©2015 Sehunorita
proudly present

DEEP BREATH
Aku menarik napas dan menemukanmu menjadi sebagian dari napasku

A HunHan fiction

Romance with lil-bit Hurt/Comfort | M Rated | Chaptered

STEP ONE

Luhan terbangun lebih pagi daripada seseorang yang tangannya tengah ia jadikan sandaran dan tangan lain memeluknya erat. Mendapati dada putih yang bidang dihadapannya, ia tersenyum tipis. Semalam ia benar–benar melakukannya, membuat seseorang bernama Sehun yang ia kenal karena mengemis itu berada dalam dirinya. Bahkan sekarang ia masih membiarkan milik pemuda itu tertanan dalam dirinya sejak semalam, setelah mereka melakukan kegiatan panas sampai terlelap karena lelah.

'Dia hot juga,' pikir Luhan mengingat malam panasanya. Memutar kembali ingatannya tentang kegiatan semalam. Semua yang dilakukan Sehun benar–benar di luar dugaannya, Sehun jauh lebih panas dari yang ia bayangkan.

Perlahan suara gumaman lirih terdengar dari Sehun, Luhan mendongak, menunggu yang ia peluk itu terbangun. Saat mata pemuda pucat dihadapannya perlahan terbuka, senyum pada bibir Luhan terlihat lebih jelas.

"Pagi," Luhan penyapa dengan tenang, mengacak rambut Sehun dengan jemarinya yang kurus. "Kau bisa memasak? Aku lapar, buatkan aku sarapan."

"Eoh?" Yang baru saja terbangun mengerjap bingung, nyawanya masih setengah terkumpul karena baru beberapa detik lalu ia sadar dari tidur lelap karena kelelahan.

"Aku lapar, buatkan aku sarapan," Luhan mengulang dengan nada lebih memerintah daripada yang sebelumnya.

Sehun menghembuskan napasnya lirih, "aku tidak bisa memasak, Lu."

"Tsk, payah," Luhan menarik tubuhnya menjauh, membiarkan dirinya yang menyatu dengan Sehun lepas begitu saja meski harus menggores sedikit rasa lecet pada dindingnya lalu segera beranjak berdiri. Ia meraih baju tidur miliknya yang sedikit kebesaran untuk ia gunakan, melangkah menuju dapur tanpa berkata apapun hanya dengan pakaian atas.

Yang ditinggalkan di kasur itu mengerjap bingung, memperhatikan punggung laki–laki yang sempit sampai menghilang setelah berbelok. Ia pun meraih baju dan celananya, menggunakannya lalu mencari keberadaan laki–laki yang semalam berada di bawahnya karena berpikir bahwa Luhan sebanarnya bermaksud agar dirinya mengikutinya.

Ia mendapati Luhan tengah membuat pancake untuk dua porsi. Dengan perlahan dipeluknya tubuh kurus itu, "kau bisa mengajariku memasak kalau kau ingin aku yang membuatkanmu makanan."

Yang dipeluk mendecak, ia menyingkirkan dengan kasar tangan Sehun. "Aku sudah menghubungi sebuah tempat kursus untuk memasak, juga latihan bela diri untukmu. Nanti salah seorang tangan kananku bernama Jongdae akan menjemputmu, mengantarmu ke tempat kurusus dan latihan. Aku tidak mau keberadaanmu merugikanku."

"Kenapa tidak membuangku saja kalau kau pikir aku merugikan?"

Luhan mengerling sebentar pada Sehun lalu tertawa. "Kau menarik, aku tidak ingin semudah itu melepasmu. Lagi pula aku belum melakukan apapun yang menunjukkan bahwa dirimu merugikanku."

Sehun terdiam, memikirkan bagaimana Luhan mengatakan dirinya menarik benar–benar membuatnya bergetar beberapa saat karena merasa begitu dibutuhkan. Namun, mengenal Luhan beberapa jam saja mampu membuat Sehun langsung paham beberapa bagaimana pemuda itu yang tergambar jelas pada dirinya. Ia keras, begitu kuat meski berdiri sendiri karena semua orang akan tunduk padanya hanya dengan menjentikkan jarinya lirih, layaknya dominan yang begitu berkuasa dan ditaktor yang ucapannya adalah absolut.

Ia mendengar semua percakapan penuh dengan suara rendah seorang Luhan lewat telepon. Semua—tidak benar–benar semua hanya saja sebagian besar dari percakapannya di telepon— yang ia katakan terdengar mengerikan, Sehun sampai sempat ketakutan saat pemuda itu mengajaknya berbaring di kasur. Hanya saja… dirinya sudah jatuh pada Luhan bahkan sejak ia melihat Luhan keluar dari supermarket dengan ekspresi kesal. Meski mengerikan, Sehun luluh juga karena hatinya percaya bahwa Luhan adalah orang baik.

