They Said, He's Worst


"Han Dongjun?"

"Hadir!"

"Kim Yunhee?"

"Hadir!"

"Park Chanyeol?"

"Hadir!"

Sahutan pelan itu menyentak Baekhyun dalam lamunan, dia menoleh sedang sipitnya mengerjab memperhatikan anak laki-laki yang menempatkan dirinya duduk di sampingnya tiba-tiba.

Park Chanyeol.

Diam-diam Baekhyun mengulang dalam hati. Matanya berpendar jatuh pada nama pengenal pada dada—memastikan sekali lagi jika nama itu benar pemilik lelaki yang menjadi teman sebangkunya.

Mata anak itu anjing mengerjab lagi, sekali dua kali dan dia tak sadar ketika rahangnya terbuka dengan ekspresi konyol menatapi sisian wajah lelaki berambut ikal itu.

Dia tampan… Baekhyun berguman dalam hati. Wajahnya tiba-tiba saja terasa panas tanpa alasan dan Baekhyun memalu akan dirinya sendiri.

Merasa diperhatikan, Chanyeol menoleh pada Baekhyun. Bulatnya berpendar datar namun nyatanya itu terlihat dingin bagi Baekhyun. Si pemilik rambut kelam itu tersentak luar biasa, matanya melebar dan dia lekas menunduk menyembunyikan kontak matanya dengan Chanyeol.

"Apa?" suara serak berat itu pun serupa akan raut wajahnya terlontar pada Baekhyun. Siswa dengan nama lengkap Byun Baekhyun itu cepat-cepat menggeleng, sedang wajah kian terasa panas disana.

Chanyeol melihat itu dengan decakan tanpa mampu menahan kata dari mulutnya pula, "dasar aneh," si tinggi itu menggeleng tak acuh dan kembali membawa pandangannya pada depan kelas.

Jantung Baekhyun berdebar tanpa mampu Baekhyun cegah. Diam-diam, sipitnya mencuri lirikkan sekali lagi pada Chanyeol sedang tangan meremas kain seragamnya seolah itu mampu menahan debaran yang kian menggila.

Memang aneh.

Chanyeol menerima tablet yang Sehun anggurkan padanya dengan bingung. Dia menatap layar datar itu sekali kemudian beralih pada Sehun di depannya.

"Itu jadwal Presdir," Sehun menjelaskan.

Chanyeol berguman paham dan mulai mempelajari jadwal Bosnya hari itu. Sebagian besar adalah pertemuan satu dan pertemuan yang lain. Berpindah pada tempat satu ke tempat yang lain.

"Presdir juga meminta agar kau tinggal bersamanya mulai hari ini." Sehun menyambung lagi dengan nada tak suka.

Ujaran itu menarik perhatian Chanyeol dari layar sedang keningnya lagi berkerut bingung. Tak ada yang memberitau Chanyeol jika pekerjaannya tetap berlangsung bahkan ketika urusan perkantoran telah usai. Namun pikirnya itu menjadi hal yang wajar dengan pekerjaannya sebagai pengawal pemilik perusahaan dimana dia bekerja dan dia urung untuk bertanya jauh.

"Saya mengerti," angguk Chanyeol akhirnya.

Sehun berlalu pergi dari sana, menuju ruangan milik Baekhyun dengan perasaan tak suka yang masih menggorogotinya sejak semalam.

Nama: Park Chanyeol

Usia: 28 tahun

Status: Menikah

Sepasang sipit itu sontak berhenti pada satu kalimat yang tertera di atas layar tablet di tangannya. Ujung jemarinya mengetuk sisian alat canggih itu dengan raut datar menatapinya dalam diam.

Dia sudah menikah.

Baekhyun membatin dalam dirinya sendiri.

Pasangan: Han Woori

Usia: 28 tahun

Sudut bibirnya tiba-tiba tertarik miring membaca nama yang tertera sebagai pasangan Chanyeol itu.

Mereka sudah menikah ternyata.

Sekali lagi senyum miring tersungging pada sudut bibir sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya.

Anak: Park Deokjun

Bahkan sudah memiliki anak juga.

