(Ada sesuatu yang hilang ketika kita butuhkan, dan sendirinya kembali tanpa diduga. Salah satu contohnya, ialah sosok pejuang. Semangat lebih menyala dari pada kobar apilah yang akan menduduki puncak dari "perjuangan-perjuangan" ini.)

•••

SUATU kebiasaan khusus bagi Arthur Kirkland untuk mengamat-amati orang lain yang tengah giat mengerjakan sesuatu. Mengamati tentang bagaimana suatu hal terjadi secara berurutan.

Contohnya, di perkebunan luas milik rakyat Hindia Belanda ini, kala para pemetik tehnya menggiati kegiatan untuk bangun pagi, berangkat sebelum matahari terbit di kaki langit timur, lantas memulai pencaharian untuk memilih dan memetik daun-daun teh segar.

Dipetik hati-hati dan dimasukkan ke dalam keranjang, omong-omong, Arthur merasa jumlah para pemetik daun teh ini berkurang beberapa orang dari dua bulan kemarin.

Namun tunggu, barangkali, hanya perasaannya saja. Perasaan yang mungkin saja timbul karena alangkah lelahnya ia menyusun perjanjian dan kebijakan-kebijakan baru sebagai bentuk menguasaannya di Hindia Belanda.

Arthur menyusuri jalan setapak di sela semak teh yang tingginya sedada orang dewasa, melewati para pemetik dengan langkah ringan. Namun, antara Arthur dan pribumi yang menjadi pemetik teh ini, tiada kontak.

Jangankan kontak mulut, bertatap mata saja keduanya seolah enggan. Mulutnya laksana terkunci, Arthur canggung. Dan para pemetik daun teh ini, barangkali mereka terlalu sibuk untuk sekadar melirik ke sana dan kemari; demi melihat kedatangan si pria Inggris.

Berbicara soal teh, wahai, Arthur mengingat seseorang yang sering mengantarkan sekeranjang kecil daun teh siap seduh setiap beberapa hari sekali ke kediaman sementaranya di Hindia Belanda.

(Oleh karena Arthur belum tahu siapa namanya, maka pria Inggris ini kerap menyebutnya dengan nama "Si Gadis Hindia Bercaping.)

Dua-tiga pekan ini, Gadis Bercaping itu tidak tampak batang hidungnya. Keranjang kecil teh yang sering digunakan si gadis untuk mengantarkan daun teh pun sekadar diletakkan di depan pintu.

Tidak seperti semenjananya; mengetuk pintu depan, lantas Arthur membukakan, kedua netra berbeda warna pun bertatapan, diselingi sebentar oleh secakap-cakapan, dan salam pamit sebagai akhiran dari pertemuan. Tidak.

Hanya diletakkan di depan pintu, tanpa Arthur ketahui siapa peletaknya. Tidak ada nama, tidak ada surat, kecualikan "peraturan" kecil yang harus selalu Arthur patuhi jika pria beralis tebal ini tidak mau kegiatan sakral minum bercangkir-cangkir teh absen dari kesehariannya.

Pria Inggris ini, ternyata oh ternyata, merasa kehilangan.

Ish.

Arthur masih bertanya-tanya dalam hati kala waktu senggang, di sela kesibukan mengurusi dokumen perekonomian negara, ketika melakukan kegiatan pribadi; sebelum tidur, saat mengunyah makanan, setiap sore saat jadwal khususnya meminum teh ... setiap hari tanpa luput menanyakan asal-usul Si Gadis Bercaping.

Setiap hari ...

Minimal terbesit di pikirannya untuk memikirkan gadis misterius itu.

Dan tidak terasa, ia sampai di sisi timur perkebunan teh, terbukti dari tampak kokohnya pembatas dari beton berlapis semen sebagai penghalus dan pengapik. Di situlah, Arthur sempatkan diri untuk duduk.

Bersila di atas beton seraya menghadap ke arah kebun, tempat tanaman teh yang segar dan subur tumbuh.

