1. Sama seperti chapter pertama, hal-hal di dalam hanya fiktif belaka. Nama tempat dan organisasi benar adanya.

2. Materi kriminal masih kental, dan semua berpotensi memiliki sifat tersebut. Psikopat juga berkeliaran. Dunia ini kejam, Sayang.

3. Dan peringatan juga masih sama, rate M untuk kematian, gore, lime, lemon.

Selamat Membaca!

-o-o0o-o-

Ini bukan sebuah penghianatan. Adakalanya untuk mencapai kejayaan lebih, seseorang akan dihadapkan pada banyak jalan, dan tidak memilih jalan lurus seperti yang sudah ditentukan bukan hal yang bisa disalahkan. Seperti halnya yang Sisyphus lakukan—adik dari CEO TNK Russia tersebut memilih terbang ke London sejak masih muda, bergabung dengan perusahaan minyak yang lebih besar.

Pada awalnya TNK dan BP bukanlah mitra—bisa dikatakan adalah saingan, pada awalnya Ilias membawa perusahaannya dengan mandiri, dan bekerja sama dengan perusahaan minyak dari Canada—dan itu bukan masalah sekalipun TNK hanya perusahaan nomer tiga di Russia. Sampai sosok-sosok dari Inggris datang padanya, tidak heran kalau mereka selalu bisa mengendus lahan yang sangat potensial, kemudian berusaha merenggut aset-aset tersebut. Seharusnya lahan minyak Cernogorneft adalah milik TNK, jika saja orang bernama Kardia itu tidak mendahului—mencuri kuasa atas Cernogorneft. Namun yang lebih mengagetkan Ilias, karena yang berdiri di belakang Kardia adalah Sisyphus—adiknya, adiknya yang berusaha menjatuhkannya. Apakah sekarang masih bisa disebut bukan penghianatan?

Tidak berhenti disana, karena kemudian Kardia dengan cengekaraman kuku beracunnya menggenggam TNK dalam naungan nama BP. Ilias tidak bisa berkutik, ia bisa bankrupt kalau menolak, namun jika menerima ia bahkan akan mendapat hak kelola atas minyak Cernogorneft.

Melepas kerja sama dengan Canada. Ilias bertekuk lutut pada BP, dan mengubah nama perusahaannya menjadi TNK-BP.

Di dalam ruang kerjanya, Ilias hanya menggebrak meja satu kali. Karena kemudian, bekerjasama dengan BP justru membuatnya menjadi nomer satu di Russia. Bersama Kardia mengusai Siberia dan membangun fasilitas perlindungan lahan. Ia tahu Kardia kejam, ia mengerti sosok itu melakukan cara luar biasa untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Sampai bukti nyata untuk menekan Yugraneft datang padanya, beberapa Mafia dipekerjakan untuk menyelesaiakan gangguan yang ada. Russia sendiri adalah gudang Mafia berbahaya—selain di Moskow, Siberia adalah markas rahasia mereka. Tanpa Kardia, Ilias jelas tidak mau mengusik, tapi yang terjadi… Mafia di sana justru mundur. Sekali lagi, apakah Sisyphus menjatuhkannya atau membuatnya lebih sukses?

Sampai kemudian datang malam di mana Ilias memutuskan, saat seseorang datang padanya—TNK tidak seharusnya tunduk pada BP. Karena kesuksesan yang didapat selama ini hanya bayang-bayang BP.

Singkirkan saja orang-orang BP.

-o-o0o-o-

Kardia x Dégel, El Cid x Sisyphus

Prekuel dari Kali Terakhir

Sebuah Rasa

By Niero

Saint Seiya © Kurumada Masami

Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori

-o-o0o-o-

Part II: Sebuah Fakta

.

"Bujuklah dia, Dégel."

Untuk kesekian kalinya Shion berbicara pada Dégel mengenai jantung Kardia. Sebagai salah satu dokter yang ikut dalam penciptaan dan pengembangan jantung buatan tersebut, tentulah menurutnya mengganti jantung Kardia adalah pilihan yang terbaik. Sekalipun masih banyak kemungkinan akan terjadi komplikasi, serta sang pengguna jantung tersebut harus dijaga dengan ketat—namun itu lebih baik daripada keadaan jantung Kardia yang sangat tidak stabil dan bisa berhenti berdetak sewaktu-waktu.

"Aku tahu, Shion." ucap Dégel, "Aku pun masih berusaha berbicara padanya. Tapi kau tahu betapa keras kepalanya Kardia itu, terlebih dia tidak akan mau terkurung lama di Rumah Sakit, apalagi jika keadaannya terus diawasi dan dipantau selama memakai jantung buatan itu."

Tidak. Bagaimana mungkin Dégel akan membiarkan tubuh kekasihnya, ke-original-an organ-organ disana diganti dengan barang buatan. Tidak. Jantung yang dimaksud Shion hanya akan menodai kesempurnaan Kardia, sekalipun jantung aslinya akan meledakpun harus tetap seperti itu, ia tidak mau Shion memperbaikinya. Ia menginginkan Kardia utuh—yang tetap menderita penyakit jantung, sosok dengan semangat tinggi, dengan jiwa berani dan sifat liar yang kadang cenderung sadis. Sadis jika sudah memimpin sebuah perusahaan, menggiring perusaahaan lain ke jurang bankrupt—lalu lahan minyak perusahaan itu akan jatuh ke tangannya. Tidak kah itu luar biasa—seorang dengan penyakit jantung sejak lahir, mampu melakukan hal seperti itu?

Hal yang justru membuat Dégel terpikat. Jantung yang luar biasa, ia ingin melihat sampai dimana jantung itu berdetak dan berapa tekanan yang sanggup ditahan Kardia.

"Sangat keras kepala," kata Shion, mendukung ucapan Dégel. Ia melihat rekannya itu sekilas, kadang kagum terhadap dokter di depannya ini—yang sanggup menjinakkan Kardia, dirinya saja lelah sendiri jika sudah menyangkut kekeraskepalaan sosok penyuka apel tersebut. "Aku dengar dia kembali ke BP, benar?"

"Hanya sebagai konsultan," jawab Dégel, tidak mau bertanya darimana Shion mendengar hal itu—majalah bisnis mungkin dengan senang hati sudah memuat beritanya. "Dia akan benar-benar kolaps kalau bekerja secara penuh."

"Itulah yang aku maksud, dia bisa bertahan lebih lama lagi jika bersedia menggunakan jantung baru." kata Shion, sekali lagi menawarkan solusi.

Dégel menghela napasnya, sambil tersenyum getir. Dalam hati mengatakan tidak, tapi bibirnya mengucapkan hal lain. "Aku tidak bisa memaksanya, tapi aku pun ingin dia hidup lebih lama—aku akan terus bicara padanya, semoga dia mengerti."

Pembicaraan itu terhenti ketika pintu ruangan tempat mereka berada diketuk dengan sedikit keras, bahkan sudah dibuka dari luar sekalipun Dégel belum mempersilahkan. Seorang perawat perempuan begitu tergesa-gesa, yang bisa dipastikan membawa berita dimana seorang dokter dibutuhkan dan harus bertindak cepat.

