.
Hopeless Dream
KAISOO FANFICTION
KIM JONGIN X DOH KYUNGSOO (GS)
CHAPTER 2
.
.
.
.
Lampu apartemen menyala otomatis saat mereka baru saja membuka pintu. Jam sudah hampir menunjukkan angka 11, lingkaran hitam yang menghiasi mata Jongin cukup untuk menjelaskan bahwa dia baru saja melewati hari yang berat.
Kyungsoo bergegas meletakkan barang belanjaannya di meja dapur lalu kembali untuk membantu suaminya yang masih berada di ruang tengah. Mereka baru saja kembali dari rumah sakit, Kyungsoo memiliki jadwal periksa sedangkan dia enggan pergi sendiri sehingga wanita itu harus menunggu Jongin pulang kerja dan langsung ke rumah sakit. Mereka juga menyempatkan diri untuk membeli beberapa bahan makanan di supermarket terdekat.
Kyungsoo menerima jas milik Jongin yang sudah pria itu lepas sedari tadi, juga membantu melepaskan dasinya. Tangannya kemudian bergerak untuk mengusap wajah kusam Jongin.
"Chagi, mandilah, kau tampak mengerikan."
Jongin terkekeh sambil menatap Kyungsoo lekat, "Kau tidak mandi? Kita bisa mandi bersama," godanya yang mengundang wanita itu untuk memukul dadanya pelan.
"Aku akan menyiapkan makan malam."
"Sudah kubilang kita bisa makan di luar tapi kau yang tidak mau."
"Aku tidak makan makanan seperti itu," bibirnya mencebik lucu. Kyungsoo memang sangat jarang makan di luar, dia lebih suka memasak sendiri dengan alasan kesehatan.
Ini sudah cukup malam, tetapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk memasak. Dia hanya membutuhkan waktu 20 menit sebelum seluruh hidangan siap.
Jongin datang dengan rambut basahnya yang masih sedikit meneteskan air. Dia duduk di depan Kyungsoo, wanita itu tengah sibuk membersihkan sisa kegiatan masaknya.
Ada meja besar di dapur dengan setengah bagian yang ditempati kompor listrik, sedangkan setengah bagian lainnya yang cukup luas dibiarkan kosong. Jongin duduk menghadap bagian tersebut. Mereka memiliki meja makan namun jarang digunakan karena merasa terlalu banyak jarak ketika hanya ditempati berdua.
Kyungsoo menyambutnya dengan membantu mengambilkan nasi di mangkuk Jongin, menarik kursi tanpa sandaran lalu duduk di samping pria itu. Posisi seperti ini membuat mereka merasa lebih dekat.
"Doenjang jjigae? Woah, bagaimana bisa kau membuatnya dalam waktu sesingkat ini?" ujar Jongin takjub sambil menelan ludahnya tak sabar.
"Itu sebuah hadiah, kau sudah melewati hari yang berat."
"Sayang sekali kau tidak menyukainya." Cebikan bibir Jongin menunjukkan bahwa dia merasa sedih untuk Kyungsoo.
"Kau menyukainya. Aku tetap bisa makan meski tidak terlalu suka," Kyungsoo terkekeh sambil memperhatikan Jongin. Lelaki itu melemparkan tatapan penuh rasa terima kasih. Entah bagaimana jadinya dia jika tidak ada Kyungsoo di sisinya.
"Selamat makan," ucap Jongin sambil menyendok sup kedelai buatan Kyungsoo. Dia tersenyum senang, melahap makanan tersebut penuh semangat saat Kyungsoo lebih tertarik untuk memandanginya.
Wanita itu memiringkan serta menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan, asik mengamati Jongin dari samping. "Kau mencuci rambutmu?" tanyanya.
Dia menganggukkan kepala, rambut hitamnya yang sedikit basah membentuk comma hair menutupi sebagian dahi. Kulit Jongin yang tadinya tampak kusam kini terlihat begitu segar.
"Kau benar, hari ini sangat melelahkan. Tubuhku terasa lengket dan rambutku pasti bau jika tidak dicuci."
"Tampan," cicitnya.
"Apa kau bilang?!" Jongin mengalihkan perhatian pada wanita yang kini berusaha terlihat sibuk dengan gelas dan air putih. Jongin menahan tawa mengulangi kalimatnya lagi untuk menggoda Kyungsoo. "Kupikir tadi ada yang bilang tampan?"
"Tid—Uhukk.." Kyungsoo menutup mulutnya, tangan kanannya bergerak untuk meletakkan gelas yang belum selesai dia minum isinya. Jongin tertawa begitu puas saat wanita itu tersedak hanya karena godaannya.
"Ada apa denganmu?"
"Tatapanmu membuat jantungku berdebar kuat."
Tawa pria itu semakin lebar meski di sisi lain tangannya bergerak sigap untuk menggosok punggung Kyungsoo pelan. "Aish, aku sudah sering menatapmu, kenapa kau masih seperti ini. Makanlah dengan baik, kau tidak pernah dengar kalau tersedak juga bisa membunuh seseorang?"
Mata Kyungsoo menyipit melemparkan tatapan ngeri. "Ey, kau berlebihan."
Jongin hanya tersenyum sambil melanjutkan suapannya. Ada banyak masalah yang dia alami di kantor, tapi tiap kali dia pulang dan disambut dengan senyuman cerah dari wanitanya, hal itu selalu membuat bebannya terasa jauh lebih ringan.
Salah satu hal yang membuat Jongin memilih Kyungsoo adalah, wanita itu memiliki sikap yang berbeda hanya saat berada di depannya.
Dulu, Doh Kyungsoo dikenal sebagai gadis cantik, cerdas dan yang paling sempurna di antara para gadis lain.
Dia termasuk kaum anak konglomerat yang selalu berjalan tegak hingga buku pun tak akan jatuh jika diletakkan di atas kepalanya saat berjalan, dilengkapi senyum tipis yang tak sampai memperlihatkan giginya. Orang bilang senyumannya anggun tapi menurut Jongin itu sedikit dingin. Mereka mendominasi peringkat paling atas lalu aktif dalam klub-klub olimpiade sekolah.
