A/N: Selamat membaca chapter kedua yang juga sudah saya upgrade! Enjoy reading minna!


-69-

The Truth Behinds the Mask

.

.

Presents by

Hiname Titania

Pairings

SasuHina, SasoHina

Warnings

AU, OOC, typo, curses, mature contents, etc.

The story is based from my imagination

Don't Like Don't Read

Disclaimer

Naruto always belongs to Masashi Kishimoto.

.

.

Chapter 2

Because of the Damn Drink!

.

-69-


"S-Sepertinya belum pernah," ujar Hinata gugup, keringat dingin mulai muncul di sekitar pelipisnya.

Dari sekian banyak pub di Kota Tokyo mengapa Sasuke harus berada di pub yang sama dengannya? Kami-sama mengapa pula Sasuke merasa pernah melihatnya? Seumur hidupnya, dia sangat yakin tidak pernah melakukan komunikasi dengan seorang Uchiha Sasuke dan segala yang berhubungan dengan pria tersebut. Tapi mengapa sekalinya mereka bertemu, Sasuke melihatnya dalam keadaan yang bisa membahayakan penyamarannya ini. Sasuke tidak mungkin mengenalinya 'kan?

"Tidak," bantahnya tenang. "Aku yakin pernah melihatmu."

Kepanikannya meningkat ketika Sasuke mulai mengamatinya. Benar-benar mengamatinya. Mata hitamnya menyipit berusaha mengingat-ngingat.

'Bagaimana ini? Dia semakin curiga, apa yang harus kulakukan?' batinnya cemas.

Hinata menggigit bibir bawahnya, tanda dia sedang berpikir keras mencari ide agar Sasuke berhenti mencurigainya.

'Bagaimana jika aku tunjukan saja sikapku yang asli padanya? Ya sepertinya itu ide yang bagus, dia pasti tidak akan curiga lagi karena aku yang dia tau adalah aku yang culun dan pemalu, kan?' Sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. Hinata segera membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih angkuh, lalu memberikan tatapan tajam pada pria bermarga Uchiha tersebut. "Apa yang kau inginkan dariku? Berhentilah berpura-pura mengenalku!"

Sasuke tak bergeming akan bentakan sinisnya itu, ekspresi wajahnya masih serius sibuk mengamatinya. Hinata semakin menajamkan tatapannya ke Sasuke mengisyaratkan pria tersebut untuk segera meninggalkannya.

"Ah… aku ingat sekarang," ucap Sasuke tiba-tiba. Hal tersebut sukses membuat jantung Hinata bertalu-talu tak tenang

"Tau apa?" selidiknya semakin panik. Jika di ibaratkan, kepanikannya sekarang sudah level 10 keripik Ma Icih (?)

"Kau…" ujar Sasuke masih mengamati Hinata.

"Kau?" Hinata menelan ludahnya.

"Kau..." Sasuke menggantungkan kalimatnya, Hinata menahan nafasnya.

"Gadis yang tadi menabraku, kan?" ujar Sasuke datar, tak menyadari bahwa dirinya baru saja membuat jantung seorang gadis hampir saja lepas dari tempatnya. Ya, Sasuke telah berhasil membuatnya seperti kehilangan sepuluh tahun umurnya. Tanpa di sadari Hinata menghela nafas lega. Hal itu justru membuat Sasuke memandang curiga ke arahnya.

'Tch, sudah kuduga mana mungkin dia mengenaliku. Aku memang terlalu berlebihan,' batinnya mengejek dirinya sendiri.

"Aku tak pernah merasa menabrakmu," elak Hinata, meskipun dia ingat. Tadi dia memang sempat menabrak seseorang, tapi dia benar-benar tidak menyadari orang yang di tabraknya itu adalah Uchiha Sasuke—pria yang sekarang sedang duduk di sampingnya.

"Tch, terserah kau sajalah," Sasuke memutuskan untuk tidak memperbesar kejadian kecil itu. Ia segera menegak segelas Vodka yang tadi sempat di simpannya di atas meja.

Sasuke sepertinya memang tak berniat beranjak dari tempatnya duduk. Bahkan, dia tampak terlalu nyaman di tempatnya dengan segelas alkohol di tangannya. Yang berakhir dengan ketidaknyamanan Hinata karena harus berlama-lama duduk berdekatan dengan pria yang bukan saja ada di satu kampus dengannya tetapi juga berada di satu fakultas yang sama dengannya.

"Kalo begitu, pergilah jangan dekat-dekat denganku!" usir Hinata kemudian.

"Apa kau tak melihat tidak ada kursi kosong selain di sini?" mata Sasuke mengisyaratkan Hinata untuk melihat ke sekelilingnya, Hinata mengikuti isyaratnya itu. Sasuke tidak berbohong, memang tidak ada tempat kosong lagi selain tempat di dekatnya. Hinata kembali menatap mata oniks Sasuke yang seolah-olah berkata—sekarang-kau-mengertikan-?

