WHO IS MY LOVE?

Disclaimer : Hiro Mashima.

Genre : Romance, Friendship, Humor.

Rate : T

Warning : Semi-Canon, OOC, Typo.

Newbie here.

Sementara itu di Fairy Hills.

Di kamarnya, Juvia mulai memikirkan kembali tentang apa yang akan dilakukan setelah Gray, yang menurutnya, secara tidak langsung telah menolaknya.

Juvia POV

Mungkin aku memang harus membuka hati untuk Lyon-sama, maafkan aku Gray-sama, sebenarnya aku masih sangat mencintaimu tapi sepertinya lebih baik begini, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Lucy lagi. Setelah kejadian tadi, aku yakin bahwa kau memang mencintai Lucy, bukan aku. Jujur saja, saat ini hatiku begitu hancur bagai serpihan abu yang tertiup oleh angin di musim dingin. Tapi tidak apa, asal kau bahagia, aku juga ikut bahagia, Gray-sama.

Normal POV.

Keesokan harinya.

"Bagaimana Gray? Apa kau berhasil meyakinkan Juvia?" tanya Levy dengan semangat saat Gray baru datang ke guild. Dia langsung berlari menghampirinya dan menarik Gray secara paksa ke bangku dimana para wanita berkumpul.

"Iya bagaimana? Atau mungkin kalian sudah...hehe..." sambung Bisca sambil membayangkan hal yang tidak-tidak.

"Hmm..." jawab Gray dengan malas.

"Kenapa Gray? Apa kau tidak berhasil meyakinkan Juvia bahwa ini hanya salah paham?" Alzack yang awalnya hanya ingin mendengar percakapan antar para wanita dengan Gray tiba – tiba angkat bicara.

Disaat yang lain sedang mengerubungi Gray dan memberi berbagai pertanyaan, tiba – tiba Juvia datang. Dia terlihat lebih dingin dari biasanya.

"Oi lihat! Itu Juvia!" teriak Laki sambil menunjuk Juvia. Levy, Cana, Mira, dan Bisca langsung berlari menghampirinya.

"Eh, tunggu. Juvia kenapa ya?" tanya Levy pada yang lain dan kontan saja menghentikan pergerakan mereka.

"Benar, tidak biasanya Juvia sedingin ini pada Gray, biasanya begitu dia melihat sosok Gray, dia langsung berteriak histeris" lanjut Cana heran. Sesekali dia melirik ke arah Gray yang hanya duduk bertopang dagu dengan tatapan kosong.

"Mari kita tanyakan langsung hal ini pada Juvia" ajak Mira. Yang lain pun langsung mengikuti ajakan Mira dan melanjutkan rencana untuk menginvestigasi Juvia.

"Bagaimana tadi malam Juvia? Apa kau masih marah pada Gray?" tanya Cana penasaran.

Juvia yang awalnya berjalan dengan santai tiba – tiba kaget. Mendadak dia salah tingkah saat Cana menanyainya tentang Gray. Namun Juvia kembali tersadar bahwa dia sudah tidak berhak untuk berada di sisi Gray. Dia hanya bisa menunduk sambil sesekali memainkan jari – jarinya.

"Kalian kemana saja tadi malam? Atau mungkin tadi malam menjadi malam yang indah untuk kalian?" goda Mira sambil menaikkan sebelah alisnya, sementara yang lain ikut mengamini ucapannya.

"Maksud kalian? Juvia tidak mengerti." tanya Juvia bingung sambil sedikit memiringkan kepalanya, berharap mendapat jawaban sejelas-jelasnya pada yang lain.

"Jadi, tadi malam Gray tidak menemuimu?" tanya Levy terkejut.

"Memang dasar Gray, tak ku sangka dia akan berbuat begitu." sambung Bisca dengan nada kesal, dia pun menatap Gray dengan sinis, tapi dengan kode dari Alzack akhirnya Bisca bisa sedikit menahan rasa kesalnya pada Gray.

'Jadi tadi malam Gray-sama mencariku? Mungkinkah..' batin Juvia penasaran. Dia mulai berfantasi lagi. Tapi kemudian dia menyangkalnya sambil sesekali menggeleng – gelengkan kepalanya.

'Lalu kenapa Gray-sama tidak menemuiku?' mendadak rasa nyeri kembali menghampiri dadanya.