Jongin tidak pernah berpikir untuk menyukai Kyungsoo, bahkan mengenalnya pun tidak. Dia tidak menyukai gadis sempurna yang menurutnya lebih mirip manekin bergerak.
Tiga tahun mereka berada di sekolah yang sama namun tak pernah saling sapa. Waktu itu, saat pertama kali mereka bertemu secara langsung di hari pertama masuk universitas. Jongin bersumpah, itu pertama kalinya dia melihat Kyungsoo bertingkah ceroboh.
Gadis itu menumpahkan minuman milik Jongin, entah hanya perasaan Jongin atau bukan tapi Kyungsoo tampak melakukannya dengan sengaja. Jongin sudah mengatakan bahwa itu tidak apa-apa dan dia hanya ingin pergi, tapi Doh Kyungsoo menahan tangannya. Menyuruhnya duduk sedangkan gadis itu berlari untuk memesan minuman kembali.
Demi Tuhan, itu pertama kalinya dia melihat seorang Doh Kyungsoo berlari, dan sialnya tubuh kecil gadis itu sangatlah menggemaskan. Jongin sangat membenci kopi, tapi untuk pertama kali dalam hidupnya, dia menghabiskan secangkir kopi yang dibelikan oleh Kyungsoo. Entah kenapa.
Gadis itu tak berhenti mengajaknya bicara, suaranya terdengar sedikit bergetar. Kyungsoo berusaha keras sedangkan dia terlampau cuek dengan hanya menjawab beberapa saja.
Jongin tidak pernah bermimpi jika seorang Doh Kyungsoo akan begitu menyukainya. Gadis itu bahkan meminta nomornya terlebih dulu lalu mereka mulai jalan bersama.
Nyatanya seorang Doh Kyungsoo tidaklah seperti yang Jongin pikirkan. Gadis itu sangatlah ceria dan sedikit kekanakan, dia memiliki senyuman berbentuk hati yang sangat menggemaskan. Kyungsoo bukanlah gadis manekin, dia bisa tertawa, menangis, ataupun merajuk saat di hadapan Jongin.
Dia bukanlah gadis sempurna yang tak pernah melakukan kesalahan. Beberapa kali dia meminta Jongin menjemputnya saat ia bolos les piano, lalu pergi untuk mencuri kesempatan memakan es krim dan cake saat gadis itu masih menjadi trainee.
Kyungsoo menginvasi hidup Jongin dan saat itu jugalah Jongin memberikan semuanya. Kyungsoo mendapatkan hati pria itu, seutuhnya.
"Dulu aku sering makan di luar saat Ayah masih bersama kami. Saat mereka bertanya padaku apa yang akan kita makan, maka aku akan selalu meminta untuk membeli ayam," kata Jongin di sela-sela makannya.
"Pasti menyenangkan, aku sangat ingin merasakan hal seperti itu juga."
Pria itu tersenyum getir.
"Ayahku sering pergi ke restoran bagus bersama rekan bisnisnya, tapi saat makan bersama keluarga dia selalu meminta Ibu yang memasak," jelas Kyungsoo dengan wajah kesal.
"Ibumu pintar memasak, semua makanan yang dia buat pasti rasanya enak."
"Tapi aku selalu merasa iri pada mereka yang pergi untuk makan bersama, beberapa orang bahkan mereservasi restoran ternama dengan harga selangit."
Jongin mendecih, raut mukanya berubah kesal, "Kau tidak pernah tau rasanya saat sudah menahan lapar tetapi saat makanannya datang, rasanya seperti sampah."
Kyungsoo terkikik, "Kau pernah mengalami itu?"
"Sering," jawabnya datar yang semakin menambah tawa Kyungsoo. "Aku juga ingin makan bersama di rumah tapi masakan Ibu tidak enak."
Kalimat Jongin membuat Sang Istri melemparkan tatapan tidak suka. "Chagi, kau tidak boleh berkata begitu. Mungkin Ibumu memang tidak pandai memasak, tapi setidaknya hargailah usahanya untuk membuatkanmu makanan. Kau bisa menyakiti hatinya jika mengatakan secara langsung."
"Kau benar, walau aku selalu menentangnya tapi dia selalu membanggakanku pada seluruh teman arisannya. Dia selalu memanjakanku," ujarnya.
Jongin benar. Walau bagaimanapun, lelaki itu begitu menyayangi Sang Ibu dan begitu pula sebaliknya. Terlebih sejak perceraian orang tuanya, Jongin seolah menyayangi ibunya dua kali lipat lebih banyak.
"Tapi sekarang aku beruntung karena istriku pandai memasak." Kyungsoo hanya melanjutkan kegiatan makannya. "Kau tau sekarang aku sangat jarang makan di luar dan kecanduan dengan masakanmu. Apa yang kau lakukan dengan makananku hingga aku tidak bisa lepas, hm?"
Selepas menelan tegukan terakhirnya, Kyungsoo berdiri dan mengambil mangkuk di depan Jongin yang sudah kosong. Sedangkan pria itu masih menatapnya lekat menanti jawaban.
"Ibu sudah mengajariku memasak dari kecil, jadi aku cukup baik dalam hal itu," jawabnya tanpa menatap Jongin, pria itu sama sekali tak berkedip dan tampak belum puas dengan jawabannya. Dia tak berhenti menatap Kyungsoo hingga wanita itu menghela napas menyerah. "Kau ingin aku bilang memasaknya dengan cinta? Berhentilah menatapku seperti itu!"
Jongin terkekeh bahagia, kedua matanya masih tetap mengawasi bahkan setelah Kyungsoo sudah berpindah tempat untuk bersiap mencuci piring dengan sedikit salah tingkah. "Gugup, huh? Kau begitu menyukaiku ya?" goda Jongin yang sukses mendapat pelototan mata dari Kyungsoo. "Terima kasih untuk segalanya, Kyungieku Sayang," tambahnya lagi sambil mendaratkan kecupan di pipi kanan Kyungsoo.
