COME AWAY WITH ME

(Remake)

ChanBaek's fanfiction BASED of novel by Kristen Proby, (Come With Me, With Me In Seattle Series)

Aku hanya menulis ulang, dan ataumengganti karakter ataunama dari tokoh dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain. Dan aku tidak mendapatkan/mencari keuntungan financial ataufisik dari cerita ini, kecuali untuk menghibur pembaca/penikmat fanfiksi EXO.

Cerita seluruhnya karangan Kristen Proby. Aku tidak memiliki apapun dari cerita ini kecuali akun fanfictiondotnet untuk publikasi.

GS, M-21 Rated.

[ Seluruh cerita dari sudut pandang Baekhyun ]

Romance, Drama, Hurt/Comfort

2016

:: ::

:: ::

Bab 1.

[Baekhyun pov]

Cahaya pagi ini sangat sempurna. Aku mengarahkan Canon-ku ke depan wajahku dan menekan rana.

Klik.

Puget Sound (selat Puget) terangkum dalam warna: pink, kuning, biru, dan sesekali angin masih tetap berhembus.

Ombak-ombak dengan lembut memukul melawan pagar beton di kakiku, dan aku terlena oleh keindahan di depanku.

Klik.

Aku membalikkan badan ke kiri dan melihat pasangan muda berjalan di trotoar jalan.

Pantai Alki di Seattle sangat sepi, di sisi lain beberapa orang mengalami saat yang sulit, atauyang menderita insomnia seperti aku. Pasangan muda itu berjalan menjauhiku, berpegangan tangan, saling tersenyum, dan aku mengarahkan lensaku pada mereka dan klik. Aku perbesar pada kaki mereka yang menggunakan sepatu kets dan saling mengunci tangan dan memotret beberapa kali lagi, mata fotograferku menghargai keintiman mereka di pantai.

Aku menghirup udara asin dan memandang ke arah Sound (Selat) sekali lagi ketika perahu layar merah perlahan meluncur di atas air. Sinar matahari pagi baru saja muncul berkilauan, dan aku mengangkat kameraku sekali lagi untuk menangkap momen itu.

"Apa sebenarnya yang kau lakukan?"

Aku berputar, mencari asal suara itu dan menatap mata hitam mencerminkan langit malam yang padam tanpa bintang. Mata itu dikelilingi oleh wajah yang sangat-sangat kesal. Bukan hanya marah. Murka.

"Maaf?" suaraku lemah, aku mencoba menemukan suaraku.

"Mengapa kalian tidak bisa meninggalkanku sendiri saja?" orang asing tampan-sangat tampan-di depanku bergetar marah dan aku mundur secara naluriah, mengerutkan dahi dan merasa mulai marah juga padanya. Apa yang sebenarnya kau lakukan?

"Aku tidak mengganggumu," jawabku, senang bahwa suaraku lebih kuat dengan kemarahanku, dan mundur lagi satu langkah.

Di hadapanku ada seorang lelaki bermata bulat hitam kelam dan berwajah bak Dewa-dewa Yunani. Tapi, dia mungkin sedikit gila.

Sayangnya, dia mengikutiku dan aku merasa panik dan mulai menajamkan instingku.

"Aku merasa kau mengikutiku. Apakah kau berpikir aku tidak menyadarinya? Berikan kamera itu padaku." Dia menjulurkan jari-jarinya yang panjang dan mulutku terbuka. Aku menarik kameraku ke dada dan membungkusnya dengan lenganku.

"Tidak." Suaraku luar biasa tenang dan aku melihat sekeliling bermaksud untuk melarikan diri, tapi aku tidak bisa melepaskan pandanganku ke arah mata warna kelamnya yang marah.

Dia menelan ludah dan memicingkan matanya, bernapas dengan keras.

"Berikan padaku kamera sialan itu, dan aku tak akan mengajukan tuntutan karena kau mengusikku. Aku hanya menginginkan foto-fotonya." Dia merendahkan suaranya tapi itu tidak mengurangi ancamannya.

