk pelan. "Baiklah kalau kau tidak mendengarnya. Sekarang katakan padaku kau kenapa?", tanya Kris. Pria itu merasa ada yang aneh dengan tingkah Baekhyun pagi ini.

"Apanya yang kenapa? Aku baik-baik saja", jawab Baekhyun tanpa ekspresi.

"Kau marah padaku?", tanya Kris.

Baekhyun memilih diam. Ia kemudian membuka bukunya.

Kris melihat halaman buku yang Baekhyun buka. Ia baru ingat akan tugas hari ini. Tentu Baekhyun tidak akan melupakannya kan?

"Baekhyun-ah, bagaimana dengan tugasku? Tadi malam aku ingin membuatnya, namun aku harus pergi menemui kakakku, jadi aku lupa untuk mengerjakannya, kau membuatkan milikku kan?", tanya Kris lembut.

Baekhyun rasanya ingin tertawa sekarang. Bukan karena Kris. Tapi karena ia merasa lucu terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membiarkan dirinya dibodohi pria ini selama satu tahun. Apa ia ingin Baekhyun yang membuatkan tugasnya sedangkan ia sibuk bercumbu dengan 'kakaknya'. Sebenarnya berapa banyak 'kakak' yang dimiliki lelaki ini?

Baekhyun memandang Kris dengan tersenyum paksa dan wajah terkejut yang dibuat-buat. "Oh, aku tidak tau kalau kau kemarin menemui 'kakakmu'. Mian, tapi aku lupa untuk membuatkannya untukmu", jawab Baekhyun. Di sampingnya, Tao terheran-heran dengan tingkah Baekhyun.

Kris terkejut mendengarnya. Ini pertama kalinya Baekhyun melupakannya. Namun Kris memilih tersenyum kaku, "Kalau kau lupa tidak apa-apa", jawab Kris. Setelah itu Baekhyun sibuk menulis sesuatu di bukunya, secara halus ia mengisyaratkan sedang tidak ingin bicara dengan Kris dan Kris sepertinya tau itu. Pria itu segera kembali ke tempat duduknya.

Sepeninggal Kris, Tao buru-buru mendekati Baekhyun. "Apa kalian bertengkar?", tanya Tao penasaran.

"Tao diamlah, aku tidak ingin membahasnya", jawab Baekhyun. Tao hanya memasang wajah cemberut. Sekalipun ia sangat penasaran, ia tidak ingin memaksa Baekhyun.

-Love by Accident-

Setelah pelajaran pertama selesai, Chanyeol menunggu kakaknya keluar dari ruang guru. Tak lama, orang yang ditunggu keluar dengan wajah masam membuat Chanyeol berpura-pura menatap kearah lain.

Wanita itu langsung memukul lengan Chanyeol kuat-kuat. Chanyeol berusaha melindungi tubuhnya dan mengaduh kesakitan. "Noona! Itu sakit!", jerit Chanyeol.

"Mwo? Kau masih bisa bilang ini sakit? Kau memukuli murid lain tanpa kasihan, dan kau mengeluh sakit!", wanita itu semakin keras memukuli adiknya.

Chanyeol segera menahan kedua tangan kakaknya. "Itu bukan salahku, dia pantas mendapat pukulan", jawab Chanyeol. Tentu saja itu membuat kakaknya semakin kesal. Bukannya merasa bersalah, adiknya ini justru bicara seenaknya.

"Apa kau bilang?! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk memukul orang lain. Chanyeol dengarlah, aku sudah cukup baik membujuk ayah dan ibu membiarkanmu kembali bersekolah di Korea, tapi kau membalasku dengan ini? Bagaimana kalau ayah dan ibu tau? Dasar anak bodoh!", kakaknya itu kembali memukul adiknya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

"Yura noona! Baiklah, baiklah. Ini salahku. Aku tidak akan mengulanginya lagi", ujar Chanyeol.

Kakaknya itu menghentikan pukulannya dan bernafas karena lelah. "Kau beruntung karena aku tidak melaporkan ini pada ayah dan ibu. Lihat saja kalau sekali lagi kau berbuat onar, aku akan langsung mengirimmu kembali ke Amerika. Arraseo?!"

Chanyeol mengangguk pelan. "Arra", jawabnya singkat.

Wanita itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga lalu menatap adiknya. "Aku berharap penuh padamu. Jadi jangan mengecewakan keputusanku membawamu kembali. Belajarlah dengan benar", ucap wanita itu menasehati adiknya. Chanyeol hanya membalasnya dengan anggukan.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Kedatanganku kesini sudah cukup menyita jam kerjaku", wanita itu berjalan pergi namun baru dua langkah ia membalik tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan sengit.

