SWORD'S MEMORIES

Angin senja di penghujung musim gugur menerpa pepohonan rapuh yang tumbuh di terjalnya sebuah bukit. Semilir beku menerbangkan aroma dupa yang masih setia menyala sejak saat seseorang memilih mengulang kesedihan di hadapan sebuah pusara kokoh.

Di balik baju kebesaran yang membuat setiap rakyat jeoson segan dan tunduk, sosok dengan murung yang melekat erat pada wajah rupawan itu tertunduk dalam sebuah doa. Setelah harapan untuk sebuah kedamaian itu berakhir, kini kedua atensinya terjaga, perlahan ia mendongak dan menatap kosong pada deretan huruf yang merangkai satu nama.

김 혜 진

Dalam hatinya, Chanyeol tidak pernah sekali pun bosan untuk menanyakan satu hal.

Kenapa kau pergi secepat itu?

Dan hela napas berat itu untuk sunyi yang menjawab rasa sedihnya. Chanyeol telah lama merasa begitu kehilangan Hyejin, istrinya. Tepat saat minggu ke dua usia pernikahan mereka, seorang tabib mendiagnosa sebuah penyakit mematikan yang diidap wanita itu dan tak lama kemudian takdir memisahkan cintanya dengan sebuah kematian. Nyawa Hyejin terenggut menyisakan duka mendalam pada satu-satunya penguasa joseon, menjadikan sosok Raja yang begitu dicintai oleh rakyat itu didera kesedihan selama hidupnya.

"Hun-a.." Suara berat itu terdengar setelah berjam-jam dibungkam oleh kepiluan.

"Hamba siap menuruti titah Paduka."

Adalah Sehun, pengawal pribadi sang Raja yang setia menemani kemana pun pergi. Sosok yang kerap mengenakan pakaian serba hitam dan mengais pedang itu sedari tadi berlutut di belakang Chanyeol.

"Bagaimana situasi di Istana saat ini?" Tanya Chanyeol lalu berbalik dan menancapkan atensinya pada deretan paviliun Istana di bawah bukit.

"Mereka tengah sibuk menyiapkan pesta untuk merayakan ulang tahun Paduka nanti malam. Dan.."

Chanyeol tidak menaruh rasa penasaran di samping bungkamnya pada kalimat yang Sehun gantung.

"…para gisaeng yang diundang oleh kubu partai barat telah sampai di Istana."

Mata Chanyeol terpejam, tangan yang ia gendong di belakang tubuh sepenuhnya terkepal. Rasa geramnya bukan tanpa alasan karena ia telah menaruh rasa kesal atas tindakan sang ayah yang semakin semena-mena.

"Mereka tidak bekerja dengan becus dan sekarang mengotori Istana dengan para pelacur." Gumam Chanyeol dengan sepasang atensi memicing berbahaya.

Namun, di samping amarah yang tak terbendung, ia masihlah sosok yang bidak yang dikendalikan penuh oleh ayahnya, Park Sangyoon.

Semua gagasan konyol yang masuk dan berpotensi mencoreng nama baik Istana kerap disetujui oleh Sangyoon, termasuk mengundang para wanita penghibur untuk mengisi acara pesta sang Raja.

Semua itu memang konyol, namun Chanyeol tidak berdaya. Di saat seluruh rakyat segan akan sosoknya yang dikenal tegas dalam mengambil sebuah keputusan, namun di balik itu ia justru tidaklah lebih dari seorang anak kecil yang dianggap tidak mampu melakukan apapun di mata sang ayah. Selama bertahun-tahun duduk di atas singgasana, tak sekalipun Chanyeol mampu mengelak dari titah sang ayah. Ia terlalu lemah, kenyataannya adalah Park Sangyoon lah yang menggiringnya pada sebuah tahta. Meski telah banyak hal di luar kehendaknya yang terjadi, tapi sekali lagi Chanyeol tidak berdaya.

-oOo-

Paviliun Istana barat menjadi tempat di mana para penghibur pesta berkumpul untuk mempersiapkan pertunjukan. Termasuk sekumpulan wanita cantik yang terbalut dalam pakaian sedikit terbuka dan riasan wajah yang menonjol.

Mereka dikenal sebagai gisaeng terbaik di seluruh penjuru negeri, dan para pejabat tinggi yang kerap menghabiskan waktu di rumah bordil tahu seberapa handal wanita-wanita cantik itu dalam menghibur. Maka sebentuk hasut kecil yang sampai pada telinga salah satu petinggi paling berpengaruh di Istana menghasilkan keputusan yang amat disyukuri.

Adalah sebuah sejarah membiarkan para gisaeng yang dikenal tidak mempunyai hak dicap sebagai wanita baik-baik bisa masuk ke dalam lingkungan Istana.

"Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah Raja."

Semua orang yang tengah sibuk merias diri senyum maklum pada celotehan Kyungsoo yang masih belum mereda sejak tadi.

"Apa beliau setampan yang orang-orang katakan?"

"Dia seorang duda, yang ada dalam bayanganku dia itu tua, berjanggut kusut, tubuhnya tambun dan wajahnya menjengahkan."

Salah satu dari wanita penghibur itu menyahuti Kyungsoo disusul oleh gelak tawa dari semua orang kecuali Baekhyun yang kini bangkit dari setelah selesai mematut diri di depan sebuah cermin hias.

"Mau ke mana? Sebentar lagi pestanya di mulai."

Baekhyun tersenyum kecil pada salah satu rekannya. "Hanya ingin melihat-lihat." Sahutnya.

Sebetulnya sejak turun dari dalam tandu, semua gisaeng diwajibkan mengenakan penutup kepala dan tidak diperbolehkan menghafal setiap blok dan sudut Istana demi sebuah keamanan, meski begitu Baekhyun masih mencari sebuah gravitasi, kakinya serasa tak menapak mendapati fakta bahwa kini ia berada di sebuah tempat di mana luka di dasar hatinya bermula.

