10 tahun yang lalu…

.

.

.

.

.

"Psstt…"

"..."

"Hei, Sakura. Bangun...!"

Sakura mengernyit. Mendengar suara teman di sebelahnya, membuat ia—terpaksa—membuka mata seraya mengerjap ketika mendengar namanya di panggil dalam bisikan. Sakura menggosok sebelah matanya, ia menegakkan tubuhnya yang kaku, kemudian menguap dengan lebarnya. Rasanya seperti di paksa bangun pagi di hari libur. Sakura masih menutup mata karena mengantuk, namun tak sampai satu detik berikutnya, dirinya tersentak keras. Matanya tiba-tiba terbuka lebar. Suara pukulan tongkat rotan di mejanya membuat Sakura terkejut. Mata hijaunya kian melebar dan—

Oh, tidak. Sepertinya dirinya akan terkena masalah hari ini.

"Haruno Sakura!" suara berat milik Yamato-sensei menggelegar seperti petir di siang bolong.

Sakura terkesiap kecil mendengar suara berat itu menyebutkan namanya dengan marah. Ia menunduk, tak berani melihat bagaimana wajah mengerikan pria bertubuh tinggi yang selalu memakai dasi kupu-kupu di kemejanya itu.

"Sejak kapan kau berani tidur di kelasku, hm?!"

Sakura menelan ludah kasar. Diliriknya teman-teman yang lain sedang menuduk ketakutan di bangkunya masing-masing. Mereka sama sekali tak berani melihat ke arah Sakura. Sebab, saat ini harimau sekolah mereka sedang mengamuk.

"Ini baru jam pertama. Baru setengah jam yang lalu saat aku masuk ke kelas ini!" seru Yamato-sensei. Pria itu menyebat meja Sakura dengan rotan lagi, sontak membuat seisi kelas tersentak karena suaranya. "Aku tidak ingin tahu alasan kenapa kau sebagai siswi yang pintar bisa tertidur pulas di jam pertama mata pelajaranku. Haruno Sakura keluar dari kelasku sekarang!"

Sakura melirik takut-takut pada Yamato-sensei. Ujung tongkat rotannya menunjuk pintu keluar kelas. Dengan patuh, Sakura bangkit dari duduknya. Diliriknya Ino, teman bangku di sebelah kanannya yang kini ikut pula menunduk takut. Sakura mengutuk dalam hati tentang dirinya sendiri sembari melangkah keluar kelas. Mengapa dia bisa tidur nyenyak di pelajaran Yamato-sensei yang mengerikan itu?

.

.

Sakura berdiri menghadap pintu kelasnya yang terbuka dengan sebelah kaki terangkat. Yamato-sensei tetap mengawasinya dan tak akan melepaskannya begitu saja. Sakura masih menunduk. Begitu dirasanya Yamato-sensei tak lagi mengawasinya, Sakura menempelkan alas sepatunya yang terangkat pada dinding pembatas setinggi pinggangnya dan mendesah lega.

Beruntung Yamato-sensei memberinya ruang untuk bernapas sekarang.

Baru beberapa detik ia menempelkan alas sepatunya di dinding belakangnya, Sakura menjauhkan kakinya pada dinding pembatas dan mengangkat sebelah kakinya kembali. Baru saja ia mendengar suara derap langkah sepatu seseorang yang menaiki tangga di ujung lorong kelasnya. Sakura menunduk lagi. Di lantai keramik yang ia pijaki sekarang, Sakura dapat melihat bayangan seorang laki-laki yang berjalan mendekat. Sakura meliriknya, dan membeku.

Astaga. Lelaki itu...! Mengapa dia baru saja datang setelah setengah jam yang lalu bel masuk sekolah berbunyi? Dengan santai pula gayanya… batin inner Sakura.

Dirinya tak habis pikir tentang lelaki itu. Tentang mengapa ia bisa sesantai itu? Apa ia tak di tegur guru piket atau siapapun yang melihatnya begitu? Dan lagi pula, kenapa Sakura menyukai lelaki seperti itu?

Ckck, mungkin otak cantikmu sedang tidak beres, Sakura.

Sakura masih meliriknya, mengikuti gerak-gerik lelaki itu. Lelaki itu sempat meliriknya dengan seringai meremehkan sebelum ia masuk ke dalam kelas Sakura. Mereka berada di kelas yang sama. Dan sebentar lagi, harimau yang baru saja jinak itu—

"Ya! Uchiha Sasuke! Kenapa kau baru saja datang?!"

—kembali mengamuk.

Sakura memejamkan mata tak berani melihat wajah Yamato-sensei yang kembali marah. Meskipun begitu, telinganya masih berfungsi dengan baik dan tetap mendengarkan.

"Aku bangun kesiangan." Jawab singkat lelaki itu—Uchiha Sasuke—dengan santai.

"Nani?! Beraninya kau masuk ke kelasku dengan alasan seperti itu?!" geram Yamato-sensei.

"Aku sudah jujur, sensei." Ia masih berani menjawab santai.

Suara pukulan rotan pada meja terdengar lagi. Kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya.

"Dasar bocah tengik! Keluar kau dari kelasku! Sekarang!"

