When One Wind Wound You

Disclaimer: Naruto punyaknya Mashashi Kishimoto-sensei forever

Pairing: Sabaku no Gaara x Hyuuga Hinata

Warning: OOC, gaje (terlepas dari dunia ninja), crack pairing, miss typo (s) maybe, sedikit angst, dan warning lainnya

Fiction rated : T semi M (for kiss scene :-)

Summary: Hanyalah gadis biasa dengan kehidupan yang berliku. Namun ada hal yang membuat gadis ini begitu menarik di mata beberapa orang pemuda. Hanya sebagai 'silent fans' dikarenakan mereka merasa gengsi apabila ada orang yang mengetahui perasaan mereka pada gadis yang notabenenya sering di bully itu. Dia, si sulung Hyuuga. Hyuuga Hinata. Dirinya yang apa adanya hanya memiliki mimpi kecil di hari depannya kelak, bersama seseorang yang ia kagumi diam-diam selama ini. Tapi hanya angan saja karena tiba-tiba mimpi sederhananya pun harus hangus tersapu tangan sang iblis.

Read and enjoy! ^_^

Chap 2

...

Seminggu yang berat telah dilalui Hinata dalam menjalankan MOSnya dibantu kedua teman -ralat- sahabat yang kini telah mengisi lubuk hati -?- Hinata. Ya, siapa lagi kalau bukan si kuncir ekor kuda dan si pink gula-gula, Yamanaka Ino juga sahabatnya Haruno Sakura. Pelaksanaan MOS yang sebenarnya terasa berat bagi Hinata, kini sedikit lebih bisa membuat gadis Hyuuga itu tersenyum karena disetiap saat ketiga gadis jahat itu datang ingin mengerjainya, dengan sigap pula Sakura dan Ino akan membelanya. Hinata akan sangat berterima kasih pada dua sosok yang kadang konyol itu dengan kata 'maaf' dan 'terima kasih' sebanyak-banyaknya. Juga yang bisa Hinata balas dari kebaikan mereka hanyalah membelikan dua minuman kaleng yang bisa dibeli dengan isi kantong Hinata. Walaupun temannya itu selalu menegur Hinata untuk tidak terlalu berlebihan menanggapi kebaikan mereka, Hinata tetap saja melakukan hal yang sama karena menurutnya kebaikan Sakura dan Ino tidak bisa ia balas dengan baik selamanya. Dan jadilah, Sakura dan Ino hanya tersenyum senang ketika Hinata membelikan mereka dua minuman kaleng.

Pagi ini, dimana akan diadakan acara penutupan MOS yang akan dihadiri seluruh calon peserta didik KIHS dilaksanakan, Hinata berjalan beriringan dengan dua gadis yang masing-masing menggaet tangannya sambil sesekali melontarkan debat yang panas.

"Hinata itu milikku!" Sakura melotot.

"Tidak, Hinata lebih menyayangiku!" Ino mengangkat dagunya.

"Tapi Hinata lebih amat sangat dan selamanya menyayangiku!" Sakura berkacak pinggang.

"Uh, jidat lebar! Hinata milikku!" Seru Ino kesal.

"Ino-pig, kau menyebalkan, Hinata jelas lebih menyukaiku!" Dan seterusnya argumen mereka saling bertabrakan satu sama lain. Sedang Hinata yang sedari tadi diseret ke kanan, diseret ke kiri hanya meringis kesakitan dan diam tak bisa apa-apa. Tapi karena perkelahian Sakura dan Ino makin menjadi dalam memperebutkan dirinya, Hinata pun bertindak dengan melepaskan lengannya sekuat tenaga dari cengkeraman Sakura dan Ino. Dan sebelum kedua orang yang sedang cekcok itu terkejut, Hinata terlebih dahulu merangkul keduanya beberapa saat. Hingga Sakura dan Ino terdiam karena bingung, Hinata angkat suara.

"Ka-kalian bberdua... adalah, ssa-sahabat terbaikku..." lirih Hinata.

Langsung saja untaian kata sederhana itu membuat kedua gadis yang bertengkar tadi diam dan menatap lembut wajah tertunduk Hinata. Untuk selanjutnya, mereka pun saling merangkulkan tangan masing-masing pada bahu dan pinggang temannya.

"Kita akan jadi sahabat selamanya," Ino bergumam.

"Kau tak akan sendirian lagi Hina-chan... Karena kami berdua tahu, bagaimana rasanya sendirian. Itu sangat tidak menyenangkan... tapi kau juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan kami. Kami akan selalu melindungimu apapun caranya, janji..." Sakura menunjukkan kelingkingnya yang langsung disambut antusias oleh Ino.

"Aku juga, akan selalu melindungi kalian berdua, kita saling melindungi. Janji," dan Hinata pun tersenyum sambil mengulurkan kelingkingnya perlahan dan berhasil menggaet dua kelingking lain yang melayang di hadapannya.

"Janji," untuk pengucapannyapun, Hinata tak mau jika harus berkata gagap.

"Baik, semuanya, berbaris rapi sesuai nomor pendaftaran yang kalian terima tempo hari. Ayo, cepat, cepat, cepat!" momen haru yang dialami tiga orang itu harus terinterupsi oleh gelegar suara salah satu senpai yang menyuruh mereka berbaris. Secepat kilat para peserta itu membentuk barisan sesuai nomor pendaftaran mereka yang masing-masing kelompok barisan berisikan 42 anak. Hinata sempat khawatir karena dirinya berada di barisan yang tak sama dengan Sakura juga Ino.

