Naru's Papa
Rating : M (for safety)
Pairing : Ita(fem)Dei, and Others
Disclaimer : Masashi Kishimoto©
Warning (gender Bend, Typo(s), OOC, No Flame)
Author : GREY Misa
.
.
.
.
" Ku mohon, Kakashi-kun" seorang wanita blonde memohon kepada seorang pria bersurai perak yang tengah berdiri tegap di hadapannya. "tidak bisa, Dei-chan" sahut sang pria yang kita ketahui bernama lengkap Kakashi Hatake itu. Angin semilir menerpa lembut rambut panjangnya yang sedang tergerai indah. "itu sangat berbahaya, kau pikir aku mau kehilangan imouto lagi?" Tanya Kakashi. Terimakasih, Deidara sangat berterimakasih pada sikap Kakashi yang begitu menyayangi dirinya dan kedua adiknya. Kehilangan salah satu adik perempuannya memang menjadi kesedihan tersendiri bagi sang Hatake, yang notabene sudah menganggap ketiga putri Namikaze sebagai adiknya.
Pukk..
Kakashi mengusap lembut surai blonde Deidara. "aku tahu bagaimana perasaan mu saat ini.. aku pun juga tak mau kejadian Naruko terulang lagi" lanjut sang Hatake. "aku harus.. ku mohon, ku mohon, Niisan" Pinta Deidara. Mendengar Deidara memanggilnya Kakak, Kakashi mau tak mau pun akhirnya luluh juga, apalagi sudah tidak menjadi rahasia lagi, jika keturunan Namikaze memiliki jurus mata yang membuat siapapun luluh melihatnya. "aku janji, aku akan pulang selamat" Ucap Deidara, serius. "Naruko pun juga berjanji seperti itu" sahut Kakashi. Hujan deras turun tiba-tiba, namun tak ada satupun dari mereka yang berminat untuk berteduh. Tak ayal, piyama tidur berwarna hitam milik Kakashi pun basah, begitupun dengan Yukata Deidara (meski tidak sebasah Piyama Kakashi).
Perlahan ia menarik nafas. Berusaha membuat keputusan, dan mencoba untuk menimbang-nimbang resiko besar yang menanti di depan sana. "jika itu keputusan mu, pergilah" kata Kakashi, akhirnya mengalah. Deidara tersenyum senang, Yukatanya yang sudah basah itu membuat dirinya semakin terlihat cantik jika harus dilihat sedekat ini. Bahkan, Kakashi harus mengutuk kecantikan Kushina, bibi angkatnya yang dengan bersuka rela menurunkan gen cantik sekaligus gen tubuh sintal pada putri-putrinya, terutama si sulung Deidara. "terimakasih, niisan.. aku sayang niisan" Deidara memeluk erat tubuh kekar pria berusia 28 tahun itu. "tapi kau harus mengizinkan aku pergi ke Okiya setelah kau pulang" Ujar Kakashi. Deidara merenggut tidak suka, "lupakan! Karena aku tidak akan pernah mengizinkan mu pergi ke sana" sahut Deidara, teringat jelas dimatanya saat Kakashi harus menjadi rebutan para Geisha yang bekerja di sana.
Salahkan saja wajah tampannya itu. Dia bahkan bisa memikat banyak geisha hanya dalam satu malam saja. Manusia yang memiliki ketampanan di atas manusia di bawah dewa itu menyusahkan sekali..
"hati-hati" ujar Kakashi, saat melihat Deidara mulai menaiki burung raksasa tanah liat buatannya itu. Deidara mengangguk pelan. 'tepati janji mu itu, imouto' Batin Kakashi. Ia memperhatikan burung besar berwarna putih milik Deidara terbang di angkasa. Langit malam yang gelap, tidak mampu menutupi burung putih tersebut dan juga tubuh Deidara yang duduk tenang di atas sana. Yukata berwarna biru laut milik wanita itu pun juga masih bisa dilihat oleh kedua mata sang Hatake.
.
.
.
.
*Konoha, (Keluarga Shimura)*
Seringaian muncul di bibir sang putra tunggal Shimura saat melihat sosok gadis cantik bersurai blonde pucat yang tengah duduk memunggungi dirinya sambil menatap datar ke arah kedua telapak tangannya yang dibalut perban. Sepertinya, Namikaze Ino masih belum sadar akan kedatangan pemuda yang sudah menyekapnya selama 6 tahun lalu. "menangisi nasib mu, Namikaze-chan?"
