Tiltle : Remember Me?

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)

Rate : T bit M

Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^

WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC, BBB (BANYAK BASA BASI)

.

.

.

Ada dua macam pria didunia ini

Dan aku tidak tahu yang manakah dirimu

Sekali lagi,

Bisakah kau tunjukkan dirimu padaku?

.

"Ya! Apa yang kau lakukan pada Jiji!" pekik Jaejoong tidak suka kala melihat kucing kesayangannya tersebut tengah dikeluarkan dengan kaki Yunho

"Jiji?"

"Pantas dari dulu dia membencimu, kau memang menyebalkan"

"Dari dulu?"

Jaejoong terdiam. Mulutnya kelu setelah mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh Yunho. Ah, benar, mana mungkin Yunho mengingat kucing lucu ini sementara dirinya tidak ia ingat?

"Maksudku kemarin malam, saat kau mengeluarkannya dengan handukmu" kilah Jaejoong

"Dulu dan kemarin itu berbeda jauh, Kim Jaejoong" kata Yunho mulai mencurigai perkataan Jaejoong yang tampak menyembunyikan sesuatu

Sedikit kepalanya berpikir tentang maksud Jaejoong hingga akhirnya pikirannya terhenti pada satu kata. 'Handuk'. Kim Jaejoong ini berkata, ia melihat Yunho mengeluarkan kucing dengan handuknya, bukankah itu berarti dia melihat dirinya secara 'utuh'?

"YAAA! DASAR CABUL!" pekik Yunho tiba-tiba sambil menutupi sesuatu dekat celananya

Yoochun dan Jaejoong hanya dapat mengerjap bingung ala Yunho tiba-tiba memekik dengan histeris. Sang kucing Jiji pun tidak kalah kaget sehigga melarikan diri keluar dari rumah tersebut. Tampak kini muka Yunho yang sangat merah merona ketika mengingat diriya sangat 'polos' ketika mengeluarkan Jiji dengan handuk malam itu. Sedikit geraman keluar dari mulutnya, ia tidak percaya pada malam pertamanya ia hidup mandiri dan dia sudah memiliki seorang pengintip yang berani mengintipinya saat ia sedang tidak mengenakan sehelai benang pun! Bahkan mungkin yang paling membuatnya geram, kenapa sosok pengintipnya itu sesosok hantu?!

"YA! Tidak kusangka selain berani meniduriku, kau juga berani mengintipiku!"

Yoochun mengejap tidak percaya sambil menghadapkan kepalanya kepada Kim Jaejoong. Mendengar kata 'meniduri' dan 'mengintip' tak heran membuat otak seorang Park Yoochun kini mulai berfikir kepada hal yang iya-iya.

Jaejoong hanya dapat menampakkan semu merah muda pada wajahnya ketika melihat tatapan tidak biasa dari Yoochun dan perkataan Yunho yang tampak membuatnya seperti seorang yang benar-benar cabul.

"Aish, YA! Siapa yang menidurimu dan siapa yang mengintipmu eoh?! Aku tidur disampingmu karena itu tempat tidurku! Dan aku melihatmu tidak berpakaian itu karena tidak disengaja! Itu karena kukira kau akan mengasari Jiji! Jangan membuat diriku terlihat begitu cabul dasar cabul!"

"Aish, ini benar-benar menyebalkan. Kau benar-benar menyebalkan! Menyebalkan!"

Yoochun hanya terdiam melihat kedua sosok yang kini masih saling melemparkan pandangan yang tidak suka dan juga berbagai umpatan yang secara samar masih terdengar diucapkan oleh mereka berdua. Kedua ujung pada mulutnya pun kemudian membuat sebuah lengkungan disana. Segala rasa gundah yang sesungguhnya ingin ia luapkan kini meluap dengan sendirinya kala menatapi pemandangan didepannya.

Mungkin memang bukan pemandangan biasa mengingat sesosok makhluk lain seperti Kim Jaejoong, tapi dampak yang diberikannya tetap sama. Rasanya seperti, kau tidak pernah sendirian. Walau kau tidak secara langsung mengungkapkan kegundahanmu, walau mereka tidak mengelus pundakmu atau menghapus air matamu, tapi setiap kau mendengar suara yang lain menyapa telingamu, kau akan selalu tau, kau tidak terjebak sendirian.