"Pergilah beristirahat, kau pasti sangat lelah. Jangan menungguku!"
"Aku menunggumu di ruang tengah." Suara Jongin yang terdengar jauh membuat Kyungsoo menyentakkan kepala, pandangannya tidak mendapati pria itu lagi tetapi suaranya masih terdengar jelas. Berani bertaruh dia pasti sedang menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menyalakan televisi. Posisi dapur memang sedikit berbelok sehingga dia tidak dapat melihat lelaki itu. Kyungsoo tersenyum memikirkan Jongin yang sangat menikmati kegiatannya.
Sebenarnya, mereka jarang melakukan ini selain di akhir pekan. Jongin sering pulang malam dan selalu berakhir dengan Kyungsoo yang tertidur saat menunggunya, meskipun dia berpesan agar Jongin membangunkannya jika pria itu datang, tapi Kyungsoo selalu bangun di atas ranjangnya pada pagi hari. Jongin bilang dia tak tega untuk membangunkan.
Kalaupun Jongin pulang sore, biasanya mereka hanya berbicara sebentar tentang pekerjaannya di kantor sambil makan malam, lalu pergi tidur meski hari masih belum terlalu larut.
Kyungsoo bisa mengerti, Jongin pasti sangat lelah. Hari ini pria itu juga tampak begitu kelelahan, tapi dia bisa menahannya dengan baik. Kyungsoo tahu ada yang perlu Jongin bicarakan hingga dia menunggunya seperti ini.
Setelah seluruh pekerjaannya selesai, Kyungsoo memainkan jari tangannya gelisah. Dia sedikit ragu saat akan melangkahkan kaki mendekati Jongin, Kyungsoo tau apa yang akan lelaki itu bicarakan dan dia sedikit tidak suka. Otaknya mengarang beberapa hal lain yang bisa dibicarakan, Kyungsoo butuh waktu untuk mengatasi dirinya sendiri.
"Kau sudah selesai?"
"Huh?" Mata bulatnya terkejut, wanita itu segera berjalan mendekati Jongin yang tengah menepuk pahanya sendiri, mengisyaratkan Kyungsoo untuk duduk di pangkuannya meski sofa yang mereka miliki sangatlah luas. Gerakannya sedikit tergesa-gesa, dia mengikuti perintah Jongin walau tubuhnya bergerak terlalu kaku.
Pria itu segera melingkarkan lengan besarnya di perut Kyungsoo sambil menyanggahkan dagu pada pundak wanitanya.
"Kyung—"
Kalimat Jongin terputus oleh Kyungsoo yang tiba-tiba membalikkan badan menghadapnya dan melingkarkan tangannya di leher Jongin.
Kyungsoo menatapnya meski tak sepenuhnya terfokus, "Jongin-ah, kau tampak sangat kelelahan," ujarnya sambil mengusap kantung mata pria itu yang sedikit menonjol. Kyungsoo bahkan memanggil nama pria itu, hal yang hanya dia lakukan saat berbicara serius atau sedang gugup.
"Apa begitu terlihat?"
"Eum, sudah kukatakan untuk tidak terlalu lelah. Kau mengambil banyak pekerjaan hingga menyiksa tubuhmu sendiri."
Pria itu mencebikkan bibir, "Aku tidak menyiksa tubuhku. Kau tau aku sedikit perfeksionis, seluruh pekerjaanku harus selesai dengan baik."
"Tapi tetap saja..."
"Aku baik-baik saja, Sayang," ujar Jongin menenangkan. Pria itu memberikan senyum terbaiknya berusaha meyakinkan, kedua mata mereka saling berpandangan cukup lama. Kyungsoo menemukan kedamaian untuk beberapa saat sebelum dia memutus kontak terlebih dulu.
"Bekerjalah di perusahaan Ayah," tuturnya masih mengalihkan pandangan.
"Berapa kali aku harus memberimu jawaban? Kenapa tiba-tiba seperti ini lagi, hm?" Jongin menyelipkan anak rambut Kyungsoo yang jatuh ketika wanita itu menundukkan kepala. "Apa karena kalimat Ibuku?"
"Bu-bukan karena Ibumu. Ibuku memang beberapa kali menanyakanmu dan berkata bahwa Oppa membutuhkan seseorang yang bisa dia percaya."
Alis pria itu bertautan, tampak berpikir, sedangkan Kyungsoo memandangnya penuh harap. "Junmyeon Hyung juga mengatakan padaku waktu itu."
"Benar, kan? Oppa, Ibu bahkan Ayah juga mendukungmu, kau hanya perlu untuk mengatakan 'iya' lalu Oppa akan mengatur semuanya."
Sudut bibir Jongin tertarik sedikit. Dia tersenyum getir, menatap Kyungsoo beberapa jenak dengan perasaan gundah. "Apa yang kulakukan belum mencukupimu?"
"Apa? T-Tidak, ini bukan soal gaji bulananmu," jawab Kyungsoo sangat tidak setuju.
"Maaf karena aku selalu menyisihkan uang untuk Ibuku."
"Jongin, itu uangmu! Kau bisa memberikannya pada keluargamu dan aku tidak keberatan sama sekali. Aku tidak membicarakan masalah itu, tapi aku mengkhawatirkan kondisimu."
Tatapan mata Jongin tampak tidak sependapat, dia hampir berkata dirinya baik-baik saja ketika Kyungsoo menyela terlebih dulu.
"Aku yang tidak baik-baik saja, Jongin! Aku tidak suka saat direkturmu itu selalu memanggilmu dengan semena-mena bahkan saat hari libur, aku tidak suka saat kau sering begadang untuk memperbaiki pekerjaan milik bawahanmu yang salah. Kau tetap pergi bekerja saat tubuhmu demam, kau yang datang tengah malam dan kelelahan, aku tidak suka semua itu!"