"Pasien Anda, Dokter Dégel. Albafica… Mengamuk lagi," kata perawat itu.

Tahu situasinya akan seperti apa, Dégel bergegas menuju ruangan khusus dimana Albafica dirawat. Entah apa yang dilakukan si cantik itu kali ini, sebenarnya Dégel agak penasaran, dan mencoba menebak-nebak—setelah beberapa hari yang lalu Albafica memecahkan semua barang di kamar rawatnya. Jelas kondisi psikis pemuda mawar ini amat sangat jauh dari kata stabil—Dégel sudah merujuk psikiater, tapi ditolak mentah-mentah. Dan Shion yang kebetulan masih memiliki waktu sejenak sebelum kembali ke pasiennya pun mengikuti Dégel, serta perawat yang tadi juga mengikuti dengan setengah berlari.

"Aphrodite," panggil Dégel saat melihat pemuda berparas serupa dengan Albafica di sekitar pintu yang terbuka. Tidak mendapat jawaban, Dégel melihat ke dalam ruangan—ada pemuda lain bertampang preman dan seorang perawat lagi di sana.

Albafica sendiri menatap tajam, dengan sorot keangkuhan dan keputusasaan berpadu. Bahu dan tangannya berdarah, jahitan di luka bekas tertimpa kaca pasti terbuka. "Jangan mendekat, jangan dekati aku!" ucapannya diwarnai nada marah yang kental.

"Kalian bisa keluar," kata Dégel pada perawat dan pemuda yang seingatnya bernama Manigoldo itu. Lalu ia berjalan pelan mendekati Albafica, "Kalau kau bahkan tidak bisa tenang. Luka di pundakmu tidak akan sembuh,"

"Untuk apa aku sembuh," balas Albafica, menyambar vas berisi mawar segar di meja dan melemparnya pada Dégel. "Sudah aku bilang, jangan dekati aku!"

Bergerak ke samping, Dégel sempurna menghindari vas yang dilempar. Semakin dekat, Dégel merasakan ketakutan menguar dari diri Albafica. Kerusakan jiwa, rangkaian kesakitan raga belum datang tapi sudah membayang nyata di pelupuk mata sang korban. "Sudah cukup kau marah dan terpuruk. Sekarang waktunya kau bangkit, aku akan bersamamu, membantumu."

"Darahku akan membuat semua orang terinfeksi, dan cairan dari dalam tubuhku—" gumam Albafica, ia akhirnya membiarkan Dégel mendekatinya.

"Ya. Dan apa aku harus menguliahimu lagi panjang lebar tentang AIDS, cara penularannya, dan lain sebagainya, hm, Albafica?"

Albafica menggeleng, dan Dégel puas dengan itu kemudian memanggil perawat, meminta beberapa perban baru dan peralatan lain. Pemuda ini sudah di tangannya—akan tetap di bawah pengawasannya sampai kematian datang menjemput.

.

Koridor-koridor panjang dan dingin Rumah Sakit terasa begitu jauh untuk dilalui, seperti sebuah kekecewaan yang tak berujung. Sekalipun pada akhirnya sampai di batas terluar, sayangnya bukan jalan terang, karena mendung seperti mendukung sayatan pedih di dalam perasaan. Seluruh pemandangan di sana masih terbayang sekalipun sudah dari tadi Manigoldo meninggalkan Rumah Sakit, dan mengemudikan mobilnya cepat ke arah pusat kota London, menuju BP Headquarter. Tangan mencengkeram stir erat sampai buku-buku jarinya memutih, hanya bukti kecil betapa ia menahan kemarahan. Sudah satu tahun ia mendekati Albafica, satu tahun pula mendapat penolakan, dan sekarang—ia hanya ingin membunuh orang yang membuat Albafica seperti itu. Yang kemudian disadarinya, ia terlambat.

Membawa amarahnya, ia menuju sebuah ruangan dimana ia biasa dipanggil untuk menghadap. Pekerjaannya tidak tertulis di atas kertas, posisinya tidak terdaftar di list pegawai tetap—ia bahkan hanya tampak seperti berandalan pengangguran jika dilihat sepintas. Tapi pekerjaannya merupakan sisi gelap dari dunia bisnis, pekerjaan hitam ada di tangannya agar tangan para Eksekutif tetap bersih.

"Siapa yang harus aku bunuh kali ini?" ucapnya, tanpa basa-basi setelah pintu ruangan yang dimasukinya tertutup dengan bunyi klik—terkunci otomatis. Seringainya kemudian terkembang saat menyadari sosok yang duduk di kursi hitam berbahan kulit itu, "Wah… Kardia, aku pikir kau mati setelah mengundurkan diri beberapa waktu yang lalu. Bagaimana mungkin kau masih hidup?"

"Pergilah ke Russia," kata Kardia, sepenuhnya mengacuhkan perkataan kurang ajar dari Manigoldo. Sudah paham benar, jika pemuda kesayangan sang President selalu bertingkah seperti itu. "Selidiki masalah ini, cukup kau sendiri, tidak usah membawa orang-orangmu." lanjutnya, sambil menyerahkan map hitam.

"Hanya menyelidiki?" ulang Manigoldo. Ia mengharapkan apa yang diterimanya itu adalah daftar orang-orang yang harus dibunuh. Ia memang bukan assassin atau semacamnya, hanya menyingkirkan pengganggu seperlunya. "Aku ingin membunuh orang sekarang ini, Kardia. Tapi kau hanya memintaku menyelidiki. Tidak adakah pekerjaan menantang seperti menghabisi cecunguk Yugraneft itu lalu berseteru dengan Mafia Russia lagi?"

"Untuk saat ini hanya menyelidiki. Dan jangan membuat ulah dengan Mafia Russia selama kau di sana."

"Ck," decak Manigoldo, sambil menggerutu kesal ia membuka map, membacanya sekilas-sekilas. "Benar, kan! Ini ada hubungannya dengan Mafia Russia!"

"Tapi kau hanya akan menyelidiki, Manigoldo. Hanya itu!" jelas Kardia, harus berapa kali lagi ia mengulang perintah sama, agar orang di seberang meja itu paham. "Dan berikan laporan secepatnya,"

Manigoldo berdecak sekali lagi, sebelum berdiri dalam posisi formal. "Understood. Now, I'll take my leave, Sir."

Suara pintu yang tertutup halus seperti dentum tersendiri di dada Kardia. Memberikan rasa nyeri seperti tusukan tajam, dan tubuhnya dengan cepat seperti kehilangan energi. Ia bisa bertahan, seharusnya memang masih bisa. Banyak hal yang membuatnya harus kembali ke BP, membuang waktu hidupnya yang berharga—semua bermula karena Mephistopheles tidak jelas itu, tentunya tidak mungkin sebuah kebetulan karena kemudian Ilias juga menghilang.