.RememberMe?.

"Changmin ah!" panggil seorang dengan cukup menggebu kala melihat sesosok pria jangkung kini tampak menyapa wajahnya

"Ah, Junsu ssi, annyeong!" kata Changmin sopan setelah menghampiri orang yang memanggilnya tadi

Junsu dan Changmin kini tengah berada dalam sebuah restoran yang tampak cukup klasik. Sambil diiringi oleh alunan musik orkes, Changmin dan Junsu mulai memesan makanan mereka.

"Hahaha, kenapa kau masih saja memanggilku seperti itu eoh? Cukup memanggilku Junsu saja. Atau hyung juga boleh, aku tidak keberatan malah merasa tersanjung kekeke" kata Junsu dengan percaya dirinya

"Hahaha, aku hanya belum terbiasa untuk memanggilmu tanpa embel-embel lain, aku masih menyimpan banyak hutang budi padamu dan merasa aneh bila tidak memakai embel-embel lain" kata Changmin sedikit ragu

"Ah, karena itu? Sudah, tidak perlu kau pikirkan, aku tidak sehebat itu sampai perlu kau hormati seperti ini. Aku ingin menjadi temanmu, bahkan jika beberapa pertemuan ini belum membuat kita berteman sesungguhnya, aku ingin suatu hari kita menjadi teman baik, Changmin ah" jelas Junsu

Changmin hanya tersenyum hangat sambil menatapi Junsu yang kini tampak bersungguh-sungguh. Jujur saja perasaannya cukup melunak setiap kali bertemu namja dihadapannya tersebut tapi Changmin benar-benar berhati-hati agar tidak jatuh pada namja ini. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh pada namja lain ketika sudah ada yang lain yang mengisi hatinya?

"Hmmh," sedikit nafasnya ia helakan untuk mencairkan perasaannya. "Jadi bagaimana? Kau masih berkata pada sahabatmu itu bahwa aku adalah kekasihmu?" lanjutnya

Junsu terdiam. Matanya berputar diiringi dengan kerucutan bibirnya.

"Hmmm... begitulah"

"Hahaha, kenapa kau terus berpura-pura begitu hm? Junsu ssi, apakah kau semarah itu padanya?"

"Aku tidak marah," kata Junsu mencoba menjelaskan perasaannya. "Aku hanya kecewa"

Changmin yang tadinya hendak mengambil secangkir kopi ditangannya kemudian hanya terdiam berusaha mendengarkan cerita dari temannya tersebut. Sudah cukup lama memang temannya ini tengah mengalami masalah percintaan dan membuatnya harus mengakhir hubungan mereka.

"Kecewa?"

"Saat yang kau percayai, merusak kepercayaanmu, bukankah kau akan sangat kecewa?," Junsu menarik nafasnya kala sekelebat peristiwa yang ingin ia lupakan kini kembali menyapa wajahnya.

"Aku tidak tau, apakah aku bisa mempercayainya lagi kali ini"

Changmin mengagguk pelan. Tampak kini setiap detik pada peristiwa yang paling tidak ingin diingatnya perlahan kembali. Ia jelas mengetahui benar bagaimana perasaan Junsu yang amat sangat terluka saat itu, tapi mungkin, Changmin lebih mengerti bagaimana perasaan namja yang mengejar Junsu saat ini. Karena ia juga pernah menyakiti orang yang sangat ia cintai dan merusak kepercayaan orang tersebut. Karena Changmin tau, bahwa yang menyakiti, akan lebih merasakan sakit daripada seorang yang tersakiti tersebut.

Flashback

Terlihat sebuah langkah kaki yang terburu-buru ketika memasuki gedung yang penuh musik dan bau alkohol tersebut. Terlihat kepala menoleh kekanan dan kiri seakan mencari sesosok yang sangat ia khawatirkan malam itu. Berharap bahwa sosok tersebut akan baik-baik saja ditengah kerumunan yang tampak memusingkan kepalanya.

Masih terus kakinya melangkah hingga suatu penampakan menyita matanya dan membuatnya menghentikan langkahnya. Dia disana. Shim Changmin. Tengah mengadu cinta dengan wanita lain dan bahkan dengan beraninya menyentuh tubuh wanita tersebut yang hanya ditanggapi cekikikan dari keduanya yang tampak sungguh menikmati malam.

