Halo, semua! Pasti kangen dengan saya *plak*. Hehe, sekarang saya akan melanjutkan fic dramione ini. Semoga chap ini bagus yak. Makasih buat yang udah review, balesan reviewnya di bawah. Okelah, kita mulai aja.

Harry Potter punya J.K Rowling

Pairing: Dramione

Warning: Gaje, aneh, typo meraja-rela. Belum siap nerima flame, kalo kritik dan saran di halalkan. Don't Like, Don't Read

Kring...kring...kring...

Aku menggapai benda yang berbunyi itu dari dalam selimutku. Dan aku melihat benda tersebut. Jam 05.00, masih sangat pagi untuk bangun sebenarnya. Namun, aku sengaja bangun pagi untuk sekedar menghindari berebut kamar mandi dengan si ferret itu dan berendam lebih lama. Ngomong-ngomong soal dia, aku belum membalas perlakuannya semalam. Seenaknya saja dia menggodaku lalu menyebut wajahku konyol. Huh, aku akan membalasnya pagi ini.

Aku melangkah keluar kamarku sambil membawa handuk dan seragam gryffindorku. Saat aku keluar dari kamar, ruang rekreasi masih sepi. Ternyata dia belum bangun, beruntung sekali aku. Jadi, aku bisa berendam lebih lama. Aku berjalan menuju kamar mandi, berendam di air hangat yang mengandung aroma lavender. Hmm, rileks sekali rasanya. Di tengah-tengah aktivitas berendamku, aku menemukan ide untuk membalas perbuatannya tadi malam. Dan ide itu menurutku sangat cemerlang. Haha, lihat saja kau ferret bodoh. Akan kubalas kau!

Aku keluar dari kamar mandi, pakaianku sudah lengkap. Lalu aku memandang jam dinding di ruang rekreasi, jam 05.30. Waw, rupanya aku berendam selama setengah jam. Aku melangkah menuju pantry untuk membuat coklat panas.

Brak. Kudengar suara pintu terbuka. Tak perlu kulihat pun aku sudah tahu, orang itu pasti Malfoy. Aku hanya diam sambil tetap membuat coklat. Setelah selesai, aku duduk di sofa merah sambil membaca buku. Coklat panasku, kuletakkan di atas meja. Kulihat, si ferret itu mendekat ke arahku dan duduk di sebelahku. Yang membuatku kaget adalah, dia meminum coklat panasku.

"Hei, itu coklatku! Kalau kau mau, buat sendiri dong." Ucapku kesal. Dia hanya diam, sambil terus meminum coklatku.

"Terserah," ucapnya. Benar-benar orang ini, ingin sekali aku membuat wajahnya yang seperti musang itu menjadi seperti Basilisk!

"Kau itu ya, seenaknya saja meminum minuman orang! Buatkan aku yang baru!" suruhku.

"Tidak mau, memangnya kau ibuku? Seenaknya saja menyuruhku."

"Demi hidung bengkok Snape! Aku tidak mau jadi ibumu!" teriakku. Huh, mana mau aku jadi ibunya. Aku sangat kasihan pada Narsisca Malfoy, bisa-bisanya dia punya anak seperti ini. Kulihat dia sangat tenang meminum coklat panasku.

"Eh Granger..." ucapnya memanggilku, aku menatapnya sedikit kesal. "...kenapa kau tidak ikut quidditch seperti ketiga temanmu itu?" tanyanya. Kenapa sih setiap orang selalu bertanya kenapa aku tidak ikut quidditch.

"Aku tidak tertarik," jawabku singkat. Apa bagusnya sih quidditch? Terbang di atas ketinggian hanya untuk mengejar sebuah bola kecil berwarna emas. Bodoh!

"Ah aku tahu, kau tidak bisa terbangkan Granger." Ucapnya dengan nada mengejek. Wajahku memerah malu. Ya kuakui aku memang tidak bisa terbang, tapi tidak mungkinkan aku berkata pada dia.

