SQUEEZE
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Original Story by Kiki Zaoldyk
Character Pairing: Akashi Seijurou x Kuroko Tetsuya
Midorima Shintarou x Kuroko Tetsuya
Warning: BL, Alur Kecepetan, Paragraph tidak Nyambung, Typo, tidak Sesuai EYD
Kalau tidak suka boleh tidak membaca
[Qqqqqqqqqqqqqqqqqq: Flashback
Tubuh kecil Tetsuya berdiri di pojokkan lift. Jemari rampingnya memegang erat bungkusan berbentuk kotak yang dilapisi kain motif bunga berwarna biru muda. Segurat senyum tipis hampir tidak terlihat tak lepas dari wajah manisnya_meski datar.
Tak ada orang di dalam lift, tetsuya merasa lega karena memang dia tidak terlalu menyukai keramaian, apalagi jika harus berdesakkan di dalam lift yang tidak terlalu besar, hingga sepasang kekasih memasuki lift yang sama, berpagutan mesra seolah tak peduli dengan entitas biru yang tengah menyaksikan adegan intim keduanya.
"hmmm, hmmm, hmmmm, hmmmm" lenguhan demi lenguhan keluar dari yang terdominasi. Satunya mengalungkan tangan di leher, satunya lagi merengkuh pinggang erat sembari terus menyerang tanpa ampun, memperdalam ciuman yang tanpa jeda. Tetsuya yang menyaksikan tontonan live dari adegan panas di depan matanya mencoba mengabaikan.
Tetsuya itu polos, bahkan berciuman dengan sang kekasih pun belum pernah. Namun, perlahan pipi gembil itu dijalari semburat merah, suara lenguhan dan kecipak basah yang ditangkap daun telinganya membuat ia merasa tak nyaman.
Meski terlihat diam layaknya hanya pajangan sungguh rasanya tetsuya ingin cepat-cepat keluar dari kotak besi itu. Ia merutuk dalam hati kenapa rasanya lama sekali, mata biru bulatnya terus melirik ke arah angka yang berada di samping pintu.
"6..,7..,8..,9..,10….." tetsuya menghitung dalam hati, selaras dengan berpindahnya warna orange pada bulatan-bulatan angka yang menunjukkan lantai gedung.
"ting" pintu lift terbuka, tetsuya merasa lega. Dia buru-buru keluar sebelum keberadaannya disadari oleh dua orang yang masih asyik berpagutan. Kaki jenjang itu mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di tempat sang kekasih, tanpa dia sadari dari balik pintu lift yang belum tertutup sempurna sepasang mata memandang lekat disertai dengan sebuah seringain.
Tetsuya menengok kanan kiri, mencoba mencari satu petunjuk untuk menunjukkan posisinya. Tangan kanannya memegang ponsel biru mudanya sementara yang kiri memegang bungkusan kotak bekal. Si manis biru muda itu sudah seperti anak yang kehilangan orang tuanya di pusat perbelanjaan.
"puk" satu tepukan pelan mendarat di bahu mungilnya, membuatnya sedikit kaget, kepala biru menengok.
"shintarou kun" tak lama kemudian seulas senyum lega menghias wajah datarnya.
"apa kau menunggu lama?" Tanya lelaki tampan bersurai hijau itu lembut.
"hmm" tetsuya menggeleng, membuat surai biru mudanya bergoyang pelan.
"harusnya tetsuya tidak perlu repot-repot kemari" shintarou menaikkan kacamatanya.
"shintarou kun tidak suka?" Tanya tetsuya ragu, ia terlihat menyesal, takut jika kedatangannya menganggu sang kekasih.
"bukan!" refleks shintarou menjawab cepat
"kau baru pertama kali kesini, bagaimana kalau nyasar?" sambung shintarou.
"aku ini guru TK, bukan anak TK" protes tetsuya yang langsung masuk dalam mode ngambek,
"aku tahu, tapi tetsuya kan suka bingung kalau berada di tempat baru" surai biru dielus sayang. Si manis biru muda masih diam, pipi gembilnya digembungkan tanda ia tak mau buka suara, dia tidak suka dianggap anak kecil yang bisa hilang atau nyasar kalau datang ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Hening cukup lama.
"baik aku minta maaf" shintarou yang faham betapa keras kepala kekasihnya akhirnya mengalah juga. Tangan besarnya memegang erat bahu tetsuya, menarik pelan hingga posisi keduanya kini tepat berhadapan, shintarou sedikit membungkuk.
"Tetsuya mau memaafkanku kan?" pinta shintarou, ada kesungguhan terlihat di sepasang iris emeraldnya membuat tetsuya akhirnya mengangguk, memaafkan. shintarou tersenyum, senyum yang hanya ia tunjukkan pada kekasih biru mudanya seorang.
