Chapter 2 : Terror?

Prev Chapter :

Mingyu menggenggam tangan Wonwoo dan menariknya hingga keduanya berdiri. "Tapi sebentar lagi aku ada kelas fisika, sunbaenim. Kau mau tanggung jawab jika nilaiku turun?"

Tentu saja Wonwoo tidak ingin disalahkan jika nilai Kim Mingyu di bidang fisika turun.

"Baiklah baiklah." Kata Wonwoo pada akhirnya. Bibirnya mengerucut lucu.

"Aku akan menemuimu setelah jam sekolah usai." Mingyu tersenyum bertepatan dengan bunyi bel masuk.

Sementara itu, di balik dinding dan pintu yang memisahkan antara atap dengan lorong tangga, seseorang tersenyum sinis.

"Kalian bisa saja tersenyum dan tertawa sepuas hati kalian. Tapi tunggu saja. Aku akan menghancurkan kalian. Dan untukmu Kim Mingyu, kau tidak akan pernah bisa lari dariku!"

Seseorang yang misterius itu memundurkan dirinya dan berjalan menuruni tangga untuk menuju ke kelasnya.

% Aaron_Skye_Hywel %

Wonwoo menarik lengan Mingyu sebelum Mingyu berjalan menuju kelasnya.

"Ada apa, sunbae?" tanya Mingyu. Wonwoo menggeleng lucu. "Terima kasih sudah mengantarku ke kelas, Gyu. Maaf merepotkanmu."

Mingyu terkekeh. Ia mengacak surai emo milik Wonwoo. "Aku kekasihmu 'kan, sunbae? Jangan sungkan untuk meminta bantuan dariku." Ucapnya lalu tersenyum.

"Sampai jumpa nanti sepulang sekolah ya sunbae." Lanjut Mingyu. Kaki panjangnya mundur beberapa langkah dan berlari meninggalkan Wonwoo di depan kelasnya.

Selama perjalanan kembali ke kelasnya, senyum hampir tak pernah lepas dari wajahnya. Beberapa guru yang ditemuinya juga sampai geleng geleng kepala dibuatnya.

Sesampainya di depan pintu kelasnya, ia merapihkan penampilannya.

Mingyu sedikit mengintip apa gurunya sudah di dalam kelas atau belum. Dan beruntunglah Mingyu karena guru itu belum masuk di kelasnya.

Dengan buru buru, ia memasuki kelasnya dan langsung mendudukkan dirinya di samping Seokmin. Tidak lupa, senyumnya yang tadi tidak lepas dari wajah tampannya.

"Sekarang, temanku sudah mulai gila. Aku sedikit mulai khawatir denganmu, Gyu." Ucap Seokmin tiba tiba.

Mingyu menatapnya dan memberikan gesture seolah olah akan menghajar si hidung panjang ini. "Hhh.. Hari ini aku sedang sangat bahagia. Jadi aku tidak ingin merusak suasana hatiku dengan memukulmu atau sekedar menggeplak kepalamu dengan buku kimia."

Seokmin mendengus. "Tiga puluh lima menit yang lalu kau terlihat seperti orang pandai yang tiba tiba kehilangan kemampuannya dan langsung menjadi orang bodoh yang hidup tanpa tujuan," ledek Seokmin.

"Dan sekarang aku melihatmu dengan suasana hati ceria. Seolah olah ada seseorang yang sangat populer mengajakmu berkencan." Lanjut Seokmin.

Mingyu tersenyum dan menatap Seokmin. "Memang!"

Seokmin melebarkan matanya. "Mwoya? Kau.. diajak kencan orang populer? Yang benar saja?!" teriak Seokmin dengan sangat mendramatisir.

"Kau berlebihan, kawan," Timpal Minghao. "Bukankah wajar jika Mingyu diajak kencan oleh orang populer? Dia kan tampan. Aku tidak munafik! Tapi memang benar dia tampan." Lanjutnya.

Mingyu menyandarkan dirinya di bangkunya. "Ah pokoknya hari ini aku sangat bahagia! Aku akan menraktir kalian besok. Traktir banana milk selama dua hari"

Pikirannya melayang membayangkan bagaimana akhirnya ia mendapat senyuman dari Wonwoo. Mendapat ciuman pertama Wonwoo. Memeluk Wonwoo untuk yang pertama kali juga. Rasanya, Mingyu ingin tebang bersama Wonwoo mengelilingi angkasa.

