Judul: Biru

Peringatan: NYAHAHAHAHA GAJE! OOC! OC! AU! Shonen-ai

A/N: Ahahahahahahaha akhirnya sudah chapter II -_- kok rasanya makin TIDAK NYAMBUNG yah? Hiks hiks T.T lalu... eto... aku tidak janji akan melanjutkan cerita ini, karena alur cerita yang tiba-tiba buntu di tengah jalan -_- tapi sejujurnya aku ingin sekali menyelesaikan cerita ini =.= oh ya! di chapter awal ada satu huruf yang aku ubah, nyehehehe salah nyebutin warna topeng Madam Red.. well, enjoy~ dan... jangan ragu-ragu untuk menghina cerita ini kalau memang buruk haha T_T karena sejujurnya aku juga ngerasa seperti itu—

.

.

Ciel tersenyum dan membalas uluran tangannya, "Salam Kenal, aku Ciel Phantomhive. Anda?"

"Salam Kenal, Ciel. Nama saya Sebastian, Sebastian Michaelis."

Ciel mengerjapkan matanya beberapa saat, mencoba mencerna perkataan lawan bicaranya. Apa? Dia bilang apa? Dia bilang dia Sebastian Michaelis?

"A-A... Anda bilang...apa?" Ciel bertanya sekali lagi, mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Laki-laki bertopeng hitam itu nyengir, menikmati kegugupan yang terpancar dari raut muka Ciel yang ditutupi topeng biru.

"Apa saya harus mengulanginya, Ciel?" Sebastian menggoda Ciel. Ciel menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menunduk singkat, menunjukkan rasa hormat kepada bangsawan itu.

"Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Michaelis. Perkataan saya tadi hanyalah sebuah lelucon." Ciel masih menunduk, berharap Sebastian akan memaafkannya. Sebastian berkedip dan tersenyum lagi.

"Kenapa kamu minta maaf, Ciel? Kau berbuat salah apa denganku?"

"Sebelumnya saya bilang...saya bilang kalau keluarga Michaelis adalah keluarga yang..." Ciel menggantungkan kalimatnya. Sebastian nyengir —untuk

yang kesekian kalinya dan melanjutkan kalimat Ciel, "...nyentrik?"

Muka Ciel masih tertunduk, dan tanpa Sebastian sadari muka Ciel memerah, menahan malu. Sebastian tertawa, "Apa kau kira aku akan marah? Oh ayolah, ini pesta! Bersenang-senanglah sedikit, Biru!"

Ciel mendongak dan mengerjapkan mata, "Jadi anda tidak...tersinggung?"

"Oh ayolah, bercanda juga perlu. Lagipula—" kalimat Sebastian terpotong karena ayah dan ibunya melambai ke arahnya. Sebastian mengangguk singkat dan menoleh ke arah Ciel, "Aku harus pergi, Ciel. Sampai jumpa lagi! Oh ya, dan... warna biru sangat cocok untukmu." Sebastian tersenyum simpul sebelum berbalik pergi.

Ciel berdiri di tempat tak bergerak.

Apa seorang bangsawan dengan mudahnya memuji orang lain?

.

.

"Kau bicara dengan siapa, Sebastian?" Mary Michaelis sedang merapikan kerah baju anaknya. Sebastian tersenyum dan menjawab, "Kenalan baru."

"Kenalan baru? Jangan sampai kau membicarakan tentang masalah keluarga kita, Sebastian... Dan tumben sekali kau mau berbicara dengan orang lain... Apa dia begitu menarik?" Mary melihat lurus ke mata anaknya. Sebastian mengalihkan pandangannya dan mengangguk pelan.

"Aku tidak akan membicarakan masalah itu dengan manusia, Ibu. Lagipula, dia sangat rupawan dan...biru."

Mary mengangkat alisnya sekilas dan berkata, "Sayang, perkataanmu sangat sulit ibu pahami. Sudahlah lupakan, mari kita keluar secara resmi dan memotong kue ulang tahunmu."

Sebastian mengangguk singkat.

.

.

Happy Birthday to You...

Happy Birthday to You...

Happy Birthday, Happy Birthday...

Happy Birthday to You...

Suara lagu selamat ulang tahun mengiringi langkah Earl Aldred, Mary, dan Sebastian Michaelis menuju kue ulang tahun. Mereka bertiga membuka topeng mereka di tengah-tengah jalan, mengundang suara tepuk tangan dari berbagai arah. Semua hadirin pesta melihat 3 sosok sempurna berjalan dengan perlahan dan...anggun.

Aldred tersenyum setiap saat, tubuhnya yang menjulang tinggi dan matanya yang berwarna merah menyebabkan dia terlihat sangat...menawan. Bukan hanya Aldred, istrinya —Mary, sangat cantik dengan gaun hitam polos panjang yang terlihat menyapu lantai. Mary terlihat lebih cantik dengan dandanannya yang natural dan warna rambutnya yang keemasan. Bola matanya sama seperti milik suaminya —Merah.

Dan yang terakhir adalah Sebastian Michaelis. Dia terlihat sangat tampan dengan coat hitamnya. Ciel melihat Sebastian dari jauh, dan tidak bisa melepaskan pandangan dari wajahnya yang mendekati kata sempurna itu. Bola mata merah yang diwariskan orang tuanya itulah yang menjadi daya tarik seorang Sebastian Michaelis.