Sakura membuka matanya pelan-pelan. Dilihatnya bayangan Sasuke kembali mendekatinya yang kemudian terlihat ujung sepatu Sasuke yang melewatinya. Lelaki itu berhenti di sebelahnya. Dan Sakura dapat melihat perbedaan besar sepatu Sasuke dengan sepatunya. Sakura melirik Sasuke takut-takut.

"Aku baru tahu kalau siswi pintar sepertimu ternyata bisa membuat kesalahan juga."

Sakura menelan ludah susah payah. Sasuke sedang menyindirnya dengan suara rendah yang terdengar halus di telinga. Sakura bergetar, gugup setengah mati.

"Terima kasih karena kau dengan senang hati menemaniku di hukum hari ini."

Saat itu juga Sakura kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh dan beruntung Yamato-sensei tak mengetahuinya. Di dengarnya Sasuke terkekeh, mengejek dengan suara pelan saat Sakura berusaha untuk bangkit dan kembali membangun keseimbangan.

Sialan! Sakura mengumpat dalam hati.

Berakhirlah ia disini bersama Sasuke untuk dua jam pelajaran ke depan.


.

.

.

If You Were Me

(sequel of Bad Habit)

story by: silent monster

.

.

.


Hari itu, ada banyak kesalahan yang Sakura dapat. Diawali dari tidur di kelas Yamato-sensei, tidak fokus selama praktik di laboratorium sehingga Kakashi-sensei yang akrab dengannya menggeleng-geleng kecil. Selain itu, tadi ia mendebat professor dari universitas ternama hingga pria berkacamata tebal itu takjub tak berkutik di buatnya. Sungguh itu hal yang buruk karena Sakura bisa saja di blacklist oleh univesitas si professor berada. Padahal saat itu Sakura belum memikirkan akan kemana ia nanti ketika hendak lulus dari sekolahnya. Namun, Sakura sudah memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang psikiater.

Dan yang terakhir, yang paling parah. Mungkin yang paling parah dari hari-harinya yang lain. Sakura harus menerima omelan pedas dari seorang pebasket sekolahnya. Sakura baru saja menumpahkan gelas susunya—tak sengaja—ke seragam senior di sekolahnya. Sakura tergagap melihat tumpahan susu pesanannya di kemeja Yahiko-senpai.

Gawat, pikirnya. Kenapa pula tali sepatunya harus lepas, sih?

"Kau tak punya mata, ya?" kata Yahiko-senpai sebal. Ia menunduk melihat kemejanya dan mendesah. "Apa kau tak punya kaki?"

Sakura menunduk, "Maafkan aku." Ujarnya pelan. Ia meraih tisu dari kantong rok-nya yang kemudian ia jadikan sebagai alat pembersih kemeja Yahiko-senpai. Sakura terdiam setelah senpai-nya menolak usaha Sakura untuk mengerikan kemejanya.

"Kau. Haruno Sakura—" Yahiko-senpai menekan seluruh kosakata-nya dengan suara rendah. "—harus bertanggung jawab."

Sakura menelan ludah dengan susah payah. Ia lirik lelaki tinggi berambut oranye yang memiliki tindik di telinganya itu yang kini sedang menyeringai jahil padanya.

Astaga. Siapapun, tolonglah. Kini Sakura merasa menciut diantara puluhan siswa yang sedang melihat dan menyaksikan dirinya dan Yahiko-senpai.

Tak ada yang berani mendekatinya. Lebih tepatnya, tak ada yang mau mendekati kutu buku seperti dirinya.

"Lepas kemejaku." Bisik Yahiko-senpai yang masih dapat di dengar Sakura. Yahiko—sok—tersenyum manis ketika Sakura meliriknya dalam tundukan kepala. "Sekarang, Sakura."

Sakura bergetar. Matanya bergerak-gerak gelisah ketika banyak orang yang menyorakinya, apalagi saat ini ia tengah berada di outdoor lapangan basket sekolah. Yahiko-senpai baru saja mengumumkan bahwa Sakura akan melepas kemejanya sekarang, di tempat itu pula. Sakura mengumpat dalam hati merasakan wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena emosi. Sakura mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

"Hei, jangan katakan pada mereka kalau aku mau, senpai." Kata Sakura dengan gigi terkatup.

"Hah, apa? Kau barusan bilang apa?" Tanya Yahiko-senpai pura-pura tak mendengar.

Sorak-sorai itu pun berhenti. Berganti senyap karena mereka mulai kembali memperhatikan Sakura dan senior mereka.

Sakura mulai berani mendongak. Ia tatap mata seniornya itu dengan tajam seraya berseru, "Jangan katakan pada mereka kalau aku akan melepas kemejamu sekarang, Brengsek!" bersamaan dengan itu bogeman mentah Sakura layangkan tepat di rahang Yahiko-senpai.

Seketika sorakan mereka terdengar riuh. Baru saja mereka melihat 'sisi' Sakura yang lain dan itu sangat mengejutkan. Sakura yang terkenal pendiam, tidak banyak teman, dan selalu menyendiri di perpustakaan ataupun di atap sekolah. Baru saja berani melawan dan memukul pebasket sekaligus preman sekolahnya yang dijuluki sebagai Pain ketika berada di luar sekolahnya. Mereka bertepuk tangan meriah ketika melihat Yahiko-senpai kelihatan kesakitan memegangi rahangnya.