Seluruh pekerjaan TNK-BP sudah Kardia pastikan tetap berjalan lancar, dan tidak merugikan BP London sekalipun tanpa Ilias. Disana masih ada Aiolia yang bisa diandalkan, profit-profit yang masuk juga tidak mengalami kemunduran. Lalu dengan Milo sendiri, pemuda itu agaknya tidak mendapat kesulitan berarti, Sage pun tampaknya puas—apalagi dengan keberadaannya menjadi konsultan untuk Milo. Memang, Milo hanya harus meneruskan pondasi-pondasi hasil kerja kerasnya, membawa BP lebih naik lagi. Tapi kalau salah satu pondasi perusahaan yang berada Siberia runtuh gara-gara Ilias, atau minyak Cernogorneft milik BP yang dikontrol TNK-BP Russia sampai bermasalah juga—tidak, tidak akan dibiarkan hal itu terjadi. Apa yang sudah dibangunnya tidak boleh dirusak sekalipun oleh Mafia, namun hanya menunggu laporan dari Manigoldo yang bisa ia lakukan sekarang, sebelum mengambil langkah apa yang harus dikerjakannya. Dikerjakan Milo tepatnya.

Dan Kardia merasa tubuhnya semakin sulit untuk dikontrol, untuk bergerak meninggalkan tempatnya duduk dan pulang saja terasa berat. Apa yang ada di dalam dadanya seolah memberontak, sampai rasa sakitnya begitu menyiksa. Ia ingin memejamkan mata sejenak—mengatur napasnya, menunggu nyeri sedikit pudar. Sayangnya suara pintu terbuka membuatnya kembali dalam mode siaga, indra penglihatannya memberikan visualisasi dua pria yang sangat dikenalnya.

"Kardia," panggil Sisyphus, sang CFO ini entah kenapa tidak pernah berjalan sendirian, selalu membawa anak buah, dan kali ini Aiolos yang mengikuti dengan patuh di belakang. "Ilias akhirnya menghubungi, dia baru sampai di Heathrow. Aku sudah mengirim orang untuk menjemputnya."

Mendengarnya, Kardia tanpa sadar berdiri dan nyaris limbung kalau tidak berpegangan pada meja. "Apalagi ini, sudah menghilang lalu seenaknya datang ke London tanpa jelas tujuannya." desisnya.

"Biar aku yang mengurus bagian ini. Dan Manigoldo sudah berangkat bukan—seharusnya Milo kau libatkan dalam cara kerjamu. Bisa-bisa dia tidak becus dalam memimpin perusahaan kalau hanya berjalan di jalur mulus yang sudah kau bangun." kata Sisyphus sambil memegang lengan pria yang sudah memberikan banyak kejayaan pada BP itu.

"Nanti," ucap Kardia tajam, tangannya bergerak otomatis menyingkirkan tangan Sisyphus dari lengannya. "Aku harus tahu lebih dahulu apa yang terjadi di Russia, baru Milo akan aku libatkan. Dan bawa Ilias ke ruangan ini secepatnya."

Kardia masih berbayaha. Masih bertingkah selayak penguasa tertinggi BP seperti sebelum-sebelumnya, yang dibiarkan saja oleh Sage—itulah anehnya. Bahkan Sisyphus pada akhirnya undur dari ruangan itu, memerintahkan Aiolos untuk menelpon orang yang ke bandara—dengan cara apapun, tidak peduli kepadatan lalu lintas London, mereka harus cepat membawa Ilias pada Kardia.

Suasana hening, membuat suara tarikan napas teratur terdengar di ruangan itu. Pelan-pelan Kardia menguasai dirinya, membiarkan tubuhnya rileks, dan sakit di dadanya mulai berkurang. Memutar kursi ke arah dinding kaca di belakang, ia mengamati tetes hujan yang terlihat pudar di luar sana. Kemudian mengambil ponsel di saku suitnya—mengetik sebuah pesan.

.

.

"Kapan aku bisa keluar dari sini, Dokter Dégel?" pemuda berambut merah itu duduk menyilangkan kaki, sibuk memoleskan kutek merah pada kuku-kukunya. Dan ucapannya mengandung tekanan saat menyebut nama serta profesi Dégel, "Aku tidak mau membolos kuliah lebih lama lagi,"

Dégel mengamati pemuda itu beberapa waktu. "Besok, Camus. Kalau kau tidak ingin ketinggalan pelajaran, seharusnya kau paham—menjaga kesehatan itu juga penting. Besok-besok, aku tidak mau mendapatimu di Rumah Sakit lagi."

Memilih diam, Camus tidak berniat membalas ucapan Dégel. Karena salahnya sendiri sampai sakit, salahnya terlalu fokus pada kuliah-kuliahnya sampai lupa istirahat. Belum lagi kalau harus terbang ke Moskow jika ia diminta pulang. Dan sakit? Sebuah kata yang membuat pemuda dingin itu kesal, jika tidak ada Dégel disini, pastinya ia tidak akan mau dirawat di Rumah Sakit.

"Oh," seru Camus kemudian, seperti teringat sesuatu. Ia meraih ponselnya di meja—mengutak-atiknya sebentar, membuka sebuah email lalu menyerahkannya pada Dégel. "Kau harus baca ini,"

Tidak perlu membaca pesan itu dua kali, Dégel sudah mengerti. "Hapus saja," ucapnya kemudian sambil mengembalikan ponsel hitam itu ke Camus. Tak lama ia pun mengambil ponselnya sendiri yang bergetar.

[Aku tidak bisa pulang ke Fulham, kemarilah setelah selesai bekerja. Aku membutuhkanmu.

-Kardia-]

Senyum yang terkembang di bibir Dégel membuat Camus menatap sosok yang sebenarnya adalah mentornya itu dengan penasaran. Karena setahunya Dégel tidak pernah memberikan senyum—kecuali pada hal-hal yang sangat menarik, menarik untuk Dégel.

Dégel menyimpan ponselnya sendiri. Tidak kah ini akan sangat menarik, email yang diberitahukan Camus membuatnya ingin pergi ke pusat kota London. Dan kekasihnya pun memintanya datang, dalam sekali jalan berbagai tujuan tercapai bersamaan. Selain itu ia juga mendapat alibi sempurna. Dégel tidak suka jika apa yang dikerjakannya tidak rapi, ia tidak pernah serampangan dan asal-asalan sekalipun untuk membunuh orang. Meski email yang dibacanya tersebut cukup berbahaya, ia akan tetap berada di jalurnya sendiri. Bukan gayanya ikut dalam permainan orang—sekalipun bukan orang asing. Dan sebaiknya permainannyalah yang diikuti.

"Kau mau membantunya?"

"Tentu saja tidak, Camus." kata Dégel. "Itu bukan urusanku, dan aku tidak mau ikut campur."

"Kupikir kau—" Camus menghentikan ucapannya, "Tidak penting."

"Gunakan waktumu untuk istirahat," ucap Dégel, sambil menarik kutek yang masih dipegang Camus—menyimpan benda itu di laci dan kemudian keluar dari kamar VIP tersebut. Masih ada beberapa pasien lagi yang harus diperiksanya. Sebelum ia pulang—pulang ke Kardia.

.