Bahu mungil dilepaskan, shintarou melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "waktunya makan siang" tangan besar itu kini merangkul bahu mungil tetsuya, membawanya berjalan bersisian.
"ngomong-ngomong kau terlihat tampan memakai setelan jas seperti ini" tetsuya menunjuk pakain shintarou sambil terus berjalan.
"tetsuya suka?" Tanya shintarou, tangannya yang merangkul tetsuya semakin membawa tubuh kecil itu mendekat padanya.
"hmm" kepala biru mengangguk, mengundang kembali senyum di wajah shintarou.
"Tapi, aku lebih suka melihatmu pakai jas dokter sih. Shintarou kun lebih lebih lebih lebih lebih ah pokoknya 100x tidak 1000x terlihat tampan" wajah tetsuya memerah saat mengucapkan kalimat pujian itu.
"aku yang dipuji, wajah mu yang merah" shintarou terkikik geli melihat tingkah menggemaskan kekasihnya, pipi gembil tetsuya dicubit sayang. Sementara yang dicubit semakin menggelamkan wajahnya di tubuh shintarou, mencium aroma teh yang melekat pada kekasihnya.
"kau akan terus menjadi dokter kan?" wajah tetsuya sedikit menyembul keluar, menatap wajah kekashinya yang tengah seris memandang ke depan, sementara kakinya terus melangkah mengikuti langkah kaki shintarou.
"aku suka menjadi dokter, tetsuya juga suka aku menjadi dokter kan, jadi mana mungkin aku melepaskannya. Hari ini aku ikut rapat hanya menggantikan ayah saja" kepala shintarou sedikit menunduk, membalas tatapan kekasihnya yang masih setia memandangi wajah tampannya.
"oh.." jawab tetsuya pendek
"apa shintarou kun sangat menyukaiku?" tetsuya mengalihkan pandangannya ke depan.
"tentu saja?" jawab shintarou tanpa ragu
"berarti kau tidak akan melepaskanku kan?" kalimat spontan keluas dari bibir mungil tetsuya yang membuat shintarou tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Shintarou terdiam, tetsuya yang melihat perubahan gerak kekasihnya kembali menengok ke arah shintarou.
"ada apa?" wajah datar itu terlihat bingung.
"tidak ada apa-apa" kaki jenjang itu kembali melangkah.
"aku tidak ingin melepaskanmu" bisik shintarou. Tubuh mungil direngkuh lebih erat, tetsuya membalas pelukan shintarou dengan melingkarkan tangannya dipinggang shintarou tak kalah erat. Wajahnya kembali menempel pada tubuh kekasihnya.
…
Tubuh polos yang dibalut selimut sebatas pinggang bergerak pelan. Lengan ramping meraba-raba kasur empuk yang kosong di sebelahnya seakan mencari sesuatu. Tak menemukan apa yang dicari memaksa kelopak matanya membuka.
Tubuh indah yang sudah dipenuhi tanda merah menggeliat pelan mencoba meregangkan otot-otot yang kelahan karena kegiatan panas semalaman.
Matanya mengerjap, pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang memberikannya kehangatan sepanjang malam.
Senyum manis terlukis tatkala didapatkan objek yang dicari tengah hidmat menyesap cairan hangat dari cangkirnya. Berdiri di pembatas balkon, menikmati pemnadangan gedung-gedung yang menjulang tinggi menantang langit.
Night robe di sisi tempat tidur diraih, menutup tubuh mulus yang penuh dengan tanda merah. Langkah kecil dari sepasang kaki mungilnya perlahan menuju entitas merah yang tengah berdiri di balkon apartemen mewah itu.
"Sei" lengan mulus melingkar posesif di pinggang yang sudah berbalut kemeja maroon dengan celana kain berbahan kualitas tinggi. Dasi senada hitamnya bergoyang pelan diterpa angin pagi.
"kenapa tidak membangunkan ku?" wajah manis itu menempel pada punggung seijurou, menyesap aroma segar mint yang menguar perlahan. Tak ada jawaban, seijurou masih sibuk menyesap tehnya.
"kalau kau membangunkanku, mungkin kita bisa mandi bersama dan menutup kisah semalam dengan satu ronde lagi" goda lelaki manis yang masih memeluk seijurou.
Cangkir teh di letakkan di meja yang sengaja ditaruh di balkon bersama dengan sepasang kursi.
Seijurou berbalik menghadap lawan bercintanya. Memegang erat sepasang bahu mungil yang terbungkus night robe. Seijurou mendekatkan wajahnya pada wajah orang yang semalaman memberinya kepuasan hingga sampai pada telinga.