"Kau tidak bisa mendapatkan foto-fotoku!"

Siapa pria ini? Aku berbalik untuk berlari dan dia menangkap lenganku, memutar tubuhku untuk berhadapan dengannya lagi, menyambar kameraku. Aku mulai berteriak, tak percaya bahwa akan dirampok praktis di luar rumahku.

Ketika dia melepaskanku dan meletakkan tangannya di lutut, membungkuk, menggelengkan kepalanya dan aku menyadari bahwa tangannya bergetar. Ada sesuatu yang salah.

Sial.

Aku mengambil langkah mundur lagi, bersiap untuk lari, tapi dengan kepalanya yang masih tertunduk dia memegang tangannya dan berkata, "Tunggu."

Aku seharusnya lari. Cepat. Memanggil polisi dan memastikan orang ini ditahan atas tuduhan penyerangan, tapi aku tidak melakukannya. Nafasku mulai tenang, dan kepanikanku surut karena beberapa alasan. Kupikir dia tidak akan membahayakanku.

Yeah, aku yakin para korban pembunuhan Green River tidak berpikir bahwa mereka juga akan dibunuh.

"Uh, apakah kau baik-baik saja?" Suaraku terengah dan aku menyadari bahwa aku masih mencengkeram kamera di dadaku, hampir menyakitiku. Dan aku melemaskan tanganku dan menurunkannya ketika kepala pria itu tegak kembali.

"Jangan mengambil fotoku." Suaranya rendah dan terukur, terkontrol, tapi dia masih bergetar dan bernafas seperti orang yang baru saja berlari marathon.

"Oke, oke. Aku tak akan mengambilnya. Aku memasang kembali penutup lensanya." Aku melakukan apa yang aku katakan, aku tidak melepaskan pandanganku dari matanya dan dia memperhatikan tanganku dengan hati-hati.

Ya ampun.

Dia mengambil nafas dalam sambil menggelengkan kepalanya dan aku menyadari bahwa dia menarik. Wow. Wajahnya terpahat tampan, rahang yang kokoh dan mata hitamnya yang tajam dan jelas. Rambut pirang emasnya terlihat berantakan. Dia tinggi, lebih tinggi dariku yang hanya 168 cm, bahu yang ramping dan lebar.

Dia memakai jeans biru dan kaus hitam polos, dan keduanya memeluk tubuh ramping itu di semua bagian yang tepat.

Sial. Dia akan terlihat luar biasa jika telanjang.

Ironisnya, aku sangat menginginkannya di depan kameraku.

Dia menatap mataku lagi dan dia samar-samar terlihat tidak asing untukku. Aku merasa aku mengenalnya di suatu tempat, tapi pemikiranku langsung lenyap ketika dia bicara.

"Aku membutuhkanmu untuk memberikan kamera itu, kumohon."

Apakah dia serius? Dia masih mencoba membodohiku?

Aku tertawa pendek dan akhirnya memutuskan kontak mata, melihat langit dan menggelengkan kepalaku. Aku menutup mata dan melihatnya kembali, dia menatapku dengan intens.

Aku mendesis, lalu tersenyum dan berkata padanya, "Kau tidak akan mendapatkan kamera ini."

Dia memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya lagi. Otot bawah perutku mengepal terhadap tatapan seksinya dan diam-diam aku mencela diriku sendiri.

Aku tidak akan terangsang oleh keseksianmu di pagi hari, dasar perampok!

"Kau tidak akan mendapatkan kamera ini. Kau pikir siapa dirimu?" suaraku meninggi dan aku memuji diri sendiri atas sikapku ini.

"Kau tahu siapa diriku."

Jawabannya membingungkanku dan aku menyipitkan mata, menatapnya kembali dan merasakan perasaan aneh sekali lagi bahwa seharusnya aku mengenalinya, tapi aku menggelengkan kepalaku dengan frustasi. "Tidak, aku tidak mengenalmu."