"Ti-tidak, aku bisa terbang."

"Haha, tidak usah berbohong Granger. Orang sepertimu mana mungkin bisa terbang, mungkin saat kau terbang akan ada badai dan membawamu pergi jauh dari Hogwarts. Atau mungkin sapumu akan terbalik dan kau akan jatuh lalu rambut coklat lebatmu itu akan menyelamatkanmu, karena rambutmu itu akan tersangkut di batang pohon."

Empat tanda siku muncul di dahiku. Benar-benar akan kuhabisi dia! Aku bangkit dan mengeluarkan tongkatku dari jubahku. Kulihat dia juga mulai bangkit. Dan jadilah pagi hari yang seharusnya tenang ini jadi ribut. Karena aku mengejar si ferret ini sambil merapalkan mantra-mantra padanya dan sialnya, dia selalu bisa menghindar!

"Furnunculus!" teriakku merapalkan mantra dan disaat bersamaan dia juga merapalkan mantra. "Finite Incabtatum!" dan dia berhasil menghindar lagi. Aku terus mengejarnya hingga, BRAK! Kulihat wajah musangnya itu menabrak pintu kamar mandi dengan tidak elit.

"Mau lari kemana kau hah?" tanyaku. Dia diam sambil mengusap-ngusap hidungnya. "Petriticus Totalus!" aku kembali merapalkan mantra. Habis dia pagi ini!

"Expelliarmus!" dia merapalkan mantra dengan cepat. Dan tongkatku melayang jauh kebelakang. Aku kalah cepat. "Alohomora!" setelah berhasil melucuti tongkatku, dia masuk ke dalam kamar mandi. Aku berjalan mengambil tongkatku. Hoh, jangan salah mister Malfoy. Masih ada kejutan dariku, hahaha.

Draco POV

Senangnya bisa menggoda dia pagi-pagi. Melihat wajahnya yang memerah semakin membuatnya kelihatan manis. Eh, tunggu dulu! Draco Malfoy kau pasti salah makan. Kau menyebut si Granger itu manis? Kau akan dikutuk oleh kakek dari kakek buyutmu, kau tahu! Aku membuka bajuku dan berjalan menuju bathtub. Hah, kenapa sudah ada air susu di dalam bathtub? Apa peri rumah yang mengisinya? Ah, tidak mungkin. Atau jangan-jangan Granger yang mengisinya. Aku berjalan menuju wastafel, ada selembar perkamen disana. Aku mengambilnya dan membaca isinya.

Sudah kusiapkan air susu untukmu. Kukira kau menyukainya, jadi selamat mandi ya^^

Hermione Granger

Aku tersenyum, ternyata benar dia yang menyiapkannya. Ada rasa bersalah terselip dihatiku, pagi-pagi aku sudah menggodanya dan perang mantra dengannya. Tapi yasudahlah, tanpa pikir panjang lagi, aku segera masuk ke dalam bathtub dan ternyata...

"Dingin!" teriakku. Air di dalam bathtub itu dingin sekali. Rupanya si Granger itu mengerjaiku. Huh, aku segera keluar dari dalam bathtub dan membuang isinya. Lalu mengisi kembali dengan air susu hangat. Dia sudah mengibarkan bendera perang rupanya, lihat saja tidak akan kulepaskan dia!

Normal POV

Hermione yang sudah mengambil tongkatnya dan akan keluar asrama terdiam sejenak di depan pintu kamar mandi. Dia terkekeh pelan saat mendengar teriakan 'dingin!' dari kamar mandi. Setelah itu, dia berjalan keluar asrama menuju aula besar. Sepanjang jalan, senyum selalu merekah di wajahnya. Sepertinya dia sudah puas akan balasannya terhadap Draco yang sudah menggodanya. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari murid-murid di koridor. Akhirnya dia sampai juga di aula besar.

"Pagi, Mione." Sapa Harry saat Hermione duduk di sampingnya.