Tangannya terjulur, jemarinya bergerak memetik sehelai daun teh yang barangkali masih segar, sebab tampak basah alami oleh embun di pagi hari.

Pandangan Arthur melamat, menatap daun teh berwarna hijau pekat yang berada dalam japitan jari telunjuk, tengah, dan ibu jarinya. Menatap tulangan daun yang ada di penampang bagian belakang.

Hmmm ...

Hmm ...

Hm?

Hn ... .

Eh, tidak. Bukan. Daun teh ini benar-benar bukan dan tidak membuatnya memiliki niat untuk menelan daun teh ini secara langsung tanpa proses penyangraian atau sejenisnya—meskipun Arthur benar-benar ingin minum teh sekarang.

Refleks, ia menguap lebar (tangannya tergerak untuk menutupi, agar tidak ada lalat atau pasukannya yang seenaknya masuk) menunjukkan kekantukannya yang kembali datang.

Oh. Sebangun tidur tadi, Arthur benar-benar tidak meneguk hangatnya teh melati barang setetes. Diganti oleh air putih yang jelas tawar dan tidak senikmat teh melati yang wanginya menenangkan.

Kekurangan kafein, hm ...

Berjarak beberapa langkah dari tempat di mana Arthur mendudukkan diri, tumbuh sebatang besar pohon ... ah, entah apa namanya. Bersamaan dengan netranya yang mulai lamat, kaki-kakinya membawa Arthur menuju ke pohon tersebut.

Punggungnya bersandar, tubuhnya tetap merasa dingin, walaupun pagi mulai beranjak siang. Kira-kira, pukul sepuluh pagilah waktu itu. Ketika para pemetik daun teh hari itu berkurang satu demi satu—selesai tugasnya. Bakul telah cukup isi.

Bersama kesunyian, bau, dan suara-suara alam pagi itu, Arthur putuskan untuk memejamkan netra; memuaskan kantuk barang lima atau sepuluh menit ...

"Sir Lieutenant? Mengapa Anda tidur di sini?"

Greg!

Niat Arthur batal total. Satu detik setelah ia mendongak, kedua netra berbeda warna itu bertemu.

Tidak lupa, sekeranjang kecil yang Arthur kenali dari anyaman bambu kuningnya yang khas ...

Jasmine Tea.

Tidak ketinggalan, Si Gadis Bercaping itu.

"Kau ..."

:v v: :v~v: :v v:

...~*oOo*~...


Hetalia — Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu. Tidak ada keuntungan material apapun yang penulis dapatkan atas pembuatan karya.

LIEUTENANT GOVERNOR

oleh INDONESIAN KARA.

Rated: T (R-14). Genres: Adventure, General. Language: INDONESIAN (Bahasa Indonesia).

Notes: AU, historical, timelined-wars.

[factres]

#31DaysChallenge - Second.

-Indonesia; 17 Juni 2018-


*~...0o0...~*

Tenangnya ombak Pantai Cilincing hari itu, rupanya membawa kejadian yang amat sangat tidak menenangkan batin.

Baik untuk pribumi Hindia Belanda, maupun pihak Belanda yang telah jatuh kekuasaannya dalam genggaman Imperium Perancis.

-26 Agustus 1811-

Pasukan Inggris, dengan mengerahkan kekuatan sebanyak enam puluh kapal, berhasil menduduki Batavia Kota.

Di lain sisi, Kolonel Gillespie menjadi komandan utama dalam serangan yang dipusatkan di daerah sekitar Cornelis.

Peperangan akhirnya pecah dengan letusan meriam dan tembakan senapan musket, pertempuran terjadi dan memakan korban di kedua belah pihak.

Belanda-Perancis sekali lagi terpukul mundur ke Buitenzorg(*) dan mengalami kekalahan terbesarnya menghadapi Inggris di Jawa; setelah sebelumnya melakukan gerakan mundur dengan terus menembakkan meriam ke arah pasukan dari Inggris.