"Kyungie aku—"
"Kau malu pada keluargaku?" Jongin menghindari mata Kyungsoo saat wanita itu bertanya. "Kau tidak mencuri apapun, kau suamiku Jongin, kenapa harus merasa malu? Aku hanya ingin meringankan beban suamiku, apa itu salah?"
Jongin menggelengkan kepala, membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya. Wanitanya sedang bersedih.
"Aku menyayangimu, aku tidak suka melihatmu seperti itu," lirih Kyungsoo tanpa melepas pelukannya.
Jongin tampak mulai mengerti. Wanita itu tentu ingin yang terbaik baginya. Sejujurnya dia tak masalah untuk bekerja keras demi Kyungsoo meski Jongin sadar bahwa sebanyak apapun pendapatannya tidak akan menandingi kekayaan milik keluarga Kyungsoo. Terlebih lagi Jongin merasa bertanggungjawab untuk menjaga Sang Ibu sejak Ayahnya menikah lagi. Jongin tak bisa mengabaikan keluarganya.
Mungkin Kyungsoo benar, Jongin menyiksa dirinya sendiri. Selama ini dia selalu disibukkan dengan urusan kantor. Berusaha sekuat tenaga demi memenuhi kebutuhan Kyungsoo padahal bukan hanya uang yang wanita itu inginkan.
Pria itu tak pernah merasakan betapa sepinya rumah ketika dia pergi seharian. Bagaimana rasanya mengkhawatirkan seseorang yang tak kunjung pulang saat hari sudah larut sedangkan ponselnya tak bisa dihubungi.
Jongin tidak tau bahwa Kyungsoo membutuhkan perhatian lebih darinya, bahwa berusaha terlihat baik-baik saja tak membuat semuanya menjadi lebih baik.
Dia sudah terlalu banyak menyakiti perasaan wanita itu sedangkan Kyungsoo tak pernah mempermasalahkannya.
"Maaf karena aku tidak pernah memikirkan perasaanmu, maaf jika aku menyakitimu," sesal Jongin.
"Aku tidak bermaksud untuk membuat pembicaraan jadi seperti ini," gerutu Kyungsoo sambil melepas pelukannya.
Pipinya yang menggembung menarik Jongin untuk menciumnya gemas. Lelaki itu terkekeh sambil menatap Kyungsoo penuh antusias.
"Jadi apa yang harus kita lakukan agar suasana menjadi baik kembali?"
Gelengan kepala dari wanita itu membuat dahi Jongin membentuk lipatan.
"Kau harus tidur, kita tidur sekarang."
"Yah! Tapi besok akhir pekan, aku ingin tidur larut dan bersenang-senang terlebih dulu," rengek Jongin tidak terima. Dia menahan tubuh di sofa saat Kyungsoo menariknya untuk pergi ke kamar.
"Lihatlah kantung matamu itu! Besok kau tidak akan bisa bangun jika tidak segera tidur."
"Kyungie~ aku tidak mau tidur dulu~"
Kyungsoo tidak mengindahkan regekan pria itu, dia menyeret Jongin yang enggan untuk bangkit. Tangan besar Jongin melingkari leher Kyungsoo dari belakang, dia menyanggahkan sebagian berat tubuhnya pada Kyungsoo sedangkan wanita itu menggerutu sambil terus menggiringnya menuju kamar yang berada tepat di depan ruang tengah. Jongin menahan senyumnya sepanjang waktu, kapan lagi bisa bermanja-manja pada Kyungsoo.
"Aku seperti mengurus bayi besar tiap kau bertingkah seperti ini."
"Kalau begitu ayo membuatnya."
"Membuat apa?"
"Bayi."
Pekikan Kyungsoo adalah apa yang menjadi jawaban selanjutnya. Lelaki itu menggendongnya tanpa ijin hingga dia terkejut, Jongin membawa wanita itu ke dalam kamar dan membantingnya di atas ranjang. Bukannya romantis, mereka malah terkikik bersama setelah sampai.
Tubuh besar Jongin mengungkungnya, Kyungsoo tersenyum tipis namun tangannya menahan dada lelaki itu agar tidak menyerang terlebih dulu.
"Chagi, tapi tidak hari ini."
"Huh?" Bola mata Jongin menatap tidak mengerti.
"Kau lupa kalau kita harus menunggu masa suburku?"
"Ahh, apa sekarang belum waktunya?"
"Tunggulah sebentaaar lagi." Kyungsoo menekan kata sebentar, berusaha mengatakan bahwa itu tidak akan lama. Raut kecewa Jongin membuat wanita itu tertawa sekaligus kasihan. "Lagipula kau sedang kelelahan. Kemarilah, biar aku memelukmu saja."
Rentangan tangan Kyungsoo disambut baik oleh Jongin. Lelaki itu berguling ke samping agar tubuhnya tidak menindih Kyungsoo, datang ke pelukan wanita itu dan menyandarkan wajahnya di dada hangat sang istri.
Tangan wanita itu bergerak untuk menyibak rambut Jongin yang mulai memanjang. Memberi seberkas kecupan di dahinya sebelum menyelimuti Jongin dengan kehangatan yang ia miliki.
Pria itu tidur seperti bayi dengan wajah polosnya. Tangannya memeluk Kyungsoo erat seolah dia bisa saja menangis jika wanita itu meninggalkannya barang sebentar.
Jongin tertidur begitu cepat. Wanita itu tersenyum saat melihatnya tampak begitu lelap. Dia kembali mendaratkan kecupan di dahi Jongin sebelum menutup malam.
"Mimpi indah, Chagi-ya~" bisiknya sebelum ikut menyusul ke alam mimpi.
oOo
Pagi itu Jongin terbangun lebih dulu, alarm tidak pernah menyala di akhir pekan sehingga mereka sering bangun terlambat.
Pria itu sengaja tidak membangunkan Kyungsoo. Dia menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk memandangi wanitanya tanpa rasa bosan, Kyungsoo terlalu indah baginya. Tak peduli seberapa sering ataupun seberapa lama Jongin memandangnya, dia hanya akan semakin jatuh cinta pada istrinya untuk yang kesekian kali.
