Pagi yang cerah, senin yang indah dan aku mendapatkan shift sore yang sangat menyenangkan.

Dengan langkah gontai sekaligus malas bercampur dengan rasa kantuk yang masih menyerang di kepalaku, aku berjalan menuju kamar mandi. Dengan gerakan cepat aku membasuh mukaku, menggosok gigi dan kemudian keluar dari kamar mandi seraya membersihkan wajahku dengan sebuah handuk kecil yang lembut.

Semua berjalan lancar, semuanya. Satu minggu berlalu dan perlahan, aku mulai mendapatkan kembali hidupku. Bangun pagi, berkerja di klinik, pulang dan masuk ke dalam kamar tidurku. Sesekali Ino menelpon—oh, tidak, dia selalu mengabsenku tiap hari—untuk menanyakan bahwa aku masih hidup atau tidak.

Semuanya berjalan sangat lancar dan menyenangkan.

Selesai sarapan, aku kembali menuju kamarku, mandi dan berganti pakaian. Turun menuju lantai dasar untuk mengecek kotak pos. Memberi salam basa-basi kepada beberapa orang tetangga yang kebetulan aku temui dan melemparkan senyum seolah-olah berkata 'aku baik-baik saja, seperti setiap harinya'.

Begitu aku sampai di deretan kota pos di lantai dasar, dengan segera aku menelusuri deretan kotak pos itu dan menemukan kotak posku. Detik selanjutnya, aku langsung mengeluarkan kunci dari saku celanaku dan membuka kotak posku. Dan aku dapat melihat dengan jelas setumpuk surat dengan berbagai warna amplop tertumpuk di kotak posku. Sudah berapa lama aku tidak membuka kotak posku?

Dengan cepat, aku langsung mengeluarkan setumpuk surat itu, menggenggamnya dengan menggunakan tangan kiriku dan tangan kananku kembali mengunci kotak posku. Tanpa beranjak dari posisiku, aku mulai melihat satu per satu tulisan yang tertera di amplop.

Surat dari bank, asuransi, penawaran barang dan kemudian dua buah kartu pos dari kakak laki-lakiku. Melihat dari gambarnya, aku sudah tahu dimana kakak bodoh itu kini berada, London. Tanpa sadar, aku tersenyum tipis. London. Ada apa dengan kata itu?

Tapi detik selanjutnya, aku langsung menepis pikiranku dan kembali melihat satu per satu suratku. Hingga akhirnya, aku dapat merasakan bahwa mataku menatap lebar dan tidak percaya dengan sebuah amplop yang kini berada di depan mataku. Amplop yang paling tebal dan memiliki beberapa ornament untuk menghiasnya. Sebuah amplop yang berbeda dari amplop lainnya.

Undangan pesta pernikahan.

.

.

Disclaimer & Original Story : Masashi Kishimoto

Story : Watashi no Namae

Watashi no Namae Present

.

A Present From The Time : Cinderella's Plan

.

.

.

"Bagus, jadikan itu sebagai sebuah pesta perang, Sakura!" Ino langsung berseru menggebu-gebu tepat sedetik setelah aku menceritakan apa yang kutemukan tadi pagi. "Oh ya Tuhan, pria macam apa dia? Dia mengundangmu ke pesta pernikahannya setelah mencampakanmu?! Yang jelas, kau tidak boleh kalah dari si Pengantin Wanita. Tunjukan harga dirimu di depan pria keparat itu!"

Aku menatap kearah ponselku dengan pandangan malas. "Kau ingin aku membuat keributan, ya?" tanyaku dengan nada setengah malas setengah tidak percaya dengan apa yang barusan ia katakan. Detik selanjutnya, aku langsung bangun dari posisi tidurku dan duduk di pinggir ranjang. Menatap kearah luar jendela dari kamarku.

"Tentu!" Ino menyahut seru, membuatku tanpa sadar bergidik ngeri membayangkan Ino yang membuat keributan di pesta orang. "Jadikan ini pesta balas dendam kepada si Pengantin Pria dan jadikan ini pesta perang kepada Pengantin Wanita. Kau harus tampil luar biasa. Aku akan meminjamkan dress terbaikku. Oh-ho, kau juga butuh tumpangan! Aku akan meminjamkan salah satu mobil sport-ku atau kau bisa—"

"Ino!" aku memotong perkataannya cepat sebelum wanita itu memulai pembicaraan entah kearah mana. Ino sahabatku, si pirang yang cerewet yang selalu kuandalkan, sahabat yang terkadang terlalu berlebihan untuk beberapa hal dan sangat menakutkan kalau sudah marah.

"Tidak perlu—"

"Jangan katakan kau tidak akan datang!" Ino memotongku cepat, berseru dengan nada mulai galak. "Tidak, tidak! Kau harus datang. Datang adalah kewajibanmu, kau sudah diundang!"

"Tapi Ino, sekalipun aku datang, yang mungkin pertama kali aku lakukan adalah meninju keras wajah pria itu." seruku dengan nada tegas dan serius. "Sejujurnya, aku sudah tidak ingin berurusan dengan pria keparat itu lagi. Membicarakannya saja sudah membuat emosiku mulai mendidih."