"Mwoya?", tanya Chanyeol dengan perasaan tak enak. Dan benar saja, sesuatu yang buruk terjadi. Noonanya menendang tulang keringnya dengan sepatu high heelsnya kurang ajar itu.

Chanyeol mengaduh kesakitan dengan mengangkat sebelah kakinya lalu mengeluarkan ekspresi menahan sakit. "Noona! Mengapa kau kejam sekali?!", protes Chanyeol. Wanita dengan blazer warna pastel itu tidak peduli. Ia segera meninggalkan Chanyeol yang menahan sakit.

"Aish!", Chanyeol hanya bisa bersungut. Kakaknya itu memang keterlaluan. Tapi tetap saja, Chanyeol menyayangi wanita yang lebih tua darinya itu.

Chanyeol kemudian berbalik untuk kembali ke kelas, tapi betapa terkejutnya ia saat melihat Baekhyun tengah menatapnya. Chanyeol langsung mematung di tempatnya. Apa Baekhyun melihat semuanya? Benar-benar memalukan.

Baekhyun tidak bicara apapun, gadis itu kembali berjalan melewatinya dengan membawa tumpukan buku tugas teman-temannya ke ruang guru. Chanyeol hanya bisa mengacak rambutnya. Ia kemudian pergi dari sana.

Saat jam istirahat tiba, seluruh murid bergegas keluar kelas untuk makan siang. Tao merasa aneh dengan tingkah Baekhyun hari ini. Temannya itu lebih banyak berdiam diri. "Kau tidak makan?", tanya Tao pada Baekhyun. Temannya itu kini memilih tidur dengan tumpukan buku sebagai alasnya.

Baekhyun menggeleng. "Kau yakin?", tanya Tao lagi. Baekhyun mengangguk lalu memejamkan matanya.

"Baiklah kalau begitu", Tao kemudian meninggalkan Baekhyun dengan langkah berat. Setelah Tao pergi, Baekhyun membuka matanya. Air mata keluar begitu saja dan membasahi bukunya. Ia tidak tau kalau patah hati akan sesakit ini.

Chanyeol kembali ke kelasnya lebih cepat karena ia tidak makan siang. Ia hanya perlu ke toilet. Chanyeol melihat Baekhyun tertidur di bangkunya. Chanyeol memandang Baekhyun. Ia ingat kejadian kemarin pasti sangat tidak diharapkan oleh gadis ini. Dengan ragu, Chanyeol mendekat ke meja Baekhyun. Ia tidak ingin membangunkan Baekhyun, jadi ia berjalan hati-hati. Chanyeol mengambil bangku kosong di depan Baekhyun. Ia memperhatikan Baekhyun yang tertidur, Chanyeol baru saja akan kembali ke tempat duduknya, namun suara isakan membuatnya kembali menoleh kearah Baekhyun. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Baekhyun. Gadis itu masih terpejam namun air mata mengalir hingga membasahi buku yang ia jadikan alas untuk tidur. Apa Baekhyun menangis dalam tidurnya?

"Dobby-ah!", Chanyeol menoleh kearah pintu saat mendengar suara anak perempuan. Ia panik melihat Luhan berjalan kearahnya. Chanyeol melihat Baekhyun bergerak gelisah. Sebentar lagi Baekhyun pasti akan terbangun. Chanyeol buru-buru berdiri dari posisi duduknya.

Baekhyun yang mendengar suara ribut-ribut, membuka matanya. Ia baru sadar kalau ia menangis dalam tidurnya. Gadis itu buru-buru mengahapus air matanya dan membalik bukunya. Baekhyun terkejut melihat Chanyeol berdiri disampingnya. Apa yang dilakukan orang ini disini?

Baekhyun beralih menatap murid perempuan lain yang merangkul tangan Chanyeol. Sebenarnya apa yang dilakukan dua orang ini di dekat mejanya?

Luhan melihat Baekhyun lalu membungkuk hormat. "Annyeong Baekhyun-ah", ujar gadis itu dengan ceria.

Baekhyun ingat kalau Luhan adalah seniornya di kelas menyanyi. Baekhyun membalas dengan tersenyum.

Luhan kemudian menarik tangan Chanyeol. "Kenapa kau tidak bilang kalau bersekolah disini?", omel Luhan dengan bibir yang mengerucut.