"Dasar tengik!" umpat seniornya. Lelaki bertubuh gagah itu menegakkan tubuh, mencoba untuk terlihat baik-baik saja meski rahangnya masih terasa sakit di depan Sakura. "Berani juga kau," katanya pada Sakura.

Sakura masih menatapnya tajam. Tak membalas apapun.

"Dapat keberanian darimana kau bisa memukulku, hm?" Tanya Yahiko-senpai. Ia masih menunggu jawaban dari Sakura yang sedari tadi diam menatapnya tajam. Yahiko berdecih. Lelaki itu mencengkeram kedua pundak Sakura dengan keras. Sakura tetap saja tak menjawab meski pundaknya terasa sakit karena cengkeraman keras dari tangan maupun jemari Yahiko.

"Masih tak ingin menjawab, nona Haruno? Haruskah kau kupanggil nona? Kau ingin–ARGH!"

Seketika sorakan itu kembali terhenti, berganti senyap. Dapat mereka lihat Yahiko-senpai mendongak dan sontak langsung melepaskan cengkeramannya pada pundak Sakura karena rambutnya di jambak oleh seseorang. Dan seseorang itu membuat Sakura hamper meleleh karenanya.

Uchiha Sasuke. Lelaki yang terkenal pendiam, pembolos, dan peringkat umum ke-dua setelah si pemalas Nara dan sebelum Sakura yang bertahan sebagai juara ke-tiga.

Baiklah. Sekarang Yahiko-senpai melawan Sasuke, preman sekolah tingkat tiga melawan pembolos sekolah yang misterius tingkat dua. Hei, bukankah ini seru?

"Berani juga kau dengan perempuan." Ejek Sasuke sembari mendekatkan wajahnya di hadapan senior-nya. Ia menggoyang-goyangkan jumputan rambut Yahiko-senpai hingga ia mengerang kesakitan.

"Lepaskan tangan kotormu dari rambutku, monster!" seru Yahiko-senpai.

Hening sesaat. Namun, sekilas Yahiko dapat melihat perubahan raut wajah dan tatapan nyalang dari mata Sasuke yang tiba-tiba berubah. Erangannya makin terdengar keras karena Sasuke semakin mengeratkan jumputannya padanya.

"Jangan dekati perempuan yang sudah menemani hukumanku kali ini, sen-pai." Tekan Sasuke pada kalimat terakhirnya dengan nada mengancam, yang membuat siapapun bisa hancur dalam sekejap. Namun, perubahan ekspresi Sasuke yang tiba-tiba itu kini berubah seperti semula, saat wajahnya menjauh dari hadapan Yahiko.

"Oh. Kau laki-laki, ya? Ah, kukira kau perempuan karena baru saja berani melawan perempuan. Gomen."

"Akh!"

"Astaga, hei! Hentikan!"

Seketika semuanya melihat ke sumber suara dan membubarkan barisan dalam sekejap. Sasuke menarik tangannya dari rambut Yahiko-senpai. Sedangkan Yahiko-senpai masih meringis kesakitan seraya mengusap kulit kepalanya. Sementara itu, Sakura berbalik dan kembali mematung. Harimau sekolahan datang menginterupsi. Dan tiga orang inilah mangsanya sekarang.

.

.

Sakura beruntung. Setidaknya ia hanya mendapat hukuman membersihkan halaman belakang sekolah selama seminggu tanpa hari libur. Ia merasa tak keberatan mendapatkan hukuman itu sementara Yahiko-senpai mendapat hukuman membersihkan seluruh toilet laki-laki di sekolahnya selama sebulan. Tapi, di satu sisi Sakura juga merasa tak beruntung. Karena ia dihukum tak sendirian. Ia bersama Sasuke harus menjalani hukuman itu selama seminggu bersama-sama. Catat! Seminggu tanpa libur. Itu berarti ia bakal bertemu dengan Sasuke setiap hari.

Tamatlah sudah hidupku yang tenang.

.

.

.

.

.

Sore itu, ketika seluruh siswa pulang dan menikmati nyamannya suasana rumah kemudian tertidur pulas di atas kasur, Sakura malah berada di halaman belakang sekolah, sedang menyapu halaman bersama Sasuke yang duduk tak peduli pada Sakura. Beberapa kali Sakura melirik Sasuke yang sibuk sendiri sambil memandangi langit sore. Beberapa kali pula Sakura meminta Sasuke untuk membantunya. Namun, yang dikatakan Sasuke hanyalah, "Kau yang membuat kesalahan. Kenapa aku yang ikut di hukum?"

Dan itu membuat Sakura jengkel sendiri. Ia menyimpan seluruh umpatan jengkelnya pada Sasuke dalam hati. Kalau Sasuke tak ingin di hukum, kenapa laki-laki itu menolongnya dari Yahiko-senpai? Dasar sinting!

Sampai Sakura selesai membersihkan seluruh halaman belakang sekolah, Sasuke baru beranjak dari tempatnya. Lelaki itu pulang terlebih dahulu tanpa berpamitan pada Sakura.

Sakura mendengus jengkel hari itu juga. Ia menghentak-hentakkan kaki sembari mengikuti Sasuke yang sudah lebih dulu berada di depannya untuk segera pulang menuju rumahnya.

.

.