"Kalau begitu, datang dan tinju wajahnya!" Ino semakin berseru memanasi.

"Ino!" pekikku tidak percaya. Bukannya melerai dia malah memanasi. Meskipun memang di sisi lain, aku ingin datang ke pesta pernikahan pria itu dan meninju wajahnya dengan segenap kekuatan dalamku. Tapi, oh, ayolah, berdamai lebih baik. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu.

Ino terdiam sebentar. "Dengarkan aku Sakura," Ino berkata dengan nada serius. Oh, aku tahu kearah mana pembicaraan ini sekarang. Dia akan mulai merajuk dan dia akan mulai menghasut pikiranku kalau aku menolak—atau seringkali dia memaksakan kehendaknya. Aku tidak ingin mendengarkan perkataannya, tapi kalau aku putuskan sambungannya, itu keputusan yang lebih gila.

"Kau harus datang. Pria itu sudah mencampakanmu. Baiklah, tak masalah jika kau tidak ingin menganggap itu perang atau balas dendam, terserah, sungguh! Tapi kau harus datang. Maksudku, ayolah kau sudah diundang. Anggap saja kau sedang jalan-jalan atau mungkin kau bisa anggap pesta itu sebagai reuni dadakan." Ino berkata dengan nada yang sulit kujelaskan, sedikit mengambang namun penuh keyakinan. Seperti percampuran antara nada paksaan dan nada menyembunyikan sesuatu. Nada bicara yang sulit kutebak.

"Ino, kau tidak merencanakan sesuatu kan?" aku mulai curiga.

Aku tahu Ino sedang memutar mata bolanya di seberang sana. "Tidak. Mungkin ya, rencana balas dendam untukmu. Buat pria itu menyesal." Ino menekan nadanya ketika kalimat 'pria itu' dan itu membuatku bingung sekaligus curiga.

Tanpa sadar aku menyipitkan mataku. "Kau yakin? Tidak ada sesuatu yang kau rencanakan kan?"

"Aku sudah mengatakannya, bukan? Mungkin ya." Dan aku dapat menangkap dengan jelas nada keyakinan dari wanita di seberang sana. "Ngomong-ngomong, kau pasti butuh dress yang bagus bukan? Oh, dan sepasang sepatu. Sepatu kaca yang berkilauan, agar Pangeran dapat menjemputmu segera."

Aku memutar mata bolaku malas. "Itu berlebihan. Aku masih punya beberapa dress yang layak kupakai."

"Oh, jadi kau sudah setuju untuk datang?" tiba-tiba saja nada Ino berubah menjadi nada suara jahil dan menggoda.

Oh, ya Tuhan! Aku terjebak lagi!

"Tidak!" seruku cepat sebelum Ino memulai aksinya. "Aku tidak akan datang!"

"Tentu saja kau harus datang." Ino menyahut dengan nada enteng. "Kau sudah diundang."

"Tidak, tidak dan tidak. Hentikan itu! Aku sudah memutuskan—"

"Kau ingin meninju wajah pria itu kan? Tinju saja." Ino menyela. "Aku yang akan bertanggung jawab jikalau pria itu melaporkanmu ke polisi—"

"Ino—"

"Hei, ini tawaran yang menggiurkan. Tuntaskan emosimu kepada pria itu. Tinju wajahnya!" Ino semakin berseru menggebu-gebu. Oh, ya, ini gila. Tiba-tiba saja tanganku gatal untuk meninju pria itu.

"Jadi, kau datang?" Ino kembali bertanya, kali ini dengan nada seolah-olah dia sedang menawarkan sebuah tawaran yang luar biasa menggiurkan.

Aku terdiam selama beberapa detik. Memijat pelipisku pelan dan kemudian sibuk dengan pikiranku. Oh, baiklah. Ini tawaran yang menggiurkan. Aku bisa meninju wajah pria itu dan tidak akan berurusan dengan polisi karena Ino yang akan mengaturnya. Tapi… ini gila.

Ayolah Haruno Sakura, buat keputusanmu!

"Tidak." aku menjawab lemah. Ada setitik rasa penyesalan yang tiba-tiba saja datang di hatiku.

Ino terdiam sebentar. "Yang jelas, kau akan datang ke pesta itu. Dengan atau tanpa paksaanku."

Tunggu, apa?! Apa yang tadi dia katakan!?"

"Hei, aku sudah bilang bukan—"

"Aku tidak menerima penolakan."

"Ino!" aku menjerit frustasi. Tidak lagi, tidak! Kenapa dia selalu senang membuatku frustasi seperti ini!?

"Kau membutuhkan sebuah dress untuk menghadiri pestanya. Aku akan mengirimkan orang suruhanku—" Ino bersikeras dan kepalaku serasa dibakar sekarang.

Dengan cepat aku langsung memotong. "Aku tidak butuh dress sama sekali! Kalaupun butuh, aku masih punya beberapa yang layak untuk dipakai!"