Sehun menghembuskan napasnya sekali lagi, menyadari bahwa kepercayaannya dulu tentang cinta pada pandangan pertama itu bukan hal yang mungkin. Nyatanya sekarang dirinya sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, walaupun yang sudah membuatnya jatuh adalah pemuda mengerikan penuh dengan sifat kuat layaknya baja. Mungkin itu untuk sekarang, entah beberapa waktu nanti, hanya saja Sehun yakin bahwa perasaannya tidak akan berakhir begitu saja layaknya seorang yang lemah dan hanya mampu mengibarkan bendera putih.

Kembali tersadar karena suara batuk buatan Luhan, Sehun mengerjap dan menetralkan suaranya. "Kenapa harus bela diri?" Menyerukan pertanyaan yang membuatnya heran sedari tadi sambil mendongak pada pemuda yang tengah berdiri di sisi penggorengan.

Luhan membawa piring berisi makanan, lalu melepas celemeknya saat piring itu sudah di meja, mengantungkan celemeknya dan setelah itu duduk di bangku. Sehun ikut duduk begitu mendapat isyarat dari Luhan untuk menyusulnya, duduk dengan pancake yang biasanya hanya ia lihat lewat gambar di hadapannya. Tanpa sadar perutnya bergejolak dan menunjukkan panggilan untuk segera mengisi sebelum benar–benar meraung karena nafsu makannya tergoda. Makanan dihadapannya terlihat jauh lebih enak karena sekarang makanan itu bukan sekedar gambar, tapi juga bisa dimakan.

"Seberapa kuat pun aku menyembunyikanmu, mereka pasti akan segera menemukanmu. Mengajarimu bela diri terdengar masuk akal untuk menjagamu. Dan lagi, apa kau tipikal penakut?"

"Penakut?" Sehun menggeleng yakin, "aku tidak pernah takut. Bahkan beberapa kali aku bertengkar dengan preman yang ingin merebut makananku dan teman–temanku. Aku tahu itu tidak terdengar keren, tapi aku selalu berhasil melawan mereka dengan lebam tipis atau malah tanpa lebam sedikit pun."

"Wow," Luhan mengangkat satu alisnya angkuh, mengejek tanpa langsung apa yang Sehun katakan—karena baginya itu terdengar begitu konyol. "Sayang sekali, orang yang mungkin kau hadapi nanti jauh lebih hebat dari preman. Latihan yang tekun dalam bela diri, kau harus benar–benar kuat."

"Lalu, Lu, siapa yang kau maksud dengan mereka? Orang yang katamu sudah mengincarku."

"Orang–orang yang tidak menyukaiku," Luhan menggumam di sela–sela makannya, menjawab pertanyaan Sehun dengan tenang dan mengabaikan bagaimana ekspresi terkejut dari yang dihadapannya.

Akhirnya sejak saat itu tiap sore hari Sehun selalu latihan bela diri untuk memperkuat dirinya. Meski beberapa kali mengalami luka lebam karena pelatih bela diri yang mengajaknya berduel, Sehun tetap dengan tekun mengikuti latihan itu. Sejak ia tinggal dengan Luhan, ia merasa ia perlu membalas budi dengan cara melakukan apapun yang Luhan inginkan selama itu tidak berbahaya baginya—sejujurnya Sehun juga masih tidak benar–benar paham apakah membiarkan ia terkena lebam macam ini termasuk hal tidak berbahaya itu, tapi kalau di pikir lewat tujuannya mungkin ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Sudah sekitar dua bulan sejak Luhan memungut Sehun dari tempatnya bertemu di dekat supermarket beberapa waktu lampau untuk ia jadikan sebagian dari hidupnya, benar–benar sebagian dari hidupnya karena pemuda itu menjadi satu–satunya teman satu atapnya akhir–akhir ini. Sehun mampu melakukan yang Luhan inginkan dengan baik, ia pun berlatih dengan tekun tanpa membuat perasaan kecewa bagi Luhan. Beberapa kali Luhan mengajak Sehun melawan dirinya dan makin hari kekuatan pemuda itu makin kuat—Luhan berpikir Sehun makin kuat karena akhir–akhir ini Sehun jauh lebih sering membantingnya dibanding dirinya menjatuhkan tubuh pemuda itu. Sehun memiliki kelebihan tubuh tinggi dan lengan yang lebih kekar, Luhan pikir itu keuntungan kenapa Sehun dapat lebih kuat dan tentu mampu menjadi lebih kuat lagi.

Sementara itu dengan Sehun, dua bulan tinggal bersama Luhan tidak membuatnya menghasilkan sesuatu berharga, entah itu untuk dirinya sendiri atau orang lain—yang sebarnya ia pikir dirinya tidak benar–benar memiliki orang lain dalam hidupnya sejauh ini. ia masih tidak pernah benar–benar paham apa pekerjaan Luhan, berusaha keras sekali pun pemuda itu sangat misterius meski sudah beberapa kali ia telanjangi sampai ia tiduri. Pemuda itu terlihat bagaikan mafia karena semua yang ia katakan di telepon dengan seseorang terdengar menakutkan, tapi ia sering ditelepon untuk menandatangani berkas–berkas dan ada pertemuan serta meeting penting di hari–harinya, tidak lupa ia menggunakan pakaian rapi sebelum mengatakan pada Sehun bahwa dirinya akan berangkat bekerja. Apa itu berarti Luhan pekerja kantoran? Jawaban dari pertanyaan itu tidak pernah ia ketahui.

