FALLEN ANGEL

chapter 2


Hujan deras yang mengguyur kota Seoul di pagi hari tak menyurutkan penduduknya untuk tetap beraktifitas.

Mobil audi hitam nya melaju menembus hujan di jalanan kota. Daehyun hanya diam menatap jendela. Minhyuk berkali kali melirik tuannya dari spion. Tak biasanya Daehyun hanya diam seperti itu.

"Depyonim."

"Hmm." Hanya gumaman yang di terima Minhyuk.

"Apa ada masalah ? Sejak tadi malam anda-"

"tidak ada."

Daehyun memotong cepat. Tiba tiba sebuah senyum miring terpatri pada bibirnya. Saat baru saja mereka melalui sebuah halte.

"Minhyuk, tepikan mobilnya." perintah Daehyun. Dan Minhyuk, menurut pada perintahnya.

"Aku tahu meeting kali ini sangat penting. Tapi, tolong urus semuanya untuk ku. Semoga hasilnya tidak mengecewakan."

" tapi Depyonim-."

Terlambat. Daehyun sudah turun dari mobil.

Minhyuk menurunkan jendela untuk melihat Daehyun dari kaca spion. Tuannya berlari menembus hujan dan berteduh pada sebuah halte bis yang baru saja mereka lalui.

Minhyuk menghela nafas dan menaikan jendelanya, kemudian kembali mejalankan mobilnya.

.

Dua jam lalu bel masuk sekolahnya sudah berbunyi, tapi Youngjae masih berada di halte bus. Hanya ada dirinya disini. Dia menatap kosong pada jalan raya di depannya yang di guyur hujan deras.

Kemarin, dia pulang jam tiga pagi dan orang tuanya sudah tidak ada di rumah. Dia hanya menemukan uang satu juta won di atas meja belajarnya. Apa menurut mereka Youngjae hanya membutuhkan uang saja ?. apa jika Youngjae bertingkah sedikit nakal, dia akan memperoleh sedikit perhatian dari mereka ?. menjadi anak rajin dan pintar tidak bisa membuat mereka menoleh padanya.

"Kita bertemu lagi."

Suara seorang laki-laki mengintrupsinya, Youngjae menoleh, laki laki yang kemarin malam. Siapa namanya ? Jung- Daehyun ?.

"Youngjae-ssi, bukan. Youngjae-ah. Jadi kau masih seorang siswa." celoteh Daehyun. Laki-laki itu tertawa.

Namun Youngjae tak menanggapinya. Lelaki manis itu lebih suka menatap jalan raya dari pada menatapnya.

"Apa kau akan berangkat sekolah ?" Daehyun mengangkat tangan kirinya, melihat jam tangan mahalnya. "Tapi ini sudah terlalu siang untuk datang ke sekolah."

"aku tahu." jawab Youngjae singkat, pandangannya masih setia pada jalan raya.

"Jadi kau membolos hari ini ?."

Youngjae tak menjawab. Daehyun menatapnya sebentar lalu mendekat ke jalan raya dan menghentikan sebuah taksi.

"Ayo." Daehyun meraih tangan Youngjae.

Lelaki manis itu masih bertahan pada tempatnya. "kemana ?."

"Ke tempat kau bisa membolos. Apa kau hanya akan duduk disini sampai nanti sore ?."

Youngjae menatap tak percaya pada Daehyun.

"Jangan khawatir, aku tidak berniat jahat padamu. Aku yakin kau akan suka tempat yang aku tunjukan."

Daehyun menarik pelan tangan Youngjae. Dan entah kenapa Youngjae mau menuruti laki laki itu dan masuk ke dalam taksi.

Tak ada percakapan di antara mereka, taksi yang mereka naiki melaju membawa mereka entah kemana. Seingatnya, Daehyun pun tak mengatakan pada sang supir tujuan mereka.

Kendaraan beroda empat itu melewati sebuah jembatan yang meilntas di atas sungai paling terkenal di Seoul. Kabut tebal, menyelimuti jembatan. Jarak pandang sangat terbatas.

Youngjae hendak membuka mulutnya, mengingatkan supir taksi jika keadaan seperti ini benar-benar berbahaya. Tapi, dia seakan tak memiliki tenaga untuk itu. Rasa kantuk yang tiba-tiba dia rasakan memaksa kesadarannya menghilang.