Malah, dilihatnya di depan ketiga gadis centil itu tengah sibuk dengan acara mereka di depan sana. Hinata mencoba bersembunyi di balik punggung seorang siswi di depannya. Tapi, Hinata tambah panik lagi, karena di belakang dan sampingnya adalah barisan anak laki-laki. Hinata memang gugup dan sedikit salah tingkah apabila berada dekat-dekat dengan yang namanya anak laki-laki. Apalagi ditambah tak adanya kemunculan Sakura dan Ino membuat keringat dingin membasahi pelipisnya.

Bagaimana tidak, di upacara penutupan masa MOS ini sekaligus merupakan acara pembagian kelas dilaksanakan. Dan pada masing-masing barisan itu menentukan bersama siapa saja murid-murid baru itu akan tinggal di kelasnya kelak. Tapi Hinata mendadak lega karena mendapati lambaian tangan semangat dua orang yang berada pada bagian belakang barisannya. Yah, syukurlah Hinata bisa sekelas dengan Ino dan Sakura, meski sekalian dirinya harus bersama lagi dengan trio pembuat ulah. Hinata bersyukur.

"... bentuk aspirasi dari rasa bangga kami akan sambutan yang ada dengan cara sebetapa banyaknya calon murid yang mendaftar ke KIHS tahun ini. Ini menunjukkan angka antusiasme yang cukup besar dalam bidang pembelajaran yang berlangsung di Konoha High. Untuk itu, saya sebagai kepala sekolah mengucapkan rasa bangga serta terima kasih yang sebesarnya pada murid didik baru tahun ini. Dengan bangga, saya resmikan acara MOS tahun ini, ditutup..." applause bergemuruh disaat Tsunade, sang kepala sekolah cantik Konoha High mengakhiri pidato panjangnya mengenai MOS tahun ini. Setelah sang kepala sekolah itu turun dari podium, seseorang berambut jabrik dengan tato segitiga merah di pipinya yang bertugas sebagai emsi acara, hadir kembali. Dengan semangat ia menggemakan suara khasnya keseluruh penjuru.

"Dan selanjutnya adalah sambutan dari ketua OSIS kita, ini dia..."

Semua yang ada disana mulai berbisik-bisik membicarakan orang yang baru saja disebut pemuda jabrik tadi.

"Kyaaa... kudengar ketua OSISnya sangat tampan,"

"Iya, banyak sekali fansgirlnya disini. Aa, mungkin aku juga akan menjadi salah satu penggemarnya. Aku sudah lihat, dia sangat tampan.."

"Hey, kudengar-dengar nama marganya Uchiha,"

"Uchiha? Benarkah?!" Pekik salah satu siswi.

"Itukan nama marga yang biasa muncul di majalah pendidikan sebagai keluarga pemilik sekolah elit Konoha High ini..."

"Oo, mungkinkah... mungkinkah..."

"Mungkinkah dia si bungsu Uchiha itu? Uchiha Sasuke?"

Hinata hanya bisa celingak-celinguk ria saat mendengar bisik-bisik para siswi yang mulai riuh. Gadis lavender itu bingung dan tak tahu apa-apa tentang keadaan saat ini. Sedang para siswa hanya ber ah-oh-hm ria saja. Beberapa saat kemudian terdengar pekikan masal yang cukup riuh yang membuat Hinata penasaran. Dan tahulah akhirnya ketika sebuah suara maskulin di speaker yang digunakan untuk berpidato kepala sekolah tadi bergema. Disana, ya, Hinata melihat samar dari kerumunan para punggung gadis-gadis yang menghalangi pandangannya, terlihat seorang pemuda tinggi tegap berkulit putih dan berambut raven tengah berbicara. Dengan tampang cool dan suara rendahnya, bisa diketahui jika pemuda satu itu tak suka atau lebih tepatnya tak banyak bicara. Tapi dengan hal itupun sudah sanggup membuat hampir semua gadis-gadis disana bergemuruh ria hingga hampir ada yang mengalami nosebleed. Termasuk, dua gadis konyol kita yang sedang beradu argumen untuk bertaruh siapakah di antara mereka yang akan lebih dulu menarik perhatian satu senpai terpopuler itu kelak.

