Myself And Yourself
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 2
Konoha City, 14.00 AM
Bel pulang telah berdentang 20 menit yang lalu, seluruh siswa KIHS juga telah meninggalkan sekolah kecuali dua orang yang berambut merah muda dan biru dongker.
Keduanya masih berada dalam kelas dan di tempat duduk masing.
"Sasuke, tinggallah dirumahku saja,"ucap Sakura memcah keheningan.
"A-"
"Aku tahu kau ingin katakan akan menginap di hotel, tapi tak perlu! Tinggal saja di rumahku, kebetulan di sana punya dua kamar,"sahut Sakura menyerobot perkataan Sasuke, lalu membereskan bukunya yang berserakan di meja. Begitu pun juga Sasuke.
"Hn,"
Sasuke menatap pemandangan di hadapannya dengan tatapan datar, pemandangan biasa. Sesosok mayat laki-laki tanpa kepala dipaku di ranting pohon tepat di atas Sasuke dan Sakura. Tatapan Sakura tampak mengintimidasi dan kemudian rahangnya mengeras sesaat setelah menyentuh telapak kaki mayat itu (mayat tanpa kepalanya, lehernya dipaku dengan 7 paku. Sedangkan bagian tubuh bawahnya nyaris 1 meter menyentuh peemukaan bumi).
Tanda itu, tanda bintang dalam lingkaran yang dibuat dari pisau belati. Ini seperti tanda bintang dalam lingkaran pada orang tuanya yang ditemukan tak bernyawa, hanya saja letaknya di dahi.
Sakura segera menggenggam tangan pemuda emo beriris biru langit di sampingnya, keringat dingin mengucur di dahinya. Sasuke yang tidak tahu apa yang telah dilihat Sakura kebingungan, matanya yang memakai kontak lensa seolah berkata 'Oh ayolah Sakura, kita sudah sering melihat mayat. Malah kita yang membunuhnya,'
"Sasuke, coba lihat,"perintah Sakura seraya menunjuk kaki mayat itu dengan tangan kirinya yang tak menggenggam tangan Sasuke.
Sasuke langsung terdiam ketika melihatnya, sama seperti reaksi Sakura. Tatapannya mengintimidasi dan rahangnya mengeras, segera saja ia memeluk sepupu merah mudanya itu. Pelukan yang hangat seakan berkata 'Aku selalu di sini'.
"Saku, tenang saja. Aku akan selalu melindungimu. Aku janji, karena kau keluargaku satu-satunya yang masih hidup,"ucap Sasuke dengan nada sungguh-sungguh.
"Aku pun begitu, apa kau tahu? Aku sudah menganggapmu sebagai adikku, walau hanya beda beberapa bulan,"ujar Sakura berusaha tegar, kemudian melepaskan pelukan hangat keluarga itu sepihak namun tetap lembut.
"Hn, Sakura-nee,"sahut Sasuke tersenyum tipis, lalu berjalan mendahului gadis gulali yang juga telah ia anggap kakak beserta keluarga berharga satu-satunya.
Orang tuanya telah meninggal sesaat setelah pergantian tahun, kakaknya Itachi Uchiha juga menghilang entah kemana sama seperti Sasori. Setelah ayah dan ibunya meninggal, seluruh klan Uchiha dibantai 7 hari setelah tahun baru. Semuanya telah tiada, termasuk paman Obito.
"Adik pantat ayam, tunggu aku!"teriak Sakura kembali ceria pada Sasuke sambil berlari agar mampu mengimbangi langkah Sasuke.
Mereka tahu,
Mereka telah berjanji untuk selamanya,
Melindungi satu sama lain,
Walaupun pengorbanannya adalah nyawa.
Apa mereka tak sadar, bahaya sedang menunggu mereka?
Bahaya dari seorang yang menyimpan dendam pada keduannya.
5 tahun kemudian
Konoha City , 11.00 pm
Gelapnya malam yang dihiasi bintang dan bulan purnama, dua orang pemuda pemudi tengah berdiri tegap di gedung yang memiliki 50 lantai. Keduanya memakai jubah hitam
beserta tudung yang menutupi kepala mereka, seluruhnya tertutupi kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
Sinar bulan menyinari mereka, perlahan tapi pasti keduanya membuka tudung kepala yang sedari tadi menyembunyikan berhelai-helaian rambut mereka. Merah muda dan hitam jelaga, itulah warna rambut mereka.
Seringai iblis terukir di wajah mereka, menatap sebuah rumah sederhana di hadapan mereka. Sasuke dan Sakura, itulah mereka sang pembunuh bayaran yang saat ini tengah disewa untuk membunuh mantan guru mereka, Kakashi.
"Ayo masuk,"ajak Sasuke pada Sakura yang masih diam di tempat mereka berdiri tadi.
"Hn,"
Sasuke dan Sakura mendekati pintu rumah itu tanpa perlu mengendap-mengendap, katakana tersimpan di samping pinggang mereka yang sebentar lagi digunakan untuk mencabut nyawa seseorang.
Brak! Brak! Brak!
Sasuke sedari tadi berusaha membuka pintu itu dengan cara mendobraknya akhirnya tidak berakhir sia-sia, padahal baru tiga kali dobrakan.
Mereka memasuki rumah itu dengan perasaan ragu, pintunya kenapa mudah sekali didobrak & kenapa belum ada orang yang menyadarinya?
+Sedangkan di tempat lain+
Di ruang bawah tanah kediaman Hatake, seorang pria berambut silver bermasker menatap layar komputernya yang menampilkan rekaman CCTV saat ini dengan seksama.
"Cih, bocah itu tak tahu kalau aku adalah cenayang,"gumam pria itu menyeringai sambil menumpukan dagunya pada tangan kananya.
++++Tbc, maybe?+++
Haduh ... Nih pendek banget :3 Saya nggak yakin kali ini bakal update lagi dalam bulan ini -_-V atau mungkin suatu saat nanti ya? Mood saya nulis fanfic perNarutoan lagi nurun dan semangat banget nulis fanfic dalam perOne Ok Rockan ( -, -`) #Apaan coba#
Oh ya , niatnya mau tamatin di chapter 2 dan banyakin adegan actionnya. Tapi karena saya abis melamun semalam sehari, jadi saya ubah jalur ceritanya X''D #Plak#
``Balasan review nggak Login``
YumeikoRin : Nih dah lancut kok :3 Coz, jangan manggil saya senpai cukup panggil apa aja asal jangan senpai dan semacamnya :D #Nebar bunga#
Review, please?
