EVERLASTHING

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Do kyungsoo

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

.

.

ini Fanfic GS ! Dont Like, Done Read

.

.

.

tidak menerima Bash dan Silent readers

.

.

.

.

.

.

.

.

#Chapter sebelumnya...

.

.

.

Aku menunjuk kening nya dimana terdapat luka yang dulu pernah aku buat.

Dia tertawa pelan. "aku rasa kau sudah memliki mainan mu sendiri" Aku pun ikut tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara keributan di sekeliling ku. Akumenolehdan melihat semua orang sudah berdiri dan memandangi kami. Ada apa?

"ayo makan dulu" ajak ibuku.

"iya, asik sekali ngobrolnya. Nanti diteruskan lagi. Kita menginap di hotel dekat sini kok, jadi bisa ngobrol sampai malam nanti" timpal nyonya park. Kali ini senyum nya lebih cerah. Mereka bahkan sampai menginap di bucheon hanya untuk acara makan malam ini? Hebat sekali keluarga park ini, pikir ku.

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

.

.

Acara makan malam dimulai dengan sup krim jamur. Dibuat dari jamur berkualitas terbaik dari kebun milik ibuku sendiri. Aku menyendok supku sambil memandang kesekeliling. Mereka makan dengan santai dan akrab seperti satu keluarga besar. Samar-samar aku merasa kami sudah pernah makan bersama seperti ini sebelum nya. Aku terdiam, berusaha mengingat keping-keping ingatan yang memuat tentang keluarga park ini, yang tercecer entah dimana. Seharusnya ada di suatu tempat dalam memory otak ku.

"Kau sama sekali tidak mengingat nya?" Tanya chanyeol seolah bisa membaca pikiran ku.

Aku menoleh ke kiri. Ia sedang menatapku lekat-lekat, wajah nya dekat sekali dan aku baru menyadari kalau sepasang mata besar di balik bulu mata tebal nya itu berwarna abu-abu. Tiba-tiba hatiku berdesir, seperti permukaan air yang tertiup angin. Mata itu...

"Hei..." Chanyeol menjentikkan jari di depan wajahku. Aku mengerjap. Apa pun itu yang tadi sempat kurasakan jadi langsung sirna.

Apa aku terserang amnesia? Kalau betul begitu, berarti ini amnesia jenis baru karena aku masih bisa mengingat banyak hal lain dari masa kecilku. Aku masih ingat pertama kali ayah membelikan ku sepeda dan kris yang iri padaku, aku masih ingat teman-teman sekolah dasar-ku, bahkan aku masih ingat waktu itu aku pernah jatuh dari ayunan dan kris yang di marahi oleh ibu sewaktu kecil dulu karena dia membolas dari sekolah. Tapi mengapa tak ada kenangan keluarga park sama sekali di otak ku ?

"Dulu rumah mu di mana?" Tanya ku

"Dua blok dari rumah mu," ujarnya. "Kau pernah lihat foto-foto waktu kau kecil dulu ?" Tanyanya ragu. "Kita sering berfoto bersama"

"Oh ya? Mm... Seharusnya ada," gumamku ragu. Maksudku, aku pasti ingat kalau aku pernah melihatnya di foto. Bersamaku.

"Kau sering dititpkan di rumahku atau dijemput ibuku dan..."

Nada suaranya membuat aku menoleh. "Apa?" Tanya ku curiga.

"Kita sering tidur bersama. Karena kau hanya mau tidur di kamar ku"

Aku begitu syok sehingga tidak bisa berkomentar apa pun. Chanyeol tersenyum, "tenang saja, tidak terjadi apa-apa kita benar-benar tidur." Aku semakin syok. Ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "tapi kalau memang terjadi sesuatu, aku tetap akan bertanggung jawab"

Kurang ajar! Secara refleks aku mendorong tubuhnya- mungkin agak terlalu keras karena sendok di tangan nya terpental lalu jatuh dengan suara keras.

"Hey!" Serunya.

"Ada apa?" Tanya ibuku dari seberang meja. Kami tidak menjawab.

"Sepertinya sudah kembali ke kebiasaan lama," kata nyonya park. Matanya beralih ke chanyeol. "Chanyeol," katanya sambil menggelengkan pelan memberi isyarat kepada chanyeol yang aku tak tahu maksudnya, mungkin menyuruh nya untuk tak melakukan nya lagi. Kemudian ia menoleh ke arah ibuku dan mereka saling tersenyum. Benar-benar aneh.

"Oh iya, baekhyun, besok temani ibu dan nyonya park berbelanja ya," kata ibuku kemudian.

Aku mendongak dari mangkuk supku. "Tapi besok aku harus kembali ke seoul, bu"

Ibuku menatap heran. "Tapi biasanya kan kau pulang hari senin pagi," katanya.

"Lagi banyak kerjaan. Takut telat, bu" sahutku.

"Biar chanyeol yang mengantar kalau begitu," usul nyonya park cepat.

Apa-apaan? Aku melirik ke arah chanyeol. Ia sedang menyuap supnya dan seperti tak mendengar. Aku berdua dengan nya? Tidak, terimakasih. Itu bukan ide yang bagus.

Aku menatap nyonya park, "tidak usah, nyonya park. Lagi pula, saya juga tidak membawa baju kantor," aku terpaksa berbohong. Tapi demi kebaikan bersama.

"Mudah, nanti kita ke mal atau outlet. Dan kita beli baju kantor baru untuk mu. Sudah, ikut saja" kata ibuku.

Nah, kalau ibuku sudah mengeluarkan titah seperti ini, memang agak susah untuk berkelit. Jadi supir pribadi untuk ibu-ibu ini besok ? Astaga...

"Kalau begitu besok sekitar jam sembilan saja, kita pasti sudah siap" terdengar suara ibuku lagi. Aku membuka mulut ingin protes, tapi mereka sudah tidak memperdulikan ku lagi dan kembali asik bercengkrama.