PUK

Pada akhirnya lelaki manis itu, terjatuh di pundak Daehyun. Kesadaraannya tertarik entah kemana.

.

Youngjae mengerjapkan matanya pelan, dirasanya seseorang menggoncang tubuhnya pelan.

"tidurmu benar-benar nyenyak." Suara Daehyun yang pertama menyapa pendengarannya. Mereka masih di dalam taksi.

"ayo turun." Ajak Daehyun.

Youngjae menurut, ikut turun dari taksi. Setelah mereka keluar, taksi itu segera meninggalkan mereka.

Mata Youngjae tiba-tiba berbinar saat melihat sekelilingnya. cuacanya sangat cerah, berbeda dengan di kota yang di guyur hujan deras. Di sebelah kanan dan kirinya adalah padang rumput yang membentang luas. Dia menengok ke sebelah kanannya, di tengah padang rumput terdapat sebuah danau kecil dan rumah kincir bewarna merah.

Daehyun mengajaknya melewati jalan tanah setapak di antara padang rumput di sebelah kirinya. Dia berjalan di depan, sementara Daehyun mengikutinya di belakang.

Lelaki manis itu tak hentinya berdecak kagum, membuat Daehyun tanpa sadar tersenyum samar.

Berbeda dengan padang rumput di seberang jalan yang terdapat danau dan rumah kincir. rerumputan hijau yang membentang luas disini, sengaja di biarkan tumbuh memanjang hingga batas lutut orang dewasa. Di tengah padang rumput terdapat sebuah bukit kecil dengan satu pohon rindang.

Suasana hatinya tiba-tiba berubah terhadap laki-laki yang berjalan di belakangnya. Yang sudah dia anggap telah menculiknya.

"Aku tidak tahu jika Seoul memiliki tempat seperti ini." ujar Youngjae.

"Disini bukan Seoul."

Youngjae berhenti dan menoleh pada Daehyun cepat.

"Maksudmu kita keluar kota ?. Berapa kau membayar taksi tadi ?" kejut Youngjae.

"kenapa ? Kau ingin menggantinya ?."

"tidak. Aku tidak punya uang."

Youngjae kembali berjalan mendekati bukit, dia kembali merasa kagum. Menemukan beberapa bunga tulip bewarna merah yang tumbuh liar di bukit itu. Atas permintaan Youngjae, mereka duduk di bawah pohon yang berada di atas bukit itu.

"aku merasa seperti berada di Belanda. Melihat rumah kincir dan bunga tulip." Ujar Youngjae, matanya masih berbinar melihat rumah kincir yang masih bisa terlihat dari atas bukit ini.

"memangnya kau pernah ke Belanda sebelumnya ?."

Youngjae berdecak sebal, laki-laki ini kembali merusak suasana hatinya dengan pertanyaannya itu. Telinganya bisa mendengar dengan jelas nadanya benar-benar mengejek. "belum, aku hanya melihatnya di internet." Jawabnya kesal.

Daehyun terpingkal. "Kenapa kau membolos ?" tanyanya tiba tiba.

"Ah," Youngjae berpikir, kata apa yang tepat untuk dikatakan pada Daehyun. Ingin mencoba menjadi anak nakal ?. Tidak. Daehyun pasti kembali mengejeknya.

"Bangun kesiangan karena kemarin malam." tebak Daehyun.

"Tidak. Hanya ingin tahu bagaimana rasanya membolos." Jawab Youngjae pada akhirnya.

"kau tidak pernah membolos sebelumnya ?."

Youngjae menggeleng. "Aku termasuk siswa yang rajin dan pandai di sekolah."

"Jangan berbohong." Daehyun tak mempercayainya.

"Sungguh. Aku selalu mendapat peringkat satu."

"Jadi kau akan menjadi siswa rajin di sekolah. Kemudian saat pulang sekolah kau pergi ke club dan pulang malam."

"Tidak. itu juga untuk pertama kalinya aku pergi ke club malam." Bela Youngjae

"Apa mungkin, kau menolak saat aku memberimu alkohol. Itu karena kau berpikir masih di bawah umur."

"Ne." Youngjae mengangguk.

"Seusiamu memang ingin tahu banyak hal."

"Memang benar. Ada satu hal yang ingin aku tahu. Mungkin aku bisa menanyakannya padamu."

"apa ?." Daehyun menoleh padanya.