Hinata memperhatikan pemuda bermata onyx kelam tajam itu tanpa ekspresi yang terbaca. Pemuda yang diketahui bernama lengkap Uchiha Sasuke itu kini tengah berpidato layaknya sebagai seorang tuan rumah yang menyambut kedatangan tamunya dengan kata-kata hangat, meski nadanya terdengar sangat datar dan dingin. Dalam hati, Hinata berdecak, memang kakak kelasnya itu terlihat sangat tampan bahkan kelewat tampan. Didukung postur tubuh atletis yang kekar membuat beberapa gadis kini sudah tak bisa menahan nosebleednya. Tapi entahlah, Hinata tak pernah sekalipun membayangkan bisa menjadi bagian dari hidup pemuda seperti itu. Yang ia impikan sejak kecil hanyalah hidup bersama orang yang ia cintai dan dia pun juga mencintai Hinata. Orang sederhana dan baik hati yang mampu membahagiakannya. Tinggal di rumah mungil nan hangat bersama anak-anaknya yang ceria. Ya, hanya itu. Menurut Hinata tak apalah jika ia kelak tak bisa menjadi orang kaya, asal kehidupan keluarganya bahagia, hanya itu. Maka, untuk apa Hinata berpikiran tinggi akan menyukai bahkan menginginkan pemuda seperti yang ada jauh di depan sana saat ini?

~~~))0((~~~

"... kami ucapkan terima kasih," Sasuke mengakhiri pidatonya disertai tepuk tangan meriah juga teriakan histeris yang dilontarkan siswi-siwi itu padanya.

"Sasuke-kun, daisuki..." teriak Shion saat kakak kelasnya itu mulai berjalan ke arah ruang OSIS. Sasuke tak menggubris semua teriakan-teriakan histeris itu. Baginya, itu adalah kata-kata yang membuat telinganya lelah karena mendengar semua suara keras tersebut, juga, baginya itu adalah hal yang lumrah. Begitu langkah tegapnya memasuki ruang OSIS disertai beberapa anggota OSIS lain, di lapangan, Kiba si emsi yang terkenal sebagai pecinta anjing itu menyudahi acaranya dan membubarkan pasukan setelah sesaat sebelumnya memberitahukan letak kelas masing-masing kelompok. Dan pembelajaran efektif baru akan dimulai senin depan.

Hinata masih berdiri mematung menunggu kemunculan dua sosok yang saat ini sangat dinantinya. Ia tak perduli berulang kali punggung dan bahunya harus bertubrukan dengan para murid yang berbondong pergi menuju ruangannya masing-masing. Kadang Hinata meringis ketika tubrukan itu menabraknya cukup keras, hingga satu tubrukan yang benar-benar keras itu membuatnya hampir tersungkur, jika saja tak ada sepasang tangan berwarna tan yang dengan sigap menangkap tubuh mungil Hinata.

"Kau tak apa?" suara berat khas seorang pemuda menyapa pendengaran Hinata.

BLUSH

"A-ah, ggo-gomen..." Hinata segera bangkit dari posisinya yang terkesan seakan memeluk pemuda itu dari depan. Wajahnya memanas dan Hinata yakin kini wajah chubbynya itu sedang berwarna merah semerah kepiting rebus.

"Lain kali hati-hati, jangan terlalu lama berdiam diri di tempat yang dikerumuni banyak orang seperti ini," pemuda itu berkata dengan lantang cerianya pada Hinata yang perlahan mengangkat kepalanya yang tertunduk malu. Dan, pemandangan yang ia tangkap sungguh membuat hati Hinata tak karuan. Rambut itu... rambut jabrik berwarna kuning yang menurut Hinata bagai sewarna emas. Mata itu... mata sebiru samudera yang bagi Hinata itu bagaikan sebuah permata safir paling berkilau di dunia. Ah, dan jangan lupakan tiga garis unik di masing-masing pipi pemuda itu. Tak luput pula senyum lebarnya yang membuat Hinata seakan berada di dunia antah berantah.

"Kau... tidak apa-apa?" pemuda itu melambaikan tangannya ke depan wajah Hinata yang seketika membuat Hinata sadar dari lamunannya akan pemuda di depannya. Wajahnya kian memerah dan kini ia tertunduk malu salah tingkah saat tangan tan itu kembali menyentuh dahinya, memastikan apakah suhu tubuh gadis itu normal atau tidak.

"Umm... aaku ti-tidak apa-apa... ummh.." Hinata menggigit bibir bawahnya sambil sedikit memandang ragu ke si pemuda dari tundukan kepalanya.

"Naruto. Namaku Namikaze Naruto. Kau bisa memanggilku Naruto... " kini Naruto yang bingung.

"H-hajimemashite, nn-namaku Hyuuga Hinata, Na-na-naruto-ssenpai..." Hinata tambah blushing tatkala secara sadar ia menyebut nama pemuda itu.

"Hay Hinata, salam kenal," kini pemuda itu malah dengan gajenya menjabat tangan Hinata sambil garuk-garuk kepala. Tingkahnya spontan dan sangat kental akan kesan ceria. Meski hiperaktif dan terkesan seperti orang bodoh, Hinata malah senang dengan perilaku pemuda itu. Membuatnya nyaman dan terkesan berusaha tidak membuatnya gugup. Naruto. Naruto. Naruto...

Berulang kali Hinata menyebut nama itu. Sekian menit ia diajak berbincang dengan pemuda kuning tersebut, dan selama itu pula jantung Hinata tak pernah berhenti untuk bergerak tenang. Wajahnya pun tak pernah bisa lepas dari aksen merah yang terus menyelimutinya. Percakapan yang selalu didominasi oleh Naruto dan Hinata hanya sesekali sedikit menanggapi atau menjawabnya, membuat gadis Hyuuga itu merasa sangat lebih nyaman karena pemuda itu sama sekali tak membuatnya wajib berbicara.

'Mung-mungkinkah... mungkinkah aku, ja-tuh cin-ta?' di dalam hatinya pun Hinata tergagap sendiri ketika membayangkan pearsaan aneh apa yang kini menyelubungi atmosfir hatinya.

Jatuh cinta...

JATUH CINTA...

JA-TUH CIN-TA...

J-A-T-U-H C-I-N-T-A...

Perasaannya yang campur aduk dan menyesakkan namun menyenangkan, harus terhenti seketika, saat mendengar panggilan yang tak asing di telinga Hinata.

"Hinata, itukah kau?!" cempreng Ino ketika menemukan seseorang yang dari tadi dicari-carinya bersama sahabat pinknya.

"Eh, Naruto?" Sakura tersentak ketika melihat sahabat kuninganya itu secara tak terduga ada berasama Hinata.

"E-eh?" Hinata terhenyak karena Sakura yang ternyata sudah kenal dengan Naruto.

"Sakura?!"

"Apa yang kau lakukan disini bodoh? Bukankah anggota OSIS yang lain sudah menuju ruang pertemuan mereka?"

"Sakura-chan, datang-datang kau langsung memarahiku... Apa kau tak kangen sahabatmu ini, hm? Ayo, peluk aku..." Naruto membentangkan kedua tangannya hendak memeluk Sakura. Tapi belum sampai selangkah, bogem mentah Sakura sudah mendarat tepat di ubun-ubun Naruto.

"Ittai! Sakura-chan sakiit..." Naruto mengusap-usap kepalanya yang sudah memunculkan benjol yang cukup besar itu.

"Sa-sakura-chan..."

"Kenal Naruto? Mereka itu sudah sahabatan dari kecil, Hinata-chan..." belum lagi Hinata menyelesaikan kalimatnya Ino sudah menimpali.

"He Naruto, memangnya kau ngapain saja sampai bisa bersama Hinata?" Sakura mulai menurunkan mode galaknya. Kini, wajah putih itu mengerlingkan matanya dan menyenggol-nyenggol lengan Naruto dengan sikutnya. Ino yang tahu arti pandangan menggoda Sakura juga kini ikut menggoda Hinata dengan menyenggol bahu mungilnya.

"E-eh?!" Hinata sedikit tersentak.

"Aa, ti-tidak, tidak... kami hanya kebetulan saja bertemu disini, iyakan Hinata-chan?" meski pandangan si pemuda kuning terlihat ceria dan biasa-biasa saja, tapi sebenarnya mata biru samuderanya memancarkan sebaliknya. Ada sebuah kekhawatiran yang ia layangkan pada gadis pink di depannya. Khawatir apabila Sakura akan menganggap hal ini sungguhan, dan Naruto tak bisa memiliki kesempatan untuk bisa mengungkapakan perasaannya pada Sakura kelak.

Hinata sendiri terkejut entah karena apa. Hatinya sakit dan nafasnya sesak. Rasanya seperti dikhianati. Tapi Hinata segera menepis semua pemikiran buruknya. Ia menganggap semua kata Naruto barusan hanyalah sangkalan yang dilakukan pemuda itu agar merasa tidak malu. Lagi pula Naruto dan dirinya baru pertama kali bertemu kan? Jadi mengapa Hinata musti cemburu atau merasa marah? Ditambah lagi Hinata tak ingin menjadi seorang gadis yang egois. Biarpun ia sudah menyadari perasaannya sebagai rasa yang lebih, atau kini Hinata sendiri sudah berani menyebutnya sebagai rasa cinta, Hinata tak ingin apabila perasaannya ini akan menjadi awal perpecahan persabatannya. Jadilah, Hinata hanya menjawab seadanya disertai intonasi gugup dan tak rela.

"I-iya, kami ha-hanya tak sengaja b-bertemu disini..." Hinata menunduk.

"Hah, akui sajalah Hinata-chan..." Hinata justru malah semakin tertunduk hingga wajahnya hampir tertutupi sebagian surai indigonya.

"Sudahlah, jangan goda dia terus, kasihan tau... aku mau pergi ke ruangan OSIS dulu, sampai jumpa lagi ya..." sebenarnya itu hanyalah sebagai bentuk pengalihan agar Naruto tidak semakin merasa khawatir akan perasaannya Sakura. Nada suaranyapun terdengar malas dan datar. Dengan cepat pemuda berkulit tan itu melesat pergi setelah sesaat sebelumnya sempat menepuk kepala Sakura.

"Sakura, Naruto tadi kelihatan aneh..." Ino berbisik pada Sakura.

"Iya, tingkahnya terlihat aneh di hadapan Hinata.." Sakura sedikit mengeraskan suaranya pada kata 'Hinata', agar si empunya nama mendengar.

"E-eh?"

"Merah lagi tuh, wajah Hina-chan..." mereka terkikik.