Ino sontak saja menoleh ke arah pemuda berwajah pucat bagaikan mayat hidup itu. " biarkan aku pergi, ku mohon" lirih Ino. Shimura Sai, putra tunggal tuan Shimura Danzo, bukanlah orang yang berbaik hati untuk membiarkan tahanannya lepas begitu saja. Tapi, kali ini berbeda dari sebelumnya. Pemuda berusia 24 tahun itu tidak akan melepaskan gadis di hadapannya itu karena suatu hal. Suatu hal yang membuat jantungnya berdetak cepat, dan wajah yang memanas ketika berhadapan dengan gadis di hadapannya kini. Ya, Sai menyu-ah, mencintai maksud ku.
Sai sudah jatuh cinta pada Ino saat melihat gadis itu menangisi kepergian kakak kembarnya, Naruko. Naruko adalah cinta pertama Sai. Gadis yang menyakiti perasaannya untuk pertama kali. Gadis yang harus mati di tangan sang ayah tercinta untuk membalas dendam pada penduduk desa Konoha. "apa kau tidak puas telah membunuh Ruko-nee? Apa yang kau inginkan dari ku? Aku tak punya Kyuubi di tubuh ku.. tak ada gunanya jika kau menyekap ku seperti ini" kata Ino.
Degg..
Seandainya Sai bisa bertindak saat itu, pasti Naruko masih hidup dan Ino tidak perlu merasa sedih saat ini. Tapi semua terlambat, Sai datang saat tubuh Naruko sudah terkapar tak bernyawa di atas batu ritual milik ayahnya. " kau menangis, eh? Hahahaha" Ino tertawa sangau. Wajahnya kini terlihat datar tanpa ekpresi. "kau bahkan tidak pantas menangis" ejek bungsu Namikaze itu.
Grebb..
Sai membanting pelan tubuh Ino ke kasur dan menindihnya. Ditatapnya iris aquamarine milik si gadis Namikaze itu. "kau benar...kau benar, aku bahkan tidak pantas menangisi Naruko.. tapi asal kau tahu saja, aku sangat mencintai kakak mu" kata Sai. Ino terdiam mendengar pernyataan Sai, entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar pernyataan pemuda itu. Ia meremas pelan kerah kemeja hitam Sai, menyalurkan rasa ngilu yang ia rasakan di relung hatinya.
"biarkan aku pergi" lagi, Ino meminta
.
.
.
.
Di lain sisi, tampak Deidara yang sedang menahan dingin yang menusuk tulangnya. Wajah cantiknya tampak pucat, ia berusaha untuk membuka matanya. Rasanya, ia ingin merutuk kebodohannya yang lupa membawa jubah untuk menghalau dinginnya cuaca. Kesadarannya mulai hilang ketika sesuatu menyentuh tengkuknya.
"hai, nyonya Dei" ujar seorang pria tepat di telinga sang nyonya Uchiha itu. Dengan penuh nafsu ia menjilat kulit leher Deidara, hingga tampak tanda kemerahan di leher Deidara.
Dengan lihai pria itu melompat ke dahan pohon tanpa merasa berat dengan keadaan dirinya yang kini tengah menggendong seorang wanita.
Daboooommmmm...
Ledakan terdengar saat burung tanah liat milik Deidara menabrak pohon yang cukup besar. Ia menyeringai licik saat melihat burung buatan ibu satu anak itu hancur berkeping-keping. Tak lama kemudian, ia pun segera melompat ke dahan pohon lainnya dan pergi meninggalkan lokasi tersebut.
.
.
.
.
* Kantor Organisasi Anbu *
Wajah tampannya terlihat pucat, dengan kantung mata yang tampak jelas di bawah matanya. Ia kurang tidur akhir-akhir ini. Mengingat tugas-tugas yang menumpuk, membuat dirinya harus mengalami apa yang dinamakan insomnia, dan satu hal yang paling ditakutkan oleh orang-orang sibuk seperti dirinya. Ia melirik bingkai foto yang terletak rapih di samping meja kerja miliknya. Sebuah gambaran keluarga kecil yang tampak bahagia dengan kehadiran bayi berusia 6 bulan di antara mereka.