Usia: 7 tahun

Baekhyun menahan tawa yang nyaris meledak. Chanyeol pasti memiliki kisah cinta tak ubahnya akan drama. Menikah muda dengan seorang anak berumur 7 tahun yang mereka miliki sebagai buah pernikahan itu.

Menarik adalah kesimpulan yang Baekhyun gumamkan sebelum layar tablet itu menggelap setelah dia matikan. Punggungnya bergerak pelan mengubah posisi bersandar pada kursi kebesaran miliknya lalu memutarnya sekali menghadap dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan atas kota di luar sana.

Satu dekade lebih telah terlewati begitu saja. Sudah lama sekali dan Baekhyun tak pernah berpikir jika akhirnya suatu hari ingatannya dipaksa berputar kembali dan konyolnya Baekhyun bahkan tak ingin mencegah dan membiarkan semua itu mengalir begitu saja seperti embun menetesi dedaunan.

Semuanya terasa dingin.

Rahang Baekhyun menegang sedang sipitnya tajam menatap pada pria setengah baya yang duduk berhadapan dengannya itu. Kepala botaknya seolah berkilap dipantulkan oleh cahaya lampu yang berada di langit-langit ruangan.

"Jadi Presdir Byun, ayo kita membuat semua ini menjadi lebih mudah." Kim Chul Ho berkata lagi. Sudut matanya melirik Baekhyun dengan tangan bergerak perlahan memotong steak di atas piringnya. Satu potongan kecil dia bawa di atas piring Baekhyun dengan senyum separuh yang membuat Baekhyun hendak muntah di atas mejanya.

"Aku akan memberikan penawaran 30% asal kau datang menemuiku malam ini," ujung garpunya mengetuk piring dengan pelan, menghasilkan dentingan kecil memecah sunyi ruangan itu. "Bagaimana?"

Baekhyun tak segera memberikan tanggapan. Gelas tinggi miliknya dia ambil dan menatap gelombang kecil dari dalam wadah itu penuh minat. Warnanya merah dengan perpaduan ungu bersama aroma pahit terkecapi samar ketika lidahnya bersentuhan lembut dengan cairan anggur itu.

"Kudengar perusahaan Anda mengalami kemorosotan sejak tahun lalu," Baekhyun meletakkan gelasnya dengan anggun. Pandangannya dia alihkan pada pria tua di depannya itu dengan ekspresi datar pada wajah kentara terlihat.

"Apa yang Anda katakan Presdir Byun?" Presdir Kim terkekeh. "Itu hanya kabar burung, orang-orang memang gemar menyebarkan berita seperti itu 'kan?"

"Benarkah?" Baekhyun menyahut dengan senyum miring tersungging kini.

Kekehan Presdir Kim menghilang digantikan tegang meliputi wajahnya tuanya. Suasana ringan yang dia coba bangun meruntuh seketika dan duduknya berubah tak nyaman tiba-tiba.

"Saya sebenarnya sedikit terkejut ketika mendengar hal itu dan sebenarnya hari ini saya ingin menawarkan sedikit bantuan," Baekhyun berkata tenang.

"Apa?"

"Tapi sekarang saya berubah pikiran," Baekhyun menyembunyikan tawa. "Maaf Presdir Kim, tapi 30% sahammu tidak berarti apapun dengan situasi seperti ini." Baekhyun bangkit dari duduknya setelah itu dan merapikan setelannya sesaat.

"Jika saya bisa memberi saran, berhentilah bermain kotor seperti ini. Anda terlihat sangat menjijikkan sampai membuat nafsu makanku hilang." Dia meninggalkan senyum miring sekali lagi sebelum benar meninggalkan meja itu.

Pintu tertutup dalam bantingan tanpa peduli bagaimana pria setengah baya itu melihatnya dengan murka.

Baekhyun tak peduli. Rahangnya masih sekeras batu dan hanya melihat ekspresinya itu, cukup memberitau Sehun jika pertemuannya dengan Presdir Kim tidaklah berjalan dengan baik.

"Singkirkan tua bangka itu." Baekhyun berucap dingin dalam langkah besar-besar ditapakinya. "Juga batalkan seluruh jadwalku hari ini." dia menyambung.

