Diclaimer dulu ya….. ^_^
KnB punya Fujimaki Tadatoshi semata. Soalnya kalo punya Kasumi ceritanya bakalan ngawur sengawur ngawurnya *Izuki: kitakore! (Kasumi:Woy! Itu aku yang bikin kalimatnya!)*
Kali ini makai Hyuuga's Point of View
Daruku chap 2
.
.
"Kora! Izuki! Buku leluconmu!" (1)
"Oh. Gomen-gomen."
Mattaku! Sejak pembersihan loker dulu hingga sekarang, Cuma isi loker Izuki sajalah yang selalu sama. Aku hanya bisa menghela napas. Image keras yang telah kubangun hancur sudah melihat tingkah laku teman-teman yang tidak menunjukkan sikap seorang Senpai di mata para anak basket kelas satu. (2)
Terutama Izuki. Masih dengan 'Hai sukura wa hai sukoru' serta 'Kitakore'-nya yang membuat anak kelas satu malah sweatdrop. Sejak dulu aku berpikir, mananya yang lucu? (3)
Kuperhatikan lagi Izuki yang malah sibuk membawa barang-barangnya yang berupa buku koleksi pantun dan leluconnya. Sejak kecil kami memang selalu bersama. Aku tidak menyangka kalau Izuki memiliki perubahan yang cukup pesat. Mungkin karena aku yang selalu bersamanya.
Namun entah kenapa perasaan untuk memiliki mulai muncul ketika kami menginjak kelas dua. Hingga saat ini aku hanya menganggap kalau perasaan ini hanya sebatas memiliki saudara yang semenjak dahulu berusaha untuk kulindungi dan melindungiku.
Apakah benar aku memperhatikannya hanya karena kami teman semasa kecil?
Ataukah ini hanyalah ulah dari sifatku yang mudah menyukai sesuatu?
Ataukah…
Ah, tidak mungkin. Kemungkinan besar adalah aku yang telah dekat dengannya. Kalau itu terjadi,maka seisi dunia akan gempar.
Kualihkan perhatianku pada Momoi-san yang sedang mengunjungi Kuroko bersama Aomine. Kuperhatikan secara detil dan akhirnya aku menyadari kalau aku masih menyukai wanita. Bagaimana mungkin aku bisa menyukai Izuki?
Dia laki-laki. Dan keluarganya pun masih memegang adat tradisi dengan kuat. Meskipun agak mulai luntur, setidaknya aku tidak bisa membayangkan kalau aku dan Izuki berpacaran. Kami berdua dituntut untuk memiliki keturunan bukan?
Dan hubunganku dengannya…
Sama sekali jauh dari kata normal.
Lagipula, aku juga memikirkan bagaimana reaksi Izuki. Tentu saja dia akan menolakku ujung-ujungnya. Namun, semakin aku memalingkan mataku darinya, semakin besar juga hasrat untuk selalu memandangnya. Selalu memperhatikannya, selalu menjaganya…
Mungkin saja Izuki telah berubah statusnya dari seorang teman menjadi seorang adik di mataku. Ya, itulah yang ingin kuyakini dan kupercayai.
Ingin kuyakini dan kupercayai….
Benarkah?
Aku masih ragu….
Bruak!
"Itte…"
"Hwaduoh!"
"….."
"Kiyoshi-senpai! Jempolku!"
"Kagami! Jariku penyet!"
"Uwaaaaa…..! aku bakalan botak!"
"Kau sudah botak!"
Yang kulihat sekarang adalah setumpuk manusia yang terbentuk akibat Izuki yang tersandung sesuatu yang ujung-ujungnya menabrak Koganei yang bercanda ria sambil tidak menyadari kalau ada Izuki di belakangnya yang berjalan memunggunginya.
Dan buku-buku setinggi anak berumur tiga tahun pun tumpah ruah. Salah satu dari buku meluncur dengan lancarnya di hadapan Kagami yang baru saja keluar dari shower. Dan dengan suksesnya membuat si penggila Majiba itu terpeleset bak bowling yang melesat cepat.
