Chapter II : [Byun Baekhyun] Park Chanyeol Itu Chanlie~
.
"Park Chanyeol ahjussi?" Aku menatapnya penuh minat. Paman tinggi di hadapanku ini sangat tampan seperti Sehunnie.
"Sudah kukatakan aku tidak setua itu! Jangan panggil aku ahjussi," sahutnya setengah mendesis.
Eh, memangnya Baekhyunee salah, ya? Dari perawakannya paman ini pasti lebih tua dariku. Karena itu Aku harus memanggilnya ahjussi, tapi kenapa paman ini malah marah pada Baekhyunee?
"Kenapa ahjussi marah pada Baekhyunee?" Aku mengerucutkan bibirku sebal. "Ahjussi itu sangat tinggi dan tubuh ahjussi lebih besar dari Baekhyunee, jadi ahjussi ya ... seorang ahjussi!"
Paman di hadapanku semakin terlihat kesal. Hei, apa salah Baekhyunee!
"Dengar anak kecil," Aku merengut saat ia memanggilku begitu, namun Aku tidak bisa memprotes karena ia kini tengah menatapku seram. "Kau saja yang terlalu pendek, bukan aku yang terlalu tinggi."
Aku benci dibilang pendek! Aku menarik kemeja hitam yang dikenakan paman kurang ajar ini dan memukulinya brutal. "Ya! Baekhyunee tidak pendek tahu," pekikku tanpa berniat menghentikan pukulanku.
"Ya, Hentikan!" Aku mendengar paman Park Chanyeol berteriak sambil melindungi tubuhnya dari pukulanku, dengan kedua tangannya.
Aku malah semakin keras memukulnya hingga ia berhasil menangkap kedua tanganku dan menahanku agar tidak memukulinya lagi. Wajahku kini berada tepat di hadapan dadanya, ya, tinggiku memang hanya sebatas bahunya, tapi kan Aku masih berada pada masa pertumbuhan, masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi.
"Berhenti atau aku tidak akan melepaskanmu," ucapnya dengan nada mengancam.
Diancam seperti itu, Aku malah semakin mendekatkan diriku padanya. Menghirup aroma tubuhnya yang menguarkan aroma mint dan citrus yang menyegarkan indera penciumanku. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang gelap dengan aura tajam yang mencekam.
"Kalau begitu Baekhyunee harus memangil ahjussi apa?" tanyaku sambil mengusak-ngusak hidungku pada dada bidang miliknya.
Aku merasakan gerakan tubuhnya yang sedikit risih dengan tingkahku. Namun, siapa peduli! Ia wangi dan Aku suka itu.
"Chanyeol saja. Umurku bahkan baru 28," sahutnya sambil berusaha menarikku dari tubuhnya. Namun Aku malah semakin mengeratkan pelukanku.
"Eum ... Chanlie," gumamku lirih. "Chanlie hangat~"
Hingga akhirnya semuanya berubah menjadi gelap.
*
Aku mengerjapkan mataku pelan. Setengah tak sadar mengamati sebuah ruangan yang kutempati ini. Ruangan ini didominasi dengan warna putih dan hitam yang maskulin, semua barang diletakan dengan baik sehingga menambah kesan elegan bagi sebuah ruangan yang sepertinya sebuah kamar pribadi ini karena Aku kini tengah berbaring di atas sebuah ranjang king size dengan seprai satin putih yang melapisinya.
Aroma kamar ini ... mint bercampur dengan citrus yang menyegarkan. Aku kenal aroma ini!
Pandanganku perlahan mulai jelas. Dan di sana, tepat di samping ranjang yang kutiduri, duduk di atas sofa hitam kelam, Park Chanyeol tengah menatapku tajam.
"Sudah bangun?" tanyanya datar, sedatar ekspresi wajahnya saat ini.
"Baekhyunee dimana?" Aku bertanya lirih sambil mengusak kedua mataku yang masih terasa berat.
"Di rumahku. Kenapa seorang bocah sepertimu bisa sangat merepotkan seperti ini? Jika tidak tahan dingin harusnya kau bilang!" ucapnya dingin.
Aku mendengus sebal. "Baekhyunee kan sudah bilang—" Aku berdehem pelan. "Chanlie, haus~"
Chanyeol berdecih pelan, namun tetap beranjak menuangkan air ke dalam gelas kaca di atas meja tak jauh darinya dan menyerahkannya padaku setelah membantuku bersandar pada kepala ranjang. Pria itu masih mengenakan kemeja hitamnya, namun kini kedua kancing teratasnya sudah terlepas menampakan dada bidangnya yang putih bersih.
