"Need A Man"
Pairing :
YeWook (Yesung x Ryeowook)
Rate :
T (Normal)
Author :
Always YeWook
Disclaimer :
FanFiction ini milik SAYA!
YeWook milik Tuhan, orang tua dan shipper!
Dan YeWook saling memiliki dong pastinya
Warning :
YAOI – OOC – TYPO
Summary :
Wookie hampir putus asa untuk mendapatkan pekerjaan dan tanpa diduga seseorang menawarkan 'pekerjaan' kepadanya. Hmm~~ Memangnya pekerjaan macam apa yang diberikan kepadanya?
DON'T LIKE DON'T READ
Enjoy~~
.
Chapter 3
.
.
.
BRUK!
Karna ryeowook berlari dengan menundukkan kepalanya secara tidak sengaja dia menabrak seseorang sampai terjatuh. "Mianhamnida.. Mianhamnida," ucap ryeowook.
"Ah, gwaenchana"
Ryeowook membantu namja yang ditabraknya itu untuk berdiri, "aku sungguh minta maaf. Apa kau bisa berjalan?"
"Bi.. bisa," orang itu menatap ryeowook saat membantunya untuk berdiri dan saat itu juga dia seperti teringat sesuatu. "Aw~~," namja itu kembali terjatuh. "Se..sepertinya aku tidak bisa berjalan," ucap namja itu sambil menggenggam kuat pergelangan kaki kanannya. "Jinjja? Bukankah tadi kau bilang bisa berjalan?"
"Sakitnya baru terasa sekarang."
"Omo~, apa sangat sakit? Aku akan membawamu kerumah sakit"
"ANDWAE!," tolak namja itu. "Wae? Kakimu harus segera diperiksa"
"Tapi tidak perlu sampai dibawa kerumah sakit."
"Yasudah, kita ke tempat tinggalku saja. Tidak jauh kok dari sini," namja itu menganggukkan kepalanya. Ryeowook kembali membantu namja itu untuk berdiri.
.
.
"Aku tidak tau cara mengobatinya. Aku pijiti saja ne?," tawar ryeowook. Mereka sudah sampai di apartemen ryeowook, namja itu masih tampak kesakitan. "Ne"
Pelan-pelan ryeowook mencoba untuk memijit kaki namja yang sedang duduk disofa itu, semoga saja bisa membantu. "Pelan-pelan. Ini benar-benar sakit"
"Ini juga sudah pelan"
Sekitar 10 menit ryeowook masih memijit kaki namja itu. "Kakiku sudah agak mendingan. Kau pasti lelah sedari tadi terus memijit kakiku"
"Tidak apa. Bukankah aku yang menyebabkan kakimu jadi sakit. Syukurlah kalau sudah agak mendingan. Ah iya~ Namaku Kim Ryeowook," ryeowook mengulurkan tangannya. "Namaku Lee Sungmin," namja yang bernama sungmin itu membalas uluran tangan ryeowook.
"Oh! Aku ambilkan minum dulu ne?," ryeowook beranjak pergi menuju dapur. Sungmin mengedarkan pandangannya ke apartemen ryeowook, 'siapa dia sebenarnya?' gumam sungmin dalam hati.
"Apa yang kau lihat, sungmin-ssi?," sungmin memasang senyum kaku, dia tidak tau kalau ryeowook sudah kembali dari dapur. "A..ani, sedari tadi aku tidak melihat ada orang lain. Apa kau tinggal sendiri?"
"Ne, aku tinggal sendirian. Ini, minumlah dulu" ryeowook menyodorkan segelas orange juice ke sungmin. "Gomawo," sungmin menikmati orange juice yang diberikan ryeowook sambil mencuri pandang ke isi apartemen ryeowook.
"Sungmin-ssi, Apa kau seorang mahasiswa?," tanya ryeowook saat melihat buku-buku yang dibawa sungmin. "Ne, aku mahasiswa jurusan jurnalis semester akhir di Syupeo University. Kalau kau Ryeowook-ssi?"
"Aku sudah tamat beberapa bulan yang lalu, jurusan ilmu komunikasi di Seoul University."
"Hwa.. Berapa umurmu, ryeowook-ssi?,"
"21 tahun," jawab ryeowook sambil tersenyum malu. "Mwo? Kau lebih muda dariku tapi sudah tamat kuliah. Aku saja yang 23 tahun belum juga selesai"
"Omo~ Aku harus memanggil hyung kalau begitu. Mianhae, hyung" Sungmin tertawa dengan tingkah ryeowook yang menurutnya menggemaskan.
"Oh iya, hyung. Kau ada kuliah hari ini kan?," tanya ryeowook panik. "Nde, tapi mata kuliah pertama jam 1 siang nanti."
"Kau masuk jam 1 siang tapi kenapa kau pergi kuliah pagi-pagi seperti ini?"
