Naruto © Kishimoto Masashi

Pertemuan Takdir © Haruno Aoi

Character: Tayuya, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin

Pairing: SasuTayu

Setting: AU

Warning: OOC

.

.

.

Pertemuan Takdir

-2-

.

.

.

Tayuya menatap kosong test pack di tangannya. Sudah ia duga sejak ia terlambat datang bulan. Hasilnya memang positif. Dan ia tidak terkejut ataupun takut.

Ia ingat sebulan yang lalu Sasuke memberikan nomor telepon dan alamat email kepadanya. Sasuke ingin dikabari jika ia hamil. Sayangnya ia tidak berminat untuk memberi tahu lelaki itu. Ia sendirilah yang menginginkannya, bukan Sasuke. Lagipula, saat itu Sasuke dalam keadaan setengah sadar. Tidak sepantasnya ia meminta pertanggungjawaban. Mungkin ia harus segera mencari apartemen—untuk jaga-jaga andaikata orang tuanya mengusirnya setelah mengetahui kehamilannya.

Tayuya buru-buru menyiapkan diri untuk bekerja seperti biasanya. Seusai mandi, ia lekas mengenakan seragam biru tuanya beserta atribut lainnya.

Semoga saja ia tidak kembali ditugaskan untuk turun langsung ke tempat kejadian perkara. Ia tidak mungkin kuat dengan kondisi tubuh yang rasanya bisa pingsan kapan saja. Selain mual dan muntah, dua minggu terakhir badannya terasa tak bertenaga. Ia tidak ingin ambruk di tempat yang tidak semestinya, apalagi sampai menyusahkan rekan-rekannya yang juga harus bertugas. Kemungkinan terburuknya … jika ia dibawa ke dokter, sehingga fakta yang untuk sementara ingin ia tutupi jadi terbongkar. Untuk saat ini, ia belum siap membeberkannya.

Di luar itu semua, hari ini pun akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya.

-oxoxo-

Sungguh mengherankan. Belakangan ini Tayuya sering bertemu Sasuke di tempat kerja. Ia dan timnya yang bekerja pada divisi sidik jari memang selalu melakukan identifikasi terhadap hasil penyidikan yang diperoleh polisi bagian investigasi. Khususnya untuk sidik jari yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Namun, biasanya bukan Sasuke yang mendapatkan tugas untuk mengantarkan atau mengambil data. Seakan-akan Sasuke selalu mencari kesempatan untuk datang ke kantor divisi sidik jari guna menemuinya.

Barangkali hanya perasaannya, atau mungkin … Sasuke memang siap untuk memikul tanggung jawab di luar kenyataan bahwa ia hamil.

Ah, sepertinya ia salah besar. Tak sedikit pun Sasuke mencintainya. Mustahil Sasuke menikahinya selain hanya untuk bertanggung jawab. Boleh jadi Sasuke sering menampakkan diri di hadapannya lantaran ingin segera mendapatkan kepastian. Sudah lebih dari dua bulan sejak ia dan lelaki itu terbangun di ranjang yang sama. Pasti Sasuke masih merasa tidak tenang sebelum memastikan bahwa ia memang tidak sedang mengandung.

Saat makan siang di kafetaria pun Sasuke tak luput dari pandangannya. Ia tercengang. Baru kali ini ia merasa sangat gampang mendapati keberadaan seseorang di antara banyak orang. Sasuke benar-benar mudah ditemukan oleh indra penglihatnya—seolah-olah hatinya berada di matanya.

Ia mengalihkan perhatian pada makanannya sebelum Sasuke menyadari tatapannya. Jam istirahat hampir berakhir, dan ia baru sadar kalau makan siangnya masih tersisa banyak. Nafsu makannya mulai berkurang. Tadi pagi pun ia mengurangi nasi di mangkuk sarapannya.

-oxoxo-

Tayuya masih sedikit canggung berbincang dengan Mikoto-san. Pada suatu hari di permulaan musim semi, ia berada di kafe dekat stasiun untuk memenuhi undangan beliau. Mikoto-san mengatakan kalau beliau mendapatkan alamat email dan nomor teleponnya dari Sasuke. Meskipun menyimpannya, selama ini lelaki itu tidak pernah menghubunginya. Yah, sebenarnya ia pun demikian. Padahal usia kandungannya hampir menginjak minggu ke sepuluh—sudah dua bulan lebih.

"Ku rasa kalian serasi," kata Mikoto-san sembari meletakkan cangkir tehnya di meja.

