Maafkan Author yg payah ini. Aku mohon jangan salah paham soal pertemuan Tetsuya dan Sei. Itu sungguhan gak ada maksud hints AkaKuro. Itu emang ada maksudnya tapi gak bakal ngarah ke situ. Nanti itu akan nyambung ke cerita di chapter lain pas Akashi's POV.


Believe Me © Tanaka Aira

Disclaimer : Kuroko no Basuke ©Fujimaki Tadatoshi-sensei.

Pairing : Murasakibara X Reader, murni cuma pairing ini doang.


Chapter 2 : Before This Feeling

.

"One can buy loyalty, companionship, attention, perhaps even compassion, but love itself cannot be bought. An orgasm can be bought, but love cannot. It comes, or not, by grace, of its own will and in its own timing, subject to no human's planning."

~Deborah Anapol, Ph.D.~

.

.

.

"Hitomi wo tojite toikaketemita itsumademo kienai yume no ikisatsu"

((Closing my eyes, like asking a question, never-vanished eternally, the dreams' events))

"Kagami ni utsuru maboroshi wa tada shizuka ni kanaderu MELODY"

((Reflecting in the mirror, the illusion is just a melody that played quietly))

Dengan menggumamkan sebuah lagu, aku merasa dapat memberikan kekuatan bagi para simbol kasih sayang yang mendesir di setiap angin menggelitiknya. Hei, apakah itu tanda bahwa kekuatan ini tersalurkan?

"Munesasu sabishisa no naka akogare wa tsunoru hibi"

((Piercing my heart, inside the loneliness, longingly inviting the days))

"Setsuna no kioku tobikoeteyukitai ima wa"

((The instant memory, I want to go jumping over it right now))

"Hitotoki no kaze ga nagareteku hoshi ga"

((The momentary wind, the flowing stars))

"Hakondekureru no kirameki nagara"

((Progressing sparklingly))

Komposisi harmoni ini terasa begitu menggiurkan. Perasaan kesal, sedih, harapan, takut, bahagia, dan kecewa menjadikan lagu ini salah satu transportasi frase-frase yang tak dapat ditulis oleh kedua garis tipis merona ini. Aku masih ingin mengungkapkan apa yang kurasa, semua yang kukunci dengan rantai rasa malu dan takut.

"Kasuka ni kikoeru ano yasashii koe"

((Hearing it faintly, that kind voice))

"Machi no hi mo hohoenderu"

((The town's light will smile too))

"Hitotoki no kaze mo yami ni saku hana mo"

((The momentary wind too, the flowers blooming in darkness too))

"Hikari kakushiteru tokimeki nagara"

((Hidden in the light throbbing))

"Kasuka ni kikoeta natsukashii koe"

((Hearing it faintly, the missed voice))

"Mado wo ake miagetemiru mou ichido"

((Opening the window and looking up once again))

Setetes demi setetes bulir bening terserap ke dalam permadani kasar berwarna coklat itu. Tanah, air, dan udara adalah sumber kehidupan bagimu. Bagaimana dengan api? Ah, itulah musuh bagimu saat ini, bukan? Namun, jika api yang kau maksud adalah cahaya yang disebarkan oleh Bola Api Angkasa itu, itulah salah satu penyokong hidupmu. Kau meresap semua hal yang kau rasa itu dapat membuatmu hidup, dengan begitu mahkotamu akan membelah dan menghasilkan wangi yang menggodaku. Apalagi yang kau butuhkan? Angin yang membawa anak-anakmu? InVebrata yang melegakan paru-parumu? Atau aku yang bersedia membacakan dongeng pengantar tidur?

Aku melegakan nafas yang sempat tertahan oleh kecantikan yang diabadikan melalui refleksi simbol kasih sayang itu seraya berjongkok untuk menyamakan kedudukanku dengannya. Manusia menyebut dia yang 'ruby' sebagai simbol keromantisan, dia yang 'gold' sebagai persahabatan, dan dia yang 'peach' sebagai kehangatan ikatan yang terjalin. Menunduk-tegakan tangkainya oleh sejulur udara lembut membelai mahkota tetapi bagiku itu adalah tanda bahwa dongeng pengantar tidur dariku dapat dimulai.

Aku sedikit menjulurkan senyum, tak lebar hanya tipis tetapi tulus kuberikan. "Aku hanya sedang berpikir tentang pemuda tinggi yang membantuku saat itu. Kau tahu 'kan, saat aku berlari untuk menolongnya tetapi justru akulah yang ditolongnya?"

Belaian lembut udara terhenti dan membiarkan dia berdiri tegak sebagai sebuah isyarat melanjutkan apa yang ada dalam pikiranku. Kumohon, ini hanya sebuah dongeng dengan setitik harapan di dalamnya.

"Aku hanya berharap kata kembali yang diucapkannya dapat ia pertanggungjawabkan karena saat ini aku ingin bertemu dengannya. Ini sudah 40 hari sejak hari itu, kau tahu." Sesaat aku terdiam, mencoba bertanya dengan ragu-ragu, "Apakah waktu itu aku hanya salah dengar?"

