First of all author update di hp jadi maafin kalo nemu yang sulit sulit dan aneh aneh XD

Tarikan nafas panjang dan wajah kusut yang dapat youngjae temukan dari orang dihadapannya. Mark Tuan, orang yang selalu dianggapnya berkarisma ini sekarang tidak terlihat seperti itu sama sekali. Sepulangnya dari patroli siang tadi, mark seperti kehilangan mataharinya. Wajahnya kusut, dan aura gelap seperti membayang di belakangnya.

"Gwenchana hyung?" Tidak ada jawaban dari Mark. Wajahnya masih menghadap tembok kamar asrama tempatnya berbagi tempat tinggal dengan youngjae. "Hyung?" Masih tidak ada jawaban. Youngjae ingat, terakhir kali Mark seperti ini adalah saat dimana dia berpisah dengan Jinyoung. Tapi youngjae yakin dia baru saja bertelepon ria dan bergosip dengan jinyoung dan tidak ada masalah yg di sampaikan jinyoung dari ujung line sana. "mark hyung!!! Jinyoung hyung menelpon!" Mendengar nama jinyoung, seketika Mark mendelik dan mengambil hp ditangan youngjae. Belum sampai dua detik dengusan kasar kembali terdengar. Dengan wajah bingung Mark menatap youngjae.

"Tidak ada telpon?"

"kau terlalu asik dengan duniamu sendiri hyung, baru melirik saat aku mengucapkan nama jinyoung hyung. Ada apa hyung?"

"gwaenchana." Mark menjawab malas, sambil kembali membetulakan posisinya menghadap tembok.

"kau tidak terlihat seperti baik baik saja dimataku. Ingat hyung aku memang bawahanmu tapi aku juga teman baikmu. Kau bisa menceritakan apapun yang mengganggumu, mulutku terkunci untukmu hyung tenang saja."

Tidak ada jawaban dari Mark.apakah seberat itu masalah Mark hyung?pikir Youngjae. ayolah Mark itu orang yang sangat tenang dalam perang sekalipun, dia tidak pernah panik apalagi khawatir. Wajar kalau youngjae bingung, ini hal yang langka. Satu satunya hal yang bisa membuat Mark seperti ini ya Jinyoung atau ibunya.

"Hyung eommonim baik baik sajakan?"

"eoh." singkat tapi cukup jelas, tapi tetap saja belum menjawab penasaran Youngjae.

"kau bertengkar dengan Jinyoung hyung? tidak kan? barusan aku bertelepon dengan jInyoung hyung juga tidak terdengar seperti dia yang sedang galau atau apa." Mendengar nama Jinyoung Mark menatap youngjae sebentar tapi kemudian kembali berbalik menatap tembok.

"kau menelpon Jinyoung?"

"ani, Jinyoung hyung yang menelpon menanyakanmu tapi kau belum datang hyung. Tidak lama kok hanya beberapa menit saja dia menelpon." tidak sebentar juga sih sebenarnya Jinyoung menelpon, memang tadinya mau sebentar ketika Jinyoung tau kalau Mark tidak ada. Tapi Youngjae menahan Jinyoung dan malah bertanya panjang lebar tentang Jaebum. Asal tau saja Choi Youngjae masih menolak dikatakan menyukai Im Jaebum.

Hening, Mark tidak berkata apapun lagi. Sungguh, Youngjae lebih memilih Mark yang grumpy dan perfectsionist daripada Mark yang galau seperti ini. Menarik nafas sebentar Youngjae meraih tangan Mark.

"Hyung kalau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku ok. sekarang istirahat saja kau juga mungkin sedang lelah sehabis patroli. aku akan ke dapur memasak ramyun. Mungkin membuatkan satu untukmu kalau kau mau, sambil menunggu, dinginkan saja dulu pikiranmu. arasso?"

"mm." hanya gumaman kecil yang Youngjae dapatkan, tapi tak apalah toh Mark jarang jarang seperti ini.

Sepeninggal Youngjae, Mark kembali bergulung dengan pikirannya, tentang bagaimana masa depannya dengan Jinyoung, kenapa Jinyoung seakan akan menyembunyikan ayahnya, bagaimana kalau dia harus berpisah dengan Jinyoung? bagaimana kalau blablabla... yang jelas semua yang ada dipikiran Mark sekarang adalah hal hal negatif yang mungkin terjadi dalam hubungannya dengan jinyoung.

Mark masih berkutat dengan pikirannya ketika Youngjae datang beberapa menit kemudian. setidaknya sekarang Mark sudah tidak lagi menatap tembok tapi menatap lemariada peningkatan.Tidak akan berkutik dari posisinya menatap tembok jika memang sedang galau.

"Sudah baikkan hyung? ini ramyunmu." sambil menyodorkan ramyun di mangkuk sedang, Youngjae lalu duduk di ranjangnya sendiri dan mulai mencicipi ramyun di panci.

mereka makan dalam diam, Youngjae khusuk dengan ramyunnya meskipun terkadang dia memperhatikan Mark dari menit ke menit.