Tayuya tersenyum tawar. Walaupun serasi, tidak ada gunanya jika cintanya tak berbalas.

"Aku akan sangat senang mempunyai menantu sepertimu, Tayu-chan…."

Tayuya terkesiap. Ia menurunkan kembali cangkir tehnya yang isinya belum terminum. Ia lalu memaksakan senyum simpul. Mungkin ia hanya salah dengar lantaran harapannya yang terlalu tinggi. Ia begitu menyedihkan. Batinnya menertawakan dirinya sendiri. Mencintai seseorang yang mencintai orang lain sungguh menyakitkan. Meskipun mengantongi restu dari keluarga, tetap tidak berarti bila Sasuke tidak menyambut cintanya.

"Jujur saja, aku kurang menyukai mantan kekasih Sasuke."

Apa mungkin yang dimaksud oleh Mikoto-san adalah Karin? Tayuya membatin. Berarti, Sasuke masih mencintai mantan kekasihnya? Lalu, mengapa berpisah jika masih cinta? Mengapa Sasuke menyakiti hatinya sendiri? Mungkinkah ada campur tangan keluarga?

"Terkadang dia terlalu cuek," imbuh Mikoto-san, "yah … boleh dibilang kurang perhatian pada Sasuke."

Hanya terkadang, dan Mikoto-san jadi hilang rasa pada perempuan itu? Lantas, apa jadinya jika Mikoto-san mengetahui tabiatnya semasih remaja? Dapat dipastikan bahwa Mikoto-san akan langsung membencinya.

"Oh ya, kepala housekeeper bilang kalau kamu pernah mengantarkan Sasuke pulang ke rumah. Aku sudah menanyakannya pada Sasuke, tapi anak itu hanya menggumam tak jelas seperti biasanya. Karena itu, aku selalu mencari waktu untuk menanyakan hal ini kepadamu. Sayangnya baru sekarang kita bisa bertemu karena jadwal kegiatan kita yang selalu berbenturan. Jadi, apa memang benar?"

Tayuya makin berdebar-debar mendapati pandangan penuh selidik yang dilayangkan Mikoto-san kepadanya. "—Benar, Mikoto-san…," jawabnya gugup. Mungkin Mikoto-san dapat melihat segala tanggapan hatinya dari raut wajahnya.

Mikoto-san malah tersenyum misterius. "Sejak lulus dari akademi kepolisian, Sasuke sudah tinggal sendiri di apartemen dekat kantor kalian," jelasnya ramah.

Mendengar hal itu, Tayuya merasa jantungnya berdetak semakin tak terkendali. Pantas saja waktu itu para pengurus rumah tangga Uchiha terlihat keheranan.

"Ah—itu … karena saya dan Sasuke memang tidak akrab. Jadi, saya tidak tahu tempat tinggal Sasuke selain alamat rumah yang ada di kartu nama Anda…."

"Oh ya?" Mikoto-san lalu mengangguk paham setelah melihat anggukan lemah kepala Tayuya.

-oxoxo-

Mengapa orang itu lagi? Batin Tayuya mengerang frustrasi.

Kalau sejak awal ia tahu bahwa orang itu adalah Uchiha Sasuke, ia akan menolak mentah-mentah omiai ini. Sekarang suasana hatinya sungguh tak menentu. Sasuke duduk di hadapannya—terus memandangnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Di kanan kirinya duduk kedua orang tuanya yang seolah menanti percakapannya dengan Sasuke, begitupun dengan pasangan Uchiha. Di ujung meja antara kursi panjang yang diduduki oleh keluarga Uchiha dan keluarganya, duduk Hatake Kakashi dan Shizune-san yang berperan sebagai matchmaker tanpa imbalan.

Rumah makan itu begitu lengang. Seakan-akan memang dipesan khusus demi berjalannya perjodohan tersebut. Bahkan ia seolah dapat mendengar debaran jantungnya sendiri saking sepinya.

"Tayuya sering mendapatkan pujian dari pengajar di kelas identifikasi sidik jari," jawab Sasuke setelah mendapatkan pertanyaan dari Nyonya Hokumon mengenai masa-masa pendidikan mereka. "Karena itu, saya tidak heran kalau sekarang Tayuya sangat dibutuhkan oleh divisi yang bersangkutan."