Dan detik selanjutnya, Ino menyahut dengan nada tegas dan naik satu oktaf. "Tidakkah kau sadar tentang derajat pria itu? Pria itu dari kalangan borjuis! Dan dengan dress-mu yang seadanya itu, kau tidak akan menjadi seorang Cinderella! Kau tenang saja, aku akan mengurus segalanya. Ngomong-ngomong, aku juga akan mengirim seorang penata rias. Siapkan dirimu." nada memerintah langsung keluar dari mulutnya. Aku menatap smartphone-ku dengan pandangan ngeri.

"Ino—" nyaliku ciut, berkata seperti seorang pemain baseball kehilangan nyali dihadapan musuh besarnya.

"Baiklah, aku harus memutus sambungannya. Sai sudah menungguku di luar. Semoga harimu menyenangkan." dan di detik selanjutnya, aku dapat mendengar suara panggilan yang di putus.

Pagi yang cerah, senin yang indah dan kemudian sebuah undangan mengacaukan segalanya. Menyebalkan. Suasana hatiku hancur seketika. Pria itu, pria keparat yang telah mencampakanku. Untuk apa kau berurusan lagi dengan pria itu, Sakura?! Dan kenapa Ino justru mendukungku untuk pergi ke acara itu!?

Oh, baiklah. Aku akan datang ke acara pesta pernikahan itu. Tentu saja. Tak masalah. Tapi jika ada celah, aku tinggal kabur sejauh yang kubisa dari acara itu. Oke, itu rencana hebat.

Tuhan, memiliki sahabat seperti Ino benar-benar membuatku frustasi. Pemaksa dan tidak menerima penolakan, mirip dengan—oh, ya kau tidak boleh memikirkannya. Pikirkan hal lain.

Detik selanjutnya, aku menjatuhkan tubuhku kearah kasur. Merasakan gaya kebawah yang dihasilkan tubuhku dan membuat sedikit punggungku sakit. Menatap kearah langit-langit kamarku dengan pandangan bingung dan resah.

Tiba-tiba saja pikiranku melayang entah kemana. Pergi mengarungi ingatan-ingatan di masa laluku. Perlahan tapi pasti, lembar demi lembar kenangan itu kubaca sekali lagi.

Nostalgia itu kembali. Memenuhi seluruh tubuhku dan membuat isi kepalaku mulai kacau. Detik selanjutnya, aku sudah memikirkan apa yang seharusnya tidak kupikirkan. Pikiran yang selama dua minggu ini telah kucoba untuk kuusir sejauh mungkin. Tapi pikiran itu selalu kembali lagi.

Pria itu.

Tiba-tiba saja, senyumnya mulai mengisi otakku. Tiba-tiba saja suaranya mulai berputar-putar tanpa henti di otakku. Suaranya yang memanggilku dengan nama Uchiha Sakura. Sebuah nama yang entah kenapa kini sangat ingin kusandang. Pikiranku kacau dan kenangan akan hari itu mulai kembali berputar. Kenanganku dengan pria itu dua minggu yang lalu. Kenangan itu. Oh, ya Tuhan.

Dan tanpa sadar—sebuah kebiasaan yang terjadi setiap diriku resah dan kacau yang dimulai sejak seminggu yang lalu—aku menggenggam erat bandul kalung pemberian Ino untukku—sebuah cincin yang luar biasa indah dengan pink diamond yang tersemat di atasnya. Kalung yang selalu kupakai. Kalung yang tak pernah kulepas.

Tuhan, sungguh, aku merindukan pria itu.

.

.

Ino tidak berbohong soal apa yang dia katakan.

Sabtu pagi, tepat di tanggal yang telah tertera di undangan pernikahan—hari pernikahan pria yang telah mencampakkanku—tiga orang wanita datang ke apartemenku dengan senyum cerah dan mereka berkata bahwa mereka telah diutus oleh Shimura Ino untuk memoles setiap inci tubuhku.

Tunggu, tunggu, setiap inchi tubuhku?!

"Bukankah Ino hanya menyiapkan pakaian dan penata rias untukku?!" sahutku setengah protes dan setengah tidak percaya.

"Tidak, Haruno-san. Shimura-san memerintahkan kami untuk melulur dan memijat tubuh Anda selain mengurusi masalah pakaian dan tata rias. Shimura-san juga memerintahkan untuk melakukan foot spa dan—"

"Tunggu, tunggu! Mana mungkin itu semua dilakukan di apartemenku!" sambarku cepat. Oh, Ino sahabatku yang keterlaluan baik, terima kasih untuk hal ini.

"Tenang saja, Haruno-san. Kami dapat melakukannya." salah satu diantara mereka tersenyum lebar kearahku. Senyum yang tidak ingin kulihat saat ini.

Oh, Ino, kenapa utusanmu juga seseram dirimu!?

.

.