Namun aku tidak menemukan Izuki disana…
"Omae ra! Cepatlah menyingkir!" ucapku sambil mengangkat Kiyoshi dan mengulurkan tangan pada Koganei. Semuanya akhirnya menyadari kalau yang berada di bawah adalah Izuki. (4)
"Cepat minggir! Beri ruang!" ucap Kiyoshi sambil menghadang yang lain. Dia mempersilahkanku untuk maju dan menggoncang-goncangkan tubuh Izuki. Izuki sendiri terlihat sesak napas. Namun itu tidak mungkin bukan?
"Izuki! Izuki!"
"Nandai? Ha!" (5)
Izuki dengan cepat menyingkir dariku. Aku hanya bisa mundur perlahan. Sedangkan Mitobe membantu Izuki untuk bangun. Matanya yang tidak focus cukup memberikan penjelasan kalau ada bintang yang berputar-putar di atas kepalanya.
Dan ternyata bukan bintang, melainkan nyamuk yang berterbangan.
"Entah kenapa aku merasa kalau Izuki-senpai menghindari Hyuuga-senpai bak virus…." Ucap Kuroko dengan nada flat-nya.
Benarkah?
Kenapa kau menghindar?
Apa ada yang salah?
Apakah perasaanku yang tidak jelas ini telah terdeteksi oleh dirimu?
Kalau begitu, gomen na…
Aku akan selalu mengubur perasaan ini. Aku berjanji asalkan kau tidak menghindariku lagi. Aku hanya ingin agar di sisa tahun ajaran ini kita semua tidak terpisah satu sama lain….
"Wa-Wari na," ucapku akward pada Izuki. Dan inilah pertama kalinya kami berinteraksi seperti ini. aku segera mengalihkan perhatianku pada yang lain. (6)
"Daijoubu? Izuki-kun?" (7)
"Maa…. Nantouka." (8)
"Izuki-senpai tidak biasanya tidak melihat sekelilingnya."
"Woah! Kuroko! Kitakore!"
"Jangan lupa hak ciptanya ya Izuki-senpai."
"Hidoi na….." (9)
"Jangan bilang kalau Eagle eye-nya Izuki karatan."
"Ini mata, bukan property dari logam,Koganei!"
"Tapi kalau dipikir-pikir, benar juga kata Kuroko. Izuki-senpai, apakah gara-gara Winter cup dulu akhirnya…."
"Ie ie….Kagami. Aku hanya tidak menggunakannya ketika sedang santai."
"Jadi Eagle eye-nya bisa di turn off dan turn on gitu?"
"Kagami! Itu mata! Bukan barang eletronik!" ucapku sambil menuding-nuding mata Izuki dan mengarahkan pandanganku pada Kagami yang dalam pose berpikir.
"Hyuuuuuuuuggggaaaaaa! Mataku kecolok!"
.
.
.
"Nah, kalian yang merasa bisa dan kuat, bentuk tim dengan isi 5 orang. Dan tidak boleh berpasangan dengan anak kelas dua! Lalu maju dan bertandinglah dengan kami! Muahahahahaha!" ucapku sambil menuding-nuding anak kelas satu yang sedang ketakutan. Dan akhirnya aku menyadari kebodohanku…
Anak kelas satu yang masuk dalam klub basket jumlahnya hanya 5 orang….
Semiskin itukah minat basket di SMA ini?
Ya Tuhan….
Aku melirik ke arah Izuki. Aku yakin sekali kalau dirinya memperhatikanku dan menoleh ke arah lain ketika aku mencoba untuk kontak mata dengannya. Ada apa?
Aku segera menoleh ke depan ketika anak kelas satu sudah siap. Kami menempati posisi kami masing-masing. Ini adalah pertandingan terakhir kami. Dan aku harus merelakan jabatan seorang kapten pada Fukuda.
Namun setidaknya kami ingin sekali bernostalgia. Lagipula, si Riko itu sudah ada penerusnya yakni anak kelas satu yang begitu antusiastik. Sikapnya sama ketika dalam pertandingan. Namun kemampuannya malah mirip dengan sang manajer klub basket Touo. Momoi-san.
Kami memang memiliki seorang pelatih tetap sekarang. Namun entah kenapa si Riko malah menginginkan ini. Mungkin sebagai nostalgia ketika dirinya kelas satu dulu. Kami siswa kelas tiga masih dipandu Riko untuk strategi, sedangkan siswa kelas 1 dipandu oleh si Misa yang seorang bakal manager klub basket Seirin. Sang pelatih hanya mengangguk dan mengawasi dari bangku cadangan.