Sehun mengikuti dengan anggukan paham sebagai respon dan tak bertanya tentang apa yang terjadi juga alasan mengapa Baekhyun meninggalkan jadwalnya begitu saja. Sedang Chanyeol pada sisi Sehun melihat presdir muda itu dengan tak paham.

Namun tak ada satupun dari mereka yang menguntai kata setelah itu. Ketiganya segera meninggalkan gedung restoran, masuk ke dalam mobil yang Chanyeol kendarai.

"Antarkan Presdir pulang." Sehun berkata pada Chanyeol.

Pengawal itu mengangguk paham dan mulai membelah jalanan kembali. Diam-diam melalui kaca spion, Chanyeol mencuri pandang dan menemukan bosnya itu terpejam di belakang sana.

Apa yang terjadi?

Chanyeol menyimpan tanya dalam dirinya sendiri.

"Pekerjaanmu hari ini sudah selesai, kau bisa pergi." Sehun berkata tepat setelah Baekhyun meninggalkan mobil dan menahan Chanyeol yang hendak mengikuti langkah presdir itu mamasuki kediamannya.

"Bagaimana dengan nanti malam?" tanya Chanyeol teringat tentang apa yang Sehun katakan tentang jadwalnya pagi tadi.

Sehun menghela nafas sesaat, tiba-tiba saja teringat jika mulai hari ini Chanyeol-lah yang akan menemani Baekhyun di rumah menggantikan apa yang menjadi tanggungjawabnya selama ini. Sehun menahan kesal dengan tangan terkepal menatap Chanyeol tak suka.

"Aku akan menghubungimu." Putus Sehun akhirnya. Dia segera bergegas pergi mengejar Baekhyun lagi menyisakan tatapan kebingungan Chanyeol disana.

Ada apa dengan orang-orang ini?

Chanyeol berdecak.

Pintu Baekhyun tutup dalam bantingan. Dasi yang mengikat lehernya dia lepaskan kasar dengan langkah menghentak memasuki rumah. Emosinya meluap sedang tengkuknya meremang hanya dengan penggalan ingatan akan pembicaraannya dengan Presdir Kim sebelumnya.

Baekhyun hanya ingin mandi, berendam selama mungkin dengan harapan kepalanya dapat mendingin kembali.

"Baek…" Sehun datang dengan raut wajah cemas.

"Pergilah Sehun." Baekhyun menyela sembari masuk ke dalam kamar. Sehun mengindahi dan ikut masuk ke dalam sana.

"Apa yang terjadi? Dia menyentuhmu?" Sehun bertanya khawatir.

Baekhyun tak menjawab sedang kerja tangan terburu membuka satu persatu kancing kemejanya. Celana dia tanggalkan, diikuti celana dalam dan terakhir kemejanya pula. Baekhyun telanjang tanpa peduli Sehun yang menatapnya panas dan masuk ke dalam kamar mandi.

Air mengisi bath up sampai penuh dan Baekhyun menuangkan asal aroma terapi kesukaannya ke dalam air itu sebelum membawa tubuhnya masuk ke dalam sana.

Seluruh tubuhnya tenggelam di dalam bak itu, sedang kepala bersandar dengan sepasang kelopak ikut dia pejamkan pula.

Dari ambang pintu Sehun melihat Baekhyun khawatir. Beribu pertanyaan menguap sedang resah kian banyak menumpuk akan keadaan Baekhyun. Sehun mengkhawatirkan Baekhyun, terlebih jika Baekhyun harus melalui hal-hal seperti ini. Lagi.

Mengabaikan tentang Baekhyun yang mungkin akan marah, Sehun bukannya beranjak pergi alih-alih ikut melepas pakaiannya dan menghampiri Baekhyun di dalam bath up. Sehun masuk ke dalam sana, tanpa kata dan tak peduli bagaimana Baekhyun melotot tak suka atas yang dilakukan oleh pria yang menjadi sekretarisnya itu.

"Apa yang kau lakukan?" lelaki bertubuh kecil itu bertanya.