Setelah hampir lima jam berada di dalam neraka yang disebut dengan perawatan tubuh dan dijemput dengan menggunakan sebuah mobil mewah kelas atas lengkap dengan supirnya, disinilah aku berada. Dengan sebuah A-line dress tanpa lengan yang memiliki potongan bubble di bagian roknya berwarna hijau cerah yang sempurna di tubuhku. Sebuah belt kecil berwarna emas yang melingkar di pinggang dan sepasang high heels berwarna putih lengkap dengan sebuah strap yang melekat di mata kakiku.

Kalung yang kukenakan tidak lagi kusembunyikan. Kalung berbandul cincin pemberian Ino itu kini semakin menyempurnakan penampilanku. Dan saat itu—tepat saat orang suruhan Ino mengeluarkan kalung itu dari balik kaosku—sebuah getaran aneh terjadi begitu saja di dadaku. Seolah-olah cincin itu tidak mengijinkan siapapun menyentuhkan kecuali diriku. Seolah-olah cincin itu sudah mengikatku dengan pesonanya yang indah.

Tapi akhirnya, aku kembali ke dunia nyata. Menatap sekelilingku dengan pandangan bingung. Tanpa sadar, senyum canggung dan kikuk yang menghiasi wajahku. Aku berjalan dengan langkah gugup menuju hallroom yang berada di salah satu hotel mewah di pusat jantung perkotaan Suna. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdetak tidak karuan seperti ini?

Hanya ada sebuah pertanyaan yang memenuhi otakku saat ini. Yang membuatku semakin gugup dan kebingungan.

Bagaimana cara memulai percakapan dengan pria keparat yang telah mencampakkanku itu!?

Oh, Haruno Sakura bodoh! Bisa-bisa kau tidak memikirkan hal itu! Bagaimana caranya kau akan berinteraksi dengan mantanmu, ha!? Bersikap biasa? Tidak, tidak mungkin. Kau tidak akan mungkin bisa bersikap biasa dengan pria yang telah mencampakanmu itu. Bersikap tidak peduli? Mana bisa! Kau sudah datang sebagai tamu undangannya. Bersikap ramah? Mimpi! Melihatnya saja sudah membuat tinjuku gatal.

Oh, tenang saja, Sakura, tenang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur dari acara ini. Kau masih bisa membalikan badanmu dan pergi dari bangunan ini sebelum ada seseorang mengenalmu dan menarikmu masuk ke dalam acara itu. Oke, itu ide bagus.

Detik selanjutnya, aku langsung menarik nafasku dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Mulai bersikap biasa saja dan di detik selanjutnya aku langsung membalikan badanku. Melangkahkan kakiku menuju pintu keluar dan aku dapat melihat supir yang tadi telah mengantarku kesini—supir utusan Ino—berdiri di depan pintu keluar.

Aku sudah masuk jebakan Ino yang paling dalam. Tamat sudah riwayatku.

"Apa ada sesuatu yang tertinggal, Haruno-san?" supir itu tersenyum.

"A-ah… tidak." jawabku cepat. "Aku hanya… lupa… dimana hallroom-nya." dan aku tertawa hambar. Bodoh! Alasan bodoh apa itu!?

"Kalau begitu, mari saya antar."

Ya, Haruno Sakura, bagus sekali. Kau masuk ke dalam perangkap jebakan cenayang sekali lagi dan tak akan bisa keluar seperti waktu itu. Bagus sekali, Haruno Sakura. Kau harus membuat pesta perayaan untuk merayakan keberhasilan Ino menjebaknya untuk kedua kalinya. Dan juga, siapkan hatimu, Haruno!

.

.

Begitu aku memasuki hallroom, yang pertama kali kulihat adalah orang-orang yang berwajah tegang. Beberapa diantara mereka berbisik dengan raut wajah khawatir dan tidak percaya. Suasana ruangan ini sangat tegang dan kaku. Dan yang ada di pikiranku pertama kali adalah; apa aku sudah salah memasuki ruangan?

Dan yang kulihat selanjutnya ada sebuah ruangan yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen pernikahan. Meja-meja bundar yang tertutup taplak meja berwarna cream yang sudah diatur sedemikian rupa untuk para tamu dan sebuah altar yang sudah dihias dengan bunga-bunga di salah satu ujung ruangan. Tapi raut wajah seluruh tamu tak ada satu pun yang menampakan kebahagiaan. Apa aku sudah salah memasuki ruangan?

Tapi saat aku membalikan badanku, si supir utusan Ino masih berdiri di belakangku dengan senyumnya. Dan nyaliku ciut kemudian. Senyumnya luar biasa mengerikan.

"Aku… tidak salah… ruangan kan?" bahkan untuk berbicara normal pun sulit sekali.

"Tidak." Supir itu masih tersenyum.

Aku menelan ludahku kaku. "Oh, baik. Aku mengerti." dan detik selanjutnya, aku kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam hallroom. Kemudian menghela nafas gusar, antara kesal, marah dan tidak bisa berbuat apapun.

Haruskah aku melanjutkan langkah kakiku? Oh, tentu saja, Sakura. Kau sudah masuk jebakan. Jadi, apa salahnya mengikuti permainannya?

Oke, ini dia, saatnya untuk beraksi. Datang, makan semua makanan, tinju wajah pria itu dan pulang dengan tenang.