Jemari lentik itu terulur, menelusuri permukaan licin sebuah pilar dengan gerak terbata. Matanya memanas setelah menyempatkan diri menepis rindu pada bangunan kokoh yang dulu pernah menaungi kebahagiaannya. Gema tawa mungil terngiang, lantas Baekhyun mendapati masa kecilnya berlarian di sekitar pelataran paviliun, riang itu menepis segala beban sebelum akal sehat kembali merajai benak.

Saliva tertelan pahit untuk apa yang dirampas saat itu. Dan seketika tangannya terkepal erat, menggenggam satu kemarahan mutlak.

Aku sudah memperingatimu bukan? Bahwa sakit hati seorang wanita akan melahirkan sebuah malapetaka.

Seseorang mendekat, sosok yang mengenakan pakaian pelayan Istana itu menghampiri Baekhyun sebelum membisikan satu kalimat pada telinga wanita itu.

"Jangan sampai membuat kesalahan." Tekan Baekhyun pada sang pelayan gadungan yang ia selundupkan dari luar Istana.

Sosok itu mengangguk patuh sebelum berlalu membawa sebuah perintah mutlak dari Baekhyun.

Apa kabarmu, tuan?

Bagaimana rasanya duduk di sebuah kursi yang kau rebut dari pemilik sesungguhnya?

Bersiaplah, ini sebuah permulaan.

Senyum Baekhyun terulas sinis sebelum berbalik dan kembali bergabung dengan rekan-rekannya untuk berlatih sebelum tampil.

-oOo-

Chanyeol duduk di sana, tidak memberi respon lebih selain menatap sosok wanita ambisius yang duduk di singgasananya.

Dia adalah Sunhwa, julukannya ialah Ibu Permaisuri, namun Chanyeol menganggapnya tidak lebih dari ibu tiri dan wanita jahat karena telah merebut kebahagiaan satu-satunya wanita yang ia hormati, ibu kandungnya yang telah lama mendekam di bawah pusara abadi.

"Bagaimana harimu, Yang Mulia?"

Jelas, senyum palsunya tidak sedikit pun melahirkan rasa hormat dalam diri Chanyeol. Dan pria itu hanya mengangguk kecil sebelum menyesap tehnya.

"Ada hal apa sekiranya Ibunda Ratu memanggil hamba kemari?"

Sunhwa kembali melempar keramahan di balik senyum tipis itu. "Hari ini ulang tahun Paduka, aku sebagai Ibumu sangat senang untuk itu. Karenanya aku ingin menjamumu dengan hidangan makan siang yang aku masak sendiri."

Sebelah alis Chanyeol terangkat. Wanita di hadapanbya saat ini memang pandai bersilat lidah.

"Oh, ayolah.." Sunhwa terkekeh kecil di balik punggung tangan. "Aku sudah menganggapmu sebagai putra kandungku sendiri, kau tahu itu bukan?"

"Apa yang Ibunda masak?" Chanyeol malas meladeni wanita licik itu lebih jauh.

Sunhwa tersenyum sebelum memberi perintah kepada para dayang untuk menyajikan hidangan untuk Raja di dalam biliknya.

Dua orang wanita masuk dengan membawa meja saji dan hidangan yang setelahnya di tata di seberang Raja dan Ibu Permaisuri.

"Apa kau baru?" Sunhwa mengernyit pada salah satu pelayan yang tampak asing, mengingat ia mengenal satu persatu wajah pelayan Istana.

"Benar, Yang Mulia Ratu. Saya menggantikan Dayang Kim karena beliau sedang tidak sehat hari ini." Sosok itu menjawab dengan lugas, meski jantungnya nyaris lepas karena takut mengundang kecurigaan dan membuat rencana yang telah diperintahkan oleh Baekhyun gagal,

"Semua orang sibuk menyiapkan pesta Paduka Raja, dan dia malah sakit! Aku harus memberinya peringatan keras." Geram Sunhwa tanpa sadar.

"Memangnya kenapa kalau sakit?" Chanyeol bertanya enteng sebelum menyuap nasi ke dalam mulut lalu melirik tangan Sunhwa yang terkepal di atas meja. Pria itu tersenyum remeh, "Bukankah penyakit yang menyerang tubuh di luar kendali manusia? Di saat ada aku yang lebih berhak untuk mengkritik setiap orang, jangan terlalu berlebihan, Ibunda Ratu." Celetuknya sebelum menikmati potongan daging tanpa menaruh curiga kepada siapapun termasuk kepada pelayan yang kini bertanggung jawab melayaninya.

Sunhwa mulai bisa mengendalikan diri, lalu melempar senyum. "Baik, Paduka."

Daya apa yang Sunhwa punya untuk melawan kehendak Chanyeol yang sejatinya adalah seorang Raja.

Wanita itu hanyalah ibu tiri yang telah berjuang mati-matian merebut posisi ibu Permaisuri dari ibu kandung Chanyeol.

"Masakanmu cukup lezat." Chanyeol kembali bersuara setelah bungkam dalam menyantap makan siangnya.

"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia." Sunhwa menunduk hormat. Meski hatinya terasa begitu dongkol setiap kali harus merendahkan diri di hadapan Chanyeol.

"Yang Mulia Permaisuri, putri dari pejabat Kwak datang berkunjung."

Seruan lantang dan tegas penuh rasa hormat itu berasal dari luar, dan seketika Sunhwa tersenyum.

"Biarkan dia masuk."

Chanyeol telah selesai dengan makan siangnya, lalu bangkit. "Terima kasih untuk jamuannya, kalau begitu sampai bertemu di acara pesta, Ibunda Ratu."

"Kau mau kemana, Raja? Duduklah dulu." Sunhwa mencegah Chanyeol untuk beranjak.

Chanyeol mengernyit kecil. Apa ini? Lalu menoleh pada sosok yang baru saja memasuki ruangan sang Ibu Permaisuri.

"Hamba datang untuk menyapa Yang Mulia Ibu Permaisuri." Sosok itu berparas anggun, suaranya terlalu halus sampai Chanyeol tidak yakin itu adalah suara yang digunakannya sehari-hari.

