Dhampir's
BTS
Kim Taehyung ft. Jeon Jungkook
.
.
.
.
.
.
.
.
Rae present
.
Tittle : Dhampir's
Author : Rae
Genre : Fantasy, Supranatural, Fiksi, School Live, Friendship/Brothership, lil bit Yaoi.
Rated : T/T+
Cast(s) : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Kim Seokjin, Jung Hoseok, Other's
Lenght : Chaptered
Summary : "Ia dan Jeon Jungkook terikat, dan ibunya mengatakan jika tugasnya hidup di dunia fana ini hanya satu...melindungi generasi terakhir Moroi"
Author's Note : Holaaaa~~ Chapter satu datang~~ maaf ya membuat kalian menunggu lama, hehe. Hanya ingin mengucapkan, setelah dipikir-pikir ulang, akan ada Yaoi dalam ff ini, hanya sedikit, dan tentunya bukan VKOOK. Karena di prolog kemarin sudah disinggung "BTS-TAEHYUNG-JUNGKOOK-but its NOT VKOOK." Jadi saya harap kalian tidak kecewa ya. Maafkan~
Ngomong-ngomong, ff ini adalah ff saya yang pertama mengusung tema supranatural dan fantasi, apalagi yang berbau vampiran begini. Jadi bikinnya susah, dan maaf jika updatenya lama ya~
TYPO(s). NO PLAGIARISME. DON'T LIKE DON'T READ. RNR PLEASE.
.
.
Dhampir's
a story from Rae; inspirated by
"Vampire Academy"
[a film which directed by Mark Waters and written by Daniel Waters]
.
.
BAB 1 ; Vladimir
.
.
Vladimir. Begitulah sekiranya apa yang dapat terbaca dari tulisan besar-besar bergaya kuno—sangat kuno malah, yang diukir dengan apiknya di papan lebar sepanjang tiga belas meter kira-kira, yang tergantung rapi di atas gerbang besar nan tinggi berwarna cokelat emas. Sepi. Keadaan dibalik gerbang besar itu nampak sepi. Matahari bersinar dengan begitu teriknya, tepat diatas kepala; menandakan jika sekarang sudah jam dua belas tepat.
Sebuah tangan kurus meraih gagang gerbang; kemudian mendorong gerbang itu untuk terbuka ke dalam. Bunyi berderit mengiringi langkahnya yang semakin mendorong gerbang itu—bermaksud membukanya lebih lebar. Tubuh kecilnya yang berbalut mantel hitam panjang memasuki area di balik gerbang. Dan otomatis, gerbang dibelakangnya tertutup. Marbel cokelat gelapnya menelisik apapun yang mampu dijangkau olehnya. Pepohonan, jalan setapak, dan juga gedung—bangunan kuno—besar yang tak jauh darinya.
Ia membawa kaki rampingnya untuk menyusuri jalan setapak beralas bebatuan marmer dihadapannya; yang membentang hingga gedung besar disana. Semilir angin menerbangkan surai cokelat pudarnya. Senyumannya ia kulum; hanya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Kakinya berhenti, tepat di depan sebuah pintu cokelat tua yang lagi-lagi menjulang tinggi. Pintu itu telah terbuka; atau memang sengaja dibuka pada siang hari. Ia kembali membawa kakinya untuk berjalan; memasuki gedung besar nan kuno itu.
"Hai!"
Ia berhenti dan menoleh. Mendapati seorang anak yang mungkin seusianya; tengah berdiri di ujung tangga bagian bawah dan tersenyum padanya.
"Kau murid baru ya?" anak itu mendekat dan bertanya.
"Ya. Bisa kau tunjukkan dimana ruangan dewan? Aku harus kesana."
Anak itu tersenyum, menyipitkan mata bulatnya dan menampilkan gigi kelinci lucunya. "Mari. Aku akan mengantarmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kim Taehyung."
Seseorang;laki-laki—dengan pakaian khas bangsawan-nya, berdiri dari duduknya dan menepuk pelan bahu pemuda berambut cokelat pudar yang hanya tersenyum padanya.
"Dia adalah Jeon Jungkook, keturunan terakhir Moroi. Seseorang yang memiliki ikatan kuat dengan dirimu." Laki-laki itu menunjuk pemuda lain yang sedari tadi juga ada disana.
"K-kau?! Taehyung?! Dhampir terakhir Moroi?!" pemuda yang ditunjuk—sebut saja Jungkook; beralih menunjuk pemuda berambut cokelat pudar itu. Yang hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Berhenti berpikiran yang tidak-tidak tentangku, Tuan Muda Jeon. Ingatlah bahwa yang kau pikirkan sebenarnya aku ikut memikirkannya. Dipaksa lebih tepatnya." Taehyung—si rambut cokelat muda—tersenyum. Meraih lengan Jungkook yang masih mengacung padanya dan meletakkannya diatas paha pemuda itu.