Matanya memanas melihat pemandangan tersebut. Dadanya bergemuruh dengan tidak karuan mendapatkan penampakan yang sangat tidak mengenakan tersebut dihadapannya. Kembali dilangkahkan kakinya dengan buru-buru hingga tangannya tanpa sadar mengambil sebuah gelas disana dan disiramkannya air yang tersisa disana kepada wajah mereka berdua.

Changmin dan wanita tersebut hanya dapat menggerutu pelan sebelum melihat siapa yang menyiramnya.

"BRENGSEK!" pekik seorang sosok cantik yang dengan nyaringnya membuat semua mata diskotik tersebut mengarah kepadanya.

"Ho... Chagiii?" kata Changmin tanpa dosa karena tengah berada dibawah pengaruh alkohol

Tubuh Changmin bangkit perlahan dari tempat duduk tersebut dan menggenggam tangan sosok yang tengah penuh emosi itu seakan menyuruhnya untuk duduk menemaninya sementara orang itu hanya dapat memelototi Changmin dengan tidak percaya.

"Ayo sini chagi, kita bersenang-senang~" kata Changmin lagi dengan tubuh yang cukup sempoyongan

PLAAAKKK

Sebuah tamparan telak mengenai wajah Changmin dan membentuk jejak merah disana. Mata doe yang sejak tadi memanas kini tidak dapat menahan lagi air yang sudah tergenang dipelupuk matanya. Melihat seorang yang sangat ia percayai kini tengah menghancurkan kepercayaannya hanya dapat membuat kepalanya berdenyut dengan menyakitkan dan membuat sebuah cairan kini tergenang dipelupuk matanya.

Langkah kakinya yang tadinya terasa kaku kini perlahan terangkat meninggalkan sosok Changmin yang masih berada di bawah pengaruh alkohol tersebut. Dengan kesadaran yang masih dibawah pengaruh alkohol, Changmin mencoba mengikuti langkah kekasihnya tersebut dan mencoba menghentikannya.

"Chagiya~~" panggil Changmin kala menghentikan langkah kekasihnya tersebut dan membuat sosok itu berbalik padanya

Pada saat ia berbalik, pada saat itu pula sebuah pukulan mengenai wajah Changmin. Bagaimana pun sosok itu adalah seorang laki-laki dan caranya melampiaskan kemarahannya bukan hanya terbatas pada sebuah tamparan.

Tunggu sebentar.

Laki-laki?

Yah, seorang yang menjadi kekasih Changmin selama ini laki-laki dan kini laki-laki yang baru saja menghantamkan sebuah tinju ke wajah Changmin itu tampak mulai mengeluarkan rasa kecewanya yang teramat besar kepada sosok yang sangat ia cintai dan percayai.

"Aku tau saat ada orang yang mengatakan hanya ada dua jenis pria didunia ini. Dan aku tau sekarang bahwa kau bukan seperti yang aku pikirkan. Ya, aku adalah GAY. Dan yah kau adalah jenis kedua, manusia BRENGSEK!"

Namja itu meninggalkan tubuh Changmin yang tengah terduduk dengan penuh kebingungan dengan hati yang sangat hancur. Akan lebih baik jika suatu hubungan berakhir dengan tanpa orang ketiga atau hal-hal seperti ini didalamnya. Akan lebih baik jika suatu hubungan yang diawali oleh dua orang diakhiri juga oleh mereka berdua. Namun akan lebih baik... bila hubungan ini tidak pernah berakhir bukan?

"Brengsek..."

.

Changmin yang perlahan mulai kembali kesadarannya mencoba bangkit dan menikuti langkah kaki dari sosok yang sesungguhnya sangat mengisi hatinya itu, dilangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu keluar klub tersebut sambil berusaha memanggil nama namja yang ia cintai itu.

"KIM JAEJOONG!"

Pekiknya keras hingga suatu hal membuat langkahnya yang begitu menggebu harus terhenti.

Flashback End

"Junsu ssi, percayalah lagi padanya" kata Changmin kemudian mengagetkan Junsu

"Hm? Kenapa?"

"Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua kan?" kata Changmin sambil tersenyum

Junsu menatap Changmin dengan senyum yang tidak biasa. Junsu sadar bahwa Changmin juga pasti pernah mengalami hal seperti dirinya. Tapi kesempatan kedua? Bahkan hingga saat ini, Junsu masih sangat ragu untuk memikirkan hal itu.

.RememberMe?.

Langit malam telah menyapa kota Seoul kala itu. Cahaya-cahaya yang sebelumnya bersembunyi dikala siang kini perlahan mulai memancarkan cahaya satu per satu. Sepasang mata doe itu hanya dapat terdiam sambil memandangi langit malam yang kini tampak sangat buram karena ditutupi cahaya keramaian kehidupan malam. Tubuhnya terduduk manis disebuah kursi yang ada di luar rumah yang cukup besar tersebut.

"Ahh... bosan sekali..." rengek sebuah suara dari dalam rumah

Pemilik mata doe itu kemudian menolehkan matanya ke dalam rumah yang tampak sangat sepi itu. Terlihat wajah sang pemilik suara yang kini tengah mengerucutkan bibirnya sambil menggaruk perutnya yang tidak gatal. Selengkung senyum itupun kembali terangkat kala melihat pemandangan yang menurutnya amat lucu itu.

"Kau memang tidak terbiasa sendirian hum?" bisik Jaejoong pelan

.

Yunho melangkahkan kakinya menuruni tangga rumah itu. Sedikit dibukakan mulutnya seraya menguap sambil menggaruk perutnya yang sesungguhnya tidak gatal tersebut. Matanya menatapi seisi rumah yang tampak sangat sepi tersebut. Bibirnya dimajukan sambil menatap tidak suka.

"Hah, sepi sekali rumah ini, aigoo..." katanya kini menggaruk tengkuknya yang juga tidak gatal

Kakinya kemudian perlahan menuju ke arah dapur berharap menemukan sesuatu yang menarik disana, dan ... BINGO!

"Ya, Apa yang sedang kau lakukan?"

Tampak Jaejoong kini tengah mencoba mengambil pisau daur namun sama sekali tidak berhasil karena barang itu selalu tertembus tangannya. Terdengar desahan sebal dari bibir Jaejoong yang menjadi pemandangan cukup menarik bagi Yunho.

"Ya! Kau sedang apa?! Kenapa kau mau mengambil pisau itu eh? YA! Kau mau mencoba membunuhku?!" kata Yunho mulai sedikit memundurkan langkahnya ketika ia mulai berpikir yang tidak-tidak karena tindakan Jaejoong.

"Ya! Kau itu berisik sekali eoh? Aku hanya ingin membuka makanan untuk Jiji itu saja!"

Yunho kemudian kembali melangkahkan kakinya maju mendekati Jaejoong. Tampaknya, Yunho sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Jaejoong dirumahnya.

"Jiji? Ya! Dirumahku tidak ada makanan kucing! Kau mau memberinya makan apa huh? Makananku?" pekik Yunho protes

"Iya, kenapa?" kata Jaejoong dingin sementara Yunho tertegun.

Yunho terdiam sambil tampak memikirkan sesuatu. Mata musangnya melihat keberbagai arah seakan kepalanya benar-benar tengah berpikir dengan keras. Bibirnya kembali ia kerucutkan kala memikirkan hal tersebut hingga sebuah ide terhenti dikepalanya.

"Ikut aku"

"Huh?"

.

Yunho kini berada disebuah minimarket 24 jam yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia memasuki tempat tersebut dengan segera sambil berusaha mencari sesuatu yang dipikirkannya sedari tadi. Makanan kucing.

"Ya, apa dia suka makanan yang berasa salmon atau tuna?" tanya Yunho pada sosok Jaejoong yang berada disampingnya

"Hm? Kurasa dia suka keduanya" jawab Jaejoong polos

"Ya! Apa kita benar-benar harus membeli keduanya? Dia bahkan bukan kucingmu, apa kau benar-benar harus sepeduli itu padanya?"

Bentakan Yunho pada Jaejoong membuat beberapa memandangnya dengan heran. Bagaimana pun, orang hanya dapat melihat sosoknya dan tidak melihat sosok Jaejoong, jadi bisa dikatakan saat ini, Yunho tampak seperti orang tidak waras.