Di hari kedua menjalankan hukuman, Sasuke juga begitu. Lelaki itu masih saja betah memandangi langit sore dengan awan yang berarak-arak pelan. Sakura sudah mencoba untuk menginterupsinya. Namun, Sasuke tetap saja tak ingin membantu Sakura yang kemudian di jawab dengan kalimat singkat dan datar yang membuat Sakura semakin jengkel. Sakura bisa memukul pantatnya Sasuke menggunakan gagang sapu sekarang. Sakura kesal sungguhan. Tetapi Sakura terus saja diam. Ia tak peduli lagi mau Sasuke membantunya atau tidak. Yang penting ia dapat menyelesaikan hukuman ini dengan cepat dan pulang menuju rumahnya. Dengan Sasuke yang meninggalkannya begitu saja. Lagi.

.

.

Di hari ketiga. Sakura benar-benar tak peduli pada Sasuke yang memandangi langit sore. Ia hanya ingin cepat pulang dan pergi meninggalkan Sasuke lebih dulu. Sakura sebal karena sudah dua kali Sasuke meninggalkannya begitu saja. Di lain sisi, Sakura juga takut sendirian di sekolah saat sudah sore menjelang malam. Dan benar saja, Sasuke berjalan santai di belakangnya. Enak saja perempuan seperti dirinya di tinggal begitu saja di halaman sekolah yang terkenal menyeramkan saat malam hari.

.

.

Di hari keempat sampai hari terakhir masa hukuman, Sakura juga melakukan hal yang sama. Ia benar-benar tak peduli bahkan jika Sasuke ataupun ada makluk lain dimensi yang berada disana. Terpenting ia yang pulang duluan meninggalkan Sasuke di belakangnya.

Namun, saat hari terakhir mereka menjalankan hukumannya, Sakura tak mendapati Sasuke duduk ataupun berbaring sendirian sambil memandang langit sore. Melainkan Sakura mendapati Sasuke ikut membantunya membersihkan halaman belakang sekolah.

Sakura berhenti menyapu saat ia melihat Sasuke menyapu di tempat yang tak jauh darinya. Sakura memperhatikan, dan mencibir. Disaat hari terakhir mereka menjalani masa hukuman, Sasuke baru membantunya. Dan itu sangat sangat menyebalkan! Sakura harus menahan diri untuk tak memaki Sasuke saat itu juga.

Pekerjaan mereka lebih cepat selesai ketika Sasuke turut membantu Sakura membersihkan halaman belakang sekolah yang kelewat luas itu. Ketika Sakura hendak meraih tasnya yang tergeletak di bangku tua halaman belakang, Sasuke mencegahnya. Membuat Sakura mendongak menatapnya dengan dada yang tiba-tiba berdesir aneh.

Sasuke menyentuh kulitnya, melingkari pergelangan tangan Sakura dengan tangannya yang besar. Sakura merasa kecil sekali di dalam genggaman Sasuke saat itu.

"Hei. Tunggu aku sebentar." Kata Sasuke kemudian. Ia membungkuk lalu mengambil tasnya, dan menarik Sakura untuk ikut bersamanya.

Sementara itu, Sakura tak bisa melepaskan diri lagi. Di dalam hatinya ia ingin sekali ikut dengan Sasuke, mengikuti langkah kakinya kemana saja mereka akan berhenti melangkah, Sakura akan senang. Namun, berkebalikan dengan otaknya. Otaknya memerintah untuk tak menurut pada Sasuke. Bahaya, pikirannya terus bergejolak. Sebab, Sasuke memang dikenal sebagai anak yang buruk meski prestasinya memuaskan.

Tapi... Sakura merasa Sasuke memang butuh teman. Pasalnya, Sakura sering melihat Sasuke menyendiri dengan pikirannya yang melayang-layang. Jadi hari itu Sakura sama sekali tak—ingin—melepaskan diri dari Sasuke. Ia akan menemani Sasuke sampai ia kembali lagi ke rumahnya.

Lama mereka berjalan-jalan tanpa tujuan, Sakura pun mulai bingung. Sebenarnya Sasuke ini ingin mengajaknya pergi kemana, sih? Sakura melirik tangannya yang masih di gandeng Sasuke. Wajahnya merona merah, ingat jika Sasuke menggandenganya sedari tadi.

"Sasuke," Sakura memanggil dengan ragu. Dalam tundukannya, Sakura melirik Sasuke berkali-kali. Lelaki itu terlihat sedang mencari-cari seseorang di antara orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka. Sakura jadi ikut memperhatikan lalu-lalang manusia itu.

"Tunggu sebentar." Kata Sasuke.

Sakura mendongak padanya. "Apa?"

"Aku sedang menunggu seseorang…"

Sakura mengerjap.

"Apaaa? Kau mempunyai seseorang yang kau kenal? Siapa? Saudaramu? Teman? Oh! Oh! Aku tau, apa kau ingin membuat pacarmu cemburu oleh sebab itu kau mengajakku?"

Sasuke menunduk. Ia mulai memberi Sakura perhatian.

"Diam dan tak usah banyak bicara. Tugasmu hanya menemaniku."

Sakura mencibir. Hei, kau tak memintaku untuk menemanimu, bodoh! Lagipula kenapa kau mengajakku kesini hanya menunggu seseorang yang tak penting bagiku, dasar sinting!