"Pagi juga, Harry." Sapa balik Hermione ceria.

"Kau terlihat senang sekali hari ini. Ada apa?" tanya Ron.

"Hmm," gumam Hermione berpikir sambil memakan pai anggurnya.

"Ah aku tau, kau pasti baru saja dipeluk Malfoy ya? Atau kau baru dicium Malfoy." Ucap Ginny innocent.

Hermione menatap Ginny tajam, Harry melongo, dan Ron. Dia tampak sangat bodoh, ayam yang di makannya masih terjepit di mulutnya, dan matanya yang melotot menatap Ginny.

"A...a," Harry terus-terusan bicara begitu.

"Kau kenapa Harry?" tanya Ginny. Lalu dia mulai melihat Hermione dan Ron.

"Sepertinya ada yang salah dari otakmu Gin. Sini biar kubelah kepalamu dan keperbaiki otakmu yang miring itu!" ucap Hermione dengan tampang horor. Ginny hanya nyengir kuda.

"Ron!" teriak Harry sambil menginjak kaki Ron. Bayangkan saja, dia masih melotot dengan ayam di mulutnya. Setelah diinjak oleh Harry, Ron baru sadar.

"Aww, kau menginjak kakiku Harry!" ucap Ron. Harry hanya memutar bola mata.

"Hei, itu dia Malfoy." Ucap Ginny sambil melihat orang yang baru masuk ke aula besar. Hermione segera memutar posisi duduknya dan melihat orang tersebut, mata mereka sempat bertemu dan senyum mengejek merekah di wajah Hermione. Draco mendengus kesal dan duduk di sebelah Blaise.

"Hei men, kenapa mukamu kau tekuk seperti itu?" tanya Blaise.

"..." tidak ada jawaban dari Draco. Dia malah meminum jus labunya dengan serakah.

"Apa ada hubungannya dengan Granger?"

"Apa maksudmu?"

"Hmm, ya aku hanya menebak. Karena dari tadi Granger menatapmu dengan senyum di wajahnya."

Draco segera melihat ke meja Gryffindor dan benar saja, putri Gryffindor itu sedang menatapnya dengan senyum yang menurut Draco menyebalkan.

"Hei Mione," panggil Harry.

"Hmm," gumam Hermione tanpa menatap Harry.

"Mione," panggil Harry lagi.

"Hmm,"

"Hermione!" teriak Harry sudah tidak sabar.

"Ck, apa lagi sih?" tanya Hermione yang sekarang menatap Harry dengan alis terangkat.

"Kau mau ikut kelas pemeliharaan satwa gaib tidak?" tanya Harry.

"Ah iya, aku hampir lupa. Baiklah, ayo kita berangkat!" ajak Hermione. Trio Gryffindor itupun berjalan keluar aula besar untuk mengikuti kelas pemeliharaan satwa gaib. Draco, Blaise, dan Pansy juga keluar dari aula besar untuk mengikuti kelas yang sama.

"Tahun ini guru pemeliharaan satwa gaib siapa ya?" tanya Ron.

"Tentu saja Hagrid, Ron." Ucap Hermione.

"Haha, kau jangan bercanda Granger. Tidak mungkin orang seperti itu masih menjadi guru kita," ucap seseorang yang tiba-tiba nyambung kayak listrik-plak-.

"Apa maksudmu Malfoy?" tanya Harry.

"Bukan apa-apa Potter. Hanya saja orang seperti dia, tidak pantas menjadi seorang guru."

"Haha, benar sekali Draco." Ucap Pansy.

"Kau!" Ron sudah mulai marah. Dia sudah mengacungkan tongkatnya di depan wajah Draco. Tapi sebelum dia merapalkan mantra, tangan Hermione sudah menurunkan tongkatnya.

"Ah, aku tahu. Kau hanya mau di ajari oleh seorang musangkan?" tanya Hermione.

"Cih! Jangan sembarangan kau Granger," desis Draco.