~~~))0((~~~

Dua minggu sejak pertemuannya dengan Naruto, Hinata jadi memiliki sebuah tujuan hidup untuk membuatnya semangat. Ya, ia menjadikan sosok Naruto sebagai figur panutan dan penyemangatnya. Meskipun kini dirinya tahu bahwa Naruto menyukai sahabatnya sendiri, Sakura. Tapi kenyataan itu tak membuat Hinata lantas putus semangat, justru ia membelajarkan dirinya untuk rela meski terasa sedikit sakit. Namun dalam hati kecilnya ia masih berharap kalau Naruto mau meliriknya. Kalaupun si pemuda penyuka ramen itu sama sekali tak membalas rasanya juga tak apa. Hinata akan tetap menjadikannya sosok panutan dalam kehidupannya. Ya, Hinata sangat bahagia dengan hanya melihat Naruto saja. Hatinya akan menghangat dan tenang, walau kenyataan pahit yang langsung muncul setelahnya membuat ia meredup. Apalagi kalau Hinata bersama Sakura dan Ino, Naruto muncul dan akan hanya memfokuskan dirinya pada Sakura, ingin rasanya Hinata menangis saat itu juga. Naruto akan sama sekali tak menggubris Hinata dan Ino, meski kadang Ino juga tak peduli akan hal itu. Dari situlah, Hinata berspekulasi bahwa Naruto menyukai Sakura, sahabatnya.