Kelopak mata wanita itu bergerak. Kyungsoo terjaga dengan wajah Jongin yang menjadi pemandangan pertamanya. Tidak ada yang lebih baik dari ini, senyuman yang dilemparkan pria itu menularinya. Jongin menyentuhkan kedua hidung mereka, Kyungsoo yang tak bisa menahan malu menyembunyikan wajah di dada pria tersebut.
Jongin terkekeh, mengusap rambut lembut Kyungsoo penuh sayang.
"Berapa lama kau menatapku?" tanya Kyungsoo dengan suara teredam. Matanya mengintip Jongin dari bawah namun kembali bersembunyi saat pria itu balas menatapnya.
"Sepanjang malam?"
Kyungsoo mendesis, "Itu tindakan ilegal, seharusnya kau meminta izin dulu padaku."
"Haruskah aku meminta izin untuk memandang istriku sendiri? Jangan sembunyikan wajahmu." Tangan Jongin bergerak untuk menarik wajah Kyungsoo agar berhenti bersembunyi.
"Aku jelek karena belum mandi~" cebikan bibir Kyungsoo menjelaskan segalanya.
Jongin tersenyum tulus, menangkup wajah wanita itu dalam telapak besarnya. "Kau wanita tercantik yang pernah kulihat dalam hidupku."
Wajah tersipu Kyungsoo nampak begitu jelas. Wanita itu balas menatapnya lembut, sedikit memajukan wajahnya lalu mendaratkan sebuah ciuman di sebelah pipi Jongin.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Kyungsoo yang dibalas Jongin dengan hal sama.
Untuk sesaat mereka hanya saling memeluk dengan mata terpejam. Tidak ada jadwal di akhir pekan, mereka jarang pergi keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Akhir pekan adalah waktu istirahat bagi Jongin, biasanya seluruh hari dihabiskan dengan melakukan hal-hal menyenangkan bersama di rumah.
Kantuk masih menyerangnya, wanita itu hampir kehilangan kesadaran namun tangan Jongin yang menyelinap di balik baju dan menyentuh perutnya membuat Kyungsoo membuka mata.
Pria itu mengelus perut datarnya, Kyungsoo menyentuh tangan Jongin berusaha menahan. Ini terlalu aneh.
"Kyungie, ada yang ingin kutanyakan."
Tubuh wanita itu sontak menegang, berapa kalipun dia berusaha mengalihkan pembicaraan, Jongin pasti ingin membahas hal itu kembali. Dia mendongakkan kepala, menatap prianya mempersilahkan untuk bicara.
Telapak tangan Jongin masih bergerak untuk mengusap perut Kyungsoo. Wajahnya mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, hangat napas lelaki itu menerpa wajahnya.
Jongin mendaratkan kecupan lembut di bibir Kyungsoo sekilas. Hal singkat yang cukup untuk mengatakan seberapa banyak pria itu mencintainya, hingga senyuman kecil tercetak meski hanya beberapa saat.
"Kenapa kau tidak setuju untuk melakukan IVF?" Kyungsoo menghindari tatapannya. "Itu bisa menjadi alternatif yang bagus untuk kita."
Ya, dokter yang mereka temui kemarin sore menyarankan program In Vitro Fertilization atau bayi tabung mengingat usahanya yang belum juga membuahkan hasil. Dua kali percobaan inseminasi yang dilakukan pada Kyungsoo setahun terakhir juga tidak memberikan dampak positif. Jongin rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir saat mendengarnya, namun gelengan mantap Kyungsoo kala itu membuyarkan segalanya.
Wanita itu menolak saran dokter tentang bayi tabung.
Tatapan terkejut dari Jongin saat itu cukup membuat benaknya dipenuhi rasa bersalah, tetapi dia terlalu bulat pada tekadnya. Kyungsoo hanya mengatakan bahwa dia tidak mau, lalu pergi dari sana tanpa banyak menyambung pembicaraan dan selalu menghindari topik itu saat berbicara dengan Jongin setelahnya.
"Jongin, aku tidak suka."
Tatapan pria itu melembut, berusaha meyakinkan wanitanya dengan cara yang baik. "Ada apa, Sayang? Tidak ada salahnya untuk mencoba."
"Aku tidak suka ada campur tangan orang lain!" Nada bicara Kyungsoo sedikit naik, beruntung wanita itu menyadari dengan sendirinya.
"Hey, dengarkan aku," bisik Jongin dengan fokus yang sepenuhnya tertuju pada Kyungsoo. "Tidak ada yang berubah, kau sendiri yang akan mengandungnya, kau yang akan melahirkan bayi kita."
"Tapi aku ingin kau yang melakukannya padaku!" Suara Kyungsoo mulai bergetar karena tenggorokannya tercekat.
"Aku tetap menjadi ayahnya, Sayang. Dia tetap menjadi anak kandung kita."
"Iya, aku tau itu. Maksudku... kita tidak melakukannya dengan cinta dari cara seperti itu, aku ingin kau yang melakukannya sendiri padaku."
Jongin terdiam, tak memiliki kalimat sanggahan sedangkan Kyungsoo mulai dihujani rasa bersalah. Hal yang sebenarnya tak mampu Kyungsoo katakan adalah dia ingin Jongin mengerti bahwa dirinya berusaha menjadi wanita sempurna untuk lelaki itu. Dia masih bersikeras untuk dapat hamil secara alami.
"Kumohon tunggulah sebentar lagi, aku akan berusaha lebih keras. Aku tidak mau melakukan hal-hal seperti itu."
Helaan napas berhembus dari bibir Jongin, pria itu mengangguk pelan. "Baiklah," ujarnya berat hati, tubuhnya bergerak menjauh dari Kyungsoo.
Wanita itu menyadarinya, isakannya tak bisa ditahan ketika ia membuka mulut berniat untuk bicara. "Maafkan aku," hanya sebuah bisikan yang keluar dari bibirnya. "Jongin, kumohon maafkan aku," ulangnya lagi dengan air mata yang sudah menggenang.
