A/N: Makasih banyak udah review chap sebelumnya^^ Maaf juga karena updatenya lama, kemarin ini saya sedang dalam masa ujian selama 2 minggu, dan terlibat dalam kepanitiaan di sekolah. *Sibuk :p

Err… Chapter ini mungkin bakal acak-acakan, karena dibuatnya agak kilat. Maaf. Tapi semoga semuanya suka.

Enjoy!


Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Out of Reach © Stella de Mare

Rated: T

Genre: Romance/Angst

Warning: AU, OOC, etc.

"DON'T LIKE, DON'T READ!"

Terinspirasi dari Chicken Little, presented by Walt Disney Picture

~*~…

Out of Reach

"When the Earth reach the Heaven"

.

Part 1

Chapter 1: She Can't Stop Rain Falls

Musim Gugur, Istana Timur Konoha, 1224

Siang hari. Namun gelapnya langit lebih pekat dari senja hari. Hujan turun dengan deras, dengan selingan guntur beberapa kali. Air terus menghajar tanah. Menghancurkan guguran daun momiji kering menjadi serpihan basah tak berbentuk. Namun kontras dengan bisingnya suara hujan, seluruh penjuru Istana Timur begitu sunyi, seakan seluruh penghuninya telah luruh ditelan bumi.

Para pelayan diam di ruangan mereka masing-masing, menyelesaikan entah urusan apa yang belum mereka benahi. Dan Kougou Heika―Baginda Permaisuri―tengah berkunjung ke Istana Utama, dengan segerombol dayang kepercayaannya.

Sementara seorang gadis muda duduk sendirian di tengah-tengah kamarnya yang luas. Rambut merah mudanya tergerai lembut. Dan tangannya sibuk menyisir ribuan helai rambut itu dengan sisir perak. Matanya yang emerald memandang semu ke arah bayang-bayang hujan.

Sakura, putri mahkota Kerajaan Konoha. Namun, ia bukan lagi bocah umur 12 tahun. Tujuh tahun telah berlalu, dan kini ia telah menjelma menjadi wanita muda berumur 19 tahun―banyak hal yang telah berubah selama 7 tahun.

Sakura terus memadang lurus ke arah derai hujan, sementara pikirannya melayang, kepalanya seakan berdenyut.

Entah mengapa, hujan selalu mengingatkan Sakura pada hari itu. Hari ketika yang berharga baginya memilih untuk pergi dari sisinya.

Namikaze Naruto, hanya sehari setelah insiden pingsannya Putri Sakura, lelaki itu pergi dari istana dan berhenti menjadi teman bermain putri. Ia menghadap kepada ratu dan juga Putri Sakura, dan dengan penuh hormat ia meminta izin untuk pergi dari istana. Ayahnya mendampinginya, mengiringi hari terakhir anaknya di Istana Timur dengan hening.

Mulai dari hari itu, Naruto selalu memanggilnya Sakura-hime―dan entah mengapa Sakura juga memanggilnya sebagai Namikaze-san. Naruto memandang Sakura dengan penuh hormat, dan Sakura memandangnya dalam diam, emeraldnya hanya memandang semu.

Hari itu, Sakura hanya diam, tidak protes sedikitpun. Seakan kehilangan Naruto bukanlah hal tersulit di dunia. Seakan kepergiaannya tak lebih dari kepergian prajurit jelata ke medan perang. Seakan Sakura tidak mencintainya begitu besar. Dan baru setelah sekian tahun Sakura sadar, bahwa yang seakan itu, justru adalah yang seharusnya ia rasakan.

Hari itu, Naruto dan Sakura bersikap seperti putri dan pelayannya. Seperti yang seharusnya. Sakura tersenyum sinis. Dan dalam desahan, kepalanya seakan berbisik.

'Seakan lelaki itu peduli. Seakan perasaanku ini berarti dan juga ia rasakan. Seakan ia tahu―perasaanku…'

Ia kembali tersenyum sedih. Sisir perak perak bergelayut di tangannya.

'Kau tak tahu, kan Naruto? Bahwa aku, mencintaimu?'

Hari itulah dimana terakhir kali air mata Sakura jatuh―dengan cara yang sama seperti cara hujan jatuh ke tanah. Menguap, dan hilang. Lenyap tanpa dampak yang nyata.

Tanpa ada yang tahu, bahwa sepersekian milimeter batu dibawahnya, baru saja terkikis, dan menjadi lubang besar―setelah sekian tahun lamanya.

.

Naruto bukannya pergi selamanya. Tiga tahun setelah hari itu, Sakura bertemu lagi dengannya.

Hari itu, musim semi. Ketika itu keluarga kerajaan tengah menghadiri upacara pelantikan kelulusan para pemuda Konoha dari Akademi Kerajaan. Dan Naruto hadir di sana, sebagai pria yang mendapat gelar lulusan militer terbaik tahun itu. Ia berubah banyak, tingginya, warna kulitnya, suaranya, caranya bicara.

Tapi Sakura tahu ia orang yang sama. Caranya tersenyum tak pernah berubah, dengan cengiran lebar yang biasa.