Sehun tak menjawab dan menarik Baekhyun dari posisinya. Dia mengisi tempat Baekhyun sebelumnya lantas menempatkan tubuh kecil itu di atas pangkuan. Punggung Baekhyun bersandar pada dada Sehun sedang satu lengan Sehun memeluk perut datar itu dengan lembut.

"Oh Sehun!" Baekhyun menegur tak suka. Dia bangkit dengan segera dari posisi itu namun lengan Sehun menanhannya disana.

"Jangan pelit seperti ini Baek, aku juga ingin berendam." Sehun menyahut acuh.

"Keluar dari bath up-ku, kau pikir apa yang tengah kau lakukan?" Baekhyun menyalak.

"Memelukmu…" sekali lagi Sehun menyahut ucapan bosnya itu dengan ringan. Dagu runcingnya jatuh di atas pundak Baekhyun sedang hidung mulai mengendus aroma alami tubuh itu melalui ceruk lehernya.

Baekhyun meremang dengan nafas panas Sehun mengenai kulit lehernya. Itu aneh bagaimana otot tegangnya mengendur perlahan dan Baekhyun tak sadar ketika mulai menyamankan diri di atas dada bidang itu.

"Ingin bercerita padaku?" Sehun bertanya dengan bisikan lembut mengalun dalam indera Baekhyun. Sepasang kelopak itu menyayu dalam ketenangan, perlahan terpejam.

Baekhyun menggigit bibir dan memalingkan wajahnya.

"Dia seperti Kris…"

Sehun tertegun. Jawaban singkat itu telah lebih dari cukup untuk menjelaskan situasi apa yang Baekhyun alami.

"Sttt tak apa…" Sehun membelai sisian wajah Baekhyun dengan tangannya yang lain. Juntaian rambut Baekhyun, Sehun mainkan dengan lembut mengirimkan friksi nyaman yang benar Baekhyun butuhkan. "Aku akan mengurusnya untukmu."

Baekhyun meremas lengan Sehun di dalam air yang memeluk perutnya tiba-tiba. Cengkramannya berubah kian erat dengan ujung kuku menekan kulit Sehun sampai menyisakan bekas goresan disana.

"Aku benci…" Baekhyun meringis, bibirnya bergetar dan tak mampu Baekhyun cegah pelupuknya tumpah mengaliri pipinya. "Aku… ingin sekali membunuhnya…"

Chanyeol menatap sekali lagi jam yang melingkari pergelangan tangan lalu bergantian pada gedung sekolah di depannya itu. Senyumnya kian merekah ketika bel terdengar berdentang diikuti dengan anak-anak yang berhamburan keluar dari setiap kelas.

Chanyeol menegakkan tubuhnya dan melambai pada satu sosok yang telah berhasil ditemukannya itu.

"Deokjun!"

"Appa!" seruan bocah laki-laki itu pecah di antara riuh yang dihasilkan oleh teman-temannya yang lain. Deokjun berlari menuju Chanyeol dan melompat segera dalam pelukan orangtuanya itu.

"Auh!" Chanyeol pura-pura mengaduh kala lutut Deokjun tak sengaja menendang rusuknya.

"Hehe…" bukannya merasa bersalah, anak itu malah memberikan cengiran dengan giginya yang menyembul lucu. "Appa ayo kita makan ramen di kedai Bibi Yuki, aku sudah rindu sekali~" Deokjun merengek di atas pelukan Chanyeol.

"Bukankah seharusnya kita makan di rumah, Ibu pasti sudah memasakkan menu yang enak."

Deokjun memberikan gelengan dengan bibir mengerucut, "Ibu tidak," katanya.

"Bagaimana kau bisa tau?" Chanyeol sedikit banyak merasa bingung.

"Ibu yang bilang sendiri," anak itu menyahut.

Chanyeol menyembunyikan dengusan. Woori kau benar-benar… Chanyeol mengecam dalam hati dengan kesal.

"Baiklah, jadi kita makan ramen hari ini?" ajak Chanyeol mengalihkan pembicaraan mereka.

"Ya-ya! Ramen Bibi Yuki!" seru Deokjun.

Chanyeol tertawa akan reaksi antusias itu. Deokjun di tuntunnya masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Dia sendiri mengisi belakang kemudi dan mulai menjalankan mobil kembali.