"Seraaang!"


Dua belas ribu tentara perang Britania Raya terbaik dikerahkan; tanda kekuatan penuh telah dilepaskan. Tidak kurang dari seratus kapal yang memberangkatkan mereka, hingga mendarat di bibir pantai bernama Cilincing.

Ribuan prajurit tempur Britania Raya terbaik yang semula berbaris rapi di atas kapal, kini berturunan dengan tangga kayu yang diikat dengan tali satu demi satu.

Dengan persenjataan lengkap, kesemuanya tidak peduli akan nyawa mereka sendiri.

Derap-derap langkah antusias dan perintah singkat terdengar di sana-sini, dari langit, mereka laksana semut yang terciprati oleh titik-titik air; memencarkan diri untuk menetralisasi serangan tiba-tiba.

"Run!"

"Here you are."

"Don't forget your aminitions!"

Seorang di antara mereka, bersandang elok sebagai letnan perang muda, menatap kejarangan pohon kelapa di sekitar Pantai Cilincing. Irisnya menatap tajam, sosoknya gagah dalam balutan seragam putih kemiliteran Inggris.

Posisi istirahat di tempatnya berubah. Seluruh prajurit terkuat telah turun; siap merebut Nusantara dari genggaman Belanda.

"Kudengar, Herman Willem Daendels ditarik kembali oleh pimpinan di negeri asalnya." Letnan muda itu berbalik, menatap sosok yang barusan berbicara. Jauh di balik ekspresi datarnya, Sang Letnan Muda menyirat rasa ingin tahu.

Jeda pendek, sebelum informasi singkat itu dijelaskan lebih rinci. "Daendels dianggap gagal dalam menjalankan tugasnya di pulau yang kita darati salah satu pantainya ini, Oliver. Biar kuceritakan sekelumit kepadamu.

"Daendels itu, alih-alih mengeksploitasi Pulau Jawa, justru Daendels diberi tugas unuk mempertahankan pulau ini dari tentara negara kita, Great Britain, yang telah berada di Sumatera."

"Wait a moment." Oliver—letnan muda itu—melambaikan tangan kanannya; isyarat menghentikan. "'Kegagalan', maksudmu?"

"Salah satu contohnya adalah penerapan kembali rodi atau yang disebutnya sebagai 'kerja paksa'." Sosok di depan Oliver mengangkat satu alis, lantas berucap, "Kaubelum tahu akan hal ini, Oliver?"

Dan setatapan bingung adalah jawabannya.

Sang lawan bicara Oliver, yakni Arthur Kirkland, menambahkan singkat, "Akan kuceritakan padamu, but wait, lebih baik jangan di sini."


•TIMELINED•

26 Agustus - 18 September

-1811-


(Dan dari hari itu, hingga perginya mereka semua, Pantai Cilincing—dekat Salatiga—menjadi saksi bisu atas perincian dari awal kedatangan Britania Raya, demi merebut kekuasaan tanah Indonesia—yang kala itu masih bernama "Hindia Belanda"—dari tangan sang penjajah sebelumnya.)

(Hari itu berakhir lambat. 26 Agustus tahun itu, darah tertumpahkan. Mayat bergelimpangan. Senjata-senjata yang telah kehilangan guna berserakan.)

"Kekuasaanmu telah jatuh, Netherlands."

Membisu. Bibir itu laksana terkunci. Netranya terpasung pada sedokumen yang mau tidak mau harus ia setujui.

Willem menghela napasnya, berat.

(Pemerintahan atas Hindia Belanda jatuh ke tangan Britania Raya ... dan salah satunya melalui Kapitulasi Tuntang, yang diketahui tercipta pada tanggal 18 September 1811.)


finished.


(*) Buitenzorg = Bogor. (?)

Dan yang satu ini, masuk dalam template Fanfiksi Kesayangan! :')

Juga, cover untuk fanfiksi ini bisa Anda cek di akun Instagram saya, indonesian_kara, besok siang! ;)