Piiittt!
Dan pertandingan pun dimulai.
Dan point guard dari kelas satu cukup kewalahan ketika berusaha untuk melewati Izuki. Izuki ternyata makin tajam saja Eagle eye-nya. Semoga saja kemampuan itu tidak menghilang begitu saja ketika dirinya menginjak bangku kuliah.
Dan kami bisa bertemu di kejuaraan dan berhadapan sebagai musuh.
Musuh ya?
Semoga saja tidak….
"Hyuuga-senpai!"
Jduak!
Dan sebuah bola berwarna oranye melesat ke arah kepalaku dengan mudahnya. Hanya karena melamunkan Izuki saja kepalaku sudah benjol. Namun pass dari Mitobe padaku serta teriakan Kuroko dari bangku cadangan menyadarkanku akan suatu hal:
Izuki tidak pernah mengumpan padaku…
.
Sekali lagi aku berpikir….
Benarkah apa yang dikatakan oleh Kuroko?
.
Pertandingan dimulai lagi. Kali ini Kagami dan Kuroko ikut ambil bagian. Hal itu membuat kelas satu merinding disko. Mereka ternyata baru tahu kalau kami pernah memenangkan Winter cup dulu dengan formasi seperti ini.
Ngomong-ngomong soal formasi, kenapa aku teringat pertandingan bersama Rakuzan waktu itu ya? Dan Izuki…
KENAPA IZUKI SELALU DALAM INGATANKUUU!
Ppiiittt!
"Hyuuga!"
"O oh… wari-wari…."
'Eh, kurasa Hyuuga-senpai sejak tadi enggak konsen. Kenapa ya?'
'Iya. Kenapa? Apakah dia merasa tua?'
'PPpfffttttttt'
"HEH! ICHINEN! NGAPAIN BISIK-BISIK SEGALA! AKU BISA MENDENGAR KALIAN!" (10)
"Hyuuga-senpai kowai….." (11)
Tch! Setidaknya aku baru saja menambah kosakata baru yang akan segera mengisi buku kecil milik si Izuki Shun.
Eh?
Shun?
Entah kenapa aku mulai berpikir kalau Izuki itu kawaii…..
Kupandangi sekali lagi….
Dan entah kenapa Izuki memang terlihat manis jikalau sedang tersenyum. Meskipun saat ini sedang tidak tersenyum, aku masih bisa mengingat senyumnya yang begitu indah dimataku. Apakah ini salah satu gejalanya orang yang jatuh cinta? Namun apakah perasaan ini bisa kuandalkan?
Bagaimana jikalau perasaan ini hanyalah perasaan sementara?
Aku tidak ingin kalau aku melukai Izuki….
Lebih tepatnya, bisakah aku memanggilmu Shun?
Dan pertanyaan itu sukses membuatku kembali focus pada pertandingan terakhir kami ini. setelah ini kita akan segera melakukan berbagai macam persiapan yang ribet untuk persiapan memasuki perguruan tinggi. Semuanya bakalan terpisah untuk kesibukan masing-masing.
Dan kemungkinan besar aku akan terpisah dengan Shun yang juga mempersiapkan diri agar bisa menjadi seorang guru matematika di masa depan. Dan aku yang terobsesi dengan menjadi seorang guru sejarah di masa depan juga.
Atau sosiologi mungkin?
Namun hal itu tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar aku mengetahui perguruan tinggi mana yang dipilih oleh Shun. Dan kalaupun dapat memenuhi criteria, aku akan menyusulnya dan menjaganya disana.
"Nice pass! Kuroko!"
"Woah! Sankyu, Kuroko!"
"Hyuuga! Nice shoot!"
Piitttttt.!
Pertandingan pun telah selesai. Aku mengelap keringat dan mulai menyadari berapa lama waktu telah berlalu. Serta kebersamaan yang telah berlalu.
