Harry membenamkan wajahnya pada dada bidang Draco Malfoy. Menghirup pekat aroma yang ia yakini matenya itu.

"Belahan jiwaku," Harry bergumam. Ia mengulang kalimat itu hingga tiga kali.

Draco termenung, "Tapi aku bukan belahan jiwamu." Balasnya pelan.

Iris emerald Harry membulat,

Melihat tanda soulmate pada punggung tangan Draco. Tanda yang berbeda dengannya.

.

.

Can You Hear The Melodies?

Haary Potter belongs to JK Rowling

Written by DraRry's Lucifer

(Ai Minkyoo, Syiera Aquila)

Rate : R18!

Pair : Draco Malfoy x Harry Potter

Entertainment—Soulmate—AU!

.

Beberapa waktu telah berlalu sejak kejadian hari itu. Cedric Diggory sama sekali tidak menyangka kalau tugas mereka menyaksikan latihan dari junior mereka membawa dampak yang berbeda daripada yang mereka harapkan. Tidak–bukan mereka. Tapi sosok adik kesayangan mereka, Harry.

Leader Brave One tersebut bisa melihat bagaimana Harry berusaha keras menerima fakta kalau Draco Malfoy –Leader D'ragon tersebut– bukanlah matenya. Walaupun Cedric tahu pasti kalau itu adalah hal yang sangat sulit.

Dari awal, Harry sudah dihadapkan pada puluhan bahkan mungkin ratusan fans yang mengaku-aku sebagai matenya. Dan sekarang, disaat dia meyakini ada seseorang yang merupakan soulmatenya yang sebenarnya... ternyata itu hanyalah keyakinan tanpa dasar belaka.

Cedric tidak sanggup membayangkan seperti apa rasa sakit yang dirasakan oleh Harry. Dan dia sungguh tidak berharap, Harry akan merasakan hal seperti itu lagi. Iris Cedric terpaku menatap Harry dengan pandangan iba dan kasihan.

.

Harry menghembuskan nafasnya. Matanya tetap fokus menatap pada pemadangan normal yang berada di luar jendela ruangan itu. Bukannya dia tidak tahu kalau sedari tadi Cedric menatapnya dengan pandangan prihatin dan sebangsanya. Hanya saja, dia sedang tidak bergairah untuk memulai perdebatan dengan Leadernya itu. Tenaganya serasa terkuras habis dalam beberapa hari terakhir ini. Meskipun yang dia lakukan hanyalah melamun dan merenung.

Jujur, dia masih memikirkan sosok Draco Malfoy –meskipun dia bersikeras pada anggota Brave One lainnya kalau dia sudah bisa melupakan insiden itu– dalam benaknya. Setiap kali Harry memejamkan mata, Harry selalu bisa melihat wajah familiar itu. Masih terbayang bagaimana rasanya berada dalam pelukan Leader D'ragon itu. Masih terasa bagaimana kekarnya tubuh Draco, bidangnya dada pemuda itu, juga lekuk tubuhnya yang sangat sempurna.

Harry juga masih mengingat bagaimana detak jantung Draco seirama dengan detak jantungnya sendiri. Juga aura familiar yang ada di tubuhnya, yang seolah-olah menarik Harry untuk terus berada di dekat sosok pirang itu. Itu jugalah, alasan kenapa Harry begitu percaya diri menyebut kalau Draco Malfoy adalah matenya. Tapi ternyata...

Tato soulmate di punggung tangan Draco berbeda dengan miliknya. Jauh berbeda. Dan itu seakan menjadi bukti kuat tak terbantahkan kalau... seorang Draco Malfoy bukanlah matenya.

Mungkinkah... matenya memang tidak ada di dunia ini lagi? Mungkinkah selamanya, dia takkan bisa bersatu dengan matenya? Haruskah, menunggu ia berada di surga, agar Harry bisa bersatu dengan matenya?

