Cast : Kim Jaejoong (25)

Jung Yunho (27)

Shim Changmin (22)

Park Yoochun (26)

Kim Junsu (24)

Genre : Romance, Family, Sad

Rate : M hehe..

Disclaimer : Jaejoong is belong to Yunho. But this fanfic is belongs to me.

Warning : Yaoi alias Boys x boys love, alur gak jelas, mungkin agak OOC di awal. Maaf kalo kadang update lama.

And the story is begin …

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

"Mwo ? Kenapa aku harus mentraktirmu ?"

"Karena kau hyungku. Hehe"

"Yah ! Kau !"

.

Before the Light (Part 2)

.

.

Suara musik terdengar yang begitu memekakkan telinga dan asap rokok yang berhembus disana-sini, tak membuat seorang namja itu terusik. Tiga orang wanita berpakaian minim yang sedari tadi mengganggunya pun tidak dipedulikan olehnya sama sekali. Ini adalah gelas ke 12-nya semenjak dua jam lalu ia menapakkan kakinya disini. Changmin menggertakkan giginya, kepalanya terasa panas. Perasaannya membludak. Ia tak bisa berhenti memikirkan perkataan Yoochun semalam. Rasa benci, marah, kesal berkumpul jadi satu dikepalanya.

.

.

Flashback

.

Brakkk..

Yoochun mendobrak pintu ruangan Changmin dan berjalan tergesa-gesa ke meja kerja Changmin.

"Min-ah !"

"Haishh tidak usah berteriak kita hanya berjarak satu meter hyung. Wae ? Kau hampir membuatku game over."

"Shim ! Itu tidak penting ! Aku baru saja mendapat kabar tentang Jung Yunho." Mendengar nama Jung Yunho, Changmin langsung mengalihkan pandangannya. Tatapannya menjadi dingin, jantungnya bergemuruh keras, tangannya mengepal karena emosi.

"Jung Yunho telah menikah ! Ia menikah dengan Go Ahra ! Dan sekarang mereka ada di Jepang." Changmin terhenyak, nafasnya memburu karena emosi. Ingin rasanya ia membunuh namja itu.

"Sialnya aku tak tahu kalau selama ini aku tak tahu kalau ia ada disana. Kalau aku tahu, aku tak perlu membayar mahal detektif di London untuk mencarinya."

"Arghhh kau tahu betapa …" Yoochun terdiam menatap Changmin, ia mengerutkan keningnya.

"Min-ah gwaenchanayo ?"

"Jadi selama ini dia menghilang karena menikah. Cihh .. Bisa-bisanya dia bahagia diatas penderitaan hyung-ku dan membuatnya hampir gila."

"Min … tapi Jung Yunh-"

"Cukup ! Terima kasih telah membantuku hyung. Kau bisa keluar, aku ingin sendiri."

"Tapi Min,Jung-"

"Hyung ! Aku tidak ingin mendengar namanya lagi. Jangan suruh orang untuk mencariku, dan katakan pada Jae hyung aku pulang terlambat."

Srett ..

Changmin beranjak dari duduknya. Emosinya tak bisa terbendung lebih lama lagi. Ia lebih baik pergi dari situ daripada melimpahkan salahnya pada Yoochun. Batas kesabarannya makin menipis. Ia tidak bisa memaafkan namja Jung itu lagi. Demi Tuhan ! Jung Yunho menikah dengan Go Ahra dan meninggalkan hyungnya tepat dua hari sebelum pernikahan mereka tanpa penjelasan apapun.

End of flashabck

.

.

Changmin mengusap wajahnya frustasi. Sekarang bagaimana caranya ia akan memberi tahukan Jaejoong tentang ini ? Bahkan ia tak sanggup kembali melihat wajah hyung-nya. Bagaimana kalau nantinya keadaan hyungnya malah menjadi buruk ? Baru tadi pagi hyungnya tersenyum ia tak bisa begitu saja membuat senyuman hyungnya hilang lagi.

Changmin mengambil handphonenya di saku celana dan menghubungi sekertarisnya. Keputusannya sudah bulat. Ia tak mau membuat keadaan makin memburuk.

"Minra-shi siapkan dua tiket pesawat untuk ke Jepang tiga hari lagi. Alih perusahaan akan kuserahkan pada Yoochun untuk sementara. Setelah Siwon hyung kembali perusahaan akan dipegang olehnya. Aku mungkin akan pergi agak lama."

"Tapi sajangnim belum ada persetujuan dari-"

"Tak ada bantahan. Aku ingin tiket itu sampai di rumahku besok pagi." Ucap Changmin mutlak. Terdengar helaan nafas di seberang telepon.

"Ne sajangnim."

.

.

RinFe Shaw

Before the Light

.

.

Changmin melangkahkan kakinya memasuki rumah. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dari tangga.

"Darimana saja kau ?"

Changmin tersentak. Jae hyung belum tidur ? Huh ! Sekarang ia terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.