I'm going to be stuck! Chanyeol melirikku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum jail itu lagi. Aku mendengus sebal.

.

.

.

.

.

.

.

Pukul 9:15 terdengar suara mobil berhenti di depan rumah ku. Aku sedang menghabiskan sarapan ku dengan malas. Tak lama terdengar suara ayah dan ibu menyapa nyonya park.

"Sudah sarapan?" Tanya ibuku kepada nyonya park. Mungkin nyonya park mengangguk karena tak terdengar jawaban.

"Kami juga sudah siap" sahut ibuku.

Aku memutar mataku malas. pagi-pagi sekali sekitar pukul 5 pagi ibu sudah membangunkan ku. Ayahku kemudian mengajakku berkeliling kompleks dengan sepedah. Dan sekarang malah aku terserang ngantuk akut.

"Baekhyun!" Teriak ibuku.

"Iya... Sabar" gerutuku sambil meneguk habis jusku. Aku langsung mendatangi ibuku di ruang tamu. Sampai disana langkah ku terhenti melihat chanyeol berdiri antara ibuku dan nyonya park.

Bukan hanya aku yang menemani ibu-ibu ini berbelanja?

Chanyeol menengok kearah ku dan mengedikkan kepalanya. Ketika sampai di dekatnya aku bertanya, "kau?"

Ia tak menjawab, hanya menggerakkan tangannya seperti sedang mengemudi. Aku terkikik. Terima kasih tuhan. Setidaknya aku tidak harus mengemudi dan aku bisa tidur.

Tak lama kami pun berangkat. Aku duduk di depan menemani chanyeol dan ibu-ibu kami duduk di belakang, masih sibuk menyusun detail acara hari ini yang sepertinya akan berlangsung lama.

Benar saja, sudah hampir jam empat sore ketika chanyeol mengantar kami pulang. Aku benar-benar lelah. Rencanaku untuk tidur di mobil tidak terlaksana. Aku harus menjadi petunjuk jalan karena chanyeol tidak mengenal daerah bucheon dengan baik. Lupa katanya. Dan setiap kali aku hendak memejamkan mata, tangan chanyeol terulur dan menjentik daguku.

Aku harus tidur lebih awal malam ini kalau tidak ingin terlambat besok pagi. Sebelum chanyeol datang menjemput ku besok pagi, aku harus sudah siap untuk kabur.

.

.

.

.

.

.

.

Begitu alarm ku berbunyi, aku langsung lompat dari tempat tidur. Aku sudah merencanakan untuk berangkat sebelum chanyeol datang.

Setelah minum segelas jus, aku langsung pamit kepada kedua orang tuaku.

"Tidak sarapan dulu? Memang chanyeol menjemput mu jam berapa?" Tanya ibuku.

Aku mengecek jam di pergelangan tanganku, sudah 6:40. Katanya chanyeol akan menjemput pukul 7:00, berarti aku cuma punya waktu 20 menit. "Sebentar lagi, aku tunggu di depan saja. Biar lebih cepat. Aku berangkat dulu" sahutku, buru-buru mencium pipi ibuku. Setelah melakukan hal yang sama pada ayah ku, aku segera menyambar tas dan ranselku lalu melesat keluar rumah.

"Hati-hati sayang," seru ibuku.

Aku menutup gerbang lalu melihat kiri-kanan untuk memastikan mobil chanyeol tidak kelihatan. Setelah yakin, aku menarik napas lega. Lalu, dengan senyum kemenangan di bibir, aku mulai melangkah dengan cepat menuju jalan raya. Aku berkonsentarasi penuh supaya dapat mencapai jalan yang ramai itu sebelum 20 menit ku habis sehingga tidak menyadari sebuah deruman pelan terdengar di belakangku dan tahu-tahu mobil chanyeol sudah berada di sampingku. Sialan!

Dari jendela yang terbuka aku bisa melihat chanyeol tersenyum lebar. Langkahku terhenti, mobil itu ikut berhenti.

"Mau melarikan diri, hm?" Katanya sambil mencondongkan badan.

Aku mengatur napasku yang sedikit menderu akibat jalan cepat tadi sebelum menjawab,"aku bisa berangkat sendiri, tuan park"

"Aku tau kau bisa berangkat sendiri, nyonya byun. Kau wanita yang sudah dewasa dan mandiri," ia menatapku sambil tersenyum jail. Sialan. "Tapi aku mendapatkan amanah untuk mengantar mu. Kalau kau berangkat sendiri aku harus bilang apa kepada ibumu, hm?"

"Terserah" sahutku tak pedulu. Itu bukan masalahku, tambahku dalam hati.

Chanyeol mengambil ponsel dan men-dial. Setelah itu ia mengulurkan ponsel itu kepadaku dari dalam mobil.

"Kau saja yang bilang," katanya santai. Aku menatap sebal. Apa dia tak ingat kalau aku ini berbahaya dan bisa melukai nya seperti waktu kecil dulu?

Tapi saat menatap lengan nya yang terulur itu, aku meringis. Dengan otot seperti itu, aku tidak mungkin bisa menyakitinya seperti kecil dulu. Ia bahkan bisa mematahkan tanganku dengan mudah, tanpa memerlukan banyak tenaga. Oh well.

Aku melepas ranselku lalu membuka pintu mobil dengan kasar dan menghempaskan tubuku di kursi dan melemparkan ransel ku ke kursi belakang. Aku bahkan sempat menutup pintu sampai mengeluarkan suara berdebam.

Ia menggeleng. "Apa kita sudah cukup memberi pelajaran pada pintu itu supaya tidak macam-macam kepada mu?" Ujarnya.