"I..itu karna.. karna aku tidak nyaman diflat ku,"
"Waeyo?," tanya ryeowook penasaran.
Sungmin tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan ryeowook, "Hmm~ Karna aku tinggal satu flat dengan 3 teman kampusku. Kalau pagi seperti ini, keadaan flat benar-benar kacau, mulai dari berebut kamar mandi sampai sibuk dengan membuat makanan. Karna itu hyung lebih memilih untuk pergi pagi-pagi sekali daripada harus mendengar keributan mereka," sungmin kembali meneguk orange juice nya.
"Bagaimana kalau hyung tinggal bersamaku saja"
Sungmin tersedak dengan tawaran ryeowook. "Uhuk, Mwo? Apa aku tidak salah dengar?"
"Sama sekali tidak, hyung. Tinggalah bersamaku, sangat membosankan tinggal sendirian ditempat seperti ini," ucap ryeowook sambil mempoutkan bibirnya.
"Ta.. tapi kita baru saja berkenalan ryeowook-ah. Apa kau tidak takut kalau sebenarnya aku adalah orang jahat?"
Ryeowook menggelengkan kepalanya,"Ani~ Aku yakin kau orang baik, hyung. Jadi bagaimana?"
Sungmin tidak langsung menjawab pertanyaan ryeowook, "Hyung, ayolah~ Terima tawaranku ini. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karna aku membuat kakimu jadi sakit. Hyung.. Jebal~"
Sungmin menghela nafasnya, "Baiklah, aku akan tinggal bersamamu, ryeowook-ah"
Ryeowook langsung memeluk sungmin, "gomawo hyung! Aku jadi tidak kesepian lagi sekarang!."
'Benar-benar polos' gumam sungmin dalam hati dengan senyuman yang sulit diartikan.
.
.
.
.
Kim Yesung, seorang penyanyi solo muda berbakat yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan menyanyinya, karna itulah dia diberi nama panggung yang memiliki arti the voice of art. Yesung adalah anak tunggal dari pemilik agency SJ Entertainment, dan dia juga merupakan salah satu artis dari agency tersebut. Tapi dibalik kesuksesannya, itu sama sekali bukan bantuan dari sang Appa yang notabene pemilik dari SJ Entertainment, yesung juga sama dengan artis lainnya yang mengikuti jalur audisi dan trainee.
Saat ini yesung sedang ada di gedung SJ Entertainment untuk menemui appanya, lebih tepatnya appa nya yang menyuruhnya untuk datang.
CKLEK
Yesung langsung masuk ke dalam ruangan appa nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kenapa appa menyuruhku kesini?," tanya yesung to the point saat sudah duduk dikursi yang berhadapan dengan meja kerja appa nya.
"Siapa namja itu?," appa yesung yang tadinya sibuk dengan dokumen-dokumen penting yang harus ditandatangani kini melepas kacamatanya dan menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya(?).
"Namja? Siapa yang appa maksud?"
"Namja yang di konferensi pers kemarin."
"Ah~ dia…" yesung menggaruk kepalanya, sepertinya dia sudah tau apa yang akan dibicarakan appanya, jadi yesung harus berhati-hati menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut sang appa. "… kenapa appa masih bertanya. Bukankah kemarin sudah jelas, dia adalah namja yang membuat berita aneh-aneh tentangku."
"Lalu kenapa kau membiarkannya bebas?. Seharusnya kau membawa ini ke jalur hukum," tuan kim tampak tenang, sama sekali tidak ada raut emosi diwajahnya. "Aniyo appa. Tidak perlu sampai membawa ini ke jalur hukum, aku kasihan dengan namja itu kalau dia sampai dipenjara."
Tuan Kim sedikit tertawa dengan pernyataan anaknya itu, "Kasihan?. Sejak kapan kau berubah menjadi orang yang berhati malaikat?"
"A..aku ini memang orang baik. Appa saja yang tidak memahami bagaimana aku yang sebenarnya"
"Berikan kunci mobilmu."
"Untuk?," tubuh yesung mendadak dingin ketika appa nya meminta kunci mobil yang diberikan appa nya 5 bulan yang lalu karna yesung berhasil memenangkan sebuah penghargaan. "Cepat berikan," tuan kim menjulurkan tangannya, menanti yesung untuk memberikan kunci mobil. Dengan berat hati yesung merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobil kesayangannya itu.
"Mobilku mau kau apakan, appa?"
"Kalau kau jujur mungkin appa tidak mengambil mobilmu. Tapi yang kau perbuat kali ini benar-benar sudah keterlaluan. Selain kau membohongi appa kau juga menghancurkan nama baik namja itu."