Sasuke melirik Sakura yang mengomel-omel sendiri di sebelahnya, diam-diam ia tersenyum geli. Sasuke mencari-cari seseorang yang di sebutnya beberapa saat yang lalu. Kemudian, tak berapa lama ia melihat lelaki yang memiliki ciri rambut khas jabriknya yang berwarna kuning. Ada lambaian tangan darinya yang membuat Sasuke ikut melambaikan tangannya, lelaki kuning itu berlari kecil ke arahnya. Apa yang dilakukan Sasuke itulah membuat Sakura menoleh padanya, lalu beralih pada lelaki yang kini berhenti tepat di depan Sasuke.

Lelaki yang berseragam sekolah menengah kejuruan itu membuat Sakura mengerjap. Lelaki ini memiliki tinggi yang tak jauh beda darinya meski lebih unggul beberapa senti. Dan lagipula apa-apaan ini? Sakura merasa ia dapat menarik kesimpulan dengan cepat apa yang terjadi disini.

"Tunggu, kalian…." sahutnya polos.

Belum sampai sakura melanjutkan kalimatnya, ia mendengar suara dari kedua lelaki di depannya yang sontak berteriak 'tidak' secara bersamaan.

"Ba-baiklah."

Sasuke mendecih kemudian sedikit menggoyangkan pundak lelaki kuning yang berada di depan mereka berdua. "Kau lama. Dari mana saja?"

Si kuning meringis, "Aku mampir sebentar ke kedai ramen paman Ichiraku, hehe." Jawabnya jujur.

Kemudian, ia beralih melirik tangan Sasuke yang satunya, tangan yang menggandeng Sakura, dan ia terkejut. Lelaki jabrik itu melihat Sakura dengan ekspresi lucu hingga ingin sekali mencubit pipi gadis yang tengah di gandeng oleh Sasuke.

"Hoi, teme. Kau membawa kekasihmu?"

Sakura merona. Dan lelaki kuning itu tersenyum geli melihatnya.

Sasuke mendengus. Ia hanya membalas, "Sudah sana, pulang."

"Oh, kau menyuruhku pulang terlebih dahulu sementara kau akan pergi berkencan? Tidakkah kau merasa kasihan denganku yang masih menjom—aww!"

"Dobe, kau berisik." Sahut Sasuke cepat. Ia menarik Sakura lagi untuk ikut bersamanya, meninggalkan dobe yang baru saja di panggil Sasuke yang kembali memanggilnya kemudian menyusul mereka berdua.

"Hei! Teme!"

Sakura menoleh ke belakang mendengar suara lelaki yang baru saja ia ketahui dari Sasuke bernama Naruto. Naruto sedang tersenyum padanya dan Sakura merasa malu lagi. Sakura mendongak pada Sasuke, memanggil lelaki itu.

"Sasuke. Tadi kau bilang menunggu seseorang. Dan sekarang kau meninggalkannya. Sebenarnya apa maksudmu? Kenapa pula kau mengajakku ikut bersamamu?" Tanya Sakura beruntun.

Sasuke tiba-tiba berhenti. Ia menarik Sakura untuk makin dekat dengannya, merangkulnya. Sakura membeku, napasnya tersendat-sendat karena debaran jantungnya yang semakin cepat dan keras. Ia mendongak, Sasuke terlihat biasa saja meski Sakura tahu kalau lelaki itu sedang menahan senuyum.

"Diamlah, Sakura. Jadilah kekasihku untuk hari ini. Setelah aku mengantarmu pulang, kau akan menjadi mantan kekasihku—"

Sakura mendelik kaget, "A-ap—"

"Teme! Kenapa aku tak kau rangkul juga?" suara Naruto terdengar menyela ucapan Sakura. Lelaki itu berlari dan beringsut di sela-sela Sasuke dan Sakura. Ia merangkul, tersenyum pada Sasuke seraya berbisik, "Nama kekasihmu siapa, teme?"

Sasuke mengangkat bahu. "Tanya saja padanya." Balasnya acuh tak acuh.

Naruto tersenyum senang. Ia menyingkirkan tangan Sasuke dari pundak Sakura, tersenyum pada Sakura, dan bertanya, "Namamu siapa? Kenapa kau mau saja menerima si datar nan menyebalkan ini sebagai kekasihmu?"

Sakura meringis canggnng, "Namaku Sakura." Jawabnya pelan. Ia tersenyum dan melirik Sasuke saat mencoba menjawab pertanyaan kedua. "Dia memaksaku."

Naruto membulatkan bibirnya, melirik Sasuke, kemudian membawa Sakura menjauh dari Sasuke, lalu berbisik, "Seharusnya, Sakura-chan itu menjadi kekasihku saja. Sasuke itu orang yang kelewat menyebalkan."

"Oh ya?" Sakura menahan senyum geli. Menyenangkan juga berteman dengan si kuning jabrik ini. "Memangnya se-menyebalkan apa dia?"

Naruto melihat ke belakang, memeriksa apakah Sasuke sedang menguping kali ini. Kemudian ia kembali berbisik, "Seperti yang Sakura-chan lihat." Dan memberi jeda sejenak. "Sasuke menjadi seperti itu saat kedua orang tuanya meninggal. Makanya dia menjadi menyebalkan."