"Mari berkenalan secara resmi. Kim Taehyung, 19 tahun. Dhampir tingkat dua."
Tangan Taehyung yang terulur itu bersambut.
"Jeon Jungkook. 18 tahun. Generasi terakhir Moroi. Tingkat dua. Yeah—aku vampir."
Keduanya tertawa.
Taehyung lebih dulu melepas tautan tangan mereka. "Kuharap kau terbiasa dengan kehadiranku, Jungkook-ah. Karena aku sudah terbiasa dengan auramu yang selalu mengikutiku bahkan sejak aku baru lahir"
"Aku akan berusaha, Taehyungie."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Helain surai blonde itu tertiup angin; hingga menerbangkan sebagian kecilnya. Matanya menatap fokus ke arah genangan air berwarna keruh di kolam; tepat di depannya. Bibir tebalnya bergerak-gerak, seolah membaca sesuatu. Disebelahnya; disebuah bangku taman tua, ada buku tebal yang sudah terbuka halamannya. Kedua netranya terbingkai kacamata berframe hitam. Sedikit menambah poin plus pada visual wajahnya.
Secara perlahan, air keruh kolam itu naik; membentuk sebuah pusara mirip puting beliung. Pusara itu berputar dengan lambat. Mengikuti gerak tangan pemuda bersurai blonde. Lama kelamaan semakin cepat karena pemuda itu mulai memutar tangannya.
SLASH. BYAR.
Kedua tangan pemuda itu turun ke sisi-sisi tubuh tegapnya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, menandakan jika ia puas akan kerjaannya.
Air kolam yang membentuk pusara tadi pecah, membuat hujan kecil disekitarnya. Air yang semula keruh itu, menjadi jernih saat turun sebagai hujan. Membasahi tempatnya berdiri dan sekitarnya. Bahkan dirinya sendiri ikut basah kuyup—beruntung jas almamaternya sudah ia tanggalkan dan ia letakkan di sebelah buku tebalnya. Meskipun dekat dengan posisinya, namun bangku taman tua yang menjadi tempat singgah bukunya tadi kering tak tersentuh.
"Ck! Kau selalu bermain dengan air kolam, Jin!"
Pemuda blonde itu menoleh. Kemudian tertawa kepada pemuda lain disana. Berkulit pucat dan berambut abu-abu.
"Karena aku tidak ingin dihukum oleh Lord Suho apalagi Lord Yongguk, jika aku menggunakan air bersih untuk eksperimenku ini."—pemuda blonde itu mengambil buku dan jasnya; kemudian menghampiri pemuda berkulit pucat yang tadi memanggilnya.
"Jangan menyentuhku! Kau basah Seokjin! Yak!"
"Sudah sepatutnya kita berbagi kan Mark? Bukankah itu gunanya teman hm?"
"Tidak untuk sekarang bodoh! Yak Kim Seokjin!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah kukatakan berapa kali padamu huh?! Berhenti mendekati vampir-vampir hunter itu!"
PLAK.
"Aduh!"
Pemuda berambut cokelat gelap kehitaman disana mengusap kepalanya yang baru saja menjadi sasaran empuk dari busur panah berwarna hitam mengkilap. Didepannya ada seorang laki-laki dengan jas beserta jubah khas orang-orang bertittle 'Lord' di Vladimir. Berambut perak dan berkulit sedikit tan.
"Jung Hoseok kenapa kau ini susah sekali di atur huh?"—ia kemudian mengacak rambutnya frustasi.
"Maaf Lord. Mereka yang lebih dulu mencari gara-gara." Pemuda berambut cokelat gelap yang dipanggil Hoseok itu menundukkan kepalanya—kemudian mencebikkan bibirnya.
"Kalau mereka mencari gara-gara, sudah diamkan saja bodoh! Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kalian huh? Werewolf disini hanya ada kalian berdua, aku, Lord Chanyeol, dan Lord Yongguk. Dan kalian berdua masih tingkat empat! Ya Tuhan.."
"Lord Daehyun, kenapa terus-terusan menyalahkan kami?" seorang pemuda sipit yang lebih pendek dari Hoseok, bersuara.
"Kau juga Moon Jongup! Kau terlalu polos Ya Tuhan..."
Jongup—si pemuda sipit—mengikuti tindakan Hoseok; menunduk kemudian mencebik.
"Aku tidak mau mengurusi kalian untuk masalah ini. Biar Lord Chanyeol yang mengurusi hukuman kalian."—kemudian, Lord si pemilik busur panah itu berjalan menjauh meninggalkan dua pemuda yang masih menunduk disana. Jung Hoseok dan Moon Jongup.
Tak lama setelah kepergian Daehyun—Lord pemilik busur panah—Hoseok mengangkat wajahnya kemudian menghempaskan tubuhnya pada kursi panjang disana.
"Dasar Lord menyebalkan! Apa ia tidak takut tua jika terus-terusan mengomeli kita huh?!"
"Siapa yang kau katakan menyebalkan, Jung Hoseok? Lord Daehyun?"