"Tapi appa! Aku tidak punya cara lain maka dari itu aku melakukannya! Lagipula namja itu tidak keberatan"
"Kau bisa pergi sekarang. Appa akan mengembalikan mobilmu kalau kau sudah berhasil menemukan pelaku yang sebenarnya. Dan satu lagi, jangan mencoba-coba untuk membeli mobil baru karna kau akan menggunakan mobil van selama mobilmu appa sita."
"MWO? Mobil van?. Yang benar saja?," yesung mengacak rambutnya, dia tidak terima dengan keputusan appa nya. "Keluarlah. Sebentar lagi ada rekan kerja appa yang datang."
BLAM
Yesung keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan suara yang cukup membuat orang terkejut tapi bagi appa nya itu sudah biasa kalau yesung sedang emosi.
Yesung langsung menghubungi kangin saat dia sudah berada diluar gedung, "Kangin hyung, kau dimana?,"
"…"
Yesung mengedarkan pandangannya, setelah melihat kangin yang berdiri disamping mobil van, yesung langsung mematikan telponnya dan mendekati kangin.
BLAM
Lagi, yesung menutup pintu mobil cukup kuat saat dia masuk ke mobil, kangin hanya menghela nafasnya.
"Pasti hyung kan yang memberi tau appa?," tanya yesung saat kangin sudah masuk ke mobil. "Mianhae, kau tau sendirikan aku tidak bisa berbohong pada ahjussi. Ahjussi sudah curiga kalau ternyata ryeowook memang bukan pelaku yang sebenarnya"
"Apa appa memintamu melakukan sesuatu?"
"Ahjussi ingin aku membawa ryeowook bertemu dengannya besok."
"hah? Untuk apa?"
"Mana aku tau. Kau tau sendiri, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Ahjussi selalu melakukan hal yang diluar dugaan kita. Jadi, bersiap-siap saja dengan kemungkinan terburuk untukku."
.
.
.
"Ryeowook-ah, sepertinya hyung harus pergi kuliah sekarang."
"Tapi hyung, kakimu pasti masih sakit"
"Sepertinya sudah sembuh,"
"Sudah sembuh?. Tadi kau bahkan sangat kesakitan, hyung. Aku hanya memijat saja mana mungkin bisa sembuh secepat itu."
Sungmin terlihat bingung dengan pertanyaan ryeowook yang terlihat menginterogasinya, "Sungguh ryeowook-ah. Hyung sudah tidak apa-apa sekarang. Lihat, hyung tidak merasakan sakit lagi," jawab sungmin sambil menggerak-gerakkan kakinya.
"Tapi hyung~"
"Sudahlah, tidak perlu khawatir. Hyung pergi ne?," sungmin mengambil tas dan buku-bukunya.
"Kau pasti akan kembali ke sini kan, hyung?," tanya ryeowook memastikan saat mengantar sungmin ke depan pintu. "Kalau tidak bagaimana?"
"Hyung~~ Aku mohon," ryeowook menangkup kedua tangannya, berharap sungmin tidak menganggap main-main atas tawaran yang ryeowook berikan. "haha.. ne, hyung pasti kembali kesini. Yasudah, hyung pergi dulu"
"Oke! Hati-hati dijalan, hyung!. Aku akan menyiapkan makanan yang enak nanti," sungmin menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi. "Sebenarnya ada hubungan apa yesung dengan ryeowook?" batin sungmin.
Ryeowook kembali duduk disofa, ryeowook yang masih penasaran dengan sosok yesung langsung mengambil handphonenya dan mencari tau tentang yesung diinternet.
Mulut kecil ryeowook menganga saat membaca artikel yang membahas tentang keluarga dan kekayaan yang dimilikinya dan tentu juga prestasi yang yesung dapatkan selama menjadi penyanyi. "Benarkah dia sehebat itu? Artikel ini tidak bohongkan?,"
.
.
.
"Oppa!"
Yesung menatap kesal seorang yeoja yang baru saja masuk ke ruang tunggu. Saat ini yesung sedang ada syuting untuk sebuah iklan minuman, dan kali ini dia dipasangkan dengan yeoja yang menurutnya benar-benar pengganggu ketenangan hidupnya, Luna.
Luna memposisikan dirinya duduk disebelah yesung, menunjukkan senyuman terbaiknya ke yesung tapi sayang sekali tidak pernah terlihat baik dimata yesung. "Oppa! Aku sudah melihat konferensi mu kemarin. Aku benar-benar tidak menyangka namja yang bernama Kim Ryeowook itu adalah pelakunya. Padahal wajahnya begitu polos, tapi ternyata sangat berbanding terbalik dengan wajahnya. Dan sedangkan kau, dibalik wajahmu yang dingin kau begitu baik karna tidak melaporkannya kekantor polisi. Aku jadi tambah suka denganmu, oppa" luna merangkul tangan yesung menyandarkan kepalanya dibahu yesung.