"Oh, Saebyul sudah datang. Kemari nak, beri salam kepada Paduka Raja." Sunhwa memerintahkan sosok wanita yang tengah berlutut itu untuk mendekat.

Saebyul tersenyum manis lalu berlutut kepada Chanyeol. "Suatu kehormatan bisa menyapa Baginda Raja."

Ya. Semua orang berhak melakukan hal itu kepada sang Raja.

"Paduka, dia adalah Saebyul, putri sulung dari pejabat Kwak."

"Ya." Singkat Chanyeol sebelum membungkuk sopan kepada Sunhwa. "Hamba mohon undur diri."

Senyuman Sunhwa bertahan dalam anggukan, lantas setelah sosok Chanyeol menghilang di pintu ke tiga, ia mendengus keras dan menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat Saebyul terperangah.

"Dia benar-benar sulit untuk dikendalikan."

"Bibi, aku tidak tahu bahwa Paduka Raja setampan itu." Saebyul berseru heboh, menanggalkan keanggunan yang ia tata di depan sang Raja beberapa saat lalu.

"Jika kau menyukainya, aku akan membuatnya menjadi milikmu." Tutur Sunhwa.

Hubungannya dengan tuan Kwak memang bisa dikatakan sebagai kerabat dekat, mereka masih terikat tali persaudaraan. Hal itu pula yang membawanya pada perkenalan dengan Park Sangyoon yang sejatinya mempunyai hubungan erat dengan tuan Kwak, hingga di suatu waktu ia berhasil menggoda pria itu agar dinikahi, tahta Ibu Permaisuri pun jatuh ke tangannya setelah ia menepis nurani dan melenyapkan ibu kandung Chanyeol tersebut. Sejak saat itu hidup Sunhwa berubah, ia menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh di Istana, namun wanita itu tidak pernah merasa puas, sebenarnya sudah sejak lama ia terobsesi untuk mendekatkan Chanyeol dengan Saebyul untuk ketamakannya yang lain. Namun pria dingin itu ternyata tidak mudah untuk dihadapi. Terbukti oleh responnya beberapa saat lalu.

"Be-benarkah, Bibi?"

Sunhwa tersenyum licik. "Tentu, aku akan menempatkanmu di tempat paling tinggi di samping Baginda Raja."

Bukankah mengangkat derajat nenek moyang adalah suatu pencapaian yang membanggakan? Dan Sunhwa berkeinginan melambungkan marga leluhurnya dengan satu obsesi mutlak.

"Kau akan kujadikan sebagai Ratu."

Kalimat itu penuh keyakinan, bahkan obsesinya berpendar terang di kedua bola mata.

-oOo-

"Apa Paduka baik-baik saja?"

Sehun tampak cemas melihat keringat dingin menghias dahi dan wajah Chanyeol yang mulai memucat. Seingatnya sang Raja terlihat baik-baik saja setelah keluar dari paviliun Ibu Permaisuri. Lalu mengapa sekarang pria itu terlihat tidak sehat?

Chanyeol mengangguk meski sebenarnya ia merasa ada yang salah dengan pernapasannya.

"Paduka Raja memasuki balai Istana!"

Gendang ditabuh seirama dengan suara lantang dari seorang prajurit yang memberi sambutan saat tandu yang membawa sang Raja mulai memasuki pelataran Istana.

Semua orang berlutut saat rombongan sang penguasa itu mulai menyisir jalan.

Sosok berwajah tegas dan berwibawa itu menelisik ke segala arah, ia disambut baik dengan berbagai macam hiasan dan ornamen yang menggantung di sepanjang jalan. Chanyeol tidak pernah lupa bahwa setiap tahun tepat di hari ulang tahunnya, seluruh penghuni Istana akan bekerja keras merayakan pertambahan usianya dengan sebuah pesta yang meriah.

Alunan instrumen tradisional menggiring sang penguasa itu menuju singgasana, Chanyeol mengabaikan rasa sesak yang mulai menggores paru-paru dan mulai melambaikan tangannya kepada seluruh penghuni Istana dengan aura wibawa.

Deretan kursi para petinggi Istana menghias baris di bawah singgasana Raja, sementara Chanyeol sendiri sejajar dengan ayahnya juga Ibu Permaisuri. Menunggu rangkaian acara yang akan ditampilkan untuk mengisi pesta ulang tahun Raja joseon tersebut..

Pria itu telah lama meremat baju kebesaran yang dipakai, menahan mual yang entah mengapa mengendap di ulu hati. Ada apa dengannya?

"Apa Paduka Raja baik-baik saja? Kau tampak tidak sehat." Sunhwa bertanya dengan raut cemas yang dibuat meyakinkan setiap orang.

"Apa? Kau merasa tidak baik?" Lalu Sangyoon yang menyadari bahwa wajah Chanyeol sudah begitu pucat. Ia bahkan tidak melewatkan setiap bulir keringat yang mengalir di dahi putranya.

Chanyeol mengangkat tangan, tak mampu bersuara namun ia memberitahukan bahwa dirinya baik-baik saja.

Tentu saja, Chanyeol tidak pernah sekali pun menunjukan kelemahannya di muka umum.

Semua orang mulai larut dengan ragam hiburan yang ditampilkan, sorak riuh dan gempita mengisi udara malam saat beberapa wanita penghibur memasuki area tengah pertunjukan dengan tarian gemulai yang memabukkan.

Gelak tawa bahagia memenuhi pelataran Istana, mereka menikmati rangkaian acara yang telah berlangsung puluhan menit.

Sementara di atas singgasana, Chanyeol mulai tak bisa menahan diri, pernapasannya sudah lama terganggu, tubuhnya selalu nyaris memuntahkan sesuatu, Chanyeol tidak mengerti apa yang terjadi padanya, bahkan penglihatannya ikut berulah, pria itu melebarkan kedua atensi dan mencoba menangkap jelas seorang wanita penghibur yang kini tengah melakukan pertujukan solo, memainkan alat musik kecapi.