"Huh, oh iya Pansy. Kurasa Draco menyukaimu," ucap Hermione.

"A-apa?" tanya Pansy dengan wajah yang memerah. Hermione tertawa pelan lalu pergi bersama kedua temannya tanpa menjawab pertanyaan Pansy. Draco hanya mengumpat di dalam hati.

"Ayo Draco," ajak Blaise. Mereka bertiga mulai berjalan menuju rumah Hagrid.

Pelajaran pemeliharaan satwa gaib berjalan lancar. Tidak ada yang terluka. Hermione melangkahkan kakinya menuju asrama ketua murid. Jam pelajaran yang sekarang kosong, tapi setelah bel berbunyi dia harus mengikuti kelas transfigurasi. Dia memutuskan untuk menuju asramanya, katanya sih untuk istirahat.

Setelah sampai di ruang rekreasi ketua murid. Hermione segera menjatuhkan tubuhnya di sofa. Merilekskan tubuhnya sebentar, essay transfigurasi yang panjangnya sekitar 2 meter sudah dia selesaikan sebelum musim dingin berakhir. Hermione memang tidak suka melalaikan tugasnya.

Kriett...brak!

Terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup lagi. Hermione sudah tahu bahwa orang itu adalah Draco. Hermione memutuskan untuk tidur sebentar sebelum kelas transfigurasi dimulai. Sementara Draco, dia hanya berjalan dan mendudukkan dirinya di sofa sebelah Hermione. Dia menatap Hermione yang sedang tertidur. Ada ide gila terlintas di pikirannya untuk membalas perlakuan Hermione. Dia lalu berjalan mengambil sesuatu di dalam tas Hermione yang tergeletak begitu saja di samping sofa tempat Hermione tertidur. Dia mengambil sebuah gulungan perkamen dan menyimpannya di tasnya sendiri.

Hermione POV

Hmm, aku mengerjap-ngerjapkan mataku sesuatu yang biasa dilakukan oleh seseorang yang baru bangun tidur. Aku lalu melihat jam tanganku, ternyata lumayan lama juga aku tertidur. Setengah jam lagi kelas transfigurasi dimulai. Tapi tunggu dulu, sebelum aku tidur tadi bukankah si musang itu masuk kesini. Lalu kemana dia sekarang? Apa dia sudah ada di kelas? Ah, masa bodohlah. Lebih baik aku menuju kelas sekarang.

Aku melangkahkan kakiku menuju kelas transfigurasi. Sambil berjalan aku mengecek barang-barang yang ada di tasku dan hey, dimana essay transfigurasiku? Aku berhenti berjalan dan kembali merogoh tasku. Dan hasilnya nihil, tidak kutemukan perkamen berisi essay transfigurasiku. Aku berlari kembali menuju asrama. Setelah sampai, aku masuk ke kamarku dan mencari di sekitar sana. Tapi tidak kutemukan juga. Aku sudah mencari di seluruh penjuru asrama ketua murid, tapi tidak ada hasilnya juga. Aku melihat jam tanganku, seperempat jam lagi kelas akan dimulai. Aku mulai putus asa, mana mungkin aku siswa yang tidak pernah tidak mengerjakan tugas sekarang harus kehilangan tugasku dan mungkin saja prof. McGonagall mengiraku tidak mengerjakan tugas. Namaku bisa tercemar! Seorang Hermione Jane Granger murid teladan tidak mengerjakan essay transfigurasi. Demi beribu kaos kaki Merlin! Lebih baik aku terbang mengelilingi Hogwarts menggunakan nimbus milik Harry. Sebentar, aku teringat sesuatu. Tadi sebelum aku tidur, musang itu sempat masuk ke asrama. Jangan-jangan...

"Malfoy..." gumamku sedikit menggeram. Aku berlari keluar asrama dan mulai mencari si ferret itu. Di koridor menuju kelas transfigurasi aku melihat kepala pirang konyolnya itu. Segera saja aku memanggilnya.