"Apa ini mobil baru Appa?" tanya Deokjun.

Chanyeol menggeleng, "Ini mobil kantor,"

"Mobilnya keren!" Deokjun mengacungkan kedua jempolnya kepada Chanyeol.

"Kau menyukainya?"

"Eung!" angguk Deokjun semangat.

"Kalau begitu. Bagaimana jika kita berjalan-jalan dengan mobil keren?"

"Ya-ya! Ayo~"

Sekali lagi, polah anaknya itu berhasil menciptakan tawa bagi Chanyeol.

Chanyeol mustinya tak harus terkejut ketika dia dan Deokjun pulang di saat yang bersamaan sosok Woori baru saja keluar dari flat mereka. Perempuan itu terlihat rapi dengan make up dan membola melihat kepulangan Chanyeol.

"Kau mau kemana?" Chanyeol menurunkan Deokjun dari gendongan dan meminta anaknya itu untuk masuk ke dalam rumah. Keningnya menukik menatap menyeluruh Woori, dress hitam ketat yang terlampau pendek dengan sepatu hak tinggi merah menyala membalut sepasang kakinya.

"Kau tidak lihat, aku pergi bekerja." Woori menjawab ketus.

Chanyeol sekali lagi melihat penampilan istrinya itu menyeluruh. Matanya yang bulat melotot tak percaya.

"Dengan pakaian seminim ini?" Chanyeol menggeleng dramatis. "Kau mau bekerja atau melacur?"

"Jaga mulutmu Park Chanyeol!" Woori menghardik tak suka. "Sejak kapan kau peduli dengan cara berpakaianku," dia menatap sinis. "Minggir, aku sudah terlambat." Sentaknya sembari keluar.

Namun Chanyeol segera menahan pergerakannya disana. Lengan Woori, Chanyeol tangkap dan mencengkramnya dengan keras.

"Kau benar-benar ingin menyulut kemarahanku, huh?" tatapan tajam Chanyeol menghujam Woori sampai ketulang. "Tidak, kau tak boleh pergi malam ini. Masuk!"

"Apa?!" Woori terlonjak. Cengkraman Chanyeol dia hempaskan kuat dan berkacak pinggang. "Setelah mengurusi gaya pakaianku sekarang kau mengurusi hidupku, wah~ apa kau tengah mengambil peranmu sebagai suami atau bagaimana?"

Chanyeol memejamkan mata, mati-matian menahan gejolak amarah yang mulai tersulut dalam dirinya.

"Masuk," Chanyeol masih berusaha menekan emosinya.

"Tidak!" bantah Woori. Dia menarik tungkai kembali dan berjalan melewati Chanyeol begitu saja.

"Pergi atau aku akan mengatakan semua kelakukanmu pada Ibumu!" Chanyeol mengancam.

Woori menghentikan langkah dan berbalik. Kelopak matanya yang dihias eyeliner menukik tajam Chanyeol.

"Sekalian bawakan surat cerainya juga, aku benar-benar sudah muak denganmu."

Dan Woori benar pergi dengan hentakkan langkah menggema pada lorong flat itu.

"Han Woori!" Chanyeol memanggilnya. Namun perempuan itu mengindahinya diikuti sosoknya yang menghilang di balik tembok. "Sial!" Chanyeol menendang kesal tembok di depannya.

Baekhyun bilang dia mengingkan mie ramyun rebus dengan 2 sosis sapi dan tambahan jamur juga satu telur goreng mata sapi di atasnya. Sehun menuruti keinginan itu dengan cepat setelah memastikan Baekhyun telah berpakaian nyaman dengan piyama miliknya.

Sehun berada di dapur mulai memasakkan permintaan Baekhyun sedang si mungil itu menghampirinya kemudian. Dia duduk pada kursi tinggi dengan rambut abu miliknya masih setengah basah dan berantakan hanya disisir tangan.

Baekhyun duduk dengan tenang dan patuh. Wajahnya terlihat polos dengan bibir merah alami dan mata sipit yang bersih dari goresan eyeliner yang selalu menjadi penunjang penampilannya.

"Apakah masih lama?" pun dengan suaranya yang terdengar rendah dengan nada ringan mendayu seperti itu.