"Mereka semua sangat berbakat." Puji Sunhwa.

"Tidak percuma bukan menyewa para gisaeng untuk mengisi acara ulang tahun Paduka. Ini sesuatu yang baru namun begitu menakjubkan. Bukan begitu Yang Mulia?" Sangyoon ikut bersuara lalu menoleh ke arah Chanyeol.

Pria itu mengernyit mendapati Chanyeol menatapnya dengan mata sayu sebelum korneanya melebar mendapati Chanyeol ambruk dari singgasana dan tak sadarkan diri.

"Yang Mulia!" Pekik Sangyoon dengan suara lantang sehingga mengalihkan perhatian semua orang dari pertujunkan musik kecapi.

Sontak saja berjengit berjengit terkejut.

"Astaga apa yang terjadi?" Teriak Sunhwa.

Sangyoon berlutut dan menepuk pipi Chanyeol berulang kali. "Yang Mulia! Tunggu apa lagi? Bawa Yang Mulia masuk dan panggilkan tabib Istana secepatnya!" Sangyoon menghardik Sehun dan memerintah seorang kasim.

Suasana berubah, meriah yang semula menyertai kini dibalut oleh ketegangan dari setiap orang saat melihat sang Raja diboyong dengan tandu dalam keadaan tak sadarkan diri. Pesta itu rusak, semua orang berdecak panik dan cemas, namun tidak dengan sosok anggun yang masih sibuk memetik kecapi di tengah aula terbuka. Seolah tidak peduli pada atmosfer tegang yang menguar di sekitarnya.

Jemari lentik itu dengan lihai memetik senar, matanya terpejam nikmat dan senyum miring tercetak dengan puas.

Pelayan gadungan yang ia perintahkan untuk meracuni makanan Raja telah bekerja dengan baik. Baekhyun merasakan senang, tentu saja penderitaan pria itu telah menjadi prioritas utamanya sejak lama. Meski telah berhasil membuat racun mengendap dalam tubuh Chanyeol namun Baekhyun belum merasa cukup. Masih ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk menuntaskan tujuan utamanya.

Ini baru permulaan, Yang Mulia.

-oOo-

"Bagaimana tabib Choi?" Sangyoon bertanya dengan cemas seraya memusatkan atensinya pada Chanyeol yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas alas kebesarannya.

Sosok paruh baya berjenggot putih telah selesai memeriksa nadi di pergelangan tangan Chanyeol lalu melempar wajah cemas. "Sepertinya Yang Mulia mengalami keracunan, tuan."

"Apa?"

Tabib Choi menuduk mendapati Sangyoon membelalak tak percaya. "Ya. Dan saat ini denyut nadinya sangat lemah."

"Lalu apa yang harus dilakukan?"

"Hamba perlu tahu dulu racun apa yang mengendap di dalam tubuh Paduka."

"Lakukan apapun! Kesehatan Raja adalah hal terpenting."

Tabib Choi mulai melakukan inspeksi mendadak. Dan setelah menanyai beberapa dayang Istana yang bertanggung jawab dalam menyajikan makanan yang terakhir dikonsumsi oleh Raja, pria paruh baya itu mulai menemukan titik terang.

"Ada sari tanaman saga yang terkandung dalam hidangan yang Paduka cicipi di bilik Yang Mulia Permaisuri."

"Apa? Jadi kau menuduhku telah meracuni Raja?" Sunhwa jelas merasa dituduh saat semua orang melempar tatapan curiga ke arahnya.

"Jaga nada bicaramu!" Sangyoon menghardik sang istri dengan dehaman keras.

"Ampuni hamba Permaisuri. Hamba tidak bermaksud menuduh. Namun makanan yang terakhir masuk ke mulut Paduka adalah jamuan makan siang dari Yang Mulia Permaisuri."

"Tapi aku tidak melakukan itu!" Sunhwa membela diri karena sedikit saja namanya tercoreng maka posisinya bisa terancam.

Sangyoon mematung beberapa saat sebelum mengernyit dalam. "Siapa yang telah berani meracuni Raja?" Geramnya tak terelakkan meski ia mengesampingkan terlebih dahulu rasa ingin tahu. "Lalu bagaimana sekarang? Raja tidak boleh seperti ini!"

Tabib Choi berniat menyahut namun telah lebih dulu terkejut saat tubuh Chanyeol mengejang dengan sendirinya.

"Yang Mulia!" Sangyoon jelas merasa semakin kalut. "Lakukan sesuatu!" Perintahnya pada tabib Choi yang mulai memeriksa keadaan Chanyeol.

"Tanaman saga mempunyai racun yang cukup berbahaya. Dapat menyebabkan demam, mual dan muntah. Dan jika dibiarkan akan membuat paru-paru Baginda dipenuhi oleh cairan bisa membuat nyawa Baginda terancam."

Sangyoon memejamkan matanya dengan geram. "Jangan banyak bicara! Aku bilang lakukan sesuatu!"

"Mohon maaf, tuan. Yang Mulia Raja harus ditangani dengan prosedur akupuntur dan paviliun kesehatan Istana belum memiliki satu pun tabib yang ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan kita tidak mempunyai banyak waktu." Sahut sang tabib sedikit meringis melihat keadaan Chanyeol yang kian bertambah buruk. Efek racun dari tanaman saga memang cukup membahayakan. Wajar jika kini Chanyeol terbaring tak berdaya dengan wajah memucat sempurna, serta keringat dingin di dahi yang menodai paras tampannya.

"Apa?!" Rasa geram Sangyoon bertambah geram, sedikit merutuk pada dirinya sendiri karena selama ini kurang peduli pada permasalahan lain Istana dan hanya memikirkan kesenangan diri dan menggugu ego para pejabat tinggi. Meskipun segala hal melalui persetujuan Chanyeol sebagai Raja namun Sangyoon lah yang menyaring apa yang harus disetujui oleh putranya tersebut.

Kekesalannya membawa pria tua itu bangkit dan keluar dari kamar sang Raja.

