A/N : Akhirnya apdet lagi, yo! Maaf banget buat yang nunggu yo! Habisnya baru selesai ujian yo! (Ngetik sambil denger lagu Den-O 'Double Action' versi Ryuutaros)
Disclaimer : Pernah liat nama 'podjok-henshin' ditulis di depan komik Kamen Rider Spirits ga? Hah? Ga ada? Adanya nama Muraeda Kenichi dan Ishinomori Shoutaro? Ya emang karena Kamen Rider punya mereka, bukan punya ekeu.
Warning : Orange! La~la~La~~~ Dan sedikit twist dengan cerita Natal berjudul Jack Frosh. Harus nanya2 ke yang Natalan buat survei cerita ini. Ternyata menarik juga!
Selamat menikmati, prens!
Jack Frost
…
..
.
Chapter 2
…
Natal hanya tinggal menghitung hari, tapi tidak ada sedikit pun keterangan yang bisa didapat Shigeru mengenai pemuda misterius dan tokonya tersebut. Hampir setiap hari dia menuju The Claus, toko kecil yang menjual aksesoris natal terlengkap dan termurah yang pernah ada. Tapi lagi-lagi pemuda manis itu harus selalu pulang dengan menelan banyak pertanyaan.
Herannya, The Claus jarang didatangi pengunjung. Toko itu seperti tak kasat mata bagi orang-orang yang berbelanja di distrik 109 Shibuya. 'Toko apa itu sebenarnya? Dan pemuda bernama Murasame ryo? Siapa dia sebenarnya?' Shigeru berpikir keras sambil menggaruk-garuk kepala. Karena jujur saja, Pemuda bernama Murasame Ryo itu sudah menguasai pikirannya selama hampir tiga minggu, sejak dia dan teman-teman satu timnya menemukan The Claus.
"Shii! Kamu dicari kapten nih!" Ujar salah seorang teman satu kelasnya yang berhasil memecah konsentrasi Shigeru.
"Goro?" Dia kaget ketika sosok yang mencarinya itu sudah berada di depan pintu kelas. Shigeru pun langsung mendatangi kapten tim American Football tersebut dan memberikan pukulan ringan biasa pada bahunya. "Ada apa?"
"Ada yang mau kuobrolin penting nih…Nanti bisa pulang bareng ga?" Tanyanya berharap sambil membalas pukulan ringan Shigeru.
"Wah…aku ada kerja sambilan…" Jawab Shigeru ragu. Ya, Shigeru bukan pemuda yang gampang menyerah. Karena ketabahannya, Ryo akhirnya mengijinkan Shigeru untuk membantunya di The Claus walau hanya sampai sehari sebelum natal.
"Kerja sambilan dimana? Kok aku nggak tau?"
"Ngapain aku harus laporan?" Jawab Shigeru nyolot. Goro menaikkan salah satu alisnya. Setelah memandang sebal dia merangkul Shigeru dan menyeretnya ke arah atap bangunan Universitas.
"Woiii…apa-apaan nih? Bentar lagi dosen mau dateng!" Shigeru buru-buru melepaskan diri dan berlari menuju kelas. Tapi Goro tidak mau kalah dan ikut mengejar. Teman-teman sekelas Shigeru hanya bisa mendesah pelan mendengar keributan di luar ruangan kelas. Bagi mereka semua keributan yang ditimbulkan Shigeru sudah menjadi sarapan sehari-hari bahkan dengan kakak kelas seperti Goro sekalipun.
Goro menindih Shigeru dan menunjukkan giginya yang kokoh "Kamu kalah lagi, Stronger!"
"Sial!" Shigeru mengumpat sambil meronta-ronta di bawah kuncian kaptennya. Setelah puas melihat Shigeru gagal melepaskan diri, bagaikan selembar kertas pemuda itu diangkat dengan mudah oleh Goro lalu ditaruh di pundaknya.
"Aku culik Stronger ke atap dulu, tolong absenin dia ya!" Teriakan Goro menggema. Teman-teman sekelas Shigeru hanya bisa mengangguk dan setelah kedua pembuat onar itu hilang dari pandangan, mereka kembali mendesah.
…
..
.