Chanyeol terlihat salah tingkah di depan Baekhyun. Luhan benar-benar kekanakan. Sedangkan Baekhyun masih tidak mengerti situasinya.

"Tadi aku bertemu Yura eonnie, dia bilang kau bersekolah disini. Bukankah kau sedang di Amerika?", tanya Luhan penasaran.

Chanyeol terlihat kaku melepas pegangan erat Luhan. "Baiklah, ayo bicara diluar", Chanyeol kemudian mendorong Luhan keluar kelas yang dibalas protes oleh Luhan.

"Baekhyun, aku pergi ya", teriak Luhan sebelum keluar bersama Chanyeol. Sedangkan Baekhyun hanya mengangguk dengan wajah bodohnya.

"Apa mereka pacaran?"

Di kantin sekolah, Chanyeol dan Luhan duduk di satu meja yang sama. Luhan terus saja melempar pertanyaan yang membuat Chanyeol bingung harus menjawab dari mana.

"Kapan kau kembali? Mengapa kau tidak memberitahuku? Apa kau tidak punya nomorku? Atau kau menghapusnya? Atau kau justru sengaja menjauhiku? Apa—"

Chanyeol mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan Luhan untuk berhenti bicara.

"Bicaralah pelan-pelan", Chanyeol mulai menyandarkan tubuhnya.

"Aku kembali dari Amerika kemarin lusa dan tinggal di rumah noona. Aku bukannya tidak ingin menghubungimu, hanya saja aku belum sempat melakukannya", jawab Chanyeol.

Luhan memasang wajah terkejutnya. "LUPA?! Kau bilang kau lupa menghubungiku? Ya si brengsek ini! Sudah berapa tahun kita bertetangga? Aku bahkan masih ingat kapan pertama kali kau bisa naik sepeda roda dua dan sekarang kau mengatakan lupa?! Ya Tuhan!"

Chanyeol sudah tau reaksi Luhan akan berlebihan seperti ini. Gadis cerewet ini. Chanyeol mengacak rambut Luhan sambil tersenyum.

"Aigo gadis ini…"

Luhan menjauhkan kepalanya dengan kesal. "Ya apa yang kau lakukan? Aku lebih tua darimu!"

Chanyeol hanya tersenyum meremehkan. "Tapi tingkahmu masih seperti anak perempuan", jawab Chanyeol.

Dari kejauhan terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut blonde. Ia memegang nampan dengan semangkuk nasi, sup, dan kue strawberry. Matanya menatap meja di tengah kantin dengan berapi-api. Seseorang mengganggu gadisnya!

Oh Sehun berjalan lebar-lebar mendekati meja tersebut.

"Oh, Sehun-ah!", seru Luhan terkejut.

"Apa yang noona lakukan disini? Apa pria ini mengganggumu?", tanya Sehun pada Luhan.

Sehun meletakkan nampannya. "Ya! Kau siapa? Berani sekali kau memegang kepala Luhan noona seperti itu?!", kini Sehun berteriak sambil menunjuk-nunjuk wajah Chanyeol dengan jari telunjuknya.

Chanyeol menatap Luhan dengan pandangan bingung. Ia tidak tau siapa orang asing dengan warna rambut aneh yang sedang bicara dengannya.

Luhan segera menarik Sehun untuk duduk di sebelahnya.

"Mengapa kau bersikap seperti ini? Itu tidak sopan!", kata Luhan menasehati Sehun.

"Orang ini kurang ajar! Ia mengacak rambut noona! Aku akan menghajarnya", seru Sehun. Ia bersiap untuk berdiri dan melayangkan tinjunya. Namun Luhan segera menariknya. "YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Luhan menghembuskan nafasnya. "Dia ini sepupuku!", jawab Luhan. Sehun langsung terpaku di tempatnya. "N-ne?", tanya Sehun dengan wajah seperti orang bodoh.

"Aku bilang ini sepupuku. Park Chanyeol", ulang Luhan.

Sehun menatap Chanyeol lalu tersenyum canggung. Sedangkan Chanyeol duduk santai sambil melipat kedua tangannya. Ia memasang ekspresi datarnya di depan Sehun.

Sehun mengambil posisi duduk menghadap Chanyeol. Ia lagi-lagi tersenyum aneh. "Oh hyung… Annyeonghasseo, namaku Oh Sehun murid di tahun pertama. Senang bertemu denganmu", Sehun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya merasa tidak enak setelah kelakuannya yang memalukan.