Sambil mendengus sebal ku ambil ponsel dari tangan nya dan menempelkannya di telingaku. Sialan! Ternyata chanyeol hanya mengelabuiku, tak ada suara ibu di ponsel itu, dia tak menelpon siapa-siapa. Ia tertawa, Chanyeol kemudian menjalankan mobilnya.

Aku tak bisa terus-terusan kesal padanya, karena bagaimana pun ia tak bersalah sepenuhnya. Ini kan ide para ibu.

"Thanks" ujarku kemudian.

"Sama-sama," jawabnya sambil tersenyum. Ia tampak segar bugar meskipun kemarin seharian menyetir. Aku sangat yakin kalau dia meminum suatu ramuan.

"Kapan kau mulai masuk kantor?" Tanya ku.

"Masih dua minggu lagi." Jawabnya masih konsentrasi dengan jalan.

"Sementara itu kau tidak berencana untuk berlibur? "

"Rencananya aku ingin berlibur ke Hakodate"

"Hakodate? Hokkaido?" Seruku kaget. Chanyeol tersenyum kemudian mengangguk.

Hakodate adalah salah satu kota pelabuhan di hokkaido. Kota terbesar ketiga di hokkaido itu adalah tempat liburan favoritku. "Aku suka hakodate. Kau bisa melihat luasnya kota Hokkaido dari atas gunung Hakodate, apalagi kalau dilihat pada malam hari Hokkaido sangat indah dari atas sana. Melihat sunrise, sunset sangat indah kalau dilihat dari atas gunung itu. Itu kota teromantis menurutku" ujarku bersemangat. Ia tergelak melihat antusiasmeku. Aku tersadar dan langsung terdiam.

"Aku sudah lama tak kesana. Pasti banyak yang berubah."

Aku mengangguk-angguk. "Kapan terakhir kali kau kesana?" Aku berusaha menjaga agar nada suaraku terdengar biasa saja.

"Sekitar 10 tahun yang lalu. Dulu sempat kami tinggal di sana, tapi itu hanya setahun. Kemudian kami pindah lagi ke osaka. Akhir nya kami menetap di osaka selama 8 tahun sembari aku kuliah di sana dan ayah membuka cabang perusahaan baru" jelas nya.

Aku merasa malu karena sempat tadi menjadi orang yang sok tahu mengenalkan hakodate kepada chanyeol padahal dia jauh lebih paham tentang kota itu. Aku tahu hakodate karena pernah sekali kesana bersama teman kantor itu pun setahun yang lalu sedangkan chanyeol dia pernah tinggal di sana.

"Pasti kau mengenal banyak bahasa." Gumam ku.

"Maksud mu?"

"Kau sudah menjajaki beberapa negara bersama keluarga mu. Sedangkan aku, hanya tahu seoul dan bucheon" entah apa yang aku ucapkan, begitu saja keluar dari mulut ku. Kenapa aku menjadi seperti anak kecil yang iri melihat teman nya dibelikan mainan baru.

Ia menatapku sejenak, kemudian sudut bibir nya terangkat. "Aku berencana ke hakodate sendirian. Dan mungkin akan terasa sepi bila tak mengajak teman." Ujar nya. "Kau mau ikut?"

Apa? Ke hakodate?

"Mau!" Kata-kata itu terucap begitu saja. "Aku ingin ke gunung itu, aku penasaran dengan pemandangan kota hokkaido dari atas sana, itu pasti indah sekali. Pada malam hari-," kata-kataku terhenti begitu melihat wajahnya yang menahan senyum. Aku mengalihkan pandangan ku keluar jendela. Sialan! Ia kan cuma basa-basi.

"Kau sepertinya lebih tahu seluk-beluk hakodate" ujarnya. "Aku merasa terhormat kau ingin menemani ku. Kapan lagi aku bisa dapat guide cantik seperti mu" ia tersenyum.

Aku menoleh dan menatap nya sejenak. Aku yakin ia hanya bercanda, tapi sebagian kecil diriku tertantang untuk ikut permainannya.

"Tapi guide seperti ku tidak murah."

"Aku tahu, aku justru merasa kecewa kalau sebaliknya." Ia melirikku sekilas. "Jangan khawatir, aku yakin aku mampu membayar mu." Tambahnya sambil menyeringai lebar.

Kemudian mobil kami terhenti karena lampu merah.

"Tapi, apa sebelumnya kau pernah melakukannya?"

"Melakukan apa?" Tanyaku heran.

"Menjadi guide" ujarnya sambil menatapku.

"Mmm... Tidak pernah, tapi waktu itu aku pernah kesana bersama rekan kantor"

"Jadi aku harus membayar mahal untuk guide amatir?" Serunya.

"Hey, man! Jangan pernah meragukan seorang Byun Baekhyun... Aku cukup berpengalaman," sergahku. "Aku jamin kau pasti puas" tambahku bangga.

Suaranya berdeham membuatku menoleh. Chanyeol tampak senyum-senyum sendiri dan saat itulah aku menyadari konotasi negatif dari ucapan ku tadi. Sialan!

"Aku yakin kita akan bersenang-senang," katanya kemudian. Ia menoleh dan menatap ku sejenak. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan nya dan mengelus kepala ku lembut. Dan aku merasa getaran itu lagi. Detak jantung mulai bertambah cepat, seperti ketika kekasihmu mengelus kepalamu.

Apa-apaan ini Byun Baekhyun, dia berani memegang mu kenapa kau diam saja?

Refleks aku memegang tangan nya dan menjauhkannya dari kepala ku. Sekarang aku tak mau melanjutkan permainan ini.

"Chanyeol," ujar ku gugup. "Sorry... Sepertinya aku tak bisa ikut"

"Kenapa?" Nada nya terdengar kecewa.

