© angstgoddess003

.


.

Baekhyun POV

Mimpiku kali ini sama dengan mimpi buruk yang kualami minggu lalu. Aku bersembunyi di dalam lemari. Dia selalu bisa menemukanku, tidak peduli setenang apa aku bersembunyi.

Aku terbangun dan kaget, jatuh dari kursiku ke lantai yang dingin dan keras. Aku mendengar suara jeritan yang paling mengerikan, dan secara naluriah aku menutup telinga untuk melindungi diriku dari teriakan yang begitu nyaring ini. Butuh waktu beberapa saat sebelum aku menyadari jeritan itu berasal dari bibirku, dan aku langsung menutup mulutku dalam sekejap. Dan kemudian aku sadar aku masih berada di dalam kelas Biologi.

Saat aku melihat sekeliling kelas, semua orang terpaku menatapku. Aku terbaring di lantai. Satu-satunya suara yang terdengar di dalam ruangan ini adalah suara napasku yang terengah-engah.

Aku duduk gemetaran dan terdiam, mencoba untuk menenangkan napasku, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apa aku harus berlari dari sini? Apa aku harus meminta maaf? Apa ada cara untuk keluar dari situasi ini dengan mengorbankan sedikit harga diriku?

Aku tahu semua jawaban dari pertanyaanku tidak ada yang pasti. Jadi, aku perlahan-lahan mengangkat tubuhku dari lantai, dan mengambil kursi laboratoriumku yang tidak sengaja kujatuhkan saat panik.

Jung Daehyun duduk di dua meja, di depanku. Dia menatapku, mulutnya menganga lebar. Semua orang sepertinya juga memperlihatkan ekspresi yang sama, dan aku merasa terdorong untuk mengatakan sesuatu... apa pun itu. Tapi, aku benar-benar membeku, berdiri di sini sambil memegang kursi laboratoriumku.

Aku cukup yakin sekarang wajahku sudah memerah menahan malu. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap ke sekeliling ruangan.

Dan akhirnya, Sooyoung seonsaengnim berdeham.

Aku menatapnya sambil diam-diam memohon dengan mataku—untuk apa? Aku juga tidak tahu. Dia membuka mulutnya, seakan ingin mengucapkan sesuatu, dan kemudian dia kembali menutup mulutnya. Dia melakukan ini sebanyak empat kali sebelum akhirnya bicara.

"Byun-ssi, apa kau ingin keluar kelas lebih dulu?" tanyanya pelan, aku hampir tidak mendengar ucapannya.

Aku tidak yakin mulutku bisa mengeluarkan suara sekarang, aku hanya mengangguk kencang dan melepaskan peganganku dari kursi laboratorium untuk mengambil tas. Tanpa menunggu apa-apa lagi, aku langsung bergegas keluar ruangan sambil menundukan kepala.

Setelah berada di luar, aku terjatuh di atas rumput. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri, aku tidak peduli dengan gerimis yang turun. Aku duduk di sana, mengulangi kejadian yang menimpaku dalam hati. Aku masih berharap agar tidak ada seorang pun yang memerhatikanku tadi.

Sambil mengerang, aku berdiri dan berjalan ke mobil Luhan, menunggunya sampai dia datang. Tidak mungkin aku bisa mengikuti pelajaran olah raga hari ini.

Aku tidak tahu Luhan sudah mendengar tentang insiden di kelas Biologi tadi atau belum, tapi kalau dia tahu, dia tidak bilang apa-apa saat masuk ke dalam mobil. Aku merasa bersyukur.

Dalam perjalanan pulang, dia terus-terusan bicara tentang seorang laki-laki yang ditaksirnya di kelas Sejarah. Namanya Sehun. Dia sudah mencuri-curi pandang dengan Sehun, dan dia pikir entah Sehun juga menyukainya atau dia hanya melihat sesuatu yang aneh di wajahnya setelah makan siang.

"Maksudku, kantin kita menyediakan pizza hari ini, dan sausnya bisa tumpah kalau kau tidak hati-hati. Aku harus pergi ke kamar kecil sebelum ke kelas! Kalau ada sesuatu di wajahku saat makan siang, kau akan memberitahuku, kan?"

Dia menatapku dengan gugup dari tempat duduknya sambil terus mengoceh. Dia tidak memberiku kesempatan untuk menjawab, tentu saja.

"Oh, Tuhan! Dia mungkin mengira aku ini jorok!" Dia mengerang.