Chanyeol tersenyum. "Oh annyeong. Haruskah aku memperkenalkan diriku? Kurasa tidak perlu karena Luhan sudah mengatakannya padamu tadi. Maaf, tadi kau bilang apa? Aku kurang ajar?", ujar Chanyeol.

Sehun melirik sekitarnya. "A-ah, m-maksudku bukan begitu. Tadi kupikir kau orang jahat karena mengganggu noona", jawab Sehun.

"Oh benarkah? Jadi kau menyukainya?", tanya Chanyeol.

Sehun melirik Luhan lalu tersenyum. "Tentu saja! Luhan noona dan aku sudah pacaran", jawab Sehun malu-malu.

Luhan memandang Sehun dengan tatapan tidak percaya. "Mwo? Kapan? Aku tidak pernah menjawab iya", protes Luhan.

Sehun memasang wajah sedihnya. "Bukankah noona menerima coklatku kemarin?"

"Aku menerimanya karena aku lapar", bantah Luhan.

"Mengapa noona seperti ini? Kita bahkan sudah berbagi payung bersama, aku juga menemani noona latihan menari, aku bahkan membelikan bubble tea kesukaan noona setiap minggu", jawab Sehun.

"Jadi kau mengungkit kebaikanmu? Kalau kau keberatan melakukannya, ya sudah, lagipula aku tidak pernah memintamu melakukannya", ujar Luhan.

Sehun yang melihat ekspresi Luhan sedang marah, segera menarik tangan Luhan. "Noona, maksudku bukan begitu", bujuk Sehun.

Satu-satunya orang yang menonton mereka tersenyum lucu. Apakah masih ada pasangan kekanakan seperti ini? Dua bocah ini benar-benar.

Chanyeol segera memotong pembicaraan pasangan kekasih yang belum resmi itu.

"Aku disini bukan untuk menonton drama. Selesaikanlah urusan kalian", Chanyeol menarik kursinya mundur untuk berdiri.

Luhan segera menghentikan Chanyeol. "Ya! Aku belum selesai bicara denganmu!"

"Akan kutelpon nanti. Bye", Chanyeol berjalan menjauh. Luhan buru-buru berdiri untuk mengejar Chanyeol namun Sehun menariknya membuat Luhan menatap pria itu dengan tatapan tajamnya.

"Aish! Bocah ini!"

-Love by Accident-

Baekhyun berencana ke ruang guru untuk mencari Kangin songsaenim. Harusnya beliau sudah masuk kelas lima menit yang lalu tapi beliau belum juga datang. Karena Baekhyun yang menjadi ketua kelas, ia tidak bisa membiarkan kelasnya dalam keadaan gaduh dan harus segera mencari majikan untuk menjinakkan anak-anak anjing tersebut.

Baekhyun tidak sengaja mendengar suara tawa anak laki-laki dari ruang olahraga. Gadis itu berusaha tidak peduli dan berjalan pergi, tapi suara mereka terdengar semakin keras. Seakan menertawakan lelucon yang benar-benar lucu. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di ruang olahraga saat jam pelajaran? Karena penasaran, Baekhyun mengintip.

Sepasang mata bola itu mengintip dari balik jendela yang langsung memperlihatkan isi ruang olahraga. Matanya tertuju pada sosok tinggi yang duduk diatas matras. Beberapa anak laki-laki lain duduk mengelilinginya.

"Apa kau benar-benar mengatakan itu?", Baekhyun mendengar seorang laki-laki bertanya. Baekhyun tau menguping pembicaraan orang lain bukanlah bagian dari sikap sopan santun. Tapi ini menyangkut pacarnya Kris. Ia melihat Kris tertawa lepas lalu mengangguk. Sebenarnya apa yang dibicarakan mereka sehingga sebegitu gembiranya?

Kris menyingsingkan lengan seragamnya lalu tersenyum miring. "Anak baru itu yang berlebihan. Aku hanya mengatakan akan membawa pacarku keatas ranjang tapi ia langsung menghantam wajahku. Aish! Bila mengingatnya, aku ingin sekali mematahkan lehernya".

Diluar pintu, Baekhyun merasa sesuatu yang keras menghantam jantungnya. Apa yang barusan ia dengar? Ia salah dengar kan?

Seorang anak laki-laki lain tertawa. "Tapi kenapa ia memukulmu? Atau jangan-jangan ia menyukai kekasihmu?"

"Pacarmu yang mana? Ketua kelas itu? Byun Baekhyun?"

Kris mengangguk tidak peduli.