Sakura mengangkat alis. Ia melirik Sasuke di belakangnya, dan melirik Naruto. Kemudian Sakura menghentikan langkah. Ia akan menunggu Sasuke dan membiarkan Naruto berjalan terlebih dahulu. Lelaki kuning itu tahu kalau Sakura memang butuh ruang untuk berbiara soal itu pada Sasuke.

"Ada apa?" Tanya Sasuke ketika Sakura ikut berjalan di sampingnya.

Sakura menggeleng pelan. Sasuke sedikit mengerutkan kening bingung.

"Naruto mengatakan sesuatu padamu?"

Sakura berhenti melangkah lagi, dan Sasuke juga melakukan hal yang sama. Mereka membiarkan Naruto melangkah semakin jauh dan kemudian menghilang di belokan. Sakura menghadap Sasuke, berkata, "Naruto bilang kau menyebalkan."

Sasuke menautkan kedua alisnya tak mengerti.

"Iya, kau menyebalkan." Sakura meninju bahu Sasuke dengan pelan. "Kau selalu membuat onar, membolos, menjadi seseorang yang sangat pendiam saat di sekolah, lalu menjadi super duper menyebalkan jika di luar jam sekolah. Dan aku benci dengan orang sepertimu."

"Itu urusanku. Kenapa kau mengurusnya?"

"Hei. Hari ini aku menjadi kekasihmu." Kata Sakura jengkel. Jujur ia tak menyangka jika ia akan seberani ini mengatakan hal-hal aneh pada Sasuke seperti sekarang.

Sasuke mendengus.

"Berhentilah melakukan hal-hal tak berguna. Kau pintar tapi kau sering membolos. Percuma kau punya otak encer tapi kau tak memanfaatkannya dengan benar. Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Aku tak pernah mengerti dirimu selama aku mengenalmu sebagai manusia bernama Uchiha Sasuke."

"Kau benar-benar kekasih yang menyebalkan juga."

Kini giliran Sakura menautkan kedua alisnya tak mengerti.

"Kau itu juga pendiam. Banyak teman-teman yang menjauhimu karena kau sering membaca buku ketimbang bergaul dengan mereka. Kau itu kutu buku. Tempat favoritmu perpustakaan. Dan aku benci dengan orang yang keluar masuk peprustakan. Tsk, kuno."

Sakura mengernyit. Ia protes, "Hei, kau! Ya—" dan berhenti karena ia mulai menyadari sesuatu. "—kau memperhatikanku, ya?"

"Kau juga memperhatikanku." Balas Sasuke.

Sakura megerjap. Tak ia balas kalimat itu. Karena ia sudah terlanjur malu, maka ia hanya menjawab dalam hati. Kalau iya memang kenapa?

"Sudahlah, lupakan. Ayo, jalan-jalan."

"Hei, bagaimana dengan Nar—"

"Dia sudah pulang, sayang. Jangan mengkhawatirkannya."

Sakura merona lagi, "Jangan memanggilku sayang meskipun aku benar-benar kekasihmu!"

Lagi-lagi. Sasuke mengendikkan bahu tak peduli.

.

.

.

.

.

Malam sudah hampir larut. Sakura baru sampai di depan pintu rumahnya pukul setengah sepuluh dengan seragam sekolah yang masih menempel di tubuhnya. Sakura khawatir Karin nee-san akan mengamuk dan tak memperbolehkannya pulang malam lagi. Namun, malam itu pula Sakura merasa tak perlu pusing untuk memikirkannya lebih. Sebab ia masih memikirkan kejadian apa saja yang di laluinya sejak satu minggu kemarin hingga malam ini.

Tadi itu Sasuke mengajaknya jalan-jalan. Iya, jalan-jalan berkeliling kota, mampir ke kedai untuk makan, dan jalan-jalan lagi. Melewati banyak tempat yang membuatnya tak berhenti menatap kagum. Kerlap-kerlip lampu kota membuat pemandangan semakin indah. Sakura tak pernah melihat kota di malam hari. Sebab ia lebih memiliih berkutat belajar bersama bukunya ketimbang pergi keluar kalan-jalan.

Setelah merasa puas jalan-jalan, ia kemudian diantar pulang oleh Sasuke sampai depan gerbang rumah. Dan kini, Sakura sedang kebingungan harus mengucapkan banyak terima kasih atau tidak pada Sasuke karena telah mengajaknya jalan-jalan.

"Jadi…"

"Aku pulang." Sela Sasuke seraya berbalik.

"E-eh, tunggu…" Sakura menahan Sasuke. Ia meraih pergelangan tangan Sasuke dengan kedua tangannya hingga Sasuke kembali berbalik kearahnya. Sakura meringis kecil, bingung lagi rasanya untuk merangkai kata terima kasih dengan benar.

"Apa?" Tanya Sasuke mencoba untuk bersabar. Ia menunggu, dan mulai bosan karena Sakura tak juga bersuara. "Kalau kau tak ingin mengatakan sesuatu, aku pulang."

"Ti-tidak! Sa-sasuke… a-aku hanya... ingin mengucapkan terima kasih." Sahut Sakura cepat. Ia berdeham saat Sasuke menunjukkan raut wajah menunggu kelanjutan kalimatnya. "Terima kasih karena sudah membantuku membersihkan halaman belakang sekolah. Juga terima kasih karena sudah mengajakku jalan-jalan malam ini."