Sungguh konyol melontarkan ucapan itu. Ya, dia tak mungkin kembali. Maksudku, untuk apa dia kembali? Untuk menemui orang yang hampir saja membunuhnya? Untuk mencoba lagi peruntungannya dalam memilih cake yang 'aman' dalam keranjang tertinggal? Mustahil. Pasti itu hanya sebuah kata-kata formalitas untuk sekedar tradisi ramah-tamah. Apa yang kuharapkan? Itu hanya sebuah kalimat semu yang tak berdasar. Mungkin ia datang hanya untuk bertemu Seijuurou-sama dan tidak berharap melihat pembunuh organ pencernaan 'kan?

"Ne~. Kenapa kamu *Kraus* menggeleng-gelengkan kepala di depan ladang bunga~ *Kraus*?"

He? Apa? Apakah perasaan rasa bersalahku membuat sebuah ilusi suara asing tersebut? Sungguh, ini bukan waktunya fatamorgana suara melewati indra pendengarku. Tidak! Aku tidak ingin mendengar wujud nyata dari harapan palsu ini. Kumohon, jangan permainkan suara itu dalam kepalaku. Dia tidak mungkin berada dalam atmosfer wilayah yang sedang kupijaki.

"Ne, [Name]-chin~. Kamu mendengarku~*Kraus*?"

Kurasakan tepukan pelan pada pundak kanan yang membuatku membuyarkan pemikiran tentang ilusi tersebut. Ilusi tidak mungkin menjadi sebuah benda padat dan mampu menyentuhku, bukan?

Ya, tidak salah lagi. Ini kenyataan. Kenyataan kalau sosok itu kembali sesuai dengan apa yang diucapkannya. Sebuah janji untuk kembali yang harus dipertanggungjawabkannya. Eh, sungguh aku tidak bermimpi 'kan? Dia berdiri di depanku dengan sebuah cemilan renyah yang terus berulang mengisi pencernaannya.

Aku perlahan berdiri dan membungkuk hormat kepada teman Seijuurou-sama sebagai tanda selamat datang. Ta-tapi….aku harus mengatakan apa? Apakah aku harus menjawab pertanyaan pertama tadi? Ah, tidak. Itu sudah terlambat dan…jujur saja, aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Jawaban tidak normal atau lebih tepatnya jawaban orang kesepian seperti 'Aku sedang curhat kepada bunga' tidak mungkin kukatakan, bukan?

Melihat keheningan diantara kami, dia duduk di lereng bukit kecil tak jauh dari ladang bunga tempatku berpijak. Kulihat dia mencoba membuka sebuah kemasan keripik kentang dan memakannya dengan tenang. Iris grayish-blue ini pun dielakan dari sepasang iris violet, dan irisku justru bertemu pemandangan warna-warni penuh harum menenangkan. Aduhh…kenapa disaat harapanku dikabulkan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sungguh, aku mengharapkannya kembali, murni karena aku ingin melihat sosok penolongku itu. Tidak ada maksud lain selain itu.

Tunggu, apa yang kulakukan? Tidak sopan jika aku mengabaikan kedatangannya. Selain itu, aku juga harus berterima kasih atas pertolongannya waktu itu…

Tunggu…

Terima kasih…?

"A-Ano….," Mataku masih memandang padang bunga, sungguh aku tak berani menatapnya langsung, "Terima kasih telah menolongku waktu itu dan…. aku mohon maaf soal cake beracun itu…..umm…Apakah kamu baik-baik saja?"

Dua permata orchid itu menatapku dengan malas tetapi entah mengapa terasa intens. A-apa aku salah bicara? Apa diam darinya berarti penolakan atas permintaan maafku?

Dia berdiam diri sejenak setelah itu kembali memakan makanan ringan itu.

"Aku sehat~ *Kraus*. Tapi aku ingin kembali merasakan cake enak itu…*Kraus* dan aku tidak ingin yang beracun~."

Tunggu, Apa itu artinya dia meminta balasan berupa cake? Tapi toko mana yang menjual cake elegan seperti itu? Kalaupun ada pasti harganya mahal dan belum tentu seenak masakan Bibi. Hei, biarpun itu mematikan, cake itu luar biasa enak. Aku tidak heran jika ada lidah lain yang tergiur rasa menggoda cake buatan Bibi. Tapi haruskah aku mengecewakannya dengan mengatakan permintaan seperti itu tidak mungkin bisa kupenuhi? Uang tabunganku belum tentu cukup membeli cake mahal dalam jumlah banyak.

"*Kraus* Cobalah bernyanyi lagi, [Name]-chin~."

Heh? Apa katanya?... Bernyanyi?

*Blushhh….*

Sontak wajahku memerah mendengar permintaan itu. Ja-jadi dia sejak awal sudah berada di sini? Sejak saat sebelum aku memulai mendongeng kepada bunga mawar? Aku langsung berjongkok dan menyembunyikan wajahku dengan menunduk pada naungan silangan tangan yang ditopang kedua lutut. Sungguh, ini memalukan. Salah satu rahasiaku adalah hobiku bernyanyi dan dengan mudahnya terbongkar akibat ketidakpekaanku terhadap lingkungan sekitar. Suaraku jauh dari kata merdu dan aku tidak percaya diri jika harus dinyanyikan dihadapan orang lain yang mendengar alunan nada hancur ini.