"Kau membual kan? Ketua kelasmu itu orang yang paling sulit di dekati dan introvert. Kau bahkan bilang belum pernah berhasil mengajaknya berciuman. Jadi bagaimana bisa kau omong besar mengajaknya tidur? Lupakan saja, kau tidak akan bisa melakukannya", ujar laki-laki berambut pirang.

Kris memandang temannya itu dengan tatapan tajam. Ia merasa telinganya memanas.

Seorang yang lain menyahut. "Mengapa kau pacaran dengannya? Murid perempuan yang lebih sexy bahkan mengantri untuk tidur denganmu. Baekhyun tidak ada apa-apany. Saat ia berjalan bahkan terlihat seperti tengkurap. Kalian mengerti maksudku bukan?"

Sontak seisi ruang olahraga yang berisi manusia tidak bermoral itu tertawa.

Baekhyun merasa hatinya panas. Jantungnya seperti ditusuk belati berkarat sehingga perlu menggoyang-goyangkan belatinya untuk menembus jantungnya. Matanya memerah dan rahangnya mengeras. Lututnya lemas. Harga dirinya sudah sangat direndahkan oleh pria kurang ajar seperti mereka! Apa pantas mereka berada di sekolah dan bicara kasar?

Baekhyun tidak tahan, semakin lama disini bisa membuatnya mengambil pisau dan langsung menusuk mereka semua sampai mati!

Dengan sempoyongan, Baekhyun berjalan menjauh dari sana. Pandangannya kosong. Ia bahkan lupa mengapa ia berada disini bukannya di dalam kelas.

-Love by Accident-

"Apa kau benar-benar mengatakan itu?"

Kris menyingsingkan lengan seragamnya lalu tersenyum miring. "Anak baru itu yang berlebihan. Aku hanya mengatakan akan membawa pacarku keatas ranjang tapi ia langsung menghantam wajahku. Aish! Bila mengingatnya, aku ingin sekali mematahkan lehernya".

Temannya yang satu tim basket dengan Kris tertawa. "Tapi kenapa ia memukulmu? Atau jangan-jangan ia menyukai kekasihmu?"

"Pacarmu yang mana? Ketua kelas itu? Byun Baekhyun?", tanya anak laki-laki lain.

Kris mengangguk tidak peduli.

"Kau membual kan? Ketua kelasmu itu orang yang paling sulit di dekati dan introvert. Kau bahkan bilang belum pernah berhasil mengajaknya berciuman. Jadi bagaimana bisa kau omong besar mengajaknya tidur? Lupakan saja, kau tidak akan bisa melakukannya", ujar laki-laki berambut pirang.

Kris memandang temannya itu dengan tatapan tajam. Ia merasa telinganya memanas.

Seorang yang lain menyahut. "Mengapa kau pacaran dengannya? Murid perempuan yang lebih sexy bahkan mengantri untuk tidur denganmu. Baekhyun tidak ada apa-apanya. Saat ia berjalan bahkan terlihat seperti tengkurap. Kalian mengerti maksudku bukan?"

Sontak seisi ruang olahraga yang berisi manusia tidak bermoral itu tertawa.

Kris memandang anak laki-laki yang baru saja selesai bicara itu dengan sengit. Tiba-tiba ia berdiri dari matras dan mendorong anak laki-laki itu hingga punggungnya menabrak dinding. Sontak tawa mereka berhenti seketika.

Anak laki-laki berambut pirang itu meringis kesakitan karena punggungnya menghantam dinding keras. Ia menatap Kris tajam.

"Apa yang sedang kau lakukan padaku?!", teriaknya tidak terima.

Kris memasang senyumnya yang mengerikan. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada kerah anak laki-laki itu dan nyaris mencekik lehernya sehingga temannya itu terbatuk-batuk kekurangan oksigen.

Temannya yang lain berusaha memisahkan mereka namun Kris berteriak keras agar mereka tidak mendekat.

"BERHENTI DISANA! Atau kalian ingin aku menghabisi kalian juga?!", Kris terdengar dingin. Teman-temannya tau Kris sedang tidak bercanda. Mereka tidak ingin ambil resiko dan hanya berdiri di tempatnya.

Kris memandang anak laki-laki di depannya. Ia menghimpit tubuh mereka. "Dengarkan aku brengsek! Jangan pernah kau bicara kurang ajar tentang Baekhyun atau aku akan mematahkan tulang belakangmu!", ancam Kris dengan suara dingin.

"Uhuk… uhuk… A-arraseo… Aku mengerti, lepaskan aku sekarang", pinta anak laki-laki itu.