"Bisakah kau menyingkir?," yesung menarik tangannya dari rangkulan luna, menatap tidak suka ke yeoja itu. "Kau pasti sedang lelah yah, oppa. Baiklah~ Aku akan membiarkanmu untuk istirahat. Annyeong!," luna melambaikan tangannya kemudian beranjak pergi, yesung yang masih kesal dengan luna melemparkan bantal kecil yang ada disofa ke arah pintu saat luna sudah keluar dari ruangan itu. "Semuanya menyebalkan!," gerutu yesung.
"KANGIN HYUNG, KAPAN SYUTINGNYA DIMULAI, AKU BISA MATI KEBOSANAN DISINI!," crew yang berada diluar ruang tunggu menatap horor keruangan yang dihuni oleh yesung itu, sedangkan kangin yang sedang berbicara dengan PD-nim hanya tersenyum kaku, "hehe… dia memang seperti itu kalau sedang badmood, hehe," dalam hatinya kangin mengumpat karna yesung yang tidak bisa menjaga mulutnya.
.
.
.
Setelah bosan mencari tau tentang sosok yesung di internet, ryeowook beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan, tapi sepertinya tidak cocok untuk disebut sarapan karna hari sudah mulai siang.
Ryeowook membuka kantong plastik yang berisi belanjaannya tadi dan memasukkan beberapa bahan makanan ke kulkas. Ryeowook cukup banyak membuat menu makanan hari ini, mengingat bahwa sungmin akan tinggal bersamanya, ryeowook jadi bersemangat untuk memasak.
Mungkin aneh saat ryeowook yang baru saja mengenal sungmin tapi dia tidak ragu untuk mengajak sungmin untuk tinggal bersamanya, salahkan sifat ryeowook yang terlalu mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk menyelesaikan beberapa menu makanan, ryeowook menatap puas hasil masakannya yang kini tersusun rapi diatas meja makan. "Semoga sungmin hyung suka dengan masakanku."
TIIIT! TIIIT!
Alis ryeowook menyatu saat mendengar suara bel apartemennya. "Siapa? Apa sungmin hyung sudah pulang?,"
Dengan segera ryeowook membuka pintu dan…
CKLIK CKLIK CKLIK
Ryeowook membulatkan matanya, mematung beberapa detik saat tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang.
"Ryeowook-ssi, bisakah kami mewawancaraimu sebentar saja?"
"Tidak lama kok. Sebentar saja"
"Kau mau kan?"
Setelah mematung beberapa saat, ryeowook langsung menutup pintu apartemennya. Ryeowook menyandarkan punggungnya dibalik pintu, mengatur detak jantungnya yang tersentak kaget karna belasan wartawan yang tiba-tiba ada didepan apartemennya, "Darimana mereka bisa tau aku tinggal disini?"
Bunyi bel dan ketukan pintu kembali terdengar, ryeowook tidak mungkin membuka pintu dan mengijinkan wartawan itu untuk mewawancarainya. Ryeowook teringat sesuatu dan segera menuju telpon yang menempel disisi dinding, ryeowook menelpon petugas keamanan apartemen untuk menyuruh wartawan agar segera pergi.
"huft, aku harus menghubungi kangin-ssi," ryeowook meraih ponselnya yang tergeletak di sofa.
"Kangin-ssi," panggil ryeowook saat telponnya sudah diangkat.
"wae"
"Apa kau yang memberitahu wartawan kalau aku tinggal diapartemen ini?"
"Aniya. Mana mungkin aku memberitahu mereka. Apa mereka datang ke apartemen?"
"Ne. Aku harus bagaimana sekarang?"
"Kau tenang saja. Selama kau tutup mulut, semua akan baik-baik saja. Oh iya, kau jangan sembarangan membuka pintu lagi, oke?"
"Ne. Aku akan lebih berhati-hati."
.
.
"Wae?," tanya yesung saat kangin selesai menerima panggilan dari ryeowook.
"Wartawan tau tempat tinggal ryeowook"
"Mwo? Bagaimana mereka bisa tau?," yesung mengalihkan pandangannya dari psp yang dimainkan ke kangin yang sekarang tampak kebingungan.
"Aku juga tidak tau. Argh! Ini semua gara-gara kau yang mempunyai ide konyol ini!"
Yesung berdecak sebal, "ck, selalu saja menyalahkanku. Seharusnya kau menyalahkan wartawan itu bukan aku. Aneh sekali."
Jika tidak mengingat siapa yesung, mungkin kangin sudah melempar ponsel yang digenggamnya sekarang tepat ke kepala besar yesung.
.
.
Saat ini ryeowook dapat kembali bernafas lega karna baru saja dia ditelfon kembali oleh penjaga keamanan apartemen bahwa wartawan sudah pergi dan ryeowook juga tidak lupa meminta petugas untuk mengawasi wartawan agar tidak kembali datang.