"Ini toko yang kamu ceritain itu?"
"Iyeee…jangan banyak protes, cepet masuk!" Kata Shigeru tidak sabar. Akhirnya dia menghabiskan waktu mata kuliah sore untuk menceritakan tentang The Clause dan Ryo pada Goro. Tapi dia agak lega juga. Karena seperti biasa, Goro pasti mau mendengarkan apa yang dia katakan.
"Misi…" Ucap Shigeru cuek. Dan seperti yang sudah diduga, Pemuda bernama Murasame Ryo itu sudah siap menyambut Shigeru dengan satu loyang besar berisi kue kering.
"Kali ini kamu datang bersama temanmu?" Tanyanya tetap ramah, tapi terdengar sedikit nada kecewa.
"Emm..yah…dia mau lihat-lihat. Boleh kan?"
"Tentu saja boleh, silahkan! Shigeru, Ini celemekmu." Setelah memberikan celemek sederhana berwarna hijau dari tangan kirinya yang bebas, Ryo kembali ke meja kasir. Goro hanya bisa menatap heran pada pemuda tanpa ekspresi itu.
"Dia pemilik toko yang kau ceritakan itu?" Pertanyaan Goro hanya dijawab Shigeru dengan anggukan kecil.
"Pertama kali aku kesini dia tahu namaku. Hari berikutnya dia tahu dimana aku tinggal. Setelah itu dia tahu apa saja hobiku dan pakaian apa yang sering kupakai. Tapi kalau aku tanya dia menjawab: tahu aja. Udah kaya statemen iklan deh. Lama-lama aku merasa seperti punya stalker." Ujar Shigeru sambil mengikat tali celemek di belakang pinggangnya.
"Aku sering lewat sini lo, tapi nggak pernah liat toko ini…"
"Tuh, kan! Kebanyakan juga bilang gitu. Tapi terserahlah…soalnya toko ini cuma buka sampe malam natal." Mereka kini menyusuri tempat hiasan potol natal.
"Stronger…aku mau ngobrol sesuatu."
"Oh, iya! Tadinya ada yang pengen kamu ceritain ya?" Sementara Shigeru masih sibuk melihat aksesoris Natal berupa bintang besar yang menarik perhatiannya.
"Iya! Tapi tadi di kampus semua pembicaraan dibajak sama kamu, jadi aku nggak sempet cerita." Keluh Goro sewot.
"Sorry! Sorry! Hahahaha..emang mau ngomong apa sih?" Kata Shigeru sambil tertawa.
"Aku…"
"Bintang itu bisa mengabulkan permohonan orang yang kau sayangi." Shigeru dan Goro kontan kaget melihat Ryo yang kini sudah berdiri di belakang mereka. Kehadirannya memang tidak bisa ditebak. Walau sudah tiga minggu Shigeru mencoba membiasakan diri, dia masih belum terbiasa.
"Bintang ini?" Tanya Shigeru sambil mengamati bintang kuning besar yang ada di tangannya. Sekitar bintang itu dipenuhi permata dan sangat bercahaya.
"Sama seperti mitos Natal lain. Jika kau berciuman dengan pasanganmu di bawah Mistletoe* pada malam natal, maka cintamu akan abadi selamanya. Bintang itu juga mempunyai kisah yang sama." Jelas Ryo panjang lebar.
"Ini bintang yang ditaruh di atas pohon Natal kan? Apa harusnya dipasang di atas sana?" Tanya Shigeru sambil menunjuk pohon besar indah yang menjulang di tengah toko. Mungkin merupakan pohon Natal termewah yang pernah dilihat Shigeru. Walau dihiasi dengan berpuluhpuluh lampu dan boneka namun pohon itu tidak memiliki bintang. Tidak ada kehangatan dan keindahan di ujung pohon Natal itu. 'Andai saja bintang ini ada di atas sana, pasti pohon itu akan sempurna' pikir Shigeru. Tapi Ryo menggeleng.
"Bintang itu milik semua pohon Natal. Ucapkan permohonanmu untuk orang yang kau sayangi pada saat kau memasangnya di puncak pohon Natal. Niscaya permohonanmu akan terkabul." Ujar Ryo.