"Sekarang jam berapa? Luhannie hyung pasti khawatir," gumamku pelan.
Aku kembali mendengar Chanyeol mendecak. "Tadi ada yang menelponmu dan sudah kukatakan bahwa kau berada di sini. Besok akan kuantar kau pulang."
Aku mengernyitkan keningku. Ah, rasanya masih sedikit dingin. Tentu saja, karena Aku bahkan masih mengenakan seragamku yang basah. "Jika begini, Baekhyunee tidak akan sembuh. Chanlie tega tidak mengganti baju Baekhyunee dengan baju yang lebih kering," ucapku menyalahkannya.
Ia menatapku tak percaya. "Harusnya kau berterima kasih karena aku membawamu ke rumahku dan tidak meninggalkanmu di pinggir jalan begitu saja." Ia berucap dingin lalu ganti menatapku dengan tatapannya yang biasa, penuh intimidasi.
Aku menunduk dalam. Chanyeol benar, Aku seharusnya berterima kasih padanya. "Eum ... mian, gomawo, Chanlie."
Aku tidak bisa melihat ekspresinya kali ini atau ia bahkan tidak berekspresi seperti sebelum-sebelumnya.
"Aku juga merasa canggung untuk melakukannya," ucapnya setelah keheningan.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya bingung. "Canggung, kenapa?"
Chanyeol tiba-tiba mendekatkan tubuhnya padaku dan membuatku tetap menatapnya tanpa berkedip seperti terhipnotis. "Chan~" lirihku saat merasakan napas hangatnya di tengkukku.
"Karena di mataku, kau seperti seorang gadis yang sangat manis dan menggairahkan," sahutnya menggoda, tak lupa meniup belakang telingaku yang sensitif membuatku melenguh pelan.
Tersadar dari pesonanya, Aku langsung mendorongnya menjauh dan menatapnya kesal. "Baekhyunee itu laki-laki bukan perempuan!" pekikku histeris.
Park Chanyeol hanya menatapku dan tersenyum mengejek. "Terserah," ucapnya menyerah untuk berdebat denganku. "Kalau kau ingin ganti baju, pakai saja bajuku yang manapun. Tapi kusarankan kau untuk mandi lebih dulu."
Setelah Aku mengangguk, Aku melihatnya beranjak dari sisi ranjang yang kutempati. "Chanlie mau kemana?"
"Aku juga harus membersihkan diri," sahutnya tanpa menoleh.
"Eh, Chanlie mau mandi bareng Baekhyunee?" Aku bertanya tak percaya.
Tiba-tiba ia berbalik dan menatapku dengan alisnya yang terangkat tinggi. "Kau ingin menggodaku?"
Blush. Aku merasa aliran darahku tiba-tiba terkumpul di kedua pipiku. Aku yakin keduanya pasti sudah berubah semerah strawberry, Aku bahkan dapat merasakan panas pada keduanya.
Aku mendengarnya terkekeh kecil, pertama kalinya sejak Aku bertemu dengannya. Oh, apakah Baekhyunee terdengar berlebihan? Okay, Aku memang belum lama mengenalnya bahkan kami baru bertemu kurang dari dua puluh empat—tidak dua belas jam malah.
"Di rumah ini tidak hanya terdapat satu kamar mandi, Baekkie~" Aku merasa bulu kudukku meremang mendengarnya memanggilku seperti itu. Belum pernah ada yang memanggilku semenggairahkan itu. "Kau bisa pakai kamar mandi di ujung ruangan ini, aku akan mandi di luar," lanjutnya setelah mengusap puncak kepalaku lembut.
Setelahnya ia kembali melangkah menuju pintu dan kali ini Aku tidak berniat untuk kembali menyelanya. Uh, apa maksudnya itu? Bekas sentuhan Chanyeol bahkan terasa sangat panas, hampir membakarku!
"Baekhyunee, apa yang kaupikirkan!" Aku mengacak rambutku gemas teringat kembali dengan pertanyaanku sebelumnya yang seakan mengajak Chanyeol mandi bersamaku tadi. Hei, Baekhyunee, kau bahkan belum mengenalnya dengan baik!
Akhirnya Aku memutuskan untuk beranjak dari ranjang setelah merasa kepalaku sudah mulai membaik. Mandi shower mungkin akan membuat tubuhku sedikit mendingin.
Aku menatap jam dinding berwarna hitam-putih yang tergantung tepat di atas sebuah cermin yang menghadap langsung ke ranjang yang sedang kutempati.
