Where Is It?
By : Natsu D. Luffy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Fantasy, Romance
Main Pair : NaruHina
Warning : (miss) Typo, OOC, GaJe, Abal-abal, SKS (Sistem Kebut Sejam)
.
.
Chapter 1 : Sannin Mode
.
.
Bel tanda pulang telah berbunyi di Tokyo Senior High School. Semua siswa dengan semangatnya langsung berlarian keluar dari sekolah. Dan sekarang, tepat 15 menit setelah bel pulang berbunyi, TSHS telah sepi. Kenapa? Kenapa para siswa cepat sekali mengosongkan sekolah ini? Itu karena ini hari kamis. Tunggu, jangan bilang kalian belum tahu tentang cerita yang telah menjadi rahasia umum di Tokyo Senior High School ini.
Baiklah, begini ceritanya. Pada zaman Edo, tempat dimana sekarang sekolah ini berdiri adalah hutan 'kutukan'. Hutan itu disebut Hutan kutukan karena setiap matahari telah tenggelam, didalam hutan itu akan dipenuhi oleh para siluman yang haus akan darah. Menurut kalian itu hanya legenda? Begitu juga pendapat para murid saat pertama masuk ke sekolah ini.
Tapi, seiring pengakuan dari para murid yang sering pulang terlambat dan mengaku sering melihat siluman berkeliaran di lingkungan sekolah, legenda itupun menjelma menjadi fakta. Bahkan konon katanya, TSHS pernah menyewa pendeta untuk mengusir siluman di sekolah itu, namun keesokan harinya sang pendeta malah ditemukan sudah tak bernyawa lagi.
Tapi tunggu dulu, ternyata sekolah ini belum kosong. Masih ada dua orang di dalam lingkungan sekolah ini rupanya. Mari kita lihat lebih dekat.
"Akh.. sudah jam 5 sore, aku harus cepat pulang." Gumam Hinata sambil berjalan cepat menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi ini. 'Lelaki yang tadi pagi.. apa dia masih di taman belakang yah? Kuharap ia telah pergi dari sekolah ini, karena sebentar lagi gelap. Kalau dia berada disini terus sampai malam, bisa-bisa dia di….' Batin Hinata memikirkan Naruto. 'Hii..' Hinata bergidik ngeri saat membayangkan kalau Naruto sampai bertemu dengan siluman dan bernasib sama dengan pendeta yang dulu pernah ia lihat meninggal di sekolah ini.
Tap, tap, tap.. Hinata terus mempercepat langkahnya. Entah kenapa lorong sekolah ini kini terasa sangat panjang bagai tak berujung. Sebenarnya itu bukan satu-satunya alasan bagi Hinata mempercepat langkah kakinya. Alasannya yang lain adalah, Entah cuma perasaan Hinata atau bukan, tapi sedari tadi Hinata merasa kalau ia sedang di intai oleh seseorang, atau tepatnya sesuatu, entahlah.
Saat Hinata semakin mempercepat langkahnya -hampir berlari-, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya. "Hei nona.. kenapa terburu-buru sekali?" dengan ragu, Hinata menolehkan kepalanya kebelakang, kearah sumber suara itu datang. Mata Hinata langsung terbelalak lebar tatkala menyaksikan sosok yang tadi memanggilnya.
Sosok itu, dari bagian perut keatas berwujud manusia, dan selebihnya.. ular! Sosok itu semakin lama semakin mendekat kearah Hinata, dan entah kenapa, kaki Hinata tiba-tiba saja terasa kaku, tidak bisa digerakkan. Mata berwarna kuning dan berpupil vertical itu menatap Hinata tajam. Keringat dingin semakin deras membasahi sekujur tubuh Hinata. Tiba-tiba saja, Hinata teringat akan lelaki yang ia temui tadi pagi ditaman belakang. Koridor tempat Hinata berada saat ini dengan taman belakang idak terlalu jauh, hanya berjarank beberapa meter. Hanya saja, koridor ini berada di lantai 3.
'Semoga lelaki itu masih ada disekitar sini! Paling tidak, kalau aku sampai mati, akan ada yang segera menemukan mayatku.' Batin Hinata sedikit berharap. Siluman ular itu semakin mendekat, dan dengan menghirup nafas dalam-dalam, Hinata memberanikan dirinya untuk berteriak sekencang yang ia bisa. "Toollooonnggg..!" jerit Hinata sekuat tenaga. Mendengar teriakan itu, sang siluman malah tersenyum, menyeringai meremehkan.
"Aku tidak akan melarangmu untuk berteriak, nona. Silahkan berteriak sekuat yang kau bisa. Khukhukhu.." seru sang siluman sambil tertawa licik. Berkali-kali Hinata berteriak, tapi sepertinya tidak ada yang mendengar teriakannya. 'Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untukku selamat.' Batin Hinata pasrah. Dan dengan itu, Hinata pun memejamkan matanya, menerima takdir apapun yang akan menimpanya.