Hinata membuang muka sebal, tak bisa berkata-kata apalagi.

Sasuke kembali menikmati minumannya. Jujur saja Hinata ingin segera pergi dan menjauh dari Sasuke, tetapi minuman yang dipesannya belum tiba juga!

'Kenapa lama sekali sih?!' Hinata menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan kesal.

-69-


"Sasuke-kun!" Panggilan seorang wanita memecahkan keheningan saat Hinata masih setia menunggu pesanannya tiba.

"Kenapa kau tidak mengangkat telponku, Sasuke-kun?" tanya wanita itu dengan suara yang manja. Suara wanita itu terdengar lebih jelas dari sebelumnya menandakan bahwa sang wanita sudah berjarak lebih dekat dari sebelumnya.

Anehnya, suara tersebut terdengar sangat familiar di telinga Hinata. Mata berliannya sedikit-sedikit melirik ke sumber suara tersebut, tapi sayangnya wanita tersebut terhalang oleh tubuh tegap Sasuke.

"Hn."

"Sasuke-kun, kenapa kau dingin sekali pada kekasihmu sendiri!" rengek wanita itu semakin manja.

Hinata yang penasaran semakin mencondongkan tubuhnya ke depan agar ia bisa melihat wanita yang sedang berbicara dengan Sasuke tersebut. Kedua bola matanya langsung membesar ketika melihat siapa wanita yang sedang berbicara dengan Sasuke. Wanita itu berambut pink, bermata emerald, yang tidak lain adalah Haruno Sakura. Hinata langsung menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Kepanikannya yang tadi sempat hilang kini muncul kembali.

'Oh tidak! ini buruk, ini sangat buruk!

Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini? Bukankah dia seharusnya berada di rumahnya mengurus adik-adiknya itu?' pikir Hinata panik, pikiran-pikiran negatif mulai menguasainya.

"Semuanya sudah berakhir, Sakura." Suara Sasuke membuyarkan lamunan Hinata. Rasa penasarannya cukup berhasil untuk mengalihkan kepanikannya. Tanpa sadar dia sudah menguping pembicaraan mereka berdua.

"Apa yang kau katakan Sasuke-kun? Aku tidak mengerti." Suara Sakura terdengar resah.

"Kita putus." Ucapan Sasuke membuat suasana antara kedua orang tersebut hening untuk sejenak.

Kemudian, suara tawa kecil Sakura membuyarkan keheningan tersebut. "Sasuke-kun jangan bercanda. Ini sangat tidak lucu!"

Sasuke menghela nafas. "Sakura, aku serius. Aku sudah bosan denganmu."

Sakura mematung, bibirnya terkatup-katup. "K-Kau pasti bercanda ..."

"..."

"YA, KAU PASTI BERCANDA!" teriaknya sengit tak mau mempercayai perkataan Sasuke padanya, tubuhnya sedikit bergetar. Mata emerald-nya menatap Sasuke dengan memelas berharap Sasuke berbohong padanya.

'Dari cara dia memutuskannya, aku bisa langsung menebak pria macam apa Uchiha Sasuke ini. Semua lelaki memang sama, tidak Sasuke, tidak Sasori, mereka semua senang mempermainkan perasaan wanita.' Hinata mendecak sebal. 'Kasihan sekali Haruno, apa dia tidak sadar kalau Sasuke hanya mempermainkannya. Lagipula untuk apa juga aku kasihan pada Haruno itu. Dia telah membohongiku, katanya ibunya pergi keluar kota jadi dia harus mengurus adik-adiknya eh… nyatanya dia malah berkeliaran disini. Dasar ular!'

"Aku serius, lagipula aku sudah punya kekasih baru yang lebih baik darimu."

Dalam hati Hinata tertawa bahagia. 'Rasakan Haruno!'

"APA? B-Bagaimana bisa, kau pasti berbohong Sasuke-kun!" pekik Sakura masih tidak mau percaya.

"Tidak. Dia ada disini, di dekatku," tuturnya tenang, perkataannya sekan-akan menjanjikan kebenaran.

Dikarenakan rasa penasaran Hinata langsung melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari-cari wanita yang dimaksud Sasuke itu. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke dalam sebuah dekapan, lalu, dagunya di tarik secara paksa. Hinata yang masih bingung dengan situasinya yang sekarang, tak bisa berbuat apa-apa ketika bibir Uchiha Sasuke menyentuh bibir miliknya.

Uchiha Sasuke dengan berani menciumnya!

Parahnya, Hinata yang bingung dengan situasinya tak melakukan apa-apa ketika lelaki Uchiha itu memperdalam ciumannya. Entah berapa lama lelaki bermarga Uchiha itu menciumnya, otaknya seakan-akan berhenti bekerja. Setelah sekian lama, akhirnya Sasuke melepaskan ciuman sepihaknya itu, Hinata masih tidak bergerak.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri mulus milik Uchiha Sasuke. Sakura baru saja menamparnya cukup keras dengan kedua matanya yang berlinang air mata.