Dengan kasar, Kris melempar tubuh temannya itu hingga tersungkur di tanah. Kris berkacak pinggang lalu menarik dasinya dengan kasar untuk melonggarkan kerah bajunya. Suasana tiba-tiba terasa sangat pengap. Ia memandang kelompoknya itu dengan sengit sebelum meninggalkan mereka.

Saat mereka melihat Kris menjauh, anak laki-laki itu membantu temannya yang tersungkur karena Kris.

"Sebenarnya ada apa dengannya?", omel kelompoknya saat Kris sudah tidak ada di ruangan itu.

-Love by Accident-

Kangin songsaenim sedang menjelaskan materi tentang phytagoras. Ada murid yang memperhatikan dengan teliti seperti Tao. Ada murid yang sibuk mencatat seperti Chanyeol. Ada murid yang terkantuk-kantuk dengan kepala yang terus saja jatuh nyaris menghantam meja belajarnya seperti Jongin. Ada yang sudah tertidur dengan tidak peduli seperti Kris. Dan ada yang hanya duduk dengan tatapan kosong yaitu Baekhyun.

Kangin songsaenim meletakkan spidolnya lalu berdiri di depan podiumnya dan mulai menjelaskan tentang teori phytagoras.

"Rumus phytagoras adalah suatu rumus matematika yang pola perhitungannya diuji dan dikreditkan oleh Phytagoras. Bunyi teori ini adalah dalam suatu segitiga dengan bentuk siku-siku dapat diketahui bahwa kuadrat hipotenusa adalah samadengan jumlah dari kuadrat pada dua sisi lainny—"

Pandangan guru dengan umur nyaris kepala tiga itu terhenti pada murid teladannya bernama Byun Baekhyun.

"Byun Baekhyun", tegur Kangin songsaenim. Sejak tadi ia hanya melihat muridnya itu bengong di jam pelajarannya. Biasanya Baekhyun akan sibuk memperhatikan dan mencatat.

"Byun Baekhyun", ulang guru mereka.

Seluruh murid menoleh kearah Baekhyun. Tao menyikut Baekhyun membuat temannya itu menoleh dengan ekspresi 'ada apa?'

Tao menggerakkan dagunya agar Baekhyun menghadap ke depan. Baekhyun baru sadar dari dunia khayalnya. Ia baru sadar murid lain sudah memandangnya dengan pandangan menunggu begitu juga gurunya.

"Byun Baekhyun", panggil Kangin songsaenim.

"Ye?", Baekhyun menunduk merasa bersalah. Tidak biasanya ia melamun di saat pelajaran.

Kangin songsaenim menunjuk papan di depan kelas. Disana sudah tergambar bentuk segitiga siku-siku dengan sudut A, B, dan C.

"Jika diketahui BC samadengan delapan centimeter dan AC adalah enam centimeter, berapa panjang sisi AB pada gambar itu?"

Baekhyun terlihat berpikir, seperti berhitung cepat. "Sepuluh centimeter?", jawab Baekhyun.

Murid lain terlihat kagum karena mereka belum selesai menghitung tapi Baekhyun sudah menjawabnya dengan waktu tidak sampai sepuluh detik. Tao yang duduk disampingnya bahkan berdecak kagum. Ia sudah terbiasa dengan kepintaran teman sebangkunya ini. Tapi tetap saja selalu ada kejutan.

Kangin songsaenim mengangguk kecil. "Bisa kau jelaskan?"

Baekhyun berdiri lalu bicara. "AB kuadrat samadengan AC kuadrat ditambah BC kuadrat. Jadi enam kuadrat ditambah delapan kuadrat samadengan tiga puluh enam ditambah enam puluh empat. Hasilnya adalah seratus AB. Dan kuadrat dari seratus adalah sepuluh. Jadi, panjang sisi AB adalah sepuluh centimeter".

Chanyeol memperhatikan Baekhyun dengan tatapan kagum. Ia tidak tau rumor Baekhyun dijuluki generasi Albert Einstein bukan hanya lelucon.

Kangin songsaenim mengangguk puas. Ia mempersilahkan Baekhyun duduk kembali.

Tao mendekat kearah Baekhyun lalu berbisik pelan. "Daebak, kau bahkan tidak memperhatikan Kangin songsaenim tapi kau menjawabnya dengan cepat. Sebenarnya kau makan vitamin apa hingga IQ-mu sehebat itu?", tanya Tao antusias.

Baekhyun mengembuskan nafasnya lalu menghadap Tao dengan hati-hati. Ia tidak ingin guru mereka mengetahui ia mengobrol dalam kelas. "Aku sudah membaca teori itu sebelumnya", jawab Baekhyun.