Penthouse ini terasa dingin, terlalu besar, terlalu mewah—sekaligus terasa sepi. Padahal baru beberapa bulan Kardia tidak pulang ke tempat ini, ke One Hyde Park—penthouse di lantai atas tersebut dapat dihuni setelah menggelontorkan dana ratusan juta poundsterling. One Hyde Park memang dibangun untuk mereka yang kelebihan uang. Dan ia heran kenapa dulu begitu betah menempatinya—ke-glamour-an menurutnya sepadan dengan apa yang telah dicapainya di BP, sangat wajar bagi seorang CEO untuk tinggal di tempat ini. Namun tentu saja karena ia belum merasakan kehangatan sebuah rumah di Fulham, tempat ternyaman saat ditinggali bersama sang kekasih. Seperti sebuah keluarga.

Milo memapah Kardia ke sofa besar berwarna keemasan di sisi jendela kaca panjang dan luas, meminta sang mantan CEO untuk berbaring, sudah jelas Kardia begitu kepayahan, kelelahan, dan beban pikiran yang semakin rumit mempengaruhinya. Di seberang pemandangan malam hari kota London terpampang dari jendela-jendela kaca anti peluru, lampu-lampu membiaskan bermacam warna—dan kendaraan berlalu-lalang di bawah sana seperti memamerkan tarikan sinar panjang berkelebatan.

"Dégel belum datang," kata Milo, berputar mengamati setiap sudut, dan melongok ke ruang-ruang lain kalau-kalau mendapati sosok berambut hijau tersebut. Kemudian ia kembali mengamati Kardia yang memejamkan mata. "Atau kau mau ke kamarmu saja?"

"Tidak usah," ucap Kardia, masih sambil memejamkan mata. Ia tidak tidur, kepalanya penuh dengan masalah di BP.

"Apa kau tidak percaya padaku, Kardia." kata Milo, ia tidak mau semakin menyulitkan sepupunya, tapi menahan keingintahuannya ini sampai besok atau lusa bukan pilihannya. "Aku memang masih mempelajari data-data perusahaan juga semua yang terjadi di Russia, termasuk investor-investor di sana. Benar, aku memerlukan waktu untuk paham sepenuhnya. Tapi kau tidak harus memaksakan diri seperti itu—kalau kesehatanmu saja semakin buruk. Sadarilah batasmu, Kardia."

Untuk beberapa saat Kardia bergeming, dan bangkit untuk duduk di menit selanjutnya. "Aku tidak meragukan kapasitasmu, Milo. BP pun menanam investasi besar di Russia, termasuk klaim BP terhadap TNK membutuhkan tanggung jawab besar, dan akan berbahaya jika TNK diambil alih pihak lain. Tidak hanya kekuatan dan keyakinan untuk mengendalikan semua itu."

"Begitu kau berani bilang tidak meragukanku,"ucap Milo, melipat tangannya di depan dada, matanya menerawang pada pemandangan di luar jendela. "Aku tahu kau mengirim orangmu ke Russia, dan itu tanpa kau bicarakan denganku. Lalu sekarang apa, bahwa Ilias kemudian menghilang di London? Orang yang menjemput ke Heathrow hanya menemukan seorang anak yang kehilangan ayahnya."

Kardia memijit pelipisnya, Milo menuntut sesuatu yang tadi membuatnya hampir terkena serangan jantung. Ilias tidak ada di Heathrow, jika dipikirnya ia hampir mendapat jalan terang selain menunggu Manigoldo membawa laporan untuknya. Ternyata hanya semakin menyisakan kebuntuan. Bocah yang merupakan keponakan Sisyphus tersebut juga tidak tahu apa-apa mengenai kemana Ilias. Memikirkan apa yang sedang direncanakan CEO TNK itu membuat kepalanya semakin sakit.

"Kardia,"

Pangilan ini membuat Kardia, juga Milo menoleh. Dan Milo memutuskan untuk pulang, tidak mau kena omel Dégel karena mengganggu Kardia yang seharusnya istirahat—dilihat dari kondisi Kardia, memang seharusnya pria itu ke Rumah Sakit saja.

"Jelas kau memaksakan diri lagi hari ini," Dégel memeriksa Kardia dengan terliti, setelah mereka berada di dalam kamar, dan Kardia sudah berbaring nyaman. "Kau bahkan meninggalkan seluruh obat-obatmu di rumah, beruntung aku membawanya sekarang."

"Aku lupa," jawab Kardia, dan sempat-sempatnya memamerkan senyum yang lebih menyerupai seringai. "Jangan menatapku seolah aku ini sedang sekarat, aku masih hidup, Dégel. Dan aku sudah tidak apa-apa."

"Tapi wajahmu terlihat seperti itu," gumam Dégel. "Apa seburuk itu di BP?"

"Semua belum pasti, dan ketidakpastian ini yang membuatku tidak tahan." kata Kardia, "Terlebih aku percaya ada sesuatu yang sedang Ilias sembunyikan. Aku lebih baik menyiksa seseorang dari perusahaan lain, memaksa untuk membocorkan rahasia perusahaannya, daripada harus menunggu seperti ini."

"Okey. Sekarang tenangkan dirimu, saat bersamaku kau adalah Kardia, bukan CEO, bukan konsultan, bukan Eksekutif BP." ucap Dégel, berusaha mengalihkan pikiran kekasihnya. "Dan jantungmu, bagaimana jika—"

"Aku tidak mau," potong Kardia. "32 tahun aku bisa bertahan, selama itu aku bisa mengendalikan jantungku. Aku tidak akan menyerah sekarang—tidak akan menggantinya dengan rongsokan dari Shion. Setidaknya untuk beberapa tahun lagi…" ia berhenti sejenak, menarik tangan Dégel mendekat ke bibirnya, mengecupnya. Sebelum melanjutkan, "Maaf, Dégel. Kau tahu resiko bersamaku, aku jelas tidak memiliki waktu hidup yang lama. Cepat atau lambat aku akan mening—"

"Kenapa kau tadi menyela apa yang mau aku katakan," geram Dégel, ganti memotong ucapan Kardia. Ia tidak suka arah pembicaraan itu, cepat atau lambat harusnya ia yang mengakhiri hidup kekasihnya.

"Oh, memangnya kau mau mengatakan apa? Bukankah kau sering bersekongkol dengan Shion dalam mengurus kesehatanku."

"… kau benar," ucap Dégel pelan. Ia memang ingin membicarakan jantung buatan itu, tapi sekali lagi penolakan Kardia membuatnya merasa menang. Kalau seandainya Kardia goyah dan mau melakukan operasi—ia harus memikirkan cara menggagalkannya. Tapi ternyata tidak perlu. "Dan tidak usah membicarakan waktu hidupmu, bukankah kita sudah sepakat."

"Ya," kata Kardia, ia selalu mendapat tenaga baru jika sudah bersama Dégel. Melupakan beban di pundak, ia menarik Dégel untuk berbaring bersamanya.