"Kau tega sekali," bisiknya lemah, mata emerald-nya menatap nanar mantan kekasihnya itu, dengan hatinya yang terluka ia segera berlari meninggalkan pria Uchiha yang berhati dingin itu.

"Tch, dasar wanita, senang berdrama," komentar Sasuke tak sedikit pun merasa bersalah. Dia kembali meneguk Vodka-nya.

Sasuke memang sudah bosan dengan Sakura, wanita itu terlalu posesif dan mengekangnya. Dia seorang Uchiha Sasuke—pria yang menyukai kebebasan—dia tidak membutuhkan wanita posesif yang hampir setiap kali bertengkar dengan wanita lain hanya karena alasan seperti berusaha mendekatinya. Pada dasarnya, dia memang tidak pernah menyukai wanita itu, kebodohannya sendiri mengapa dia mau berpacaran dengannya?

"Apa yang baru saja kau lakukan padaku?" Sasuke mengalihkan perhatiannya dari gelas yang sedang di genggamnya, dia hampir lupa dengan gadis yang duduk di sebelahnya, gadis yang juga sempat di ciumnya tadi. 'Lumayan, bibir gadis ini enak juga,' pikirnya setelah mengingat kembali rasa bibir gadis itu.

"Hn."

"APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN PADAKU?!" bentaknya, akalnya yang sempat berhenti bekerja sekarang mulai berkerja kembali. Dia sekarang sudah bisa memproses kejadian yang baru saja terjadi padanya itu.

Sasuke menatap gadis di hadapannya itu dengan heran. "Aku hanya menciu–!"

PLAK!

Kedua mata oniksnya membesar tak percaya dengan tamparan dadakan Hinata itu.

"BRENGSEK! DASAR MESUM!" bentak Hinata kemudian pergi meninggalkan Sasuke yang masih terkejut dengan situasinya sekarang.

"Dua kali," gumam Sasuke sengit.

Dua kali ia di tampar oleh dua orang wanita yang berbeda. Tamparan yang pertama masih bisa ditoleransi olehnya, karena itu, memang sengaja di rencanakannya. Namun, untuk tamparan yang kedua, tamparan yang sangat sakit sampai ada bercak darah di sudut bibir kanannya ini tidak bisa di toleransi lagi! Apalagi wanita yang telah menamparnya itu telah mengatainya mesum! Kata yang hanya pantas diucapkan kepada dosennya, Kakashi. Seharusnya wanita itu bersyukur telah di cium olehnya, laki-laki yang paling di inginkan wanita se-Jepang (bukannya narsis tapi berdasarkan fakta men *back to the story*). Padahal wanita lain meminta-minta padanya, tapi wanita yang beruntung ini malah menampar dan mengatainya.

'Dasar wanita aneh.

Lihat saja, jika aku bertemu dengannya lagi aku akan membuat hidupnya menderita," pikir Sasuke dengan sejuta ide licik di otaknya.

-69-


Hinata terus melangkahkan kakinya tak tentu arah pikirannya masih dipenuhi dengan kemarahannya terhadap Uchiha Sasuke. 'Dasar laki-laki mesum! Seenaknya menciumku! Seharusnya aku tidak menamparnya saja tapi membuat seluruh tubuhnya kesakitan sampai dia tak bisa bergerak lagi!'

"Awas kau Uchiha," bisik Hinata geram.

.

.

By the way who cares about the drink?

.

.

To be continued

-69-


A/N: Buat kalian semua para pembaca yang penasaran kenapa Hinata nyamar itu masih akan saya rahasiakan karena kalau udah ketauan berarti fanfic ini udah mau tamat, so you must be patient ;)

Thanks buat yang udah mau baca cerita ini, terus maaf kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan fanfic ini mohon dimaklumi, ya?

Special thanks to:

Hyou Hyouichiffer (reviewers pertama sayaaa makasih banyak ya Hyou-sama :D), R, Miss Uchiha Hinata (Sasuke porsinya udh lebih banyakkn di chap ini ?:D), SuHi-18, uchihyuu nagisa, fleurslanoire, Mikky-sama(makasih ya buat sarannya ;)), Lollytha-chan (alasan Hinata nyamar masih akan dirahasiakan :D), Mizuki Kana, Hyuuchiha Hime, demikooo, Hyuuga-chan(Sasu ga bakalan nguntit Hinata kok ), Amucchi, Uzumaki Nami-chan (masa? Kalo siapa yang Hinata tabrak udah kejawabkan siapa :D),blue night-chan(kalo Hinata jadi dirinya sendiri bukan nyamar dong namanya:D),Sasuhina-caem, Animea Lover Ya-ha, Vytachi W.F(makasih ya buat sarannya ;)).

Mereka semua membuat saya tertawa, terharu, bahagia, bangga dan memberikan saya semangat untuk terus menulis! Arigatou gozaimasu minna!

Edited: 24.06.2014