Kyungsoo membenci dirinya sendiri saat ia tak bisa menjadi yang terbaik bagi Jongin. Dia bukanlah wanita sempurna untuk seorang Kim Jongin yang menjadi segala-galanya.
Kyungsoo takut, pada setiap orang yang menyadari betapa sempurnanya seorang Kim Jongin. Dia takut jika dirinya tak bisa menjadi apa yang Jongin inginkan, orang lain akan mengambil hati lelakinya. Kyungsoo tidak mau kehilangan sosok yang sudah menjadi segala bagi kehidupannya.
"Aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi, kumohon beri aku kesempatan." Kyungsoo menatapnya penuh iba sedangkan Jongin tidak menyukai itu.
"Sayang, jangan bersikap seolah kau yang paling bersalah di sini, kita akan menghadapinya bersama." Tangan pria itu bergerak untung mengusap air matanya. "Usia pernikahan kita bahkan baru 3 tahun, kita bisa menikmatinya lebih dulu."
"Aku sudah membuatmu kecewa."
Jongin tersenyum pahit, "Aku akan jauh lebih kecewa pada diriku sendiri jika terus membuatmu menangis seperti ini. Kita juga perlu bahagia, Soo."
"Tapi—"
"Jangan dengarkan kata Ibu, jangan dengarkan apa kata orang. Mulai sekarang kita harus hidup dengan baik, aku tidak mau lagi melihatmu menangis di kamar mandi karena hasil testpack yang tidak sesuai harapan."
Kyungsoo menyimak kalimat Jongin dengan baik, matanya bergerak-gerak kala menyusuri ketampanan pria yang tengah menangkup wajahnya. Wanita itu tidak menjawab, keningnya berkerut tampak berpikir tapi dia sama sekali tidak menyuarakan itu.
Jongin mengusap pipinya sekali lagi, membersihkan sisa lelehan air mata yang membuat pipi wanita itu basah. Dia lantas tersenyum, membuat alis Kyungsoo bertaut mempertanyakan arti senyumannya.
"Sekarang berhenti menangis dan cepatlah bersiap, kita akan pergi ke suatu tempat."
"Huh? Bukankah kau tidak biasanya keluar di akhir pekan?"
"Kemarin aku menghubungi Chanyeol dan menanyakan tempat mereka mengadopsi Taehyung. Kita akan ke sana hari ini."
Binar mata Kyungsoo tak bisa berbohong, wanita itu tampak terkejut sekaligus bahagia secara bersamaan. "Benarkah kita akan mengadopsi?"
"Jika ada yang kau sukai," ujarnya sambil mencubit hidung Kyungsoo gemas.
Hatinya menghangat ketika wanita itu tersenyum bahagia mendengar kalimatnya. Kyungsoo memeluknya erat, berulang kali mengucapkan terima kasih lalu dengan semangat segera bersiap.
Tempat yang dimaksud oleh Chanyeol ternyata tidak terlalu jauh. Beruntung mereka berangkat agak pagi sehingga anak-anak kecil masih sibuk bermain di halaman, beberapa diantaranya juga terlihat sedang belajar dengan wanita penjaga yang mendampingi.
Bangunan putih dua lantai itu tampak begitu nyaman, beberapa bagian tembok ditempeli gambar-gambar binatang. Halaman luas dengan beberapa tanaman bunga menghiasi bagian depan, beberapa tempat bermain seperti papan seluncur ataupun ayunan tengah dipenuhi anak-anak usia lima tahun yang menaikinya bergantian.
Suara tawa maupun tangis bersahutan, ada sekitar 20 lebih anak dibawah usia sepuluh tahun memenuhi halaman depan. Bahkan seorang balita yang masih belajar berjalan juga turut serta berada di sana. Hati Kyungsoo terenyuh, ada sebanyak itu anak yang tinggal di panti tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Sedangkan dirinya, dia memiliki apapun di rumahnya tetapi Tuhan belum memberinya kesempatan untuk memiliki anak.
Panggilan Jongin menyadarkannya, lelaki itu melambaikan tangan menyuruhnya mendekat. Seorang wanita cantik yang sedikit lebih pendek darinya tersenyum sambil mengulurkan tangan, Kyungsoo menjabat tangannya setelah membalas senyuman.
"Aku Kim Minseok, pemangku yayasan di sini."
"Ahh, aku Kim Kyungsoo. Rupanya pemilik yayasan ini masih begitu muda," ungkapnya penuh kekaguman.
"Tidak, ayahku yang mendirikan panti ini, aku hanya melanjutkannya karena kami sangat menyukai anak-anak. Sebuah kehormatan juga bagiku kedatangan pasangan selebriti seperti kalian."
Kyungsoo tertawa malu, "kami bukan selebriti, aku hanya orang biasa," sanggahnya sopan.
"Bagaimanapun ini pertama kalinya aku bertemu kalian. Kim Jongin-ssi pasti beruntung memiliki istri secantik ini."
Jongin ikut terkekeh mendengar pujian Minseok. "Terima kasih, Minseok-ssi."
"Tapi maaf sekali aku tidak bisa menemani kalian secara langsung, sebagai gantinya seorang pengasuh akan menemani kalian berkeliling."
"Tidak, terima kasih. Itu akan mengganggu pekerjaan mereka, kami akan berkeliling sendiri."
"Begitukah? Baiklah, anak dengan usia dibawah sepuluh tahun ada di halaman, sedangkan yang lebih tua sedang ada kegiatan di dalam."
Senyum tak henti terukir di bibir Jongin kala memperhatikan anak-anak lucu yang berlarian kesana-kemari. Dia tidak tau harus memilih yang mana karena mereka semua menggemaskan.
Jongin sendiri baru menyadari bahwa Kyungsoo tidak mengikuti langkahnya ketika dia menoleh. Wanita itu masih berdiri di tempat semula, terpaku pada satu pandangan yang ketika Jongin ikuti berakhir pada seorang balita lucu, sibuk bermain pasir di halaman dengan raut bahagianya.