Akibat kejadian ini, ryeowook jadi tidak selera untuk makan, padahal dia belum makan sedari pagi. Ryeowook terus melamun disofa, memikirkan bagaimana hidupnya yang mendadak berubah secara drastis. Sesaat muncul rasa penyesalan kenapa kemarin dia datang ke gedung SJ Ent. Karna terlalu sibuk atau mungkin sudah lelah dengan pikirannya, ryeowook sampai tertidur disofa, setitik cairan bening terlihat disudut matanya yang tertutup rapat.
.
.
YeWookGoPublic
.
.
TIIIT TIIIT
Ryeowook tersentak dari tidurnya saat mendengar suara bel. Jam sudah menunjukkan jam 9 malam, cukup lama dia tertidur.
TIIIT
Bel kembali berbunyi, ryeowook tidak mau ceroboh kali ini, dia menuju interkom yang menggantung didinding, memencet salah satu tombol dan terlihatlah wajah yang sekarang berdiri didepan apartemennya dari monitor interkom itu. "Sungmin hyung!," pekik ryeowook senang. Segera saja ryeowook langsung membuka pintu.
"Hyung, kenapa kau lama sekali pulangnya?"
"Ya! Aku harus mengambil barang-barangku dulu."
"Hehe.. benar juga, ayo cepat masuk hyung."
Ryeowook membantu sungmin untuk membawa beberapa barang yang dibawanya ke kamar yang belum ditempati. "Ini kamarmu hyung."
"Ini bagus sekali. Aku pasti akan betah tinggal disini…" ryeowook tersenyum senang dengan yang baru saja dikatakan sungmin, "… ryeowook-ah, kau terlihat pucat. Apa kau sakit?"
"Ani. Mungkin karna aku tadi tidur seharian dan ditambah aku belum ada makan hari ini."
"Omo~ Kenapa bisa begitu?"
"Sudahlah hyung, kau mandi saja. Aku mau memanaskan makanan dulu, setelah kau mandi kita makan malam bersama."
"Baiklah.."
Ryeowook keluar dari kamar sungmin dan menuju dapur, menyiapkan makan malam untuknya dan teman barunya, sungmin. Tidak berapa lama sungmin datang ke dapur, dia sengaja mandi lebih cepat supaya dapat membantu ryeowook menyiapkan makanan.
"Biar hyung bantu, ryeowook-ah."
"ne hyung"
5 menit kemudian mereka sudah selesai menyiapkan makan malam mereka. "Selamat makan!," seru mereka berdua. Setelah itu hanya ada suara dentingan sumpit dengan mangkuk makan mereka.
"Aku kenyang!," ucap sungmin setelah menyelesaikan makan malamnya. "Ryewook-ah, kau benar-benar pintar memasak. Aku pasti benar-benar betah tinggal bersamamu."
"hehe.. kalau begitu aku akan memasakkan makanan enak untukmu setiap hari."
"hehe.. gomawo. Aku jadi banyak merepotkanmu"
"Tidak masalah, hyung. Ah iya.. Ada yang ingin aku beritahu padamu, hyung. Dan aku harap kau tidak terkejut."
"Apa ini masalah serius?"
"Sangat,"
"Kalau begitu sebaiknya kita bicara diruang tengah saja."
Ryeowook mengiyakan dan mereka beranjak ke ruang tengah. Sungmin penasaran dengan apa yang akan dibicarakan ryeowook.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?."
Ryeowook menghela nafasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan sungmin, "Lihatlah video ini dulu, hyung" sungmin mengambil ponsel yang diberikan ryeowook, menekan icon play pada layar ponsel.
Sungmin memasang ekspresi terkejut, menatap tidak percaya ke ryeowook saat sudah selesai melihat video itu. "Kau?"
"Aniya. Bukan aku yang melakukan itu hyung," ryeowook menunjukkan video saat konferensi pers nya kemarin, dia sudah mantap untuk mengatakan semuanya agar sungmin tidak salah paham dengannya.
"Lalu, bagaimana bisa?"
Lagi-lagi ryeowook menghela nafas panjangnya, mengeratkan jaket yang dipakainya dan mulai menceritakan semuanya ke sungmin sedetail-detailnya.
"Jadi sebenarnya apartemen ini milik yesung?," ryeowook mengangguk saat sudah selesai menceritakan semuanya ke sungmin. Mulai dari pertemuannya dengan kangin sampai apartemen yang ditempatinya sekarang. "Hyung, kau tidak membenciku kan?"