Aku memutar mataku. "Dia tidak mungkin berpikir kau ini jorok, Luhan. Kau konyol."

Aku bicara dengan suara monoton. Dia selalu seperti ini setiap hari, selalu berpikir laki-laki ini benar-benar jatuh cinta padanya, atau benar-benar jijik dengannya, dan Luhan selalu memutuskan pilihan terakhir sebagai jawabannya.

Melihat tatapan skeptisnya, aku langsung menambahkan, "Lagi pula, aku juga melihatmu setelah makan siang tadi dan kau benar-benar terlihat sempurna," ucapku berbohong.

Aku tidak pernah memerhatikan kejadian di sekolah, apalagi penampilan seseorang. Dia sedikit rileks setelah mendengar komentarku.

"Oke, mungkin kau benar. Dan aku harap dia datang ke pesta Kris malam ini. Aku akan membuat diriku terlihat seratus persen tidak tertahankan. Aku punya sepotong gaun hijau yang cantik dan aku sudah tidak sabar untuk memakainya..." dia terus mengoceh, lebih bersemangat sekarang karena dia mengganti topik pembicaraan ke salah satu topik favoritnya yang lain; pakaian.

Aku mengerang dalam hati saat membayangkan harus ikut ke pesta ini. Setelah aksiku hari ini, tidak mungkin aku bisa menjalankan rencana "datang, bicara dengan Jessica, lalu pulang" tanpa menarik perhatian orang lain. Tapi, aku mendorong pikiran ini jauh-jauh, karena aku tahu Luhan tidak mungkin membiarkanku membatalkan janjiku.

Setelah kami sampai di rumah, Luhan mulai menjelajahi lemarinya, berusaha mati-matian untuk menemukan "Gaun Hijau Sempurna"-nya, selagi aku memasak makan malam. Bibi Irene akan keluar malam ini, jadi Luhan dan aku makan sendirian di dapur. Dia mengoceh tentang aksesori. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana jadinya kalau laki-laki bernama Sehun ini tidak muncul di pesta Kris.

"Jadi..." ucap Luhan perlahan sambil dorongan makanan masuk ke dalam mulutnya dengan garpu, "Kau... eh... mau pakai apa?" dia mencoba terlihat santai saat mengunyah sepotong brokoli. Aku tahu persis ke mana arah pembicaraan ini dan memutuskan untuk menghentikannya sebelum berlarut-larut.

"Jangan mulai, Luhan," ucapku tegas. "Aku akan memakai pakaianku yang sekarang, dan aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang ini. Titik. Kau beruntung aku mau ikut ke pesta ini," gumamku pelan saat menyebutkan kalimat terakhir, aku harap dia tidak mendengarnya.

Aku tahu dia ingin membantah ucapanku, dan aku memuji pengendalian dirinya karena dia tidak jadi melakukannya. Aku tahu butuh banyak kesabaran untuk menghadapiku. Kami kemudian melanjutkan makan malam sambil mengobrol ringan. Sejujurnya, Luhan yang bicara banyak, dan aku kebanyakan hanya mendengar ucapannya.

Pada jam sepuluh malam tepat, penampilan Luhan sudah seperti wanita yang akan melakukan pemotretan majalah Vogue, dan bukan ke pesta rumahan anak SMA. Aku tetap memegang kata-kataku tentang memakai pakaian yang sama dengan pakaianku ke sekolah tadi pagi.

Kami berjalan meninggalkan rumah, dengan sepatu hak tinggi seharga tiga ratus ribu won, Luhan melangkah dengan pasti menuju rumah tetangga. Aku hanya tahu sedikit tentang Keluarga Park dari Luhan. Park Bogum adalah seorang dokter "keren" yang memiliki dua orang anak angkat, Kris, dan seorang anak laki-laki lain yang belum pernah kutemui sebelumnya. Chanyal, atau Chanyeol atau siapa pun namanya.

Luhan tidak menceritakan banyak hal tentang laki-laki ini, karena Sehun adalah sahabatnya, dan tentu saja percakapan tentang laki-laki ini tidak pernah berlangsung cukup lama karena Luhan sepertinya tidak bisa menyebut nama Sehun tanpa merasa ingin pingsan.

Aku sempat berpikir untuk menemui laki-laki bernama Sehun ini dan memohon belas kasihannya. Apa kau akan mati kalau bicara sedikit saja dengan gadis malang bermata rusa ini?