Kangin songsaenim beralih menatap ke bangku belakang. Ia menghembuskan nafas dengan ekspresi putus asa. Dengan kesal, ia meraih penghapus papan dan melemparnya kearah belakang. Sayangnya itu meleset dari targetnya. Tapi setidaknya murid incarannya itu bangun dari tidur siangnya. Seisi kelas memperhatikan Kris.

Kris mengadahkan kepalanya. Matanya menyipit beradaptasi dengan cahaya. Ia melihat teman-temannya tengah memandangnya serius.

"Tidurmu nyenyak?", sindir Kangin songsaenim dari depan kelas.

Kris tersenyum lalu mengangguk seakan ia tidak melakukan kesalahan apapun.

"Hei nak! Apa itu phytagoras?", tanya Kangin songsaenim pada Kris.

"Phytagoras?"

"YA! Phytagoras! Aku baru saja menjelaskannya. Sekarang jelaskan kembali!", perintah guru mereka.

"Apakah seorang yang terkenal?", tanya Kris dengan ekspresi berpikir keras.

"YA! Apa kau sedang bercanda?!", teriak Kangin songsaenim kesal. Muridnya yang satu ini tidak pernah berubah.

"Wae? Apakah salah?", tanya Kris.

Pria paling tua yang berada di kelas memegang belakang kepalanya yang berdenyut. Sepertinya darah tingginya kambuh.

"Bila kau tidak mengerti apapun setidaknya pura-pura lah memperhatikan. Beraninya kau tertidur disaat gurumu sedang menjelaskan!"

Kris membungkuk dari tempat duduknya. "Maafkan aku".

Kangin songsaenim kemudian membuka buku absennya.

"Hari ini saya akan memberi kalian tugas kelompok. Satu kelompok berisi dua orang. Carilah soal-soal phytagoras dan buat dalam portofolio", ujar Kangin songsaenim. Sontak seisi kelas terdengar mengeluh dan mendesah berat. Tugas menyebalkan!

"Byun Baekhyun", panggil guru mereka.

"Ne?", jawab Baekhyun.

"Kau berada satu kelompok dengan Park Chanyeol".

Chanyeol segera menoleh ke depan kelas saat mendengar namanya dipanggil.

Jongin menyenggol pundak teman sebangkunya itu dengan senyum jahil. "Betapa beruntungnya kau".

Sedangkan Chanyeol membalas Jongin dengan tatapan 'AKU-AKAN-MENGHAJARMU-SEKARANG'.

"Park Chanyeol?", ulang Baekhyun.

Guru mereka mengangguk. "Ne, karena ia baru pindah kemarin, dia akan membutuhkan banyak bantuan. Karena kau yang paling mengusai materi pelajaran, ku pikir itu akan membantu", jelas guru mereka.

Baekhyun mengangguk. Ia tampaknya tidak keberatan dengan hal itu. Sedangkan Chanyeol merasa heran. Bukankah Baekhyun tidak menyukainya? Karena ia memukul kekasihnya itu kemarin.

Tao dan Kris terlihat kecewa dengan keputusan Kangin songsaenim. Tentunya kedua orang itu yang paling banyak berharap berada satu kelompok dengan Baekhyun.

Kangin songsaenim beralih menatap Kris dengan tatapan tegas.

"Tao", panggil guru mereka. Namun pandangannya tetap pada murid kesayangannya yang paling sering bertatap muka dnegannya di ruang guru karena kasus-kasusnya. Kris.

"Ne?", Tao terlihat terkejut mendengar namanya dipanggil.

"Kau satu kelompok dengan Kris", ujar Kangin songsaenim.

"MWO?!", Tao berteriak histeris. Mendengar nama Kris seperti suara petir di siang bolong.

Kangin songsaenim beralih menatap Tao. "Mengapa? Ada masalah dengan itu?"

"T-tapi mengapa aku?", tanya Tao. Ia butuh alasan yang bagus.

"Kau yang berada di peringkat dua. Aku tidak bisa mengandalkan Kris bila berada satu kelompok dengan orang lain. Dia pasti akan mengumpulkan kertas kosong seperti tugas terakhir yang kuberikan. Jadi ajarilah ia materi ini", ujar Kangin songsaenim.

Tao masih tidak terima. Yang benar saja! Ia harus berada satu kelompok dengan iblis sekolah? Lebih baik ia mengerjakan tugasnya sendiri.

"Kalau begitu aku yang akan membantu Chanyeol", jawab Tao.