Beberapa kali Sehun berniat menanyakan apa pekerjaan Luhan hingga mampu mendapatkan begitu banyak uang sampai angka–angka itu menginjak digit yang tidak pernah ia bayangkan, namun tidak pernah ada kata yang ia keluarkan untuk memberikan yang ia tanyakan pada pemuda yang menurutnya keji itu. Semua hanya mampu ia kulum karena takut pemuda yang selalu ia kagumi itu merasa tersinggung—walaupun sebenarnya Sehun tidak tahu apa pemuda itu memiliki sisi yang akan membuatnya merasa disinggung atau tidak. Ia hanya mampu membuat kemungkinan–kemungkinan yang ada sebagai jawaban tanpa kebenaran yang pasti.

Luhan sendiri juga tidak pernah berniat memberi tahu apa yang akan dia kerjakan ketika pergi berangkat pagi—atau mungkin dia berpikir itu bukan hal yang penting untuk memberi tahu pada Sehun apa yang ia kerjakan. Ia terlihat terlalu sibuk dengan kegiatannya di luar rumah, apa yang ia kerjakan di rumah tidak pernah lebih dari menanyai perkembangan diri Sehun pada Jongin, tangan kanannya yang juga sudah menjadi akrab dengan Sehun akhir–akhir ini, juga menanyai pada Sehun sendiri. Ia sesekali akan menonton televisi jika berangkat sedikit siang, juga bermain game melawan Sehun semisal ia tengah bosan atau tidak bisa tidur di malam hari—di mana acara televisi sudah tidak bermutu menurutnya. Sisanya tentu ia habiskan di luar sana, bersama orang–orang kenalannya—entah yang benar–benar dikenal atau sekedar kenal biasa— atau melakukan lembur untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore dengan warna jingga menggantung di langit mengihiasi pergantian waktu. Luhan baru saja tiba di apartemennya dengan hati penuh rasa dongkol.

"Sehun!" Suara teriakkan setelah bantingan kasar pintu membuat Sehun secara reflek loncat dari kasur, ia dengan langkah cepat menghampiri pemuda yang memanggilnya.

Menyadari bahwa Luhan muncul dengan kondisi berantakan, mata sayu layaknya orang mengantuk bercampur kelelahan, Sehun membuat kesimpulan bahwa pemuda itu ada sedikit masalah dengan pekerjaannya, sedikit mirip dengan beberapa hari lalu. Pemuda itu pernah pulang dengan kondisi berantakan—jauh lebih berantakan dari dari pada kali ini malah. "Ada apa, Lu?" Ia bertanya, memusatkan perhatiannya pada yang melangkah sempoyongan setelah menendang lepas sepatunya. Sehun setengah khawatir melihat pemuda kesayangannya itu terlihat hampir jatuh jika saja tadi ia tidak menangkapnya.

Luhan mengibaskan tangannya, menyuruh Sehun menyingkir dari hadapannya karena menghalangi jalan meski sudah baru saja menangkapnya lalu kembali melanjutkan langkah menuju sofa setelah Sehun bergeser beberapa langkah ke kiri. Sehun berdiri di sebelah sofa Luhan, membungkuk dan melepaskan kaos kaki hitam yang Luhan kenakan. Ia setelah itu meraih simpul dasi yang membuat dasi itu melingkar pada leher pemuda yang berbaring, melonggorkannya agar napasnya sedikit lega—terbukti dengan hembusan napas lebih tenang dari Luhan setelah itu.

"Ingin sesuatu?" Sehun bertanya setelah selesai, merapikan rambut yang berbaring di sofa dengan jemarinya. Sudut bibirnya terangkat senang melihat pemuda yang berbaring terlihat begitu manis—ia akan dengan puas meneriakkan kata manis dalam hati karena pemuda itu tidak suka kata–kata yang sedikit feminim ditujukan untuknya.

"Coklat hangat dengan kau telanjang atas atau total mungkin tidak buruk untuk otakku yang mendidih."

Sehun tersenyum lebih lebar, mengecup kening Luhan yang setelah itu beranjak menuju dapur untuk membuatkan pesanan pertama Luhan, coklat hangat.

Ia kembali dengan membawa satu cup minuman berisi coklat hangat—benar–benar hangat karena Sehun tahu apa yang setelah itu akan terjadi pada coklat itu jika panas, hal itu hanya akan membawanya ke dalam bahaya, meski bukan bahaya mengerikan baginya itu tetap harus dihindari. Mendapati Luhan tengah memejamkan mata, cup di tangannya pun diletakkan di meja lalu begitu tangannya sudah kosong satu lengannya ia angkat, ia gunakan tangannya untuk membangunkan pemuda itu.

Merasakan guncangan kecil pada tubuhnya, Luhan membuka matanya, mengerjap untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya beberapa saat sebelum setelah itu membawa tubuhnya untuk duduk. Ia menarik pelan baju Sehun, secara gamblang meminta pemuda itu untuk melepas bajunya. Menyadari bahwa ia melupakan pesanan kedua Luhan, dengan cekatan ia membuka seluruh pakaiannya.