Kadang saat ia bertemu Naruto, Hinata akan langsung mengeluarkan semburat merahnya walau Naruto tak sengaja tidak melihatnya. Sering pula Hinata berangan masih bisa akan memiliki seorang suami yang baik, yang mencintai dirinya juga keluarganya. Tinggal di rumah yang memiliki taman indah, penuh bunga dan cinta. Setiap sore Hinata dan suaminya selalu menikmati secangkir teh hangat sambil melihat anak-anak mereka bermain. Dan Hinata juga membayangkan, bahwa suaminya itu adalah sosok wibawa seorang Naruto, pria yang mencintainya kelak. Yah, semoga saja mimpi kecilnya itu sempat terwujud...

Kini gadis mungil Hyuuga itu terlihat tengah menikmati makan siangnya di sebuah tempat sepi di belakang sekolah. Sendirian di bawah pohon rindang dengan kotak bento hitam motif bunga sakura. Mengherankan karena gadis itu tak bersama dengan kedua temannya, Sakura dan Ino.

"Sayang sekali Sakura-san musti sakit, dan Ino-san harus menjaga Sakura-san,"

Ya, sudah sejak jam pelajaran pertama tadi Sakura sakit dan harus menghentikan sejenak rutinitas sekolahnya. Dirinya dibawa ke ruang UKS bersama Ino. Ino yang selalu bersama Sakura juga tak bisa menemani Hinata karena ia harus menjaga Sakura. Kedua gadis itu sudah dari dulu hidup sebatang kara. Mereka sama-sama dibesarkan di panti asuhan dan kini memutuskan tinggal di apartemen kecil bersama, bekerja bersama, ,emdapat beasiswa bersama dan sekolah bersama. Jadi wajar saja apabila salah satu dari mereka sakit, maka kedua gadis itu memiliki rasa tanggung jawab yang sama untuk menemani serta menjaga satu sama lain. Seperti saat ini. Hinata masih beruntung karena dirinya tidak bernasib seperti kedua orang sahabatnya itu. Masih memiliki orang tua utuh yang menyayanginya.

Setelah menjenguk Sakura sejenak tadi, Hinata pamit untuk makan siang sejenak. Hinata mulai membuka bekalnya. Isinya sederhana, hanya tiga onigiri sedang, tumis sayur dan telur gulung juga sosis. Tapi Hinata sangat bersyukur karena Kami-sama masih memberinya berkah untuk makan siangnya ini. Gadis manis itu mulai menyumpit telur gulung dan memakannya, ketika...

TUK, KRANG!

Tiba-tiba Hinata mendengar suara aneh seperti benda jatuh yang berasal dari arah sampingnya. Hinata menutup kotak makan siangnya dan segera pergi menuju ke arah tempat tersembunyi. Takut-takut jika suara aneh seperti benda jatuh itu adalah ulah ketiga gadis jahat yang sering membullynya. Maka Hinata bersembunyi di sebuah tembok dan mulai mengintip sekitar. Cara ini dianjurkan oleh Ino apabila dirinya terancam dan kedua gadis itu tak bersamanya.

Disana, terlihatlah sebuah kaleng kosong yang masih bergerak-gerak lemah di atas tanah. Mungkin, suara itu disebabkan oleh kaleng itu.

Hinata mencari-cari darimana asal kaleng itu tadi dilempar. Tapi ia tak menemukan siapapun disana. Merasa aman, Hinata mendekati kaleng yang masih bergerak itu dan memungutnya, membuangnya ke tempat sampah.

KLONTANG!

Satu kaleng lagi mendarat tepat di bawah kaki Hinata. Kemudian gadis itu mendongak ke atas dan samar ia melihat bayangan sepasang tangan yang bersandar pada pagar pembatas atap. Meski ragu, Hinata melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan atap. Penasaran siapakah yang dengan seenak hatinya membuang kaleng itu di bawah. Sekedar ingin menegur dan tanpa berminat menjadi seorang yang sok, Hinata hanya ingin orang yang ada disana itu sadar agar tak membuang sampah sembarangan karena dapat merusak lingkungan.

Benar saja, sesampainya di atap Hinata mendapati seorang pemuda bertubuh tegap dengan rambut merah maroon yang sedang membelakanginya. Dilihat dari lencana seragamnya, diketahui apabila pemuda itu adalah murid kelas dua belas, yang artinya, dia adalah kakak kelas Hinata. Sebuah bangku panjang di dekat pemuda itu terdapat beberapa kaleng minuman bersoda yang kemasannya sama dengan yang Hinata buang di tempat sampah tadi.

Pelan namun pasti, Hinata melangkah mendekati pemuda itu dan hendak mengeluarkan suaranya pelan.

"Em, ano... se-senpai..." pemuda itu menoleh. Hinata langsung menunduk sambil mencengkeram erat kotak bekalnya. Ia berani bersumpah, tadi melihat tatapan tajam disertai aura mematikan yang menguar dari tubuh pemuda itu. Dengan gemetar, Hinata melanjutkan kata-katanya.