% Aaron_Skye_Hywel %

Di waktu yang sama pula, seorang Jeon Wonwoo yang pada dasarnya siswa yang tertutup dan jarang tersenyum, kali ini terus memamerkan senyumannya.

Salah seorang teman sekelas Wonwoo yang memiliki paras cantik terus memperhatikan Wonwoo sejak Wonwoo memasuki kelas hingga Wonwoo sudah duduk di bangkunya.

"Hei, Wonwoo-ya, sepertinya kau sangat bahagia. Senyummu tidak pernah terlepas dari wajahmu. Kau baru dapat kiriman dari orang tuamu kah?"

Wonwoo mengangguk menanggapi pertanyaan dari temannya yang berparas cantik itu. "Ya aku sangat bahagia sekarang. Moodku sedang sangat baik hari ini. Tapi bukan soal kiriman dari orang tuaku."

Pemuda berparas cantik itu ikut tersenyum tatkala Wonwoo juga tersenyum kembali.

"Jeonghan-ya.." panggil Wonwoo. Pemuda berparas cantik bernama Jeonghan itu menengok menatap Wonwoo.

"Ada apa, Wonwoo-ya?" tanya Jeonghan. Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Tidak apa apa, tidak jadi. Seketika aku lupa ingin bicara apa."

Jeonghan terkekeh. "Biar aku tebak.." Wonwoo memiringkan kepalanya penasaran. "Apa?"

Jeonghan memasang wajah seolah olah berpura pura berpikir. "Kau.. sedang jatuh cinta kan?". Wonwoo membekap mulut Jeonghan dengan kedua tangannya. "Ssstt! D-dari mana kau tau itu?"

Pipi Wonwoo bersemu. Semburat merah muda yang muncul membuat Jeonghan tertawa terbahak bahak hingga guru bahasa Jepang yang sedang mengajar langsung menegur Jeonghan.

% Aaron_Skye_Hywel %

Keadaan seluruh kelas kini telah sepi. Tentu saja, ini sudah pukul tujuh malam. Bel tanda telah usainya pelajaran berbunyi sekitar tiga puluh menit yang lalu.

Lalu kenapa Wonwoo masih ada di kelasnya? Pertanyaan bagus. Wonwoo kehilangan bukunya. Tidak ada seorangpun di kelas itu.

Wonwoo memeriksa satuper satu kolong meja teman temannya, lantai, bahkan meja guru.

Sebenarnya bukan masalah catatan pelajaran yang ada di buku itu. Melainkan coret coretan yang ada di belakang buku itu. Di lembar terakhir buku itu lebih tepatnya.

Bukan coretan yang penting juga sebenarnya. Namun, di situ tertulis kalimat 'Aku, Jeon Wonwoo, Kini sudah resmi menjadi kekasih Kim Mingyu sejak siang ini. Mingyu juga melamarku hari ini.'

Wonwoo bukan tipe orang yang suka mengumbar kisah cintanya kepada publik. Terakhir ia melakukan itu saat masih kelas sepuluh dulu, ia justru diserang oleh siswa yang mengaku tunangan dari pacarnya saat itu. Dari kejadian itulah Wonwoo selalu menutup nutupi kisah cintanya.

Sepuluh menit sudah berlalu, dan Wonwoo masih mengubek ubek kelasnya untuk mencari buku catatannya hingga sebuah suara menginterupsinya secara tiba tiba. "Sunbae, sedang apa? Kenapa belum kembali ke asrama?"

"Oh, kau membuatku terkejut, Dino-ya. Aku sedang mencari buku catatanku. Aku tidak bisa menemukannya."

Pemilik suara itu adalah Dino atau Lee Chan. Siswa kelas sepuluh yang kebetulan melintas. "Mau kubantu, sunbae?" tanya Dino. Wonwoo menggeleng. "Tidak usah, Dino-ya. Ngomong ngomong kau mau kemana?"