Wajah cantik seorang wanita berusia 20 tahun yang sedang menggendong seorang bayi bertubuh mungil dengan kedua pipi bakpao miliknya dan seorang pria berusia 21 tahun yang berdiri di samping wanita blonde yang ternyata adalah istrinya. Mereka tersenyum bahagia di depan kamera. Itachi Uchiha, pria bermarga Uchiha itu tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan istri dan juga putra semata wayang mereka.
Malam ini, entah kenapa Itachi terus memikirkan keadaan keluarganya. Ia benar-benar khawatir dengan keluarganya.
Tokk..tokk..tokk
"masuk"
Cklek..
" terdengar ledakan dari arah utara, kapten.. tim sedang menuju ke sana untuk memastikan apa yang terjadi" seorang gadis bercepol dua ala Chinatown, memberikan sebuah berkas-berkas dokumen kepadanya. " pastikan semua penduduk tidak tahu hal ini" ujar Itachi, membaca berkas-berkas yang diberikan oleh sang asisten. "ha'i" sahut Tenten.
"ano, rapat besar akan di adakan 2 hari lagi.. saya hanya menyampaikan pesan dari Hokage-sama untuk Kapten" jelas Tenten.
"atur saja jadwalnya" Itachi masih focus dengan selembar kertas yang ada di tangannya. "ha'i, saya permisi dulu, kapten"
.
.
.
.
(psstt, di sini adegan this and that nya.. kalo ada yang anti, bisa di skip kok.. )
* Skip Time *
Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah jendela, menerpa wajah mulus seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang. Wanita itu pun mengerjapkan matanya, dan terkejut akan keberadaan dirinya. Ia memeriksa kelengkapan pakaian yang dikenakan olehnya. Yukata berwarna putih membalut indah tubuhnya. Dimana yukata miliknya? Ia bahkan tidak tahu milik siapa Yukata itu. "sudah bangun ya?" sapa seorang pria bersurai raven dengan iris biru sapphire nya. Deidara terkejut bukan kepalang, siapa pria ini? Kenapa seolah, Deidara mengenal pria misterius itu?
"bagaimana tidurnya, cantik?" Tanya pria itu. "siapa kau?" Deidara balik bertanya. Pria itu berjalan mendekati Deidara. Ditatapnya iris azure milik Deidara. "Ingat Menma? Aku ini Menma, sayang" Pria yang mengaku bernama Menma itu merangkum wajah cantik Deidara. Sontak saja kedua bola mata Deidara membulat sempurna. Tentu saja ia tahu siapa Menma, Uzumaki Menma pria tampan yang pernah jatuh hati padanya. Sungguh, Deidara masih ingat tragedy yang terjadi 10 tahun silam.
Saat Menma nekad mempersunting dirinya yang notabene adalah adik angkatnya. Dan terpaksa, Kushina harus menghentikan hal itu, mengingat kalau mereka masih saudara dekat. Menerima penolakan dari sang bibi, Menma pun membunuh Kushina dengan kekuatan yang ia miliki. Obsesi yang terlalu besar, membuat Menma kalap. Ia membunuh keluarga Uzumaki yang menentang keinginannya. Hal itu pun dihentikan oleh seorang kapten anbu muda yang saat ini menjadi suami dari Deidara, Itachi Uchiha. Menma berhasil dikalahkan oleh Itachi. Setelah kekelahan mutlak, Menma pun bersumpah untuk merebut Deidara dengan bantuan kekuatan Madara Uchiha, kakek buyut Itachi yang ia bangkitkan dari kematian.
"dan sekarang-" Menma sengaja menggantung ucapannya sambil mendorong keras tubuh Deidara ke kasur. "ahhh..." ringis Deidara. "aku akan memiliki mu sesuka hati ku" lanjut Menma, seraya membuka kasar yukata Deidara, hingga tubuh Deidara polos dalam sekejap. "M..Menma, h..h..hentikan.." Deidara berusaha menahan Menma yang hendak menciumi lehernya.