Semula hanya kecupan-kecupan kecil, namun semakin cepat kemudian berubah menjadi ciuman penuh. Dengan lidah bergerak meneliti rongga mulut satu sama lain. Tangan Dégel yang semula tenang, berpindah dari pinggang Kardia menuju ke atas—meraih tengkuk Kardia, menelusupkan tangannya pada rambut biru kekasihnya.

"My Dear…" bisik Kardia di antara deru nafasnya.

"Hm," balas Dégel, sambil berpindah posisi di atas, bertumpu pada lutut dan lengan dengan sebelah tangan membuka ikatan piyama sutra Kardia.

"Jangan memaksakan dirimu," ucap Kardia, meski tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya—ia mengininkan Dégel mengambil kendali.

Dégel hanya tersenyum tipis, jemarinya sudah terbiasa dalam memanja Kardia—memberikan apa yang sanggup membuat penyuka apel tersebut mendesah puas. "Kali ini kau yang harus tenang dalam posisimu,"

Tanpa persiapan, pasti akan sedikit menyakitkan. Berapa kalipun Kardia berada dalam tubuhnya, Dégel selalu merasa napasnya tercekat saat bagian vital kekasihnya menerobos. Namun saat ia berada di posisi ini, menurunkan tubuh perlahan—menahan perih, bukan perih menyakitkan, tapi rasa lain yang membuat vitalnya sendiri menyusul berdenyut, mendorong hasratnya untuk menghentak dalam sekali gerak.

"Kardia!" pekik Dégel, saat sensasi muncul di tulang belakangnya, merayap cepat untuk diterima otak. Kepalanya tersentak, dada dan perutnya membentuk lengkung erotis, ia ingin sensasi itu kembali—dan mulai menaik-turunkan tubuhnya dengan tempo teratur. "Kardia… Kardia…"

"Kau seksi, My Dear Dégel," ucap Kardia di antara desahnya. "Nhh… Lihatlah tubuhmu, begitu bergairah saat mengejar klimaks sesaat."

"Jangan bicara seperti itu," desis Dégel, gerakannya mulai berubah tidak beraturan—terlalu cepat dan kadang melambat. Ia menunduk, mencium Kardia kemudian, untuk membungkam—menghentikan mulut itu agar tidak mengucapkan kata-kata berbahaya.

Dan memang tidak ada kata yang terucap, karena bibir keduanya tidak berhenti saling mengecup. Sampai sebuah getaran datang—membungkam mereka yang kemudian hanya mampu menyuarakan desah saat kepuasan menyapa dengan sempurna.

"Kau harus lebih sering seperti ini, My Dear." goda Kardia

Dégel tidak menjawab. Sial sekali kalau terkadang ia merasa malu.

Dengan mengulum seringai Kardia memeluk Dégel, lalu mememejamkan mata. Tidurnya pasti akan nyenyak sekali.

Dégel ikut tersenyum kemudian, lalu menyamankan posisinya menggunakan dada kanan Kardia sebagai bantal. Dengan sebelah tangan, ia menyentuh bagian dada di mana terdapat jantung kekasihnya. Degup-degup pelan yang terkadang cepat dan kembali normal terdengar seperti instrumen yang membuatnya semakin senang. Kehidupan masih begitu nyata, terpompa dari jantung di dalam sana yang masih bekerja, masih mengikuti kemauan otak Kardia untuk menanggung pekerjaan. Dan detak jantungnya sendiri ikut bertambah cepat, ia tidak memungkiri sebuah rasa yang ada—sebuah sensasi yang tak bisa ditolaknnya bahwa ia memang mencintai Kardia.

Tapi harus berapa lama dan seberat apa lagi. Dégel akan membuat jantung di sana sampai pada batasnya, memforsir Kardia dalam tekanan berat. Catatan waktunya perlu dihitung dari sekarang—dihitung mundur. Ia sungguh ingin tahu. Karena cintanya bukan berarti harus menjaga kehidupan Kardia, bukan berarti harus bersama selamanya. Cinta bukan pula untuk untuk menghancurkan, ia tidak menghancurkan Kardia—ia hanya mencintai dengan caranya sendiri.

"Tidurlah, Kardia." bisik Dégel, ia membenahi selimut sebelum turun dari tempat tidur. Mencium kening kekasihnya sekilas. Tanpa suara ia beranjak, keluar dari penthouse itu—masih banyak hal yang akan dilakukannya malam ini.

.

.

Sisyphus memandang bocah di hadapannya dengan tidak mengerti. Entah kenapa ia merasa harus bertanggungjawab. Namun harus ia apakan, bisakah ia melindungi bocah ini, sementara waktu 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu saja terasa kurang untuk menangani pekerjaan. Bukankah anak ini—yang bernama Regulus, justru akan terlantar kalau ikut bersamanya. Kalau tinggal di rumahnya, siapa yang akan mengurus—pelayan di rumah jelas bisa memberi makan, atau anak ini ditaruh saja di International School yang berasrama, tapi yang lebih dibutuhkan adalah perhatian orang tua. Dan berapa memangnya umur anak ini, Sisyphus pergi ke London setelah lulus kuliah, sedangkan saat itu Regulus belum ada—ia pun tidak begitu memperhatikan kapan Ilias mempunyai anak.

Berbagai pikiran yang berputar di kepala Sisyphus memudar saat Aspros yang datang membawa sekaleng jus jeruk, menyerahkannya pada Regulus. Mereka berada di Skotland Yard—di ruangan yang menjadi kantor sang pimpinan, bukan untuk membuat laporan resmi—hanya untuk bicara, dan untuk mendapat sedikit bantuan.

"Aspros, jangan kesal padaku mengenai ini." kata Sisyphus saat melihat Aspros sama sekali tidak memandangnya, padahal pria itu jelas mengambil tempat duduk di sampingnya. "Semuanya menjadi di luar yuridikasimu jika Mephisto berada di Russia. Faktanya memang kepolisian tidak akan bisa terlibat."

"Kau bicara seperti itu pada kepala Scotland Yard, Sisyphus. Kau pikir aku ini apa?" untaian kata dari bibir pria berperawakan tinggi tegap tersebut terdengar menuntut, Aspros paham dunia gelap para pebisnis—terlalu pintar mengorganisir, membungkus rapat semua aksi dan selalu menjauh dari kepolisian. Tidak pernah sekalipun dalam sepanjang karirnya ia bisa menjangkau kejahatan dunia bisnis skala besar. "Jika saja isi kepalamu itu bisa aku ketahui, dan jika ada hal melanggar hukum disana, jangan harap aku berbaik hati. Selain itu sekarangpun kau masih minta bantuanku untuk melacak keberadaan ayah anak ini."

Jangan pernah melibatkan perasaan pribadi—Aspros memperingatkan diri beberapa kali. Tapi sepertinya selalu gagal, lihat saja sekarang pun ia membantu pelacakan yang diminta Sisyphus. Sekalipun itu ilegal.