"Ah, baru jam 7. Mungkin Baekhyunee akan mandi dengan air hangat saja sebelum terserang demam." Aku bergumam sambil berjalan ke arah sebuah pintu bercat putih di ujung ruangan.
Kamar mandi Chanyeol menguarkan aroma yang sama, aroma menyegarkan Chanyeol yang kusuka. "Wangi Chanlie~" ucapku sambil melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhku.
Terdapat sebuah bathub yang besar berwarna hitam mewah yang sepertinya akan cukup untuk dua orang atau malah lebih? Uh, Aku jadi ingin berendam!
"Chanlie tidak menyiapkan air untukku," ucapku sambil merengut sebal.
Akhirnya Aku memutuskan untuk segera membasahi tubuhku di bawah aliran shower yang telah kuatur tingkat suhunya dan saat tubuhku mulai menghangat Aku teringat bahwa Aku belum menghubungi Luhannie hyung maupun Daehyun hyung walau tadi Chanyeol berkata sudah mengatakan keberadaannya pada siapapun itu yang tadi menghubungi ponselku, tapi tetap saja Aku tidak tahu apa yang Chanyeol katakan pada orang itu. Lagipula Chanyeol itu orang asing bukankah orang yang menghubungiku malah akan semakin khawatir?
Aku dengan cepat menyelesaikan acara mandiku dan melingkarkan handuk putih yang terdapat pada lemari penyimpanan yang terdapat di dalam kamar mandi ke sekeliling pinggangku.
Saat Aku kembali ke kamar, Chanyeol tidak terlihat dimanapun. Apa Chanlie masih sibuk membersihkan diri?
Aku berniat berjalan menuju sebuah pintu yang sepertinya menuju ke ruang penyimpanan untuk pakaian-pakaian Chanyeol sebelum melihat tas cokelat muda miliku tergeletak di atas sofa panjang yang menempel tepat di depan ranjang.
Begitu membukanya Aku langsung memeriksa ponselku dan mendapatkan banyak notifikasi panggilan tak terjawab. Tiga puluh dua panggilan dari Luhannie hyung, dua puluh tiga dari Sehunnie, dan dua puluh dari Daehyun hyung ditambah hampir lima puluh dari Kai! Juga beberapa dari sahabat-sahabatku lainnya.
Terdapat juga puluhan pesan singkat dari mereka. Dan Aku berniat membacanya beberapa.
From : Luhannie hyung
Baek, kau dimana?
04.17 PM
Pesan itu diterima dua jam lalu. Lalu aku membaca sederet pesan yang dikirimkan hyung keduaku itu.
From : Luhannie hyung
Jawab teleponku atau mati kau!
05.10 PM
Kejam!
Ayolah, Baek, jawab pesan hyung! Kau ingin aku mati khawatir?
05.19 PM
Baekhyunee, kau dimana? Hyung khawatir, Daehyun hyung sudah mencarimu di taman bersama Kai tapi kau tidak ada. Ayolah setidaknya balas pesanku!
06.03 PM
Baekhyunee, hiks ... mianhae hyung tidak mengantarmu pulang tadi siang. Hiks ... jawab telepon hyung!!!!
06.22 PM
Membaca pesan terakhir dari Luhannie hyung membuatku merasa sangat bersalah karena sudah membuat hyung kesayanganku itu khawatir. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya sekarang.
Setelah membaca semua pesan Luhannie hyung, Aku akhirnya membuka pesan Sehunnie yang baru saja masuk.
From : Sehunnie tampan~
Baek, kau dimana? Luhannie mengkhawatirkanmu. Ia bahkan tidak mau berhenti menangis sejak tadi. Jawab pesanku, kumohon ...
07.48 PM
Satu pesan baru kembali masuk kali ini dari Kai.
From : Kim Kaiii!
Ya! Katakan siapa itu Park Chanyeol atau akan kukatakan pada hyung-hyung-mu kalau kau diculik oleh pria Park itu. Hubungi aku setelah kau membaca pesan ini! Atau habis kau, Baekhyunee-ku yang manis~
07.49 PM
Pesan Kai membuatku takut hingga Aku memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Sebelum nada sambung berbunyi, panggilan sudah lebih dulu tersambung. Oh, betapa cepatnya Kai menjawab telepon Baekhyunee.
"Ya, Baek, kenapa baru menghubungiku? Dan katakan siapa yang mengangkat teleponku tadi sore!" Suara Kai langsung terdengar tidak sampai satu detik dari telepon tersambung.
"Mian, Kai. Baekhyunee di rumah Chanlie saat ini dan yang mengangkat teleponmu tadi mungkin dia," ucapku pelan.