"Sudah," Sehun mematikan api dan menghidangkan ramyun milik Baekhyun di dalam wadah. Sosis dan telur goreng Sehun sajikan di atasnya pula sebelum membawanya di atas meja Baekhyun. "Satu ramyun spesial untuk Baekhyun."

Lelaki bertubuh mungil itu terkekeh pelan mendengarnya dengan senyum terkembang menggetarkan Sehun diam-diam.

"Enak!" Baekhyun berseru ketika suapan pertama baru saja lolos dari tenggorokannya. Suapan kedua Baekhyun cicipi lagi, ketiga sampai seisi mangkuk itu habis dalam sekejab.

Sehun tersenyum melihat bagaimana Baekhyun menikmati masakannya. Dia mengangsurkan segelas air lalu bersiap memotong beberapa buah sebagai pencuci mulut.

Sehun melirik sesekali, memperhatikan bagaimaba Baekhyun menikmati hidangannya dengan pipi penuh terlampau sesak oleh berbagai potongan dalam mangkuk. Sehun tersenyum penuh artu dengan perasaan hangat dalam dirinya.

Sehun tak ingin di anggap kejam bagaimana dia benar menikmati Baekhyun yang seperti ini. Baekhyun yang bukanlah Baekhyun. Bagaimana Sehun harus mengakui jika dia menyukainya dan berharap Baekhyun selalu berada dalam kepribadiannya yang seperti ini. Walau itu berarti, Sehun harus membiarkan Baekhyun masuk dalam gelap kehidupannya, membiarkan si mungil yang diam-diam dicintainya itu merasakan pesakitan masa lalu yang mati-matian Baekhyun coba hilangkan dalam ingatan.

"Dr. Choi menghubungiku mengatakan kau melewati pertemuan kalian lagi." Sehun mendorong piring berisi potongan buah yang selesai dikupasi kepada Baekhyun. "Mengapa?" Sehun bertanya.

Baekhyun tak menjawab sedang rahang bergerak tenang mengunyah makanan manis itu dengan nikmat. Detik terlewati dan Sehun masih tak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaannya. Hela nafas terbuang pelan membuat Baekhyun melirik sekretarisnya itu sekali.

"Kau sudah memberitau Chanyeol untuk datang bukan?" Baekhyun malah melontar tanya yang lain.

"Aku masih bingung mengapa kau menginginkannya untuk tinggal," Sehun berusaha mengatakan apa yang menganggu pikirannya sejak kemarin. "Kau memiliki aku disini untuk menjagamu Baek."

Potongan buah terakhir Baekhyun abaikan, gelas miliknya ia sesap lagi sampai tak bersisa lalu berujar,

"Tapi aku ingin Chanyeol."

"Apa?" Sehun mencolos tak percaya dengan jawaban itu. "Baekhyun apa maksudmu?"

"Apakah aku harus memberimu sebuah alasan untuk keinginanku?" pertanyaan balik itu membuat Sehun terkesiap. Nafasnya mendadak berat bagaimana nada bicara Baekhyun terdengar berbeda kini.

Tak ada nada bicara mendayu lembut seperti beberapa menit sebelumnya. Nada bicara itu datar sedang matanya berubah tajam mengintip melalui helai poninya yang jatuh. Sehun menelan liurnya yang berubah kelu. Baekhyun sudah kembali.

"Pergilah dan minta Chanyeol untuk segera datang." Baekhyun bangkit dari duduknya dan meninggalkan dapur.

"Baek—" Sehun mengejar dan menarik lengan lelaki itu dalam cengkraman.

"Apa yang kau lakukan?!" Baekhyun membentak. Sipitnya melebar tajam menukik Sehun dengan tak suka.

"Mengapa kau sangat menginginkan Park Chanyeol?" Sehun bertanya terburu sedang cengkraman kian mengerat kala lagi Baekhyun memaksanya lepas.

"Apa maksudmu dengan menginginkan?" dahi Baekhyun berkerut, tak cukup paham dengan apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu. "Aku mempekerjakannya disini."