"Ada apa~? *Kraus* kamu malu?"

Kujawab pertanyaan itu dengan anggukan pelan.

"Anggap saja aku tidak ada di sini~*Kraus*"

Mudah mengatakannya tetapi sulit melakukannya. Ohh… sungguh aku tidak ingin telinga itu tercemari suara buruk dariku.

"Maaf…..tapi suaraku sangat buruk jadi…."

"Buruk~? Kalau suaramu buruk, *Kraus* aku tidak akan memintamu bernyanyi lagi, [Name]-chin~."

He? Memang benar apa katanya jika dia memintaku bernyanyi kembali berarti suaraku tidak membuat telinganya rusak. Apakah aku terlalu merendahkan diri sendiri? Aku belum pernah mendengar komentar orang lain tentang nyanyianku dan memang belum pernah ada yang mendengarku bernyanyi, bahkan Ibu dan Ayah tak tahu tentang hal ini.

Aku mengangguk pelan dan berbalik menghadap padang bunga, yang kurasa itu akan membuatku nyaman. Perlahan sedikit menambah pasokan oksigen untuk membersihkan rasa tegang dan menyapunya dengan rasa tenang. Hirup…..dan hembuskan, terus berulang dua kali. Ya, Aku tidak boleh mengecewakannya. Setidaknya, aku tidak ingin suaraku menjadi polusi udara baginya.

"Kokoro no koe ni kizuite hoshii itsumademo samenai yume wo miteita"

((The voice of the heart, I want to recognize it, never-waking eternally, looking at the dreams))

"Hitomi ni nokoru omokage wo mada hisoga ni irodoru MELODY"

((Remained in the eyes, the trace is still coloring the melody secretly))

"Munesasu kurushisa no naka tashikana chikai wo te ni"

((Piercing my heart, inside the pain, the certain vow on these hands))

"Setsuna no kioku tobikoeteyukitai hitori"

((The instant memory, I want to go jumping over it alone))

Sejulur selang air kubiarkan mengalirkan bulir-bulir kehidupan kepada mahkota permata itu. Tidak kusangka aku sama sekali tidak tegang akan suasana ini. Dan memang selimut atmosfer ini tidak menekanku pada apapun. Dia tidak mendominasi udara dan menghimpitku pada kalimat perintah. Aku tidak mengerti, apakah ini yang diharapkannya? Dia membuatku senyaman mungkin, tanpa ada perasaan sesuatu yang mengawasiku dan mengintimidasi penuh absolutisme.

"Sugi te yuku kisetsu modoranai jikan"

((The past season, the time that we can't go back to))

"Tachidomaru koto ga kanawanainara"

((Stopping it is beyond one's power))

"Ano hi no omoide iroasenu you ni"

((Though the memories of that day is fading))

"Kibou no hikari kono te de terasou"

((The light of hope will shine on this hand))

Apa ini? Kehadirannya seperti udara bagiku. Tak berusaha menanyakan apa yang kurasakan, apa yang kulakukan, atau apa yang kukatakan. Dia duduk diam memperhatikan, tetapi memberikanku kebebasan ruang untuk mengungkapkan perasaan dalam komposisi melodi-melodi teratur. Ia berusaha membuatku tak merasakan kehadirannya, tak merasakan kalau nyanyianku dilantunkan karena sebuah paksaan. Ia ingin aku bebas berekspresi dengan ayunan kata-kata meskipun itu sebenarnya tak mengungkapkan perasaan yang ada dalam pikiranku. Lagu yang tak bermakna mungkin adalah perumpamaan yang cocok untuk lagu ini. Maksudku, perasaanku tidak tergambarkan pada deretan lirik lagu ini tapi…..

"Hitotoki no kaze mo yami ni saku hana mo"

((The momentary wind too, the flowers blooming in darkness too))

"Hikari kakushiteru tokimeki nagara"

((Hidden in the light throbbing))

Ini lebih bermakna bukan didasarkan pada lirik yang menggambarkan 'Harapan yang lalu' tetapi pada bagaimana lagu itu terpola dalam melodiku. Jarang sekali aku berkata-kata, baik itu mengungkapkan perasaanku atau sekedar menjawab pertanyaan karena sebuah pesan isyarat kurasakan cukup untuk menjawabnya. Anggukan dan gelengan seperti saat aku menjawab pertanyaannya yang hanya membutuhkan jawaban 'ya' atau 'tidak'.