Dino melangkahkan kakinya menuju salah satu meja lalu mendudukkan dirinya di atas meja. "MP3 Playerku tertinggal di kelas. Jadi aku tadi menuju kamar ketua kelas lalu meminta kunci kelas. Dan taraaa~ aku sudah mendapatkan MP3 Playerku lagi." Terangnya.

Wonwoo tersenyum. "Yasudah, kembalilah ke kamarmu. Kau akan melewatkan serial kartun kesukaanmu malam ini jika kau tidak segera kembali," canda Wonwoo. Dino mengangguk. "Kalau begitu, aku permisi ya sunbae. Semoga buku sunbae segera ditemukan."

Sepeninggal Dino, Wonwoo menghela napas berat. "Kenapa harus buku itu yang hilang? Harusnya kan buku lain saja kalau mau hilang. Hhh menyebalkan." Gumannya.

Tunggu.. Rasanya ada yang ganjal. Bukannya tadi Mingyu berjanji akan menemui Wonwoo setelah pelajaran usai?

Ah, Wonwoo mengusir Mingyu karena Wonwoo tidak ingin Mingyu menemaninya telalu lama hanya untuk mencari sebuah buku. Mingyu sedang punya banyak tugas. Itu alasan Wonwoo.

Di luar kelas Wonwoo, seseorang tersenyum tipis. "Oh jadi Mingyu akan melamarmu? Dasar Jeon bodoh! Kau pikir dengan Mingyu yang melamarmu, kau bisa semena mena mengklaim Mingyu? Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu, Jeon!"

Orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang berada di atap tadi siang. Wonwoo saja yang terlalu lengah hingga tidak merasakan kehadiran orang itu.

Orang misterius itu merobek sebuah buku yang dipegangnya dan membuangnya di tempat sampah di dekatnya lalu menyiramnya dengan air yang ia bawa.

% Aaron_Skye_Hywel %

Wonwoo kembali ke asrama dengan perasaan kacau. Pikirannya dipenuhi pertanyaan pertanyaan seputar buku itu.

Bagaimana jika buku itu ditemukan oleh orang yang sangat mengagumi Mingyu? Ia tidak ingin hal yang sama terulang lagi.

Hampir saja Wonwoo menabrak tembok pilar jika tangannya tidak ditarik oleh Seungcheol, teman sekelasnya yang menjabat sebagai ketua kelas.

Seungcheol tersenyum. "Kau harus memperhatikan jalanmu, Wonwoo-ya. Apa kau sudah menemukan bukumu?"

Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Terima kasih sudah menarik tanganku, jika tidak, mungkin jidatku akan benjol karena menabrak pilar ini. Urusan soal kelas sudah selesai, kau bisa menguncinya lagi, hyung. Terima kasih ya maaf merepotkanmu."

Seungcheol mengangguk. "Tidak apa apa Wonwoo-ya. Aku kan sudah bilang, anggap aku kakakmu sendiri. Jangan sungkan minta tolong padaku, ya. Baiklah kalau begitu aku akan mencunci kelas dulu,"

Baru saja Wonwoo akan melanjutkan langkah kakinya menuju asramanya, Seungcheol memanggilnya.

"Oh iya Wonwoo-ya. Tadi ada seorang hoobae yang mengantarkan makan malam untukmu. Kamarmu kosong karena semua teman sekamarmu sedang makan malam jadi aku menyuruhnya untuk masuk dan meletakkannya di meja belajarmu."

Wonwoo mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Seungcheol hyung."

% Aaron_Skye_Hywel %

Wonwoo merebahkan tubuhnya di atas kasurnya tingkatnya. Matanya menerawang kejadian sebelum hilangnya buku catatan itu. Nihil. Ia tidak bisa mengingat apapun. "Haahhh~ sudahlah apa boleh buat." Gumannya.

Ia teringat perkataan Seungcheol tadi. Seorang hoobae yang mengantarkan makan malam untuknya. Wonwoo menatap mangkuk dan piring di mejanya yang sudah habis isi makanannya.

Matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di bawah nampan stainles steel yang dibawakan hoobaenya. "Apa ini?" tanyanya pada diri sendiri setelah mengambil sesuatu dari bawah nampan itu. Hanya kertas kosong.

BRAK!

Wonwoo berjingkat terkejut saat pintu kamar asramanya tiba tiba berbunyi sangat keras seolah olah ada yang memukulnya atau melemparinya dengan benda keras.