"Lalu kenapa bintang ini nggak dipasang disana sama kamu? Nggak ada orang yang kamu sayang? Emang sih pohon itu tinggi banget, tapi kan bisa pake tangga." Ryo tidak memberikan reaksi apapun pada pertanyaan polos Shigeru. Dia hanya tersenyum. Goro mamasang muka masam mendengar percakapan mereka. Apalagi karena kalimatnya dipotong dengan tidak sopan oleh pemuda tersebut. Dengan cepat dia meraih tangan shigeru dan menariknya keluar toko.
Setelah melewati pintu keluar toko, membutuhkan waktu lama bagi shigeru untuk lepas dari cengkeraman Goro yang keras. "Goro! Sakit nih! Lepasin donk!" Pemuda berbadan besar itu mulai melunak. Mereka akhirnya berhenti di sudut jalan.
"Sorry...Aku agak nggak suka sama dia." Goro merasa bersalah seraya melepaskan tangan Shigeru.
"Sama sih! Aku juga sebel soalnya dia misterius banget." Jawab Shigeru setuju.
"Terus kenapa mau kerja disana?"
Shigeru hanya diam. Tentu saja awalnya dia hanya penasaran. Tapi tidak bisa dipungkiri dia juga tertarik. Pada The Clause, pada benda-benda Natal aneh di dalamnya juga pada Ryo. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu peduli, padahal selama ini dia dikenal sebagai orang yang cuek dan semaunya. Shigeru tetap diam hingga menyadari sesuatu.
"Yah! Bintangnya jadi kebawa deh…gimana donk?" Kata Shigeru panik sambil memperhatikan bintang yang masih digenggamnya. "Sorry, aku balikin dulu bentar. Hari ini aku ijin deh, jadi kita bisa pulang buat ngobrol. Tunggu bentar ya!"
Setelah meyakinkan Kaptennya, Shigeru berlari kembali menuju The Claus. Dia memilih untuk masuk lewat pintu samping agar tidak mengganggu para pengunjung. Namun saat ini dia lebih memilih berdiri mematung setelah mengamati Ryo untuk beberapa saat dari jendela samping toko Natal itu.
Salju.
Salju berjatuhan dari langit-langit The Claus seakan toko itu tak beratap. Yang lebih membuat Shigeru lebih terkejut bukan hanya itu. Dia melihat butiran-butiran salju bercahaya yang jatuh ke tangan Ryo berubah menjadi sebuah mainan atau hiasan Natal yang indah. Shigeru menutup mulutnya rapat dengan kedua tangan, mencegah agar dia tidak berteriak karena kaget.
"Maaf, Aku hanya bisa bersama kalian hingga malam Natal nanti. Itulah takdir Jack Frost." Ujar Ryo pelan sambil melihat benda-benda yang berubah dari salju tadi melayang menuju tempatnya masing-masing. Wajahnya yang selalu tersenyum kini terlihat tampak sedih. Shigeru mundur perlahan sambil tetap mengunci mulutnya. Tidak percaya akan kejadian ajaib yang baru saja dia saksikan. Setelah merasa aman, dia langsung berlari menuju tempat Goro yang masih menunggunya.
"Stronger, kamu kenapa? Wajahmu pucat." Tanya pemuda kekar itu khawatir. Shigeru hanya menggeleng dan secepatnya menarik tangan Goro menjauhi the Claus.
To Be Continued…
…
* hiasan Natal berbentuk bulat, biasanya ditaruh tinggi-tinggi di depan pintu atau di Pohon Natal.
A/N: Wiiiiiii…besok ujian terakhirrr! Deg-deg'aaaaaan! Oh ya, Goro emang manggil Shige 'Stronger' kalo lagi di pertandingan, disini aku pake buat panggilan sehari-hari aja. Waaaaa…aku kurang bisa baca kanji, jadi ga tau nama universitasnya. Cuma tau 'Joho…apa…gitu' *langsung tidur karena pundunk*
Makasih buat temen-temen yang mau kuwawancara buat bikin fic ini. Juga buat yang susah-susah eReview dan Note untuk support aku. Sankyuuu~~~*hug*
Mpe ketemu di Chappie selanjutnya!