"Malfoy!" teriakku. Kulihat dia menengok kebelakang. Matanya sedikit terbelalak kaget, namun dia segera menyeringai dan berlari. Aku semakin mempercepat lariku tapi sialnya dia terlalu cepat. Aku kehilangan jejaknya. Kurang ajar!

"Hei kau!" panggilku pada seorang gadis hufflepuff, menurutku dia anak kelas 3.

"Ya?" tanyanya.

"Apa kau melihat musang?" tanyaku, kulihat dia mengerutkan alisnya. Aduh, mana ada yang tahu kalau si Malfoy itu musang selain aku. "Maksudku Malfoy,"

"Hmm, Malfoy?"

"Ya, Malfoy."

"Hmm," dia nampak berpikir tapi lama sekali dia berpikirnya. Aku harus bisa bersabar. "Malfoy yang mana?" tanyanya.

Aku memukul jidatku berulang-ulang. Habis sudah kesabaranku, ingin rasanya aku mencekik anak ini, mengangkatnya, dan melemparkannya dari menara paling tinggi di Hogwarts. "Demi gigi emas Merlin! Tentu saja Draco Malfoy! Tidak mungkin aku mengerjar-ngejar Lucius Malfoy, bodoh!" teriakku frustasi.

"Oh pangeran Slytherin yang tampan itu. Dia tadi belok ke arah kanan," ucapnya. Akhirnya, Merlin. Aku segera saja berlari belok ke kanan. Harus aku temukan musang jelek itu segera! Aku sampai di koridor menuju perpustakaan. Kemana musang itu? Aku terus berlari mencarinya, akan kubuat perhitungan padanya.

Akhirnya aku menemukan dia juga. Dia sedang duduk. Lihat saja kau ya!

"Hei Malfoy." Sapaku dibuat seramah mungkin. Dia mendongak.

"Oh hei Granger," dia menyapaku seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

"Kembalikan essayku!" ucapku galak.

"Haha, apa maksudmu Granger?"

"Jangan pura-pura bodoh Malfoy! Kembalikan essayku sekarang juga!"

"Oh, maksudmu perkamen ini." dia menunjukkan gulungan perkamen. Ya benar, itu perkamenku.

"Ya, cepat kembalikan!"

"Tidak mau,"

"Kau! Kembalikan!"

"..." tidak ada jawaban. Aku mendekatinya. "Jangan bergerak," ucapnya. Aku mengerutkan alis.

"Kenapa? Oh ayolah Malfoy. Aku ingin berdekatan denganmu..." ucapku dengan nada yang dibuat semanja mungkin. "...aku ingin berdekatan denganmu, agar aku bisa menarik rambut pirang konyolmu dan mencabik-cabik wajah musangmu itu!" teriakku kesal. Tapi tidak ada jawaban, dia hanya terdiam. Wajahnya pucat. Aku mendekatinya.

"Kau kenapa?" tanyaku heran.

"Bodoh, jangan mendekat." Ucapnya. Apa sih maksudnya? Masa aku dilarang mendekat.

"Kenapa?"

"Lihat keatas," suruhnya. Aku melihat keatas, dan oh Merlin wajahku seketika memucat. "I-itu, tidak mungkin..." gumamku.

Merlin, itu-itu mistletoe. Kenapa di saat seperti ini aku harus terjebak mistletoe sih? Apalagi dengan si musang sialan ini. Huh, hari ini benar-benar bagai kutukan untukku.

"Hn," kulihat si ferret itu masih diam di posisinya dan daun mistletoe itu juga diam. Tapi ketika kulangkahkan kakiku, daun mistletoe itu memanjang sedikit.

"Jangan bergerak dari situ, idiot!" ucapnya. Aku mendelik.

"Bukannya kau yang idiot? Kau yang mencuri essayku dan sekarang kita terjebak disini." Ucapku garang. Dia menyeringai.