"Sudah? Hanya itu?"

"Kau juga sudah…" entah mengapa, Sakura ingin sekali mengulur waktu supaya Sasuke tetap berada disini bersamanya. "… sudah menyelamatkan ku dari Yahiko-senpai. Aku sangat berterima kasih soal itu."

Sasuke yang merasa Sakura ingin mengatakan sesuatu lagi, kembali bersabar. "Lalu?"

"Terima kasih karena kau sudah menjadi teman hukumanku selama seminggu ini. Kalau aku sendirian, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku kelak." Kata Sakura pelan. Ia menunduk, tak menemukan alasan lain lagi untuk mengulur waktu. Ia menghela napas. "Sudah, itu saja."

"Itu saja?" ulang Sasuke.

Sasuke mengambil satu langkah mendekati Sakura yang kemudian membuat Sakura mengambil satu langkah mundur meski itu sedikit. Sakura melirik Sasuke takut-takut. Dan hatinya mencelus melihat Sasuke sedang tersenyum padanya dengan jarak yang begitu dekat.

Rontoklah semua tulang Sakura.

"Kau yakin hanya itu saja?"

Sakura bergetar. Mendengar suara Sasuke yang seperti bisikan, yang nyatanya membuat napas Sakura sedikit tercekat di kerongkongannya. Di dorongnya Sasuke tapi tenaganya tak cukup untuk mendorong Sasuke menjauh, maka dari itu Sakura berkata, "Ce-cepatlah pulang. Kupikir daerah sini cukup rawan terhadap tindak kriminal." Dengan suara bergetar.

Sasuke tersenyum miring seraya menjauh. Ia bersedekap. "Rupanya kau benar-benar ingin menjadi mantan kekasihku, ya."

Sakura tak mejawab selain melirik ke arah lain.

"Baiklah." Kata Sasuke kemudian. Ia memandang Sakura yang masih saja menunduk dan tersenyum geli. "Aku pulang."

Sakura mendongak, dan mengangguk. Dilihatnya Sasuke yang berjalan menjauhinya kemudian, ia menghela napas pelan. Sakura berbalik, hendak membuka pagar.

Tetapi, tiba-tiba seseorang meraih tangannya yang bebas dan menariknya. Sakura tersentak kebelakang, berbalik arah. Dan dilihatnya Sasuke yang menjadi pelakunya. Sakura ingin bersuara, bertanya mengapa Sasuke kembali lagi. Tetapi suaranya tersendat setelah Sasuke memberinya kecupan singkat di pipi. Mata Sakura melebar seketika bersamaan dengan seluruh aliran darahnya yang seolah-olah terhenti.

"Terima kasih." Lirih Sasuke. Sakura beralih menatapnya dan tersihir.

Sasuke… menciumnya… dan berterima kasih?

Sakura mengerjap pelan ketika Sasuke tersenyum lembut padanya.

"Karena kau sudah mau menjadi kekasihku hari ini. Aku berterima kasih soal itu." Lanjutnya masih dengan suara yang pelan.

Sakura masih membeku. Ia hanya bekedip pelan meliat Sasuke menjauh darinya. Sakura juga hanya memejamkan mata saat Sasuke mengusap puncak kepalanya lembut. Sakura hanya mencoba untuk menikmatinya.

Karena besok, mereka sudah sepakat untuk tak saling mengenal lagi.

Mereka juga sepakat akan melupakan kejadian ini.

Sebab, kejadian sebenarnya mereka yang menjadi sepasang kekasih itu tidak seharusnya terjadi. Itu terjadi karena Sasuke yang memintanya dengan alasan yang tak Sakura ketahui.

"Aku pulang." Pamit Sasuke. Suaranya membuat Sakura membuka mata, dan mengangguk.

"Berhati-hatilah," sampai jumpa.

Sasuke tersenyum. Lelaki itu mengambil beberapa langkah mundur dan kemudian berbalik. Ia berjalan di jalan yang sepi, Sakura masih mengawasinya. Setelah itu Sasuke menghilang di belokan yang tak jauh dari rumahnya. Sakura berbalik kemudian masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang berbeda.

.

.

.

.

.


Setelah kejadian malam itu, Sakura menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia masih menjadi gadis kutu buku yang hobi nongkrong di perpustakaan, masih bersama Ino teman sebangkunya yang selalu membuatnya tersenyum karena tingkah lucunya, dan masih menjadi bagian siswi terpintar, juga masih memendam rasa pada Sasuke.

Sasuke….

Sakura tak pernah melihatnya lagi setelah kejadian malam itu. Sudah lebih dari satu minggu lelaki itu menghilang, meninggalkan kasak-kusuk penggemarnya yang diam-diam kian bertambah setiap harinya, dan kini menimbulkan banyak pertanyaan di kepala Sakura.

Kemana lelaki itu? Tidak mungkin lelaki itu membolos sampai lebih dari seminggu.

Sementara itu, para guru yang awalnya tak peduli dengan keberadaan Sasuke, akhirnya mulai mencarinya. Seluruh isi sekolah gempar berkasak-kusuk mencari Sasuke lewat lisan. Sudah berminggu-minggu saat itu, Sasuke tak kunjung muncul di sekolah. Dan jujur saja, Sakura mulai cemas. Apa yang terjadi pada Sasuke sampai laki-laki itu menghilang lama sekali?