Dia menaikkan alisnya, meletakkan tangannya di pinggul rampingnya, dan dia tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang rapi. Senyumnya tidak mencapai matanya.

"Ayolah, sayang, jangan main-main. Berikan kamera itu, atauhapus foto-fotonya dan kita bisa melanjutkan urusan masing-masing."

Kenapa dia menginginkan fotoku?

Tiba-tiba pemikiran itu datang padaku, bahwa dia berfikir aku telah mengambil gambarnya.

"Aku tidak mengambil satupun fotomu disini, sayang," Balasku ketus.

Matanya menyipit kembali dan senyumnya menghilang. Dia tidak percaya padaku.

Aku melangkah maju ke arahnya. Menatap dengan dalam pada mata hitamnya yang lebar dan bicara dengan sangat jelas.

"Aku. Tidak. Memiliki. Fotomu. Di. Kamera. Ku. Aku bukan juru foto." Aku merasakan pipiku merona dan aku memutuskan untuk menunduk.

"Foto apa yang kau ambil?" Suaranya meninggi dan dia terlihat bingung.

"Laut, perahu," aku mengisyaratkan perairan Sound dengan tanganku.

"Aku melihat kau mengarahkan kameramu padaku ketika aku duduk di kursi itu." Dia menunjuk bangku di belakangku. Itu dekat dimana aku memotret pasangan yang bergandengan tangan.

Aku menarik kamera di depanku lagi dan melihatnya dengan tegang, tapi aku mengacuhkannya. Aku menghidupkan kamera, mulai membalik gambar-gambarku sampai aku menemukan apa yang dia takutkan. Aku berjalan ke arahnya dan berdiri di sampingnya, lenganku hampir menyentuh lenganya dan aku merasakan panas dari tubuh seksinya. Aku memaksa diriku mengabaikannya.

"Ini, foto-foto yang kuambil." Aku menunjuk layar dan halaman-halamannya, memperlihatkan padanya semua gambar. "Apa kau ingin melihat gambar lain yang kuambil?"

"Ya." Bisiknya.

Aku melanjutkan menunjukkan gambar laut, langit, perahu-perahu, gunung-gunung padanya. Aku tak bisa menolak mencium aromanya ketika dia dengan seksama melihat foto-foto itu, mencermati satu per satu sementara menarik bibir bawahnya dengan ibu jari dan telunjuknya. Alisnya berkerut.

Oh Tuhan, baunya sangat menggoda.

Aku sudah mengambil lebih dari 200 foto pagi ini, jadi membutuhkan beberapa menit untuk melihat halaman per halaman. Ketika aku sudah selesai, dia menatap ke dalam mataku dan aku melihat perasaan malu disana. Aku tak yakin, tapi dia hampir terlihat sedih.

Jantungku terbalik ketika dia tersenyum, sangat dewasa, tidak ragu-ragu, menghilangkan kesedihan, dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia dapat mencairkan gleiser dengan senyuman itu. Mengakhiri peperangan. Menyelesaikan krisis hutang nasional. Dan meruntuhkan tembok Berlin.

"Maaf."

"Sudah seharusnya." Aku mematikan kamera dan berjalan menjauh.

"Hey, aku benar-benar minta maaf."

"Kau pasti sangat besar kepala jika kau pikir semua orang yang sedang membawa kamera akan mengambil gambarmu." Aku melanjutkan perjalananku dan tentu saja dia mengejarku, menyamakan langkah lebarnya dengan langkah kecilku.

Mengapa dia masih disini?

Dia menjernihkan tenggorokannya. "Bolehkah kutahu namamu?"

"Tidak." Jawabku.

"Um, kenapa?" Dia terdengar bingung.

Sial, aku juga bingung.

"Dengar. Aku tidak memberitahukan namaku pada perampok."