Ia mendekati pintu itu dan membukanya. Ia mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa siapa, pikir Wonwoo.

Seseorang itu datang lagi. Ia bersembunyi di balik tembok putih yang membatasi antara kamar asrama dengan tangga menuju ke kantin asrama.

Lagi lagi orang itu memamerkan senyum liciknya. "Akan aku lakukan segalanya untuk menjauhkanmu dari Mingyu-ku. Bersiaplah, Jeon Wonwoo."

% Aaron_Skye_Hywel %

Satu minggu yang lalu, Wonwoo sudah resmi menjadi kekasih seorang Kim Mingyu, si tampan dan jenius.

Satu minggu pula Wonwoo sudah menerima teror tidak jelas dari seseorang yang ia sama sekali tidak kenal.

Teror tidak jelas itu antara lain pesan singkat dari nomor tidak dikenal yang isinya seputar pengancaman yang ditujukan pada Wonwoo jika dirinya tidak menjauhi Mingyu atau sebuah kertas yang bertuliskan 'GO HELL' dengan tinta berwarna merah di depan pintu asramanya.

"Wonwoo-ya? Kau baik baik saja?" tanya Jeonghan saat Wonwoo memasuki kamar asramanya dengan wajah tertunduk.

Wonwoo menghampiri Jeonghan yang sedang duduk di kasur tingkatnya dan memeluk tangga kasurnya. "Aku diteror~" rengeknya.

Jeonghan melebarkan matanya. "Astaga kenapa bisa? Siapa yang menerormu?". Wonwoo mengglengkan kepalanya. "Andai aku tau itu. Aku tidak tau siapa yang menerorku. Hampir setiap hari aku mendapat pesan berantai dari nomor nomor yang berbeda."

"Apa isi pesannya?" tanya Jeonghan. "Inti pesan itu sebenarnya sama semua. Ada yang mengetahui kisah asmaraku. Si pengirim pesan ingin aku segera menjauh dari kekasihku."

Tangan Jeonghan terulur untuk mengelus surai hitam Wonwoo. "Sudah jangan dipikirkan. Mungkin hanya orang iseng. Beristirahatlah, Wonwoo-ya."

Wonwoo tersenyum. "Terima kasih ya". Jeonghan mengangguk. "Sudah sana mandi. Aku keluar dulu. Tadi Seungcheol memanggilku. Aku permisi dulu ya, Wonwoo-ya. Jangan mengunci kamar sebelum aku kembali ya."

% Aaron_Skye_Hywel %

"Ya jika aku tau, aku tidak akan bertanya padamu, Gyu." Ucap Wonwoo pada seseorang di sebrang sana.

"Aku sungguh minta maaf Wonwoo hyung. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu diteror seperti ini."

Wonwoo tersenyum meskipun Mingyu tidak melihatnya. "Ah sudahlah jangan dibahas. Teror itu membuatku gila setengah mati. Ngomong ngomong, libur musim panas ini kau akan pulang ke Anyang?"

"Begitulah. Aku merindukan suasana Anyang. Tidak sepadat di Seoul."

"Aku akan pulang ke Changwon. Hanya sepuluh hari, setelahnya, aku kembali ke asrama." Ucap Wonwoo. Ia menatap kopernya.

"Libur musim panas kan dua minggu, lalu kenapa di Changwon hanya sepuluh hari?"

Ingin sekali Wonwoo menjambak rambut tebal Mingyu karna saking tidak tidak pekanya. "Aku tidak bisa mengerjakan tugas musim panas di Changwon. Keluarga besaarku ada di sana. Dan itu pasti sangat ramai. Hhh.. bahkan sekarang aku sudah mengerjakan sepertiga dari tugas musim panas yang diberikan Oh Songsaengnim, setengah tugas dari Lee Songsaengnim, dan seperempat lainnya." Terang Wonwoo.

Di sisi lain, Mingyu dengan ekspresi terkejutnya hanya geleng geleng kepala. "Kekasihku sangat hebat. Semangat, Won- astaga Seokmin sejak kapan kau ada di sini?!" pekik Mingyu ketika Seokmin tiba tiba duduk di sampingnya. Dengan refleks, Mingyu memutuskan sambungan telfonnya.