"Youngjae-ah.." Suara Mark terdengar parau, terdengar ada keragu raguan diasana.

"mm?" Jawab Youngjae pelan, masih banyak ramyun dimulutnya wajar saja dia tidak bisa menjawab dengan jelas.

"Aku bertemu dengan ayah Jinyoung tadi." ucap mark lagi. Youngjae menelan ramyun dimulutnya lalu menatap Mark seakan mengatakan "apa kau serius hyung?"

Mark mengangguk pelan, menaruh ramyunnya yang tinggal setengah di meja, sudah tidak bernafsu makan lagi, lalu melanjutkan bercerita. Dia menarik nafas panjang. Entah kenapa beberapa jam yang lalu Mark memang berlagak seolah dia tidak takut dengan ayah Jinyoung tapi kalau dipikirkan lagi, bagaimana kalau Mark tidak akan pernah bisa menikahi Jinyoung? lebih parah lagi bagaimana kalau ayah Jinyoung memisahkan mereka?

"kau tahu youngjae-ah? Jinyoung berbohong padaku. Dia mengatakan kalau keluarganya bukanlah orang penting meskipun ayahnya cukup sibuk. Tapi nyatanya apa, tenyata ayah Jinyoung adalah seorang Jendral."

Youngjae sempat mengusap usap kupingnya mendengar hal ini, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan Mark, meskipun sulit dimengerti entah itu karena pengaruh topik yang dibahas atau karena pengaruh ramyunnya yang terlalu pedas.

"ternyata Jinyoung adalah anak Jendral Park." saat itu juga Youngjae tersedak. Matanya emnatap Mark horor sambil tangannya panik meraih botol minum di atas meja.

"jangan bercanda hyung, ramyunkku sangat pedas."

Mark tidak menjawab, tidak mood. terang saja, pikirannya sedang kalut, hatinya semrawut, khawatir galau dan entahlah dia memang sering over thinking jika itu urursan Jinyoung semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu. Mark hanya tidak sanggup kehilangan Jinyoung lagi.

Menyadari itu Youngjae berdehem pelan, "kau serius hyung?"

hanya anggukan kecil yang diterima Youngjae. "jangan katakan apa apa pada jinyoung." setelah itu Mark bangkit dari tempat tidurnya, pergi ke dapur, mencuci piring bekas pakainya lalu keluar entah kemana. Meninggalkan Youngjae masih ditempatnya dengan wajah shock dan mangkuk ramyun ditangan.

Mark berakhir di sebuah bukit di belakang lapang tembak. Saat itu lapang tembak sedang tidak dipakai, suasananya sedikit sepi hanya terlihat beberapa petugas piket yang lalu lalang entah itu berganti shift atau mencari makan sekedar untuk cemilan karena duduk menunggui pos jaga berjam jam itu melelahkan.

Saat itu hari sudah mulai sore, cuaca cukup cerah. Pemandangan mega didepannya sangat indah dan bisa membuat damai perasaan Mark. Mark senang datang kesini. awalnya tidak sengaja, waktu itu dia sedang merindukan JInyoungnya dan membutuhkan tempat sepi untuk sekedar mendengarkan suara Jinyoung.

Ngomong ngomong soal Jinyoung, Mark baru sadar kalau hari ini dia belum menghubungi Jinyoung. yah, meskipun dengan semua kenyataan yang dia ketahui hari ini, Jinyoung masihlah kekasihnya dan meskipun Mark baru menyadari kalau Jinyoung menyembunyikan identitas ayahnya dari Mark selama ini, apapun alsanya Jinyoung pasti tau apa yang terbaik.

Mengambil hpnya Mark mulai mendial nomor Jinyoung, biasanya mereka akan melakukan video call tapi saat ini Mark pikir tidak perlu. Wajahnya terlalu kusut untuk diperlihatkan pada Jinyoung. Dan tidak butuh waktu lama, hanya satu kali nada sambung terdengar Jinyoung sudah menjawab panggilannya. Kentara sekali kalau dari tadi Jinyoung memang sedang menunggunya.

"Mark Hyuuu~ng!!" terdengar nada ceria dari sebrang sana, sontak membuat bibir Mark melukiskan senyum.

"mm.. Jinyoungie~"

"Bogosipheo~~~" senyuman dibibir Mark pun semakin melebar, jelas sekali Jinyoung sedang menggunakan nada aegyonya, kalau dia bisa melihatnya pasti saat ini Jinyoung seang memasang puppy eyes dengan mulut yang mengerucut lucu. Jujur Mark sedikit menyesal dia tidak melakukan video call tadi.

"nado.." Jawab Mark singkatsambil sedikit terkekeh, terlalu senang dengan aegyo Jinyoung.