Sisyphus menarik napas panjang, menyentuh tangan Aspros. "Tapi bukan kau yang pergi mencarinya sekarang, El Cid yang berangkat—kita tinggal menunggu hasilnya di sini. "

Dan tidak memakan waktu lama, sosok yang dimaksud masuk ke ruangan itu dengan kekesalan diluar batas. Sebagai detektif matanya terlatih mengamati, bukan hanya melihat dan tidak mengambil kesimpulan apa-apa. Tapi melihat tangan Sisyphus yang digenggam—benar, karena Aspros kemudian memang menggengam tangan Eksekutif BP tersebut. El Cid tidak pernah mengharapkan matanya mendapat asupan visual seperti itu.

"Ponselnya," ia meletakkan benda yang dimaksud—yang sudah dibungkus dalam plastik, ke atas meja. "Saya temukan di tempat pembuangan sampah."

"Tapi tadi bergerak bukan," kata Sisyphus, mengingat saat melihat pelacak dan titik ponsel itu berjalan. "Kau tidak berhasil mengejar Ilias,"

"Saya mengejar truk pengangkut sampah dari bandara, karena disanalah ponsel ini berada." lanjut El Cid. "Silahkan periksa sendiri ponsel itu, saya permisi."

Sekali lagi Sisyphus menghela napas panjang saat melihat El Cid. Tapi kemudian ia mengikuti Aspros untuk memeriksa ponsel Ilias. Panggilan terakhir di sana adalah menghubunginya, nomer-nomer panggilan masuk dan keluar lain tidak ada yang berulang dan mencurigakan. Isi pesan dan email juga tidak ada apapun. Ia asumsikan Ilias memang membuang ponselnya sendiri—mau tidak mau keberadaan Ilias tetap tidak diketahui.

"Aku akan membawa ponsel ini," kata Sisyphus kemudian, "Kau tidak punya alasan menahannya, Aspros. Aku tidak melaporkan penculikan atau orang hilang. Dan apa yang Ilias lakukan—membuang ponsel, atau apapun itu belum ada tanda-tanda menyalahi hukum. Meninggalkan Regulus di bandara setelah menelponku juga tidak bisa disebut menelentarkan anak, karena secara tidak langsung dia sudah menitipkannya padaku."

Aspros diam saja, menatap Sisyphus—menilai berapa besar kekuatan sosok itu dalam memanfaatkan orang. "Aku berharap kakakmu tidak terlibat hal berbahaya selama di sini, karena itu akan menjadi urusanku, Sissy."

"Aku mengerti, terima kasih untuk bantuanmu, Aspros." ucap Sisyphus, kemudian berdiri. "Ayo, Regulus."

Di tempat parkir, Sisyphus tidak heran melihat El Cid bersandar pada Mercedes Benz hitam miliknya. Ia menyerahkan kunci mobil itu pada sang detektif dan menyuruh Regulus duduk di kursi belakang, sementara ia sendiri membuka pintu depan, duduk di sebelah El Cid yang sudah menyalakan mesin.

.

SUV berwarna putih keluaran BMW yang dikemudikan Dégel tersebut melaju cepat, dan berpapasan dengan Mercedes Sisyphus yang meluncur kencang—berada di jalur yang berbeda. Untuk kendaraan pribadi Dégel tidak memilih mobil-mobil sport seperti kesukaan Kardia, tidak pula jenis Limousine seperti milik Sisyphus. Tapi BMW X5 bukan sembarang SUV juga, jelas merupakan kendaraan mewah, kemudian dapat disimpulkan pasti ada campur tangan Kardia saat pembeliannya. Masih mempertahankan kecepatan, Dégel menuju daerah Paddington—dan berhenti di depan sebuah bagunan yang ditelantarkan lama, terlihat sepi, kecuali satu orang yang berdiri diam seperti menanti sesuatu.

"Mudah sekali ditemukan," ucap Dégel. Ia masih bertahan di dalam mobilnya, menunggu beberapa waktu sebelum keluar. Menyaksikan gerak-gerik orang tersebut.

Di seberang, Ilias sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan. Ia terlihat beberapa kali mengecek jam tangannya. Pria gagah yang seperti tersesat di tempat yang salah, tempatnya berdiri sama sekali tidak sesuai dengan suit rapinya, juga seluruh tingkah laku yang menandakan seseorang dari kelas atas.

Ia datang ke London karena Mephistopheles—pria itu yang menyuruhnya ke sini, semua sudah diberitahukan saat di Russia. Tapi laki-laki itu bahkan belum muncul dan jika ia ingin menghancurkan BP, maka ia harus membunuh Sisyphus juga—tapi ia tidak akan bisa. Sisyphus tetaplah adiknya, ia hanya mau Mephisto tidak menyentuh Sisyphus, dan pada akhirnya ia akan membawa Sisyphus kembali ke Russia. Ia pun tahu Mephisto adalah salah satu kepercayaan sang Big Boss Mafia Russia, lalu kemana semua ini berakhir—lahan di Siberia akan kembali jatuh ke Mafia, Cernogorneft ke TNK. Dan TNK akan lepas dari BP. Namun… Kenapa Mephisto belum menampakkan diri.

"Menunggu seseorang, Mr. Ilias?"

Ilias tampak kaget dengan sapaan yang diberikan padanya. "Kau?"

"Dégel," ucapnya memperkenalkan diri. "Yang Anda tunggu tidak akan datang. Rencana Anda terhadap BP tidak akan pernah terwujud,"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ucap Ilias dengan tenang.

"Mephisto hanya menjalankan perintah dari… kau pasti tahu siapa yang aku maksud," kata Dégel, sambil berjalan untuk semakin mendekati Ilias. "Mungkin bagus jika kau punya keberanian untuk menyentuh petinggi BP dengan tanganmu sendiri. Seperti demo yang Mephisto lakukan beberapa waktu yang lalu—contoh yang sangat menjual. Tapi kau akan disingkirkan juga, Mr. Ilias, itulah kenapa kau berada di sini. Jika ingin tahu yang Mephisto lakukan sekarang, ada bagusnya jika besok Anda melihat berita tentang apa yang terjadi di Headquarter TNK-BP Russia. Tapi sepertinya itu tidak mungkin."

"Siapa kau?" desis Ilias, gurat khawatir mulai kelihatan di wajahnya, kerena pemuda di hadapannya ini terlalu banyak tahu. "Apa kau utusan dari Russia?"

Dégel menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku tidak ada hubungannya dengan bisnis kalian, tidak juga dengan Mafia Russia."

Tentu saja ia sekarang tidak ada hubungannya—atau benarkah seperti itu, karena ia tahu siapa calon penerus sang bos, karena ia adalah mentor pemuda tersebut. Ia tahu seluruh report yang masuk tentang pergerakan di sana dari dulu. Mephisto yang memiliki kesetiaan pada Mafia Russia telah dipersiapkan bos besar untuk menjadi bawahan sang tuan muda. Yang masalahnya, urusan Mafia ini kebetulan sama dengan area permainannya untuk Kardia, sudah diperkirakan dari awal kalau ini juga akan menjadi tontonan yang seru, gerakan awal pembunuhan di BP karena ia yang menyusun. Tapi apa yang dilakukannya sekalipun akan memancing sang bos tentu tidak akan membuatnya gentar—ia tidak peduli tepatnya. Orang itu hanya cukup diam, karena apa yang dilakukannya sebenarnya akan menguntungkan Mafia juga.