Lamunanku terusik saat musik keras terdengar dari rumah bercat putih dan besar di depanku. Luhan sangat gembira, dan aku sempat berpikir dia mengidap aneurisma. Dia berjalan di depanku dan menghilang ke dalam rumah, pintu dibiarkan terbuka untuk para tamu.

Tidak banyak orang yang berada di luar. Aku mengambil kesempatan ini untuk menenangkan diriku sebelum mengikuti Luhan. Naikan hoodie, tundukan kepala. Aku mengucapkannya berulang-ulang kali dalam hati. Dengan sebuah tarikan napas panjang, aku menaikan hoodie-ku dan berjalan melewati pintu.

Ada beberapa kerumunan orang di sini, tapi tidak separah yang kupikirkan. Aku melihat seorang gadis dari kelas Trigonometriku berdiri di dekat jendela sambil mengulum bibir seorang laki-laki yang tidak kukenal. Aku rasa namanya Windy, atau Wendy atau apalah itu. Aku benar-benar payah mengingat nama seseorang.

Aku berlari melewati sesi cumbuan mereka, dan berjalan semakin jauh, memasuki rumah untuk mencari Jessica. Setelah aku sampai di ruang tengah, aku langsung mendengar suara Kris yang berteriak pada seseorang untuk jangan muntah di karpet.

Aku sedang mencari-cari sumber suaranya, karena aku pikir Jessica akan berada di dekat Kris, saat aku mendengar seseorang memanggil namaku.

"BAEKHYUN!" Daehyun berdiri di sudut ruangan bersama beberapa orang lainnya dan dia melambaikan tangannya dengan penuh semangat padaku. Aku mengerang dan terus menunduk sambil berharap dia akan berpikir aku tidak bisa mendengar suaranya karena musik rap keras yang sedang dimainkan, dan mudah-mudahan saja dia langsung menyerah.

Aku salah.

Dia mulai berjalan terseret-seret, mengotori ruang tengah, menabrakan bahunya dengan beberapa orang perempuan dan membuat minuman mereka tumpah. Tapi, dia terus berjalan ke arahku. Saat dia berada sekitar sepuluh kaki dariku, aku benar-benar mulai panik dan mencari jalan untuk kabur. Aku rasa Daehyun sedang mabuk dan dia akan meraba-raba perempuan lebih sering dari biasanya—aku tidak ingin mengambil risiko ini.

Sayangnya, saat aku berbalik, aku melihat sekelompok orang memblokir pintu dan aku tidak bisa berjalan melewati mereka. Aku menoleh ke sebelah kanan dan melihat tangga yang mengarah ke lantai dua rumah ini, dan sepertinya tidak ada orang di atas. Aku tidak punya pilihan lain, aku melesat menaiki tangga.

Aku masih bisa mendengar suara Daehyun di belakangku, memanggil namaku. Aku terus berlari, menelusuri lorong di lantai dua. Aku mencapai pintu terakhir di sana dan berusaha untuk membukanya, tapi pintunya terkunci. Aku kemudian melihat tangga lain yang mengarah ke lantai paling atas rumah ini, aku terus berlari menaikinya dan terus berjalan sampai aku tidak dapat menemukan tempat untuk berlari lagi.

"BAEKHYUN! KE MANA KAU?!" Daehyun masih memanggilku dari bawah tangga. Suaranya terdengar tidak jelas, sekarang aku yakin dia mabuk.

Aku kembali panik saat suaranya dengan cepat terdengar mendekat, aku berhadapan dengan satu-satunya pintu yang bisa kulihat dan mencoba untuk membukanya. Tidak terkunci. Aku membuka pintu lalu menutupnya sepelan mungkin, dan menyandarkan keningku di sana.

Napasku terengah-engah dan sedikit gemetaran sekarang. Aku berusaha untuk menenangkan napasku sambil memejamkan mata, seraya berusaha mendengarkan suara Daehyun. Tanganku yang gemetaran masih memegang kenop pintu. Setelah beberapa saat kemudian, aku menguncinya, dan sedikit berjalan mundur.

Saat aku tidak mendengar suara apa-apa lagi di luar pintu, aku menghela napas lega, dan kembali memejamkan mata. Saat itu, seseorang di belakangku berdeham. Aku melompat kaget dan berbalik, menghantam punggungku ke pintu. Aku terkesiap dan secara naluriah menutup mulutku dengan tangan.