"kisah kita cukup semalam, aku tidak berniat memperpanjangnya" bisik seijurou, sudut bibir melengkung pendek, ekspresi wajahnya perlahan berubah dingin. Lelaki merah itu kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan lelaki yang lebih pendek darinya dalam diam.
…
Entah sudah berapa kali tetsuya tidak tahu, sampai ia tidak bisa menghitungnya, seakan sudah menjadi kebiasaan, iya tetsuya sudah terbiasa, dan dia sangat menyukai kebiasaannya ini. Saat makan siang, tetsuya menyukainya, menyukai saat makan siang bersama sang kekasih. Bukan hal yang romantis atau spesial memang, tapi bagi tetsuya saat makan siang adalah saat yang paling ia tunggu.
Kesibukan shintarou sebagai salah satu dokter andalan di Rakuzan Hospital membuat ia jarang punya waktu berdua dengan tetsuya. Kalau pun ada waktu istirahat dari kegiatan di rumah sakit, lebih sering ia gunakan untuk mengurus pekerjaan di luar rumah sakit yang tidak sempat ditangani ayahnya.
Shintarou itu penurut, titah ayahnya adalah hal utama baginya sehingga selelah apapun dia merasa tak keberatan jika diminta melakukan sesuatu oleh ayahnya. Beruntung ia memiliki kekasih pengertian seperti tetsuya yang mendukung dan setia menemaninya, tak hanya itu tetsuya pun perhatian luar biasa.
Tahu dirinya jarang punya waktu untuk istirahat dan makan dengan benar, tetsuya tanpa bosan selalu datang ke rumah sakit setelah selesai mengajar di TK hanya untuk membawakannya bekal makan siang, dan jadilah makan siang bersama menjadi kebiasaan keduanya.
Saking biasanya hampir semua orang di rumah sakit pun terbiasa dengan tetsuya yang selalu datang setiap jam makan siang padahal biasanya orang-orang jarang menyadari keberadaannya, tetsuya sendiri tidak begitu suka dengan keramaian, namun berbeda jika keramain di Rumah sakit atau TK tempatnya mengajar, tetsuya menyukainya, menyukai kehangatan di dua tempat yang menjadi favoritnya.
"selamat siang kuroko kun? Mau bertemu shintarou sensei?" Tanya seorang perawat ramah yang dibalas anggukan oleh tetsuya sambil tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan menuju ruang sang kekasih tidak henti-hentinya tetsuya mendapat sapaan hangat dari perawat dan pasien yang kebetulan berpapasan dengannya,inilah kehangatan yang tetsuya sukai.
"tok…tok…tok…." Pintu bercat putih diketuk pelan.
"masuk!"
tetsuya membuka pintu perlahan, kepala birunya menyembul duluan dari balik pintu, seperti anak kecil yang takut mengganggu ayah nya yang tengah bekerjanya separuh badannya masih bersembunyi dibalik pintu, memandang iseng pada sang kekasih yang terlihat sibuk memeriksa beberapa laporan rekam medis pasiennya.
Shintarou memasukkan lembaran-lembaran kertas yang tengah di pegangnya dalam sebuah amplop, lalu melirik ke arah pintu. Wajah lelah itu hilang seketika, berganti dengan senyum tampan yang ia tujukan hanya untuk sang kekasih.
"tetsuya masih mau terus disana? Aku sudah lapar lo!" tetsuya pun akhirnya masuk lalu menutup kembali pintu.
Tubuh mungilnya langsung menuju ke arah sang kekasih kemudian duduk tepat di depan shintarou, keduanya dihalangi meja kerja shintarou yang terlihat sangat rapi.
Kotak dengan bungkusan biru muda di letakkan di atas meja, jemari lentiknya hendak membuka namun ditahan oleh sang kekasih.
"bagaimana kalau makan siangnya di taman rumah sakit saja?" tawar shintarou yang langsung diberikan anggukan setuju oleh tetsuya.
Keduanya beranjak hingga tamu tak diundang masuk ke ruangan shintarou.
"shintarou," kalimat itu terputus saat sepasang manic heterocomennya menangkap entitas biru yang tengah menatapnya datar.
Sudut bibir terangkat menampakkan sebuah seringai yang sulit diartikan. Matanya mengobservasi, memandang dari ujung kaki sampai kepala tiada henti, membuat yang dipandang merasa risih.
"ehmm…, tetsuya duluan saja. Tunggu aku di taman ya" pinta shintarou lembut, membuat tetsuya merasa nyaman seketika.
"hai" balasnya lalu membungkuk ke arah seijurou yang masih lekat memperhatikannya yang kembali membuat tetsuya merasa risih.
