Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Jar of Thousand Story
Warn: AU/OOC/Misstypo(s)
…
Setiap hari Sasuke mencari gadis untuk dinikahi Sang raja, memberi pertanyaan yang sama pada setiap gadis yang ditemui. Ketika mendapati kedatangan Sang perdana menteri maka orang tua gadis itu hanya bisa senang dan sedih. Senang karena anak mereka akan melangsungkan pernikahan dan sedih karena setelahnya anak mereka pasti akan dihukum pancung.
Lama kelamaan penduduk kota mulai takut akan kebiasaan raja mereka yang mengerikan, kehilangan cinta dari permaisuri lama membuat raja bertindak kejam seperti ini. Tapi apalah daya, jika mereka melarang raja menikahi putrinya maka sama saja mengantarkan nyawa ke tiang eksekusi dan dengan berat hati mereka hanya bisa merelakan buah hati mereka yang tercinta.
Kini keberadaan para wanita muda di kota Konoha mulai sedikit, sebagian sudah tiada dan sebagian lagi disembunyikan di rumah masing-masing karena saat ini penjagaan untuk keluar dari kota sangatlah ketat. Perdana menteri semakin sulit mencari istri untuk rajanya dan kadang terpaksa harus menggeledah sebuah rumah yang berdasarkan desas-desus menyembunyikan salah seorang anak gadis mereka.
Hingga pada hari ke-300 semenjak kebiasaan raja dimulai, angin dari barat datang. Tak ada yang menyangka bahwa kedatangan sosok ini kala terbitnya fajar di hari itu akan menjadi akhir dari masa kelam kerajaan dan kota Konoha.
Ia singgah di pintu gerbang dan melapor pada pengawal kerajaan yang mengawas kala itu sebelum akhirnya masuk jauh ke dalam kota. Kuda itu adalah bukti bahwa ia datang jauh dari negeri barat. Ia berhenti di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota dan mengikat tali kekang kudanya di belakang rumah. Kedatangannya disambut seorang saudagar sederhana yang juga merupakan ayahnya sendiri, Hiashi Hyuuga.
"Tidak seharusnya kau datang di saat seperti ini, Hinata. Apa kau tidak mendengar desas-desus dari luar mengenai keadaan kota Konoha sekarang?" tanyanya pada anak itu.
Hyuuga Hinata. Dia gadis yang berumur tujuh belas, cantik dan rupawan, wajahnya mewarisi sifat ibunya begitupula dengan sifat serta kelembutan hatinya, sedangkan keberanian dan keuletan diwarisinya dari Sang ayah. Ketika ia membuka tudung jubahnya tergerailah rambutnya yang panjang nan indah.
"Karena mendengarnya membuatku memutuskan untuk sesegera mungkin kembali ke sini, Otou-sama," jawab Hinata dengan lembut namun tegas.
"Segeralah bersembunyi, Hinata!" ucap Hiashi melihat dari kejauhan beberapa pengawal kerajaan datang bersama perdana menteri.
Sasuke datang ke rumah itu bersamaan dengan beberapa pengawal yang siap dengan senjata mereka. Jika memang laporan pengawas gerbang benar, harusnya ada seorang wanita muda yang baru saja datang ke tempat ini. Ia turun dari tunggangannya dan memberi salam pada Hiashi yang kebetulan ada di luar.
"Semoga anda diliputi keselamatan," ucap Sasuke.
"Semoga kau juga diliputi keselamatan," sahut Hiashi.
"Aku mendengar ada seorang wanita disini. Ini adalah perintah raja bahwa ia harus segera dibawa ke istana untuk melangsungkan pernikahan," lanjut Sasuke sambil menengok sekitar tempat itu.
"Mungkin kau salah dengar. Seperti yang kau ketahui sudah lama aku tinggal disini sendiri, Sasuke." Hiashi menatap tajam pria itu, dulu dia hanyalah seorang bocah di mata Hiashi meski diangkat sebagai perdana menteri ia tetaplah bocah bagi Hiashi.
Sasuke menghela nafas, "aku sendiri tak mau melakukan ini, Hiashi-san. Ini adalah perintah langsung dari raja."
"Raja macam apa yang tidak memikirkan kebahagiaan rakyatnya? Setiap hari aku mendengar tangisan seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya, tapi meski dicoba dengan ujian berat seperti itu mereka tetap tabah menghadapinya," bentak Hiashi.
Lama Sasuke terdiam sebelum akhirnya ia menghunus pedangnya, "kalau anda tidak mau menyerahkannya, aku terpaksa menggunakan kekerasan."
Namun sebelum Sasuke menyentak Hiashi lebih, seorang wanita muncul dan menggenggam pergelangan tangan pria itu.