Saat kepalaku mengedar mencari wajah-wajah yang mungkin kukenal seraya berharap memang ada yang kukenal, aku menemukan salah satu meja bundar yang beberapa wajahnya sangat kukenal. Dengan cepat aku langsung melangkahkan kakiku kesana dengan perasaan lega luar biasa dan mengucapkan syukur di dalam hatiku. Setidaknya, ada teman yang bisa kuajak mengobrol untuk menghabiskan waktu di pesta ini.

Tepat selangkah saat aku akan duduk di salah satu kursi yang kosong, ketiga orang penghuni meja itu langsung menatapku dengan pandangan tidak percaya. Ketiga menatapku seolah-olah aku adalah hantu di siang bolong dan aku tidak bereaksi apapun selain menunjukan wajah malasku—karena aku sudah tahu alasan mereka menatapku seperti itu.

Tuhan, aku ingin keluar dari ruangan ini. Segera.

"Oh, Sakura! Kau datang?! Aku tidak percaya ini!" Tenten menatapku dengan pandangan tidak percaya saat aku duduk di sampingnya. Matanya terbuka lebar menatap kearahku dari ujung kaki hingga kepala.

"Ya Tuhan, Sakura!" Rin juga berseru tak kalah tidak percaya.

"Tunggu, sejak kapan kau berubah sedemikian drastis?" Matsuri menatapku dengan pandangan menyipit dari ujung kepala hingga ujung kakiku. "Kau… kau menggunakan heels!? Ya, Tuhan! Kalung apa itu? Tunggu, itu cincin?! Ya ampun, Haruno Sakura!"

"Benarkah? Ya Tuhan, itu indah sekali! Dimana kau membelinya!?" detik selanjutnya, Tenten langsung mencengkram kedua bahuku dan memutar tubuhku kearahnya. Wanita itu mendekatkan wajahnya kearah bandul kalungku dan dengan cepat aku melepaskan cengkramannya dan menatap kearah mereka dengan pandangan kesal.

"Hei, ini bukan acara reuni kita!" seruku protes melihat tingkah mereka yang sangat kekanak-kanakan.

"Kami tidak akan seheboh ini kalau yang menggunakan kalung dan baju itu adalah Matsuri. Masalahnya, ini adalah kau, Haruno Sakura." Rin tersenyum simpul kearahku dan aku menggerutu kearahnya.

Aku memutar mata bolaku. "Ino, ini semua adalah perkerjaan Ino. Dan lagipula, ini bukan acara reuni dadakan kita bukan? Kapan acaranya dimulai? Aku benar-benar sudah tidak tahan disini."

Rin menatapku antara tidak percaya dan kaget. "Kau bahkan baru datang tidak lebih dari lima menit yang lalu tapi kau sudah tidak tahan disini!" serunya setengah membisik setengah berseru tak percaya.

"Ya dan aku sudah tidak tahan untuk keluar dari sini." jawabku apa adanya seraya bertopang dagu sedetik kemudian.

"Kalau begitu, kenapa kau datang?" Tenten bertanya dengan nada heran.

"Ino, ini semua perkerjaan Ino." aku mengulang kembali perkataanku. "Ngomong-ngomong, kapan acaranya dimulai? Aku sudah tidak sabar meninju wajah pria itu." aku mulai bertanya dengan nada tidak sabaran. Oh ya ampun, suasana ruangan yang tegang dan kaku juga suasana hatiku yang tidak nyaman benar-benar membuatku panas seketika. Aku benar-benar ingin keluar dari ruangan ini sekarang.

"Oh, Sakura, tidak perlu menunjukan wajah seram begitu. Make up-mu akan benar-benar tidak berguna kalau kau berwajah seperti itu." Matsuri mencubit pipiku pelan dan dengan cepat aku langsung melepaskan tangannya dari pipiku.

"Matsuri, kau tahu sendiri kan, betapa hubungan antara Inuzuka Kiba dan Haruno Sakura sangat luar biasa buruk sejak si Kiba berselingkuh dengan wanita lain dari sebuah klub malam saat berpacaran dengan Sakura. Lalu tiba-tiba saja si Kiba—mantan pacarnya sewaktu kuliah yang sudah mencampakannya itu—memberikan undangan pernikahan kepadanya. Pasti tangannya sudah gatal sekali untuk meninju wajah pria itu." Tenten terkekeh pelan dan aku langsung menatapnya tajam. Tenten justru semakin terkekeh pelan.

Ya, itu benar sekali Tenten. Dan akibat kalimatmu itu, aku benar-benar sudah panas untuk meninju wajah pria itu sekarang.

"Oh, adakah yang bisa menjawab pertanyaanku, kapan pestanya dimulai? Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini! Oh, tidak. Sebelumnya aku harus meninju wajah pria itu." aku semakin tidak sabaran, menatap kearah sekelilingku dengan wajah antara marah dan kesal. Dan aku semakin dapat merasakan aura tegang di ruangan ini. Beberapa orang semakin berbisik seru dan sesekali melirik kearah seorang wanita yang tegah berdiri di dekat altar dengan wajah resah.