"hmmmpppppp..." dengan sedikit kasar, Menma membungkam bibir Deidara dengan bibirnya. Dikulumnya bibir merah muda milik putri mendiang bibinya itu. Tangannya yang menganggur ia gunakan untuk memainkan payudara berisi Deidara. 'kenyal sekali' pikirnya.
Merasa pasokan udara mulai menipis di paru-parunya, Menma pun melepaskan pagutannya. Wajah Deidara yang merah merona, dengan saliva-saliva yang bercampur dengan miliknya masih tersisa di sudut bibir ibu dari Uchiha Naruto itu. "h..hentikan, Menma..ahhhhhnnnn.." Deidara menutup mulutnya, berusaha menahan desahan yang keluar dari bibir mungilnya. Menma menghisap putting susu berwarna pink Deidara, tangannya yang menganggur pun ia gunakan untuk mengelus lembut perut indah sang nyonya Uchiha.
"M..Menm..ahhhnnnnnn..ahhhh, hentika..ahhhhhnnn"
Menma menghentikan kegiatan mesumnya sejenak. Dipandanginya wajah cantik adik sepupunya itu. Merah merona, rambut panjang yang tergerai indah, keringat yang menetes di pelipisnya, dan tak ketinggalan saliva yang masih setia berada di sudut bibir wanita itu membuat libido Menma naik drastic.
Zipp..
Deidara membuka matanya ketika mendengar suara resleting yang dibuka. Terlihat dimatanya, Menma tengah berusaha membuka seluruh pakaian. wajahnya memucat, ia masih ingin setia pada suaminya. "lakukan ini atau aku akan menghancurkan keluarga mu" ancam Menma. Itu bukan hanya ancaman semata, karena semua ancaman Menma benar-benar terjadi dan berjalan seperti yang tidak diharapkan oleh Deidara.
Menma mengarahkan tangan Deidara ke arah miliknya yang menunjuk angkuh pada wajah cantik Deidara. 'tuhan, maafkan aku' doanya dalam hati. Dengan ragu-ragu Deidara memasukan kepala penis Menma dan mengulumnya. Ia melakukannya terpaksa, ia tidak mau keluarganya hancur. Ia bahkan masih ingin melihat Itachi pulang dari missi dan menetap di sebuah desa kecil bersama dirinya dan putra mereka. Menma menggigil kenikmatan. Darahnya berdesir oleh kenikmatan yang diberikan oleh Deidara untuknya.
Merasa akan sampai pada puncaknya, Menma pun akhirnya dengan sangat terpaksa menarik miliknya dari mulut Deidara. Ia pun kembali menindih tubuh Deidara, wajah tampannya terus meneliti wajah cantik nan manis dihadapannya kini. Entah, sudah berapa kali ia terjebak akan pesona gadis berdarah Namikaze/Uzumaki itu. "i..ittaii..."pekik Deidara saat satu jari milik Menma masuk ke dalam lubang hangat miliknya.
Oh, bahkan Deidara lupa kapan terakhir kali Itachi menjamaah tubuhnya. Jiwanya seakan melayang saat ke-3 jari Menma yang berhasil masuk ke dalam dan menyentuh satu titik yang membuat dirinya mampu melupakan daratan. 'Itachi-kun, maaf' ucapnya lagi dalam hati. Desahan Deidara benar-benar mampu menaikan libidonya. Tak sabar, Menma pun memutuskan untuk memasukan penisnya ke dalam lubang Deidara.
Menma memposisikan kepala penisnya pada lubang Deidara. Dengan satu hentakan, akhirnya penis Menma yang lumayan cukup besar masuk dan memenuhi tubuh bagian paling intim Deidara.
"ennngghh...ahhh...ahhhnnnn..ahhh, kehhh..keluarkanhhh" pinta Deidara, sungguh naive jika saat ini Deidara masih meminta Menma berhenti dikala ia juga merasakan kenikmatan yang sudah lama hilang dari dirinya.
"kau..kheehhh, sempit dan nikmatth, Dei aarrghhh" desah Menma, disela-sela goyangan pinggulnya. "ahhhh...A..Aku..aa..aku ma..mau..ahhhhhhh"
"bersama,Dei"
Menma mempercepat permainan in-out nya. Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai pada titik puncaknya.