Luhan perlahan menyiram sedikit demi sedikit tubuh kurus Sehun dengan coklat hangat, menyesap minuman yang mengalir ke bawah pada kulit putih tubuh itu dengan beberapa jilatan dan gigitan yang membuat Sehun mengerang lirih. Luhan selalu begitu jika tengah kesal atau kelelahan, menggunakan tubuh Sehun dan menyiram kulit putih itu sebagai tempatnya meminum minuman kesukaannya. Tidak ada rasa keberatan pada diri Sehun, ia justru menikmati bagaimana pemuda itu memberikan hembusan napas panas di tiap inchi tubuhnya meski hanya untuk melepaskan emosi.

Sehun meringis lirih saat merasakan gigi Luhan mengigit lengannya terlalu kuat. Menyadari bahwa setelah ini bercak–bercak merah dari pemuda yang menciumi tubuhnya akan makin banyak karena bekas beberapa hari lalu masih belum menghilang Sehun menghela napas.

"Seseorang sudah mengincarmu," Luhan bergumam, tangannya berhenti menuangkan coklatnya. Ia mendongak, menatap Sehun dengan tatapan tenang namun jelas sekali siap membunuh saking tajamnya.

Sehun tidak takut, ia justru tidak mengerti dan mengerjapkan matanya bingung. "Mengincar apa?"

"Mengincarmu… bukan karena mereka menginginkanmu, tapi mereka ingin menyakitiku."

"Kenapa aku yang diincar kalau yang ingin mereka sakiti itu kau?" Ia makin tidak memahami tentang apa yang Luhan bicarakan.

Luhan mendesah, menunjukkan ekspresi jelas gusar namun bukan pada Sehun karena matanya yang berkilat tajam dengan tatapan lurus ke depan. "Karena kau tinggal bersamaku, tentu saja!" Suaranya naik beberapa oktaf, kilatan matanya terlihat begitu tajam sampai rasanya sedikit neuron Sehun tergores.

Sehun mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang dinyatakan Luhan. "Kenapa begitu? Memang siapa yang mengincarmu?"

"Musuhku," desahan keras itu lolos dengan bibir yang digigit kuat, ia melempar cup di tangannya ke meja hingga membuat isinya tumpah. "Mereka ingin menghancurkanku lewat dirimu."

Saat otaknya mulai memahami apa yang Luhan maksud, Sehun mengikat tatapannya pada mata rusa yang selalu ia kagumi itu. "Dan apa kalau mereka sudah berhasil mendapatkanku kau hancur?"

Luhan tertawa—kali ini dengan tawa seperti ejekan, "yang benar saja? Tentu tidak."

"O–oh," Sehun tercekat, ia tertohok atas apa yang Luhan katakan. Meski tidak benar–benar memahami apa yang sedari tadi dikatakan Luhan, pernyataan tentang Luhan tidak akan merasa hancur jika musuhnya berniat menghancurkan dirinya lewat Sehun itu tetap terdengar menyakitkan. "Tapi Lu… apa pekerjaanmu? Kenapa kau sampai memiliki musuh yang ingin menghancurkanmu? Kenapa ketika di telepon kau beberapa kali membicarakan tentang menyelakai orang atau membunuh—"

"Apa kau menguping?" Luhan menatap gusar, kali ini kilatan itu jelas ditujukan untuk Sehun. "Apa kau selalu mendengarkan semua hal yang aku bicarakan dengan orang di seberang telepon?"

"T–tidak," Sehun menggeleng, giginya mengigit bibir bawahnya dengan gugup. "Bukan berarti aku selalu… aku hanya pernah mendengar beberapa kali, itu pun karena tidak sengaja."

"Aku tidak percaya," yang masih berpakaian lengkap itu melepas dasinya, melilit dasi bergarisnya di tangannya dengan cukup kecang. Ia meraup, menciumi bibir pemuda di hadapannya, menghisapnya kasar sampai beberapa kali memberi gigitan untuk meninggalkan bekas membengkak pada bibir tipis itu. "Kau tahu? Kau tidak sopan, Oh Sehun. Kau melewati batasanmu dan sekarang aku marah, aku akan memberi peringatan untuk kali ini."

Luhan selalu terdengar mengerikan, tapi Sehun tidak pernah sekalipun bergetar karena pemuda itu. Tidak pernah… karena tiap mereka melakukan kegiatan 'melemahkan' seseorang, Sehun selalu berada di atas, hal itu yang membuat dirinya tidak pernah merasa kalah meski seorang Luhan jauh lebih kuat darinya. Sehun tidak tahu bagaimana bisa ia selalu menjadi yang di atas, entah karena kekuatannya yang sebenarnya jauh di atas Luhan atau karena Luhan memang menyerahkan dirinya untuk berada di bawah.