Dan mataku menyipit kearah wanita itu. Dan aku dapat melihat dengan jelas bahwa wanita itu adalah Inuzuka Hana—kakak dari pria keparat itu—yang terlihat resah dan khawatir. Wanita itu beberapa kali di datangi oleh beberapa orang dan kemudian ia membungkuk minta maaf. Tunggu, ada apa ini? Sesuatu telah terjadi?

"Inuzuka Kiba dipukul oleh seseorang tepat saat akan keluar dari ruang riasnya."

Dan di detik selanjutnya, refleks aku menatap kearah Rin dengan pandangan terkejut sekaligus heran.

"Kudengar lukanya tidak terlalu parah, tapi kau tahu sendirikan bagaimana sifat si Inuzuka Kiba itu sendiri? Kurasa, harga dirinya runtuh setelah dia dipukul dan kemudian merajuk seperti anak kecil. Sebelum Dia bisa membalas pukul orang itu, Dia tidak akan melaksanakan pesta pernikahannya. Keluarganya sangat panik tapi tidak bisa melakukan apapun karena si Bodoh itu bersikeras." Rin melanjutkan penjelasannya dengan nada mengambang. "Dan beginilah suasana ruangannya. Tegang dan kaku."

Ya Tuhan, ini gila.

"Kudengar mempelai wanita dan keluarganya sudah pulang karena merasa harga diri mereka sudah dijatuhkan oleh pria itu." Rin kembali melanjutnya. "Aku bisa menebak bahwa pesta pernikahan ini gagal. Lihat saja, sepuluh menit lagi pasti ada ucapan permohonan maaf kepada para tamu dan kemudian semua akan pulang."

Aku menatap Rin dengan pandangan tidak percaya. "Astaga, siapa yang melakukan itu?" untuk saat ini—entah mengapa—kebencianku kepada Inuzuka Kiba tergantian oleh rasa empatiku kepada keluarga Inuzuka. Ya Tuhan, akibat kelakuan anak laki-laki mereka, mereka harus menanggung malu seperti ini. Pria itu memang selalu bersikap keterlaluan!

Rin tidak langsung menjawab. "Entahlah."

Aku menatapnya dengan pandangan berbeda sedetik kemudian. Aku tahu dan dapat memastikannya, Rin tahu pelakunya. Tapi dia tidak ingin memberitahu.

"Lalu?" aku bertanya dengan nada mengambang.

"Entahlah." sahut Tenten. "Yah, kurasa kita akan pulang beberapa menit lagi. Jadi, bersiaplah untuk pulang."

Tepat tiga detik kemudian, seluruh perhatian para tamu undangan langsung disita oleh seorang wanita yang tengah berdiri di depan altar dengan microphone di tangannya. Wajahnya sudah tidak digambarkan lagi bagaimana ia resah, khawatir dan malu juga marah dalam satu waktu. Ketika aku memperhatikannya lebih lagi, aku dapat melihat bahwa matanya sudah sangat sembab.

Wanita itu—Inuzuka Hana—sebagai perwakilan dari keluarga Inuzuka juga keluarga mempelai wanita mengucapkan permohonan maaf sedalam-dalamnya atas insiden tak terduga ini, dan kemudian ia meminta kami untuk meninggalkan ruangan seraya kembali meminta maaf sedalam-dalamnya. Beberapa kali dia mengumpat kesal yang ditunjukan kepada adiknya, si pria itu. Dan kemudian, di akhirnya kalimatnya, dia menangis tersedu-sedu. Menutupi mulutnya dengan telapak tangannya dan menangis. Bahunya bergetar dan beberapa orang menatapnya dengan pandangan iba.

Suasana ruangan mulai mencair. Ketegangan dan kekauan kini berubah menjadi rasa simpati dan iba sekaligus kekecewaan terhadap salah satu anggota keluarga Inazuka—si pria itu. Beberapa orang datang kearah Hana, memeluknya dan menghiburnya. Hana dengan cepat kembali meminta maaf. Tapi kemudian dengan cepat mereka kembali memeluk Hana dan menghiburnya.

Dan diriku masih belum beranjak dari posisiku, menatap kearah Hana dengan pandangan sedih sekaligus tak dapat melakukan apapun. Dari kejuahan, aku bahkan dapat merasakan bagaimana perasaan dan tanggungan malu dari keluarga Inuzuka atas insiden ini.

"Sakura, kita juga harus pergi." Matsuri menyadarkanku dari lamunanku. Refleks, aku menatapnya dengan sebuah senyum tipis yang terukir di wajahku.

Detik selanjutnya, aku langsung berdiri dari posisi dudukku. Kembali menatap kearah Hana dengan pandangan iba tapi detik selanjutnya, aku langsung memandang kearah lain—ya Tuhan.

Ya Tuhan. Astaga.

Ini gila. Ini sinting. Ini luar biasa tak masuk akal.