Kyungsoo tampak begitu terpana pada anak itu. Bibirnya mengukir sebuah senyuman yang kemudian menulari Jongin, pria itu berjalan mendekat dan merangkul pundak Kyungsoo dari samping.
"Kau menyukainya?"
Kedua matanya berbinar saat terarah pada Jongin. "Bukankah dia sangat lucu?"
"Semua anak di sini lucu-lucu, Sayang."
"Tidak Chagi, maksudku dia berbeda. Kau tidak lihat dia baru saja membantu temannya membuat istana dari pasir itu."
Keantusiasan Kyungsoo membuat Jongin tak bisa menahan tawa, dia mengusap kepala wanitanya gemas. "Baiklah, kita ke sana untuk berkenalan dengannya."
Anak itu memiliki mata yang begitu sipit, bibirnya seolah menunjukkan senyuman meski dia sama sekali tidak berusaha. Kulit putihnya bersinar di antara yang lain. Tubuhnya sehatnya yang aktif tak berhenti berlarian ke sana ke mari untuk mengambil beberapa cetakan pasir lalu mengisinya dengan terampil.
"Hei," sapa Kyungsoo sambil melambaikan tangan. Wanita itu juga berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya. "Siapa namamu? Boleh kita berkenalan?" tanya Kyungsoo dengan aksen seperti anak-anak.
Jongin terkekeh dibuatnya, mau tidak mau dia ikut menjongkokkan badan ketika anak itu mendekat pada Kyungsoo.
"Namaku Daeul, Kim Daeul," jawabnya yang mengejutkan Kyungsoo. Pengucapannya sangat jelas melebihi anak seusianya.
"Aigoo, Daeulie. Kau pintar sekali."
"Daeul-ah, mau menunjukkan pada paman bagaimana cara membuat istana pasir?" tanya Jongin.
"Tentu, aku bisa membuat istana yang besar. Lihat aku," ujarnya lucu sambil sibuk mempersiapkan alat untuk kembali membuat istana.
Kyungsoo terpana dibuatnya. Mereka menghabiskan satu jam lebih untuk bermain, rasanya seperti sejenak melupakan beban yang ada. Daeul berhasil membuat Kyungsoo dan Jongin merasa bahagia. Wanita itu bahkan mendapat sebuah kecupan di pipi kanan dari sang pria kecil bermata sipit.
Bola mata Kyungsoo yang berbinar menatap Jongin yakin. Lelaki itu pun demikian, dia menganggukkan kepala memberi persetujuan jika Kyungsoo memilih Daeul untuk mereka adopsi.
Dengan hati yang berbunga-bunga, mereka membawa Daeul untuk bertemu pemilik panti. Anak itu tak berhenti menceritakan banyak hal ketika dia berada dalam gendongan Kyungsoo. Orang yang melihat mungkin akan mengira mereka sebuah keluarga yang sangat harmonis.
"Minseok-ssi, kupikir kami sudah menemukan anak yang tepat untuk diadopsi," kata Jongin ketika senyum ramah Minseok datang menyambut, namun hal itu tak bertahan lama karena kedua alisnya segera terangkat ketika mendapati anak yang berada dalam gendongan Kyungsoo.
"Daeul-ah!" ujar Minseok.
Anak kecil itu tersenyum, meminta turun dari gendongan Kyungsoo dan berlari ke arah Minseok.
"Eomma~" panggilnya manja sebelum berakhir pada pelukan Minseok yang menyambut.
"E-Eomma?" Kyungsoo bertanya bingung, Jongin pun demikian.
"Ma-maafkan aku, sepertinya ada sedikit salah paham di sini. Ini Daeul, anak kandung kami. Dia memang sering bermain dengan anak-anak yang lain," tutur Minseok berhati-hati karena sorot mata Kyungsoo yang tampak begitu kecewa.
"Ta-tapi, kau sama sekali tidak memberitahu, kau bilang aku bisa memilih semua anak yang sedang bermain di sini." Kyungsoo berusaha mempertahankan argumennya.
"Maafkan aku." Minseok membungkukkan tubuhnya berulang kali. "Ini salahku, aku minta maaf, seharusnya aku lebih berhati-hati."
"Apa kau sedang pamer karena memiliki anak seperti Daeul?! Kau tidak tau betapa berharganya anakmu itu?! Seharusnya kau lebih berhati-hati dan menjaganya dengan baik!"
"Kyungsoo!" bentak Jongin setelah wanita itu menghardik Minseok tanpa alasan. Dia menatap Jongin sejenak lalu berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun.
Bukan hanya Minseok, Jongin pun ikut terkejut dengan sikap Kyungsoo. Sejauh lelaki itu mengenalnya, Kyungsoo sama sekali tidak pernah membentak seperti itu. Wanita itu dibesarkan oleh keluarga terpandang, dia tau betul bagaimana menjaga emosi dan kehormatannya. Lelaki itu benar-benar terkejut.
"Aku sangat meminta maaf, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya," kata Jongin sambil membungkukkan tubuhnya berulang kali pada Minseok.
Dia segera menyusul Kyungsoo. Wanita itu sudah berada di dalam mobil dengan wajahnya yang tengah disembunyikan. Jongin berniat untuk ikut masuk tapi gerakannya terhenti ketika menyadari pintu mobil terkunci dari dalam.
"Kyungsoo!" panggil Jongin sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil dari samping. "Buka kuncinya! Apa yang sedang kau lakukan!"
Wanita itu bergeming, kepalanya menunduk membuat sebagian besar rambut hitamnya menutupi wajah.
Jongin mengetuknya lagi, sedikit lebih keras. "Kyungsoo, apa yang kau lakukan! Buka pintunya!" Kalimat Jongin yang terkesan marah membuat wanita itu semakin meringkuk dengan tubuh yang bergetar. Jongin cukup menyadari itu hingga dia berusaha menekan emosinya.