Tayuya terlihat kaget mendengar jawaban Sasuke. Ia tidak mengira kalau Sasuke menyadari keberadaannya sebagai teman seangkatan di akademi kepolisian. Ia tidak tahu harus merasa senang atau mendongkol. Pasalnya, selama ini Sasuke selalu bersikap seolah-olah tidak pernah mengenalnya. Bahkan setelah kejadian malam itu. Saat berpapasan di koridor kantor, Sasuke pun hanya meliriknya sekilas. Padahal mereka hanya berdua kala itu. Terlebih kalau bertemu di kafetaria, Sasuke malah tidak mungkin menyapanya. Ia mengerti kalau Sasuke memang pendiam, namun terkadang juga keterlaluan.

Cukup lama para orang tua menyambung jawaban Sasuke dengan obrolan penuh harap. Hingga Sasuke bersuara lagi, "Tolong berikan waktu pada kami untuk berbicara empat mata."

Para orang tua dan mak comblang meninggalkan Sasuke dan Tayuya tanpa diminta dua kali. Mereka tampak senang, berbeda dengan Tayuya yang masih berwajah datar.

"Apa tujuanmu menyembunyikannya dariku?" Sasuke mendesis tajam. Tatapannya begitu nyalang, membuat Tayuya sedikit gentar.

"Jadi kau memang merencanakan omiai ini?" Tayuya tersenyum miring.

"Ya," Sasuke meninggikan suaranya, "—dan kau bermaksud menikahi lelaki lain? Atau mungkin kau hanya iseng seperti waktu itu? Keh, aku yakin kalau kau juga belum memberitahu orang tuamu."

Tayuya terkekeh. "Apa pedulimu?"

Sasuke mendecak kesal. Ia lebih memilih bertarung dengan penjahat daripada bercekcok dengan seorang wanita. Percuma, Tayuya tidak bersedia menjawab pertanyaannya. Kalau saja Shizune-san tidak memberitahunya perihal kehamilan Tayuya, mungkin ia tidak akan pernah tahu. Dan entah apa yang akan diperbuat Tayuya terhadap darah dagingnya. Demi kebaikan mereka berdua, Shizune-san yang menjadi dokter pribadi sekaligus tempat curahan hati Tayuya, membeberkan segalanya padanya. Bagaimanapun ia tidak akan lari dari tanggung jawab.

Tanpa meminta persetujuan dari Tayuya, ia menghubungi ibunya agar kembali. Lebih baik ia tidak semakin membuang waktu. Keduanya masih diselimuti ketegangan hingga orang tua mereka menduduki tempat semula—begitu pun dengan pasangan Hatake.

"Saya akan segera menikahi Tayuya," ujar Sasuke tanpa basa-basi.

Semua yang mendengarnya tampak sumringah, kecuali Tayuya. Para orang tua tidak mengira akan selancar itu. Padahal sebelumnya mereka menerka bahwa putra-putri mereka butuh waktu satu sampai empat minggu untuk merencanakan kencan pertama, dan baru akan memikirkan tentang pernikahan setelah beberapa kencan yang menyertainya.

Sementara para orang tua menunjukkan raut bahagianya, Tayuya masih terbelalak ngeri. Ia was-was Sasuke akan membuka semuanya di sini—pada saat itu juga. Ia belum siap, sungguh.

"—sebelum perutnya membesar—"

"Shut up!" jerit Tayuya.

Perlahan senyum para orang tua memudar setelah mencerna perkataan Sasuke. Ayah Sasuke hanya menutup matanya sembari menghela napas tanpa banyak komentar, sementara ibunya tidak tampak terkejut. Orang tua Tayuya tidak mampu berkata-kata. Berita ini terlalu mengejutkan bagi mereka.

"—dan menjadi aib bagi keluarga."

"Anakku bukan aib! Temeee…!" Air mata mulai membasahi wajah Tayuya. Ia menepis tangan ibunya yang mencoba menenangkannya. Ia sudah tidak peduli jika orang tua Sasuke membencinya setelah melihat perangai buruknya. Hatinya sakit mendengar ucapan Sasuke.

Sasuke tidak memedulikan pekikan Tayuya yang sarat emosi. Sedangkan orang tua Tayuya seperti belum percaya bahwa putri mereka tengah mengandung anaknya. Di akademi kepolisian ia pernah diajari untuk memahami bermacam ekspresi, jadi ia mampu membaca raut penuh tanya mereka. Dan akhirnya ia pun membenarkan, "Saya yang menghamili—"

"SHUT THE F*CK UP!" jerit Tayuya yang spontan berdiri, "TEMEEE—!"