Melihat Hinata yang kini pasrah, siluman itu semakin menyeringai dengan lebarnya. Kini ekornya telah melilit tubuh Hinata dan mengangkatnya mendekat kearahnya. "Ugh.." erang Hinata kesakitan, tapi tak dihiraukan oleh siluman itu. "Selamat tidur, tuan putrid.." ucap siluman itu sambil bersiap menggigit leher jenjang milik Hinata yang terlihat begitu lezat dimata siluman itu.
"Akh!" tiba-tiba saja siluman itu menjerit dan menjatuhkan Hinata dari lilitannya. Setelah terlepas dari lilitan sang siluman, Hinatapun langsung mundur, menjauh dari jangkauan siluman itu. Setelah Hinata cukup jauh dari siluman itu, Hinata melihat siluman itu yang tengah mengerang kesakitan sambil mencabut benda seperti pisau berwarna hitam yang menancap di ekornya.
"Sialan! Siapa yang melakukan ini!" seru sang siluman geram. "Aku" jawab seorang lelaki berambut pirang yang memakai jubah berwarna hitam bermotif api yang tiba-tiba muncul di jendela lantai 3. 'Eh? Lelaki yang tadi pagi? T-tunggu dulu., k-kenapa d-dia bisa berada d-di j-jendela di l-lantai 3?' batin Hinata kaget. Setelah itu, sang lelaki –Naruto- mengalihkan pandangannya dari siluman itu ke Hinata. "Kau tidak apa-apa, Hinata-chan? Tadi aku mendengaar seseorang berteriak minta tolong, jadi aku kesini dan ternyata kau sedang di lilit oleh siluman jelek ini." Ucap Naruto pada Hinata.
*BLAR* tiba-tiba saat Naruto tengah lengah, siluman itu menyerang Naruto dengan ekornya. Dan akhirnya, jendela beserta tembok di lantai tiga itupun hancur berantakan, menyisakan debu yang tebal yang menutupi keadaan Naruto saat ini. "Cih, dasar bocah." Gumam sang siluman. Hinata yang melihatnya hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan matanya yang mulai basah oleh air mata kesedihan.
Tapi saat siluman itu akan menarik kembali ekornya dari reruntuhan itu, ekornya seperti ditahan oleh sesuatu. Butuh beberapa saat sampai debu-debu itu bisa hilang dan menampakkan apa yang tersembunyi di baliknya. Dan saat debu itu telah menghilang, mata Hinata dan siluman itu sama-sama terbelalak. Naruto, dengam memejamkan matanya, mencengkram ekor siluman ular itu. Walaupun dinding di sekitarnya hancur, tubuh Naruto sama sekali tidak tergores sekalipun.
"S-Siapa kau!" ucap sang siluman yang wajahnya mulai memucat, walau dasarnya memang sudah pucat -?-. "Aku., Uzumaki Naruto! Ninja terhebat di dunia dan Hokage Terhebat Konoha!" seru Naruto lantang sambil membuka matanya.'Ap-apa? J-jadi d-dia memang U-Uzumaki N-Naruto! S-seperti yang d-di ceritakan K-Kakashi-sensei!" batin Hinata kaget sekaligus kagum atas aksi yang dilakukan oleh Naruto.
Kini, Naruto menatap tajam pada siluman yang kini telah bergidik ngeri itu. 'Mana mungkin ada manusia seperti dia!' batin Siluman itu ketakutan. Permata biri milik Naruto kini telah digantikan oleh permata berwarna oranye dan berpupil Horizintal khas katak. Inilah 'Sannin Mode'!. "Kau.. tidak akan kuampuni karena telah melukai Hinata-chan..!" seru Naruto kepada siluman itu.
"Kagebunshin No Jutsu!" *Pooff*
"akan kuhancurkan kau sampai tak bersisa!" seru Naruto
"Rasengan..Shuriken!" *BLLLAAAARRR*
"Aargghhh…!"
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
"Hinata-chan.. ayo bangun, Hinata-chan.." seru Naruto sambil mengguncang-guncangkan tubuh Hinata yang tak sadarkan diri sejak pertarungannya tadi berakhir. "Engghh…." Erang Hinata sembari membuka matanya perlahan, menampakkan betapa indahnya permata amethyst di dalamnya. "Ah! Syukurlah, akhirnya kau sadar juga, Hinata-chan!" seru Naruto girang sambil memamerkan cengiran khasnya yang entah kenapa terlihat sangat menawan di mata Hinata.
"A-ah., dimana aku.." gumam Hinata sambil berusaha bangun dari posisi tidurnya. Tetapi sebelum benar-benar bangun, tangan kekar Naruto segera menuntunnya untuk tidak segera bangun dari posisinya. "Jangan terburu-buru, Hinata-chan.. keadaanmu masih belum begitu bagus. Hh.. seandainya saja ada Sakura-chan disini, ia pasti akan segera mengobatimu." Gumam Naruto. "Eh? Kau juga mengenal Sakura-chan?" seru Hinata kaget. Ia tidak menyangka bahwa Naruto juga mengenal sahabat dekatnya itu.