Beribu pertanyaan akhir-akhir ini selalu berkeliaran dibenak Harry. Tapi sayang sekali, dia sama sekali tidak mempunyai jawaban apapun atas pertanyaan itu. Bahkan sebuah jawaban simpel pun tidak ia miliki agar bisa menjawab semua pertanyaannya.

Lalu sekarang, apa yang harus dia lakukan? Bisakah ia melupakan Draco Malfoy dan menganggap pemuda itu sebagai juniornya saja? Bisakah ia menghapus rasa aneh yang menyelimuti hatinya di saat matanya menatap iris kelabu milik pemuda berkulit pucat itu? Bisakah ia?

Asyik melamun membuat Harry tak menyadari kalau Pemimpin TR Entertainment tengah menatapnya dari pintu. Sosok berambut hitam itu memang kebetulan tengah melakukan inspeksi pada dorm-dorm yang berisi para artis ataupun group asuhannya. Siapa sangka, keisengannya mengunjungi dorm Brave One membuahkan pemandangan Harry yang melamun menatap keluar jendela?

"Sepertinya pemandangan di luar sana lebih bagus daripada pemandangan pimpinanmu sendiri ya, Mr. Potter." Ucap Tom Marvolo Riddle dengan wajah datar.

Mendengar suara familiar itu, lantas membuat Harry terkesiap dan berbalik. menatap kikuk pada sosok yang berjasa besar dalam hidupnya itu. Tersenyum kaku, Harry menyapa pria dewasa itu. "Selamat siang, sir."

"Apa yang kau lamunkan, hn?"

"Uh? Tidak ada kok. Hanya berpikir kalau suasana di luar indah sekali. Sudah lama aku tidak memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan di bawah panas matahari." kembali nyengir kaku, Harry menjawab pertanyaan itu dengan satu-satunya alasan yang terlintas di benaknya.

"Hm..." Tom tidak berkomentar lebih lanjut. Mata merahnya menyusuri ruangan dorm yang terkesan sangat rapi untuk ukuran ruangan para pemuda yang serampangan. Bisa ditebak kalau Harry lah dibalik alasan kerapian dorm ini. Mengingat pemuda berambut hitam berantakan itu memang lebih expert dalam hal bersih bebersih.

"Ah, apa ada pekerjaan untuk kami, Mr. Marvolo?" Cedric buka suara. Memang sudah menjadi aturan tidak tertulis di management ini untuk memanggil pimpinan mereka bukan dengan nama akhirnya. Melainkan dengan nama tengahnya. Entah apa alasan dibalik itu, tak ada seorangpun yang mempunyai cukup keberanian untuk mencari tahu.

"Hn. Aku hanya ingin mengingatkan kalian untuk selalu membantu junior kalian. Terutama D'ragon yang baru beberapa hari lalu melakukan debutnya. Ah.. dorm D'ragon ada di sebelah kalian. Jadi kalau mereka ada apa-apa, kalianlah yang paling bertanggung jawab terhadap mereka."

Ron dan Seamus yang sedari tadi sibuk mengemil di depan televisi langsung berseru protes. "Kenapa harus kami, sir? Mereka juga kan sudah dewasa."

Tom menatap sekilas pada dua anggota Brave One itu sebelum kemudian menatap Cedric. "Kalau ada masalah, kalian bisa langsung menghubungiku." Ucapnya sebelum kemudian melirik Harry yang mematung dan keluar dorm.

...

Keheningan lantas melanda ruangan yang cukup lapang itu. Semua mata memandang pada sosok anggota termuda Brave One dengan tatapan prihatin. Baru saja, mereka berharap kalau mereka tidak perlu terlibat lagi dengan group junior itu, siapa sangka sekarang mereka bagaikan senior mereka yang bertanggung jawab atas group itu selama di dorm? Takdir mereka memang aneh.

"Err... Harry?" panggil Seamus ragu.

"Aku butuh mandi air dingin!" Harry segera saja bangkit. Dan tak peduli dengan wajah kaget 3 'kakak'nya itu, ia langsung mengunci dirinya di kamar mandi.

"Err... he will be okay, right?" tanya Ron entah pada siapa.

