A/n :
ada yang review juga..
Kami berterima kasih banyak! Makasiih~ :DD
buat Nifa-chan, cepet sembuh sono! Biar bisa ke rental bareng lagi~ kalo sendiri, sepi~ *plak*
yosh! Enjoy this fic! XD
kesamaan tempat, plot, tak ada hubungannya dengan kami. Ini hanya imajinasi 3-ralat 4 orang gajeba-gajebo.
=.=
~Competition~
by : triple baka and manager(Ai, Lex, Al, Ken)
disclaimer :Yamaha
warning : sho-ai, menjerumus ke rate M, OOC.
Rate : T+
genre : romance
pairing : GakuKai KaiLen
=.=
normal POV
Gakupo mengamati Kaito dan Len dari balik dinding gerbang taman. "cih.. Cowo itu," dia mengepalkan tangannya hingga membuat darah meleleh keluar dari sela-sela kepalannya.
Sementara itu, Kaito dan Len masih saja tetap diam-diaman. "eh.. Len.. Soal tadi aku minta maaf ya. Aku tak bermaksud begitu kok. Sumpah! Itu terjadi begitu saja!" kata Kaito. Dia memberanikan diri memandang mata biru Len.
"tak apa.. Lagi pula, aku sudah melupakannya kok!" sergah Len. Sepertinya Len agak sedikit panik karena ada sedikit butiran keringat dingin di wajahnya.
"benar?" tanya Kaito.
Len mengangguk. "tentu saja!" Len tersenyum manis.
senyuman itu berhasil meluluhkan hati Kaito. 'apa-apaan aku?' batinnya lalu tersadar. 'aku kan mempunyai Gakupo! Tapi kenapa Len.,' Kaito melirik Len yang melanjutkan acara makan takoyakinya.
'manis sekali?' batinnya lalu memerah. Kaito menundukkan wajah memerahnya.
"kaito? Kau kenapa? Demam?" ucap Len lalu menyentuhkan dahinya ke dahi Kaito. Sukses membuat Kaito makin memerah.
"he?" desahan nafas Kaito menerpa wajah malaikat Len.
Len tersenyum. "syukurlah tak demam," kata Len lalu menjauhkan wajah mereka dan langsung melahap beberapa takoyaki lagi.
Kaito mati-matian menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Len.. Kau menyukaiku?" tanya Kaito cepat.
"eh?"
"aku tanya.. Kau menyukaiku?" ulang Kaito.
Wajah moe Len benar-benar merah seperti kepiting rebus. "anu.. i-iya..," tanpa ragu-ragu *?* Len menjawab. Len menundukkan wajahnya.
Kaito tersenyum. "Len..," Kaito lalu memeluk Len sehingga membuat kotak takoyakinya terjatuh.
"KAITO?" teriak Len spontan. Tapi, Kaito makin mengeratkan pelukannya.
"Len..," bisik Kaito di telinga kanan Len. "suki..,"
wajah Len memerah. Bisikan Kaito membuatnya sedikit merinding. Hawa nafas Kaito membuat Len melayang.
"Ka.. Kaito..," desah Len. Kaito memberanikan dirinya untuk mengulum telinga kanan Len. "uukh..," wajah Len benar-benar sangat merah.
"suki..,"
Kembali ke Gakupo. Sekarang tangan Gakupo terkepal. Giginya bergemelutuk hingga mengeluarkan darah. Hatinya berdegup kencang.
"kaito.. Kau..," kesabarannya habis. Ditinjunya dinding gerbang taman berkali-kali sampai retak parah.
"kenapa..? Kenapa kau berkhianat..?" tanya Gakupo samar-samar.
Sementara itu, Kaito semakin menjadi. Digerayanginya tubuh kecil Len. "Kaito.. He-henti.. Aaakh.. Hentikan..,"
tak memperdulikan Len, Kaito terus saja mengulum telinga Len dan beralih ke leher jenjang Len. "Kaito... Kumohon.. Henti..kan," ucap Len disela-sela desahnya.