Sungmin tersenyum lembut, "kenapa aku harus membencimu? Kau begitu baik padaku, seharusnya yang ku benci itu adalah yesung" sungmin mendekatkan tubuhnya untuk memeluk ryeowook, dengan senang hati ryeowook membalas pelukan itu. Sepertinya tidak salah dia menceritakan semuanya ke sungmin, ryeowook merasa bebannya sedikit hilang saat sudah menceritakan semuanya ke sungmin.
"Aku berharap semoga pelakunya cepat diketahui agar nama baikku kembali lagi, sangat tidak menyenangkan saat orang-orang menatapku dengan tatapan tidak suka."
Sungmin melepas pelukannya, raut wajahnya berubah saat ryeowook bercerita tentang pelaku pembuat berita hoax itu. "Kau kenapa hyung?," tanya ryeowook khawatir. "Ah.. tidak apa-apa. Hyung hanya mengantuk."
"Kau mengantuk karna mendengar ceritaku?"
"A..niya, kau jangan salah paham," sungmin gelagapan saat ryeowook salah paham dengan perkataannya. "Haha, kau lucu saat panik seperti itu hyung. Aku mengerti kok kenapa kau sudah mengantuk, ini memang sudah malam. Tidurlah hyung."
"Kau sendiri tidak tidur?"
"Entahlah, aku sudah tidur seharian ini. Aku masih belum mengantuk."
"Arraseo. Hyung tidur duluan ne?," ryeowook menganggukkan kepalanya.
Saat sudah ada didalam kamar, sungmin tidak langsung tidur. Dia menghidupkan laptopnya dan mengetikkan sesuatu disana, setelah itu dia kembali mematikan laptopnya. "Mianhae, ryeowook-ah..," ucapnya lirih.
.
.
.
YeWookGoPublic
.
.
.
"Hoaam"
Ryeowook membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing mengingat semalam dia tertidur jam 3 pagi dan sekarang sudah jam 8 pagi. "Oh~ Biasanya aku bangun jam 6 pagi," keluhnya sambil menyibakkan selimut putih tebalnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ryeowook menuju kamar mandi dan membasuh badannya.
Setelah selesai membersihkan badannya dan berpakaian, ryeowook mendengar sungmin yang berteriak cukup kuat. Segera saja ryeowook melihat apa yang terjadi.
"Siapa kau?," tanya sungmin panik.
"Kau yang siapa?"
Ryeowook bernafas lega ternyata kangin datang ke apartemen. "Sungmin hyung, kau tidak perlu khawatir. Dia itu managernya yesung, dia baik kok."
"Ryeowook-ah, jangan bilang kau memberitahu semuanya ke dia," tanya kangin. "Aku sudah menceritakan semuanya ke dia."
"Bagaimana kalau dia membongkar semuanya?"
"Tenanglah, kangin-ssi. Sungmin hyung tidak akan membongkar semuanya. Benarkan hyung?."
"Ne.. tentu saja, aku ada dipihak kalian. Ryeowook-ah, hyung sudah harus pergi sekarang dan hyung juga sudah membuatkanmu sarapan. Jadi, sampai nanti," sungmin melambaikan tangannya ke ryeowook dan membungkukkan badan ke kangin, sedetik kemudian sungmin sudah keluar dari apartemen. "Siapa dia?"
"Dia temanku, aku mengajaknya tinggal disini karna aku bosan jika harus tinggal sendirian diapartemen sebesar ini."
"Kau yakin dia bisa dipercaya?," ryeowook hanya bisa mengangguk. "Lalu, kau ada apa datang kesini?"
Kangin menepuk jidatnya karna hampir lupa dengan tujuannya. "Aku datang kesini untuk menjemputmu,"
"kemana? Aku tidak mau kalau disuruh yang macam-macam lagi!,"
"aish.. kali ini percayalah padaku. Kalau kau tidak ikut justru kau akan menyesal nanti"
"Kau, tidak berbohong?"
"Tentu saja tidak. Tapi sebelum pergi, pakai ini dulu agar tidak ada yang mengenalimu," kangin memberikan masker, kacamata dan juga topi ke ryeowook, setelah memakainya ryeowook pun pasrah saat kangin menarik tangannya, semoga saja kangin tidak berbohong.
Setelah 15 menit diperjalanan, kangin sudah sampai membawa ryeowook ke gedung SJ Ent. "Untuk apa kau membawaku kesini? Menyuruhku untuk hadir di konferensi pers lagi?"
"Tidak. Kau tenanglah, Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Kangin dan ryeowook turun dari mobil dan masuk menuju lantai 2 gedung SJ Ent. Mereka berhenti tepat didepan pintu dengan tulisan 'CEO'. "Masuklah, aku akan menunggu diluar"
"CEO? Itu artinya orang yang ingin bertemu denganku adalah ayah dari Yesung?"