"Tuan, bagaimana keadaan Paduka?" Salah satu dari sekian banyaknya para pejabat yang berkumpul di depan paviliun sang Raja bertanya kepada Sangyoon.

"Di mana kita bisa menemukan tabib akupuntur secepatnya?" Sangyoon bertanya kepada kerumunan pejabat.

"Itu mustahil, tuan. Tabib akupuntur terbaik negeri ini berada jauh di perbatasan kota. Butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke sana." Tuan Kwak menyahut.

Namun setahunya Donghae juga menguasai berbagai ilmu pengobatan termasuk akupuntur, meski sayang pria itu telah lama meninggal.

Semua orang bergemuruh panik tanpa menghiraukan rombongan gisaeng yang berjalan menuju paviliun Istana barat.

Para wanita penghibur itu berwajah masam karena penampilan mereka tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus karena insiden yang menimpa Baginda Raja.

"Kita sudah berlatih sangat keras tapi tidak bisa menampilkan keseluruhannya."

"Sudahlah, yang paling penting mereka membayar kita."

Obrolan rekan sesama gisaeng itu sampai di telinga Baekhyun. Wanita itu masih terlihat tenang seraya melucuti hiasan rambut dan mematut diri di depan cermin. Hanya menunggu waktu sampai seseorang menyadari keahliannya.

"Baekhyun.. Nyonya besar mencarimu."

Ini dia.

"Aku di sini."

"Dia memintamu ke luar."

Baekhyun menghela pelan sebelum bangkit. "Bergegaslah kalian, kita akan pulang setelah ini."

Semua orang menurut, lalu mulai membenahi diri.

Baekhyun menguak daun pintu dan mendapati Heechul berdiri di pelataran paviliun.

"Kau mencariku?"

Heechul berbalik dengan wajah gelisah.

"Ada apa?"

"Kau mendengar obrolan para menteri tadi?"

Tentu saja. Baekhyun bahkan mengulas senyum tipis mendengar mereka semua kalut pada kondisi kesehatan Raja.

Lantas wanita itu mengangguk.

"Bagus. Kau ingat dulu pernah mengobati Kyungsoo yang demam tinggi dengan jarum kau tusukkan di pergelangan tangannya? Saat kau menghilangkan bisa ular dari kaki rekanmu dan berulang kali merawat temanmu yang sakit dengan jarum-jarum itu?"

Baekhyun cukup puas karena Heechul adalah wanita yang begitu peka.

"Lalu?"

"Ini kesempatan kita!"

"Apanya?"

"Kau adalah pemain akupuntur yang hebat yang aku tahu. Maka dari itu obatilah Paduka Raja."

"A-apa?" Baekhyun harus berpura-pura terkejut bukan? "Nyonya, aku hanya mempelajari beberapa hal dengan tuan Lee dulu, itu pun hanya kebetulan demam Kyungsoo bisa langsung turun saat itu."

"Tapi tidak dengan rekan-rekanmu yang kau rawat saat mereka sakit."

Baekhyun memang sempat mempelajari ilmu pengobatan dari Donghae saat ia menjadi seorang budak dan tinggal dengan pria itu dulu. Selain mempunyai minat dalam bidang pengobatan, Baekhyun juga merasa menyembuhkan seseorang adalah hal yang menyenangkan, maka dari itu ia terus mengembangkan bakatnya itu hingga kerap mendapatkan pujian dari rekannya sesama gisaeng saat ia berhasil menyembuhkan seseorang.

Heechul menekan kedua bahu Baekhyun. "Coba pikir ini, jika kau berhasil menyembuhkan Paduka Raja maka akses kita untuk memasuki Istana semakin terbuka lebar. Dengar, mendapatkan kepercayaan dari mereka yang berkusa adalah sebuah keuntungan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini."

Dan ketamakan Kim Heechul adalah apa yang Baekhyun incar sebelum ia berniat meracuni sang Raja. Wanita itu tahu Heechul akan melakukan apapun untuk menembus celah keuntungan. Dia memang wanita yang begitu terobsesi dengan reputasi dan uang.

"Ta-tapi bagaimana jika aku tidak bisa menyembuhkannya?" Baekhyun tetap bersandiwara sampai akhir. Ia tidak akan membiarkan siapa pun tahu jika segala ketegangan yang kini membaluti tembok Istana adalah perbuatannya.

"Aku sudah bilang bahwa kau adalah pemain akupuntur yang handal. Yakinlah kau bisa."

Baekhyun masih mempetahankan wajah bingung yang dibuat semeyakinkan mungkin sebelum ia menatap Heechul dan mengangguk kecil. "Baiklah."

Heechul tersenyum puas sebelum berbalik dan mencoba berbicara dengan tuan Kwak, salah satu pejabat tinggi kepercayaan Park Sangyoon.

-oOo-

"Dia menguasai kemampuan akupuntur sejak remaja, bahkan dia sering mengonati rekan-rekannya yang sakit." Heechul mengelus bahu tuan Kwak.

"Bagaimana bisa aku mempercainya? Lagipula apa kau pikir tuan Park akan membiarkan Baginda Raja diobati oleh wanita penghibur?"

"Dan hamba percaya tuan bisa meyakinkan pejabat Park untuk itu. Kalian berdua sangat dekat bukan?"

Tuan Kwak bergumam di balik janggut putihnya.

"Hamba hanya menawarkan bantuan saja, karena sepertinya kondisi Paduka Raja benar-benar mengkhawatirkan." Heechul terus memprovokasi keadaan.

"Bantuan apa maksudmu?"

Tuan Kwak merutuk karena tidak memilih tempat yang aman untuk berbincang dengan Heechul. Dan suara Park Sangyoon yang terdengar sedikit banyak membuatnya terintimidasi keadaan.

"Pejabat Park." Heechul membukuk hormat seraya melempar senyum kebangsawanannya.

"Aku mendengar kalian membicarakan Paduka Raja. Katakan."

"Begini—"

"Ahh hamba telah menemukan seseorang yang dapat mengobati Paduka Raja."