Gray yang merasa jadi bahan perbincangan para wanita hanya bisa tertunduk sambil menyembunyikan wajahnya. Dia merasa bersalah kepada Juvia. Dia juga merasa kecewa kepada dirinya sendiri yang telah menyakiti hati Juvia. Namun dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada Juvia.

Gray POV

Kenapa aku jadi seperti ini? Padahal sebelumnya aku merasa biasa saja saat dia mendekatiku, bahkan awalnya aku merasa risih dengan tingkahnya yang menurutku terlalu berlebihan. Tapi kenapa sekarang aku merasa sedih setelah kejadian tadi malam? Terutama saat aku melihat Lyon bersamanya. Dadaku terasa sesak, pikiranku mendadak kacau dan emosiku tak terkontrol. Rasanya aku ingin menghampiri Lyon dan menghajarnya saat itu juga.

Mungkinkah aku memang mulai menyukainya? Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan? Sepertinya sekarang Juvia mulai menjauhiku. Aku jadi menyesal karena selama ini tidak pernah menanggapi semua perlakuannya kepadaku. Jujur saja, aku rindu dengan semua yang telah Juvia lakukan kepadaku. Apakah sekarang, aku masih bisa untuk menggapaimu lagi, Juvia?

Normal POV

Lucy yang baru datang langsung melihat ke kerumunan wanita yang sedang mengelilingi Juvia. Dia merasa canggung dengan Juvia, apalagi Juvia selama ini sudah menganggapnya sebagai rival cintanya. Padahal selama ini Lucy hanya menganggap Gray sebagai sahabat, kalaupun lebih, itu hanya sebatas saudara, sebab di hati Lucy sudah ada orang lain. Natsu. Ya, lelaki yang telah menjadi partnernya selama ini. Baginya, tidak ada yang lain selain Natsu.

'Juvia' batinnya. 'aku harus menemuinya dan menjelaskan kesalahpahaman ini'.

Lucy langsung menghampiri Juvia. Sementara Cana, Mira, Levy, Bisca, dan Laki melihat ke arah Lucy sambil sesekali berkeringat dingin, takut kalau – kalau akan terjadi perang dunia antara Lucy dan Juvia.

"Juvia" sapa Lucy.

"Lucy?" teriak mereka secara bersamaan. Levy yang terlalu takut hanya bisa menelan ludah sambil sesekali memberi kode berupa gerakan mata pada Lucy.

Mira hanya sesekali menyunggingkan bibirnya, dengan sedikit terpaksa, sambil berharap tidak terjadi apa – apa pada mereka.

"Anoo.. bisakah aku mengobrol berdua dengan Juvia? Ya itupun kalau kau mau Juvia" tanya Lucy sungkan.

"Lu-Lucy, ka-kau-" ucap Laki sambil terbata – bata. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Mendadak badannya lemas, tetapi Cana langsung memegangnya dari belakang sambil menenangkannya.

"Tidak apa-apa Lucy" jawab Juvia sambil tersenyum.

Mendengar pernyataan Juvia, mendadak Cana, Mira, Bisca, Levy, dan Laki mendadak sweatdrop. Tapi beberapa detik kemudian mereka tersadar dan mengumpulkan kembali nyawa mereka yang sempat hilang (?)

"Hmm, baiklah, ayo kawan kita lanjutkan pekerjaan kita yang sempat tertunda" jawab Cana asal.

"Haikk!" ujar yang lain serempak. Mereka meninggalkan Lucy dan Juvia sambil sesekali berdoa agar tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada guild ini setelah keduanya bicara.

"Jadi, apa yang mau kau katakan?" tanya Juvia datar.

"Anoo.. ettoo.. tentang tadi malam, aku tidak bermaksud.." ujar Lucy kikuk. Dia takut salah bicara dan membuat Juvia kembali marah padanya.

"Nee, tidak apa-apa Lucy, Juvia sudah melupakan tentang kejadian tadi malam. Mungkin perasaan Juvia yang terlalu iri pada kedekatan kalian berdua" balas Juvia disertai senyum tulusnya.

"Be-benarkah itu, Juvia?" tanya Lucy meyakinkan "Apa kau mau memaafkanku?"

"Iya." jawab Juvia.