"Tentu saja. Memangnya yesung itu anaknya siapa lagi?," canda kangin karna ryeowook yang masih shock. "Tidak mau!," ryeowook mencoba untuk kabur tapi dengan sigap kangin menahan ryeowook. "Ya! Presdir sudah menunggumu sedari tadi. Kau mana boleh pergi begitu saja!"
TOK TOK
Kangin mengetuk pintu dan tanpa menunggu jawaban dari dalam, kangin sudah membuka pintu dan mendorong ryeowook untuk masuk. "Kangin-ssi! Kangin-ssi! Buka pintunya!," ryeowook mencoba membuka kembali pintu tapi nihil, karna kangin menahannya dari luar.
"Ekhem!."
GLEK
Ryeowook menelan ludahnya, dibalikkannya badannya untuk menatap seseorang yang kini duduk nyaman dibalik meja kerjanya. "Annyeonghaseo, Presdir" sapa ryeowook sambil membungkukkan badannya.
"Kau tidak usah takut, ryeowook-ah. Duduklah," perlahan ryeowook mendekat dan duduk dikursi yang ada didepan meja kerja Tn. Kim.
"Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas."
Ryeowook bingung apa maksud dari perkataan Presdir Kim, tapi kemudian ryeowook sadar dia masih memakai masker, kacamata dan topi. "Mianhamnida, presdir~," kemudian ryeowook melepas satu persatu alat(?) penyamarannya itu.
"Pertama-tama , aku mau meminta maaf atas ulah yesung yang seenaknya saja. Kangin sudah menceritakan semuanya kepadaku atau lebih tepatnya aku yang memaksa kangin untuk bercerita."
Ryeowook hanya menundukkan wajahnya, tidak tau harus menjawab apa, yang salah disini adalah yesung tapi kenapa yang meminta maaf adalah ayah yesung?.
"Kau sedang membutuhkan pekerjaankan?"
Kali ini ryeowook langsung menatap presdir kim dan mengangguk pelan. "Baiklah, sebagai permintaan maaf aku akan memberikanmu pekerjaan"
"Benarkah, presdir?," ryeowook menatap tak percaya ke pria yang tidak bisa dibilang muda lagi itu. "Iya, aku sama sekali tidak bermain-main dengan yang aku katakan. Kau akan bekerja disebuah cafe yang akan segera dibuka, cafe ini milik keluarga Kim, dan aku menunjukmu sebagai Manager disana."
"MWO? Ma..manager?,"
Presdir Kim tersenyum melihat ekspresi ryeowook yang menurutnya berlebihan tersebut. "Mianhamnida, presdir. Tapi untuk saat ini saya benar-benar tidak ada waktu untuk bercanda. Jadi tolong …"
"Bukankah tadi sudah ku katakan aku tidak pernah main-main dengan perkataaanku?," ucapan tegas dari presdir kim membuat ryeowook bergidik. 'wajah dinginnya tidak ada bedanya dengan yesung' gumam ryeowook dalam hati.
"Mianhamnida," ryeowook kembali menundukkan wajahnya.
"Ini alamat cafenya, sekarang datanglah kesana. Sebagai manager, kau juga boleh mengatur daftar menu yang akan dijual," presdir kim menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat cafe ke ryeowook. "Kamsahamnida, presdir. Saya akan bekerja dengan baik," ryeowook berdiri dan membungkkan badannya berkali-kali. "Saya permisi, presdir."
"Ah! Satu lagi," presdir kim membuka sebuah laci dan mengambil sesuatu didalamnya. "Ini untukmu"
"Igo mwoya?," ryeowook mengambil benda itu dari tangan presdir kim. "itu kunci mobil milik yesung, aku menyitanya karna dia sudah berbohong padaku. Jadi daripada tidak dipakai, sebaiknya aku memberikannya padamu dan aku tidak menerima kata penolakan."
Lagi-lagi ryeowook dibuat tidak percaya dengan perkataan presdir kim, "Bagaimana kalau yesung tau dan mencoba untuk merebutnya dari saya, presdir?"
"kau bisa melaporkannya padaku."
Mata ryeowook berkaca-kaca, benar-benar tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan 'kejutan' hari ini. "Jeongmal kamsahamnida, presdir. Kamsahamida," ryeowook membungkkan badannya berkali-kali. Presdir kim hanya tersenyum maklum.
Setelah ryeowook keluar dari ruangan presdir kim, kangin yang masih menunggu diluar menanti penjelasan dari ryeowook. "Bagaimana? Apa yang dia katakan padamu?"
Ryeowook menggenggam kedua tangan kangin, "Dia memberikanku pekerjaan sebagai manager di cafe milik keluarga kim dan juga dia memberikanku ini!," ryeowook langsung menunjukkan kunci mobil.
"Itu milik yesung!," seru kangin. "Benar sekali. Presdir kim memberikannya padaku!."