"Maaf, Lu, tapi aku benar–benar tidak sengaja," Sehun menggumam, mengucapkan kata maaf dan penjelasannya dengan cara yang tidak menunjukkan rasa bersalah dari sisi manapun. Sehun memang penurut, segala yang Luhan katakan akan diturutinya, tapi tetap saja ada sisi di mana Sehun menjadi sangat sangat menyebalkan dengan caranya berbicara yang selalu angkuh plus ekspresi tenangnya. Luhan menyukainya, juga karena ia merasa ditantang lewat cara angkuh seorang Oh Sehun.

Luhan terpancing, emosinya terbawa ke puncak entah karena apa. Bukan benar–benar karena jawaban menyebalkan Sehun, ia hanya merasa terlalu kesal dan sangat ingin meluapkan emosinya. Maka tangannya yang tadi sudah ia lilit dengan dasi itu pun ia bawa untuk bergerak, mengepalkannya kuat–kuat, mengangkatnya tinggi, dan setelah itu mengayunkannya dengan segala tenaga yang ia miliki untuk melukai Sehun.

Yang terkena pukulan mengerang, namun pukulan itu tidak benar–benar menyakitinya. Pukulan itu hanya mendorongnya hingga terjatuh dengan kuat dan sedikit tekanan pada sisi bahu kanannya. Sehun mengelus bahunya, menatap pemuda yang kini sudah menduduki perutnya dan siap mengayunkan tangannya lagi. Tidak ada niat melawan, satu–satunya yang ia inginkan hanyalah membiarkan pemuda itu menyakitinya dan setelah ia puas ia putar posisi untuk menindihnya. Mengganti pemimpin permainan dan memberi tahu pada pemuda itu bahwa dirinya masih akan baik–baik saja meski terkena luka lebam yang jika ditekan bisa menimbulkan rasa sakit.

Sama seperti yang sudah Sehun pikirkan, mereka berakhir di ranjang setelah Luhan sibuk memukuli Sehun, ditambah dengan tangannya yang diperkokoh menggunakan dasinya tadi. Sehun saat itu diam, membiarkan tangan kecil yang kuat milik Luhan meninggalkan beberapa bekas pada kulitnya. Tidak benar–benar sakit, dirinya sudah sering mendapat pukulan sampai berdarah–darah dan kesulitan bergerak di jalanan dulu. Pukulan meninggalkan lebam tipis tentu tidak menghasilkan apa–apa bagi Sehun meski ia sendiri yakin luka itu nanti akan membuatnya sedikit sulit menggerakkan bagian berluka lebam itu.

Sebenarnya Sehun tidak memahami alurnya, bagaimana bisa Luhan memukulinya lalu setelah itu menyerahkan tubuhnya untu dimasuki? Bukankah seharusnya Luhan membawa dirinya menjadi berada di bawah lalu memasukinya dengan kasar? Tidak ada yang benar–benar Sehun pahami dari Luhan, meski sudah melihat seluruh tubuh pemuda itu, mengetahui bagaimana dalamnya ternyata begitu sulit.

Pagi baru saja tiba, matahari menunjukkan semburat kemerahan yang malu–malu. Luhan terbangun karena ponselnya bergerat, alarm. Sementara saat ia mendongak, berniat mengelus pipi pemuda yang sejak semalam memeluknya sampai tertidur, sepasang telaga coklat cerah mengunci pergerakan matanya. Luhan tertawa kecil, melanjutkan tangannya untuk menyentuh Sehun yang sudah memberinya senyuman hangat di pagi hari yang lumayan dingin.

"Kau biru," Luhan bersuara tanpa ada nada bersalah di sana, ia hanya menekan–tekan pelan kulit Sehun yang membiru dengan ibu jarinya. Mengecupi ringan lalu menarik sudut bibir sebentar. "Salahku. Kompres wajahmu, juga yang biru lainnya. Kau tentu bisa mengurus dirimu sendiri, 'kan?"

Yang disebut biru itu menggeleng, meringis pelan saat tanpa sengaja pembuat lebam itu menekan sudut bibirnya yang dirobek dengan gigi semalam. Ia masih dapat merasakan rasa zat besi dari sana, juga bau anyir yang menganggu hidungnya. "Kau harusnya mengurusku," pemuda itu menahan tangan Luhan, mengecupi ujung jari–jarinya dengan lembut lalu mengecup kening Luhan.

"Aku tidak suka ide itu," ia menggeleng, mendengus saat menyadari bahwa ia tengah diperlakukan layaknya uke–uke manis di luar sana. "Menyingkirlah, aku juga tidak suka dikecup macam itu."

"Banyak yang tidak kau suka, Lu. Kau manis," Sehun seolah menggumam karena suaranya yang keluar hanya lirih. Tangannya ia gunakan untuk mengelus rambut Luhan, merapikan tatanannya yang tidak beraturan pada surai lembut itu. "Bisakah kau tidak menjadi kasar padaku? Hanya padaku."

"Memang kau siapa?" Dengan kasar Luhan menghentakkan tangan Sehun, menyingkirkannya agar tidak menyentuh sisi mana pun tubuhnya lagi—terbukti dari Sehun yang ingin meraih kembali pinggang Luhan, namun yang mau diraih itu mendorong kasar tubuh Sehun.