"Aku tidak mengingat sedikit pun tentang mu. Kau seperti orang asing yang tiba-tiba datang di depan ku"

Chanyeol menghela napas, "jangan khawatir, aku mengingat semua tentang mu, tentang kita." Ia mencondongkan tubuhnya kearahku. "Apa kau masih suka tidur sambil menghisap jempol?"

Apa?!

Aku mendorong tubuhnya menjauh. Ia tertawam wajahku memerah. Kemudian lampu merah berubah jadi hijau.

Sebenarnya aku sudah tidak terlalu sering lagi melakukannya sekarang. Ini benar-benar tak adil. Bukan. Ini mengerikan. Apa lagi yang ia ketahui tentang ku? Ada apa dengan ingatanku? Sepertinya aku menghapus satu folder besar yang berisi semua hal tentang Park Chanyeol.

Tapi kenapa?

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol menurunkan ku di lobi utama, sebelum turun aku mengambil ransel di kursi belakang kemudian keluar dari mobil nya sambil berujar hati-hati di jalan. Ia melambaikan tangannya sebelum berlalu.

Sampai di dalam kantor, baru ada segelintir orang karena jam kantor memang belum dimulai. Setelah menyimpan tas ransel ku di dalam loker, aku langsung menuju mejaku.

"Pagi baekhyun," sebuah suara menyadarkanku. Seketika aku langsung mendongak menatap nya, sehun. Wajahnya mengulum senyum. Aku tidak pernah menyangka ia akan menyapaku seperti ini, jadi aku tidak pernah mempersiapkan diri.

"Oh, eh... Pagi pak," jawabku gugup.

"Bagaimana tugasnya?" Ia menatapku lekat-lekat. Dan baru aku tahu ternyata sehun memiliki mata berwarna biru.

"Mm... Sedang saya kerjakan Pak," aku berusaha tersenyum. Ia mengangguk kecil kemudian berbalik dan pergi begitu saja menuju ruangannya. Begitu ia melangkah menjauh, aku tak bisa menahan diri untuk tak melihat bokong indah nya. Kalau dia menggunakan jeans pasti sangat sexy.

Ketika ia menghilang ke dalam ruangannya, aku mendesah. Aku harus menghentikan kebiasaan ini. Apabila nasib buruk berpihak padaku bisa saja orang memergoki ku tengah memandang bokong atasannya.

Tiba-tiba lengkingan suara ponsel terdengar dari dalam sakuku. Aku mengeluarkan ponselku. Nama kyungsoo tertera di layar.

"Hey, Do kyungsoo. Kenapa?" Ujarku sambil login email.

"Kau sedang di kantor?" Tanya nya di sebrang sana.

"Iya, kenapa?"

"Aku akan mengirimkan artikel yang kau minta waktu itu melalui email" terdengar kyungsoo yang sedang sedang menyeruput minumnya.

"Oke, jadi bagaimana weekand mu kemarin?" Tanyaku penasaran.

Terdengar helaan napas disebrang sana. "Flat. Hanya berkutat dengan artikel-artikel yang akan di terbitkan hari ini."

"Jongin tak berkunjung?" Aku menghentikan aktifitas mengutak-atik email dan berfokus ke pembicaraan.

"Tidak, dia keluar kota dan akan pulang besok" kyungsoo tertawa pelan. Aku tahu dia pasti kesepian kemarin. "So, bagaimana dengan mu , byun?"

"Yah, seperti kalau kau menemani ibumu berbelanja. Seharian keliling bucheon. Kau bayangkan saja, bucheon kan kecil jadi kalau dari pagi sampai sore bisa berapa kali aku memutarinya" jawabku. Kyungsoo tertawa.

"Ya sudah, nanti malam aku tunggu cerita selengkapnya."

.

Pip

.

Aku meletakkan ponsel dan mulai mengecek email kembali. Ada sekitar dua puluh email baru. Salah satunya dari luhan. Dikirim hari jumat lalu. Aku membaca emai-email itu satu persatu. Sementara kantor mulai ramai. Luhan lewat di depanku dan melenggang ke mejanya, meninggalkan wangi parfum beraroma bunga. Ia mengenakan rok mini berwarna hitam, tubuhnya berbalut boxy blazer dengan warna senada. Sampai di mejanya, seperti biasa, dia menyampirkan blazer nya di sandaran kursi. Hari ini ia mengenakan atasan warna ungu muda lengan pendek dari bahan kaus dengan belahan dada yang terekspos. Aku langsung tahu ia pasti ada rapat dengan sehun.

Selesai membaca email dan mengirim beberapan balasan, aku mulai berkonsentrasi dengan tugas menyeleksi beberapa sekolah dasar untuk mengikuti project dari perusahaan. Dua setengah jam kemudian-diselingi menjawab telpon, minum dan interupsi kecil lainnya- akhirnya aku bisa menetapkan beberapa Sekolah dasar sebagai peserta. Ketika artikel yang dikirim kyungsoo sampai di Inbox-ku, aku mulai membuat konsep program project untuk sekolah dasar. Menjelang makan siang, aku cukup puas dengan hasil kerja ku.

.

.

.

.

.

.

.

Malam harinya, saat makan malam sesuai perjanjian, aku menceritakan pertemuan ku dengan keluarga park. Kyungsoo mendengar sambil menyantap bulgoggi dengan lahap.

"Jadi kau tak ingat sama sekali?" Tanya nya heran. "Padahal keluarga mu kenal dekat dengan keluarga park itu"

"Itu dia, aku juga tak mengerti. Gara-gara lelah menemani para ibu berkeliling, aku jadi lupa mencari foto-foto zaman kecil dulu"

"Mereka pasti tidak good looking, itulah kenapa kau tak ingat" ujarnya menggodaku.