"Kau telfon dengan siapa?" tanya Seokmin penasaran. Ia merebut ponsel pintar Mingyu dan melihat log panggilan keluar di ponsel pintar Mingyu.

Seokmin memicingkan matanya saat membaca nama yang tertera di sana. "Rubah Kecilku? Ppfftt!"

Ingin sekali Mingyu menggeplak sahabatnya itu. "Sana pergi! Kau menggangguku! Kemasi barang barangmu sana! Menyebalkan!"

Seokmin tertawa terbahak bahak saat kembali mengucap kata 'Rubah Kecilku' dan mengulang ulangnya hingga Mingyu terpaksa melempar kawannya itu dengan sebuah sepatu miliknya.

"Dasar pengganggu!" umpat Mingyu.

% Aaron_Skye_Hywel %

Wonwoo dan Mingyu sepakat untuk meminta orang tua mereka untuk menjemput saat semua siswa telah dijemput dan pergi pulang ke rumah masing masing.

Sekarang, Wonwoo dan Mingyu sedang berada di kantin asrama. Mereka tidak melakukan apa apa selain diam. Mereka juga asik bergelut dengan pemikiran mereka masing masing.

"Mingyu-ya.. / Wonwoo hyung.." ucap mereka bersamaan. "Kau duluan." Kata Wonwoo.

Mingyu tersenyum. "Nanti, saat liburan di Changwon, bawakan aku oleh oleh ya?" canda Mingyu kemudian disusul dengan kekehan yang keluar dari bibirnya.

"Tentu saja akan aku bawakan oleh oleh untukmu." Jawab Wonwoo. "Tolong kabari aku. Minimal, katakan hai di pagi hari agar aku tau kau masih mengingatku, hyung."

Wonwoo mengangguk. "Kita bisa video call 'kan, Gyu?" tanya Wonwoo. Mingyu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja bisa," ia kemudian tersenyum.

PRANG!

Sebuah benda yang terbuat dari kaca tiba tiba pecah begitu saja. Mingyu refleks menengokkan kepalanya untuk melihatnya. Suaranya terdengar tidak jauh dari kamar asrama Mingyu. Atau bisa saja memang berasal dari kamar Mingyu.

"Apa itu tadi?" tanya Wonwoo. Mingyu menggeleng. "Entahlah. Aku tidak tau. Ayo kita periksa." Wonwoo mengangguk.

Mingyu mengamit tangan Wonwoo dan berjalan perlahan ke arah kamarnya. Tangannya yang satunya ia gunakan untuk memegangi minuman sodanya.

Mingyu menatap Wonwoo dan dihadiahi anggukan oleh Wonwoo. "Buka saja." Cicit Wonwoo.

Mingyu membuka pintu kamarnya dan benar saja, kaca di kamarnya telah pecah. Wonwoo melihat ke sekeliling kamar Mingyu dan menemukan sebuah batu yang ditutupi dengan kertas.

"Gyu, lihat ini,"

Mingyu merebut kertas dan batu itu dari tangan Wonwoo. "Aku tidak akan berhenti sebelum kalian berpisah." Ucap Mingyu sambil membaca tulisan yang ada di kertas itu.

"Aku rasa, ada seseorang yang tau tentang hubungan kita. Dan aku yakin orang itu ingin kita berpisah."

Wonwoo menatap Mingyu dengan tatapan penuh tanya. "Aku benar benar tidak tau siapa orang yang menerorku. Aku tidak menyangka jika orang itu akan menerormu juga."

Pelaku pelemparan batu ke kamar Mingyu itu kini tersenyum puas. "Saat libur musim panas, aku akan benar benar menjauhkan kalian. Akan kuambil Mingyu milikku darimu, Jeon!"

.:: TBC ::.

2K17 / 08 / 13 – 22.21 P.M.

Coretan Author :

Saya minta maaf jika chapter ini dan chapter sebelumnya amat sangat tidak memuaskan. Saya minta maaf jika chapter ini penuh teka teki dan tidak sesuai dengan ekspetasi kalian. Saya juga minta maaf jika saya up terlalu lama/?

Thanks to :

Kiming

Dan para reader sekalian yang sudah review