Perlahan Tayuya kehilangan kesadarannya. Waktu seakan berjalan melambat ketika tubuhnya limbung dengan lambat-lambat seiring matanya yang tertutup rapat. Serta merta orang-orang di sekitarnya bangkit dari duduknya dengan bermacam ekspresi. Sasuke memutari meja dengan langkah lebar dan menangkap tubuhnya mendahului ayahnya. Ia masih bisa mendengar namanya dipanggil oleh Sasuke sebelum benar-benar pingsan.

-oxoxo-

"Ayolah, Tayu … terima lamaran Sasuke…." Nyonya Hokumon belum menyerah untuk membujuk putrinya yang keras kepala.

Tayuya masih terbaring di tempat tidurnya. Ia malas bangun meski ibunya terus mengajaknya bicara sejak ia siuman. Padahal ia butuh tidur. Kepalanya sangat pening dan badannya terasa lemas. Namun ia masih kuat untuk menyahut perkataan ibunya.

"Mama juga mau bilang kalau anakku adalah aib?" Ia menambahkan dengan suara serak, "Aku akan segera pindah, jadi kalian tidak akan malu dengan para tetangga."

"Bukan begitu, Tayu…." Ibu Tayuya harus bersabar menghadapi putrinya yang sedang mengalami mood swing, "Mama tidak peduli dengan tanggapan orang lain, dan Mama juga yakin kalau Sasuke berkata seperti itu demi kebaikan kalian…."

"Aku mau punya anak, tapi aku tidak mau berumah tangga. Lagipula aku tidak akan bahagia kalau menikah dengan Sasuke."

Ia mencintai Sasuke yang mencintai perempuan lain. Menikah dengan Sasuke sama dengan meneteskan air jeruk ke lukanya yang menganga.

Nyonya Hokumon menghela napas lelah. "Mana boleh kamu menyimpulkan seperti itu kalau belum mencoba. Setidaknya, izinkan Sasuke menebus rasa bersalahnya. Mikoto-san cerita pada Mama kalau Sasuke masih menyalahkan dirinya sendiri karena kecerobohannya…," tuturnya lembut.

"Aku yang salah," lirih Tayuya, "—sepenuhnya kesalahanku. Tidak seharusnya Sasuke merasa bersalah, karena dia memang tidak melakukan kesalahan padaku."

Memang benar Tayuya sendirilah yang menyebabkan dirinya mengandung anak Sasuke. Tetapi, kehadiran nyawa lain di rahimnya merupakan takdir. Tanpa kehendak dari Sang Pencipta, tidak mungkin ia hamil meski Sasuke tidak mengenakan pengaman saat melakukannya.

Nyonya Hokumon mengusap kepala Tayuya dengan sayang. Rasanya baru kemarin ia menimang putri semata wayangnya tersebut. Kiranya juga belum lama ia mengomeli Tayuya yang lagi-lagi diskors sang wali kelas akibat kenakalannya. Namun, ia langsung tersadar bahwa Tayuya sudah dewasa mengingat tidak lama lagi ia akan menjadi seorang nenek.

"Menikahlah, Tayu … dan—paling tidak, pertahankan sampai anak kalian lahir…."

Tayuya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. "… Baiklah…," desahnya yang berusaha memantapkan hatinya, "—hanya sampai anak kami lahir…."

Ibu Tayuya tersenyum lega. "Mama menghormati keputusanmu, dan Mama tidak akan menentang—asalkan kalian bisa terus menjalin hubungan baik sehingga cucu kami akan tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang tidak tinggal bersama…." Ia lalu bangkit dan membetulkan selimut Tayuya yang melorot. "Mama akan menghubungi orang tua Sasuke untuk memberitahukan hal ini," katanya sebelum meninggalkan kamar Tayuya disertai senyum.

-oxoxo-

Sasuke dan Tayuya menikah di penghujung musim semi, lebih tepatnya pada bulan Mei. Usia kandungan Tayuya sudah hampir lima bulan, namun belum terlalu tampak kalau ia tengah hamil. Apalagi bagian bawah gaun yang menggembung semakin berhasil menyamarkan kehamilannya. Meski sebenarnya tidak ada dari pihak mempelai maupun keluarga yang bermaksud menyembunyikannya.