"Aku tau," sambut Sehun cepat. "Hanya saja kau tak pernah menginginkan siapapun untuk tinggal bersamamu tapi Park Chanyeol—"

"Lalu bagaimana denganmu?" Baekhyun memotong, "aku juga tak pernah menginginkanmu untuk datang kesini,"

"Apa?" Sehun terkesiap.

Baekhyun mendengus, "Sepertinya kau mulai salah paham dengan situasi kita Oh Sehun." Baekhyun menyentak tangannya keras hingga cengkraman itu lepas. Kedua lengannya lantas terlipat di dada dan berdiri angkuh di depan pria tinggi itu.

"Kau hanya bawahanku Oh Sehun, kau bekerja untukmu hanya sebatas itu." Baekhyun menatap pria itu menyeluruh, "jadi berhentilah mencampuri kehidupan pribadiku."

Rahang Sehun jatuh, mencolos tak percaya dengan apa yang ujarkan oleh Baekhyun, "mencampuri?" dia berguman nyaris tak terdengar. Dua detik terlewati dalam ketertegunan sedang otak mulai berkecamuk.

"Kupikir kita lebih dari itu…" Sehun melirih.

"Kita tidak." Baekhyun menggeleng, dia mendengus sekali lagi dan memejamkan matanya sesaat. "Aku akan memperingatimu sekali lagi untuk memperbaiki sikapmu. Sekarang pergilah." Baekhyun berbalik meninggalkan Sehun yang kian terpaku pada tempatnya.

Sosok kecil itu menghilang di balik pintu kamar dengan debuman pelan yang menghentak Sehun dalam lamunan.

Sehun mendesah pelan, diam-diam kembali menata hatinya yang lagi merapuh oleh perasaan miliknya.

Chanyeol tau maksud tatapan Minyoung itu. Kesal tapi tak ada sisipan amarah sama sekali dari mata wanita setengah baya itu. Chanyeol hanya menyengir kecil dengan belakang tengkuk yang di garuk.

"Aku harus lembur…" Chanyeol beralasan. Matanya melirik Deokjun di ruang makan tengah menikmati es krim yang mereka beli di perjalanan tadi.

Minyoung mendesah sesaat dengan mata yang terputar sekali.

"Dimana istrimu?"

"Bekerja—"

"Bekerja atau kelayapan entah kemana," Minyoung memotong. Matanya berputar sekali dalam ketidaksukaan lalu meninggalkan Chanyeol menuju kulkas dan mulai mengeluarkan bahan makanan dari lemari pendingin itu.

Chanyeol tak berkata apapun, tak ingin menyulut kemarahan Minyoung hanya untuk membela Woori lagi dan lagi. Chanyeol memutuskan umtuk menghampiri Deokjun saja di meja makan dan berujar kepada anaknya itu,

"Jangan membuat nenek kesal, oke?"

Deokjun hanya mengangguk dengan lidah menjulur keluar menjilati sisa-sisa es krim pada bibirnya.

Setelah mengusak puncak kepala anaknya itu, Chanyeol pun pergi meninggalkan kediaman orangtua dan pergi ke rumah Baekhyun.

Hari sudah gelap ketika Chanyeol sampai disana. Kediaman besar itu tampak lenggang tanpa penerangan apapun di dalam sana. Chanyeol memasukkan kombinasi kata sandi yang Sehun berikan sebelumnya dan masuk.

Ini adalah kali pertama Chanyeol datang ke rumah pribadi presdir dimana dia bekerja. Presdir muda itu memang tinggal seorang diri, beberapa kabar burung mengatakan dia tinggal bersama dengan pacarnya yang di rahasiakan. Beberapa mempercayainya seperti itu juga namun kini Chanyeol berubah sanksi bagaimana tempat itu nyatanya benar hanya di huni oleh Baekhyun seorang diri.

Chanyeol melangkah masuk semakin jauh. Dia memastikan pintu telah tertutup lalu memeriksa jendela juga.

Sebenarnya Chanyeol tak benar mengerti apa tugasnya di kediaman itu. Sehun hanya memintanya datang, menemani Baekhyun dan memastikan bosnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Sehun juga mengatakan dimana ruang kontrol rumah itu berada dan meminta Chanyeol untuk mengawasinya dengan cermat.