Cedric dan Seamus hanya bisa saling pandang dan menggeleng pelan. Tidak tahu harus menjawab apa.

.

.

Debut D'ragon beberapa waktu lalu sukses menarik ribuan penonton. Banyak fans yang semula mengaku sebagai bagian dari setiap fandom yang ada, sekarang menetap dan mengaku kalau mereka hanyalah fans dari D'ragon. Namun banyak juga anti-fans yang tak suka melihat artis mereka dikalahkan oleh D'ragon yang baru saja debut.

Tapi, dari semua itu... tak ada yang menyangka kalau D'ragon bisa menggeser posisi Brave One dibillboard sebagai nama yang paling banyak dicari –meskipun hanya berlaku selama 24 jam full, karena esoknya nama Brave One kembali menjadi nomor satu– .

Beberapa orang mulai membanding-bandingkan group beranggotakan lima orang pemuda tampan itu dengan group senior yang jauh di atas mereka. Bahkan tak jarang, hal ini memicu fanwar antar fandom dan bahkan sesama mereka!

Draco yang memang mengikuti perkembangan debut mereka hanya bisa menggeleng kepala. Tidak menyangka kalau fans dan antifans bisa sebegitu buasnya hanya demi membenarkan pendapat mereka. Padahal, baru belum juga sampai satu bulan sesudah debut D'ragon. Siapa sangka, hasilnya bisa begini?

Entah apa pendapat para senior mereka saat membaca komentar para fans mereka yang sibuk beradu mulut –baik itu di media sosial maupun dunia nyata–

—Ah, bicara senior... Draco mau tak mau kembali mengingat akan satu sosok senior yang pernah menganggapnya sebagai mate dari pemuda itu. Hmh... kalau mengingat itu, Draco terkadang merasa lucu sendiri. Padahal, sepanjang pengamatan Draco, orang-oranglah yang selalu mengejar sosok itu dan mengaku-aku sebagai matenya. Siapa yang tau kalau ternyata sekarang keadaan berbalik? Sosok itu tiba-tiba saja memeluknya dan mengatakan kalau Draco adalah matenya.

Dan sudah hampir sebulan Draco tidak pernah melihat sosok berambut hitam berantakan itu disekitarnya. Padahal, menurut apa yang dikatakan oleh Mr. Marvolo drom mereka itu letaknya bersebelahan. Tapi... fakta yang berbicara seolah-olah mereka berada di benua yang berbeda saja. Padahal mereka sama-sama sedang tidak disibukkan oleh kegiatan apapun, tapi tak bisa bertemu.

Bukannya Draco merindukan sosok dengan mata emerald itu. Tapi rasanya sepi juga.

.

.

"Jadi, dalam beberapa hari kedepan, kita akan mengikuti acara Reality Show dari Slythendor Televisi. Dalam acara ini, yang akan meliput kita bukan hanya dari Slythendor Televisi itu sendiri, melainkan juga dari beberapa media yang memang melakukan kerja sama dengan TR Entertainment. Dan acaranya adalah game camp di Forbidden Forest."

"Tunggu tunggu tunggu! Yang namanya Forbidden Forest itu bukankah harusnya tidak boleh kita masuki, 'Mione?" Ron memotong penjelasan Hermione mengenai job mereka dalam beberapa hari lagi.

Hermione menghembuskan nafas dan menatap Ron dengan pandangan mencela. "Meskipun dinamakan Forbidden Forest, Ronald Weasley, Hutan itu sama sekali tidak berbahaya. Alasan kenapa dinamakan seperti itu adalah karena dulu banyak sekali makhluk buas di dalam sana. Namun setelah adanya penangkaran margasatwa, semua hewan buas di sana dipindahkan. Jadi, tak ada alasan kau untuk merasa takut." Jelas Hermione panjang lebar sembari membentangkan sebuah buku ke hadapan Ron.

"Meskipun begitu, tetap saja..."