Semuanya serba sederhana, dari upacara hingga resepsi—atas permintaan Tayuya. Ia tidak mau bermewah-mewahan untuk perkawinan yang usianya tidak akan lebih dari enam bulan. Awalnya Sasuke tidak setuju dengan kemauan Tayuya lantaran ia ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya. Begitu pula dengan keluarga Uchiha yang terlanjur menyayangi Tayuya sebagai menantu mereka. Sayangnya mereka tidak berhak untuk memaksakan kehendak mereka terhadap Tayuya. Terlebih syarat yang diajukan Tayuya sanggup membuat Sasuke bungkam seketika.

"Jika dalam enam bulan kau bisa berhenti mencintai Uzumaki Karin," katanya waktu itu, "maka jangan ceraikan aku."

Setelah menikah, keduanya langsung tinggal di apartemen Sasuke. Karena dekat dengan kantor, biasanya Sasuke hanya berjalan kaki saat berangkat dan pulang kerja. Kini ada Tayuya yang akan menemaninya selama belum mengambil cuti melahirkan.

Pertama kali menginjakkan kaki di apartemen Sasuke, kesan baik langsung dirasakan oleh Tayuya. Apartemennya bersih dan rapi untuk ukuran pria lajang seperti Sasuke yang tinggal seorang diri—tentu sebelum menikahinya. Sebidang apartemen sederhana di lantai dua, dengan dua kamar tidur yang salah satunya diperuntukkan bagi buah hati mereka. Sepertinya Sasuke sudah mempertimbangkan secara jangka panjang dengan membeli apartemen yang mempunyai dua kamar tidur, padahal saat itu ia masih tinggal sendiri. Sementara itu kamar mandi ada satu, dekat dengan dapur.

Ruang tengah apartemen terasa lebih lega dibandingkan ruangan lainnya. Ada seperangkat sofa, satu set meja makan, rak buku, bufet, dan televisi yang di depannya digelar karpet tebal. Mungkin anak mereka akan senang bermain di sana, terlebih kalau sudah bisa merangkak atau berjalan sendiri. Selain itu, udara bisa masuk dan keluar dengan bebas melalui pintu kaca menuju balkon—yang cukup luas untuk meletakkan jemuran pakaian.

Tayuya merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah menonton drama detektif di televisi. Di sebelahnya, Sasuke terlihat asyik membaca buku tebal tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya. Malam ini Sasuke tidak akan menyentuhnya, ia tahu, jadi ia bisa segera tidur. Memang, sesekali saja Sasuke menyentuhnya untuk menunaikan hak dan kewajiban sebagai seorang suami.

Ia berbaring miring membelakangi Sasuke sembari menaikkan selimut hingga separuh kepalanya, menghindari sorotan lampu putih di langit-langit kamar. Mungkin karena ingat kalau ia tidak bisa tidur dalam keadaan terang, Sasuke segera mengganti penerangan dengan lampu tidur yang redup sebelum meninggalkan kamar untuk melanjutkan membaca di ruang tengah.

-oxoxo-

"Sasuke, aku lapar," keluh Tayuya yang tiba-tiba menduduki kursi makan di seberang Sasuke seraya menopang dagu.

Sasuke hanya menunjuk tempat roti di meja tanpa menghentikan kegiatan makannya. Ia pun hanya makan roti yang ia olesi mentega untuk sarapannya, ditambah segelas susu rendah lemak.

"Aku tidak mau makan roti lagi…," rengek Tayuya yang mendadak manja, "dan—masa aku harus minta dimasakin Mama terus?"

"Salah siapa kau tidak bisa masak?" sahut Sasuke setelah meminum susunya. "Dasar manja."

Tayuya cemberut mendengarnya. Sasuke seolah tidak peduli dan menghabiskan susu di gelasnya. Ia mulai hafal dengan tabiat Tayuya yang seperti ini. Pasti Tayuya akan berhenti memasang muka masam dengan sendirinya kalau otot wajahnya sudah terasa kaku.

Dan dugaan Sasuke terbukti benar, namun Tayuya segera menggantinya dengan raut memelas sembari mengelus perutnya yang sedikit membesar itu.

"Aku benci junk food!" pekiknya saat Sasuke mendekati meja telepon. Ia kira Sasuke akan menelepon layanan pesan antar suatu restoran makanan cepat saji.

"Aku akan memesankan kau makanan dari restoran tradisional," dengus Sasuke kesal, "atau mungkin kau mau memesan sendiri?"

"Aku tidak mau! Lagipula kau sedang libur, kau bisa masak untukku!"

Sasuke mendengus dan mengembalikan gagang telepon dengan sedikit dibanting. Sungguh hari libur yang akan sangat berkesan.