"Arigatou, Juvia!" teriak Lucy senang sambil memeluknya. Juvia pun membalas pelukan Lucy. Anggota lain yang melihatnya turut senang dan terharu. Bahkan Kinana sempat meneteskan air matanya saat melihat mereka berdua. Mereka juga bertanya – tanya kenapa Juvia tiba – tiba mau memaafkan Lucy? Bukankah biasanya Juvia menghindari interaksi dengan Lucy.

"Juvia-chan!" teriak Lyon tiba – tiba dari pintu depan guild, mengagetkan anggota lain, terutama Juvia dan Gray.

"Lyon-sama! Dan Lamia Scale!" teriak Juvia dan yang lain hampir bersamaan.

'Tch, apa yang dilakukan Lyon disini' geram Gray dalam hati. Sesekali dia mengepalkan tangannya, sambil mencoba mengendalikan amarahnya yang sudah hampir keluar, untung saja, karena dia juga tidak ingin terlihat jelek dimata Juvia, yang sekarang telah berhasil mencuri hatinya.

"Chelia!" panggil Wendy sambil melambaikan tangannya yang juga dibalas oleh Chelia.

"Wendy! Sudah lama kita tidak bertemu!" jawab Chelia semangat, dia langsung berlari menghampiri Wendy dan memeluknya dengan erat. "Aku rindu padamu, Wendy"

"Aku juga, Chelia." Balas Wendy sambil tersenyum.

"Jura, lalu Toby dan Yuka" kata Erza. "Apa tujuan kalian datang kesini?" lanjutnya.

"Apakah kami tidak boleh berkunjung? Walaupun kita pernah menjadi lawan saat di Daimatou Enbu?" tanya Jura.

"Hmm boleh saja." sambung Laxus yang baru turun dari lantai atas bersama dengan Makarov.

"Selain itu, ada hal lain, Juvia" kata Lyon yang sekarang telah berdiri di hadapan Juvia dan menatapnya penuh arti.

"Aku ingin mengajakmu ke Akane Resort. Mungkin kau ingin menyegarkan badan dan pikiran, lagipula disana terkenal dengan pantainya yang indah," sambungnya sambil memberi senyuman termanis pada Juvia, membuat wajah Juvia bersemu merah.

"Ta-tapii-," jawab Juvia ragu, dia tidak yakin untuk mengiyakan ajakan Lyon, selain karena dia merasa tidak enak dengan Lyon, dia juga khawatir kalau hanya akan pergi berdua saja dengan Lyon.

"Tenang saja Juvia, kita tidak berdua. Jura, Chelia, Toby dan Yuka juga ikut berlibur" jawab Lyon yang masih tetap dengan senyum tulusnya sambil berharap agar Juvia ikut serta.

'Mungkin lebih baik Juvia menyetujui ajakan Lyon-sama, lagipula Juvia tidak hanya berdua saja dengan dia' pikir Juvia.

"Baiklah, Juvia ikut." jawabnya. Lyon yang senang secara refleks langsung memeluknya. Anggota Lamia Scale dan Fairy Tail yang melihat kejadian itu sempat terkaget – kaget. Bahkan Lucy sempat menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang membuat gaduh. Evergreen sempat sesekali melirik ke arah Gray, dia ingin melihat reaksinya.

Terlihat aura hitam mulai menyelimuti Gray, Gajeel yang melihat hal itu malah senang dan ikut memanas – manasi Gray, membuat aura hitam yang menyelimuti Gray makin pekat. Anggota lain yang melihat itu langsung mendeath glare Gajeel, dan Gajeel pun langsung kabur sambil mengajak Lily.

"Hey! Kenapa hanya Juvia saja yang diajak?! Mungkin saja yang anggota guild lain juga ingin ikut!" bentak Gray sambil menggebrak meja, membuat anggota lain termasuk Lamia Scale merinding. Lisanna pun berbisik pada Mira, berbincang apa yang akan terjadi setelah ini. Elfman berkali – kali bilang PRIA dan langsung dipukul oleh Erza sampai pingsan. Natsu terlihat speechless dengan apa yang dilakukan Gray dan hanya berucap WOW bersama Happy.