"Siapa itu Chanlie?! Kenapa—" Tiba-tiba suara Kai terpotong dan tergantikan isakan keras yang sangat dikenalnya.
"Luhannie hyung~" gumamku lirih. Aku benar-benar merasa sangat bersalah karena sudah membuat Luhannie hyung menangis seperti ini.
"Baekhyunee ... hiks, h-hyung ... mianhae hiks. Sekarang k-kau baik-baik saja kan?" Suara parau Luhannie hyung kembali terdengar.
"Baekhyunee tidak apa-apa, hyung. Sekarang Baekhyunee sedang berada di rumah Chanlie," sahutku mencoba membuatnya tenang.
"Ssh ... sudahlah, Lu." Aku mendengar suara Sehun samar-samar di tengah suara isakan Luhannie hyung. "Baekhyunee, siapa itu Chanlie?" tanyanya lembut. Mungkin mereka mengaktifkan mode loudspeaker di sana.
"Chanlie baik," sahutku ceria sambil tersenyum mengingat kebaikan Chanlie pada Baekhyunee~
"Ne, lalu siapa itu Chanlie?" Kali ini Aku mendengar suara Daehyun hyung. Apa mereka semua berkumpul karena mengkhawatirkanku?
"Park Chanyeol, Daehyun hyung! Park Chanyeol itu Chanlie~"
"Park Chanyeol?" tanyanya tak yakin.
Aku bergumam mengiyakan.
"Sepertinya hyung mengenalnya." Suara Daehyun hyung kembali terdengar.
"Ah, rekan bisnismu, hyung!" Lalu suara Sehunnie terdengar.
Aku hanya mendengarkan mereka berbicara hal yang tidak kumengerti di ujung sambungan hingga suara Daehyun hyung kembali terdengar, "Hyung akan menjemputmu besok pagi. Tetap di sana hingga hyung menjemputmu, ingat?"
"Eh, tapi kata Chanlie, Chanlie yang akan mengantar Baekhyunee ke rumah besok." Aku mengulum bibir bawahku senang.
"Apa tidak apa-apa?" Suara Luhannie hyung yang parau kembali terdengar.
"Tentu saja, Luhannie hyung jangan menangis lagi, ya. Mian, Baekhyunee membuat hyungie khawatir," ucapku lembut.
Aku mendengar Luhannie hyung menggumam kecil dan akhirnya terkekeh pelan. "Biasanya kan Baekhyunee yang menangis, sekarang gantian hyungie~"
Aku ikut terkekeh pelan.
"Kalau begitu sampai jumpa besok! Sleep well, babybyunie!" Suara Sehunnie terdengar untuk menutup percakapan. Namun tiba-tiba terdengar teriakan Kai di ujung sana.
"Kenapa tidak kita jemput Baekhyunee sekarang saja. Kalian percaya pada orang asing?"
"Tidak bisa, Kai. Itu tidak sopan. Tunggu saja sampai besok pagi, lagipula Daehyun hyung juga mengenal orang bernama Park Chanyeol itu." Itu suara Sehunnie. Ah, Sehunnie memang selalu jadi yang terbaik!
"Benar, Kai. Chanlie itu baik. Tenang saja, Baekhyunee pasti baik-baik saja."
Selesai mengucapkan itu, Aku merasa seseorang dengan tiba-tiba melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku dan memelukku dari belakang. Dari aromanya Aku tahu itu Chanyeol, mint dan citrus miliknya sudah menjadi hal favorit bagiku. Aku tidak bisa berbicara apapun karena Aku masih tersambung dengan Kai di telepon. Membiarkan napas hangatnya menyapa bagian atas tubuhku yang tidak mengenakan kain apapun.
"Hm ... Aku tutup dulu, Kai," ucapku mengakhiri panggilan begitu Kai tidak lagi bersikeras untuk menjemputku malam ini juga.
"Chanlie~" rengekku karena ia malah semakin menggodaku dengan meniup tengkuk belakangku yang sensitif.
"Ķenapa tidak memakai baju, hm?" tanyanya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuhku yang setengah telanjang. "Ingin menggodaku?" lanjutnya diakhiri dengan tiupan napasnya di telingaku.
Aku bergidik pelan. "Uh, Chanlie, geli~" Aku bergerak-gerak di dalam pelukannya yang malah semakin mengerat. "Baekhyunee pikir Chanlie sukanya perempuan. Tidak seperti Sehunnie. Baekhyunee kan laki-laki jadi tidak apa-apa, kan?" ucapku polos berusaha untuk tidak melenguh karena tingkah Chanyeol yang masih meniup-niup belakang telingaku.