"Begitu saja langsung marah! Aku yakin tidak akan ada wanita yang tahan hidup bersamamu kalau kau tidak berubah!"

"Siapa yang marah!"

"Jangan teriak, aku tidak tuli!"

Sasuke menelan lagi kata-kata yang akan dilontarkannya setelah Tayuya berbalik dan kembali menduduki kursinya. Ia mengatur napasnya untuk menekan emosinya yang hampir meluap. Ibunya sudah mewanti-wantinya agar bersabar menghadapi istrinya yang sedang hamil. Ia juga tidak boleh membuat Tayuya menjadi stres lantaran sikap dinginnya. Tidak hanya kali ini Tayuya menyinggungnya, berarti istrinya itu benar-benar merasa terganggu dengan temperamennya.

"Aku hanya bisa masak omelet dan sup. Kau ingin makan apa?" Sasuke bertanya dengan suara yang lebih halus. Bayinya tidak boleh kekurangan nutrisi.

"Sup," jawab Tayuya dengan suara pelan tanpa menoleh.

Sasuke langsung beranjak ke dapur yang berbeda ruangan. Sementara itu Tayuya merasa bersalah dan menyesal telah berkata dengan suara tinggi kepada Sasuke. Sebenarnya ia sudah berusaha untuk berbicara secara baik-baik guna mengingatkan Sasuke agar mengubah sifat buruknya. Kenyataannya ia pun tidak jauh berbeda dengan Sasuke, mungkin malah lebih temperamental.

Lebih dari lima belas menit Tayuya menunggu, dan Sasuke baru muncul dengan membawa nampan yang berisi semangkuk kecil nasi, semangkuk sup, lengkap dengan sumpit dan sendok, serta segelas air mineral. Sasuke menduduki tempat duduknya setelah meletakkannya di depan Tayuya.

"Kenapa kau tidak membuatkanku susu?" protes Tayuya sambil meraih sumpit, tetapi memandang sinis pada gelas beningnya.

"Ah, aku lupa," balas Sasuke dengan entengnya.

"Kalau kau terus cuek seperti itu, pasanganmu akan berpikir untuk meninggalkanmu," tutur Tayuya sebelum menyumpit nasi ke mulutnya. "Mertuamu juga bisa membencimu. Tidak ada orang tua yang merasa rela kalau putrinya tidak mendapatkan perhatian suami."

Sasuke sungguh merasa seperti sedang menjalani simulasi pernikahan dengan Tayuya. Istri sementaranya ini seperti tengah berusaha menyiapkan dirinya agar menjadi suami yang lebih baik untuk istrinya di masa depan. Padahal ia yakin bisa mencintai Tayuya sepenuh hati jika wanita itu memberinya kesempatan. Sayangnya Tayuya bersikeras untuk bercerai setelah anak mereka lahir dan menjadi single mom. Setidaknya nama baik keluarga tetap terjaga—itu yang dikatakan Tayuya kepadanya.

"Kau tidak pernah nonton iklan di televisi, ya…?" tambah Tayuya dengan nada sinis. "Biasanya iklan susu ibu hamil menunjukkan kalau si suami membuatkan susu untuk istrinya."

"Itu 'kan cuma akal-akalan pemasar biar penjualan produk meningkat," balas Sasuke tak kalah sinisnya.

"Akal-akalan bagaimana?" Kening Tayuya mengernyit. "Maksudmu, strategi pemasaran?"

Sasuke hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Tayuya tidak ambil pusing dan melanjutkan sarapannya.

"Oh ya, kau masak sup atau air?" kritiknya.

"Daripada kau … tidak bisa masak sama sekali."

Tayuya malah terkekeh geli dan segera menghabiskan supnya. Sasuke merasa senang melihat isi mangkuk-mangkuk itu perlahan tandas, meski tidak diungkapkannya. Tayuya benar-benar menghargai usahanya untuk memasak semua itu.

"Sasuke…."

"Hn?"

Mendadak Tayuya tampak sendu. "Ibaratnya … aku adalah tempat bersinggah, sementara Karin adalah rumahmu. Kalau kalian berjodoh, pasti akan dipersatukan suatu hari nanti…." Ia tertawa kecil, sedangkan Sasuke terdiam. "Tapi, Yang Mahakuasa telah menggariskan pertemuan ini. Aku harap, aku tidak hanya memberikan kenangan buruk untukmu."