"DEI"
"ITACHI-KUN,aaahhhhhhhhnnn"
Plak..
Menma menampar keras wajah Deidara. Kemarahan menguasai hati dan pikirannya, tak ada lagi rasa kasihan dan lembut untuk sang pujaan hati. Dengan kasar ia membalik tubuh Deidara, dan memaksa wanita itu untuk menungging membelakangi dirinya. Dengan sekali sentak, Menma memasuki lubang anal Deidara tanpa persiapan. Jujur, ini yang pertama bagi Deidara. "arrrrggghhhhh,s..s..sakkkiittt..h..hentikannnahhhh" darah mengalir dari sela-sela lubangnya menetes pada sprei berwarna putih. Ini sakit, sakit sekali, bahkan Itachi selalu memperlakukan dirinya dengan lembut.
Plak..plak..plakk..
Menma menampar pipi bokong sintal Deidara. Hole Deidara seakan melahap rakus penis Menma, hingga Menma sedikit sulit meng-in out bagian belakang wanita itu.
.
.
.
.
* Kantor Hokage (pukul 1 siang)
Sehabis rapat, Itachi diminta oleh sang Hokage ke-5 untuk menemui dirinya di ruang kerja sang nenek mertua. Ia memutar kenop pintu tersebut, pintu pun terbuka. Tampak beberapa orang dewasa berkumpul di sana, termasuk sang godaime Hokage yang untuk pertama kalinya terlihat tanpa sake di tangannya. "pencarian Deidara" ujar sang Hokage. Itachi terkejut bukan kepalang, apa maksud dari wanita tua yang masih terlihat cantik ini?
"Dei-chan pergi meninggalkan Uzu 2 hari yang lalu.. aku khawatir padanya, jadi ku susul ia kemari.. tapi, Izumo dan Kotetsu selaku penjaga pintu gerbang Konoha mengatakan tidak ada satu pun warga Konoha yang terlihat keluar masuk" ujar Kakashi.
"seharusnya ia sudah sampai di sini satu hari yang lalu" kata Tsunade, ia terlihat khawatir. Kenapa ketiga cucunya harus mengalami masalah berbelit-belit seperti ini?
"aku akan mencarinya" sahut Itachi. "menurut laporan yang diberikan, Menma berhasil keluar dari segel yang dibuat Jiraya" Ujar Tsunade. Keterkejutan Itachi pun bertambah kala Tsunade menyebutkan perihal keluarnya Menma dari segel yang dibuat oleh Jiraya. "makam Madara-sama menurut laporan warga Kirigakure pun terlihat hancur, sepertinya Menma lah pelakunya" Shizune, asisten Tsunade memberikan kertas laporan pada sang atasan. "tapi untuk apa?" Tanya Kakashi. "ini adalah ajaran di klan Uzumaki, dimana seorang yang sudah mati bisa dihidupkan dengan cara sample gen sang korban yang hendak di cloning.." jelas Tsunade. "Uzumaki memang klan yang mengejutkan" gumam Kakashi.
"Kita harus menjaga Naruto, jika tidak mau kekuatan terkutuk Madara bangkit sempurna" Tsunade membereskan kertas yang berserakan di atas mejanya. "apa hubungannya dengan putra ku?" Tanya Itachi, heran. " karena untuk membangkitkan kekuatan Madara, dibutuhkan orang yang bisa mengalahkan Madara sendiri.. tapi, tidak mungkin Hokage pertama, karena kakek ku sudah meninggal.. putra mu, memiliki kekuatan yang seimbang dengan kakek ku.. atau bahkan, Naruto pun bisa menandingi Rikudou-sannin yang melegenda itu" Jawab Tsunade.
"aku hanya ingin putra ku tumbuh menjadi anak laki-laki biasa"
"tapi itu semua sudah takdir, Itachi.. ramalan itu benar akan anak laki-laki yang akan menghentikan semua kerusuhan di seluruh Negara-negara ini.. putra mu adalah pengganti yang mutlak untuk Naruko" sahut Tsunade. Ia menutup matanya seraya mengingat wajah ketiga cucu perempuannya.
.
.
.
.