Aku menengok pada Shun yang sedang berbicara dengan Kantoku. Perbicaraan mereka terlihat serius. Dan tanpa sadar aku melihat si Kiyoshi yang berlinangan air mata. Mau tak mau aku juga ikut terharu. Namun mataku tetap mengawasi Shun. (12)
Sejak beberapa waktu yang lalu, aku yakin seyakin yakinnya kalau hubungan mereka makin dekat. Namun aku juga yakin kalau hubungan mereka sebatas pertemanan serta mengenai menu kesehatan dan olahraga. Namun Kantoku selalu memandang Shun dengan wajah khawatir. Apakah mereka berdua…
Entah kenapa perasaanku tidak enak ketika mata Shun melembut pada Kantoku. Dan Kantoku pun menangis dalam senyum yang tulus. Shun pun tersenyum palsu. Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku sudah sering berada di sampingnya sejak kecil.
Namun senyum itu terlalu tulus untuk mendapatkan predikat palsu.
Kantoku berjalan ke arahku yang sedari tadi menghindar dari pertanyaan menghina yang dilancarkan oleh para geng Kuroko-Kagami-Koganei sambil terus membenarkan kacamataku yang mulai berembun. Namun satu hal yang membuat hatiku mencelos,yakni Shun yang tetap berada di pinggiran lapangan ketika Kantoku memeluk diriku dan Kiyoshi.
Shun? Kenapa kau tidak kemari? Bukankah dulunya kita bertiga yang punya ide mengenai klub basket Seirin?
Dan bola mata hitam nan kelam itu akhirnya berair. Ayolah Shun, kemarilah. Aku tahu kalau kau sebenarnya menahan tangismu kan?
Aku segera menghampirinya ketika dia mulai menangis dalam diam. Kepala tertunduk, air mata yang terus mengalir…
Adalah hal yang kubenci dan tidak pernah kuharapkan untuk terjadi jika hal itu berkaitan dengan Shun. Aku dengan canggung berusaha untuk memberinya kode. Namun Shun hanya diam dan terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan canggung aku meraihnya dengan kedua tanganku dan mencoba untuk memeluknya.
Dan dia tidak memelukku sebagai gesture balasan. Dia hanya diam disana hingga tangisnya pecah. Shun sudah bagaikan burung tak bersayap yang jatuh dalam pangkuanku. Tak berdaya, tanpa harapan dan tanpa keinginan dan mimpi-mimpi yang seharusnya menghidupkannya…
"Omae wa! Mana jiwa Senpai kelas tigamu?! Setidaknya kau masih bisa main basket ketika di Universitas nanti," ucapku dengan harapan kalau dia akan meresponnya. Namun dia hanya menangis yang membuat dadaku teriris sembilu.
Teman-teman segera menanyakan mengenai apa yang terjadi pada Shun. Namun aku juga tidak ingin mengganggunya. Kenapa mereka begitu ingin tahu ketika Shun tidak ingin bercerita? Memendamnya dalam hati saja sudah sesulit ini, apalagi menceritakan hal ini.
Aku tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Shun…
"Kalian berdua! Tidak tahukah kalau ini bukan saat yang tepat?"
Aku memperingatkan mereka semua agar tidak menganggu Shun. Dia sedang ingin sendiri dalam diam. Hingga dia dapat membuka mengenai apa masalah yang dihadapinya.
Ketika aku ingin mengatakan hal lain dengan tujuan menenangkannya, aku benar-benar terkejut ketika tubuhnya lunglai begitu saja di pelukanku….
.
.
Tbc…
Author's note:
Gimana? Ini kejelasan dari drabble(?) yang di chap 1. Review?
Vocab:
(1) Kora itu hampir sama dengan are, menunjuk sesuatu benda yang jauh dari jangkauan pembicara.
(2) Mattaku itu sama dengan 'ya ampun!' dalam bahasa indonesia.
(3) Katakana-nya high school (Hai sukura) sama high score (hai sukoru) maksudnya anak SMA nilainya harus tinggi.
(4) Omae ra/wa : kata yang kasar banget buat 'Kau/kamu' biasanya kalo ini makeknya sesama teman yang pada marah-marah/menghardik.
(5) Nandai: Hampir sama dengan 'nani' yang artinya 'apa?'
(6) Wari: sama dengan 'gomen' ataupun 'sumimasen' tapi ini untuk perbincangan orang yang seumuran.
(7) Daijoubu : Apa kau tidak apa-apa?
(8) Nantouka : mungkin/kelihatannya
(9) Hidoi na : Jahatnya
(10) Ichinen : anak kelas satu
(11) Kowaii : Serem
(12) Kantoku : Pelatih