"kenapa lama sekali patrolinya? aku menungumu sejak tadi. kenapa tidak video call? aku ingin melihat wajahmu. Jangan katakan kalau kau melukai wajah tampanmu dan tidak ingin memperlihatkannya padaku. Hyuuu~ng aku kan sudah bilang hati hati jangan terluka lagi, sekarang katakan kali ini siapa yang melakulannya? siapa yang menyakiti kekasihku! ayo hyuungg jawaaabb~!" oceh Jinyoung panjang lebar. Orang di sebrang sambungan hanya tertawa singkat, bukankah Jinyoungnya sangat lucu?

"mianhae babe, atasanku sedikit mewawancariku dulu atas aksi heroikku menyelamatkan separuh jiwaku beberapa bulan lalu.." terdengar suara tidak jelas disebrang sana, mungkin jinyoung sedang merenggut mendengar kata kata Mark barusan. "maaf membuatmu menunggu. Dan aku tidak sedang terluka, hanya saja hari ini aku sedang ingin berfokus pada suara merdumu. Bukan berarti aku tidak ingin melihat wajahmu, aku hanya merindukan suaramu mengalun merdu tepat ditelingaku, aku lupa membawa earphone, dan suaramu berkurang keindahannya kalau aku menggunakan loud sepaker."

"ah hyuu~ng saranghae!"

Mark kembali terkekeh, kenapa Jinyoung jadi random begini. "wae? kenapa tiba tiba?"

"kau tidak ingin mebalasnya?" sewot Jinyoung.

"Love you Jinyoungie, sekarang katakan ada apa?"

"huh? apa maksudmu?" kali ini Jinyoung memasang suara innocentnya, Mark sudah hafal sekali.

"ada yang kau inginkan?"

"huh?" masih bertahan dengan innocent mode rupanya.

"Tidak ingin memberi tahuku?"

"ah.. mmm... sebenarnya.. ah tidak jadi deh.."

"wae?"

"tidak apa apa.."

"kalau begitu aku tutup."

"andwae!"

"aku marah." Mark berpura pura memasang suara ngambek, kalau tidak begini Jinyoung tidak akan lunak.

"arasso, aku akan mengataknnya."

"katakan!"

"Sebenarnya aku .. mm aku.. aku barusaja diterima jadi anggota SAR Korea."

"oh kalau begitu bagus, kenapa haru- MWO??!!! Apa maksudmu dengan anggota SAR?"

"SAR hyung, Search and Rescue. kau juga sering bekerja sama dengan mereka masa tidak tahu."

"batalkan!"

"ah wae?? aku tidak mau!" kali ini JInyoung yang menggunakan nada ngambek.

"JInyoung-ah sudah kubilang jangan terlibat hal hal yang berbahaya lagi. Bukankah kau sudah berjanji?!"

"ani, aku hanya berjanji untuk tidak mengambil tugas di area peperangan."

"Tapi jadi anggota SAR juga berbahaya Jinyoung-ah, medan yang mereka lalui itu lebih bahaya dari apa yang kau bayangkan! aku khawatir padamu"

"lalu bagaimana denganmu hyung? lingkup kerjamu jauh lebih berbahaya dariku, bukan hanya masalah medan, semua yang ada disekelilingmu bisa jadi bahaya. lalu bagaimana denganku hyung? menurutmu aku tidak khawatir padamu? menurutmu aku bisa duduk manis di apartemen mewah di Seoul sementara kekasihku ada di tengah hutan entah apa yang dia makan sambil terus di awasi musuh? setidaknya biarkan aku melakukan apa yang menurut hatiku benar hyung. Aku benar benar ingin melakukan ini aku janji aku tidak akan terluka"

hening, Mark tidak tahu harus menjawab apa. Memposisikan Jinyoung dalam bahaya, meskipun hanya dalam imajinasinya, Mark tak sanggup.

"hyung.. ingat aku juga namja. aku akan baik baik saja aku janji dan aku tidak akan memasuki wilayah peperangan lagi, aku hanya kan membantu menyelamatkan korban bencana dan kecelakaan."

Masih hening, hanya terdengar helaan nafas panjang dari Mark.

"Hyuuu~ng jebaa~llll" lagi, Jinyoung menggunakan nada merajuk itu lagi. Bukankah barusan dia mengatakan kalau dia juga namja?!

"Hyuung, ne? ne ne ne ne???"

dan Markpun kalah. "arasso. berjanjilah untuk tetap aman dan sehat."

"Ne hyuung~"

mereka melanjutkan obrolan sampai beberapa jam kedepan, tidak banyak yang dibahas hanya hal hal kecil dan beberapa kata cinta dan rindu untuk satu sama lain. Ingin sekali Mark bertanya pada Jinyoung tentang ayahnya, tapi mungkin tidak sekarang. Mark tidak mau merusak mood Jinyoung, dan biarlah dia melupakan masalah ini sebentar karena tawa Jinyoung di seberang sana is worth everything.

ok, author bakal pura pura ga tau dan pasang wajah tanpa dosa karena udah lama ga update XD asli pengen banget update tp ga ada waktuu TTmakasih banget buat readers sekalian ygasih mau menyumbangkan waktu dan tenaganya sekedar untuk merevie follow atw fav :') kamdongs *haruskan author bales satu satu?