"Hwa.. beruntung sekali kau kim ryeowook. Tapi, apa kau bisa menyetir?."
"Tentu saja, sewaktu sma aku pernah diajari teman sekelasku yang kebetulan punya mobil."
"Bagus sekali kalau begitu," setelah itu mereka berdua melompat-lompat didepan ruang kerja presdir kim, seperti anak kecil tanpa peduli tatapan aneh karyawan yang melihat mereka. Kim ryeowook, bukannya baru kemarin kau menyesali hidupmu?.
.
.
.
Setelah mengambil mobil yesung yang kini jadi milik ryeowook, ryeowook segera menuju cafe dimana dia akan bekerja sekarang. "Hwa.. mobil ini pasti mahal sekali," gumam ryeowook saat sudah mengendarai mobil itu.
Tidak lama kemudian ryeowook sampai ditujuannya, sebuah cafe dengan desain rustic sederhana namun terlihat mewah. 'H&G' itulah nama cafe tersebut.
Ryeowook masuk ke cafe, '99% café sudah siap dibuka' begitulah pendapat ryeowook saat masuk kedalam.
"Kau Kim Ryeowook?," ryeowook menoleh ke meja bartender saat seseorang menyapanya. "Nde. Nuguseyo?"
Orang itu mendekati ryeowook. "Kim Kyuhyun imnida, aku keponakan presdir kim dan sepupu dari kim yesung. Senang bertemu denganmu."
Ryeowook menerima uluran tangan namja yang bernama kyuhyun itu, "Kim Ryeowook imnida."
"Aku kan sudah tau namamu, untuk apa kau menyebut namamu lagi?."
Ryeowook melepas jabatan tangannya cukup kasar, 'evil' pikir ryeowook dalam hati.
"Selamat datang manager, aku sebagai barista disini. Besok cafe akan dibuka, jadi sebagai manager ku harap kau tidak terlambat untuk datang. Dan itu ruanganmu," tunjuk kyuhyun ke sebuah ruangan yang ada disudut. "Gomawo, kyuhyun-ssi. Bolehkah aku melihat ruanganku?"
"Tentu saja."
Ryeowook mulai melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
CKLEK
BLAM
Ryeowook menutup pintunya kembali, senyum mengembang saat melihat ruangan yang cukup besar itu menjadi ruang kerja miliknya.
"kenapa kau bisa ada disini?"
Ryeowook terlonjak kaget saat menyadari kalau ternyata yesung sedang duduk santai di kursi manager.
Ryeowook mencoba bersikap biasa saja didepan yesung, dia tidak boleh kalah adu mulut dengan yesung. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau diruanganku?"
"Kau? Manager? Disini?. TIDAK MUNGKIN!"
Ryeowook melipat tangannya didepan dada, mencoba gaya angkuh. "Bagaimana kau bisa tidak tau, kim yesung?. Bahkan Kyuhyun saja tau kalau aku manager disini. Dan yang paling harus kau tau adalah, Presdir kim yang menyuruhku untuk bekerja disini. Ah~ dan juga, dia memberikanku ini sebagai permintaan maaf atas perbuatan bodohmu!," ryeowook memamerkan kunci mobilnya. Spontan yesung langsung berdiri dan mendekati ryeowook. "Berikan padaku"
"Shireo!," ryeowook menyembunyikan kunci mobil dibalik punggungnya. "Aku bilang berikan!," yesung semakin mendekat tapi ryeowook malah mundur sampai dinding menghentikan langkahnya. Yesung tidak membuang kesempatan, dia langsung berdiri tepat didepan ryeowook dan mengalungkan kedua tangannya tepat ke balik punggung ryeowook yang saat ini masih menggenggam kunci mobil, yesung berusaha mengambil kunci mobilnya digenggaman ryeowook.
CKLEK
Kepala kyuhyun muncul dari balik pintu dan terkejut melihat yesung dan ryeowook yang seperti sedang berpelukan. "Aku tidak menyangka hubungan kalian sedekat ini. Lanjutkanlah," kyuhyun kembali menutup pintu
Yesung dan ryeowook yang tadinya menatap kyuhyun kini saling berpandangan, mereka baru sadar kalau jarak tubuh mereka sangat dekat, bahkan saat ini hidung mereka bersentuhan.
.
.
.
TBC
.
Annyeonghaseo readersdeul?. Bagaimana dengan chapter kali ini? Saya sadar ceritanya semakin tidak jelas. Mianhae :'(
Tapi, tidak ada salahnya kan untuk memberikan saya komentar tentang FF ini dikolom review, review kalian benar-benar penyemangat buat saya :D.
dan saya juga terima kasih untuk yang sudah mereview di chapter sebelumnya, review kalian benar-benar berharga buat saya. Dan bisa kah saya meminta reviewnya lagi ?
Kamsahamnida~~~