"Memangnya kenapa? Memang kedatangan kami kesini, terutama aku, hanya ingin mengajak Juvia untuk ikut bersama kami, atau, apa kau cemburu melihatku mengajak Juvia?" seringai tipis muncul dari wajah Lyon, seperti ingin menantang Gray, yang membuat Gray makin naik pitam.

'Kira-kira apa yang akan Gray-sama katakan, Juvia jadi penasaran' batin Juvia sambil berharap Gray akan mementahkan ajakan Lyon.

"Ti-tidak! Aku hanya-"

"Master, boleh kan kami mengajak Juvia? Lagipula ini juga untuk mendekatkan hubungan antar guild." Tanya Lyon pada Makarov.

Tiba – tiba saja Jura mengeluarkan sekoper uang dan menyerahkannya pada Makarov. Mata pria tua itu pun langsung berbinar – binar melihat tumpukan uang yang sekarang ada di hadapannya.

"Ini ada sedikit uang yang dititipkan Master kami untuk Fairy Tail, kami tahu bahwa Fairy Tail sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk merenovasi kembali guild ini." ujar Jura sambil memberikan uang pada Makarov. "Tenang saja, Juvia aman di tangan kami."

Makarov pun langsung menyambar uang yang diberikan Jura sambil berujar, "Tidak apa – apa, bawa saja Juvia sesuka hatimu! Aku percaya Juvia akan aman bersama kalian. hahaha.."

"Baiklah! Ayo Juvia, kami pergi dulu, terima kasih sudah mengizinkan Juvia untuk ikut bersama kami" kata Lyon sambil menarik tangan Juvia dan menggandengnya.

"Dah Wendy! Sampai bertemu lagi!" ucap Chelia sambil melambaikan tangannya.

"Dah Chelia! Hati – hati yaa!" balas Wendy.

"Baiklah kami permisi dulu." pamit Jura pada Makarov dan yang lainnya.

"Hey tunggu! Aku belum selesai Lyon! Sial!" teriak Gray yang kini sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Sementara Lyon justru mengabaikannya dan terus melanjutkan perjalanannya, genggaman tangannya pada tangan Juvia semakin mengerat.

"Gray" panggil Erza sambil Erza sambil menepuk bahu pria es itu.

"Ada apa?" balasnya datar, tidak berminat untuk menjawab panggilan sang Titania.

"Kenapa kau tidak terima saat Lyon mengajak Juvia pergi? Apa kau sekarang mulai menyadari perasaanmu?"

"Aku.. aku tidak tahu" jawab Gray sambil tertunduk lesu, ia benar – benar bingung saat ini. Sejujurnya ia masih belum yakin akan perasaannya pada Juvia. "Tapi yang jelas, disini terasa sesak saat melihat mereka berdua bersama" lanjutnya sambil memegang dadanya.

"Sepertinya kau mulai menyukai gadis itu." kata Fried.

"Akhirnya kau mulai menyadari perasaanmu Gray." Evergreen melanjutkan.

"Tapi sekarang Juvia dan Lyon malah semakin dekat, lalu apa Gray masih ada harapan?" tanya Bikslow ragu.

"Argh urusai! Aku mau pergi!" ucap Gray sambil berlari keluar dari tempat itu.

TBC

Yugure Maulida : makasih atas sambutannya ;) makasih juga udah di bilang kalo ceritanya keren, iya memang, maklum saya miskin ide hehe xD

Ditunggu reviewnya lagi ya. Arigatou :3

Himiki – chan : kenapa? Speechless ya sampe ga bisa berkata apa – apa lagi? :D

Ini lanjutannya, semoga kamu puas dengan chapter ini dan masih betah untuk nangkring disini

Blue rainy : makasih buat eloh yang sudi mereview fic ini. Hahahaha xD

Untuk deskrip tolong masukannya ya hehehehee :D

LaChoco Latte : sip ini aku udah update secepat aku bisa ^^

Jellal Cuma kagum sama kata – katanya Erza, mungkin jadi ada pikiran juga buat Jellal pdkt sama Erza lagi hehe xD

0o0

makasih buat para reader yang udah mau baca kelanjutan fic ini, tolong tinggalkan jejak di fic ini, saran, kritik, atau apapun yang membangun ^^

aku akan berusaha update secepat mungkin agar para pembaca tidak terlalu lama menunggu ^^

sekian dan terima kasih