Yunho yang menyadari pandangan berbeda dari orang disekelilingnya kemudian merutuki dirinya sendiri. Dengan cepat ia mengamil empat kaleng makanan kucing tersebut dan dengan cepat menuju ke kasir sampai akhirnya matanya menatap pandangan lain yang membuatnya mengurunkan niatnya menuju kasir.

"Ya, kau mau membeli apa?" tanya Jaejoong penasaran sambil mengikuti Yunho

"Tentu saja sebuah minuman! Bir akan baik tampaknya" kata Yunho sambil mengambil beberapa kaleng bir ke dalam tangannya yang sudah tampak cukup penuh itu

"Ya! Kau mau mabuk-mabukan eoh? Bagaimana dengan kesehatan lambungmu eoh?" pekik Jaejoong tidak suka saat Yunho mengambil cukup banyak kaleng bir dan berusaha menghalaunya namun tembus menembus tangannya

"YA! Tau apa kau tentang kesehatan lambungku huh?!" pekik Yunho lagi acuh sambil membawa kaleng tersebut ke kasir dan membuat orang-orang kembali beralih padanya

"Ya! Aku dapat melihatnya dari kepalamu! Lihatlah kepalamu itu, pabo! Sangat kecil! Pasti lambungmu juga kecil dan tidak kuat meminum minuman keras sebanyak itu! Sebaiknya kau taruh lagi kaleng-kaleng bir itu! Jja!" pekik Jaejoong sambil menunjuk kaleng bir dalam pelukan Yunho

"YA!" pekik Yunho sambil berbalik dan berusaha menatap Jaejoong namun dirinya malah menabrak seorang ibu-ibu dibelakangnya dan menyebabkan makanan dalam pelukannya berjatuhan

"Ah, maafkan aku! Maafkan aku!" kata Yunho sambil membungkukan badannya 90 derajat

"Aish, bocah gila! Ya, kalau kau memang banyak masalah jangan kau lampiaskan pada minuman seperti ini eoh? Kau akan membuat orang disekelilingmu takut saat kau bicara sendiri, kau tau? Seberapa banyak kau minum tadi huh? Sekarang kau membeli sebanyak ini lagi? Aish, dasar anak jaman sekarang" kata ibu itu sambil menatapnya kasihan

"Eh? Ah, maafkan aku!" kata Yunho tidak mengerti tapi masih sambil mencoba meminta maaf

"Aish, benar-benar..." kata ibu-ibu itu kemudian sambil berjalan meninggalkan Yunho tanpa menanggapi permintaan maaf Yunho

Yunho menatapi kepergian ibu tersebut dan mengamati orang sekitarnya sambil mengambil kembali makanan kucing dan juga kaleng birnya yang terjatuh dilantai. Mukanya merah padam menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia mengerti jelas bahwa ibu tersebut tidak dapat melihat Jaejoong yang tampak mengganggunya sehingga membuatnya tampak seperti orang mabuk dan berkaleng-kaleng bir dipelukannya malah membuatnya tampak semakin buruk.

"Aish..." desah Yunho pelan sambil menuju kasir dan membayar semua makanan kucing dan menaruh kembali kaleng birnya ketempatnya

Yunho keluar dari minimarket itu dengan perasaan yang campur aduk. Namun yang mungkin lebih banyak dalam dirinya kini adalah MALU. Bagaimana tidak? Baru dua hari ia meninggali daerah rumah ini dan dia pasti akan mendapatkan kesan buruk di minimarket tersebut. Wajahnya merah padam dan mulutnya menghembuskan nafas berkali-kali.

"Aish, aku benar-benar bodoh" katanya penuh malu saat mengingat tatapan orang-orang tadi.

Wajah Yunho tampak merah padam kali ini sementara Jaejoong tertawa keras disampingnya. Ia hanya tidak menyangka bahwa wajah Yunho akan sekonyol ini hanya karena dirinya menggertak Jaejoong yang jelas adalah sesosok hantu. Walau ada sedikit rasa tidak enak pada Jaejoong tapi tetap saja, wajah Yunho saat ini... sangat lucu hihihi

"Ya! Kau bahagia sekali eoh? Tertawamu itu sangat keras hingga bisa menyakiti telingaku kau tau?" pekik Yunho tidak suka karena mendengar tawa Jaejoong yang sangat lepas

"Hahaha, kau tau, wajahmu sangat lucu tadi"

"Aku memang lucu, dan tampan, dan mempesona. Jangan tertawa karena aneh dengan wajahku!" gertak Yunho masih dengan rona merah diwajahnya

"Aish, aku bodoh sekali berbicara dengannya, aish seharusnya aku tutup mulut saja saat bersamanya, aish aku malu sekali..."