Aku tahu jika itu berarti aku bukan orang yang ramah tetapi sungguh aku berani bersumpah kalau menulis perasaan melalui udara untuk seseorang itu sangat sulit. Semua orang akan berkomentar tentang apa yang tersirat dalam sebuah gulungan kata. Jujur, dusta, panjang, singkat, memerintah, mengajak, dan lainnya adalah sesuatu hal yang tidak ingin kudengar ataupun kukatakan. Aku tidak ingin sebuah respon negatif mencampakanku dalam jurang kegelapan. Aku tidak siap menerima semua hal yang menekanku, membuatku terjepit dalam perang lidah yang saling menusuk. Mencaci-maki sesuatu yang bertentangan dengan dirinya, melontarkan lirik dusta untuk menutupi kebenaran, atau apapun itu.

"Kasuka ni kikoeta natsukashii koe"

((Hearing it faintly, the missed voice))

"Mado wo ake miagetemiru mo-"

((Opening the window and looking up one-))

"Ah! Murasakicchi! Akhirnya ketemu juga-ssu."

"Oi, Murasakibara. Jangan kabur kau. Kau harus bantu kami memasang tenda."

Refleks aku menengok melihat apa yang menyebabkan laguku terputus. Ada dua orang pemuda lainnya yang berlari ke arah penolongku dan mulai mencaci-maki perbuatan yang dia lakukan. Pemuda bersurai navy-blue menarik lengan besar itu dan memaksanya berdiri, sedangkan di pihak lain pemuda bersurai blonde meracau dengan berbagai macam kata-kata yang sepertinya tidak satupun didengarkannya. Grayish-blue bertemu dengan gold dan blue sapphire, serta orchid yang mengikuti arah pandangan dua pasang permata lainnya. Permata-permata itu mengarah padaku dan sontak aku mengalihkan perhatianku pada padang mawar yang sedang kusiram, berpura-pura tak melihat, mendengar, atau bereaksi dengan kedatangan mereka.

"Mou~…kalian mengganggu~.*Kraus*"

He? Apa dia mencoba beralasan untuk mengusir kedua orang lainnya?

"Hahh?! Apa maksudmu? Tch, pokoknya ayo bantu kami. Akashi marah karena kau hilang tiba-tiba." Pemuda bersurai navy-blue mencoba untuk menekan kesabarannya akibat kalimat konotasi mengusir mereka. Sepertinya suatu saat, pukulan mungkin ditelakkan ke tubuh penolongku itu.

Pemuda blonde menoleh ke arahku. "Haha…gomen-ssu. Kami mengadakan training-camp di dekat sini dan Murasakicchi kabur dari tugasnya mendirikan tenda. Ibumu bilang, Murasakicchi sedang bersamamu di padang bunga mawar ini, jadi kami menjemputnya-ssu." Sejenak pemuda blonde itu menggumam dan mulai menggaruk pipinya yang kurasa tidak gatal, "Maaf, mengganggu kalian-ssu. Tapi… boleh kami bawa dia?"

Aku memiringkan kepala dan memandang bingung. Jika pemuda bersurai violet itu memang kabur dari tugas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk apa ia meminta izin dariku? Aku tidak punya hak untuk menjawab karena bukan aku yang seharusnya mengizinkan penolongku pergi bersama mereka.

Tapi …..itu berarti dia tertahan olehku saat waktu diharuskan menjalankan tugasnya.

Aku kembali menjadi pihak yang patut disalahkan.

Aku menyia-nyiakan waktu pemuda itu untuk mendengarkan nyanyianku, mendengar kata-kata tak bermakna yang kurasa menggiurkan untuk dilantunkankan. Jika saja aku menyanggupi permintaan pertamanya, apakah dia tak melanjutkan ke permintaan kedua? Jika itu yang akan terjadi, aku benar-benar harus minta maaf karena menahannya di sini.

"A-ano…-"

"Tch, Ayo cepat pergi, Kise!"

Ah, lagi-lagi…

Lagi-lagi mereka pergi sebelum aku mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Terlalu lama memikirkan spekulasi-spekulasi yang ada, membuat mereka bosan akan keberadaanku.

Ah, aku memang tidak cocok untuk berkomunikasi dengan orang lain. Selalu saja berakhir seperti ini. Berakhir dengan mereka meninggalkanku yang berdiri diam menyesali kata-kata yang terlambat untuk dilontarkan, terlalu lambat mengungkapkan perasaan.

Mereka pergi dengan setengah menyeret tubuh besar penolongku itu. Semilir angin memainkan surai turquoise-ku dan aku dapat merasakan bulu-bulu yang menggelitik kakiku, pasti kelinci-kelinci yang kulepas tadi. Tapi... entah kenapa mataku tak bisa lepas dari sosok punggung pemuda tinggi itu, yang berjalan menjauhi tempat aku berdiri dalam keheningan.

Ini adalah pertemuan kedua kami, yang berlalu begitu cepat seperti waktu itu. Apa...akan ada saat aku kembali melihat sosoknya, dengan waktu yang sedikit lebih lama?


"Miaw~…."

Haha…dia terlihat menyukai belaianku. Kembali aku mengelus bulu putih Sirius yang masih tertidur di pangkuanku. Jika dia sedang dalam keadaan tenang seperti ini, ia seperti kucing Persia polos pada umumnya. Sayang sekali pada saat mata itu terbuka, sifat tinggi hatinya muncul.