Langkah kaki dipercepat namun manic beda warna itu masih mengikuti, tak peduli dengan shintarou yang memandang tak suka hingga tetsuya hilang dibalik pintu.
"ada apa? Tumben sekali kau kesini" ucapan shintarou memaksa seijurou untuk fokus padanya.
"ayah memintamu ke Kyoto" seijurou tersenyum remeh.
"baik" jawab shintarou pendek, kemudian menuju pintu meninggalkan seijurou di ruangannya.
"cukup baik juga ya kau menjaganya" langkah shintarou terhenti sesaat, sementara seijurou kembali menyeringai. Matanya terpejam, aroma tetsuya saat berpapasan dengannya barusan begitu memabukkan, membuat darahnya berdesir. Gairahnya terasa memuncak, perasaan posesif ingin memiliki menyeruak dihatinya.
"Tetsuya" Gumam Seijuro dengan mata yang masih terpejam.
…
Keluarga Akashi menikmati makan malamnya dengan tenang. Masaomi sang kepala keluarga duduk ujung tepat di tengang. Seijurou duduk di sebelah kiri sang ayah, sementara shintarou duduk di sberangnya. Tak ada yang membuka suara, karena memang sudah menjadi aturan di keluarga konglongmerat itu untuk tidak berisik saat berada di meja makan.
Makan malam selesai, pelayan yang setia berdiri tak jauh dari tuannya dengan sigap membereskan meja makan.
"bagaimana kabarmu shintarou?" Tanya masaomi pada putera angkatnya
"baik ayah" jawab shintarou sopan
Masaomi menyesap tehnya pelan. "bagaimana dengan Tetsuya?" shintarou sedikit terkejut, setelah sekian lama, baru kali ini ia mendengar ayahnya menanyakan tentang si biru muda.
"ba baik ayah" sungguh shintarou ingin biasa saja namun entah kenapa kini dia merasa sedikit gugup, ada rasa takut dihatinya. Sementara di seberangnnya seijurou hanya menatap dengan senyum yang sulit diartikan, seolah tengah menikmati reaksi demi reaksi yang ditunjukkan shintarou.
"ada apa ayah tiba-tiba memintaku pulang" shintarou masih gugup namun ia berusaha mengendalikan dirinya. Tidak ada jawaban, masaomi masih asyik menyesap tehnya.
"aku menginginkannya" fokus shintarou kini ke seijurou, mata emeraldnya sedikit membulat. Namun shintarou tidak memberikan respon verbal apapun.
"aku menginginkan tetsuya, aku akan mengambil milikku shintarou" seijurou terlihat santai, namun pernyataannya cukup membuat shintarou terintimidasi.
"seijurou setuju untuk menikah, aku memanggilmu untuk menyiapkan semuanya shintarou" masaomi membuka suara.
"kau menjaganya dengan baik, aku bangga padamu" masaomi bangkit dari duduknya, lalu menepuk pundak putera angkatnya. Lelaki paruh baya itu meninggalkan dua saudara angkat itu yang masih betah dalam keheningan.
"jadi…" seijurou memutus ucapannya
"kau akan menyerahkannya padaku," satu alis terangkat, shintaro masih diam
"atau aku yang akan memaksamu menyerah!" sepasang emerald itu membulat, jantungnnya berdegup tak nyaman. Tatapan seijurou yang menusuk benar-benar membuatnya membeku seolah seluruh sarafnya kaku.
Seijurou beranjak dari tempatnya, meninggalkan saudara angkatnya yang masih diam membeku.
Shintarou menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia membuka kacamatanya, memijat pangkal hidungnya. Tubuhnya merosot, kepalanya disenderkan pada sandaran kursi. Tubuhnya seakan melayang membawanya pada sebuah percakapan yang tidak ingin dia ingat.
[shintaro duduk dihadapan ayah angkatnya. Wajah lelah dari pria paruh baya itu terlihat jelas diantara guratan-guratan keriput yang sudah mulai terlihat di wajah tegasnya. "kau mau melakukan sesuatu untukku?" terdengar seperti sebuah permintaan namun jelas ini perintah.
Shintarou mengangguk, ia tidak peduli itu permintaan atau perintah, baginya titah ayahnya prioritas, dia tidak akan membantah atau menghindar meski disuruh mati sekalipun dia tidak keberatan.
"Seijurou menolak perjdohan dengan putera keluarga kuroko, aku ingin kau menjaga kuroko tetsuya sampai seijurou menerima. Aku tidak ingin calon menantuku yang polos itu ternoda sedikit pun, kau bisa kan? Shintarou!"
"baik ayah" jawab shintarou tanpa ada keraguan sedikit pun"].
"Sudah waktunya ya! Tetsuya" shintaro tersenyum miris, mata emeraldnya terlihat meredup.
TBC