Ada seorang laki-laki duduk bersila di tempat tidurnya yang besar, dia sepertinya seumuran denganku. Rambutnya bewarna gelap dan acak-acakan, kulitnya pucat seperti kulitku, dan yang sangat mengejutkan adalah aku bisa melihat sepasang lingkaran hitam berada tepat di bawah matanya yang memerah.

Sepertinya lelah yang dia rasakan juga sama sepertiku, dan dia sangat... tampan?

Ya, dia tampan.

Ini adalah salah satu saat di mana aku harap aku bisa lebih dekat dengan laki-laki, karena dia sangat tampan, hampir tidak manusiawi.

Dia duduk di sana sambil menatapku curiga, alisnya terangkat. Aku tertegun sesaat sebelum menyadari ini pasti kamarnya, dan aku adalah penyusup.

"Oh, Tuhan... Aku minta maaf... aku t-tidak tahu... aku hanya m-mencoba..." ucapku tergagap, gagal untuk menjelaskan alasan kehadiranku di sini. Aku menghela napas dalam-dalam dan mengalihkan tatapanku.

"Oh, tidak apa-apa, tidak masalah. Perempuan selalu tersesat ke kamarku untuk melampiaskan guncangan mental aneh mereka." Dia menyeringai.

Guncangan Mental Aneh? pikirku pahit. Kau benar. Aku memasang wajah meminta maaf terbaikku dan kembali mencoba untuk menjelaskan alasan kehadiranku di sini. Jantungku masih berdegup cepat, dan aku masih sedikit gemetaran karena kaget melihat ada orang asing di sini.

"Aku hanya mencoba untuk menjauh dari seorang laki-laki, dia terus mengikutiku, dan aku berlari menaiki tangga, tapi pintunya terkunci, jadi aku kembali berlari menaiki tangga, dan dia masih mengikuti, jadi aku datang ke sini," aku mengoceh dengan nada tinggi.

Aku berhenti sesaat, mencoba untuk memahami ekspresinya yang terlihat geli. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan menghembuskannya perlahan.

"Aku minta maaf sudah mengganggumu," ucapku tulus.

Aku berbalik pergi tanpa menunggu jawabannya, tapi kemudian aku mendengar suara di balik pintu yang membuat tanganku membeku di kenop.

"BAEKHYUN!" Aku bisa mendengar teriakan Daehyun di lorong.

Aku berdiri di sana sejenak, mendengar Daehyun mengulangi namaku sebelum aku berbalik perlahan dan laki-laki yang berada di kamar ini bersamaku sedang melihat pintu dengan ekspresi frustasi sekaligus tertarik.

"Kau bersembunyi dari Jung," ujarnya.

Tatapanku bertemu dengan tatapan matanya yang lelah dan mengangguk pelan. Dia kemudian tertawa kecil. Aku merasa tidak nyaman berada di kamar seorang laki-laki asing, tidak peduli dia tampan atau tidak, tapi aku juga tidak bisa kembali keluar karena Daehyun sedang menungguku. Aku punya pilihan untuk meninggalkan ruangan ini dan berhadapan dengan Jung Daehyun yang mabuk berat atau tinggal di sini sampai Daehyun pergi, dan kemudian harus kembali berhadapan dengan orang asing ini. Aku cepat-cepat memutuskan pilihan.

"Umm..." aku mulai bicara, memohon padanya dengan mataku, "Apa kau keberatan... kalau mungkin, kalau aku menunggu di sini sampai Daehyun pergi?" tanyaku berbisik, menggigit bibir bawahku.

Matanya menatapku, lalu menatap pintu dan kembali menatapku dengan alis berkerut.

Setelah beberapa saat penuh kebingungan, dia akhirnya menghela napas berat. "Ya, aku tidak keberatan," ucapnya mengalah. "Tapi, jangan rusak apapun yang ada di sini," dia memperingatkanku dengan suara keras.

Aku mengangguk cepat, dan dia kembali mengalihkan perhatiannya ke buku sketsanya, atau jurnal di atas pangkuannya. Aku melihat ke sekeliling kamarnya yang luas.

Tempat tidurnya terletak di sebelah kananku, memenuhi setengah ruangan. Di dekat dinding sebelah kiri, terdapat sofa kulit bewarna hitam dan rak buku di ujungnya. Di depanku terdapat jendela berukuran besar dan sepasang pintu kaca di tengahnya yang mengarah ke teras. Kamar ini sedikit berantakan, ada beberapa potong pakaian terletak di atas sofa dan tempat tidur, dan beberapa buah buku di lantai, tapi ini semua tidak begitu parah.