Sehun menyerah, menghembuskan napasnya karena sudah ditolak dengan kasar oleh Luhan—sebenarnya Sehun sendiri ragu apa dirinya pernah ditolak dengan manis oleh Luhan. "Memangnya aku harus menjadi 'siapa' agar mendapat perlakuan manismu, ya?"

"Tidak," lagi–lagi ia menggeleng lalu melanjutkannya dengan kekehan remeh, "tapi aku tidak suka melakukan sesuatu untuk seseorang yang tidak menguntungkanku."

"Apa aku tidak menguntungkanmu, Lu?"

"Apa kau merasa kau sudah menguntungkanku, Hun?"

"Kau selalu memutar pertanyaan, kau menghindari pertanyaanku. Apa kau pikir semua pertanyaanku itu pertanyaan retoris?"

"Kau selalu ingin tahu lewat bertanya, aku hanya tidak ingin menjawab. Memang kau pikir aku anak sekolah dasar yang akan menjawab semuanya dengan gamblang?"

Sehun menghela napas, membuang emosinya karena malas beragumen dengan Luhan, pemuda dihadapannya jauh lebih dulu melihat matahari, tentu pemuda itu pasti lebih cerdas tentang hal semacam itu. Setidaknya dia harus mengalah untuk menjaga hati masing–masing pihak, tidak boleh ada adu mulut atau akan berakhir dengan luka gores. "Baiklah, Lu. Maaf, aku memang selalu membuatmu kesal dengan bertanya ini itu. Maaf."

"Bukan masalah," Luhan mengangkat bahunya cuek, "tapi aku berubah pikiran. Tidak perlu mengobati birumu itu, segera buatkan aku makanan untuk sarapan, aku sudah lapar."

Selalu begitu, seorang dominan yang kuat namun lemah jika sudah ada yang mendorongnya ke kasur dan membuatnya berada di bawah. Sehun tidak benar–benar sering membuat si dominan yang kuat itu menjadi lemah, ia cukup sadar diri bahwa seorang dominan hanya akan menyerah jika ia ingin mengalah. Namun, memang ada kepuasan tersendiri baginya jika sudah mampu meluluhkan seorang dominan di atas ranjang.

"Kau benar–benar rumit," tersenyum, membawa kepalanya setengah menunduk untuk mengecup kening yang lebih mungil darinya, tubuh mungil yang hanya saja memiliki beribu kekuatan mengejutkan di dalamnya. "Tunggu di sini, aku akan membuatkanmu satu mangkuk bubur seperti yang selalu kau inginkan beberapa hari terakhir ini."

Kelas memasak yang diikutinya mengjarkan beberapa masakan sederhana yang disukai Luhan—namun menurut Sehun dibanding kelas memasak itu lebih seperti belajar memasak pada koki kesayangan Luhan. Sejujurnya Sehun bertanya–tanya kenapa seorang pemuda yang pintar memasak seperti Luhan meminta orang yang payah soal urusan kompor menjadi seseorang yang membuatkannya makan, tapi kesibukan Luhan pun memjawab semua pertanyaannya.

Sehun selesai memasak, membawa mangkuk berisi bubur dengan beberapa potong sayur serta daging ayam ke kamar dan menemukan Luhan yang ternyata tidak ada di kasur, namun terdengar suara pancuran air dari dalam kamar mandi, tentu itu membuat Sehun langsung paham bahwa Luhan tengah membersihkan tubuhnya di dalam sana. Ia pun duduk di tepi kasur, meletakkan mangkuk itu ke meja nakas sekalian menunggu yang di kamar mandi selesai.

"Sudah? Suapi aku," ujar Luhan begitu keluar dengan tubuh hanya terbungkus bathrobe warna biru muda, rambut setengah basa, dan aroma laki–laki kuat yang manis. Yang baru keluar itu melangkah menuju lemari, memilih satu dari beberapa pasang jas yang menggantung dengan kemeja putih yang sudah ia lempar ke kasur—kemeja itu adalah kemeja yang akan ia kenakan.

Sehun hanya mengangguk, ia lalu menghampiri Luhan sambil membawa mangkuk berisi bubur. Mengangkat satu sendok berisi buburnya ke mulut Luhan, menyuapi pemuda yang kini tengah menggunakan pakaian dalamnya.

"Kau kurang bumbu," gumaman lirih Luhan lontarkan saat merasakan bubur buatan Sehun. Ia mengerling sebentar sambil menunjukkan seringaian mengejek, "kau selalu saja payah."

Sehun mengerjap, tangannya reflek membawa satu suapan untuk ia rasakan karena baru saja disebut payah akibat kurangnya bumbu, bermaksud mencicipi bagian mana yang salah dan apa yang kurang. Tidak ada yang salah, pikir Sehun. "Aku tidak mengerti, mana yang kurang? Rasanya tidak buruk."

"Kau tidak peka," Luhan menggerakkan tangannya, bermaksud menjauhkan Sehun agar tidak lagi menyuapinya. "Aku tidak suka yang tidak pas. Aku bisa makan nanti saja."