Aku tergelak, "sok tahu!" Tukas ku. "Mm... Mereka itu..," aku ragu-ragu. "No comment, lebih baik kau lihat sendiri"

"Ayolah byun, jangan buat aku penasaran," rengek nya. Aku tetap menggeleng. Tiba-tiba mata kyungsoo yang bulat itu terbelalak, "atau jangan-jangan kau menyukai dari salah satu anak nyonya park itu ? Iya kan? Yang mana? Kakak nya atau adik nya?"

"Eh? Mana mungkin," ujarku tak terima dengan tuduhan kyungsoo.

"Kalau memang tampan, ya tidak ada salah nya kalau kau memilih salah satu nya untuk menjadi kekasih mu" katanya enteng.

"Hey, Do kyungsoo. Tolong kalau berkata jaga ucapan" ujarku sinis.

"Tapi kau sudah lama sendiri, byun. Sudah hampir setahun. Changmin saja sudah berganti pasangan 2 kali. Aku tak percaya kalau masih ada yang suka dengan mu. Biasanya pasaran mu tak pernah sepi,"kata kyungsoo berkata panjang lebar.

Changmin adalah pacar terakhirku. Kami putus hampir setahun yang lalu.

Aku tak menanggapi ucapan kyungsoo. Pikiran ku tiba-tiba melayang kepada sehun. Aku mau melepas masa single ku, tapi itu bersama sehun. Bukan dengan siapa-siapa.

Kyungsoo tampak berfikir, "Mm... Ngomong-ngomong soal proyek mu yang akan membuat project di sekolah dasar itu, aku memiliki kenalan, nama nya suho. Kami bertemu saat acara launching majalah vibe," katanya antusias."Dia salah satu produser di E&EC . Aku yakin mereka pasti memiliki satu program yang cocok untuk proyek mu itu."

Education & Entertainment Channel atau bisa disingkat E&EC adalah salah satu stasiun TV terbesar di negeri ini. Kalau salah satu kegiatan yang aku usulkan bisa masuk salah satu program mereka pasti hebat.

"Orang nya baik, cute juga. Kau bisa lihat fotonya di akun instagram nya." Kyungsoo tersenyum penuh arti. Aku tahu kemana arah pembicaraannya.

"Aku ingin fokus ke pekerjaan dulu, kyung"

Kyungsoo menyipitkan mata. "Kau ini kenapa? Sepertinya belakangan ini kau kurang berminat dengan para lelaki."

Sialan!

"Kau tak berubah orientasi kan?" Kyungsoo agak mundur.

"Jangan aneh-aneh, kyung" aku menatap nya sinis.

"Lalu kenapa? Akhir-akhir ini kau mendadak menutup diri. Setiap kali aku membicarakan soal pria, alasan mu selalu itu. Atau jangan-jangan... Kau sedang mencoba mendekati seseorang ya?"

Aku mengeluh dalam hati. Ini salah satu sisi negatif memiliki sahabat seorang jurnalis. Bisa mengendus berita. Kalau aku tak segera menghentikan pembicaraan ini bisa-bisa rahasiaku terbongkar.

"Kapan kau ingin mengenalkan ku kepada suho ?"

Kyungsoo tersenyum lebar.

.

.

.

.

.

.

.

Dua hari kemudian, email suho sudah ada di inbox-ku. Kyungsoo tidak membuang-buang waktu. Dan setelah perkenalan online, saling kirim-mengirim email, sms, mengobrol via telpon, kami sepakat untuk bertemu di sebuah cafe di dekat kantor ku.

Suho datang dengan teman sekantornya, siwon. Suho berperawakan sedang dengan tinggi sekitar 173 cm. Umurnya baru 26 tahun. Rambutnya dipotong rapi dan keren serta ia memakai jam yang terlihat mahal. Aku tak tahu merk nya, tapi jam itu terlihat mahal.

Keduanya masih menggunakan seragam khas E&EC. Mereka menyalamiku dengan hangat. Seperti kata kyungsoo, suho memang cute, tapi ketertarikan ku hanya sampai situ saja.

Di antara kepulan kopi panas, Nachos, dan jalapeno, aku menjelaskan proyek yang sedang aku kerjakan. Suho dan siwon mendengar penuh perhatian, sementara kyungsoo tengah mengedip-ngedipkan mata seperti orang kelilipan. Mereka bilang proyek ku menarik dan bisa dipertimbangkan untuk diliput dan ditayangkan dalam salah satu program anak-anak di E&EC. Aku nyaris melompat-lompat girang.

"Bagaimana?" Tanya kyungsoo di taksi dalam perjalanan pulang.

"Aku merasa ingin melompat! Senang kalau seperti ini, program ku bisa diliput di sebuah channel tv besar." Aku tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.

"Maksudku suho," kata kyungsoo sebal.

"Oh.. Hm.. Menurutku dia keren."

Kyungsoo terdiam, menunggu komentar lebih lanjut dari ku. Aku berusaha mencari sesuatu untuk dikatakan.

"Jam tangan nya bagus." Melihat kyungsoo mengerutkan alisnya aku segera menambahkan. "Aku suka gayanya. Menurutku kalau pria memperhatikan penampilan, berarti dia orang yang bertanggung-jawab" ujarku asal.

"Jadi kau ingin menjajakinya?" Tanya kyungsoo penasaran.

"Yah, kita lihat saja nanti." Ujar ku pasrah.

"Tapi kau suka dengan nya?" Desak kyungsoo.

"Aku tidak punya alasan untuk tak suka dengan nya,"

"Ahh.. Bagaimana kau ini" ia menatap ke depan sambil menyilangkan lengannya ke dada.

Aku terpaksa membujuk dan berjanji akan memberi kesempatan kepada suho meski menurutku kyungsoo terlalu ambisius karena belum tentu suho menginginkan suatu yang lebih dari sekedar pertemanan. Sepertinya kyungsoo menjadikan suho sebagai misi pribadi untuk mencarikan aku kekasih.