Dasar pria tua licik! Heechul merutuk dalam hati karena ucapannya diinterupsi oleh tuan Kwak.

"Benarkah?!" Sangyoon jelas merasa senang. Pun beberapa pejabat lain yang mengekorinya sedari tadi.

"Ya. Tapi.." Tuan Kwak menarik Sangyoon dari keramaian. Lalu membisikkan sesuatu. "Dia adalah seorang gisaeng, tuan. Dan nyonya Kim begitu mengelu-elukan kemampuannya."

Sangyoon mengernyit. "Seorang gisaeng belajar ilmu pengobatan?"

"Sepertinya begitu. Lantas bagaimana sekarang? Apa kita harus mencobanya?"

"Apa harus?" Sebetulnya Sangyoon telah berputus asa, namun membiarkan seorang wanita penghibur mengobati Raja adalah hal yang mustahil.

Gisaeng mempunyai citra yang kontroversial, hal itu akan menodai keagungan sang Raja.

"Tuan, kondisi Baginda Raja semakin memburuk." Seorang kasim berucap terengah setelah menghampiri Sangyoon di pelataran Istana dengan berlarian.

Alhasil semua orang yang berada di sekitar semakin kalit dan panik.

"Apa?!"

"Tabib Choi mendiagnosa tidak adanya siklus pernapasan." Sang Kasim berujar panik.

Sangyoon sontak menoleh kepada tuan Kwak. "Bawa gisaeng itu ke Istana Baginda, sekarang!" Gumamnya dengan mutlak.

Tuan Kwak mengangguk patuh dan Heechul yang sedari tadi mengamati nyaris berseru senang.

-oOo-

"Ingat satu hal jangan pernah berlaku kurang ajar terhadap Baginda Raja, lakukan tugasmu dengan benar."

Baekhyun membungkuk hormat untuk setiap peringatan yang dilontarkan oleh tuan Kwak kepadanya.

"Jika aku tidak salah, bukankah kau budak yang Heechul tebus waktu itu?"

Benar, sekarang tuan Kwak mengingatnya. Karena wajah wanita itu tidak asing. Meski segala hal telah banyak berubah, gadis kumal yang dulu ia tahu sebagai budak kini menjelma menjadi wanita cantik yang berpotensi menjerat lawan jenis.

"Benar, tuan."

Tuan Kwak menyelidik lebih jauh dengan sorot matanya. "Apa Donghae yang mengajarimu ilmu pengobatan?"

"Ya. Paman Lee yang telah mengajari hamba." Si mugil masih menyahut dengan suara halus dan gestur kebangsawanan yang melekat. Mengesampingkan dendam saat mengingat bahwa pria tua yang kini menggiringnya menuju paviliun Raja adalah orang yang pernah menyiksanya dulu.

Tidak ada lagi percakapan, langkah mereka terhenti dan Baekhyun masih menunduk saat sebuah suara memenuhi gendang telinga.

"Jadi dia orangnya?"

Apa yang kini ia pijak telah kehilangan gravitasi, Baekhyun masih mengingat suara tua itu dengan baik. Suara seorang pria keji yang tega menghabisi kedua orang tuanya. Baekhyun tentulah manusia biasa yang sulit menepis luka meski masa selalu mencari celah untuk menggerus apa yang tertanam di dalam ingatan. Dan kini ia tidak mampu mengendalikan kepalan tangan di balik lengan hanbok yang dikenakan.

"Apa yang kau lakukan? Beri penghormatan kepada tuan Park!"

Baekhyun menyadari segala hal sebelum membungkuk dalam.

"Apa kau yakin bisa mengobati Paduka Raja?" Tanya Sangyoon dengan suara pelan, sedangkan matanya menelisik segala arah. Memastikan penghuni Istana lain tidak tahu bahwa seorang gisaeng lah yang akan mengobati Raja joseon.

"Suatu kehormatan bagi hamba jika dipercaya untuk mengobati Paduka Raja, tuan." Baekhyun menyahut sebelum mendongak dan merangkai keberanian menatap pria tua itu tepat di kedua irisnya.

Satu hal yang Baekhyun syukuri di masa lalu. Saat di mana ia kerap mengikuti rapat darurat di balairung Istana, ada sebuah kain penghalang yang membatasi dirinya dengan para pejabat. Juga tentang dirinya yang kerap mengisolasi diri dari dunia luar sehingga tidak banyak yang tahu dengan jelas wajahnya saat itu. Dan tentu itu adalah sebuah keuntungan bagi Baekhyun yang telah membulatkan tekad untuk membalaskan dendamnya.

Sangyoon mengamati wajah wanita di depannya untuk beberapa saat. Lantas mengangguk. "Bawa dia masuk." Titahnya kepada dua orang dayang.

Napas Baekhyun terurai lega saat melewati beberapa penjaga dan kini mulai melangkah di sebuah koridor. Setiap langkah yang terurai menyisakan kenangan lama yang membuat parunya kembali kehilangan fungsi.

Setiap ornamen yang melekat di dinding paviliun sang penguasa melemparnya kembali pada masa lalu.

Ayah, aku di sini.

Aku kembali.

Tiga pintu terhubung dibuka secara beruntun, kedua dayang yang menuntun Baekhyun masuk ke dalam kamar Raja mempersilahkan dengan hormat.

Seorang pria paruh baya dengan baju kebesaran seorang tabib, juga seorang wanita yang diyakini Baekhyun adalah Ibu Permaisuri karena pakaian tak asing yang dikenakan sontak menyambut wanita penghibur itu dengan rasa penasaran.

Baekhyun berlutut untuk sebuah formalitas.

"Lakukan yang terbaik yang kau bisa."

Sangyoon bersuara di belakangnya. Lantas mengambil posisi di samping Sunhwa.

"Siapa dia? Bukankah dia salah satu dari wanita penghibur itu? Apa tuan telah kehilangan akal sehat? Kenapa membiarkan Baginda Raja ditangani oleh pelacur!" Disamping tidak ingin citra Istana menjadi buruk karena seorang gisaeng, Sunhwa juga cukup sinis dan iri pada paras Baekhyun yang cantik luar biasa.