"Omong-omong dimana presdir?" Chanyeol bertanya pada dirinya sendiri. Dia celingukan melihat pada seluruh ruangan dan mulai menebak-nebak dimana letak kamar bosnya itu.

Chanyeol berkeliling, rumah dengan dua lantai itu sangat luas dengan interior yang nyaris semuanya berwarna putih. Dindingnya di cat dengan warna serupa, beberapa bagian dipadukan dengan warna gelap dan abu yang mengingatkan Chanyeol akan warna surai lelaki Byun itu.

Letak dapur berada pada sisian kiri setelah pintu masuk utama, disana terdapat sebuah meja bar dengan tiga kursi tinggi sebagai kawan. Di depan kulkas terdapat sebuah rak dengan berbagai macam botol, ketika Chanyeol melihatnya lebih dekat botol-botol itu hanya miniature hiasan saja.

Chanyeol nyaris berpikir jika bosnya itu seorang peminum.

Lalu berhadapan dengan dapur dinding kaca terbentang lebar memperlihatkan pemandangan langsung pada kolam berenang. Pohon-pohon tumbuh dengan rindang disana juga berbagai macam bunga terhias cantik.

Chanyeol mangut-mangut sedang otaknya menjemput kesimpulan tentang Baekhyun yang memiliki ketertarikan khusus pada tanaman hias.

Berpindah pada dapur, sofa besar nan nyaman tertata disana dengan sebuah lukisan besar sebagai pemanis ruangan. Di dekat sana terdapat dua kamar, kosong namun terlihat sangat terawat.

Chanyeol lantas berpindah pada lantai 2. Tempat itu nyatanya lebih luas tanpa banyak perabotan yang diletakkan disana. Seluruh dindingnya dipasang kaca dengan balkon luas dan sebuah ayunan berbentuk bola besar menggantung di depan pintu. Alasnya berbahan busa lembut bersama dua bantal bulu diletakkan di atasnya.

Pasti bosnya itu sering menghabiskan waktu bersantai disana, Chanyeol lagi bermain dengan kesimpulannya sendiri.

Pada lantai dua itu terdapat tiga pintu berjejer pada dinding. Pada pintu pertama adalah ruang kerja dengan perpustakaan pribadi pula sebagai fasilitasnya, ruangan selanjutnya adalah ruang kontrol dan sisa ruangan yang lain adalah kamar milik Baekhyun.

Pintu itu tertutup rapat, Chanyeol menebak jika lelaki itu telah mengarungi mimpi.

Chanyeol menggidikkan bahunya sekali sebelum masuk ke dalam ruang kontrol. Tepat bersamaan dengan itu, pintu kamar Baekhyun terbuka. Chanyeol berubah urung melanjutkan langkah dan terdiam pada bibir pintu berpikir untuk sebuah sapaan.

Dia menunggu selama beberapa detik dan bayangan hitam keluar dari sana. Semakin lama semakin besar diikuti dengan sosok Baekhyun menggantikan bayangan itu dan Chanyeol merasakan nafasnya berhenti tiba-tiba.

Sosok itu benar merupakan Baekhyun. Tubuh kecilnya tidak terbalut pakaian formal yang selalu Chanyeol lihat selama ini, itu sebuah kaus… kaus yang sangat besar dengan lengan yang nyaris menutupi siku dengan bagian bawah yang jatuh di atas lutut. Kaus itu adalah satu-satunya kain yang menutupi tubuh mungil tanpa celana atau bokser apapun, memberikan indera Chanyeol akan sepasang paha ramping berbalut kulit seputih susu tanpa cela apapun.

Chanyeol menahan nafas sedang mata kian membola menatap Baekhyun tanpa berkedip.

Surai abu itu berantakan, poninya menjuntai jatuh menutupi dahi sedang sepasang kelopak itu terpejam rapat. Belah bibirnya terbuka, bergetar dalam gumanan tampak begitu merah dan… lembab.

"Ngghh…" lalu leguhan terdengar pelan dari celah ceri yang merona itu.

"Presdir..."


bersambung


Makasih udah baca dan ngasih review, see you di chapter 3 :D