Sakura mendengus, Naruto bahkan masih bisa tertawa selepas itu? Sementara ia terkurung dalam kandang emas ini, sendiri. Rasanya pantas jika Sakura merasa kesal. Gadis merah muda itu melalui hari-hari penuh duka kehilangan—karena Naruto. Tapi Naruto bisa hidup menyenangkan, dengan senyum lebar itu tetap tertempel di wajahnya.

Sakura iri. Cemburu.

Sejalan dari hari itu, frekuensi kedatangan Naruto ke Istana Utama semakin bertambah. Mulai dari prajurit biasa, dan kabar terakhir yang Sakura dengar, Naruto telah menjadi kepala pasukan utara. Sakura bertemu dengan dalam beberapa kesempatan. Dan mereka masih sama. Bersikap normal dalam diam.

Tapi Naruto tak pernah tahu, bahwa hati Sakura merintih.

Dan Sakura juga tak tahu—Naruto meraung kesakitan dalam bisu.

.

Istana Timur Konoha, 1224

"Sakura-hime, Kougou Heika hendak berkunjung, mohon dipersilakan," ucap salah seorang dayang dengan penuh hormat. Mendengarnya Sakura segera mempersilakan, tampak sudah memperkirakan kunjungan ibunya itu. Tak lama, seorang wanita anggun masuk. Dialah wanita nomor satu di Kerajaan Konoha—Baginda Ratu Mebuki. Tubuhnya dibalut sempurna dengan kimono besar bercorak lambang Kerajaan Konoha. Mata emeraldnya memandang tegas dari balik tirai keemasan yang dibentuk oleh rambut pirangnya.

"Sakura," ucapnya sambil bersimpuh diatas bantal duduk. Suaranya terdengar anggun dan tegas. Sakura hanya terdiam. Menunggu kata-kata yang sudah ia hafal diluar kepala.

"Ya, ibunda…"

"Kau, sudah memikirkan hal itu, kan?" ucapnya penuh teka-teki. Sakura hanya tersenyum, sungguh-sungguh sudah tahu apa yang akan ditanyakan Ratu Mebuki. Namun ia berlagak bodoh.

"Maafkan kebodohan putrimu ini, ibunda, namun saya sungguh tidak mengerti apa yang hendak ibu tanyakan," jawabnya dengan suara dilemah lembutkan. Tersimpan nada sinis dibaliknya.

"Hime, kau tahu apa yang kumaksud. Tak bisakah kau hanya menjawab dan tidak membuat ibumu ini kesal?" ucap wanita berambut emas ini tajam, tanpa mengurangi keanggunan yang sudah sewajibnya ia pegang. Dan sang senyum masih menempel di wajahnya.

Perlahan senyum lembut Sakura memudar, digantikan sebuah senyum sarkasme dan pandangan mata yang tajam.

"Kau tahu bahwa kita sedang membicarakan tentang perjodohanmu," jelas Mebuki.

"Ibunda. Kurasa kita sudah cukup bicara tentang hal ini, kan?"

"Sakura, keluarga Kerajaan Hyuga sudah terlalu lama menunggu. Kau sudah terlalu sering mengecewakan mereka," ucap Mebuki tegas. Kesal pada sikap keras kepala putrinya ini. Sakura hanya terdiam. Ia perlu berpikir. Hening.

Dalam pelan Sakura memecah keheningan, ia berkata, "Aku akan menemui mereka, asalkan—" kata-kata Sakura terpotong.

"Asalkan kau bertemu empat mata dengan Putra Mahkota? Tidak Sakura!" sambar Mebuki.

"Tapi kenapa ibunda?" jawab gadis merah muda itu tak terima.

"Ibu tak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali, Hime. Tujuh tahun lalu kau memberikan syarat yang sama. Dan apa yang kuterima? Kau mengucapkan penolakan perjodohan terhadap Putra Mahkota Kerajaan Uchiha di hadapannya langsung! Kau tahu betapa malunya kami saat itu?!" Mebuki mendadak gelisah. Emosinya meluap-luap, "Itu trik lama, Sakura," sambung Mebuki. Sakura hanya memandang kecewa. Memang itu yang tadinya ia rencanakan.

"Kau akan menemui mereka, suka atau tidak!"

Ini bukan permintaan, permohonan, atau bahkan perintah. Ini pernyataan. Dan yang Sakura tangkap, diam adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan.

.

Esok harinya, Istana Utama Konoha

Namikaze Naruto termenung. Dia mungkin sedang ada dalam masalah besar saat ini. Namun ia tidak begitu yakin. Tiba-tiba saja, pagi ini seseorang menyampaikan bahwa Tennou Heika memanggilnya. Naruto sama sekali tidak merasa berbuat hal-hal yang layak membuatnya dihukum―apa lagi langsung oleh raja.

Dalam kebingungannya itu ia segera menghadap Tennou Heika. Lusinan pasang prajurit memberi hormat baginya—yang Naruto balas satu persatu dengan senyuman.