Ngomong-ngomong, Seijuurou-sama training-camp di mana, ya? Kalau tidak salah kudengar, bulan lalu mereka berencana training-camp di pantai tapi pemuda blonde itu bilang bahwa mereka berlatih di dekat sini. Bukankah di dekat sini itu lembah pegunungan? Laut jauh dari tempat tinggal ini. Ahh, mungkin Seijuurou-sama berubah pikiran.

"AH! Ketemu!"

He? Kenapa Ibu terlihat panik seperti itu? Ibu berdiri sambil mengatur pernapasannya yang naik-turun. Apa ada sesuatu yang gawat? Tapi… tadi Ibu bilang menemukan sesuatu. Di ruangan ini 'kan hanya ada Sirius dan aku.

"Kaa-san, ada apa?"

Perlahan napasnya kembali teratur dan mencoba membuatku berdiri. Gerakan tiba-tiba itu membuat Sirius bangun lalu meloncat turun dari pangkuanku. Ibu menunjuk ke arah luar dan kulihat ada dua buah keranjang di atas tatami. 2 baguettes (*) yang tinggi mencuat dari dalam salah satu keranjang dan bisa kutebak isinya pasti makanan. Tapi untuk siapa?

"Ibu minta maaf menyuruhmu melakukan ini." Tatapan Ibu terlihat khawatir dan melanjutkan kata-katanya, "Tapi akhir-akhir ini, pelayan yang lain sibuk mengurus pesta keberhasilan proyek terbaru Tuan Seishirou. Bisa kamu antarkan 2 keranjang ini ke tempat latihan Tuan Muda Seijuurou? Ada keperluan lain yang harus ibu urus."

Mataku mengerjap beberapa kali untuk mencerna kata-kata itu.

….

Bohong….

Selama ini Ayah dan Ibu selalu merantai eksistensi-ku pada dunia di luar kediaman Akashi ini. Sekarang aku mendapat izin keluar? Padahal selama ini aku selalu diam-diam menyelinap ke luar sekedar untuk berkunjung ke rumah Bibi atau melihat orang-orang berlalu-lalang dan bermain permainan yang terlihat menyenangkan. Aku mengangguk semangat menyanggupi perintah itu.

"Hai. Aku akan pergi mengantarnya."

Senyum merekah di wajahku dan suaraku seakan diambang langit. Aku tidak percaya akan ada hari dimana aku bisa keluar tanpa cemas Ibu akan memarahiku nantinya. Jantungku berdetak cepat dan kedua tanganku terkepal erat karena senang. Aku ingin melihat lagi pemandangan itu. Melihat lagi bagaimana kehidupan luar biasa dimana langit menjunjung tinggi kebahagiaan banyak insan–

...dan bertemu lagi dengan dirinya. Untuk ketiga kalinya, aku akan menemuinya.

Melihat reaksiku yang sangat berlebihan, Ibu mencubit kedua pipiku kesal.

"Meskipun begitu bukan berarti kamu boleh berkeliaran seenaknya, ya. Kamu harus secepatnya kembali begitu sampai di sana. Mengerti?"

"Bhaikk. Akhu menghelti." Cubitan itu membuat suaraku tak ber-artikulasi. Tapi siapa peduli dengan itu. Sekarang aku bisa bebas. Kubawa kedua keranjang itu yang ternyata tidak seberat yang kukira atau mungkin kebahagiaan ini memberikanku kekuatan tambahan?

"Uwaaahhh..."

Terlihat.

Aku benar-benar melihat gerbang utama kediaman keluarga Akashi. Pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa berpijak pada gerbang pembatas dengan dunia luar. Aku melirik sejenak ke arah semak-semak yang berada jauh di arah timur gerbang, dibalik semak-semak itu terdapat pintu rahasia yang biasa kugunakan untuk menyelinap keluar. Tapi tidak kusangka, aku sekarang bisa keluar melewati pintu gerbang utama. Ini... ini sungguh luar biasa.

Kueratkan peganganku pada dua keranjang besar yang kubawa. Setiap langkah selalu kunikmati, akan selalu kukenang sebagai bagian dari hidupku. Aku melihat sekelompok anak SD berlarian dengan dua orang pemuda SMP dibelakangnya. Tiba-tiba, salah satu anak SD itu terjatuh karena didorong oleh temannya, kedua pemuda itu pun berlari mendekati mereka. Pemuda berambut raven menceramahi anak yang sengaja mendorong dan pemuda lainnya, yang tinggi dan berambut cokelat muda, mengobati anak yang terjatuh. Posisi mereka cukup jauh dari tempatku, tetapi sepertinya pemuda tinggi itu mengatakan kepada temannya untuk tidak marah berlebihan kepada anak yang bersalah. Aku tersenyum melihatnya, entah mereka itu kakak-adik atau bukan, tetapi mereka sangat perhatian dan baik hati.