"Ta-tadi, tadi senpai me-me-membuang sampah sembarangan d-dii ba-wah... a-a..."

"Lalu kenapa?" suara pemuda berambut merah itu begitu dingin dan menusuk.

"Se-seharusnya, senpai tidak me-melakukannya. I-itu, melang..."

"Aku tak peduli." Pemuda stoic itu kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Membuat Hinata ciut. Tapi gadis mungil itu tak menyerah.

"A-aku ha-hanya ingin m-mengatakan, ssenpai ja-jangan lagi me-me-memmbuang ss... kyaaa!"

BRUUK!

Tiba-tiba pemuda itu bergerak mendekati Hinata dan dengan cepat langsung menubrukkan tubuh mungil itu ke sebuah tembok. Kini dengan jelas Hinata bisa melihat wajah tampan dengan tato merah yang membentuk kata 'ai' di dahi kirinya. Wajah rupawan yang sangat dingin melebihi es kutub itu memandangnya dengan tatapan tajam menusuk. Rambut menawan merah maroonnya bak bunga mawar merekah yang mempesona. Dan lingkar mata hitam pekat yang menghiasi jade indahnya hingga terkesan sangat pas dengan semua yang melekat padanya, semua tak bisa membuat gemetar tubuh Hinata reda. Tatapan tajam matan jadenyalah penyebabnya. Belum sampai lima detik dari ditubrukkannya tubuh mungil tadi ke tembok, Hinata lebih dulu menundukkan wajahnya yang gemetar ketakutan. Gadis manis itu semakin panik manakala si pemuda mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang menunduk.

"Tatap aku." Hinata bergeming sambil menahan debaran jantung yang menggila karena saking takutnya.

"Tatap aku!" kini pemuda itu malah meninggikan suaranya yang justru membuat Hinata harus menahan isak tangis juga merapatkan kedua kelopak matanya.

"Tatap aku, bodoh!" pemuda itu mencengkeram paksa kedua lesung pipi Hinata yang kini memejamkan kedua matanya sambil menangis ketakutan. Sejenak pemuda itu terdiam ketika melihat reaksi Hinata. Entah mengapa hatinya terasa bergetar. Darahnya berdesir aneh. Tapi sifat dasarnya yang tak suka diganggu menyuruh dirinya untuk memberi pelajaran pada gadis dihadapannya.

"Aku tidak suka diganggu. Apalagi diperintah oleh orang sepertimu. Apa hakmu mengatur-aturku, hm?" suara pemuda itu begitu menakutkan di telinga Hinata. Dahinya yang mengernyit mengungkapkan adanya rasa marah yang dahsyat dalam dirinya. Terbayang lagi oleh Hinata ketika saat-saat dimana ia diperlakukan seperti ini oleh Shion, Karin, dan Naruko dulu. Bedanya, ketakutannya saat ini sungguh berbeda. Rasa takut yang dialami Hinata kini jauh lebih menakutkan dan mencekik rasanya. Air mata yang terus mengalir bahkan tidak bisa membuat pemuda di hadapannya ini luluh sedetik pun. Sekuat tenaga Hinata menahan rintih kesakitan dan isak tangisnya.

"Kau bahkan tak menatapku saat aku berbicara. Berani-beraninya kau! Siapa kau, hah?! Kau membiarkanku berbicara sendiri?! Buka matamu!" dengan isakan yang semakin keras Hinata perlahan membuka matanya yang sudah basah oleh air mata. Disanalah, terlihat sepasang mutiara indah yang kini ketakutan ketika memandang wajah lawan bicaranya.

Si pemuda bertato itu semakin mengernyitkan dahinya tatkala menemukan mata itu. Entah karena terdorong oleh rasa apa, insting membuatnya bertindak gegabah. Tak meminta ijin terlebih dahulu, pemuda stoic tersebut dengan secepat kilat langsung mendekap tengkuk Hinata dan mencium bibirnya kasar. Melumat penuh hingga terdengar suara decapan keras setelah tak lama Hinata membuka matanya. Membuat si empunya terkejut sekaligus panik. Hinata mencoba mendorong-dorong dada pemuda itu agar menjauh darinya, tapi gagal. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga pemuda kekar yang kini telah memeluknya erat. Terbayang olehnya sosok Naruto yang nantinya akan ia persembahkan ciuman pertama ini padanya, meski hanya dalam bayangan saja. Tapi rengkuhan keras di lehernya kini menyadarkan Hinata bahwa bayangan itu hanyalah bayangan, tak lebih. Teringat akan kenyataan itu, Hinata hanya bisa menjerit tertahan dan meronta sebisanya. Tangisnya pecah dan tak henti-hentinya air mata keluar memberondong matanya. Kotak bekal yang sedari tadi digenggamnya kini sudah terbengkalai menumpahkan seluruh isinya.

Hampir lima menit keadaan mereka seperti itu. Ciuman kasar yang dinikmati sepihak tersebut membuat Hinata hampir kehabisan udara. Hingga saat dirinya hampir pingsan karena tak bisa bernafas, pemuda itu tahu dan langsung melepaskan pagutan bibirnya. Tangannya masih memeluk Hinata erat dan enggan untuk meninggalkannya.