Hoseok terperanjat saat suara berat itu menyapa pendengarannya. Ia lantas bangun dari duduknya dan menatap tidak percaya pada manusia tinggi dengan kedua matanya yang berawarna hijau kebiruan. Lord Chanyeol.
"A-ah...bukan Lord. Bukan siapa-siapa." Hoseok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terserahmu sajalah kalau begitu. Ngomong-ngomong, aku tidak ingin mengurusi masalah ini sebenarnya. Aku lebih suka membebaskan kalian. Tapi karena Daehyun nanti akan mengomel padaku, jadi aku akan memberikan hukuman bagi kalian. Tidak—untuk Hoseok saja."
"Apa Lord?!" mata Hoseok membola.
"Salinlah sejarah peradaban werewolf di dunia ini. dari semua buku sejarah yang ada di perpustakaan. Kumpulkan minggu depan."
"Ya Tuhan Lord! Hanya aku saja? Lalu Jongup?"
Chanyeol menatap Jongup sebentar. "Jongup tidak akan dapat hukuman."—kemudian ia menampilkan cengiran khasnya.
"Bye Hoseok, Jongup~"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Lima detik.
Enam detik.
Tujuh det—
"Lord Chanyeol sialan!"—tik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nah Taehyungie, ini kamarmu. Di dalam sudah ada yang menempati. Ada Park Jimin, Dhampir tingkat tiga yang sama denganmu. Dia adalah Dhampir dari kakak laki-lakiku yang sudah tiada."—Jungkook tersenyum sembari mereka berhenti di depan sebuah pintu cokelat tua berukiran rumit.
"Begitu ya.." Taehyung mengangguk mengerti.
"Kemudian ada juga Zelo, dia seorang Mage. Tingkat tiga juga. Juga ada Junhoe, dia vampire."
"Kupikir hanya akan ada dua oarang saja dalam setiap kamarnya." Taehyung memandang takjub.
"Hahaha...tentu tidak Taehyungie. Ada empat sampai lima orang dalam setiap kamarnya." Jungkook kemudian berbalik.
"Nah Taehyungie, sampai jumpa besok pagi ya. Kelas pertama adalah kelas memanah. Kita akan berjumpa saat sarapan. Kau ingat jalan ke dapur kan?"
Taehyung mengangguk. "Tentu. Sampai bertemu besok, Kookie."
Jungkook melambai dan mulai berjalan menjauh meninggalkan Taehyung. Setelah Jungkook menghilang dari pandangan, barulah Taehyung memegang kenop pintu. Kemudian membukanya.
Hal pertama yang menyambutnya saat pintu besar itu terbuka, adalah seorang pemuda bermata sipit dan berambut hitam. Pipinya sedikit tembam dan ia mengenakkan kaos oblong tanpa lengan berwarna putih; menampilkan otot-otot tangannya yang terbentuk dengan baik. Juga sebuah celana training hitam yang membungkus kakinya.
"Halo." Taehyung menyapa dengan suara pelan.
Pemuda berambut hitam itu—yang duduk diatas tempat tidur karena terkejut akan kehadiran Taehyung yang tiba-tiba—memandangnya bingung.
"Ha-lo."—kemudian balik menyapa dengan canggung.
"Aku, murid baru disini. Kuharap, kau bisa membantuku. Kim Taehyung. 19 tahun. Dhampir tingkat tiga."
Hening beberapa saat.
"Kau Dhampir juga? Apa kau dhampirnya Jungkook?" pemuda itu bersreu antusias. Dan Taehyung hanya mengangguk.
"Akhirnya, anak itu mendapatkan Dhampirnya juga! Syukurlah~"—pemuda itu turun dari tempat tidur; berdiri dihadapan Taehyung dan mengulurkan tangannya.
Taehyung menerima uluran itu.
"Park Jimin. 19 tahun. Kita seumuran ya. Dhampir tingkat dua—ah, disebut mantan juga bisa, karena yang kudampingi sudah tiada. Haha..." mata sipit pemuda itu semakin menyipit saat ia tertawa. Membentuk sebuah eyesmile.
"Salam kenal, Jimin."
"Salam kenal juga, Taehyung. Kuharap kita bisa berteman dengan baik."
"Tentu."
.
.
Perjalananmu, dimulai dari sekarang, Kim Taehyung.
.
.
.
.
.
.
.
.tBc.
Saya tidak tahu mau ngomong apa. Hanya ingin meminta maaf jika hasilnya mengecewakan kalian, tidak sesuai harapan kalian. Maaf ya~
Dan satu lagi, saya gak bisa balas-balas review kalian di prolog, sumpah saya sibuk banget ini ada event bazar di sekolah saya minggu depan, maaf ya~
Jadi, saya masih berharap dengan sangat, kalian mau kembali review di chapter 1 ini. ^^
See you next chapter~~
RnR please~~ juseyo~
Gamsha~
Rae#