Sungguh, yang namanya dunia itu tak kukira akan berkilauan seperti ini. Aku ingin melihat lebih banyak lagi ungkapan rasa kasih-sayang, rasa simpati, rasa kagum, atau apapun itu. Semua yang tidak bisa kulihat dari balik tembok penghalang itu. Mataku tak bisa lepas dari pemandangan sekitar, baik itu alam maupun kontak sosial antar manusia. Ada banyak keluarga yang piknik di bawah pohon rindang, beberapa pasangan yang saling mengobrolkan banyak hal, kelompok bermain yang asyik bercanda ria, dan juga beberapa orang yang berjalan sendirian membaca buku ataupun mendengarkan musik.

...

Tunggu dulu...

Kenapa aku justru terus berjalan?! Seharusnya aku mengantarkan keranjang ini ke tempat Seijuurou-sama. Ngomong-ngomong, Seijuurou-sama berkemah dimana? Kakiku berbalik ke arah berlawanan karena aku sudah berjalan terlalu jauh dari kediaman Akashi. Bodohnya... kenapa aku jadi lepas kendali kalau sudah melihat sesuatu yang berbeda dan menarik perhatian, padahal kata pemuda blonde itu perkemahan mereka tak jauh dari rumah.

Sepanjang perjalanan, aku terus menengok kiri-kanan, mencoba mencari keberadaan mereka ataupun mendengar suara mereka–

Aaaahhh!

Bodohnya, aku bahkan tidak tahu siapa teman Seijuurou-sama. Aku hanya tahu rupa dan suara Seijuurou-sama, pemuda bersurai blonde, pemuda bersurai navy-blue, dan penolongku–

Mataku melirik ke arah keranjang yang kubawa. Kira-kira apa yang akan dia pikirkan saat melihat banyak makanan ini, ya? Tanpa sadar aku tertawa kecil memikirkan reaksi cukup kekanak-kanakan yang akan dia lakukan. Mungkin dengan cepat ia mengambil keranjang ini dari tanganku dan memakan semuanya, tanpa memikirkan kalau makanan itu sebenarnya untuk porsi 7 orang. Apa yang sedang ia lakukan sekarang, ya? Apa dia benar-benar mengerjakan tugasnya untuk memasang tenda? ...kurasa kemungkinannya 50:50 setelah berpikir kalau tugas itu pasti cukup merepotkan baginya.

Tu-tunggu dulu, kenapa aku justru memikirkan hal itu? Aku hanya datang untuk mengantarkan makanan ini, bukan untuk melihat reaksinya yang akan sangat senang melihat banyak makanan yang kubawa.

Aku menepuk kedua pipiku untuk menghilangkan pikiran itu dan kembali memikirkan cara mencari keberadaan mereka. Tapi selain keempat orang itu masih ada...err...3 orang lagi, itupun kalau yang perempuan ikut. Ayah bilang ada seorang dari mereka yang menjadi manajer, satu-satunya perempuan yang ikut bersama dalam kelompok mereka. Kalau tidak salah, ciri-ciri perempuan itu...

"Tetsu-kun~!"

Memiliki surai sakura dan iris magenta...

"Vanilla Milkshake kesukaanmu sudah kubeli nih."

Memiliki paras cantik dan bentuk tubuh yang sempurna, seperti model tapi dia bukan model...

"Ini edisi spesial lho~."

Kalau tidak salah namanya...err...sesuatu dengan unsur warna pink...

"Momoi-san, teri–"

"Ah, benar." Akhirnya bisa kuingat, "Namanya Momoi. Momoi dari unsur warna Momo (pink). Kenapa aku bisa lu–...eh?"


"Sumi...ma...sen..."

Tanganku meremas rok putih yang kukenakan dan pandangan menunduk kebawah. Aura secerah matahari yang awalnya kukeluarkan tadi, sekarang jadi gelap dan suram. Aku malu... aku sungguh-sungguh malu mengingat kejadian tadi. Aku tidak mengira aku menyuarakan apa yang ada di dalam pikiranku dengan suara yang cukup keras, sehingga mereka yang sedang istirahat setelah mengatur perkemahan, menatapku dengan pandangan heran terutama seorang perempuan berparas cantik yang namanya kusebutkan serta pemuda beriris light-blue yang kata-katanya tak sengaja kupotong.

Aku bisa merasakan kerasnya gelondongan kayu dari pohon besar yang menjadi tempat dudukku, dan dengan mereka yang duduk berhadapan denganku. Sekarang aku merasa seperti sedang dalam ruangan interogasi. Mereka tidak berkata apapun tapi bisa kurasakan pandangan intens mereka padaku. Apa aku akan dimarahi karena menginterupsi waktu istirahat mereka? Atau aku akan disuruh pulang karena mengganggu? Uuuuuhhhh... aku memang tidak cocok jika berkomunikasi dengan orang lain tetapi bukan berarti aku ingin ditekan tanpa kata seperti ini, yang justru semakin membuat seluruh tubuhku menegang.

Aku tidak kuat dengan aura mencekam ini. Tidak! Aku ingin pulang. Mataku melihat dua keranjang makanan yang terbengkalai disamping kedua kakiku. Ah, ini bisa menjadi cara bagus agar aku bisa pergi dari sini.