.

.

.

.

.

.

.

Begitu suho memberi konfirmasi, aku langsung memberi tahu yixing, manager officer kami.

"Serius?" Matanya terbelalak. "Setahu ku, tidak gampang untuk masuk kesana"

Aku tersenyum senang. "Sahabat ku kenal dengan salah satu produser di sana. Mereka tertarik dengan program kita. Apalagi selama ini memang belum pernah diliput TV. Memang bukan liputan penuh, tapi paling tidak di ekspos, kan?"

Dan tentu saja luhan marah besar.

"Itu tugas yixing untuk mencari publikasi. Kenapa kau ikut campur?" Serunya sengit.

"Kalau ada tawaran bagus kenapa harus ditolak? Belum tentu kesempatan seperti ini datang dua kali. Memang apa masalahnya? Aku kan tidak merugikan siapapun!" Sahutku tak mau kalah.

Sehun yang kebetulan lewat dan mendengar perdebatan kami pun menyuruh kami untuk masuk keruangan nya.

"Ini kan tugasnya yixing. Dia lebih berpengalaman untuk urusan seperti ini. Kalau dia yang deal dengan mereka, pasti hasilnya akan lebih bagus. Lain kali tidak perlu ikut campur" sembur luhan begitu yixing selesai menjelaskan persoalannya.

"Luhan, temannya baekhyun kebetulan kenal dengan salah satu produser E&EC, jadi-"

"Seharusnya dia memperkenalkan terlebih dahulu kepada mu, yixing. Supaya kau yang deal dengan mereka. Bukannya dia sok menanganinya sendiri" potong luhan tak sabar. Ia melirikku marah.

"Tapi yang penting sekarang baekhyun berhasil mendapat coverage" kata yixing lagi.

Aku menarik napas panjang, diam-diam aku melirik ke arah sehun. Ia mendengarkan sambil memutar-mutar pulpennya.

"Yixing, bisa update tentang media plan untuk program ini?" Akhirnya sehun angkat bicara.

Yixing menjelaskan panjang lebar apa yang sudah dilakukannya termasuk rencananya mendatangi beberapa media minggu depan.

"Baekhyun, kau ingin ikut dengan yixing minggu depan? Siapa tahu dengan adanya kau semua bisa berjalan dengan lancar" kata sehun tiba-tiba.

Aku ternganga. Dan bukan aku saja, kulihat luhan dan yixing juga menatap sehun dengan mulut terbuka.

"Baekhyun?"

"Eh, iya... Mau, pak" ujar ku cepat.

"Yixing, bagaimana?"

Yixing mengangkat jempol nya kearah ku. "No problem," sahut nya enteng.

Aku tersenyum senang, tak perduli jika sekarang luhan sedang menatapku dengan wajah merah padam, dadanya naik turun menahan amarah.

Ketika kembali ke meja, aku langsung meneguk air minum ku. Aku masih belum percaya dengan keberuntunganku tadi. Menemani manager officer selama seminggu?

"Aku sudah tahu kalau kau memang mau cari muka di depan sehun," terdengar seseorang mendesis kasar. Aku mendongak. Luhan menatapku penuh ancaman. Wajahnya sudah sama merah dengan warna rambutnya.

"Maksudmu apa?"

"Tidak usah sok polos, sudah kebaca!" Ejeknya, "kau pikir sehun akan terkesan begitu? Akan tertarik dengan mu?" Ia tertawa sinis. "Jangan merasa paling cantik, nyonya byun. Anak baru saja sudah berulah. Mau cari gara-gara?" Ia meninggalkan mejaku tanpa menunggu pembelaanku.

Aku termangu. Luhan memang tidak menyukai siapapun. Tapi sekarang aku tahu kenapa ia tidak menyukai ku. Ia baru saja menyatakan secara terbuka.

.

.

.

.

.

.

Aku sedang mengetik email ketika Luna menelponku dan memberi tahu ada tamu untukku. Aku cepat-cepat melirik jam tangan, jam makan siang 10 menit lagi kenapa ada tamu untuk ku?

"Dari CY Architects," kata Luna lagi.

"Huh?" Nama itu terdengar asing. "Suruh masuk saja," kataku buru-buru. Aku meletakkan gagang telpon dan menyelesaikan email yang harus di kirim.

"Siang byun baekhyun" sebuah suara berat menyapaku.

Aku mengangkat wajah dan mengerjap tak percaya. Chanyeol menjulang di hadapanku dengan senyum khasnya. Rambutnya tampak lebih rapi dan tunggu dulu, dia mewarnai rambutnya? Warna coklat tua memang, tapi itu membuatnya kelihatan dewasa dan... Delicious. Aku menelan ludah. Sekarang ini dia sama sekali tidak kelihatan seperti anak sekolahan. Bagaimana ia bisa bertransformasi seperti itu? Chanyeol mengenakan kemeja bergaris-garis dan jeans, menjinjing sebuah tas kertas berwarna merah.

"Sedang sibuk?" Tanyanya.

Aku tersadar. "Eh, tidak juga. Kenapa kesini?" Dan dia hanya tersenyum, dan sukses membuatku menelan ludah lagi.

"Apa ini?" Aku mengintip tas yang dibawanya.

"Oleh-oleh. Mudah-mudahan kau suka. Sorry baru sempat memberikannya sekarang" katanya.

Senyumku ceria. "Terima kasih." Aku meletakkan bingkisan itu di sebelah mejaku lalu berjalan mengitari meja. "Duduk dulu," aku mengajaknya ke tempat duduk tamu tak jauh dari meja ku. "Bagaimana jalan-jalannya?"

"Kalau kau ikut pasti lebih seru," katanya riang.

Aku tersipu. Teringat pembicaraan kami waktu itu.