"Jadi, siapa namamu?" suaranya membuyarkan lamunanku.

Aku berbalik melihatnya, keningnya sedikit berkerut, berkonsentrasi pada buku yang ada di pangkuannya, pensilnya bergerak-gerak dengan lincah.

"Byun Baekhyun," jawabku pelan.

Dia mengangguk, dan masih tidak mengalihkan pandangannya dari atas pangkuannya. Aku menunggunya untuk menyebutkan namanya, tapi dia tetap diam.

"Kau siapa?" tanyaku gelisah.

"Park Chanyeol," jawabnya singkat.

.


.

Chanyeol POV

Aku mendongak dari buku sketsaku dan melihatnya menggerak-gerakan lengannya dengan canggung dan memandang ke sekeliling ruangan. Aku memutuskan untuk benar-benar melihatnya sekarang.

Rambutnya coklat tua panjang, tentu saja, tapi aku sudah tahu ini. Pakaiannya sama dengan pakaian yang dia kenakan ke sekolah hari ini. Hoodie-nya masih terpasang, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya. Dia terlihat... menarik. Setidaknya, wajahnya terlihat menarik. Tapi, aku tidak bisa benar-benar memahami matanya.

Matanya lebar, sepasang lingkaran hitam berada di bawahnya, dan matanya terlihat datar, sedih... lelah. Dia terlihat hampir sama lelahnya denganku—tidak mungkin, pikirku.

Aku ingat dia tidur di kelas Biologi siang ini.

"Kau boleh duduk, kalau kau mau," ucapku sambil mengangkat alis dan menganggukkan kepalaku ke arah sofa.

Dia menatapku sebentar, dan kemudian dengan ragu berjalan ke dinding, di seberang tempat tidur tempat sofaku berada. Saat dia duduk, dia melipat lututnya ke dada dan memeluknya erat-erat. Aku meringis, melihat sepatu kotornya yang basah di sofa kulit baruku.

"Kalau kau ingin menaikan kakimu di sofa seharga lima juta won-ku, setidaknya tunjukan kesopananmu dengan melepas sepatu," bentakku.

Matanya melebar sebelum dia kembali berdiri dari sofa dan mulai membersihkan jejak sepatunya di sofa dengan panik.

"Oh, Tuhan, aku benar-benar minta maaf! Aku tidak sengaja! Maaf."

Dia terus meminta maaf selagi membersihkan sofa. Dia terlalu sering meminta maaf. Aku hampir merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Jangan khawatir," desahku.

Tangannya berhenti bergerak dan dia kembali berdiri tegak, memeriksa sofa. Setelah dia terlihat puas kulit sofaku tidak rusak, dia kembali duduk, kali ini kakinya tetap berada di lantai.

Aku kembali mengalihkan perhatianku ke buku sketsa selama beberapa menit. Saat aku kembali melihatnya, Baekhyun masih berada di tempat duduknya, tapi matanya sedang memeriksa rak buku di samping sofa dengan ekspresi tertarik? Apa dia senang membaca?

"Kau suka buku?" tanyaku dengan suara keras.

Kepalanya tersentak ke arahku dan mengangguk pelan, rona merah merambat naik ke pipinya, dia malu karena aku memergokinya mengerlingi koleksi bukuku.

Aku tertawa dalam hati. "Kau boleh melihatnya kalau kau mau," ucapku sambil menunjuk rak buku.

Matanya sedikit menyala, dan dia berdiri perlahan dan berjalan ke rak buku, matanya berkeliaran di antara judul buku. Koleksi bukuku lumayan banyak setelah pindah ke sini. Paman Bogum tidak pernah keberatan membelikanku buku.

Tangan Baekhyun terulur, seakan-akan dia ingin mengambil salah satu bukunya, tapi dia berhenti mendadak dan berbalik melihatku.

"Boleh aku membacanya?" tanyanya pelan, menunjuk ke sebuah buku.

Aku melambaikan tanganku, membuat gestur "Silakan..."

Dia mengambil sebuah buku dari rak dan membukanya, tangannya membelai pelan halaman pertama. Ya, dia memang suka buku.

Dia kembali berpindah ke sofa dan mulai membaca. Aku tidak bisa melihat buku apa yang sedang dibacanya, tapi dia terlihat sangat tenggelam dalam bacaannya, jadi aku kembali menggambar.