"Tolong jangan sakiti dia. Dia ayahku, kau tahu itu 'kan Sasuke-kun …" Hinata menatap jauh mata Sasuke membuat pria itu terkejut. Gadis yang merupakan teman sepermainannya juga teman masa kecil raja akan menikah lalu—mati?
Sasuke menggigit bibir bawahnya, ia tidak boleh membiarkan emosi melumuri tanggung jawab pekerjaannya, "ini adalah perintah."
"Kau sudah lama mengenalku, kau tidak perlu bertanya apapun lagi mengenaiku. Aku bersedia dibawa ke istana," ucap Hinata dan Sasuke pun memasukkan lagi pedangnya dalam sarungnya.
"Bawa dia!" perintah Sasuke.
Kawanan unta itu pun bergerak ke tengah kawasan kota lalu berbelok menuju kawasan istana. Sekelompok penduduk yang melihatnya menyentuhkan tangan mereka ke dada tanda duka yang mendalam akan segera menimpa gadis yang dibawa perdana menteri, beberapa lagi menangis melihat akan ada satu lagi korban dari sakit hati raja. Melihat wajah sedih semua masyarakat membuat hati Hinata sakit dan ia pun semakin bertekad untuk mengembalikan lagi Naruto seperti sebelumnya.
Naruto terkejut melihat kawanan itu datang lebih cepat dari biasanya, karena semakin sedikit gadis muda maka semakin sulit mencarinya. Namun ia lebih terkejut melihat siapa wanita yang datang, tak lain adalah teman sepermainannya dulu yakni Hinata. Perasaannya bercampur aduk, antara bahagia melihat kembalinya Hinata dan sedih atas hatinya sendiri—ia tidak lagi mempercayai kasih sayang. Meski itu Hinata, takkan ada yang berubah mengenai persepsinya tentang cinta.
Hinata turun dari tunggangannya dan Naruto pun datang mendekat. Dipandanginya gadis itu dari ujung kaki hingga kepala, benar ia Hinata. Rambutnya kini telah tumbuh panjang, mata ametisnya masih memberikan kilauan yang sama seperti dulu, dan pipinya yang mengeluarkan sedikit rona merah saat mereka berdua—gadis itu benar-benar berdiri dihadapannya sekarang.
"L-Lama tak jumpa, N-Naruto-sama," panggil Hinata setelah lama mereka terdiam.
Naruto menunduk sejenak kemudian menatap datar wajah Hinata, "kau tahu 'kan kenapa kau datang kesini. Kita akan menikah dan kau akan menjadi permaisuriku. Tapi karena kita pernah punya hubungan masa kecil, aku memperbolehkanmu menolaknya Hinata."
Hinata meremas tali kulit dari tua miliknya saat mendengar perkataan Naruto. "Um, aku mengerti. Tapi izinkan aku membahagiakanmu meski hanya sesaat, Naruto-sama."
Naruto tersenyum pahit mendengar kata-kata Hinata, dari ucapannya barusan gadis itu sudah tahu bahwa ia akan mati sebelum melihat mentari terbit sepenuhnya besok. Meski begitu Naruto takkan segan, walau Hinata adalah temannya dulu dia tetap akan memerintahkan prajurit untuk mengeksekusinya.
"Kalau begitu siapkan pakaian pengantin untuk wanita ini," kata Naruto pada dua pelayan yang berada di belakangnya.
Hinata dibawa masuk ke dalam istana, diberi air mandi yang hangat dan sabun khas yang teramat harum, pelayan wanita membersihkan seluruh tubuhnya sebelum akhirnya ia diberi pakaian pengantin yang tergerai indah. Seluruh pelayan serta juru masak kerajaan sibuk mengurus pesta yang akan diadakan siang itu juga. Sementara Naruto sendiri tak pergi melihat pengantinnya seperti sebelum-sebelumnya, ia hanya memandangi pegunungan di ufuk timur dari beranda menunggu pengantinnya siap. Jujur dalam hatinya ia ragu akan membunuh Hinata, tapi dalam pikirannya benar-benar terasa sakit—ia ingin berhenti percaya pada cinta dan kasih sayang, cepat atau lambat Hinata pun akan mengkhianatinya sama seperti Shion pikirnya.
"Naruto-sama, persiapan untuk pesta sudah siap." Salah seorang pelayan datang melapor pada Naruto.
"Kita mulai!" titah Naruto.