"Apa kau masih mau menggunakan alasan yang sama ? Meeting huh ? Aku tadi ke kantormu mengantarkan makan malam, karena kupikir kau akan lembur dan tidak pulang. Tapi sekertarismu bilang kau pergi dari sore tadi." Jaejoong menyilangkan tangannya di depan dada.

Changmin menundukkan wajahnya. Ia tak mau melihat kemarahan hyungnya. "Mianhe hyung aku tadi ke rumah Chunie hyung."

"Yoochun tidak dirumah. Kau pergi ke bar ?" Tanya Jaejoong.

"Aku tidak-"

"Kudengar kau memesan dua tiket untuk ke Jepang."

"H-hyung kau tau darimana ?" Oke ! Ini mulai tidak beres. Changmin mulai was-was, takut hyungnya tau kejadian yang sebenarnya.

"Tidak penting aku tahu darimana." Suasana hening, Jaejoong melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Changmin tetap di tempatnya, ia tahu Jaejoong pasti marah padanya. Saat berada di anak tangga teratas Jaejoong menghentikan langkahnya.

"Biarkan dia bahagia dengan hidup barunya Min-ah. Aku baik-baik saja."

DEG

Changmin membelakkan matanya. Nafasnya tercekat. Ia tahu betul apa yang sedang dibicarakan hyungnya. Ia melihat bahu hyungnya agak bergetar, ia tahu hyungnya pasti menangis. Dengan langkah yang buru-buru ia menaiki tangga.

Grep

Changmin merengkuh bahu Jaejoong dan menyandarkan kepala Jaejoong di dadanya. Tangannya mengusap lembut punggung rapuh Jaejoong. Bahu Jaejong bergetar halus, terdengar isakan lirih dari bibir plum-nya.

Beberapa saat kemudian Jaejoong merasa sudah agak tenang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Changmin. Jaejoong makin menyerukkan wajahnya di dada bidang Changmin. Changmin menumpukan dagunya diatas kepala Jaejoong setelah sebelumnya mengecup lembut rambut almond hyungnya. Namun tiba-tiba Jaejoong melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Changmin.

"Kau bau alkohol Minie-ah." Changmin tersenyum geli. Dalam sekali sentakan ia kembali merengkuh tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya.

"Mianhe hyung, aku takkan mengulanginya lagi. I promise." Jaejoong tersenyum dalam pelukan adik sepupunya.

"Wonie hyung akan pulang ke Korea lusa. Kau membuatku menangis, sekarang aku tampak jelek." Jaejoong mengurucutkan bibirnya merajuk pada Changmin.

Changmin terkekeh geli, hyungnya ini memang sangat centil. "Baiklah, satu cup es krim."

Jaejoong mengerutkan keningnya.

"Dua cup es krim ?" tawar Changmin lagi.

Jaejoong makin tak mengerti, ia melepaskan pelukannya dan memandang Changmin yang tersenyum lembut padanya.

"Hahh… Tiga cup es krim vanilla ?"

"…." Jaejoong masih bungkam.

"Arra ! Lima cup es krim segala rasa !"

Ah Jaejoong mulai mengerti. Changmin sedang menyogoknya dengan bercup-cup es krim saat ia marah Changmin.

"Kau pikir aku akan kuat makan lima cup es krim huh ?" Jaejoong mencubit pinggang Changmin dengan kesal.

"Awww.. appo. Keure ! Berapapun yang- ah ani, apapun yang hyung minta selama sehari kedepan akan kuturuti semua." Jaejoong melebarkan kedua matanya. Jarang-jarang adik sepupunya ini mau menuruti keinginannya selama seharian penuh.

"Jinjja ?"

"Um !"

Jaejoong membalikkan badan Changmin menjadi membelakanginya. Changmin mengerutkan dahinya tak mengerti. Ia hendak protes, namun tiba-tiba lengan Jaejoong melingkar dilehernya. Sontak Changmin langsung berpegangan pada pinggiran tangga. Ingat ! Mereka masih berada di tangga.

"Nah sekarang gendong aku sampai ke kamar. Dan temani aku sampai aku tertidur." Pinta Jaejoong dengan semangatnya.

Changmin menghela nafasnya. Hahh … Inilah resikonya kalau ia mengatakan akan menuruti permintaan si pawang gajah yang satu ini. "Baiklah," Jaejoong terkikik geli melihat reaksi adik sepupu kesayangannya ini.

.

.

RinFe Shaw

Before the Light

.

.

"Kau memasak apa hyung ?" Changmin menghampiri hyungnya yang sedang sibuk di counter dapur mengiris sesuatu.

"Nasi goreng." Jawab singkat Jaejoong.

Changmin paham Jaejoong tidak pernah suka dengan orang yang mengganggu acara masaknya. Ia ingat bagaimana Yoochun dilempar panci oleh Jaejoong saat tak sengaja merusak makanan yang sudah dibuatnya. Ia sendiri juga pernah kena pukulan sendok sayur oleh Jaejoong karena seenaknya mencicipi makanan yang baru saja selesai dimasak Jaejoong.