"Hahaha, ne, maafkan aku ne? Ah ya, terimakasih juga, karena kau membelikan makanan untuk Jiji"

"Yah, sama-sama. Setelah ini jangan bicara padaku lagi oke? Aish, aku malu sekali..." kata Yunho masih menahan malunya lagi berjalan meninggalkan sosok Jaejoong yang tengah berdiri kebingungan dibelakangnya.

Jaejoong berusaha mengikuti langkah Yunho hingga sebuah degup menyerang dadanya dan membuatnya merasa sakit. sebagai sebuah roh, tentu saja degupan tersebut sangat asing untuk dialaminya. Apakah ini... akan berarti sesuatu?

.RememberMe?.

"Ingat aku? Aku adalah teman sekantormu dulu, Jung Yunho" sapa seorang gadis dengan riang kala melihat seorang yang tidak asing berada di sekitar area kerjanya

Yunho kini tengah berada disebuah tempat perbelanjaan besar untuk membeli stok pakaian untuk dirumahnya selama ia tinggal sendirian. Tidak ia sangka ditempat seperti ini ia akan menemui sosok yeoja yang tampak asing diwajahnya namun mengaku bahwa ia adalah teman yang sangat dekat dengannya.

Yunho hanya tersenyum kaku karena menatapi wajah yang tidak familiar baginya. "Ah, maaf aku..."

"Ah, pasti karena kecelakaanmu saat itu kau melupakanku yah? Aigoo itu menyakitkanku..." kata gadis itu lagi sambil memasang ekspresi kecewa

"Ah, maafkan aku" kata Yunho tidak enak

"Hem, tidak apa, aku memakluminya" kata gadis itu lagi sambil kemudian tersenyum lagi dan memandang Yunho dengan tatapan penuh arti

"Ah, kau bilang tadi siapa namamu?" tanya Yunho lagi sambil mengulurkan tangannya

"Fanny, Tiffany Hwang" kata gadis itu sambil menjabat tangan Yunho

Jantung Yunho berdebar cukup kencang kini, seakan perasaan kala Fanny menggenggam tangannya bukanlah perasaan yang asing baginya dan itu berarti Fanny memang seseorang dari masa lalunya. Tapi sedikit dahinya menyernyit kala debaran yang dirasakannya cukup menyakitkan dadanya. Apakah ini berarti Fanny sempat menyakitinya?

"Em... Fanny ah,"

"Ne?"

"Apa hubungan kita dulu?"

.

"Hah? Apa hubungan aku dengan Yunho dulu?" pekik Jaejoong kaget saat mendengar pertanyaan Yoochun yang sangat tiba-tiba

"Kenapa kau sekaget itu hum? Aku kan Cuma bertanya" kata Yoochun membela diri

"Kenapa kau bertanya seperti itu huh? Jelas itu membuatku kaget!" pekik Jaejoong masih diantara kekagetannya

"Aku hanya penasaran, kenapa Yunho, si penakut itu hanya bisa melihatmu? Dan dia hanya bisa melihatmu padahal banyak makhluk menakutkan lain disekelilingnya yang bahkan tidak bisa aku banyangkan! Aish, intinya aku hanya penasaran"

Jaejoong terdiam mendengar pernyataan Yoochun. Yoochun pasti memang akan curiga, tapi ia tidak menyangka bahwa Yoochun akan menginterogasinya secepat ini. Haruskah ia memberitahu semuanya pada namja ini? Haruskah?