Pesta pernikahan itu berlangsung cukup meriah di kalangan istana. Hiashi berikut seluruh saudagar-saudagar utama datang ke pesta pernikahan raja, sementara rakyat lainnya hanya bisa mendengar gaduhnya dari luar gerbang istana. Beberapa masyarakat sekitar hanya bisa turut berduka karena dengan dimulainya pesta ini maka kesedihan akan menanti di esok hari. Akan ada darah lain yang mengucur di tanah kota Konoha akibat perbuatan sang raja.
Dalam meriahnya pesta itu, kedua pengantinnya malah terlihat tidak menikmati samasekali. Naruto berada dalam kegundahan antara mempercayai atau membunuh Hinata. Sementara Hinata terus berpikir keras bagaimana cara mengobati perasaan Naruto, ia datang kesini tanpa banyak rencana dan jika ia gagal maka kematian pasti menjemput. Hinata menundukkan kepala, menatap sedih raut wajah Naruto yang terlihat gusar.
Hingga sore menjelang pesta pun usai, para pelayan kembali disibukkan dengan membersihkan seluruh sisa-sisa pesta pernikahan, sementara kedua pengantin beranjak pergi ke kamarnya. Dua orang pelayan wanita keluar dari kamar itu setelah selesai mengganti baju Hinata dengan baju tidur sutra, Naruto sendiri hanya berdiri memandangi senja indah tanda akhir hari itu di beranda tanpa ada niat sedikitpun untuk mengusik pengantinnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Naruto-sama," panggil Hinata pelan sambil memberanikan diri untuk menggandeng lengan kanan Naruto.
Naruto terdiam. Gadis itu benar-benar hangat, pribadinya tetap lembut seperti dulu, ia kini benar-benar tumbuh menjadi gadis yang baik. Hatinya mulai bertambah berat untuk mengeksekusi Hinata—tidak, ia tidak boleh ragu. Semua ini kelak akan menjadi kedok semata, Hinata pasti sama saja dengan gadis lain, sama saja seperti Shion.
"Aku hanya terlalu lelah, aku ingin tidur sekarang." Naruto melepaskan tangan Hinata yang menggandengnya, kemudian beranjak ke tempat tidur.
Tak ada sedikitpun bintang di malam itu, awan mendung menutupi seluruh langit. Meski begitu tak ada hujan, hanya angin malam yang terus menerus berhembus. Saat itu Naruto gusar melihat wajah polos istrinya yang tengah tertidur, apa ia harus menyentuhnya? Tidak, teman baiknya sewaktu kecil tidak harus ia perlakukan sama seperti wanita-wanita lain, pernikahan ini pula tidak seharusnya terjadi. Meski begitu mereka sudah menikah, menyentuhnya saja bukanlah sesuatu hal yang tidak wajar.
Naruto menggerakkan tangannya menyentuh pipi Hinata, dielusnya kulit halus nan lembut itu tanpa ia sadari Sang pemiliknya terbangun sambil mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Naruto menurunkan tangannya, mengurungkan niat untuk meneruskan lebih jauh dan hanya bertukar pandang dengan istrinya.
"Apakah kamu baik-baik saja, Naruto-sama?" tanya Hinata pelan.
"Aku … Aku baik," jawab Naruto singkat.
"Bukan, maksudku kabarmu. Sudah lama aku tak lagi mengirim surat padamu, begitupula denganmu yang tak pernah lagi mengirim surat padaku. Aku khawatir kamu sudah melupakanku," ucap Hinata, gadis itu mengambil tangan suaminya dan menaruhnya sebagai bantalan pipinya.
"K-Kau sendiri kenapa berhenti mengirim surat padaku?" balas Naruto.
"Mungkin untuk sejenak, aku benar-benar menikmati petualanganku," sahut Hinata yang kemudian memejamkan matanya.
"Artinya kau melupakanku 'kan," ucap Naruto dengan dingin dan membuat Hinata kembali membuka pelan matanya, tersenyum memandangi raut wajah Sang suami.
Hinata bangun dan duduk menatap Naruto, ia memeluk kepala pria itu dan memindahkannya ke pangkuannya. "Mungkin benar. Izinkan aku menceritakan seluruh petualanganku di barat, Naruto-sama. Petualangan yang membuatku hampir melupakan keberadaanmu."
"Kalau begitu mulailah bercerita!" sahut Naruto dengan nada merajuk.
Hinata menyibak kelambu yang menutupi mereka, menggapai tas kulitnya yang tadi ia taruh di atas lemari kecil dalam kamar mereka, dan mengambil sebuah guci kecil. Guci itu hanya seukuran genggaman tangan, tidak terlalu indah tetapi ukiran naga yang ada di dalamnya sangat berkesan, jelas sekali itu adalah seni ukir dari negeri lampau.