Hanya ada keheningan di sini, tapi yang anehnya, keheningan ini terasa nyaman. Suara musik dari lantai bawah sesekali terdengar di bawa udara mengiringiku menggambar.

Baekhyun tidak pernah mengangkat kepalanya dari buku yang sedang dibacanya, dan aku begitu terjebak dalam sketsaku, sampai-sampai aku tidak menyadari sketsaku sudah selesai dua jam kemudian. Aku lalu menatapnya. Dia begitu menikmati buku itu, dan meskipun bukunya sangat tebal, dia sudah selesai membaca setengahnya. Dan dia juga terlihat begitu lelah.

"Kau tahu," aku mulai bicara, memecah keheningan. Saat dia melihatku, aku kembali meneruskan ucapanku. "Aku berani bertaruh dua puluh ribu won, Jung sudah pingsan di atas muntahannya sendiri." Aku menyeringai.

"Oh," ucapnya seperti melalum, dan kemudian, "Oh, OH!" Dia menutup buku dan berdiri dengan cepat. "Aku minta maaf! Aku lupa waktu. Jujur saja, aku tidak bermaksud tidak sopan." Dia berjalan ke rak buku.

"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali, ini hanya..." Aku kemudian mengerutkan kening, aku bicara jujur, aku benar-benar tidak keberatan, dan aku tidak tahu alasannya. "Hanya saja, kau terlihat benar-benar lelah. Sebaiknya kau pulang dan tidur," ucapku tulus.

Dia kemudian berbalik setelah meletakan buku di rak, dan tertawa hambar. "Ya, aku sebaiknya pulang dan tidur." Ucapannya terdengar seperti sindiran.

Aku mengerutkan alis dan menatapnya bingung. Dia meringis dan menggeleng.

"Aku tidak mau benar-benar tertidur," ucapnya, dan saat aku menatapnya kaget, dia cepat-cepat menambahkan "Maksudku, aku mencoba untuk tidak tidur. Mimpi buruk," jelasnya lemah.

Dan sekarang itu semua masuk akal buatku. Wajah yang terlihat lelah, tertidur di sekolah, mimpi buruk di kelas Biologi hari ini. Dia tidak tidur. Sama sepertiku.

"Kau juga tidak tidur? Kau mencoba untuk tetap terjaga?" tanyaku heran. Matanya melebar dan wajahnya memucat. Lalu tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dengan bingung.

"Juga? Kau tidak tidur?" tanyanya pelan.

Aku tidak pernah benar-benar bercerita pada siapapun tentang masalah tidurku. Tapi, setelah kupikir-pikir, aku sebaiknya terbuka pada Baekhyun karena dia berada dalam situasi yang sama. Aku mengangguk pelan.

"Mimpi buruk?" bisiknya pelan. Aku sedikit terdiam, tidak menyukai istilah itu.

"Kau bisa menyebutnya begitu..." jawabku.

Dia menatapku paham. Jadi, dia mengerti maksudku? Kami berada di sini saling menatap dalam diam dan sama-sama paham sesulit apa untuk tetap terus terjaga. Ngomong-ngomong soal itu…

"Bagaimana cara kau melakukannya? Tetap terjaga?" tanyaku penasaran.

"Minum kopi, memasak, PR..." jawabnya lemah sambil mengangkat bahu. "Aku mencoba untuk tidur sebentar di sana-sini, di sekolah sebisaku, karena aku tidak akan bisa tidur lama di sana." Dia berhenti bicara, dan kemudian menggeleng. "Setidaknya, sampai siang tadi. Aku mungkin tidak akan pernah tidur lagi di sekolah," lanjutnya, menghindari tatapanku.

Aku merasa bersalah, ucapannya merujuk pada tidur siangnya di kelas Biologi hari ini, dan aku membiarkannya tidur begitu saja. Kalau 'mimpi buruk'-nya seperti mimipi burukku, dia pasti bangun dengan panik. Aku mengerutkan kening.

"Bagaimana kau melakukannya?" tanyanya, memiringkan sedikit kepalanya.

"Paman Bogum seorang dokter. Terkadang, aku mengambil obat dari lemarinya. Upper, kau tahu itu?"

Dia terlihat kaget dengan pembicaraan santaiku tentang penggunaan narkoba.