"Jaga ucapanmu!" Geram Sangyoon dengan anda rendah.

Baekhyun mengangguk dengan gestur anggun sebelum menoleh dengan gerak terbata pada sosok yang kini terbaring menyedihkan di atas alasnya.

Rasa bahagia yang Baekhyun rasa adalah untuk wajah pucat pasi dan penderitaan yang menguar dari seluruh tubuhnya. Namun Baekhyun tidak terlalu lama menggugu rasa puas, karena niat utamanya meracuni pria itu adalah untuk menyembuhkannya dengan tangannya sendiri.

Baekhyun harus membuat dirinya terlihat berkesan dan mendapatkan akses yang lebar agar Istana mau menerima wanita penghibur seperti dirinya untuk dapat keluar masuk sesuka hati. Karena pembalasan dendam yang tepat adalah dengan berada di sekitar mereka. Alih-alih berperan sebagai musuh dari luar, Baekhyun akan menjelma menjadi teman baik. Dengan begitu pepatah bahwa teman baik lebih berbahaya daripada seorang musuh akan terasa lebih nyata.

Lihatlah, baju kebesaran yang dulu kerap dikenakan ayahnya kini melekat di tubuh putra seorang pembunuh.

Rasa geram itu diredam dengan cepat, Baekhyun mengulurkan tangan dan memeriksa suhu tubuh Chanyeol melalui dahi.

Tentu saja kau demam, Yang Mulia. Batin Baekhyun dengan rasa puas.

Lantas wanita itu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan.

Oh, hanya menunggu beberapa jam saja nyawamu tidak akan tertolong, Yang Mulia.

Namun Baekhyun tidak ingin itu terjadi, jika pria itu diharuskan mati maka Baekhyun harus telah lebih membayar lunas segala kemarahannya di masa lalu.

"Paduka keracunan?" Tanya Baekhyun kepada tabib Choi.

"Benar. Benar sekali. Bagaimana bisa kau tahu?" Tabib Choi jelas takjub dengan diagnosa yang Baekhyun lakukan.

Dari mana seorang gisaeng mempelajari ilmu pengobatan?

"Demamnya cukup tinggi, bibirnya juga memucat, dan tubuh Paduka mengigil hebat. Keringat dingin ini menguatkan asusmi. Hamba akan mencoba yang terbaik." Kemudian Baekhyun menunduk kecil kepada Sangyoon dan Ibu Permaisuri.

Wanita itu mulai menelanjangi dada sang Raja tanpa menghiraukan rutukan Ibu Permaisuri di belakangnya.

Berbekal keahlian yang ia pelajari, dan racun dari tanaman saga yang telah ia hafal cara penangannya di luar kepala itu adalah awal dari segalanya.

Jika detak jantungmu selemah ini, bagaimana kau akan sanggup untuk bertarung melawan dendamku, Yang Mulia.

Lalu wanita itu mulai memendamkan jarum akupuntur di beberapa titik vital.

Maka dari itu kau harus sembuh. Kau harus berhutang budi kepadaku.

Ada napas yang terurai keras dan lega, dalam keadaan tak sadarkan diri Chanyeol kembali mendapati celah untuk bernapas dengan benar karena sebuah prosedur pengobatan yang tepat.

Ketagangan semua orang yang berada di ruangan itu seketika luruh. Setiap orang saling melempar tatap dengan kagum yang berpendar.

"Bagaimana?" Sangyoon memastikan.

"Hanya ini yang bisa hamba lakukan, tuan. Baginda Raja akan siuman beberapa jam ke depan. Dan racunnya akan terurai melalui air seni." Baekhyun berujar setelah selesai dengan beberapa jarum akupuntur di tubuh sang Raja.

"Benarkah?"

Baekhyun mengangguki pertanyaan Sangyoon.

Sementara pria paruh baya itu mulai menghela lega saat mendapati rona kembali menghias wajah putranya. Bibirnya pun mulai terlihat manusiawi meskipun kesadarannya masih belum pulih.

"Hamba akan meresepkan ramuan untuk memulihkan kesehatan Baginda Raja selama proses penyembuhan."

"Kau sudah bekerja keras." Sangyoon memuji wanita itu tanpa ragu.

Begitu pun dengan tabib Choi, dua orang kasim dan dayang.

Dibalik senyum yang tenang, Baekhyun tentu merasa sangat puas karena rencananya berjalan dengan mulus.

Setelah memohon undur diri, Baekhyun ditemani oleh dayang Istana keluar dari paviliun Raja.

"Aku akan mengantarnya ke paviliun barat." Seseorang dengan pakaian hitam dan pedang yang menyalang dari punggung menghadang.

Baekhyun tebak pria itu seusianya.

Tapi siapa dia?

"Tapi pengawal Oh.."

"Ini perintah dari tuan Park. Dia akan tidur di Istana malam ini."

"Apa katamu?" Baekhyun terdengar melemparkan sebuah protes.

Sehun menoleh pada Baekhyun. "Rombonganmu sudah pulang. Dan tuan Park memerintahkanmu untuk tidur di Istana malam ini karena besok pagi kau diharuskan memeriksa kembali kondisi Paduka Raja."

"Mereka pikir aku tabib atau apa?" Gumam Baekhyun dengan rutukan kecil.

"Semua orang akan langsung tahu bahwa kau bukan tabib."

Keparat ini sungguh kasar.

"Jaga sopan santunmu, tuan." Baekhyun tahu Sehun tengah menghakimi profesinya di balik mata elang berbahaya itu.

"Dia benar. Jaga sopan santunmu, Oh Sehun!"

Baekhyun reflek berbalik pada sosok paruh baya yang seketika membuat napasnya tercekat hebat.

Guru?

Wanita itu menunduk, menghindari hal-hal yang akan berakibat fatal karena bisa saja sosok itu mengenalnya.

Adalah Oh Minho, yang baru saja menghardik putranya, Sehun.