"Perampok?" Dia menghentikan langkahnya dan menarikku berhenti di sampingnya, dengan tangannya di sikuku. Aku melihat ke bawah,

ke arah tangannya, menaikkan pandanganku, dan menatapnya dengan galak.

"Lepaskan aku." Dia melepaskanku dengan segera.

"Aku bukan seorang perampok."

"Kau mencoba mengambil kameraku. Kau menyebutnya apa? Walau pun kita tampaknya sama-sama orang Asia, sebaiknya jangan berbuat kriminal di Negara orang." Aku berjalan lagi, menyadari aku menuju arah yang berlawanan dengan rumahku. Sial.

"Dengar, aku bukan perampok. Berhentilah sebentar." Dia berhenti lagi, menggosok wajahnya kemudian melihatku.

Aku menghadap ke arahnya, meletakkan tangan di saku celana jeansku. Kameraku tergantung aman di leherku sambil melotot padanya.

"Aku tak tahu siapa kau sebenarnya," aku berkata sebaik mungkin tidak dengan suara omong kosong.

"Jelas," dia merespon dengan senyum di bibirnya dan aku merasakan perutku menegang. Berharap dia memberiku senyum lebarnya lagi. Ketidaktahuanku seperti membuatnya senang, tapi itu sangat menggangguku. Haruskah aku mengenalnya?

"Mengapa kau tersenyum?" aku menemukan diriku membalas senyumannya.

Dia melihatku dari atas ke bawah, mengamati rambut gelapku yang masih terikat sembarangan, kaus merah kasual yang membungkus dadaku, jeans, pinggul yang melengkung dan paha. Dan mata hitamnya kembali menatapku. Senyumnya bertambah lebar dan membuatku kehilangan nafas.

Wow.

"Aku Chanyeol." Dia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, aku hanya melihatnya, masih tidak terlalu percaya. Dia menaikkan alisnya, seperti menantang dan aku menemukan diriku

meletakkan tangan kecilku di tangannya yang besar, kuat dan menggenggamnya erat.

"Baekhyun."

"Baekhyun," Dia mengulang namaku pelan, sambil memperhatikan mulutku dan aku menggigit bibir bawahku. Dia menarik nafas tajam kemudian menatap mataku kembali.

Sial, dia sangat tampan. Aku menarik tanganku dari genggamannya dan melihat ke bawah, tak tahu harus mengatakan apa lagi, dan masih bingung mengapa aku masih berdiri disini bersamanya.

"Aku… aku harus pergi," Aku tergagap, tiba-tiba merasa gugup. "Ini… akan sangat menyenangkan jika kita bertemu dengan cara yang normal, Chanyeol." Aku mulai berjalan menuju rumahku dan dia melangkah di depanku.

"Tunggu, jangan pergi." Dia menyisirkan tangannya di rambut emasnya yang berantakan. "Aku sangat menyesal dengan semua ini. Biarkan aku memperbaiki kesalahanku padamu. Sarapan?"

Dia mengerutkan kening, seolah dia tidak berniat mengatakannya, dan kemudian dia menatap penuh harap ke arahku.

Katakan tidak Baek. Pulang ke rumah. Kembali ke ranjang. Mmmm… ranjang bersama Chanyeol… Tubuh berkeringat, sprei kusut, kepalanya berada di antara kakiku, tubuhku yang menggeliat ketika aku klimaks…

Stop!

Aku menggelengkan kepalaku, membuang fantasi liar tersebut dan kemudian berkata, "Tidak, terima kasih. Aku harus pergi."

"Suamimu menunggu di rumah?" Dia bertanya, melihat ke arah jari manisku.

"Uh, tidak."

"Pacar?"

Aku tersenyum kecil padanya. "Tidak."

Wajahnya tampak lega. "Pacar wanita?"

Aku tidak bisa menghentikan tawaku yang datang tiba-tiba.

"Tidak."