"A...ano..." Aku mengangkat kedua keranjang itu yang sekarang menjadi lebih berat dibandingkan tadi, "Aku datang untuk mengantarkan ...makanan ini..."

Tidak. Tubuhku menolak untuk berjalan mendekati mereka atau sekedar menatap mereka. Aku takut. Aku takut. Aku benar-benar takut sekarang. Akhirnya aku hanya bisa meletakkan dua keranjang itu di depan perapian yang berada ditengah-tengah, antara tempat dudukku dan mereka. Setelah itu aku berjalan mundur,

"Ma-maaf...aku...akan pergi." Aku bersiap-siap mengambil langkah untuk kabur, " Maaf... mengganggu..."

Grep!

Kedua tanganku tiba-tiba digenggam erat oleh perempuan cantik itu. Matanya berbinar-binar melihat ke arahku yang lebih pendek darinya. Kenapa dia? Kalau digenggam seperti ini aku tidak bisa kabur.

"Kamu benar-benar manis, [Name]-chan!"

Eh?

"Aku benar-benar tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri –nodayo." kata pemuda bersurai hijau sambil menaikan kacamatanya.

"Benar 'kan apa kataku-ssu. [Name]-cchi itu memang manis." Pemuda bersurai blonde ikut mendekat ke arahku dan memegang pundak kananku. Ke-kenapa dia juga ikut-ikutan mendekatiku?

"Bu-bukan itu yang kumaksud, Kise." Dengan kesal, pemuda bersurai hijau itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

Apa maksud kata-katanya itu? A-apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa mereka yang awalnya berdiam diri dan menatapku intens sampai aku merasa sangat tertekan, tiba-tiba menghambur ke arahku dengan pandangan tak percaya, seolah ada sesuatu yang baik terjadi pada mereka? Kemana hilangnya aura seram tadi?

Aku mendengar helaan napas panjang dan itu berasal dari pemuda bersurai crimson yang berstatus sebagai majikanku.

"Itu bukan aura seram, [Name]." Uh, lagi-lagi Seijuurou-sama membaca pikiranku, "Mereka daritadi diam memperhatikanmu karena tidak percaya bahwa kamulah yang menarik perhatian Atsushi."

Atsushi? Siapa itu?

"Murasakibara Atsushi." Tangan Seijuurou-sama menunjuk pada pemuda yang masih memandang tak peduli terhadap keributan yang disebabkan oleh perempuan berparas cantik dan pemuda...err...kurasa memang cukup disebut cantik, seandainya dia bergender perempuan.

...Tunggu, apa maksudnya menarik perhatian?

"Ne, ne. [Name]-chan datang untuk bertemu Mukkun 'kan."

"Duduklah disebelah Murasakicchi. Supaya kalian bisa lebih dekat-ssu."

Perempuan cantik itu menarik pergelangan tangan kananku sementara pemuda blonde itu mendorong punggungku dari belakang, menyuruhku duduk disamping penolongku itu. Ta-tapi tunggu dulu... aku bukan datang untuk bertemu dengannya tapi untuk mengantarkan makanan itu saja 'kan? A-aku harus pulang sebelum ibu cemas karena aku sudah pergi terlalu lama.

"A-aku...harus pulang." Aku menarik tanganku dari genggaman perempuan cantik itu dan membungkuk ke arah mereka, "Ma-maaf..."

Suara yang terakhir kudengar adalah suara pemuda dan perempuan cantik itu, memanggil namaku dan menyuruhku untuk kembali. Aku terus berlari menyusuri jalan setapak, mencoba menjauh dari mereka. Beberapa kali aku tak sengaja menyenggol orang lain, salah satu dari mereka membawa eskrim dan akibatnya eskrim vanilla itu mengotori pakaianku. Aku membungkuk mengucap permintaan maaf dan kembali berlari. Terus berlari sampai bisa kulihat gerbang utama kediaman Akashi.

"Hhhh...Hahhh..."

Setelah beberapa langkah memasuki wilayah dalam, aku menghentikan lariku. Punggungku langsung bersandar pada tembok yang menjulang tinggi di belakangku. Kakiku lemas dan langsung terduduk di permukaan tanah. Tanganku menggenggam erat pakaian yang melapisi dada yang sesak. Tidak! Dikarenakan aku berlari seperti waktu itu, asmaku kambuh lagi. Aku mencoba untuk meringankan kecepatan tak tentu udara yang masuk ke dalam paru-paruku, itulah salah satu cara agar asmaku perlahan hilang... seharusnya begitu tetapi kenapa yang terjadi justru semakin membuat dadaku membuncah?

Tiba-tiba, aku merasakan elusan pelan dipunggungku. Ke-kenapa dia berada di sini? Seharusnya aku sudah berada cukup jauh dari tempat terakhir aku melihat mereka. Peluh mengalir turun dari pelipisnya dan napasnya terdengar sedikit memburu. Jadi dia juga berlari sepertiku? Dia mengejarku sampai kesini? Untuk apa? Kenapa dia kesini?