"Bagaimana rasanya melakukan- sex ?." Youngjae menatap polos padanya.

Daehyun terkekeh pelan mendengar pertanyaan Youngjae yang benar-benar tidak pernah di duganya. "Kau benar-benar menakjubkan." gumamnya.

Seketika ekspresinya berubah menjadi dingin dan serius. Dia menatap Youngjae yang kini juga tengah menatapnya penuh harap.

"aku juga tidak tahu. Karena aku belum pernah melakukannya. Bagaimana jika kita mencobanya ?."

Mata indah Youngjae membola, dia menjatuhkan rahangnya mendengar jawaban Daehyun.

"Mesum. Aku sudah menduga jika kau orang mesum sejak kau mengikutiku kemarin malam."

"Mesum ? Bukankah kau sendiri yang menanyakan itu."

"Kalau begitu lupakan saja." Youngjae mengibaskan tangannya. Dia merasa menyesal telah menanyakannya pada Daehyun. Meski dia tak memiliki teman, dia sering tak sengaja mendengar beberapa temannya heboh membicarakannya. Itu, yang membuatnya penasaran.

.

Minhyuk yang sibuk berkutat dengan banyak dokumen di depannya tiba-tiba mendongak, dia mengerutkan keningnya. Perjanjian jiwa yang di lakukannya dengan Daehyun, membuat dia seperti memiliki koneksi yang tak terputus dengan tuannya itu.

Saat ini, seakan dia melihat sebuah padang rumput yang luas, sebuah rumah kincir dan bunga tulip. Dan kata Amsterdam terlintas di otaknya begitu saja.

"bukankah Amsterdam berada di Belanda ?. Kenapa Tuan Lucien tiba-tiba keluar negeri ?" gumamnya sendiri.

Dia segera mengambil ponselnya, untuk menghubungi Daehyun.

"Tuan Lucien. Kenapa anda berada disana. Apa ada sesuatu ?." katanya, saat Daehyun baru saja mengangkat telponnya.

"Tidak ada Minhyuk-ah. Kemarilah jika kau sudah selesai, bawa mobilnya." Jawab Daehyun.

"Mobil ?." Minhyuk berkata setengah tak percaya. Membawa mobil berplat Korea ke Belanda ?. apa yang sebenarnya Daehyun lakukan disana ?.

"kenapa ? kau tidak bisa ?."

"saya akan segera kesana." Jawab Minhyuk.

Daehyun memutuskan sambungan telponnya dan menyimpan ponselnya pada saku jas.

"Temanmu ?." tanya Youngjae.

"Bukan. Sekretarisku."

"Apa pekerjaanmu ? Komisaris ?Manager ? Direktur-"

"CEO." Jawab Daehyun.

Youngjae tertawa sebentar. "Pantas saja kau bisa membayar taksi sampai kesini. Kau punya banyak uang."

"Apa kau senang ? Saat ini sedang bersama dengan orang yang memiliki banyak uang ?."

Keceriaan di wajah Youngjae hilang seketika. "Tidak. Aku tidak suka banyak uang."

"Kenapa ?."

"Aku tidak membutuhkannya." terdengar jelas nada ketidak sukaan pada kalimatnya.

Daehyun mengerutkan keningnya. "Disaat semua orang pasti membutuhkan uang. Kenapa kau tidak membutuhkannya ?."

Youngjae diam tak menjawab dan hanya menatap pada hamparan rumput di depannya. Karena uang, keluarganya menjadi seperti ini.

"Lalu apa yang kau butuhkan ?." Daehyun bertanya lagi.

"Cinta dan kasih sayang ? Atau sesuatu semacam itu." Jawab Youngjae pelan.

Daehyun diam sejenak untuk menatap Youngjae dalam. Ada sesuatu dalam hatinya, yang menurutnya aneh. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan.

"Aku akan memberikannya padamu." Kata Daehyun.

Youngjae menoleh pada Daehyun.

"Aku tidak memintanya darimu."

"Meski begitu aku akan memberikannya."

"Apa kau terbiasa memaksakan kehendakmu ?" tiba tiba Youngjae berjingkat di tengah perdebatan mereka. saat melihat seorang laki-laki yang tiba-tiba berada di depan mereka.

"Depyonim." ujar laki-laki itu.

Daehyun memutar bola matanya malas dan menghela nafas. Benar benar ceroboh.

"Oh, kau sudah datang." jawab Daehyun.