"Tapi, Mr. Ilias," lanjut Dégel. "Kau menggangguku, kau bergerak ke London salah satunya untuk menyuruh Mephisto membunuh Kardia. Dan Kardia adalah orang yang penting bagiku," ucapan itu bersamaan dengan gerakan cepat tangan yang menginjeksikan obat bius lewat jarum suntik yang ditusukkan ke leher Ilias. Membuat CEO TNK tersebut tersungkur sebelum sempat berpikiran untuk balas menyerang Dégel.

Bukan kebetulan Mephisto menggiring Ilias ke tempat seperti ini. Gedung di belakang sekalipun kelihatan teraabaikan, tapi Dégel tahu di dalamnya ada beberapa incinerator tak terpakai, barang rongsokan dari Rumah Sakit St. Mary yang tentu masih berfungsi. Dan benar-benar masih menyala dengan baik, sudah terasa suhu sangat tinggi dari panas api yang sanggup menghancurkan tubuh manusia menjadi debu.

Dari dosis yang tadi Dégel berikan, seharusnya Ilias sudah bangun sekarang. Ia tidak mempunyai waktu semalaman untuk melenyapkan CEO ini, ia harus kembali ke penthouse sebelum Kardia bangun. Dan menghabisi nyawa orang, tanpa orang tersebut tahu kalau akan dibunuh tentu tidak akan menarik. Benar saja, dapat dilihatnya sosok nyaris telanjang—hanya menggunakan celana dalam, yang duduk terikat di kursi kayu itu mulai membuka mata, semakin mendapat kesadaran ada beberapa indikasi dari Ilias untuk berontak, tapi pria itu tidak bisa—obat bius tadi masih melumpuhkannya sekalipun sudah terjaga sepenuhnya. Terlebih lagi kaki dan tangannya tidak bisa digerakan sekalipun dia ingin, Ilias tidak bisa merasakan bagian itu ada di tubuhnya.

"Jangan memaksakan diri untuk bangun." kata Dégel, sepatu boot yang dikenakannya menginjak bentangan plastik bening tebal di lantai saat ia mendekati Ilias, dan tangannya memegang sebuah benda unik seperti gergaji besi berwarna perak mengkilap di bagian yang bersisi tajam, dan peyangga atasnya terdapat ukiran rumit. Amputation Saw, benda yang tidak lagi digunakan di dunia medis saat ini.

"Apa maumu?" ucap Ilias, sekalipun sudah tersudut ia tetap bisa menguasai dirinya. "Kuasa atas TNK?"

Dégel mengamati saw di tangannya, "Bukankah aku tadi sudah mengatakan, kalau aku tidak ada hubungannya dengan bisnis kalian." ia memegang lengan Ilias yang terkulai, menorehkan sisi tajam gergajinya disana, darah merah segar langsung mengalir turun. "Aku hanya ingin segera membunuhmu."

"Kenapa?" tanya Ilias, suaranya belum terdengar goyah.

"Tidak semua hal bisa dijawab dengan karena, Mr. Ilias. Banyak hal yang terkadang memang tanpa alasan. Tapi ada satu untuk semua ini… silahkan Anda pikirkan sendiri," jelas Dégel, sambil kembali menghujamkan gergajinya di lengan Ilias.

"Hentikan!" seru Ilias, matanya membelalak saat melihat daging legannya semakin teriris dan menganga merah. Yang lebih mengerikan, ia melihat tubuhnya dilukai tapi tidak ada sakit yang dapat dirasakannya. "Hentikan itu!"

Dengan pelan, gerjaji itu memutari lengan Ilias, mengiris semua daging dan urat syaraf disana sampai menyisakan tulang keras. Tangan Dégel yang terbalut sarung tangan sudah basah dengan cairan merah. Seakan tidak mendegar teriakan Ilias yang memintanya berhenti, ia menekan senjatanya, memberikan sedikit kekuatan untuk memotong tulang. Sesaat ia berhenti seperti mengamati hasil gesekan pisau pada daging—rapi, tekniknya tetap bagus tentu saja. Dan selanjutnya ia meneruskan kegiatan sampai tulang di sana terpotong, sampai tangan Ilias terpisah dari kesatuan raga.

"Bisakah Anda tenang, Mr. Ilias, sekalipun Anda berteriak memutus pita suara, daerah ini cukup sepi. Anda hanya menyia-nyiakan energi." kata Dégel, ia menimbang-nimbang sebuah lengan di tangannya, memegang bagian telapak tangan, dan bagian yang terpotong menghadap bawah, darah masih menetes.

"…." Ilias tidak bisa membalas apa-apa, mulutnya terbuka tanpa ada kata yang keluar, ia terguncang dengan fakta tangannya teramputasi. Ada rasa nyeri di dadanya, ngilu—linu di tulangnya yang terpotong bukan secara real, hanya berupa perasaan bergulung begitu menyiksa di ulu hati, tidak nyaman, gelisah, ngeri bercampur dengan takut. Terlebih saat melihat aliran darah yang terus menerus di bekas yang terpotong, membuat tubuhnya berkeringat.

Dégel mengamati ekspresi di wajah Ilias, memang mengerikan saat melihat langsung dengan mata kepala sendiri proses kehilangan anggota tubuh.

"Sayang sekali semua ini harus cepat aku akhiri," ucapnya, sambil melempar tangan yang dipegangnya ke dalam incinerator.

Perlakuan yang sama untuk paha Ilias, darah di sana bahkan lebih menyembur lalu jatuh ke plastik pelapis lantai yang mulai memerah di beberapa bagian, Dégel sendiri dengan berhati-hati menempatkan diri di sisi yang bukan merupakan arah cipratan darah. Cukup tangannya saja yang belepotan. Dan jika ia mau, Dégel ingin tertawa melihat Ilias yang bergetar, kesadaran Ilias mungkin akan segera hilang—darah yang keluar sudah cukup banyak. Tapi mata yang nyalang itu masih mengawasi, melihat kaki yang terkoyak.

Siksaan batin yang cukup menghancurkan Ilias. Tekanan dari perbuatan Dégel mendera mentalnya, sebelumnya ia pria yang sangat kuat dalam segala hal—namun melihat detik-detik menuju kematian dengan fisiknya tidak menerima rangsangan sakit—tapi pikirannyalah yang hancur dimakan sebuah ketakutan nyata.

"Lihatlah," perintah Dégel, mendekatkan sisi potongan kaki itu ke wajah Ilias. Tidak ada maksud tertentu, selain untuk memberikan efek rasa takut pada pria itu.

Sementara Ilias bersusah payah untuk berpaling, pandangan matanya sudah mengabur dan kepalanya berputar—tapi ia tetap bisa melihat potongan kakinya yang kemudian diletakkan di pangkuan.