Seminggu yang lalu, Sakura mendapati nama Sasuke berada di deretan paling bawah karena tak mengikuti ujian.

Seminggu yang lalu pula Sakura mendapati Yamato-sensei frustasi mencari-cari dimana Sasuke berada. Maka dari itu, tepat di bulan kedua hilangnya Sasuke, Sakura mencarinya sendiri. Sakura sudah benar-benar tak tahan karena Sasuke.

Jadi sepulang sekolah, Sakura pergi menuju tempat dimana ia pernah menuggu Naruto bersama Sasuke waktu itu. Sakura duduk di salah satu bangku, menunggu Naruto pulang dari sekolahnya. Tak berapa lama, ia menemukan sosok Naruto. Namun, apa yang Sakura tanyakan dengan apa yang Naruto jawab hampir sama dan terdengar bersamaan, "Kemana perginya Sasuke?"

Nihil. Saat itu mereka sedang berada di depan rumah Sasuke. Lebih tepatnya rumah kecil yang sepertinya tak pernah dikunjungi selama beberapa tahun. Tapi, Naruto yakin Sasuke pernah menunjukkan jika ia tinggal di rumah itu, pada saat bercerita dengan Naruto. Ketika bertanya pada tetangga sekitar, mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala jika tak pernah melihat ada seorang pemuda atau siapapun yang masuk maupun keluar dari rumah itu. Yang mereka tahu rumah itu sudah lama tak berpenghuni semenjak pemiliknya meninggal saat kecelakan kapal tujuh tahun yang lalu.

.

.

Saat itu langit sedang muram. Sakura menghela napas melihat awan kelabu berarak bersama angin. Mungkin ia tak perlu mencari keberadaan Sasuke. Mereka tak saling mengenal, 'kan? Kenapa pula Sakura mencarinya?

Sakura menunduk bertepatan saat itu buliran air mulai jatuh satu per satu dari langit. Sakura berbalik, berlari kecil. Hujan mulai turun dengan deras.

Setelah hari itu, Sakura tak lagi mencari Sasuke. Lelaki itu benar-benar hilang bak di telan bumi, tak ada yang tahu dimana keberadaan Sasuke bahkan sampai Sakura dan teman se-kelasnya naik ke bangku tiga dari sekolahnya. Sudah hampir empat bulan berlalu setelah Sakura berhenti mencari keberadaan Sasuke. Mereka bersenang-senang tanpa Sasuke. Mereka menikmati tawa dan senyum bersama-sama tanpa Sasuke. Seolah-olah nama Sasuke hanya angin yang pernah berhembus dan berlalu begitu saja.

Namun, suara kegembiraan mereka menjadi hening ketika Yamato-sensei menginterupsi dengan dehaman berat, pria setengah abad yang berdiri di depan kelas. Wajahnya terlihat sedang berduka, dan tanpa sadar membuat Sakura mengepalkan kedua tangannya saat melihat ekspresi Yamato-sensei.

Selama ini, pria itulah yang mencari-cari keberadaan Sasuke. Mungkin beliau akan memberikan kabar Sasuke untuk teman-teman sekelasnya.

"Mohon perhatiannya sebentar. Ada satu kabar untuk kalian. Namun sebelumnya…" suara Yamato-sensei tak lagi terdengar di telinga Sakura saat itu. Sakura sibuk mencari nama Sasuke yang keluar dari mulut Yamato-sensei. Sakura berharap Yamato-sensei menyebutkan nama Sasuke untuk memberi kabar tentang lelaki itu.

Lama Sakura menunggu, akhirnya ia mendengar nama Sasuke disebutkan oleh Yamato-sensei dengan nada tak rela.

"… teman kalian, Uchiha Sasuke, resmi dikeluarkan dua bulan yang lalu dari sekolah. Meskipun begitu…"

Sakura tak mengharapkan itu. Karena—

"… tetaplah ingat jika kalian pernah menjadi teman Sasuke walau nanti kalian tak lulus bersamanya."

—Sakura ingin Sasuke memakai toga yang sama dengannya. Juga karena—

"Terkait kabar yang ingin saya sampaikan tadi…"

—Sakura rindu Sasuke. Tidakkah mereka tahu bahwa mereka pernah menjadi sepasang kekasih dalam waktu hitungan jam?

"… bahwa…" Yamato-sensei menghela napas berat. "Mari kita doakan yang terbaik untuk dia…"

Sakura tak mendengar apa-apa lagi. Pandangannya menghitam, tubuhnya lemas. Sakura pingsan, dan ambruk di sebelah Ino. Seketika itu seluruh manusia yang ada disana riuh karena Sakura pingsan mengenai kabar mengejutkan itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

bersambung, ke Bagian II.


halo, hai. kuharap kalian tak lupa dengan fict ini *nyengir* chapter ini menceritakan khusus inti dari masa lalu bagaimana sasuke dan sakura bisa mengenal dekat satu sama lain dengan waktu singkat. Adakah dari kalian sudah bisa menembak alurnya kenapa sasuke menghilang begitu saja? tell me what you mind di kolom review, hehe.

see you!