Aku mengangkat bahu. "Atau, aku membuat sketsa dan itu akan membuatku terjaga... karena berkonsentrasi," ucapku lagi, aku tidak ingin dia berpikir aku ini seorang pecandu narkoba. "Maksudku, kopi? Yang benar saja?" dengusku.

Dia bercanda? Apa kopi saja cukup untuk membuatnya terjaga? Bagaimana caranya? Dan tidur di sekolah? Aku tidak pernah berbuat kesalahan seperti itu.

Dia hanya mengangkat bahunya dan kemudian melihat ke arah pintu dan kembali melihatku, ragu-ragu. "Umm... aku sebaiknya pergi sekarang. Aku tidak ingin Luhan khawatir—tapi, terima kasih sudah membiarkanku bersembunyi di sini dari Daehyun." Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk seringaian.

Aku mengangguk dan tersenyum. Lagi pula, Byun Baekhyun juga tidak terlalu payah. Saat dia berjalan ke arah pintu, aku berpikir sejenak sebelum bertanya.

"Hei!" seruku memanggilnya.

Dia berbalik dan menatapku penuh tanya.

"Kau tahu gazebo yang ada di belakang sana?" pertanyaanku mengacu pada gazebo tertutup yang dibuat oleh Paman Bogum dan Bibi Irene, Ibu Luhan, untuk membatasi area tanah.

Baekhyun mengangguk, dan aku meneruskan ucapanku. "Kadang-kadang, di malam hari, aku pergi ke sana. Udara dingin membantuku untuk tetap terjaga." Aku berhenti bicara sejenak, memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk bertanya. "Mungkin aku akan bertemu denganmu di sana, kapan-kapan," ucapku santai.

Mata Baekhyun sedikit menyala, dan dia mengangguk sambil tersenyum, sebelum membuka pintu, dan berjalan keluar dari kamarku.

Aku akan pergi ke gazebo besok malam. Membayangkan ada seseorang sebagai teman bicara di malam hari membuatku ingin pergi ke sana. Dan aku juga sangat tertarik untuk mengenal Baekhyun. Senang sekali rasanya—dan untuk pertama kalinya—tidak merasa sendirian.

.


.

Baekhyun POV

Chanyeol-ssi benar. Daehyun pingsan di atas tumpukan muntahannya sendiri... dia terbaring di kamar mandi lantai dua dengan pintu terbuka lebar.

Dua puluh ribu won-ku melayang, pikirku.

Aku melihat Daehyun lebih dekat dan hidungnya berdarah. Sepertinya dia menghantam wastafel saat jatuh pingsan. Diam-diam, aku berjalan menuruni tangga, menghindari orang-orang yang masih sadar, dan menyelinap ke teras depan.

Aku berjalan keluar dari rumah Keluarga Park dengan semangat, dan berjalan pulang sambil kembali menghirup udara berkabut dalam-dalam. Malam ini berakhir dengan menyenangkan.

Chanyeol-ssi memang sedikit kasar—dan mudah marah, tapi aku tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentangnya. Aku tidak setuju dengannya menggunakan narkoba untuk tetap terjaga, tapi memangnya aku siapa? Aku tahu betapa sulitnya untuk bisa tetap terjaga.

Saat sampai di rumah, aku melihat Luhan sudah tertidur di kamarnya, dia masih mengenakan gaun hijaunya. Aku tersenyum sendiri sambil berharap dia bertemu dengan Sehun malam ini dan berjalan ke kamarku untuk mengganti pakaian.

Dengan ragu, aku memegang kenop pintu kamarku. Aku harus berani, dan mulai mengutuk diriku sendiri karena tidak mengganti pakaian dari awal. Aku membuka pintu, dan berlari ke laci tempat pakaianku tersimpan secepat mungkin. Aku mengambil pakaian pertama yang bisa kutemukan dan melesat keluar dari kamar menuju dapur tanpa melihat ke belakang.

Sambil terengah-engah cemas, aku mendadak mendapat inspirasi untuk resep kueku. Setelah mengganti pakaian, aku langsung membuat adonan untuk Bloody Jungs. Saat aku mencampurkan raspberry dengan adonan lain, aku kembali teringat dengan Park Chanyeol. Aku akan pergi ke gazebo besok malam, dan aku harap dia akan berada di sana.

I'm gonna run to you

I'm gonna run to you

Cause when the feelin's right I'm gonna run all night

I'm gonna run to you

-Run to You, Bryan Adams

.


.

tbc