"Walau tempatnya memang seram, Ron. Takkan ada hal-hal berbahaya di sana. Bahkan bisa dibilang, hutan itu merupakan salah satu hutan dengan pemandangan terindah di negara kita. Jadi kau tak perlu takut akan bertemu dengan hewan buas ataupun... hantu." Seamus berbisik di telinga Ron. Menggoda rekannya yang memang dikenal penakut itu.

Ron, dengan refleks dan kecepatan yang tepat langsung memukul wajah Seamus yang ada dibelakangnya dengan bantal ditangannya. "Aku tidak takut bertemu dengan hantu! Aku hanya tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama kita syuting disana!" bentaknya dengan wajah memerah.

Yang lain tertawa kecil mendengarnya.

"Pokoknya kau tenang saja. Pihak manajemen juga sudah memastikan kalau tempat itu aman. Lagipula, kalian tidak akan melakukan game itu hanya berempat saja. Kudengar ada group yang baru debut beberapa waktu lalu yang juga mengikuti reality show ini. Dan pihak manajemen jelas berpikir kalau ini juga bisa menjadi sarana kalian untuk mempromosikan diri. Bukankah ini juga pengalaman pertama kalian diundang dalam reality show yang kalian sendirilah pemeran utamanya?" Hermione kemudian berucap dengan senyuman.

"Group lain?" Harry yang entah kenapa merasakan firasat buruk langsung menatap Hermione dengan wajah pucat.

"Yap. Namanya D'ragon. Kalian pasti senang kan? Bukan hanya kalian adalah sebuah group senior yang berhasil menjadi nomor satu, kalian juga menjadi pengawas dari group junior yang dalam beberapa waktu juga melesat menjadi nomor satu. Dan kudengar, kalian juga dormnya bersebelahan. Selain itu, bukankah Mr. Marvolo meminta kalian menjadi pembimbing langsung dari para junior itu?"

...

Semua mata memandang pada Harry yang mematung dengan wajah pucat pasi.

"Err... Harry? Are you okay?" tanya Hermione bingung.

"He will be okay, 'Mione" Cedric, Ron dan Seamus menjawab pertanyaan manager mereka itu dengan kompak. Mengabaikan Harry yang tiba-tiba bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan wajah kosong.

"Kalian serius dia akan baik-baik saja? Wajahnya pucat sekali." Tanya Hermione lagi. Yang kali ini di jawab dengan kebungkaman para anggota Brave One itu. Membuat Hermione hanya bisa menatap bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa gagal paham dengan apa yang tengah terjadi pada para anggota Brave One.

Mungkinkah... mereka terlalu senang akan melakukan reality show dengan D'ragon? Atau... apa mereka merasa senang kembali mendapatkan job setelah selama beberapa waktu terakhir diharuskan hiatus oleh sang pimpinan? Atau... apa mereka terlalu menantikan game camp pertama mereka di Forbidden Forest bersama dengan D'ragon?

Ah, entahlah. Hermione merasa tak seharusnya ia ikut campur dengan masalah pribadi pada artisnya itu. Selama, masalah itu tidak mempengaruhi performa mereka dalam menciptakan dan menyanyikan lagu, Hermione rasa itu sama sekali bukan masalah besar.

Yah, meskipun dia cukup cemas dengan keadaan Harry yang tiba-tiba saja pucat setelah mendengar kabar kalau mereka akan melakukan reality show dengan para anggota group D'ragon.

.

.

.

Seluruh kontrak telah ditandatangani oleh manajer masing-masing grup. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam, menggunakan mobil van pihak acara.

Harry selalu menampakkan wajah pucatnya hingga tiba dilokasi. Alih-alih bersemangat, ia lebih terlihat seperti mayat hidup tanpa nyawa.

"Come on Harry! Bersemangatlah sedikit!" Manajer wanita Brave One itu terus melontarkan kata-kata yang ia rasa akan membangkitkan semangat Harry. Nyatanya, tidak. Dan Hermione sama sekali tidak tahu menahu kejadian silam yang membuat Harry seperti ini.

Puk—pundak Hermione ditepuk pelan.