"Aku... A-Aku kehilangan sedikit ingatanku. Aku juga tidak tau kenapa dia bisa melihatku. Ah, kau juga bisa melihatku bukan? Kenapa? kenapa kau bisa melihatku dan melihat hal-hal aneh hum? Mungkin ia pernah mengalami hal yang sama dengamu!" kata Jaejoong penuh alasan

"Aku dan dia memang pernah mengalami hal yang sama. Kami pernah sama-sama hampir menuju kematian tapi kami selamat. Aku bisa memang bisa melihatmu, tapi aku juga bisa melihat hal yang Yunho tidak bisa lihat lainnya, sementara Yunho hanya bisa melihatmu tapi tidak dengan sosok menakutkan lainnya. Kenapa? kenapa itu bisa terjadi hum? Itu berarti kalian memiliki sesuatu kan?" kata Yoochun tidak mau kalah

"Ya! Aku bahkan baru mengenalmu sebentar dan kau berani bicara seperti ini padaku, apa maumu hah?" pekik Jaejoong berusaha mengubah arah pembicaraan

"Aku hanya mau jawaban, Kim Jaejoong! Kenapa Jung Yunho? Kenapa dia?" kata Yoochun masih tidak mau kalah

Jaejoong hanya membuka mulutnya leba-lebar sambil menghela nafasnya keras. Kembali Jaejoong mengambil nafasnya dengan panjang dan menghembuskannya. Ia tidak bisa melawan namja yang sama-sama keras kepala seperti dirinya ini. Bagaimanapun juga, Yoochun juga bukan orang bodoh yang dapat diberi berbagai macam alasan hingga membuatnya menyerah. Mungkin memang sudah saatnya Jaejoong menjelaskan keadaan yang sebenarnya

"Kau benar-benar ingin tau kenapa Jung Yunho bisa melihatku?" kata Jaejoong menyerah sementara Yoochun menganggukan kepalanya pasti

"Jung Yunho, dia, adalah orang yang telah membuatku seperti ini"

"Janji yang diceritakannya saat itu, benar-benar terbuat, dan kini setelah ia sembuh, aku hanya ingin menagihnya"

Yoochun terdiam. Ia mencoba memahami apa yang dimaksud Jaejoong dengan membuatnya menjadi seperti itu. Menjadi roh, menjadi sosok yang tidak memiliki perasaan dan dingin. Menjadi sosok yang tidak tersentuh bahkan terlihat. Perlahan sebuah kenyataan menghantam kepalanya.

"Tunggu dulu, maksudmu membuatmu..." Yoochun mencoba memastikan dirinya tentang apa yang ada dipikirannya saat ini

"Yunho adalah orang yang menabrakku saat itu"

.RememberMe?.

"Ah... jadi hubungan kita seperti itu yah?" kata Yunho sambil meneguk jus beri didepannya

"Aku memaklumi bila kau tidak mengingat semuanya, tapi aku senang kau menanyakan hal itu" kata Fanny sambil memperlihatkan senyum bulan sabitnya

"Maaf, aku tidak mengira hubungan kita akan seserius itu, kau tau, sekarang aku mengerti kenapa jantungku bergetar sangat keras saat bersentuhan tangan denganmu" kata Yunho lagi dengan senyum kakunya

"Yah, sayang sekali semuanya harus berakhir dengan tidak begitu baik, tapi aku senang kau tidak mengingat bagaimana itu berakhir. Jika aku jadi kau aku pasti akan sangat bersyukur karena tidak dapat mengingat hal itu"

"Heum, benarkah? Tapi aku jadi sangat penasaran bagaimana semuanya berakhir hehe. Aku ini orang yang mudah penasaran kau tau? Hehe"

"Aku tau, dan itu sama sekali tidak berubah darimu dulu. Hem, Yunho ah... maukah kau... memberikanku kesempatan kedua?"

"Hm?"

"Bolehkah aku... menjadi kekasihmu lagi?"

TBC

A/N : Halloo semuanya. Maafkan atas keterlambatan. Sangat terlambatan publishnyaaaa. Karena banyak urusan yang harus diselesaikan disana dan disini /sok sibuk/ dan membuat pembuatan ff ini terganggu. Selain itu maaf kalau ff ini tidak sesuai harapan kalian karena memang agak buru-buru mengetiknya dan juga cukup sulit nulis ff seperti ini hehehe.

Cindy tau banyak kekurangan di ff ini, dan sangat butuh kritik dan saran kalian semua agar lebih baik lagi di next chapter. Terimakasih semuanya, dan mohon bantuannya J