"Sayang, buka pintunya, kumohon." Butuh beberapa waktu bagi Jongin untuk merayu hingga wanita itu mau membuka kunci.
Dia berniat untuk memeluk wanitanya setelah berhasil mendudukkan diri di kursi kemudi, tetapi Kyungsoo menolak sentuhannya. Bahu Jongin turun menyadari kesalahan yang ia perbuat, wanita itu pasti tidak suka dengan caranya tadi berbicara.
"Kyungie, maafkan aku. Kau tidak pernah bersikap seperti itu jadi ini membuatku sangat terkejut."
"Kau pasti akan membenciku setelah ini." Dahi Jongin berkerut tidak setuju, wanita itu berbicara tiba-tiba dengan tatapannya yang menyedihkan. "Apa aku ini istri yang sangat buruk?!" Kalimatnya kembali menggunakan nada tinggi.
"Kyungsoo, apa yang kau bicarakan?"
"Apa aku sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan? Kenapa harus aku?!" Jongin menatapnya bingung, dia seperti tidak mengenal sosok Kyungsoo yang seperti ini. Tatapan wanita itu kabur tak tentu arah, lalu bola matanya melebar saat sesuatu menyambangi pikirannya. "Jongin!" serunya.
"Ada apa denganmu, Kyungsoo?"
"Kau, kau pindahlah dan bekerja di perusahaan Ayah saja."
Jongin menatapnya penuh heran, wanita itu membahasnya lagi. "Berhentilah memintaku melakukan hal itu. Jangan mengalihkan pembicaraan, Doh Kyungsoo."
"TIDAK BISAKAH KAU MENURUTIKU SEKALI INI SAJA?!" teriakan keras Kyungsoo mengundang keheningan setelahnya.
Lelaki itu semakin menatapnya tidak percaya. Kyungsoo yang ia kenal adalah sosok wanita berhati lembut. Jongin hanya membeku di tempat tanpa melakukan apapun.
"Ma-maafkan aku," lirih Kyungsoo dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Dia terisak sambil mengusap wajahnya kasar, "Maafkan aku. Bodoh sekali, kenapa aku jadi seperti ini! Aku sangat tidak berguna!" maki Kyungsoo frustasi.
Gadis itu tak berhenti memaki sambil menarik rambutnya sendiri, sebelah tangannya beralih untuk memukuli perutnya cukup keras. Kyungsoo berusaha menyakiti dirinya sendiri. Jongin yang melihat hal itu langsung menarik kedua pergelangan Kyungsoo dan mencengkeramnya kuat-kuat untuk menghentikan pergerakannya.
Lelaki itu memeluknya erat, membiarkan Kyungsoo menabrak dadanya dan menangis sambil sesekali meronta. "Sayang, k-kau kenapa?" tanya Jongin gusar. Rasa khawatir menguasai pikirannya.
"Ada yang kau sembunyikan, hm?" tanya Jongin lagi. "Katakan apa yang membuatmu jadi seperti ini."
Lelaki itu mengusap surai lembut Kyungsoo. Berusaha menenangkan wanita yang masih tak bisa mengendalikan tangisnya sendiri. Jongin benar-benar diselimuti kekhawatiran.
"Aku sangat takut, Jongin-ah," bisiknya lirih. Jongin melepas pelukannya dan menangkup wajah Kyungsoo, tetapi wanita itu lebih milih menundukkan pandangan.
"Apa yang membuatmu takut? Katakan semuanya padaku."
"Ulang tahun pernikahan kita semakin dekat, aku harus sudah mengandung saat ulang tahun pernikahan kita tiba."
Jongin menggeleng. "Tidak, aku tidak pernah menuntutmu untuk itu, Sayang. Kau tidak perlu merasa tertekan."
"Tapi, tapi Ibumu bilang dia akan memisahkanmu dariku jika sampai saat itu aku belum berhasil memberimu keturunan. A-aku tidak mau, Jongin. Ba-bagaimana aku hidup jika kau tidak di sisiku?" ujarnya terbata-bata. Cara Kyungsoo berbicara benar-benar membuatnya sesak.
Jongin mendesis kesal, kepalanya tiba-tiba mendidih dalam waktu singkat. "Ibu sudah keterlaluan!" serunya sambil melepas tangkupan tangannya dari wajah Kyungsoo. Lelaki itu menarik ponsel dari sakunya berniat untuk segera menghubungi Sang Ibu namun Kyungsoo menahan tangannya. Menggelengkan kepala dengan tatapan menyedihkan yang menghiasi wajahnya.
"Tolong jangan membuatnya semakin sulit untukku," ujar Kyungsoo lirih. "Aku hanya perlu kau untuk tetap berada di sisiku."
Jongin berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepala, lalu memeluk wanita itu penuh sayang. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun, tidak akan pernah," ujarnya penuh keyakinan.
Janji yang Jongin tawarkan digenggam oleh Kyungsoo dengan begitu eratnya. Rasa takutnya belum usai. Pelukan hangat lelaki yang hampir tiga tahun mendampinginya itu berhasil mendinginkan hati Kyungsoo.
Rasa cintanya yang begitu besar membuat wanita itu selalu merasa takut pada tiap hal yang menyangkut tentang Jongin. Terlebih saat Kyungsoo belum mampu menjadi sosok sempurna baginya.
Kyungsoo melakukan apapun demi menjadi yang terbaik untuk Jongin, meski sering kali dia lupa untuk menjadi baik bagi dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Hey, missed me already? Aku kangen kangen kangen kangen bangett buat nulis, maaf aku ngilang mulu, hehe, semoga kedepannya lebih konsisten.
Buat kalian yg pernah ngirim PM ke aku. Aku minta maaf banget kalo ada yg ga aku bales karena aku beneran baru tau ada beberapa PM masuk tanpa notifikasi dan aku ga tau. Aku pengen bales tapi itu udah lama banget jadi ga enak juga takut udah ga nyambung yg dibahas, hehe.. Yang pasti terima kasih banyak buat kalian semua yg masih baca ini. Happy reading!
30012018