Jantungku berdetak dengan kencang detik selanjutnya dan aku dapat merasakan dengan jelas tubuhku yang tegang saat pria itu mengunci pandangannya kearahku. Darahku mengalir lebih cepat dari biasanya, memacu jantungku untuk berdetak semakin kencang. Tubuhku rasanya ingin berlari dan memeluk tubuh itu seketika. Tapi matanya sudah mengunci tubuhku.

Mata itu, mata hitam kelam itu. Mata yang mengunci tubuhku. Dan kami saling bertatapan, melihat masing-masing bola mata kami. Saling menatap dengan jarak diagonal hampir sepuluh meter. Beberapa orang berlalu lalang di antara jarak sepuluh meter kami, tapi tatapan kami tetap terkunci satu sama lain. Seolah-olah kami adalah gembok yang menemukan kuncinya.

Dadaku sakit, nyeri luar biasa langsung menyerang dan itu membuatku tidak nyaman. Tapi di sisi lain, aku menikmati sensasinya. Menikmati bahwa pria itu sedang menatap bola mataku dengan iris kelamnya. Menikmati bahwa akulah satu-satunya objek yang sedang dia tatap.

Tuhan, sudah berapa lama aku tidak bertemu dengan pria itu?

Tapi kenyataan menghantamku. Tepat di titik tengah hatiku. Menyadarkanku dari lamunan gila yang tidak seharusnya kupikirkan. Menyadarkanku tentang posisiku dan membuat hatiku remuk dalam satu hantaman. Kenyataan selalu tahu kebenaran tentang hubungan kami.

Kalimatnya waktu itu. Kalimatnya yang membuatku hancur seketika. Kalimatnya yang membuatku harus kembali sadar bahwa aku tengah berada di dasar jurang yang dalam dan aku tidak berada di sisinya.

Pria itu akan menikah.

Menyakitkan. Ini sangat menyakitkan, namun inilah saat-saat yang sangat kuinginkan. Dan tanpa sadar, tanganku kembali menggenggam erat bandul kalungnya. Seolah-olah aku tengah mentransfer kegelisahan dan rasa sakit di dadaku dengan genggaman tanganku.

Dan aku dapat melihatnya dengan jelas. Sangat jelas meskipun jarak kami adalah sepuluh meter dan terhalang oleh beberapa meja bundar. Pria itu tersenyum. Sebuah senyum terukir di wajah pria itu.

Pria itu—Uchiha Sasuke—tersenyum kearahku. Dan aku tidak dapat menggambarkan betapa meledaknya hatiku saat ini.

Tapi detik selanjutnya, pandangan kami terputus. Pria itu berjalan dengan pelan menuju kearah Hana dan mataku masih terus mengikuti gerak tubuhnya yang berjalan konstan kearah Hana. Hingga akhirnya aku harus kembali tersentak kaget. Rin menepuk pundakku pelan.

"Ayo."

Aku terdiam, cukup lama, menatap Rin dengan pandangan setengah hampa.

"Eh?" Rin menatapku terkejut. "Kenapa kau menangis?"

Aku menatapnya bingung. Dan detik selanjutnya, aku langsung mengusap pelan pipiku. Aku dapat melihat bahwa telapak tanganku sedikit basah saat ini. Oh, ya ampun Haruno Sakura.

Tuhan. Aku menangis. Menangis kembali karena pria itu.

"A-ah…" Rin mulai bingung. "Kita… kita keluar dulu darisini. Baru kau bisa menceritakannya, oke?"

Dan detik selanjutnya, tanganku langsung di tarik oleh Rin menuju keluar hallroom. Dan aku dengan pasrahnya mengikuti langkahnya. Tepat pada saat itu, saat dimana aku akan keluar dari hallroom, aku kembali menatap kearahnya, kearah Uchiha Sasuke. Dan entah bagaimana caranya, pria itu tiba-tiba juga menatapku.

Dan selama hampir sepersekian detik, kami kembali saling menatap. Mengunci pandangan kami dan kemudian ikatan itu dengan sekejap terputus.

Tuhan, aku tidak dapat menjelaskan bagaimana hatiku saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Menangis. Layaknya perempuan lemah yang tersakiti aku menangis. Menumpahkan segala macam rasa yang tertumpuk di hatiku karena pria itu. Seraya menggenggam erat bandul kalungku, aku menangis terisak seraya membungkukan punggungku dan menenggelamkan kepalaku, menatap kearah tanah seraya terus mengeluarkan air mata. Di bangku taman yang terletak di halaman belakang bangunan mewah Hotel ini, aku menangis sejadi-jadinya. Semua orang menatapku, tapi aku tidak peduli, sungguh!

Rin menatapku dengan pandangan iba. Rin memelukku dan sesekali mengusap punggungku. Tapi aku tak dapat menghentikan air mataku.

"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Rin berbisik di telingaku. "Semuanya akan baik-baik saja."

Aku tidak menjawab, sesak di dadaku. Nafasku tersenggal-senggal, terisak-isak dan itu semakin membuat dadaku sesak. Tenggorokanku sakit, rasanya seperti ada bongkahan batu besar disana dan itu semakin membuatku tersiksa.