Baekhyun menoleh kearah Tao. Sedangkan Tao menatapnya dengan pandangan memohon.

Kris tersenyum miring lalu berteriak dengan suara keras dari bangku belakang. "Baguslah kalau begitu, aku lebih suka satu kelompok dengan Baekhyun daripada denganmu!"

Tao segera memutar kepalanya ke belakang dan menghadiahi Kris dengan tatapan gelapnya.

"Ani, aku yang akan membantu Park Chanyeol", sergah Baekhyun. Mengingat kejadian di ruang olahraga membuatnya tidak sudi membayangkan akan mengerjakan tugas bersama dengan Kris.

Kris tercengang mendengarnya. Tao segera melirik Baekhyun dengan pandangan keberatan.

"Byun Baekhyun!", Tao memanggil temannya itu dengan suara berbisik.

Baekhyun benar-benar merasa bersalah pada Tao. Tapi ia sungguh tidak bisa melakukannya.

Guru matematika itu menggebrak meja untuk menghentikan keributan kecil diantara muridnya.

Ia kemudian memandang Baekhyun, Tao, Kris, dan Chanyeol secara bergantian.

"Byun Baekhyun satu kelompok dengan Park Chanyeol, Tao satu kelompok dengan Kris. Dan itu tidak bisa dibantah. Bila ada yang keberatan, katakan padaku dan bersiaplah kehilangan tiga poin nilai kalian", ujar Kangin songsaenim.

Tao menyerah. Baginya nilai tiga poin sangatlah berharga.

"Songsaenim, aku keberatan. Tidak apa-apa mengurangi tiga poin. Tapi biarkan aku dengan Baekhyun", ujar Kris.

"Kau bahkan tidak memiliki poin apapun selama pelajaranku. Jadi poin mana yang harus ku kurangi?!".

Seisi kelas langsung tertawa mendengarnya. Namun guru mereka lagi-lagi menghentikan riuhnya kelas yang berlangsung beberapa detik tersebut.

"Untuk murid lainnya, kalian bisa memilih kelompok kalian masing-masing", ujar Kangin songsaenim.

Sontak seisi kelas kecuali empat orang yang sudah mendapatkan kelompok mereka terlihat senang.

Tao bahkan bertanya-tanya apa sudah tidak ada keadilan untuknya?

"Aku ingin kalian mengumpulkannya minggu depan. Mengerti?"

"NEEE…"

Setelah itu bel tanda selesainya pelajaran berbunyi. Guru mereka mengucapkan selamat sore dan keluar kelas. Murid-murid bernafas lega. Jongin langsung meninju udara. Kebebasan!

Kris menarik tasnya lalu berjalan cepat ke arah meja Baekhyun dan Tao.

Baekhyun terlihat tidak peduli saat Kris berdiri disampingnya. Dengan santai, ia memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Bicaralah denganku!", Kris menarik Baekhyun untuk bangun. Tapi Baekhyun segera menepisnya kasar. Ia menatap Kris tajam.

Tao hanya memperhatikan pasangan kekasih itu dengan hati-hati.

Baekhyun memiringkan kepalanya untuk melihat seseorang yang tertutup tubuh tinggi Kris.

"Chanyeol-ssi!"

Chanyeol yang baru saja meletakkan tasnya di pundak beralih menatap Baekhyun.

Kris menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Chanyeol dengan pandangan tidak suka.

"Besok sepulang sekolah bawalah laptopmu. Kita akan membuat tugasnya", ujar Baekhyun. Setelah mengatakan itu, Baekhyun segera berjalan pergi keluar kelas. Chanyeol bahkan belum mengatakan apapun.

Tao yang melihat Baekhyun pergi segera mengejar temannya itu. "Baekhyun-ah, tunggu aku!"

Kris berdecak sebal. Ia menendeang meja disampingnya dengan keras. Beberapa murid lain keluar kelas dengan mengendap-endap karena takut.

Kris menatap Chanyeol tajam sedangkan Chanyeol tidak terlihat takut dengan hal itu.

Setelah itu ia keluar kelas dengan mood yang buruk.

-000-

-000-

-000-

TBC!

-000-

-000-

-000-

Maaf untuk update yang lama.

Author sedang sibuk mengurus banyak hal.

Terimakasih sudah membaca ff ini.

Mohon reviewnya bila berkenan.

Dan untuk ff "ANTIFAN" mungkin akan di update dalam minggu ini jadi mohon bersabar menunggu.

Terimakasih untuk pengertiannya.