"Tapi kau benar, hakodate memang tempat yang sangat indah. Aku harus ke sana lagi-," ia tersenyum menggoda. "Dan kau harus ikut."

Aku cuma bergumam tak jelas. Rasanya seperti ditagih hutang.

Beberapa orang yang lewat di dekat kami memalingkan wajah untuk melihat siapa yang sedang berbicara denganku. Ketika melihat chanyeol, mereka (kaum hawa) menengok sekali lagi penuh rasa ingin tahu. Ada yang sembunyi-sembunyi, tapi ada juga yang terang-terangan. Aku jadi merasa tidak nyaman. Chanyeol terlalu menarik perhatian. Bagaimana kalau sehun lihat? Bisa-bisa ia salah sangka. Aku harus membawanya keluar dari sini secepatnya.

"Sudah makan siang?" Tanyaku.

"Belum. Ayo makan bersama"

Aku mengangguk. "Sebentar aku ambil dompet dulu" aku berdiri untuk mengambil dompet dan ponselku. Chanyeol mengikutiku. Setelah itu, aku buru-buru menggiringnya keluar. Waktu kami melewati meja-meja rekan ku, kepala-kepala berpaling kearah kami. bahkan yixing, manager ku sempat mengedipkan mata kearahku penuh arti. Benar-benar terlalu menarik perhatian.

Aku mengajak chanyeol ke restoran jepang yang ada di sekitar kantor ku. Sebentulnua aku belum pernah kesana dan tidak tahu bagaimana kualitas makanannya, tapi restoran itu letaknya paling jauh dari kantor ku, jadi cocok untuk 'menyembunyikan' chanyeol dari orang-orang yang tidak perlu melihatnya. Kami memilih tempat di dekat jendela. Setelah memesan, aku mengedarkan pandangan seperti yang biasa aku lakukan jika di tempat baru pertama kali ku kunjungi.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang duduk tak jauh dari tempat kami. Ugh. Sepertinya percuma saja aku berusaha bersembunyi. Hanya terpisah sekitar empat meja, tampak sehun sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki berambut putih. Laki-laki itu bicara sambil mengibas-ngibaskan tangan dengan tidak sabar, ekspresi wajahnya memberi kesan dia sedang kesal, keningnya berkerut-kerut, matanya menyorot tajam. Aku mendesah pelan. Sungguh, ini sebuah permainan takdir yang kejam. Aku mulai bergerak gelisah di kursiku.

"Bagaimana kabar keluarga mu?" Aku berusaha membuat percakapan untuk menenangkan diri.

"Mereka baik-baik saja. Sebenarnya aku sekalian ingin menyampaikan undangan."

"Undangan?" Tanyaku heran.

"Aku membangun rumah di daerah Gwanghwamun. Jadi aku mengundang rekan-rekan ku serta keluarga ku untuk pesta di rumahku sabtu ini"

Ini hari apa? Hari kamis kan?

"Oh oke. Nanti aku beritahu ibu dan ayah."

"Aku mengundangmu, bukan orangtua mu." Katanya. Matanya bersinar geli.

"Oh.. Dimana alamatnya?" Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

"Biar aku yang menjemputmu, jadi kita sama-sama bisa kesana. Acaranya pukul 8 malam."

"Mm... Oke," aku setuju.

Makanan kami pun datang.

Sebelum makan, aku memberanikan diri melirik kearah sehun dan diam-diam berdoa agar ia tak menengok kearahku. Ia sedang membaca sebuah dokumen dengan wajah serius sementara laki-laki beruban itu makan dengan lahap. Business lunch huh?

Aku mencoba mengingai-ingat apakah laki-laki itu pernah datang ke kantor.

"Ada apa?" Tanya chanyeol sambil memiringkan kepala.

"Mm... Tidak apa-apa, coba ceritakan padaku tentang hakodate dan perjalanan mu di sana"

Chanyeol mulai bercerita. Sambil mendengarkan, sesekali aku melirik kearah sehun. Ia menutup dokumen yang dibacanya dan mulai makan. Ia kelihatan serius sekali dan tidak memperhatikan sekelilingnya. Siapa laki-laki yang bersamanya? Aku mencoba mengamati laki-laki berambut putih itu. Setelah beberapa saat, aku menyimpulkan kalau aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Sehun terlihat tidak menikmati makanan nya. Tentu saja. Laki-laki di hadapannya itu terus berbicara sambil mengibas-ngibaskan tangan.

Aku kembali melirik kearah chanyeol dan mendapati chanyeol sedang memperhatikan ku. Ia sudah berhenti berbicara. Sialan! Apa aku tertangkap basah?

"Kau kenal mereka?" Chanyeol menunjuk sehun dengan dagu nya. Pipiku panas. Tentu saja aku tertangkap basah.

"Mm... Dia orang kantor" gumam ku pelan.

Chanyeol mengangguk kecil. Apa ia tersinggung? Tentu saja dia tersinggung, byun baekhyun! Aku juga akan tersinggung apabila diabaikan ketika tengah berbicara.

"Sorry," ujarku begitu saja.

Ia tersenyum samar, "masih ingin mendengar cerita ku?"

Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh dan berjanji dalam hati akan menyimak baik-baik. Dan tidak akan menoleh ketempat lain.

Ketika kami selesai makan, sehun dan laki-laki itu sudah tidak ada.

Aku segera bergegas ke kantor. Telponku langsung berdering sebelum aku sempat duduk.

"Byun, tadi siapa? Pacar mu?" Luna berbisik di ujung sana.

Aku mengerang perlahan. Sudah kuduga akan terjadi kesalahpahaman seperti ini. "Bukan," aku menjawab sambil menoleh ke kiri kanan memastikan tidak ada yang menguping.

"Tampan dan Hot..." Desahnya. "Masih available kan?"