* Konoha (keluarga Shimura)
3 hari kejadian berlalu, tampak Ino terduduk di gazebo keluarga Shimura yang dibuatkan Sai untuk dirinya. Ia yang tengah member makan ikan-ikan koi kesayangannya pun menghentikan kegiatan sejenak, ketika burung merpati kesayangannya terbang dan bertengger di pangkuannya. Iris aquamarine nya tertuju pada secarik kertas. Mungkinkah itu dari kakaknya?
Dear, Ino
Ini aku Sakura, aku sering melihat burung merpati kesayangan mu di sini.. Ku harap kau membaca ini, Ino. Kemarin, kakak mu datang bersama Menma-san dan berkata akan berpisah dari Itachi. aku yakin, Dei-chan tidak bersungguh-sunggu dalam perkataannya.. aku tahu Dei-chan sangat mencintai Itachi. aku takut kalau Menma mengancamnya untuk melakukan hal ini.. mereka pergi tak lupa membawa Naru-chan.. aku khawatir kalau Itachi tidak bisa menyelamatkan Dei-chan, karena Menma berhasil menghidupkan setengah dari kekuatan Madara.
Sakura
Ia meremas kuat-kuat kertas tersebut. Apa yang harus ia lakukan kali ini? Hanya melihat kehancuran kakaknya lagi? Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Ingatannya pun kembali pada 3 hari yang lalu, dimana Sai melamar dirinya, sampai saat ini pun Ino masih belum memberikan jawaban yang pasti untuk pemuda bermarga Shimura itu.
Ia tersenyum, sepertinya ia tahu apa yang harus ia lakukan kali ini. Kedua kakaknya sudah cukup banyak berkorban untuknya, kini saat yang paling tepat untuk membalas budi kedua kakaknya.
"aku harus melakukannya"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Omake
Ruangan besar dipenuhi kanvas dan berbagai macam karya seni. Tampak dua orang berbeda jenis tengah berada di sana. Tak ada satu pun kecuali mereka. Ruangan seni milik putra sulung, mendiang Shimura Danzo, adalah tempat yang hanya boleh dimasuki oleh sang pemilik dan orang yang penting di hidup sang putra mahkota. Sai berdiri tepat di depan kanvas besar yang tertutupi oleh kain berwarna putih.
"tentang lamaran mu yang kemarin-"
"aku tidak memaksa mu, Ino" sela pemuda itu, tak siap mendengar penolakan dari gadis cantik itu.
Ino menggelengkan kepalanya pelan. Ia berjalan mendekati Sai yang memunggungi dirinya. "bukan itu maksud ku" kata Ino.
"lalu?" Tanya Sai, masih enggan berbalik badan..
Grebb..
Ino memeluk Sai dari belakang, ia benar sudah tidak peduli lagi dengan semua rasa ego nya yang cukup tinggi. "aku bersedia menikah dengan mu" kata Ino. Masih setia memeluk Sai dari belakang. Sai berbalik badan, ditatapnya dalam-dalam wajah Ino. "jangan memaksakan diri" Sai menyentuh pelan bahu Ino. Gadis berusia 19 tahun itu menggeleng pelan, " aku tidak memaksakan diri ku" sanggahnya.
Sai pun membawa Ino ke dalam pelukannya. Didekapnya erat-erat calon istrinya itu, seakan tak ada satupun yang boleh menyentuh gadisnya. Posesif? Ya, tentu saja, Karena ia benar-benar sangat mencintai Namikaze Ino yang sebentar lagi akan berganti marga yang sama dengan dirinya. " tapi ada dua syarat" kata Ino. " apa?" beo Sai. " kau harus membantu ku menyelamatkan kakak ku dan menghentikan pergerakan penyerangan yang akan dilakukan oleh keluarga mu"
.
.
.
A/N
Hey, Terimakasih atas review untuk chap pertama Minna-san. Maaf kalo lagi-lagi ceritanya gaje. Entah itu lime atau lemon.. agak canggung juga sih waktu nulis itu. Huft, maaf kalo mengecewakan.. soal update kilat, errr- mudah-mudahan kalo enggak ada halangan ya. Soalnya Misa khusus di fict ini, nulis tanpa Naru-chan yang akhir-akhir ini kembali latihan olah vocal lagi. Silahkan ditunggu deh..
Jaa, see ya next chapter..
RnR?