Youngjae menoleh pada Daehyun. "Ka- kapan dia datang ?." jantungnya masih berpacu karena terkejut.

"Baru saja." jawab Daehyun tenang.

"Aku tidak melihatnya, dan tiba tiba dia sudah berada di depan kita." Youngjae tak mempercayainya.

"Aku melihatnya berjalan dari sana kemari." Daehyun menunjuk jalan tanah setapak yang mereka lalui tadi.

Youngjae kembali melihat pada laki-laki di depannya.

"Aku jadi merinding." gumamnya pelan.

Daehyun berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Ayo. Kita pulang sekarang. Kau tau perjalanannya jauh."

Tanpa berpikir apapun lagi Youngjae menyambut uluran tangan Daehyun. Laki-laki tampan itu tak melepaskan tautan tangannya sampai dia membantu Youngjae turun dari bukit.

"Ini Lee Minhyuk. sekretarisku." Daehyun memperkenalkan.

"Yoo Youngjae imnida." Youngjae membungkuk sebagai rasa hormat.

Minhyuk tersenyum dan balas membungkuk.

"Kau membawa mobilnya kan ?." Daehyun menyudahi perkenalan mereka.

"Tentu saja. Mobilnya ada disana."

"Baiklah. Ayo." Daehyun memimpin jalan di ikuti Youngjae dan Minhyuk di belakangnya.

.

Matahari sudah akan tenggelam. Minhyuk menghentikan mobil audi hitam yang di kendarainya di sebuah persimpangan jalan komplek perumahan.

"Yang mana rumahmu ?." tanya Minhyuk.

"Di sekitar sini." jawab Youngjae, dia tersenyum. "terima kasih." lanjutnya sebelum membuka pintu mobil.

GREP

Daehyun memegang lengan Youngjae untuk mencegahnya turun. Lelaki manis itu menoleh.

"Tentang yang tadi. Aku benar benar akan memberikannya padamu." ucap Daehyun.

"Sudah aku bilang, aku tidak memintanya darimu."

"Tidak bisakah aku hanya memberikannya padamu ?."

"kenapa ?."

Daehyun terdiam tak bisa memberikan alasan. Dirinya sendiri pun tak tahu apa alasannya. Bahkan, dia tak pernah tahu apa itu cinta dan kasih sayang.

"Bahkan kita tak saling mengenal." Kata Youngjae.

DEG

Pegangan Daehyun terlepas. Hatinya bergetar, kenapa ? Dia tidak suka jika di tolak lelaki manis di depannya ini.

Dia hanya bisa diam hingga Youngjae turun dari mobilnya dan menghilang dari pandangannya.

Minhyuk menatap heran pada Daehyun lewat kaca spion. Apa yang sudah terjadi dengan tuannya ?. benar-benar tidak seperti Lucien.

Daehyun menutup pintunya dan Minhyuk kembali menjalankan mobilnya.

"Kenapa kau sangat ceroboh dengan muncul tiba-tiba." Ujar Daehyun.

"Maaf. Aku tidak tahu jika anda bersama orang lain."

"Bagaimana hasil meetingnya ?." Daehyun mengganti topik pembicaraan.

"Aku meletakan berkasnya di meja anda."

"Kalau begitu aku akan memeriksanya besok saja. Sekarang kita pulang."

"Ne."


FALLEN ANGEL


Youngjae meletakan tasnya di atas meja belajar sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya karena keringat seharian ini.

Cukup lima belas menit dia berada di dalam kamar mandi. Setelah mengeringkan rambutnya dan mengganti bajunya, dia duduk di depan meja belajarnya. Mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang tak ia sentuh seharian ini. Hanya ada satu pesan yang masuk dari nomor tak di kenal. Yang menanyakan keadaannya dan mengapa ia tak masuk sekolah hari ini. Mungkin ini nomor ketua kelasnya. Youngjae memang tak pernah menyimpan nomor siapapun dalam ponselnya.

Dia menyimpan ponselnya di dalam laci meja belajar. Ponsel bukan hal yang menarik untuknya.

Hazel indahnya menangkap sebuah buku bersampul merah marun di depannya. Buku yang ia pinjam dari perpustakaan lima hari lalu. Tersisa dua hari lagi sebelum batas pengembalian bukunya dan dia belum menyentuhnya sama sekali.