Ketika Hinata menggosoknya dengan lembut guci itu mengeluarkan cahaya, gadis itu pun membuka tutupnya hingga ratusan kunang-kunang dan sedikit asap beterbangan ke udara. Kunang-kunang itu beterbangan ke segala arah membentuk sebuah momen hutan belantara, dimana kini Hinata tengah berdiri di tengah-tengahnya dengan busur dan anak panah.
"Ini adalah cerita perjalananku menuju istana raja naga barat. Aku bersama ksatria-ksatria kerajaan Sindria dari kota Suna ditugaskan untuk mengambil jantung raja naga."
"H-Hinata?" Naruto kebingungan. Ada dua Hinata sekarang, salah seorang yang sedang memangkunya dan satu lagi yang sedang terlihat was-was mengawasi situasi sekitar mereka.
"Jangan khawatir Naruto-sama, semua hal yang sedang kau lihat ini adalah pengalamanku dulu—sebulan setelah meninggalkan kota Konoha," sahut Hinata yang sedang memangku Naruto lembut.
"Waktu itu aku sedang berada di hutan lebat, ini bahkan belum sampai seperempat perjalanan kami tapi kami semua terpisah. Aku sendirian memegang panah saat seekor troll tua datang berlari kencang ke arahku."
Naruto melihat sebuah makhluk mengerikan berlari ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Hinata yang sedang berdiri memegang anak panah. Hinata melepaskan dua sampai tiga anak panah tapi troll tua itu tak bergeming. Ia mengelak ke samping dan membidik lagi kepala troll tua itu, puluhan panah terus ia tembakkan, troll tua itu melambat sebelum akhirnya jatuh, tergelincir terus hingga berhenti tepat di depan kaki Hinata.
"Kami harus menemukan danau ajaib yang terletak di tengah hutan terlebih dahulu. Disana tinggal seorang penyihir yang tahu jalan menuju istana raja naga, tapi sekarang aku tengah tersesat dan terpisah dari ksatria lain."
Hinata berlari-lari menembus belantara namun ia kehilangan arah, ia tak tahu harus menuju kemana. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mendaki pohon agar bisa melihat daerah sekitar. Dengan cepat ia melompat dari satu dahan menuju dahan lain, menggantung, dan akhirnya ia tiba dipuncak pohon. Sebuah pemandangan di ujung sana terlihat, gunung yang berjejer, sebuah danau indah nan luas yang berada di lereng gunung, lembah hijau yang tak pernah disentuh, sebuah dunia baru. Naruto takjub melihat semua pemandangan itu sementara Hinata diam tak meneruskan ceritanya.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Naruto pada Hinata yang tengah memangkunya.
Seketika seluruh pemandangan itu buyar oleh angin dan asap, kunang-kunang kembali berkumpul dan beterbangan masuk ke dalam guci kecil itu, Hinata menutup gucinya dan semuanya kembali lagi menjadi normal. Angin malam bertiup masuk dari ventilasi udara ruangan itu, Naruto celingukan melihat sekitarnya sementara Sang istri mengembalikan guci tadi kembali ke tempatnya dan beranjak tidur.
"T-Tunggu dulu Hinata, lalu apa yang terjadi?" tanya Naruto sambil terus mencoba membangunkan Hinata.
"Maaf Naruto-sama, ceritanya kita lanjutkan besok malam lagi. Sebaiknya kita bergegas tidur!" Hinata mendorong pelan dada suaminya hingga jatuh ke ranjang.
"T-Tapi aku ingin tahu kelanjutannya, aku tidak mau menunggu sampai besok," rengek Naruto dan Hinata tertawa kecil.
"Tentu anda mau. Aku tidak akan lari kemanapun, Naruto-sama." Hinata mendekat dan menyembunyikan wajahnya di bawah dagu Naruto, mencoba tidur lebih lelap.
"H-Hinata?" ucap Naruto namun gadis itu sudah terlelap jauh.
Naruto menggigit bibirnya, pemandangan tadi dan semua kisah itu benar-benar dialami oleh Hinata. Wajar saja gadis itu sampai lupa mengirim surat padanya jika dihadapkan dengan petualangan yang luar biasa seperti tadi, ia harus mendengar lagi cerita selanjutnya besok malam. Tidak apa-apa memberikan satu malam lagi untuk Hinata, gadis itu juga pasti lelah karena datang dari perjalanan yang jauh lalu langsung menikah—ia yakin semua ceritanya pasti selesai besok, lalu lusa ia akan mengeksekusinya.
…
…
:: To Be Continue ::
A/N: hoho berhasilkan Hinata selamat besok lusa? Nantikan kelanjutannya di ch depan… :D makasih udah mau mampir lagi ke ch ini, berkenan review?