"Bagus." Dia tersenyum lebar padaku lagi, dan aku sangat putus asa ingin mengatakan ya pada orang asing tampan ini, tapi akal sehatku melawan mengingatkan bahwa ini tidak aman. Aku tidak mengenalnya, walaupun dia sangat luar biasa, dia tetap orang asing.

Aku, dan semua orang tahu bahwa orang asing itu berbahaya.

Aku mengabaikan cengkeraman di antara kakiku, memberikan senyuman kecil padanya, kemudian berkata padanya dengan sopan dan tegas sebisaku, "Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan, Chanyeol-sshi."

Tentu saja, sopan dan tegas desisku.

Brengsek.

Aku mendengar dia menggumam "Semoga harimu menyenangkan, Baekhyun." Ketika aku pergi dengan cepat.

:: ::

Aku berjalan ke rumah dengan cepat, merasakan mata Chanyeol pada pantat ala Kardashian-ku sampai aku berbelok di sudut jalan menuju rumahku.

Mengapa aku tidak memakai kaus yang lebih panjang? Jantungku berdebar dan aku hanya ingin merasa aman di dalam rumahku sendiri, aman dari perampok dengan senyum yang seksi. Tubuhku sudah lama tidak bereaksi seperti ini kepada pria, dan sementara aku mengakui bahwa ini terasa menyenangkan, Chanyeol hanya terlalu… Wow.

Aku menutup dan menguci pintu depan rumahku kemudian menuju dapur. Luhan sedang membuat sarapan!

"Hey, Baek, mendapatkan foto bagus pagi ini?" Banyak yang bagus sepertinya, sahabat terbaikku Luhan sedang membalik pancake dan aku mencium aroma bacon renyah di dalam oven. Perutku berbunyi ketika aku meletakkan kameraku di bar dan menarik bangku.

"Ya, pagi yang bagus," balasku. Aku ragu untuk menceritakan tentang Chanyeol. Luhan cenderung berada di sisi romantis, dan dia akan sangat senang menyuruh kami menikah di akhir percakapan, tapi dia adalah satu-satunya orang yang kupercaya dalam segala hal, jadi, kenapa tidak? "Aku mendapatkan beberapa potret bagus. Hampir dirampok… Pagi yang cukup biasa."

Aku tersenyum pada diriku sendiri ketika Luhan berputar, tanpa sadar dia menjatuhkan pancake di lantai dan mendesah.

"Apa? Apa kau baik-baik saja?" suaranya sangat khawatir.

"Aku baik." Aku mendengus. "Seorang pria marah, mengira bahwa aku mungkin mengambil gambarnya." Aku menggambarkan pertemuanku padanya, dan dia tersenyum manis ketika aku selesai bercerita.

"Sepertinya dia menyukaimu, teman."

Aku mendengus. "Terserah, dia hanya pria yang tidak jelas."

Luhan memutar matanya dan kembali ke pancake. "Dia mungkin pria yang tidak jelas, tapi jika dia seseksi yang kau katakan, kau seharusnya pergi sarapan dengannya. Lagi pula dia juga berkulit kuning (orang Asia) seperti kita"

Aku cemberut ke arahnya. "Pergi sarapan dengan perampok yang seksi?" Aku bertanya ragu-ragu.

"Oh, jangan terlalu mendramatisir." Luhan membalik daging bacon di dalam oven kemudian menuang adonan pancake ke atas pemanggang. "Itu terdengar bahwa dia sangat menyenangkan."

"Ya, jika dia tidak berusaha mencuri kamera mahalku dengan cara menjijikkan, dia akan menjadi pria yang sempurna."

Luhan tertawa dan aku hanya tersenyum menanggapinya. "Apa yang akan kau lakukan hari ini?"

Aku sangat senang ketika Luhan dengan tanggap mengubah topik obrolan, aku berjalan di sekitar bar dan mengisi piring dengan makanan yang lezat. "Aku mempunyai sesi di tengah hari, dan aku akan mengirim beberapa foto ke toko. Aku benar-benar butuh tidur pagi ini."