"Tuhan…" aku membisik lemah disela isakanku dan Rin mengelus punggungku perlahan.

"Semua akan baik-baik saja." Rin kembali membisik lemah kearahku, menyemangatiku dan tersenyum simpul kearahku. "Pangeran akan datang, menjemput Cinderella dan kemudian mereka bahagia."

Dan aku tidak menjawab, terisak lebih dalam. Tuhan, ini menyakitkan. Ini sangat menyakitkan.

Rin melepaskan pelukannya dan kemudian aku tidak dapat merasakan sosoknya lagi di sampingku, membuatku sedikit merasa hampa dan kehilangan. Seolah-olah aku telah kehilangan salah satu penyangga dari hatiku yang akan rubuh ini. Aku semakin menundukkan punggungku, terisak dan kemudian mencoba untuk berhenti namun tidak bisa.

Uchiha Sasuke keparat, selalu menyakiti hatiku dan membuatku tanpa sadar mengeluarkan air mata. Uchiha Sasuke gila! Dia pria tergila yang pernah kutemui. Dia sangat gila hingga selalu memenuhi hatiku—

"Berhenti menangis."

Suara itu.

"Tegakan punggungmu dan kita pergi dari sini."

Tuhan. Aku butuh seseorang untuk menyanggaku sekarang. Aku butuh seseorang yang mau menopangku sekarang. Oh ya Tuhan, suara itu sangat jelas kudengar di telingaku.

Aku memejamkan mataku erat-erat. Tidak, tidak mungkin dan tidak akan. Tapi suara itu begitu jelas kudengar.

"Uchiha Sakura, tegakan punggungmu!" suara penuh dengan ketegasan dan perintah itu terdengar jelas. Refleks, aku langsung menegakan punggungku dan melihat—Tuhan… bangunkan aku dari mimpi ini.

"Kita pergi darisini."

Dan pria itu menarik tanganku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

"Cinderella's plan sukses!"

"Benarkah!?" wanita di seberang sana memekik kegirangan. "Sungguh? Kau melihatnya dengan mata kepalamu kan? Kau… kau tidak berbohong kan?!"

"Tentu saja. Aku bisa pastikan itu."

Wanita di seberang itu terkikik pelan. "Kerja bagus, Rin."

"Dan rencana yang sangat luar biasa, Ino." sahut Rin seraya menatap kearah punggung dua insan yang kini tengah berjalan menjauh dari posisinya. "Ngomong-ngomong, kau harus tahu betapa sulitnya memanas-manasi si Uchiha keras kepala itu. Aku bahkan harus memanasi hatinya dengan sekuat tenagaku, bahkan Obito juga harus ikut-ikutan dalam masalah ini."

"Tapi hasilnya sungguh luar biasa, bukan?"

Rin terdiam sebentar menatap kearah suatu objek yang membuat hatinya lega luar biasa. Kemudian menatap kearah smartphone yang menempel di telinga kanannya. "Tentu saja." dan kemudian gadis itu tersenyum lebar kearah punggung yang semakin menjauh itu.

Cinderella's Plan

End

.

.

.

Hollaaaaaaa…

Sudah berapa lama berlalu sejak That Day, When We Meet Again? Hehehe…

Seperti yang pernah saya ungkapkan sebelum pada beberapa reviewers, prosesnya mungkin lambat dan inilah hasilnya. Mungkin—atau memang?—hasilnya nggak maksimal karena suatu hal. Tapi, sejujurnya, saya puas dengan chapter ini. ^^

By the way… untuk A Present From The Time mungkin bakal dibagi menjadi dua atau tiga chapter. Jadi, setelah ini masih ada kelanjutan kecilnya. Tapi ya… sekali lagi, kemungkinan besar prosesnya lambat. Meski pun ada kemungkinan bisa cepat juga. Wkwkwkw…

Terima kasih untuk review-nya di That Day, When We Meet Again. Hasilnya benar-benar diluar perkiraan saya… wkkwkwk… untuk yang sudah mem-favorite dan follow, baik cerita maupun ngikutin saya—serius, saya kaget pas dapet e-mail pemberitahuan bahwa ada akun yang nge-follow akun saya, saya syok. Bahkan sampe mikir, ini orang salah nge-klik ya?—wkwkkw. Buat para pembaca active maupun silent, terima kasih banyak… ^^

Dan yang terakhir, semoga readers senang membaca Cinderella's Plan! ^^ semoga memuaskan. Hehehe… Mohon maaf kalau ada typo(s) atau mungkin hal-hal yang menyakiti hati. Review ditunggu selalu, yoroshiku onegaishimasu!

Tambahan : Btw, ada yang bisa mengerti antara perbedaan pria itu(dengan italic) dan pria itu? Hehehehe…

Pojok balas review :

Gouta Michiko : Sudah dibuat sequel-nya yaaa… wkwkwk… ^^ Terima kasih sudah me-review! ^^

Alin : Hehehe… entah kenapa suka aja ending yang tipe beginian… wkwkwk ;p Terima kasih untuk review-nya. ^^

Yang login cek PM yaaa…