"Len..," Kaito mengecup leher Len.
#PLAAK!#
"Len?" ucap Kaito begitu dia selesai mendapatkan tamparan dari bocah pirang itu.
Len menangis. Yukatanya tersingkap hingga hampir menunjukkan dadanya.
Len lalu berdiri dari duduknya, Len menunduk. Dia mengambil boneka pisangnya dan berlari meninggalkan Kaito. "LEEEEN!" teriak Kaito.
Len terus berlari hingga dia menabrak sesuatu. "ah..?" ucapnya lalu melongok ke atas.
Ternyata yang ditabrak oleh Len adalah Gakupo. Gakupo yang berlumuran darah *?*.
"maafkan saya," ucap Len lalu membungkuk kepada Gakupo.
Gakupo tersenyum. Entah kenapa dia bisa tersenyum saat orang yang mengambil hati kekasihnya menabrak dirinya.
Lalu Len pergi meninggalkan Gakupo. "tak cukup kalau kau hanya minta maaf padaku," kata Gakupo dingin. Dia lalu berjalan menuju tempat Kaito duduk termenung.
"Kaito..," panggilnya. Kaito tak bergeming sedikitpun. Dia tetap menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya.
Gakupo lalu duduk di sebelah Kaito. "Kaito.," panggilnya lagi. Dia menepukkan tangannya ke punggung Kaito.
"ada apa? Apa kau masih marah tentang yang tadi? Aku minta maaf karna meninggalkamu begitu saja..," kata Gakupo. Kaito menggeleng lemah.
"Gakupo... Maaf..," kata Kaito lalu memeluk Gakupo dan menangis di bahu Gakupo. "Ga..Gakupo.. Maaf.,"
Gakupo membalas pelukan Kaito. "apapun yang kau minta, malaikatku.," Kaito mengeratkan pelukannya, sampai meremas punggung Gakupo dan menangis tertahan.
'tapi jangan harap kau memintaku untuk memaafkan dia.,' batin Gakupo.
~pagi hari nan indaah~
dua hari setelah kejadian itu, Kaito dan Gakupo menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Bahkan bisa dibilang, sepasang kekasih ini makin lengket.
"cuacanya masih panas ya..," kata Kaito lalu melepaskan kancing atasnya.
Gakupo menyeringai. "hei, apa kau mau membuatku 'menyerang'mu?" goda Gakupo sambil memeluk pinggang ramping Kaito.
"Ga-Gakupo! Hentikan!" sergah Kaito lalu ber-blushing ria.
Gakupo mengeratkan pelukannya ke pemuda berseragam sama dengannya. Ya, mereka baru pulang sekolah.
"apa kau tak takut dilihat orang kalau kita begini?" tanya Kaito yang masih memerah.
"tidak sedikitpun,"
"yakin?"
" 100 %"
"kalau begitu," Kaito mengecup bibir Gakupo sekilas. "ini hadiah ulang tahun dariku," kata Kaito sambil tersenyum dengan wajah memerah.
Gakupo mendelik. "wah, ternyata kau ingat ulang tahunku ya.," Gakupo tersenyum tulus.
"tentu saja aku i-" sebuah ciuman ganas mendarat di bibir merah Kaito. "uumph..,"
ciuman ganas Gakupo membuat Kaito kewalahan. "nggh..," lidah mereka saling bertautan. Tapi, sebagai seme Gakupo memenangkan perang lidah itu.
Gakupo mengabsen seluruh gigi-gigi Kaito dan menjelajahi seluruh isi mulutnya.
Beruntung mereka di jalanan yang sangat sepi. Kalau tidak, matilah mereka.
Gakupo makin berani. Dimasukkan tangannya ke dalam baju Kaito. Kaito tersentak kaget. "uumph!" erangnya.
Kaito memejamkan matanya dan menggeliat keenakan saat Gakupo meraba dadanya. Gakupo menyeringai di sela-sela ciuman panas mereka.
"Kaito?"
to be continued
A/n :
penasaran? REVIEEEEW! XDDDD