"Tidak bisa tidur lagi?" tanya Luhan.

Aku menggelengkan kepalaku. Tidur tidak pernah mudah untukku.

Aku menduduki bangkuku dan menggigit daging bacon. Luhan di sampingku. "Bagaimana denganmu?"

"Baik, karena sekarang hari Selasa, kurasa aku akan pergi bekerja hari ini." Luhan adalah seorang bankir investasi yang sangat sukses di pusat kota Seattle. Aku tidak bisa lebih bangga lagi selama menjadi temannya. Dia luar biasa pintar, cantik dan sukses.

"Kita harus mendapat penghasilan," aku menghabiskan pancake lezat di piringku, kemudian membersihkan piring kami dan meletakkannya di mesin pencuci piring.

"Aku bisa melakukan itu." Luhan menuju dapur tapi aku menyuruhnya pergi.

"Tidak, kau telah memasak. Aku akan mengerjakan ini. Pergilah bekerja."

"Terima kasih! Semoga sesimu menyenangkan." Dia menggoyangkan alisnya padaku dan pergi menuju garasi.

"Semoga harimu di kantor menyenangkan, sayang!" balasku padanya dan kami berdua tertawa.

Aku menaiki tangga ke kamarku dan telanjang. Aku benar-benar butuh tidur.

Klienku membayarku sangat baik untuk memberikan mereka kesenangan, sesi foto yang indah, dan aku butuh untuk istirahat yang baik.

Kamarku besar, dengan jendela tinggi dari lantai sampai langit-langit. Ini adalah satu-satunya ruangan di rumah ini yang semua berwarna pink di dalamnya. Aku cinta selimut pink lembutku dan bantal pink bertekstur bulu milikku.

Rangka tempat tidurku sederhana, tapi kepala ranjangku adalah sebuah pintu gudang tua yang aku paku di dinding untuk memberi suasana pedesaan di ruangan ini.

Aku menjatuhkan diri di kasur king size-ku, seprai lembut memeluk tubuh telanjangku, dan memandang keluar jendela ke pemandangan laut. Aku cinta rumah ini. Aku tidak pernah ingin pindah.

Selamanya. Pemandangan ini tidak ternilai. Laut berwarna biru safir di luar menenangkanku dan ketika mataku menjadi berat aku memikirkan mata hitam yang tajam dan senyuman maut dan mengantarkanku tidur.

:: ::

Aku keluar dan akan mengantarkan frame foto dari bunga dan pemandangan pantai ke restoran dan toko-toko di sekitar Pantai Alki.

"Hai, Mrs. Henderson!" aku tersenyum pada wanita berrambut abu-abu, gemuk di belakang meja di Gifts Galore, salah satu toko perhiasan mainan favoritku. Aku senang mendapati pekerjaanku tergantung di belakang mesin kasir. Ada rak-rak dan rak dari pernak pernik pantai, perhiasan dan karya seni lainnya. Tempat menyenangkan untuk berjalan-jalan di sekitar sini.

"Halo, Baekhyun! Aku tahu kau punya pengiriman untukku!" dia tersenyum dan datang memutari konter, mendorongku ke dalam sebuah pelukan besar.

"Ya. Kuharap kau dapat menggunakannya."

"Oh, ya, aku hanya hampir kehabisan dari yang kau bawa minggu lalu. Kau menjadi seniman muda yang cukup popular."

Mrs. Hendersen mulai melihat pekerjaanku, wanita itu berseru ooh, aah dengan nada yang takjub dan aku merasakan bangga dalam dadaku ketika dia berkata bahwa dia akan mengambil semua yang kubawa padanya hari ini.

Kami berbincang di konter sementara dia menuliskan cek untuk penjualan minggu lalu dan aku berbalik untuk pergi, tapi terhuyung pada dada tegap yang familiar.