"Luna Lovegood, manajer D'ragon. Mohon kerjasamanya." Wanita berambut blonde mengulurkan tangannya kearah Hermione, menyunggingkan senyum manis.

"—Ah! Hermione Grangger, manajer Brave One. Mohon kerjasamanya juga, Miss. Lovegood,"

Wanita itu terkekeh pelah, "Ahaha, tidak perlu terlalu formal, kau bisa memanggilku Luna."

"Ok, Luna, panggil aku Hermione—" Hermione menarik pelan tangan Luna menuju grup Brave One yang berkumpul. "—Perkenalkan, mereka grup yang ku manage, ini leader Cedric Diggory, duo trouble maker Seamus Finnigan dan Ron Weasley, lalu yang sedang tidak bersemangat untuk hidup itu member termuda, Harry Potter. Semoga mereka semua tidak membuatmu repot, Luna."

Iris Luna mengamati satu persatu member yang berjajar di depannya itu. Langkah kakinya berjalan semakin mendekat.

"Sepertinya mereka semua baik—" Luna menatap satu persatu secara intens, dan membuat member Brave One sedikit merinding. "—Harry Potter ... aku merasakan aura yang spesial darimu. Ah! Aura yang pekat." Luna mendekatkan wajahnya menuju ceruk leher Harry, memejamkan matanya, meghirup aroma tubuh Harry perlahan.

"A—apa yang kau lakukan?" Reflek, Harry mundur perlahan. Merasa takut dengan kehadiran manajer grup sebelah yang berbeda itu.

.

.

.

Draco memandang kedua teman grupnya yang kini tengah akrab dengan dua dari grup senior agensinya. Marcus dan Theo nampak asik memainkan kartu remi bersama Ron dan Seamus. Ia sama sekali tidak tertarik untuk ikut serta dalam permainan itu. Ia lebih memilih untuk mengistirahatkan dirinya pada kursi panjang, merenggangkan otot pasca perjalanan, dan membiarkan para kru televisi untuk menyiapkan semua keperluan camp show.

Menyiapkan tenda, lampu—batre, kasur lipat dan segala tetekbengeknya.

Lokasi mereka kini berada didaerah lapang, yang memang sering dipakai untuk berkemah. Lima meter dari pintu hutan, dan terdapat danau yang tidak jauh dari lokasi. Sangat strategis.

Draco sebenarnya ingin menolak—grupnya baru debut dan mereka baru saja usai menjalani concert tour. Yang membuat Draco resah adalah, mengapa manajer mereka lebih memilih acara reality show berupa camp daripada reality show untuk idol yang normal. Hanya perlu bercakap-cakap selama dua jam, lalu selesai. Tidak seperti saat ini, memakan waktu empat hari tiga malam.

Ia membuang napas kasar,

"Tenanglah, Draco. Bagaimanapun, Luna sudah memikirkan secara matang. Acara ini memiliki rating yang tinggi dibandingkan reality show lainnya, lagi pula ... lihat, grup senior itu, dengan adanya mereka, nama grup kita akan lebih dikenal." Blaise menunjuk kearah Cedric dan Harry yang sedang duduk santai seperti dirinya.

"Aku tidak peduli dengan grup senior itu, karena kita akan mengalahkan mereka."

"Selalu terobsesi dengan kemenangan, eh?"

.

.

"GUYS! BISA KALIAN KEMARI SEBENTAR?" Hermione berteriak memekakan telinga. Mengangkat tangan dan melambaikan kearah kedua grup yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Memberi pandangan keseluruh member Brave One dan D'ragon agar menuju kearahnya.

Cedric dan Harry menjadi yang pertama menghampiri Hermione. Disusul oleh yang lainnya, dan perkumpulan yang sedang bermain kartu itu mendesah sebal karena teriakan itu mengganggu acara bermain mereka.

"Nah, kita telah mendiskusikan tentang pembagian tenda—" Luna membuka suaranya, ia menunjuk kearah empat tenda yang telah terpasang rapi, "Tenda yang lebih besar itu, akan dihuni oleh tiga orang, lalu yang lainnya akan menempati masing-masing dua orang. Mengerti?"