Dengan waktu yang terus bergerak, Dégel tidak mau beralama-lama lagi. Selain itu, percuma ia meneruskan memutilasi tubuh Ilias, jika Ilias sendiri mulai kehilangan kesadaran. Namun ia cukup menikmatinya, dan itu memudahkan saat dimasukkan ke dalam incinerator. Hanya kedua kaki dan tangan yang Dégel lanjutkan pemotongannya—dan setelahnya ia mendorong tubuh Ilias ke dalam pintu menganga merah, dilanjutkan dengan tangan dan kaki yang tergeletak. Semua itu terbakar spontan di tengah bara api, menghancurkan seluruh molekul tubuh hingga hanya tersisa abu.

Dengan cepat pula Dégel membersihakan lokasi. Kursi, plastik dengan genangan darah, sepatu bootnya, dan juga sarung tangan—semuanya masuk dalam incinerator, hancur dalam kobaran api. Kecuali amputation saw yang kembali disimpannya dalam kotak. Ini adalah cirinya, melenyapkan korban, tanpa satu titik bukti yang tersisa.

.

.

El Cid melancarkan aksi bungkam, baik sepanjang jalan maupun setelah sampai di mansion kediaman Sisyphus di kawasan Bishop Avenue. Sekalipun begitu, tindakannya mengantar Sisyphus tentu sangat berbanding terbalik dengan sikap diamnya. Ia berdiri di dekat perapian yang menyala, memegang sebotol cognac berlabel Martell, meminumnya tanpa terasa nikmat. Semua yang berhubungan dengan Sisyphus itu begitu rumit.

"Cid," panggil Sisyphus, dari ujung tangga. "Naiklah," ucapnya, kemudian menuju kamarnya.

Bukannya tidak terbiasa, memang sudah beberapa kali El Cid berada di rumah ini, namun lebih sedikit lagi untuk hitungan memasuki kamar sang tuan rumah. Kamar tidur bukan tempat yang enak untuk dipikirkan dengan beban perasaan yang menggantung selama ini, dan ia juga memikirkan—berapa kali Aspros memasuki kamar ini?

"Anak itu," ucap El Cid—pada akhirnya membuka mulut, namun justru dengan tema bahasan pihak lain. "Kau akan membiarkannya tinggal di sini," lanjutnya sambil mendudukkan diri di sofa.

Sisyphus mengangguk, mengingat Regulus yang menempati salah satu kamar di mansionnya ini—ia tidak tega, dari tadi anak itu seperti menahan tangis tapi tidak dikeluarkannya. "Sampai Ilias menjemputnya, lagi pula mana mungkin aku membiarkannya terlantar."

"Kalau kau memiliki kepedulian sebesar itu terhadap orang lain, apa kau pernah peduli dengan apa yang aku rasakan," ucap El Cid , ia menyesap cognac yang masih dibawanya. "Apa sebenarnya maumu, Sissy?"

"Aku tidak tahu," kata Sisyphus, "Aku hanya tidak bisa,"

"Tidak bisa denganku tapi bisa dengan Aspros," dengus El Cid.

Ucapan dari El Cid seperti pukulan telak. Selalu seperti itu tuduhan yang dilayangkan padanya, bukan berarti itu benar, tapi memang salahnya jika detektif Scotland Yard itu jadi berpikiran seperti ini. Darimana semuanya berawal, darimana ia bertemu El Cid pertama kali—dari kantor Aspros. Ia sudah mengenal Aspros bahkan sebelum Aspros menjabat kepala kepolisian, ia memang pernah bersama Aspros untuk beberapa waktu—bukan hubungan yang memilki dasar, seperti tanpa awal dan tidak jelas kapan berakhir. Karena ia memang tidak menginginkannya. Dan semua menjadi panjang saat ia mulai tertarik pada detektif yang bahkan lebih muda darinya.

"Heran, aku masih mau menemanimu. Padahal mudah saja jika aku tidak peduli lagi padamu, kau bisa lebih bebas juga dengan Aspros."

"Cukup, Cid! Kau tidak mengerti, jangan buat aku semakin sakit kepala dengan prasangkamu."

"Bagaimana aku akan mengerti, jika kau selalu seperti ini, Sisyphus." kata El Cid, vokalnya lebih tinggi daripada nada yang biasa ia gunakan. "Kau tidak pernah bisa membuat pilihan,"

"Aku pun tidak bisa dengan Aspros," tegasnya sambil mendekati El Cid. "Aku tidak bisa, bukan karena Aspros, bukan karena orang lain. Aku tidak bisa sekalipun aku menginginkanmu."

"Kau memperumit dirimu sendiri,"

"Mungkin," lirihnya, menatap mata El Cid untuk beberapa waktu. "Baiklah, semua memang tidak akan berjalan baik, bukan. Untuk kali ini, pertama dan terakhir kalinya—" ucapan Sisyphus terhenti, ia melepas kancing-kancing kemajenya sendiri. "Sebagai yang terakhir, Cid. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu, dan jangan datangi aku juga."

Aroma cognac sedikit terasa saat bibir mereka bertemu dalam ciuman pelan, tangan-tangan yang melepas ikat pinggang juga tidak tampak tergesa. Namun seperti terjadi begitu cepat, saat tanpa sadar keduanya sudah saling mencumbu di ranjang dalam keadaan tanpa busana. Napsu memang menuntut, namun perasaan tetap menyakitkan—bagi El Cid, sekalipun ia tetap menyentuh tubuh Sisyphus bukan hanya berdasar napsu. Yang kemudian menjadi berulang dan berulang sepanjang malam. Seperti ingin mengakhiri dengan mereguk sepuasnya—agar suatu saat tidak merasakan haus akan hal seperti ini.

Dan nyaris pukul empat di pagi hari, keduanya baru berhenti. Baru ingin memejamkan mata saat bunyi nyaring dan sebuah ponsel dengan nada yang diset khusus bahwa yang menghubungi adalah orang yang dikedepankan membuat Sisyphus bangkit. Menyambar selimut untuk menutupi tubuh, dan mengangkat ponselnya.

"Kardia," sapanya, "Kau tahu jam berapa ini?"

"Aku tahu ini masih terlalu pagi, tapi ini buruk, Sisyphus. Aiolia dibunuh oleh Mephistopheles—baru saja, dan Manigoldo langsung memberikan laporannya padaku."

Hening terasa mencekam, tidak ada suara Kardia di seberang, dan ia pun belum menemukan kata yang tepat untuk mengeluarkan isi pikirannya.

"TNK… Pasti akan diambil alih orang itu."

Dan ucapan terakhir Kardia membuat Sisyphus melempar ponselnya ke dinding, sampai pecah dibagian layarnya. Inikah jawaban dari tingkah Ilias selama ini, menghilang sampai sekarang—dan tidak jelas berada di mana. Ini sudah lebih dari sekedar masalah.

-o-o0o-o-

Bersambung…

-o-o0o-o-

Akhirnya keburu untuk update hari ini. Dan kenapa fokusnya bukan hanya Kardia dan Dégel, tapi tergelincir jadi El Cid dan Sisyphus juga. Hahaha… Entahlah.

Terima kasih untuk yang sudah membaca cerita ini, untuk yang menanti chapter selanjutnya juga terima kasih.