"Oh, permisi…" aku melangkah ke belakang dan mendongak. Oh sial.

"Annyeong, Baekhyun-sshi." Chanyeol melihat ke bawah padaku, senyum menggelitik bibirnya. Dia terlihat sedikit terkejut, senang, dan…

Oh my…

"Annyeong, Chanyeol." Suaraku terdengar mendesah lagi dan aku mengerut secara mental.

Mrs. Henderson kembali ke tokonya untuk memeriksa pelanggan, meninggalkan Chanyeol dan aku sendiri. Aku menatap ke bawah ke sandal ku, mengingatkan aku membutuhkan pedicure.

Apa yang harus aku katakan?

"Jadi, kau seorang seniman." Chanyeol melirik pada bingkai fotoku yang masih menumpuk di meja.

"Ya," aku mengikuti lirikannya. "Aku menjual pekerjaan ku di toko lokal."

Dia menyeringai dan aku merasa ditarik lagi oleh instingku.

"Apa yang kau lakukan disini? Ini tidak terlihat seperti jenis toko yang akan di kunjungi laki-laki sepertimu."

"Aku mencari hadiah untuk saudara perempuanku untuk ulang tahunnya." Dia mulai berjalan melewati bingkaiku. "Ini akan sempurna. Dia baru saja membeli sebuah kondo baru. Mana yang akan kau sarankan?" Dia melirik kembali padaku dan aku tidak punya pilihan selain bergabung dengannya di meja dan bersandar dekat dengannya ketika kita melihat dua puluh lebih foto bersama.

"Dia lebih suka bunga atau pemandangan?" tanyaku.

"Er," dia menelan ludah. Apakah aku mempunyai sesuatu efek padanya? Aku bersandar sedikit lebih dekat dengannya, seolah-olah memeriksa foto di meja dan mendengar dia bernafas keras. "Mungkin bunga."

"Aku menyarankan ini." Aku tersenyum pada diriku sendiri, menikmati kedekatannya sekarang yang aku tidak merasa terancam olehnya, dan memilih empat foto bunga, semua berbeda jenis dan warna, dan menyusun mereka baginya untuk melihat.

"Sempurna." Senyumnya menyala di wajahnya dan aku tidak bisa membantu selain tersenyum kembali. "Kau sangat berbakat."

Pujiannya membawaku beberapa detik dan aku merasa pipiku merona.

"Terima kasih."

Chanyeol membayar Mrs. Henderson, dan kemudian mengikutiku ketika aku meninggalkan toko menuju mobilku.

"Kemana tujuanmu?" dia bertanya ketika dia menghampiriku.

"Itu tadi kiriman terakhirku, jadi aku akan menuju rumah."

"Atau," dia berkata dengan santai, "Aku harus membawamu keluar untuk kopi."

Perutku menegang dengan senang. Dia masih tertarik! Bukankah begitu? ataudia bisa menjadi kapak pembunuh. atau lebih buruk.

"Happy hour?" lanjutnya.

Aku tersenyum dan berpaling darinya, masih berjalan ke arah mobil ku.

"Makan malam? Bisakah aku membelikanmu sebuah es krim cone?" Dia melarikan tangan bebasnya melewati rambut berantakannya dan aku secara mental memeluk diriku.

Suatu tempat umum akan aman, jadi sebelum aku dapat menempatkan terlalu banyak pemikiran ke dalamnya, aku mendengar diriku berkata, "Ayo pergi minum. Ada sebuah bar satu blok lagi yang punya happy hour yang baik."

"Tunjukkan jalannya!" Sial, aku harus melakukan apapun untuk seringaian itu.

"Tidakkah kau ingin meletakkan foto adikmu ke dalam mobilmu?"

"Aku berjalan kesini." Dia mengangkat bahu.

"Sini, letakkan itu di mobilku." Aku membuka bagasi Lexus SUV ku dan menarik pintu untuknya.