"Hah...hah...hah..." Hinata terengah dan mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya. Setelah agak tenang Hinata memandang pemuda itu yang kini memandangnya lekat dengan tatapan yang sulit diartikan. Hinata kembali gemetar ketakutan. Wajah pemuda itu masih begitu dekat dengan wajah deru nafas hangat menerpa kulit wajah putih mulus si gadis Hyuuga.

"Siapa kau?" suaranya yang rendah lebih terdengar seperti sebuah geraman.

Hinata terdiam sambil menunduk menangis ketakutan. Kini tangan mungilnya itu mulai beraksi kembali mencoba melepaskan kekangan kedua lengan kekar di tubuhnya. "Hiks, lepaskan..." kadang pula terdengar sangat lirih kata 'apa yang kau lakukan...' sambil meninju-ninju lemah tubuh si pemuda. Tapi dengan sigap pula pemuda itu malah mengeratkan pelukannya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata.

"Kau tiba-tiba membuatku aneh..."

"To-tolong lepaskan..." suara Hinata hampir tertelan oleh rasa sakit di kerongkongannya. Disaat-saat seperti ini, yang ia harapkan adalah kehadiaran sosok Naruto datang menolongnya. Berkata kencang 'lepaskan!' lalu menggandeng tangannya dan berujar tegas pada pemuda di hadapannya ini agar jangan mengganggu Hinata lagi. Hanya itu, tak ada lagi yang Hinata inginkan saat ini. Hanya bayangan Naruto yang ada di pikirannya.

"Lepaskan." Harapan Hinata hampir terkabul, hanya saja yang berkata seperti itu bukanlah Naruto yang diharapakannya.

Pemuda berambut merah itu perlahan menengokkan kepalanya ke arah sumber suara. Mata tajamnya seakan siap untuk menyilet pemuda bermata onyx yang kini tengah berdiri dengan kedua tangan yang ia letakkan di saku celananya.

"Mau apa kau, Uchiha?" desis pemuda bertato itu.

"Seorang Sabaku tidak akan pernah melakukan hal nista seperti itu bukan?" suara pemuda itu juga dingin. Hinata yang penasaran dengan takut-takut menengok siapa yang kini dianggapnya tengah membelanya tersebut. Dan seketika membulatlah mata pearl Hinata saat menyadari bahwa sang ketua OSIS yang dipopulerkan banyak siswi itu tengah berdiri persis beberapa meter darinya. Wajah tampan yang terlihat datar dan tak acuh itu kini tengah menatap ke arahnya. Rambut raven yang sedikit mencuat ke sampingnya dan bergoyang karena tiupan angin. Ya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

"Berhentilah menangis, gadis cengeng." kata Sasuke yang dilayangkan pada Hinata. Hinata yang mendengarnya pun hanya bisa menjadi lebih takut lagi karena intonasi Sasuke lebih terdengar seperti memarahinya. Hinata kembali murung karena sepertinya bantuan yang ia harapkan tak bisa terkabul.

"Pergilah dan jangan ikut campur urusanku, Uchiha."

"Aku tak mencampuri urusanmu. Aku hanya tak suka apabila tempatku dijadikan tempat mesum olehmu," Sasuke menaiki sebuah undakan dan berdiri di atasnya. Menatap langit biru cerah dengan sedikit awan dengan posisi Sasuke kini menyampingi kedua orang yang terkesan sedang berpelukan itu.

"Brengsek! Mesum? Dan tadi apa kau bilang... nista katamu? Lalu kenapa aku tak boleh berbuat nista, eh? Kalau keluarga Uchiha yang terkenal arogan itu saja gemar berbuat nista?" pemuda itu menyeringai, berhasil membuat darah si Uchiha bungsu itu mendidih dan menoleh cepat ke arahnya.

"Senang merebut kekasih orang lain dan membuat derita keluarganya..."

"Apa kau bisa menutup mulutmu?" Sasuke mendesis.

"... Pada akhirnya juga Uchiha tak tahu malu itu akan mencampakkannya..."

"Bisakah kau diam huh?!"

"Membuatnya lebih menderita dari keluarg..."

"Cukup!" Sasuke dengan cepat meraih kerah seragam pemuda itu dan bersiap melayangkan tinjunya. Tapi dengan sigap pemuda berambut merah tersebut menghalau serangannya dan kini malah menonjok perut Sasuke. Tangan pucat itu kembali akan mengarahkan bogem mentahnya ke pipi Sasuke namun Sasuke berhasil menghindar dan terjadilah pertarungan sengit di antara mereka.

Hinata yang sudah terlepas dari kungkungan pemuda aneh itu langsung bersembunyi di salah satu sudut atap dan hanya bisa berdoa agar ada orang lagi yang mampu menghentikan mereka. Dan doanya terkabul. Dari arah tangga muncul seorang pemuda yang Hinata kenali sebagai Naruto. Hati Hinata sangat senang sekaligus sakit. Senang karena Naruto bisa datang dan sakit karena Naruto tidak datang untuknya.

"Hey, Gaara! Sasuke! Apa yang kalian lakukan?! Hey, hentikan!" Naruto terlihat terkejut dan langsung berlari ke arah dua pemuda yang saling melayangkan tinjunya itu. Naruto berusaha menghentikan keduanya meski dirinya terlihat jelas tidak bisa menghentikan mereka, karena notabenenya Naruto tak pandai berkelahi. Beberapa pukulan yang dilayangkan kedua pemuda itu secara tak sengaja mengenai Naruto yang berada di tengah-tengah mereka. Hinata yang melihat keadaan Naruto yang seperti itupun langsung keluar dari persembunyiannya dan mencoba menyelamatkan Naruto.