"Terima kasih karena kalian semua sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri pesta ulang tahun anak saya yang ke 17..." Aldred memulai kata sambutan, yang diikuti serentetan tepuk tangan yang sangat meriah. Mary menuntun Sebastian menuju kue ulang tahunnya yang bertingkat 5 itu. Kue itu dilapisi cream sesuai warna kesukaan Sebastian, —Hitam Putih.

Sebastian menutup matanya sebentar, melakukan tradisi make-a-wish dan meniup lilin yang ada di kue itu. Seluruh hadirin tepuk tangan, tak terkecuali Ciel.

"Happy Birthday, Sebastian. Happy Birthday, Demon." Sebastian berbisik kepada dirinya sendiri.

.

.

Frey Faustus berjalan cepat tak berirama, sesekali dia mendecak kesal, sesekali dia memukul meja tanpa alasan. Namun sesekali senyuman menghiasi wajahnya yang tampan.

"Frey... Kenapa kau terlihat bahagia?" Seorang wanita terbaring di tempat tidur yang berantakan itu. Frey melihat Ibunya dan menjawab dengan tenang, "Ibu... Aku akan membalaskan dendam Ayah, aku akan melakukannya Ibu. Aldred akan merasakan kepedihan kita setelah Ayah pergi, Aldred dan anaknya yang kebetulan juga iblis itu akan kehilangan orang yang mereka sayangi —Mary Michaelis."

"Frey... Mereka adalah Michaelis, tolong jangan ber—"

"Tapi Ayah juga Michaelis! AKU MICHAELIS! Lihatlah Sebastian Michaelis, kehidupan seperti apa yang dia dapatkan dan lihatlah aku, Ibu! Lihatlah kita! Kehidupan seperti apa yang kita dapatkan? Lebih rendah dari Iblis dan disamakan dengan manusia! Padahal dia dan aku sama! Sebastian dan Aku mempunyai darah Michaelis! Aku bukan Faustus! Aku Frey Michaelis!" Frey memotong perkataan ibunya, —dengan sedikit membentak.

"Ayahmu...beda." Lassie Faustus bersuara. Frey berdecak pelan dan melangkah mendekati ibunya.

"Kita adalah Michaelis, Bu. Hanya saja Ayah kurang beruntung karena dilahirkan menjadi anak terakhir. Seandainya Ayah adalah anak pertama dan bukan anak terakhir... Seandainya Aldred tidak ada... Seandainya tidak ada peraturan di dunia iblis yang menentukan kalau anak terakhir dari keturunan iblis adalah sampah... Apa kehidupan kita masih seperti ini?"

"Frey, dengar Ibu. Tidak selamanya menjadi Iblis darah murni itu...menyenangkan." Lassie Faustus mengelus rambut anaknya dengan perlahan. Frey mendengus dan berkata, "Aku tau ibu adalah Iblis darah murni...tapi aku ingin diakui, Bu. Aku hanya ingin —Pengakuan."

"Pengakuan dari siapa yang kau butuhkan? Kedua orang tuamu Iblis, kau adalah Iblis darah murni. Apa itu tidak cukup? Sebastian Michaelis bukan Iblis berdarah murni, ibunya seorang...manusia."

Frey berdiri dengan tiba-tiba dan bertanya dengan ibunya, "Bu... Apa Iblis yang dilahirkan dari manusia memiliki kekurangan?"

Lassie Faustus menatap anaknya —sejenak. Mata yang dimiliki Frey sama dengan seluruh keturunan Michaelis. Mata yang indah dan merah. Lassie menghela nafasnya dan menjawab, "Anak yang terlahir dari campuran darah manusia dan iblis tidak akan...abadi. Mereka bisa mati, sama hal nya seperti manusia. Mereka tidak immortal seperti Iblis pada umumnya."

Frey membelalakkan matanya, "Dia bisa...mati?"

"Jika yang kau maksud 'dia' adalah Sebastian Michaelis, maka jawabannya iya. Dia memiliki semua kekuatan iblis, namun tidak sesempurna iblis. Darah manusia membuatnya menjadi tidak immortal." Lassie menjelaskan hal tentang mortal dan immortal ini dengan setengah hati kepada anaknya. Naluri keibuannya muncul, untuk pertama kalinya dalam massa waktu dia hidup sebagai Iblis, Lassie Faustus takut kehilangan seseorang, dia takut kehilangan anaknya —Frey Faustus.

Frey berbalik dan senyum kemenangan menghiasi wajahnya.

"Aku tidak butuh Mary Michaelis sekarang...

Aku hanya butuh... Sebastian. Aku akan membunuhnya...

Aku akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku...

Aku akan membunuhmu, Sebastian Michaelis... Kau pasti akan kubunuh..."

-bersambung-

A/N: Yak chapter dua berakhir -_- *kriik kriiik* nah pasti para readers yang udah membuang waktu buat baca tulisan gaje ini tiba-tiba kesal dan teriak "kok nggak nyambung sih!" nah di notes atas tadi saya sudah memperingati anda kalau cerita ini...tidak nyambung. Ya -_- maafkan saya -_-". Lalu... Frey Faustus itu sepupu nya Sebastian Michaelis, jadi ya nama aslinya Frey Michaelis - -" Peran dia agak penting di chapter selanjutnya —mungkin. Lalu... sekian! *pop* *disappear*