Tangannya terulur untuk membuka buku itu dan mulai membacanya. Banyak makhluk mitologi yang di jelaskan di buku ini. Seperti yang sering kita ketahui vampir, werewolf dan lain sebagainya.

.

.

Daehyun memasuki kediamannya, sebuah penthhouse di lantai teratas salah satu gedung hotel miliknya.

Minhyuk mengikuti Daehyun di belakangnya.

"Tuan Lucien." Minhyuk mengintrupsi. Menghentikan Daehyun yang baru saja menginjakan kakinya pada anak tangga. Daehyun menoleh.

"Siapa Youngjae ?." tanya Minhyuk.

"Aku bertemu dengannya kemarin malam di club."

"Kemarin malam ? Tidak biasanya anda seperti ini."

"Apa maksudmu ?."

"Biasanya tuan hanya akan menjalin hubungan semalam. Bahkan tuan tak pernah tau siapa nama orang-orang yang telah menemani anda."

Daehyun tersenyum. "Semua yang aku lakukan terhadapnya adalah untuk yang pertama kali. Aku menghampirinya, menanyakan namanya, mendekatinya. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan semua itu."

"Tapi kenapa tuan melakukannya ?."

"Awalnya aku hanya tertarik, Vincent. Sama seperti ketertarikanku pada yang lainnya. Tapi setelah hari ini- Haruskah aku menjadikannya milikku." Daehyun kembali tersenyum simpul sebelum melangkah menaiki anak tangga. Memasuki sebuah ruangan dengan sebuah pintu besar, yang berada tepat di depan tangga.

.

.

Hingga tak terasa malam semakin larut. Jam dinding di kamarnya telah menunjukan pukul sembilan. Youngjae masih setia dengan buku yang ia baca. Dia berhenti pada halaman ke 95 yang membahas tentang Fallen Angel.

Bangsa Iblis yang katanya memiliki tubuh setengah malaikat. Mereka memiliki dua sayap yang berbeda. Sayap yang satunya berbentuk seperti sayap burung bewarna putih dan yang satunya berbentuk seperti sayap kelelawar bewarna hitam. Memiliki iris mata bewarna merah darah.

Hanya tulisan itu, tidak ada penjelasan lain. Menimbulkan space kosong yang panjang hingga bagian bawah terdapat angka 95. Yang menunjukan halamannya.

Tak seperti makhluk lain yang di jelaskan di buku ini, yang membutuhkan beberapa lembar untuk membahasnya.

Youngjae membalik halamannya. Halaman ke 96 kosong tak ada apapun. Dan halaman 97 di sampingnya sudah berganti judul.

Jemari tangannya tergerak untuk merobek halaman itu. Entah apa yang membuatnya tertarik dengan salah satu bangsa iblis yang entah ada atau tidak.

Melipatnya menjadi dua bagian dan menyimpannya di sela-sela lembaran buku catatan yang selalu ia bawa. Buku catatan bewarna merah marun, yang selalu dia gunakan untuk mencatat hal-hal penting dalam semua mata pelajaran.

Getaran ponselnya mengganggu kegiatannya. Saat dia membuka laci, dia bisa melihat nama 'Daehyun hyung' tertera pada layar ponselnya. Apa ini ? Sejak kapan dia memiliki nomor laki-laki itu.

Youngjae mengangkat telponnya.

"Belum tidur ?." suara seorang laki-laki yang ia dengar.

"Dari mana kau dapat nomor ponselku ?." bukan jawaban yang Youngjae berikan.

Daehyun di seberang sana yang sedang duduk sendirian di meja makan dengan satu gelas wine di tangannya tertawa.

"Saat dalam perjalanan pulang kau tertidur, dan aku mengambil ponselmu."

"Kau menyentuh barang orang tanpa izin. Apa kau juga selalu seenaknya ?." emosi Youngjae.

"Maaf. Jika aku memintanya langsung darimu, kau pasti tidak akan memberikannya."

"Memang."

Daehyun kembali tertawa. "Seharian kau belum makan. Apa kau sudah makan malam ?." tanyanya lembut.

"Setelah ini." Jawab Youngjae pelan. Benar juga dia belum makan seharian, kenapa dia baru merasa lapar sekarang ?.

"Mau makan denganku ? Saat ini aku berada di persimpangan jalan tempat aku menurunkanmu tadi." Daehyun memainkan gelas wine di tangannya.