Kompak kedau grup itu hanya mengangguk patuh.

"Aku dan Luna telah membuat undian pembagian kamar agar adil." Hermione mengangkat pelasik bening dengan gulungan kertas yang berisi nama-nama tiap member.

"Ok, mari kita mulai." Luna mengambil tiga kertas, untuk menempati tenda paling besar. "Blaise Zabini, Theodore Nott, Seamus Finnigan."

Dan Seamus reflek bertoss ria dengan Theo, seepertinya kedua member itu telah akrab.

"Lalu, Cedric Diggory dan Victor Krum." Hermione mengumumkan nama selanjutnya.

Cedric melirik kearah Victor sekilas. Nampaknya ini akan sedikit susah untuk Cedric mengakrbakan diri dengan vocal D'ragon itu.

"Aku akan mengambil kertas selanjutnya—" Luna memasukan tangannya, hanya tersisa empat gulungan kertas.

Harry dalam hatinya terus memanjatkan doa, agar dirinya ditempatkan tenda bersama Ron. Ayolah, nuansa hatinya sedang tidak bagus saat ini. Dan ia membutuhkan teman grupnya itu.

"Marcus Flint dan ..."

Harry menautkan kedua jarinya. Ia menggigit bibir bawahnya. Memejamkan mata.

" ... Ron Weasley, lalu sisanya menempati tenda terakhir. Mengerti?"

Dan saat itulah wajah Harry kembali menjadi pucat. Cedric berbicara kepadanya, agar tidak terlalu memikirkan hal itu. Berusaha untuk menikmati acara ini, dan dalam hati Harry meng-iya-kan pernyataan Cedric, wajahnya kembali menampakkan keceriaan lagi.

Namun,

Sepertinya semua tidak akan berjalan sesuai harapan.

Harry berada satu tenda dengan Draco. Bahkan member termuda Brave One itu tak dapat bernapas leluasa saat Draco berada disekitarnya.

"Mohon kerjasamanya, Harry Potter."

Harry mengangkat wajahnya.

Iris mereka saling bertautan.

Itu Draco, berdiri tepat di depan Harry, mengulurkan tangannya untuk berjabat.

.

.

To be continued.

.

.

.

Syiera Aquila AN : erm... hai? Hallo? Ehehehe padahal Syiie lagi masa hiatus ngerjain TCO, tapi Kak Ai nyeret Syiie untuk ngetik ff collab ini. Ini ff collab pertama Syiie! Ahhh senangnyaaaa! ^o^ /plaked. Urm- a/n Syiie kayanya ga bermutu banget ya, ha ha ha.

Erm... DraRry adalah pairing pertama yang Syiie sukai selain fandom anime. Dan Syiie sama sekali ga nyesel sudah menyukai pairing kesayangan kita iniii /. Sometimes, saat Syiie ngelamun, Syiie mikirin gimana ya kalo DraRry di buat gini. Gimana kalau dibuat gitu? Gimana kalo... kalo itu... kalo ini... terus begini... lalu begitu... blablabla. Tapi sayang sekali, kalau Syiie udah mikir begitu konsentrasinya, minat Syiie untuk ngetik langsung hilan. HAHAHAHA.

/jaahh jadi curhat.

Oh iya, terimakasih karena sudah menyempatkan Read n Revie, Fav n Follow~

Syiie dan Kak Ai menantikan saran dan masukan dari Readers semua~~

Ai Minkyoo AN : Hallo, siapapun kalian yang membaca AN saya, semoga dalam keadaan sehat selalu. Senang rasanya masih bisa berkontribusi menulis untuk pair tercinta ini. FF bertema boyband AU ini terobosan dari ide Syie sendiri /haha. Lalu kita merangkai plot bersama-sama. By the way, saya dalam waktu dekat ini (gak janji) akan mulai mempublish ff DraRry terbaru, yang pastinya (semoga) menjadi mc yang tidak tertelantarkan seperti mc lainnya /smile.

Sign,

Syiera Aquila, Ai Minkyoo