Dia menyekat keringat yang mengalir di sekitar wajah dan leherku dengan sapu tangan berwarna violet. Dia tak berkata apapun, terus beraktivitas dalam diam. Satu tangan diletakannya di belakang kepalaku dan satunya lagi mendorongku dari depan, agar aku bersandar pada tembok tinggi dibelakangku. Setelah itu, dilakukannya berulang kali mengelus punggungku, terus sampai beberapa lama, sampai napasku kembali normal.

Kenapa?

Untuk apa sebenarnya dia mengejarku?

Aku tidak mengerti. Tapi... bolehkah aku berpikir positif kalau dia sudah menebak kalau aku akan berakhir seperti ini? Terjulur lemah seperti sebelumnya? Menepuk pelan punggungku sama seperti waktu itu, dan itu memang berhasil membuatku tenang.

Tapi... kenapa dia begitu cemas akan keadaanku, sama seperti waktu itu? Padahal bisa saja dia tak perlu mengejarku tadi dan memakan makanan yang kubawa. Untuk apa dia melakukan hal merepotkan seperti ini? Aku yakin pertemuan pertama kami waktu itu hanyalah sebuah insiden makanan beracun, lalu kesalahanku karena membuang-buang waktunya mendengarkan nyanyianku. Ini hanya kali ketiga kami bertemu bukan? Kenapa dia begitu bersimpati padaku? Apa yang telah kulakukan sehingga membuatnya seakan bertanggung jawab dengan kesehatanku? Tidak. Bukan hanya itu. Tapi dia juga satu-satunya orang yang tak membuatku takut dengan hujaman kata-kata, tidak seperti teman-temannya yang lain. Bukankah seharusnya aku yang melakukan sesuatu padanya, sebagai rasa terima kasihku selama ini?

"Cake~."

Eh? Aku mendongak menatapnya yang berdiri, setelah selesai mengelus punggungku.

"[Name]-chin belum memberikan cake yang kau janjikan~." Ia menepuk bagian belakang celana-nya yang kotor oleh tanah dan mengambil kembali kantong keripik yang sempat terbengkalai di sisinya, "Karena alasan itulah aku datang *Kraus*."

Mataku kembali menatap tanah yang menjadi lantai kotor tempatku duduk. Begitukah? Jadi... karena sebuah perjanjian sekeranjang kue yang belum kupenuhi, ia datang ke sini? Dan karena tidak mungkin kue-kue itu akan selesai dibuat jika Sang Pembuat saja selalu mengalami masalah dengan kesehatan?

Bodohnya, padahal kupikir ia bersimpati padaku.

"Baik..."

Padahal kupikir ia sudah menjadi penolongku, seorang hero yang selalu menyelamatkanku dalam keadaan kritis.

"Akan aku buat... se-sekeranjang kue untukmu..."

Sakit. Punggungku terasa sakit, punggung yang biasanya ia elus lembut memberikan kehangatan dan ketenangan padaku, terasa dialiri suatu cairan panas.

"Jadi..."

Sebagai uang muka sebelum pesanan sekeranjang kue kuberikan untukmu, bolehkah aku mengucapkan sebuah permintaan.

"...Tolong..." Jari-jariku yang menggenggam sapu tangannnya, memucat karena kuremas terlalu erat, "...tinggalkan aku sendiri...di sini..."

Ya, sebelum diriku semakin digerogoti rasa ingin tahu tentang dirimu.

Sebelum semua rasa terima kasih ini berubah menjadi perasaan yang tabu untuk kurasakan.

Pergilah.

Aku tidak akan lagi berkeinginan untuk menemuimu.

Aku tidak akan lagi bercerita pada bunga mawar ataupun kelinci-kelinci, semua hal tentangmu.

Aku akan berhenti di sini.

Sebelum aku jatuh pada jurang tak berdasar.

.

.

TBC

.


Ket :

(*) : Roti tawar Perancis yang panjangnya bisa sampai 50-150 cm.

Insert Song : Setsuna no Kioku (Character Song Katekyo Hitman Reborn : Chrome Dokuro (CV:Satomi Akesaka))

.

Author : Maafkan Author karna menimbulkan banyak kesalahpahaman pada chapter pertama. Itu murni gak bakalan ada AkaKuro. Aku bukan fujoshi dan gak mungkin bikin gituan. Nanti itu akan berlanjut pas chapter Akashi's POV /nangisdarah/

Sei : Makanya, jadi Author tuh jangan ambigu.

Author : Diam kau, cebol. Kau tuh gak punya hak mengatakan hal itu.

Tetsuya : Yahh...pokoknya reader-san tenang aja, terutama untuk Kumada Chiyu-san. Tidak akan ada unsur yaoi di sini. Author-san juga tidak kuat baca cerita BL soalnya. Cuma ada pairing Murasakibara-kun X Reader-san. Ngomong2 dialogku kok sedikit sekali, Author-san?

Author : Tetsuya tenang aja. Nanti bakalan ada chapter yang khusus untukmu. Soalnya ini akan ngikutin cerita aslinya. Aku lagi berusaha baca manga Kurobas lho.

See you, Next chapter…

Sign,

Tanaka Aira