Tayuya kembali terkekeh. Ia sudah memahami sesuatu. Cinta dan keinginan untuk memiliki memang berbeda. Cinta bukan sekadar tentang rasa—tetapi perasaan, pilihan, dan tindakan. Ia yakin bahwa ia memang mencintai Sasuke. Namun, belahan jiwa tidak harus dipersatukan sebagai suami istri hingga ajal menjemput. Ia sudah merasa cukup serta berbahagia jika ia bisa menjadi sahabat Sasuke untuk selamanya. Dan bila ia semakin lama tinggal bersama Sasuke, ia takut akan kian bertambah sulit untuk melepasnya.

"Sudah lima bulan lebih, 'kan?" Sasuke berusaha mengalihkan pembicaraan di tengah suasana yang mendadak kaku.

"Apanya?" Tayuya berlagak tak mengerti.

"Dia." Sasuke menunjuk perut Tayuya dengan dagunya.

Tayuya harus menahan tawa. "Lebih tepatnya sudah menginjak minggu ke dua puluh tiga, hampir enam bulan."

Sasuke hanya merasa aneh karena perut Tayuya tidak sebesar perut ibu hamil lainnya pada usia kandungan yang sama. Seingatnya perut Shizune-san sudah sebesar itu saat Kakashi menceritakan bahwa sang istri sedang hamil tiga bulan.

"Apa dia terlalu kurus?" tanya Sasuke.

"Dia sehat." Tayuya menjawab dengan sangat yakin, "Semuanya normal."

Sasuke masih belum sepenuhnya percaya. Seharusnya ia mengantarkan Tayuya setiap kali memeriksakan kandungan agar mengetahui perkembangan calon bayinya. Ternyata ia memang bukan suami yang baik, juga tidak bertanggung jawab. Pantas saja Kakashi selalu menegurnya saat Tayuya datang sendiri ke klinik Shizune-san.

"Kata Mama, kandunganku memang masih terlihat seperti berusia tiga sampai empat bulan. Kalau menurut cerita Okaasan, beliau juga mengalami hal ini saat mengandung dirimu."

Benarkah? Sasuke baru tahu. Mungkin ibunya akan lebih banyak bercerita kepadanya kalau ia terlahir sebagai seorang perempuan.

"Tapi, jangan khawatir. Shizune-neesan bilang kalau dia baik-baik saja. Mungkin akan lebih kelihatan kalau usianya sudah sekitar tujuh bulanan." Tayuya mengelus perutnya dengan senyum lembut dan limpahan rasa sayang.

Mungkinkah ada seseorang yang mampu mencintai dua orang dalam waktu bersamaan? Jika memang ada, sekarang Sasuke merasa bahwa ia jatuh cinta pada Tayuya, sementara rasa cintanya pada Karin belum lenyap. Tidak sulit untuk beradaptasi karena Tayuya memiliki beberapa kesamaan dengan Karin. Bedanya, terkadang Karin kurang memerhatikan hal-hal kecil layaknya Tayuya.

"Hei, calon ayah, nanti kau harus menemaniku melihat bayi Shizune-neesan."

Alis Sasuke naik sebelah. Agak kikuk juga dipanggil calon ayah di saat usianya masih dua puluh dua tahun, walaupun kenyataannya memang demikian.

"Memangnya Shizune-san sudah melahirkan?"

"Belum," jawab Tayuya dengan tampang tanpa dosa, "mungkin sekitar satu sampai dua mingguan lagi. Dan karena itu, aku harus ganti dokter kandungan." Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi Sasuke. Ia pun tersenyum senang karena harapannya terkabul. "Shizune-neesan sudah menitipkan kami pada Tsunade-sensei, kok…."

Sasuke tampak lebih lega setelah mendengarnya. Ia tahu siapa Tsunade-sensei, karena beliau memang salah seorang dokter kandungan yang sangat kompeten dan terkenal. Tsunade-sensei sering muncul di televisi, khususnya mengisi program mengenai ibu dan anak. Sasuke pernah melihatnya secara tidak sengaja saat mengganti channel. Beliau juga mempunyai klinik yang lebih besar dari milik anak didiknya, Shizune-san, yang terbilang baru.

Sebelumnya Sasuke juga was-was andaikata Tayuya mendatangi Orochimaru-sensei atau muridnya, Yakushi Kabuto, yang bertampang mesum. Tentu saja ia tidak rela jika Tayuya ditangani oleh dokter kandungan berjenis kelamin laki-laki—apalagi yang terlihat seperti hidung belang.

"Sasuke…."

"Hn?"

"Jangan cuma menggumam!"

Sasuke mendengus. "Apa?"