Jadi Changmin memutuskan lebih tidak mengganggu Jaejoong yang sedang memasak. Ia berjalan ke kulkas. Lari pagi membuatnya haus. Changmin hendak membuka pintu kulkas namun gerakannya terhenti. Foto Jaejoong, dirinya dan Yunho tertempel di pintu kulkas. Foto itu diambil dua tahun lalu saat hubungan Jaejoong dan Yunho baik-baik saja. Saat ia pertama kali melihat foto ini tertempel di pintu kulkas ia marah pada Jaejoong karena Jaejoong memasang foto saat dirinya belum siap difoto.

"Buang saja kalau kau tak suka itu disitu. Aku baru sadar kalau aku juga terlihat aneh disitu. Lagipula aku juga tidak terlalu peduli mau kau apakan benda itu."

Changmin terhenyak mendengar perkataan Jaejoong. Matanya melebar terkejut. Ia menatap Jaejoong tak percaya. Dulu Jaejoong memohon padanya sampai hampir menangis hanya untuk membiarkan foto itu terpajang disana. Dan ia harus menerima jitakkan dari Yunho dikepalanya karena membuat princess-nya menangis.

"H-hyung …"

"Kau mau jamur atau udang ? Nasi gorengnya kubuat pedas tak apa kan ?" Jaejoong mengalihkan pembicaraan dan menghindari tatapan Changmin yang membuatnya tak bisa bernafas.

TING TONG ..

Huh … Jaejoong bernafas lega. Akhirnya ia bisa keluar dari situasi canggung tadi. Changmin sudah keluar dari dapur. Jaejoong mematikkan kompornya, lalu berjalan ke kulkas. Ia menatap sejenak foto yang tertempel disana. Jaejoong ingat dua tahun lalu diwaktu yang sama dan ditempat yang sama pula seperti di foto itu Yunho melamarnya.

Jaejoong menutup matanya dan menghela nafasnya. Saat tangannya meraih handle pintu kulkas, ia tertegun. Ia baru sadar kalau selama ini cincin yang Yunho berikan saat itu masih tersemat indah di jari lentiknya. Dulu saat ia merindukan Yunho ia menatap cincin itu sambil membayangkan wajah Yunho hingga ia terlelap.

Tapi sekarang rasa itu seolah-olah sudah habis. Ia sudah mati rasa dengan Yunho. Tak ada rasa cinta, marah, kesal, sedih ataupun kecewa. Jaejoong seperti tak pernah memiliki hubungan dengan Yunho walaupun kenangan manisnya terkadang berseliweran dipikirannya.

Jaejoong melepaskan cincin itu dan juga foto yang tertempel di kulkasnya membuat bekas lem di kulkasnya. Ia membuang kedua benda itu di tempat sampah. Dengan segera ia mengambil bahan yang dibutuhkannya di dalam kulkas dan meneruskan acara masaknya. Tanpa menyadari dua pasang mata menatapnya.

Changmin yang tadi membukakan pintu-yang ternyata tamunya adalah Park Yoochun itu-buru-buru kembali ke dapur untuk mengambil minum yang belum sempat diminumnya tadi. Mereka tahu bagaimana perjuangan Jaejoong untuk bangkit setahun terakhir ini. Dan itu tidaklah mudah. Kim's Corp sempat down karena Jaejoong yang absen hampir selama sebulan. Untung saja Changmin datang dari London begitu tahu keadaan Jaejoong dan perusahaannya. Dengan sedikit bantuan Yoochun, Changmin membuat Kim's Corp kembali berjaya meskipun harus kehilangan kontraknya dengan Jung's Corp. Dan lagi mereka harus memanggil puluhan psikiater dan membawa Jaejoong keluar masuk rumah sakit karena percobaan bunuh dirinya. Changmin hampir saja menyerah jika saat itu Jaejoong tak lagi menampakkan senyumannya. Tapi sepertinya Tuhan sangat menyayangi hyungnya ini. Pagi itu Jaejong menampakkan senyumannya lagi. Dan Changmin bersumpah apapun itu siapapun itu yang membuat Jaejoong bersedih lagi ia pasti akan menyingkirkannya.

.

.

.

TBC kawan-kawan

.

.

Oke dari chap 1 sampe chap ini aku emang gak masukkin YunJae moment nya, tapi ntar d chap selanjutnya aku janji aku banyakin deh YunJae moment nya. Sebelumnya aku mau ngucapin makasih sebanyak-banyaknya atas dukungan dari kalian semua. Dan aku akan berusaha biar ff ini akan terus berlanjut sampe tamat setamat-tamatnya.

Big thanks to : BooBear1013, aprilyarahmadani, rinatya12JOYerYJS, Reanelisabeth, Clein cassie, chantycassie, and my precious silent reader.

Review please …