Gaara dan Sasuke langsung terdiam dengan Naruto yang berteriak keras sendirian sambil tangannya mengayun kesana-kemari ketika melihat Hinata merangkul Naruto sambil terisak.

"Sudah, kalian berhentilah, jangan bertengkar!" Naruto terdengar kelelahan sambil terus meracau dengan mata tertutup. Gaara yang melihat Hinata memeluk Naruto, langsung meraih gadis itu ke pelukannya namun gagal karena aksi Sasuke. Dengan cepat pemuda Uchiha itu menyeret Hinata dan langsung membawanya agak jauh dari sana. Menyembunyikan wajah ketakutan Hinata di balik punggung lebarnya. Terlihat jelas bahwa pemuda Uchiha itu memeluk Hinata di balik punggungnya dengan posesif.

Gaara yang melihat hal itu langsung mendatangi Sasuke dan mencoba menggapai Hinata. Tapi Sasuke tak mau melakukan hal itu begitu saja. Gaara marah dan dengan pukulan tak terduga, sekuat tenaga ia menghantam rahang kiri Sasuke yang tak sempat menghindar hingga tubuhnya terbanting cukup keras di lantai. Pukulan yang disertai amarah besar membuat Gaara kalap dan kini menindih tubuh Sasuke yang tengah ia pukuli. Sasuke yang masih berkunang-kunang kepalanya hanya bisa bertahan melindungi dirinya hingga ia sudah bisa menguasai diri lagi dan menyerang balik Gaara yang ada di atasnya.

Hinata bergidik ngeri ketika Gaara dengan brutal terus memukuli Sasuke yang telah mencoba melindunginya. Gadis itu merasa sangat kasihan dan tak tega. Tangisnya pun kembali pecah karena rasa bersalah. Ingin rasanya ia menyelamatkan Sasuke, tapi ia takut dengan Gaara. Hinata menatap Naruto yang kini terpelanting karena satu pukulan Gaara mengenainya ketika ia mencoba menyelamatkan Sasuke. Kini tak ada pilihan lain kecuali Hinata sendiri yang harus menyelamatkan Sasuke.

"Hentikan!" Hinata semakin menangis manakala ia melihat sendiri wajah babak belur Sasuke yang mencoba menyerang balik itu. Tangan mungilnya ia gunakan untuk menghentikan pergerakan tangan Gaara yang memukul Sasuke sekuat tenaga sambil terus berteriak agar mereka berdua saling berhenti memukul. Merasa ada yang mengahalanginya, Gaara menoleh ke arah gadis yang berlinangan air mata sambil menatapnya dengan tatapan memohon itu.

Gaara menghentikan pukulannya dan dengan kasar langsung mencengkeram lengan Hinata, mencoba membawanya pergi dari tempat itu. Tapi ada satu tangan yang menghambat lengan Hinata lainnya sehingga pergerakan mereka terhenti.

Terlihat dengan susah payah Sasuke mencoba bangkit dan akhirnya bisa berdiri tegak kembali.

"Lepaskan... keparat!" Sasuke berteriak dengan sedikit sempoyongan.

"Jangan ikut campur urusanku, anak haram," Sasuke kembali naik pitam dan mencoba memukul Gaara kembali. Tapi Naruto yang telah bangun dari jatuhnya telah mengekang tubuh Sasuke sekuat tenaga agar ia tidak memukul Gaara.

"Hentikan Teme, kau bodoh! Gaara, cepat pergi dari sini!" Naruto berusaha mati-matian.

"Lepaskan aku Dobe! Kau akan membiarkan Hinata disakiti olehnya, hah?!"

Hinata tersentak kaget.

"Jadi, namanya Hinata?" Gaara menyeringai. Hinata terkejut karena Sasuke mengetahui namanya. Namun bukan itu yang membuatnya kini hendak melangkah ke arah pemuda itu. Melainkan ia kasihan pada Naruto yang terus tersikut-sikut perutnya oleh Sasuke. Tapi belum sempat ia menyelesaikan langkah pertamanya, Gaara menyeretnya keras dan langsung membawanya pergi.

Dari bawah, Hinata masih bisa mendengar teriakan Naruto dan Sasuke. Naruto yang berusaha menenangkan Sasuke, dan Sasuke yang semakin kalap mencoba memberontak dari Naruto sambil menyebut-nyebut nama Hinata. Hinata hanya menagis, dan terisak. Perasaannya campur aduk, antara penasaran, takut, sedih, kasihan, bersalah, dan panik. Apalagi kini ia tengah diseret paksa oleh seorang pemuda aneh yang baru saja mencuri ciuman pertamanya secara tidak elit.

'Sebenarnya ada apa ini?' batin Hinata.

TBC

~~~))0((~~~

hwaa... terharu ada yang review ni ff abal...

tapi takut nih, rated-nya belum ditentuin. ntar pas adegan hotnya mungkin rated bakal berubah m... mohon bantuannya minna, author masih baru soalnya. Gomenne, kalo nanti ratednya berubah mohon pendapatnya ya...

Honto ni gomenne...