Kepala prajurit Istana itu datang untuk mengetahui kondisi kesehatan Raja dan kebetulan menjumpai perdebatan kecil yang dimulai oleh putranya.

"Jangan menghakimi keadaan orang lain. Lebih baik kau antar nona ini ke paviliun barat sekarang."

Selain sebuah anggukan kecil, Sehun tak sedikit pun bersuara sebelum kemudian menggiring Baekhyun ke tempat yang dituju.

Minho masih menancapkan atensinya pada punggung mungil si wanita penghibur. Lalu kernyitan di dahinya mengemuka karena terganggu oleh sesuatu.

Di mana aku pernah melihatnya?

-oOo-

Seingatnya tadi malam ia terjaga dalam keadaan terbaring lemah dan karena itu kelopak matanya kembali tertutup untuk kembali berbaur dengan alam bawah sadar, namun pagi ini Chanyeol mendapati dirinya tidak selunglai tadi malam.

Ia tebak tabib Istana yang telah menanganinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"

Meski tetap saja ia tidak dapat menahan rasa ingin tahu atas apa yang terjadi padanya saat acara pesta berlangsung.

"Apa ada orang di luar?" Suara baritone itu menggema dengan wibawa.

Lalu tiga pintu penghubung terbuka menyisakan pemandangan asing bagi Chanyeol.

"Siapa kau?"

Jelas, Chanyeol amat antipati dengan orang asing. Terlebih dia berani memasuki kamarnya tanpa izin mutlak.

Terlebih untuk kedua kali, sosok itu adalah wanita dengan pakaian yang tidak pantas dipakai untuk berhadapan dengan seorang Raja.

Alis Chanyeol menukik tajam saat mengingat bahwa wanita berpakaian seperti itu banyak dijumpainya tadi malam.

Ya, para gisaeng itu yang berani memakai hanbok dengan jenis terlampau terhuka tersebut.

Lantas apa yang dilakukan seorang pelacur di kamarnya?

"Hamba membawa ramuan herbal untuk memulihkan kesehatan Paduka."

"Beraninya kau mengabaikan pertanyaanku!" Chanyeol membentak keras, merasa terhina.

"Ampuni hamba, Paduka." Sosok itu berlutut setelah meletakan nampan yang di atasnya terdapat sebuah porselen cekung berisi ramuan. "Nama hamba Byun Baekhyun. Semalam Paduka keracunan dan tuan Park memberi hamba tanggung jawab untuk merawat serta memulihkan kesehatan Paduka."

"Apa?" Chanyeol dikejutkan oleh dua hal.

Keracunan?

"Kenapa harus kau?!"

Lantas apa ayahnya memang telah kehilangan kewarasan.

Demi Tuhan, Park Chanyeol adalah Raja joseon!

Bagaimana bisa ayahnya mempercayakan kesehatannya kepada seorang pelacur?

Apa semua tabib di Istana sudah mati?!

Chanyeol menekan kemarahannya hingga ke titik dasar karena ia tahu segala hal yang didasari oleh perintah ayahnya adalah sesuatu yang beralasan mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

"Angkat wajahmu."

Karena sejak awal Baekhyun menunduk dalam, tidak sedikitpun memperlihatkan wajahnya kepada sang penguasa.

Perlahan, sosok yang berlutut itu menengadah. Setiap kali kelopak indahnya mengerjap menyapu kehalusan dari caranya melempar tatap.

Sunyi menjadi pertanda bahwa mereka membuat keadaan tidak wajar hanya dengan memandang satu sama lain.

Chanyeol mendapati kembali kewarasan dan kemudian memalingkan wajah. Apa ia pernah menjumpai iris bening itu sebelumnya?

"Ramuan ini harus Yang Mulia habiskan sebelum mendingin." Baekhyun menukas lembut lantas mengulurkan ramuan herbal yang ia buat kepada sang Raja.

Chanyeol mengernyit saat cairan pekat pahit itu melewati kerongkongan.

"Ampuni hamba karena lancang."

Baekhyun hanya berbasi-basi sebelum mengikis jarak dan menempelkan punggung tangan di dahi Chanyeol.

"Beraninya kau! Siapa yang kau sentuh?!"

Ya. Berani sekali wanita itu meninggikan posisi tubuhnya di atas Raja dan menyentuhnya tanpa takut akan sebuah konsekuensi.

Chanyeol menepis tangan halus itu secepat kilat, namun perlakuannya itu justru melahirkan senyum lembut dari bibir Baekhyun.

"Syukurlah demamnya tidak berlarut-larut." Tukas Baekhyun dengan raut lega yang meyakinkan siapapun bahwa ia memang tengah dilanda rasa cemas sebelumnya. "Kalau begitu hamba mohon undur diri."

Wanita itu tidak lupa memberi penghormatan sebelum berbalik dan menyisakan aura kebangsawanan yang melakat oleh caranya mengurai langkah.

Tidak hanya itu, wanita berparas mempesona itu juga menyisakan kepalan tangan sang penguasa yang kini merasa geram, karena telah lengah membiarkan akal sehatnya menampik sinis pada seorang gisaeng yang selama ini begitu tidak ia sukai hanya karena kecantikannya yang tak masuk akal.

Untuk seorang pelacur, dia berbekal cukup modal.

TBC

An:

Baekhyun mah gisaeng tercantik dong di sini. Anak emasnya mak Heechul dan kesayangan para bangsawan. Ya gimana ya, wajar aja sih kalo si Raja nyaris kepelet hahaha..

Ps: Di sini peran Chanyeol setelah menjadi Raja adalah pria paling patah hati sejagad raya ya haha gimana gak? Ditinggal mati sang istri

Skor udah 1-1 belum? Atau ½ - 1? Atau belum apa-apa? Kaleeemmm masih panjaaangg wkwkwk

Oh ya! Animo untuk ff ini bener-bener luar biasa! Sampe terharu baca review kalian T.T thankyou so so sooooo matcha! Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kelyaaann. Saranghaeyo!

See you next chapt! SAMPISCHU!