"Aku belum tahu datanya selengkap itu, Luna. Sabar ya nanti aku tanyakan,"

"Kalau masih available, aku ingin mendaftar di baris terdepan." Kata luna antusias.

"Hahaha, oke oke"

Begitu aku meletakkan gagang telpon, terdengar suara yixing. "Tadi itu siapa, baekhyun?" Tanyanya. Nada suaranya biasa saja, bukan nada suara haus gosip.

Aku memutar kursi menghadapnya. "Anak temannya ayahku," jawabku. Kulihat luhan sedang sibuk mengetik, tapi aku yakin sekali ia sedang memasang antena tinggi-tinggi untuk mendengar jawabanku.

"Ooh" kata yixing. Cuma itu, dia tak bertanya lagi.

Saat aku berbalik ke mejaku, kulihat ponsel ku berkedip-kedip tanda sebuah pesan masuk.

'Byun baekhyun! Pria tadi itu siapa? Keren dan menggoda... *slurrrp* '

Begitu isi pesan tersebut, dari Sulli rekan ku dari bagian IT. Aku mulai cemas.

Gawat! Chanyeol baru sekali datang sudah membuat efek yang luar biasa.

Ini harus segera dihentikan sebelum menjadi gosip yang tak terkendali dan sampai di telinga sehun, pikirku panik. Bisa berantakan semuanya. Aku mengambil ponselku dan men-dial nomor chanyeol. Aku harus mencegahnya datang ke sini untuk menjemputku jumat nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tas dari chanyeol ini lumayan berat. Aku tidak sabar ingin tahu isinya. Sampai di apartemen, aku langsung menuju kamar dan merobek bungkusannya di atas tempat tidur. Di dalamnya terdapat sebuah coat winter berwarna biru, sweater yang terbuat dari benang wol tebal berwarna biru, dan sepatu boot winter berwarna biru. Darimana dia tau aku suka warna biru ?

Aku mengerutkan kening. Kenapa dia membelikan ku all about winter ? Ini belum masuk musim dingin. Apa aku harus curiga?

Oh, well. Curiganya nanti saja. Sekarang aku harus mencoba sweater cantik itu. Aku segera melepas baju kantorku dan meraihnya. Sepotong kertas kecil terjatuh ke lantai. Aku memungutnya lalu membukanya.

Di dalamnya tertulis, 'aku sengaja membelikan mu all about Winter. Mungkin suatu hari aku akan mengajak mu ke hakodate pada musim dingin. Dan dengan ini kau akan sungkan untuk menolak ajakan ku hahah'

Jadi dia memberiku semua ini agar aku merasa tidak enak apabila menolak ajakannya ke hakodate suatu hari. Sialan!

Tapi tunggu dulu, apa maksudnya ke hakodate pada musim dingin?

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarku bersama dengan suara kyungsoo memanggilku.

"Kau punya CD kosong?" Tanya nya sambil melangkah masuk.

"Sepertinya ada," aku berjalan ke meja dan memeriksa laci.

"Ini belum masuk winter kenapa kau membeli perlengkapan Winter, huh?" Kyungsoo berjalan mendekati tempat tidur ku dan mengambil sweater yang tergeletak di sana.

"Bukan aku yang membeli, itu oleh-oleh dari chanyeol." Jawabku sambil menyerahkan sekeping CD kepadanya.

"Oh ya?" Matanya membesar. "Anak teman ayah mu itu?" Suaranya naik beberapa desibel. Aku mengangguk. Bertahun-tahun mengenal kyungsoo. Sedikit banyak aku bisa menerka seperti apa cara berfikirnya. Kyungsoo memiringkan kepalanya dan menatapku serius. Keningnya mengkerut tanda dia tengah memikirkan sesuatu.

"Aku jadi penasaran dengan chanyeol ini. Kau harus mengenalkannya pada ku. Sabtu ini kita ajak dia untuk minum coffee di cafe dekat apartemen kita" perintahnya.

"Tidak bisa, kyung. Minggu ini ada pesta di rumah baru nya, aku di undang ke sana." Aku duduk di tepi tempat tidur.

"Makan-makan ya? Kalau begitu, aku juga ikut. Jam berapa acaranya?"

"Pukul 8 malam. Tapi chanyeol yang akan menjemputku. Kantornya dekat dengan kantorku. Aku janji untuk bertemu dengan nya disana."

Kyungsoo duduk disampingku. "Tidak masalah. Apa nama kantornya? Nanti aku langsung ke kantornya."

"Skytek Executive. Tapi kyung," aku menatapnya skeptis. "Aku harus bilang apa dengan chanyeol?"

"Ya terserah kau saja. Berbohong sedikit juga tak apa,"

Kyungsoo bangkit dan berjalan ke pintu. "Thanks ya," ia mengangkat CD di tangannya. "Nanti aku ganti" kemudian dia menghilang di balik pintu.

Aku masih duduk di tepi tempat tidur. Seenaknya saja kyungsoo mengundang dirinya sendiri. Memang nya ini acaraku ?

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued~

.

.

.

hai hai! akhirnya aku balik dengan fanfic yang sengaja aku tinggal waktu itu, karena sibuk mau UN haha

btw ini fanfic yang berbeda aluran ya dengan "Mr. B?"

kalo mr.b kan anak sekolahan, sekarang aku bikin chanbaek jadi anak kantoran hahah

btw ini bukan karya aku ya, ini aku remake dari novel yang judulnya sama kek ff ini. pengarang nya namanya ayu gabriel dan penerbit stilleto.

aku cuma merubah beberapa alur biar gak sama, dan tentu saja merubah nama tokoh hehehh

kalo penasaran dengan kelanjutannya, mending di REVIEW ya:)

seenggaknya bikin aku semangat buat ngelanjutin ff ini hehe

yaudah deh , jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya :)

bye! salam EXODUS~

"