"Tapi kau seharusnya masih bisa masuk kelas tanpa essaymu. Jangan-jangan kau mengejar-ngejarku agar bisa terjebak di bawah mistletoe bersamaku ya?"

"Enyahlah Malfoy! Aku tidak mungkin mau terjebak di bawah daun bodoh ini denganmu dan jika aku mengejar-ngejar dirimu itu hanya karena aku mau essayku kembali."

"Oh ya?"

"Ya!"

Kami terdiam. Aku cape, beradu argumen dengannya sama saja seperti berlari mengelilingi kastil Hogwarts 100 kali, benar-benar menghabiskan tenaga. Dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk dan membaca buku daripada 'beradu' dengannya. Kulihat si Malfoy itu juga duduk. Dia melihatku sebentar lalu bertanya.

"Bisakah, kau tidak membaca buku sehari saja Granger?"

"Tidak."

"Hah, aku heran. Kenapa otakmu itu cukup untuk menampung buku setebal itu?"

Aku menyeringai. "Tentu saja. Otakku kapasitasnya cukup besar tidak seperti otakmu yang sebesar kacang itu," Kulihat dia mendelik marah ke arahku, aku hanya diam dan kembali membaca buku. Cukup lama keheningan melanda kami. Sekarang sudah waktunya makan siang, dan perutku sudah lapar.

"Malfoy, aku masih penasaran dengan gadis yang kau sukai." Ucapku, mengalihkan pikiranku dari makanan. Tapi sungguh, aku ingin tahu siapa gadis yang tidak beruntung itu.

"Kenapa?"

"Tidak, hanya penasaran saja." Aku masih berpikir, bagaimana jika gadis itu adalah Pansy Parkinson. Jika mereka menikah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana anaknya nanti. Mungkin anak pertama mereka akan mirip dengan ayahnya, musang. Anak keduanya akan mirip dengan ibunya, anjing-pug. Dan anak ketiga mereka mungkin akan blasteran musang dan anjing-pug. Aku bergidik ngeri, mungkin masih mending dia bersama Astoria.

"Kau kenapa hah? Ah, kau cemburu ya?" tanyanya dengan seringaian di wajah ferretnya.

"Oh Malfoy, kau pasti kerasukan setan penjaga asrama Slytherin ya? Omonganmu ngelantur,"

"Lalu kenapa kau bertanya soal itu?"

"Hmm, hanya penasaran saja. Apa Astoria?"

"Bukan."

"Lalu siapa? Akhir-akhir ini sering ku dengar kabar kedekatan kalian."

"Lalu? Buktinya sekarang aku masih single dan aku tidak menyukainya,"

"Oh, atau kau menyukai Blaise Zabini?"

Malfoy terbelalak. "Dasar bodoh! Aku masih normal tahu."

"Lalu siapa?" tanyaku. Kulihat dia menatapku serius, mata abu-abunya menatap langsung ke mata coklat maduku. Jantungku jadi berdetak tak karuan.

"Gadis itu adalah..."

*TBC*

Wah, maaf kalo kurang memuaskan. Habisnya author lagi buntu ide. Yasud, waktunya balas review...

Gray-Erlene: Haha, makasih ya. Kenapa TBC? Author juga kurang tahu tuh-plakk-. Nih udah update, semoga memuaskan ya chap ini. Makasih juga udah review^^

Puputkawaii: Oh iya, hehe. Makasih ya buat koreksinya dan reviewnya, udah aku benerin kok. Nih, udah update. Makasih lagi^^

Yuuki d'gray girl: Makasih ya favenya dan reviewnya^^

Uchihyuu nagisa: Haha iya. Makasih ya atas reviewnya^^

Cacolate: Haha, gimana ya? Coba di tanyain ke Draconya-plak-. Chap 2 udah update nih, makasih ya buat reviewnya^^

Nah, author rasa sudah saatnya author menutup chap 2 ini. Sebelum di tutup author mau bilang. Review Please!