"Ya.. tentu saja,-ttebayo! Tapi mungkin., Sakura-chan di tempatku beda dengan Sakura-chan di tempat ini. Sama seperti Hinata-chan." Gumam Naruto dengan raut wajah sedih. "Sudahlah, Naruto-kun., jangan dipikirkan, kau disini tidak sendirian kok, aku ka nada disini." Seru Hinata dengan senyum lembut yang membuat perasaan Naruto langsung tenang. "Eh? Bagaimana kau tahu namaku, Hinata-chan?" Tanya Naruto. "Kan tadi kau menyebutkan namamu saat sedang bertarung dengan siluman tadi." Jawab Hinata diiringi senyum manisnya.
Naruto yang menyadari kelinglungannya hanya member cengiran khasnya sambil menggaruk rambut belakang kepalanya yang tidak gatal. *Krryuuuuukkk* "akh, aku lapar~" seru Naruto dengan muka lemas. Hinata yang mendengarnya hanya tertawa kecil, sambil membatin betapa polosnya Naruto. "Baiklah, di apartemanku ada makanan. Bagaimana kalau mampir dulu?" tawar Hinata. Naruto yang mendengarnya langsung memasang wajah riangnya.
"Kau serius, Hinata-chan?" Tanya Naruto dengan Puppy Eyes No Jutsu miliknya. "Ya, tentu saja, Naruto-kun." Jawab Hinata sambil tersenyum manis. "Yey! Hinata-chan memang baik!" Seru Naruto girang. Sekali lagi Hinata tertawa pelan melihat kepolosan penyelamat hidupnya itu. "Baiklah, bersiaplah Hinata-chan! Pegangan yang erat!" seru Naruto sambil membopong Hinata ala bridal style.
Hinata yang di perlakukan seperti itu hanya bungkam sambil menyembunyikan wajahnya yang merona. "Kyaa!" pekik Hinata saat Naruto tiba-tiba melompat dengan kecepatan tinggi diatas gedung-gedung di Tokyo. Saat di perjalanan, tiba-tiba Naruto berhenti dan menatap Hinata. "A-ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan wajah yang masih memerah. "Apartemen Hinata-chan dimana yah?" Tanya Naruto sambil memamerkan cengiran kikuk khasnya. Dan alhasil, Hinata pun hanya bisa ber sweatdrop ria.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
"Waaahhhhh! Enak sekali! Hinata-chan memang pintar memasak!" seru Naruto setelah menghabiskan 10 cup ramen instan di apartemen Hinata."itukan ramen instan, Naruto-kun.. bukan aku yang membuatnya enak." Ucap Hinata sambil tersenyum manis seperti biasanya. "Oh ya, Naruto-kun.. omong-omong Naruto-kun mala mini mau tidur dimana?" Tanya Hinata. "Entahlah, sebenarnya aku ingin tidur di atas Gamabunta, tapi ternyata tadi saat aku summon tidak bisa. Mungkin karena berbeda dunia." Jawab Naruto sekenanya.
Hinata yang tidak mengerti yang dimaksud naruto, Hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan. "Kalau begitu, bagaimana kalau Naruto-kun tidur disini saja? Kebetulan tempat tidur disini ada dua." Ucap Hinata menawarkan. "Wah, arigatou Hinata-chan! Hinata-chan memang gadis paling baik yang pernah aku temui!" ucap Naruto girang. Mendengar pujian naruto, wajah Hinata pun langsung merona tingkat akut.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N : TARAA..! Kejutan! Di sela-sela tes saya sempatkan Update karena para reviewers yang sungguh membuat saya terharu. Hiks…
Oh ya! Gimana chapter dua ini? Tambah jelek kah? Tambah gaje kah? Seperti biasa, saya membuat chapter ini dengan SKS (Sistem Kebut Sejam). Dan ya., semoga para reviewers tetap berminat membacanya dan mereview cerita saya.
.
.
ishimaru yamamoto : terimakasih. ini sudah saya Update. Selamat menikmati^^
Namikaze DaruL Uzumaki : terimakasih atas pujiannya.^^ padahal gak sekeren itu kok..
Kitsunebi Kuro Hyuuga : Yup! Sudah saya Update^^
Rosanaru : Err… gak tahu ya, Naruto reinkarnasi atau gak.. masalah ini bakal di jelasin menjelang chapter akhir, jadi masih rahasia. Hehe..
Shyoul lavean : Hehehe.. emang nih, cerita abal-abal..
Salt no Pepper : Wah, terimakasih atas pujiannya. Iya, naruto dari masa lalu ceritanya^^
YamanakaemO : terimakasih pujiannya^^
Wulan-chan : Kejutan! Udah update kan? ^^V
Setshuko Mizuka : Terimakasih pujiannya., dan selamat membaca^^
ilham s-eyeshield : Haha.. iya yah, mirip. Saya juga baru nyadar., hehe…
Ardymmmm : ini sudah di update^^
Udin no Baka : ini sudah saya update^^
KyuuNeHyuu9 : ini nambah satu chap lagi^^
Aria : terimakasih pujiannya^^
pik : terimakasih pujiannya^^
Brian123 : terimakasih pujiannya! ^^
.
OK readers, keep reading and keep review! XD
SEE YA!