"Tapi, bagiku, Baekkie bahkan terlihat lebih cantik daripada perempuan, lihatlah pada cermin di hadapanmu," sahutnya menggoda dengan suaranya yang berat.
Aku dapat melihat refleksi diriku dan Chanyeol di cermin yang berada di depan kami setelah mendongakkan kepalaku yang sebelumnya terfokus pada ponsel. Di sana terlihat diriku yang sangat kecil, seakan-akan tenggelam dalam pelukan seorang Park Chanyeol. Wajahku telah memerah sempurna bahkan hingga ke kedua telingaku. Sungguh memalukan. "Baekkie tidak cantik, Chanlie," lirihku tanpa sadar ikut memanggil diriku sebagaimana Chanyeol memanggilku.
"Manisnya, Baekkie!" Chanyeol semakin menenggelamkanku ke dalam pelukannya.
Aku hanya bisa terdiam menerima perlakuan hangat Chanyeol. Aroma tubuhnya membuatku tenang dan hangat tubuhnya—tunggu, Chanyeol juga tidak mengenakan atasan apapun! Pantas saja Aku merasa sangat hangat.
"Katakan, apa yang membuatmu menunda acara berpakaianmu?" Suara beratnya kembali terdengar penuh intimidasi tidak ada lagi nada menggodanya. Walaupun ia masih memelukku erat.
"Aku harus menelepon Kai lebih dulu," sahutku sambil mengusap punggung tangan Chanyeol yang berada di atas perut datarku.
"Oh, Kim Kai yang menghubungimu sebelumnya." Aku tahu itu bukan pertanyaan, jadi Aku tidak mengatakan apa-apa.
"Dia kekasihmu?" lanjutnya dingin.
"Eh?" Aku kembali mengalihkan pandanganku dari punggung tangan Chanyeol ke arah cermin dan saat itu juga Aku bertemu pandang dengan bola mata Chanyeol yang juga menatapku melalui cermin. Tatapannya tajam dan berkilat-kilat seperti seorang dominan pada umumnya.
Sejak kecil, Aku memang sudah menyadari walaupun Aku laki-laki, Aku cenderung memiliki sifat submissive walau sedikit tertutupi dengan sifat keras kepalaku, namun di depan seorang dominan apalagi yang memiliki aura kuat seperti Chanyeol, tentu sifat submissive-ku akan kembali muncul.
"Bukan, Kai bukan kekasihku," sahutku lirih tanpa berani melepaskan tatapanku darinya. Ia seakan mengunci pandanganku hanya padanya.
"Kalau begitu kenapa ia sangat protektif padamu?" tanyanya datar.
"Kai kan sahabat Baekkie," sahutku ringan. Bukankah sikap Kai ini wajar, untuk apa ia bertanya?
"Kau sepertinya tidak mengerti. Sudahlah lupakan," sahut Chanyeol mengalihkan pandangannya dariku.
Aku hanya mengernyitkan keningku. Apa yang tidak kumengerti, Kai? Tidak, tidak mungkin, Baekhyunee sudah kenal Kai dari kecil masa Baekhyunee belum mengerti Kai. Mungkin jika mengenai Chanyeol itu memang benar, Aku sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran pria dewasa yang sedang memelukku ini.
"Uh ... Chanh." Tiba-tiba Aku tersadar dari lamunanku begitu merasakan tangan Chanyeol yang mengusap-usap perutku lembut.
"Ssh ... Chan, perut Baekkie geli." Aku melenguh pelan saat telapak tangan Chanyeol bergerak semakin naik mengusap dada telanjangku.
Namun gerakannya tiba-tiba berhenti begitu mendengar suara ganjil yang menganggu.
Aku terkekeh kecil. "Chanlie, Baekkie lapar~"
Itu suara perutku yang kosong. Chanyeol terdengar mengumpat kecil sebelum melepaskanku dari pelukannya. Bukan salah Baekhyunee kan, Baekhyunee memang belum makan malam dan Chanlie dengan teganya tidak memberi Baekhyunee makanan, padahal Baekhyunee ini kan tamu~
Tbc.
A/N : Karakter Baekhyun di sini emang dibuat cute dan manja banget. Walaupun umurnya bisa dibilang udah bukan anak lagi, faktor anak terakhir dengan dua kakak laki-laki, yah jadi sering dimanjain wkwkwk.
Makasih yang udah mau baca, Follow, Fav dan Review!
Love you all~