Sehun menggeleng tegas, menatap yang lebih kecil darinya itu dengan tatapan melarang. "Kau harus makan, kau bisa sakit kalau tidak segera menghabiskan makananmu."

"Aku bisa makan nanti," sambil mengancingkan kancing atas jasnya, Luhan melangkah ke luar. "Jangan menungguku pulang, tapi kau tetap harus siap kapan pun aku pulang."

Sehun memutar bola matanya, ia menghembuskan napasnya pelan menyadari pernyataan egois dari Luhan yang hampir ia katakan tiap hari sebelum pergi bekerja—yang selalu Sehun pertanyakan di mana pemuda itu bekerja.

Tiap Luhan sudah berangkat bekerja, biasanya sekitar dua jam setelah itu Jongin akan datang dan menemaninya bermain game. Ia terkadang merasa seperti anak kecil dengan Jongin sebagai baby sitter-nya, tapi ia tahu bahwa sebenarnya tujuan Jongin di rumah Luhan adalah untuk mengamankan kondisi apartemen itu karena pekerjaannya memang semacam agen yang berhubungan dengan keamanan penyewanya. Sehun tahu, ia beberapa kali memaksa Jongin mengatakan apa tujuannya menemaninya—Sehun pikir awalnya karena Luhan mencurigainya— dan jawaban itu ia dapatkan baru beberapa hari lalu. Jawaban tentang apa pekerjaan Jongin membuat Sehun menyimpulkan bahwa Luhan berarti bukan orang biasa, ia adalah orang yang begitu berkuasa dan banyak yang ingin menghancurkannya sampai–sampai apartemen yang seharusnya bersifat pribadi itu perlu diamankan.

Sehun sempat bertanya–tanya apa guna dirinya bagi Luhan setelah mengetahui pekerjaan Jongin itu lebih dari seorang penjaga rumah serta sopir antar–jemput. Dirinya bukan orang penting, hanya seseorang yang dipungut dari jalanan karena berniat membantu Luhan dan mendapatkan beberapa receh untuknya membeli makan, kemungkinan yang ia dapat adalah dirinya dipungut untuk menjadi pemuas nafsu Luhan. Namun, Jongin tertawa atas pemikirannya, ia mengatakan bahwa Luhan bukan seseorang yang gila akan seks, satu–satunya kemungkinan yang benar–benar mungkin itu karena Luhan ingin memiliki peliharaan yang berguna.

Tidak mengerti makna dari peliharaan yang Jongin katakan, Sehun menyimpulkannya sebagai Luhan yang ingin memiliki teman macam kucing atau anjing lucu yang dipelihara orang–orang di luar sana. Dan ya, dirinya memang merasa gunanya hanya sebagai anjing peliharaan, dilatih untuk bela diri jelas alasan utama kenapa Sehun berpikir begitu. Merasa dirinya dilatih untuk menjadi anjing–anjing di kepolisian yang melacak keberadaan musuh serta membantu melawan musuh.

"Sudahlah," Sehun menghembuskan napasnya, beberapa hari ini memang hal itu–itu saja yang ia pikirkan. Bagaimana Luhan memperlakukannya itu rumit, dirinya sampai tidak paham. Luhan bersikap dengan cara yang lembut, namun bisa tiba–tiba menjadi begitu kasar. Aneh, pikir Sehun.

"Jangan terus memikirkan apa gunanya dirimu," suara seseorang menginterupsi.

Sehun menoleh, mendapati pemuda dengan kulit lebih gelap darinya tengah berdiri di ambang pintu. "Gunanya diriku?" Sehun bertanya, berpura–pura bodoh.

"Jangan memberi ekspresi aku–tidak–mengerti–apa–yang–kau–bicarakan padaku, wajahmu jelas menunjukkan bahwa kau mempertanyakan tentang dirimu."

"Memang kau siapa bisa menebak macam itu?"

Jongin—orang yang di ambang pintu— melangkah menghampiri Sehun, ia duduk di kursi di hadapannya. "Aku tidak menebak, itu tertulis jelas di jidatmu. Kau menanyakan apa gunanya dirimu, benar? Jawabannya… tidak akan tertemukan. Beberapa orang dulu juga sama sepertimu, dipunggut, dan aku tidak benar–benar mengerti apa tujuannya melakukan itu selain untuk sebagai peliharaan atau umpan untuk musuh–musuhnya. Tidak ada niat apapun."

"Kau mengatakan itu seolah Luhan tidak memiliki hati kecuali untuk dirinya sendiri."

"Percayalah, bahkan untuk dirinya sendiri pun Luhan tidak benar–benar memiliki itu."

.

Luhan melangkahkan kakinya menyusuri lorong, tujuannya hanya untuk menemui seseorang yang sudah ia hubungi tadi malam. Saat tangannya sudah mendorong daun pintu untuk masuk, ia disambut dengan aroma apel khas ruangan yang memang sudah sering ia datangi.