"Yang Mulia Kaisar, Kepala Pasukan Utara datang menghadap, mohon dipersilakan," lapor salah seorang pengawal kamar Tennou Heika.

"Biarkan ia masuk," ucap sebuah suara dari balik pintu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Naruto, ia akan bertemu empat mata dengan manusia terhebat di Konoha, yang katanya adalah keturunan Amaterasu—Dewa Matahari. Sang Raja Konoha, Bapak Negara, dan ayah dari Sakura-hime. Raja Kizashi.

Pria itu terlihat tegap, dan warna rambutnya serupa dengan Sakura—hanya lebih pekat dua kali lipat, mencuat membentuk bunga Sakura. Penampilannya cukup eksentrik jika dilihat dari jauh―tapi ternyata jauh lebih eksentrik jika dari dekat.

Naruto segera berlutut memberi hormat. Dan disambut senyuman oleh sang Raja.

"Jadi Namikaze-san. Kau sudah lama mengepalai divisi darat pasukan utara?" tanya Raja.

"Tidak yang mulia, baru saja memasuki tahun pertama," ucap Naruto. Menunduk dalam-dalam.

"Hm? Baru setahun dan kau sudah membawa divisi paling terpuruk di Konoha pada 4 kali kemenangan perang?" Naruto hanya tersenyum, lalu berucap, "Mohon ampun Baginda, saya rasa tidaklah penting membahas mengenai hamba, mungkin akan lebih baik bila kita langsung kepada pokok masalah."

Kizashi terkejut.

"Ah… Kau ternyata begitu rendah hati, ya," ucap Kizashi sambil ikut tersenyum, lalu menyambung, "dan tidak suka berbasa-basi, heh? Yah, tentu saja kau kupanggil tidak sekadar untuk mendengarkan pujianku. Aku punya misi bagimu."

Naruto mengangkat wajahnya, memandang sang Raja dengan antusias.

.

Hari ini adalah hari yang paling tidak ditunggu Sakura. Kini ia berada di tengah-tengah ruangan besar ini. Sakura duduk terdiam di salah satu sisi meja kecil berisi lusinan jenis manisan. Kimono furishode biru membalutnya sempurna. Sementara tak kurang dari selusin tetua duduk berjajar di belakangnya. Sisi lain dari meja itu masih kosong.

Sakura tampak terdiam. Berpikir sekuat tenaga untuk keluar dari perjodohan ini. Tapi idenya seakan sudah buntu.

Dan Sakura masih berpikir begitu keras ketika pintu kertas itu terbuka. Sakura sudah pasrah mendapati seorang Hyuga tampil di baliknya. Namun, ternyata bukan.

Sesosok pria dengan balutan kimono hijau khas pejabat militer masuk dengan anggun. Matanya yang biru menatap lurus dengan lembut. Ia tersenyum, dengan cara yang sama, sebagaimana Sakura ingat di dalam mimpi-mimpinya. Tak berubah sedikitpun.

Namikaze, Naruto… Ia ada di sana. Seketika itu juga Sakura bangkit berdiri, gejolak rindu menghantamnya begitu keras―tetesan hujan itu berhasil melubangi pertahanannya. Sakura tak lagi mempedulikan pandangan para tetua yang membulat padanya.

Sakura merindu, sangat, seakan ia ingin merangkul Naruto setiap saat.

.

To be continued


Nggak begitu puas sama chapter ini. Tapi akan berusaha untuk jadi lebih baik.

.

Kisah dibalik layar pengetikan:

Plot awal cerita ini dibuat 2 tahun lalu, dan ketika itu tokoh orang tua Sakura belum ada, jadi awalnya aku buat sesuka hati. Setelah itu aku juga sudah tidak lagi ngikutin anime/manga Naruto. Tapi untungnya, sebelum mulai ngetik aku searching dulu, dan jujur...

Aku ketawa ngakak waktu lihat Kizashi―sambil mikir―yang kaya gini mau dijadiin raja?! Oh, My... Rambutnya itu lho, nyentrik sungguh.*ngebayangin Kizashi pakai topi kekaisaran Jepang *LOL *abaikan, anggap saja Raja Konoha tidak pakai topi kerajaan

Dan sepanjang pengetikan bagian deskripsi Kizashi aku ketawa-tawa sendiri dan sukses dapat deathglare dari kakak yang sibuk ngerjain tugas kantor. Hhe... Tapi aku ngefans sama Mebuki.

.

Aku juga mau bilang, untuk beberapa temen-temen yang request cerita ini romancenya ditambah, aku nggak bisa jamin. Aku buat semuanya berdasarkan plot yang sudah kubuat sejak lama, dan pada dasarnya aku nggak bakat romance―apa lagi yang fluffy.

Fiksi ini adalah duniaku, tolong biarkan aku eksplor imajinasiku. Makasih kalau udah mau ngerti.

Oh, ya, ngomong-ngomong aku buat fan art yang didasari dari fic ini, bisa dilihat di cover fic ini atau bisa lihat di deviantartku―lihat alamatnya di profile.

Update... selanjutnya diusahakan nggak selama ini. Sabar ya...

Review! X3