"Padahal suaramu enak didengar. Sangat disayangkan kalau kau pelit bicara," komentar Tayuya dengan nada jenaka.

Ternyata hari ini memang sangat mengesankan bagi Sasuke.

"Sasuke…."

"Apa lagi?"

"Aku ingin flute."

"Buat apa?"

"Pokoknya belikan dulu…."

Sasuke hanya mengernyitkan kening. Memangnya Tayuya bisa memainkan seruling? Ia pribadi hanya bisa meniup (bukan sekadar membunyikan) harmonika atau recorder karena memang diajarkan waktu sekolah dulu. Jangan-jangan ini bagian dari mengidam seperti yang diinformasikan oleh ibunya tempo hari? Apa mungkin anak mereka nanti akan tergabung dalam suatu orkestra sebagai peniup flute? Who knows?

-oxoxo-

Sesuai dugaan Sasuke, Tayuya memang bisa membunyikan seruling. Tetapi, tidak jelas nadanya. Alhasil flute mahal itu berakhir di dalam bufet, dan entah kapan akan dilirik lagi. Sebagai gantinya, Tayuya minta dibelikan peralatan menggambar yang bisa dimanfaatkan di hari luang untuk membunuh waktu. Hasil gambar Tayuya bagus juga, Sasuke mengakuinya meski tidak ia ungkapkan kepada orang yang bersangkutan. Terkadang ia memang mengecek buku sketsa Tayuya saat pemiliknya terlelap. Mungkin suatu hari Tayuya akan membuatkan buku cerita bergambar untuk anak mereka.

Ia pun jadi teringat akan sahabatnya, Hyuuga Hinata, yang gemar membawa buku sketsa ke mana-mana saat mereka satu sekolah dulu. Gadis itu akan segera berganti nama keluarga karena tidak lama lagi—tepatnya musim gugur nanti—akan dinikahi oleh Namikaze Naruto. Terakhir kali ia bertemu mereka saat pernikahannya. Seketika itu pula ia terkenang akan Uzumaki Karin; sepupu Naruto, sahabat Hinata, dan mantan kekasihnya—yang masih mendiami hatinya hingga kini.

Ia tidak bodoh, tentu saja. Tanpa bertanya pun ia tahu mengapa Karin melanjutkan pendidikan dokter spesialisnya di luar negeri. Padahal di sini juga ada perguruan tinggi terkemuka dan bonafit yang seringkali masuk ranking dunia, serta menjadi peringkat pertama benua.

Sebelum Karin berangkat ke benua lain, ia masih sempat bertemu dan berfoto dengan perempuan berambut merah itu atas undangan Naruto. Ia mengganti ucapan selamat jalan dengan ciuman yang memilukan. Ia tidak ingin mendengar Karin mengucapkan selamat atas pernikahannya. Dan setelah itu badannya sakit semua karena pukulan Karin—terlebih wajahnya—ditambah umpatan-umpatan yang baginya menunjukkan betapa mantan kekasihnya itu belum rela melepasnya. Lalu, beberapa hari kemudian ia sudah berdiri di altar—berdampingan dengan Hokumon Tayuya.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Note: Sekarang tahu 'kan kenapa Sasuke sangat out of character di fic SasuKarin sebelumnya? Apakah harus naik rate karena kata-kata kasarnya? Wah, yang bertema ulang tahun Sasuke ada di chapter selanjutnya karena kepanjangan kalau digabung sama chapter ini. Tapi, tak apa lah, hoho. Otanjoubi omedetou, Uchiha Sasuke….

Terima kasih untuk reviewers di chapter sebelumnya: PurpleTurqoiseYagami (Makin cinta juga sama SasuTayu. :D), Kitty Sevalinka Kuromi (Kualat sama Sasuke. Padahal dulu benci banget, sekarang malah kebalikannya. :D), Angin malam (Iya, suka sekali sama crack pair, tapi tergantung juga sih, hehe. Kalau untuk SasuTayu ini karena memang bisa dibuat side story dari fic SasuKarin yang dipublish sebelumnya. Dan plotnya sudah lengkap, jadi sayang kalau tidak dipublish. :D), Neerval-Li (Iya, ternyata kepanjangan kalau oneshot. Kalau tidak salah jamur basidiomycetes, wkwk. :D)

Saya masih sangat membutuhkan komentar atau kritik. Silakan meninggalkan jejak berupa review. Sampai jumpa dan terima kasih banyak semuanya.

Haruno Aoi

Monday, July 23, 2012