"Ye ? Untuk apa kau disana ?." Kejut Youngjae.

"Hanya ada urusan di sekitar sini. Bagaimana ?."

"hmm..." Youngjae berpikir.

"Atau aku jemput di rumahmu ? Dimana rumahmu ?."

"Ah, tidak perlu. Aku akan kesana." sahutnya cepat.

Daehyun tersenyum. "Aku akan menunggumu."

Dia mematikan sambungan telponnya lalu, menegak habis wine yang ada di gelasnya kemudian tubuhnya menghilang.

"Depyonim." Minhyuk masuk ke dalam ruangan pribadi Daehyun. Tak ada siapapun disana. Hanya ada satu botol wine dan gelas kosong di atas meja makan.

Minhyuk mengerutkan keningnya. "Untuk apa tuan Lucien berada disana ?." gumamnya.

.

.

Youngjae berjalan pelan menghampiri Daehyun yang tengah berdiri bersandar dinding pembatas tepat di persimpangan.

Saat sudah berada di depannya, dia memperhatikan Daehyun. Dengan mengenakan kemeja navy lengan panjang yang di gulung hingga tiga perempat tangannya, dua kancing teratasnya terbuka. Celana jeans robek robek dan sepatu coklat. Dia terlihat- tampan.

"Youngjae." Daehyun mengintrupsi.

"Oh." Lelaki manis itu tersentak dari lamunannya. Mungkin karena dia lapar, dia jadi berpikir yang tidak-tidak.

"Ada apa ?." tanya Daehyun.

"Tidak ada."

"Kau ingin makan apa ?."

"Apa saja."

Mereka mulai berjalan keluar dari area perumahan, menyusuri trotoar yang tak terlalu padat pejalan kaki.

Daehyun membawa Youngjae masuk ke dalam sebuah restoran dan memesan beberapa makanan untuk mereka berdua, dengan harga setiap porsinya yang tak bisa di bilang murah.

Youngjae memperhatikan sekelilingnya. Suasana yang cukup romantis, setiap meja terdapat satu buket bunga dan lilin. Semua pengunjungnya mengenakan dress yang terlihat mahal dan setelan jas. Membuatnya yang hanya mengenakan celana jeans dan sweater abu-abu menjadi tak percaya diri.

"Kau tidak salah memilih tempat kan ?." tanya Youngjae memastikan.

"Tidak." Daehyun menggeleng. "Apa kau di ijinkan orang tuamu untuk keluar malam ?." tanyanya.

"Mereka tidak pulang hari ini." Jawab Youngjae.

"Pasti orang tuamu sibuk."

"Sangat."

"Ya ! Kau tau aku lebih tua darimu. Kenapa kau masih berbicara informal padaku ?." Daehyun protes tiba-tiba.

"Aku tidak nyaman berbicara formal denganmu. Apa kau keberatan ?."

Daehyun berpikir sejenak. "Baiklah. Lakukan sesukamu."

Tak lama pesanan mereka datang. Mereka berdua makan tanpa ada percakapan.

Setelah selesai Daehyun kembali mengantar Youngjae pulang.

"Dalam kontakmu kenapa tidak ada nomor siapapun ?." Daehyun membuka topik. Memecah kesunyian jalanan perumahan.

"Tidak ada yang harus aku hubungi."

"Berarti aku orang pertama yang ada di kontakmu."

"Itu kau yang melakukannya. Aku tidak pernah menyimpan nomormu. Dan apa itu Daehyun hyung ?."

"Bukankah harusnya memang begitu. Aku lebih tua darimu."

"Cih. Aku tidak akan pernah memanggilmu hyung." Ujar Youngjae sarkastik.

"kenapa ?."

"Kau bilang lakukan sesukaku."

Daehyun tertawa. Si manis ini benar-benar telah membuatnya tertarik.

Youngjae berhenti di depan salah satu rumah mewah yang terletak beberapa meter dari persimpangan jalan. Daehyun ikut berhenti.

"Disini rumahmu ?."

"Hmm." Youngjae mengangguk.

"Kalau begitu masuklah. Kau harus segera tidur. Sampai jumpa."

"sampai jumpa."

Daehyun menunggu hingga Youngjae masuk ke dalam rumahnya sebelum dia menghilang dari sana.

.

.

.

TBC


Terima kasih untuk yang sudah baca, review, favorite dan follow :) :) :)