"Luhan, itu kau?" Suara berat seseorang menyambut Luhan yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

Yang baru masuk itu menemukan pemuda lain dengan kemeja putih tengah duduk dan beberapa berkas dihadapannya. Ia tersenyum tenang, menunjukkan senyuman tipis namun tidak terlihat palsu. "Kau menunggu kedatanganku, Kris-ah?"

"Tidak juga," Kris–menyeringai tipis. "Aku pikir hanya seorang Lu Han yang akan menghampiriku secara berani tanpa melalui salah satu tangan kananku."

Luhan tertawa, ia lalu melangkah menuju bangku di depan Kris setelah yang duduk itu mengial mempersilakannya duduk.

"Jadi, bagaimana?" Tanya Kris saat fokusnya sudah berganti dari berkasnya menjadi pemuda di hadapannya.

Yang ditanyai menghembuskan napas pelan, "harusnya aku yang bertanya, Kris. Kau yang memberi tahuku kalau ada yang mengincar Sehun."

"Oh, kau benar. Hanya saja… bukan itu yang aku tanyakan, aku bertanya tentang rencanamu. Aku dengar kau sangat baik dalam menyusun rencana."

"Entah— aku tidak berpikir untuk membuang Sehun kembali ke jalanan semacam Sehun–Sehun yang sebelumnya. Aku mau mengurusnya, bukan apa–apa, aku hanya merasa aku memiliki sesuatu yang berpanguruh tentang dirinya dan diriku. Toh, dia juga terlihat cerdas, lebih berguna dari pada yang sebelum–sebelumnya. Mungkin ia bisa menjadi salah satu tangan kanan kepercayaanku setelah Jongin dan Jongdae."

Kris mengangguk, "aku juga berpikir ia cerdas."

Luhan tertawa, "darimana kau tahu?"

"Tertulis jelas pada wajahnya, aku melihat caranya melawan pelatih bela dirinya juga sangat baik. Mungkin kau bisa menggunakannya untuk membantumu mengerjakan pekerjaanmu yang sering memaksamu untuk pulang larut. Kau tentu tidak suka pulang larut, kan? Sekarang sainganmu makin berat, Luhan. Aku adalah 'peneliti', kau tentu paham apa yang aku kerjakan, 'kan? Sekarang aku tanya sekali lagi, apa rencanamu?"

"Aku sebenarnya tidak punya," pemuda itu tertawa hambar, memainkan ponselnya untuk mengecek pemberitahuan yang masuk lewat e–mail-nya. "Tapi aku rasa membiarkan mereka yang sudah merencanakan sesuatu padaku—atau pada Sehun— dan berpura–pura tidak tahu apa rencana mereka akan menyenangkan. Aku akan melawan mereka jika mereka sudah menjalankan rencana pertama, tidak terdengar buru, 'kan? Kita lihat sejauh mana keberanian dan kekuatan yang mereka miliki."

"Wah," Kris mengangguk, tersenyum puas dengan kekehan setelah itu. "Tidak terdengar buruk. Selama ini kita memang selalu menghalangi, mungkin melihat kekuatan mereka itu baik juga untuk semakin memperkokoh kita."

Luhan keluar dari ruangan itu, ia melewati lagi lorong yang ia leawati tadi dengan langkah tenang. Saat sudah berada di ujung lorong untuk menuju lift Luhan menemukan pemuda lain, ia memberi senyuman karena ia berpikir itu salah satu pekerja di kantor Kris yang lalu langsung melangkah melanjutkan jalannya menuju lift.

.

.

.

To Be Continued


Waah! 4,5K untuk satu chapter ini! Aaaah, aku bener–bener terkejut sama kemampuanku sendiri. Awal cerita 2K dan berakhir jadi 4,5K ahahaha. Maaf untuk yang minta chapter pertama 6K, aku bener–bener bukan seorang pro dalam membuat fiksi panjang, rasanya greget maunya cepet selesai dan segera di posting, lol. Aku harap 4,5K ini nggak mengecewakan karena aku juga udah berusaha mengembangkannya. Ini aku buat dengan banyak kali edit, aku harap enggak ada typo atau kata–kata yang terhapus atau belum terhapus karena mataku malasss bertemu dengan komputer akhir–akhir ini, jadiii yaaa sedikit kurang teliti.

Omong–omong, aku sudah memutuskan apa pekerjaan Luhan :3 masih aku buat rahasia, tapi sepertinya kalian udah paham dengan apa pekerjaan Luhan karena aku cukup gamblang gambarinnya XD

20 komentar, lumayan banyak untuk fiksi abalku ini. Mereka bilang ideku cukup cerdas, tapi serius, secerdas apapun ide itu kalau disampaikan dengan buruk pasti akan berakhir buruk juga. Pun dengan ini, aku pikir fiksiku ini masih kurang menantang karena aku buat dengan terlalu bertele tele—iya enggak sih?

Yasudah, segini saja. Aku terima saran loh! Maaf nggak bisa balas komentar kalian satu persatu, tapi aku selalu baca kok komentar kalian kok dan selalu usahain jawab pertanyaan atau saran yang masuk beberapa yang sekiranya emang perlu kujawab. Aku harap kalian masih mau meninggalkan komentar di kolom review.

Okay,
review please?