"Mobil yang bagus." Katanya, terkejut. Alisnya naik ketika menatapku.

"Terima kasih," aku memutar tuas pintu agar menutup dan mengunci mobil kembali ketika kami melanjutkan turun ke trotoar.

Chanyeol menarik kaca mata hitam metalik dari leher kaus putihnya dan menggunakannya, melihat sekeliling memastikan tidak ada seorangpun melihatnya dan aku merengut. Apakah dia malu untuk terlihat bersamaku? Jika iya, mengapa dia mengajakku keluar?

Aku masih memikirkan semua ini ketika dia memegang pintu Irish Pub favoritku terbuka untukku dan kami berjalan ke dalam bar yang keren.

"Hai! Selamat datang di Celtic Swell."

Seorang pelayan muda tersenyum kepada kami berdua, memberikan perhatian special kepada Chanyeol, dan aku secara mental memutar mataku. "Hari yang indah di luar sana," dia melanjutkan, "Apakah kalian suka duduk di dalam ataudi luar?"

Aku mendongak pada Chanyeol dan tatapannya seperti menanyaiku apa yang lebih ku suka, dan dia lantas berkata "Di dalam."

"Tentu, ikuti aku, tampan."

Dia mengedipkan mata pada Chanyeol, sepenuhnya mengabaikanku, dan memimpin kami ke stan dekat dengan bagian belakang bar.

Kami duduk dan Nona Genit menunjukkan menu happy hour yang ditampilkan dengan bangga di meja, tersenyum lebar pada Chanyeol lagi, dan kemudian meninggalkan kami sendiri.

"Apakah kau malu keluar bersamaku?" aku memutuskan untuk mengatakan hal yang mengganjal di dadaku.

Chanyeol terkesiap, melepas kacamatanya mengungkapkan mata hitam lebarnya, dan terlihat terkejut. Simpul di perutku perlahan terlepas.

"Tidak! Tidak Baekhyun, tidak. Kenyataannya, aku senang menghabiskan waktu denganmu." Dia terlihat sangat tulus. "Mengapa kau bertanya?"

"Baiklah…" aku bersyukur menyesap air yang pelayan letakkan sebelumnya. "Kau hanya terlihat…"

"Apa?"

"Tiba-tiba diam." Itu adalah yang terbaik aku bisa ungkapkan. Sial, kenapa dia membuatku sangat gugup?

"Aku senang berada disini, denganmu. Aku hanya…" dia mengusap kepalanya, melarikan tangannya melewati rambut indah itu. "Aku laki-laki yang tertutup, Baekhyun." Dia menghembuskan nafas cepat dan menutup mata seperti dia sedang berjuang melawan beberapa perdebatan internal yang sulit sebelum membalikkan tatapan mata kelamnya kembali padaku.

"Tidak apa-apa," aku memegang tanganku di depan ku seolah olah menyerah. "Aku hanya memeriksa. Tidak perlu khawatir."

Aku tersenyum meyakinkan dan mengambil menu happy hour sebelum dia bisa berkata lagi. Perubahan suasana hatinya dan alasan di belakang itu bukan urusanku. Kami hanya pergi untuk minum.

Jaga ini tetap santai.

Dia tersenyum padaku dan aku diselamatkan dari memulai percakapan kecil oleh Pelayan Genit yang mengambil pesanan kami.

Chanyeol menaikkan alis nya ke arahku. "Apa yang kau inginkan?"

"Margarita on the rock, tanpa garam, ekstra limau." Alisku naik ketika pipi pelayan itu memerah dan satu-satunya pengakuan untuk pernyataan ku adalah dia mencoret dengan ganas di notepadnya.

Chanyeol itu seksi, aku tidak bisa menyalahkan pelayan itu untuk memperhatikan Chanyeol, namun sesuatu yang mendasar dalam diriku ingin menggaruk mata coklat cantiknya keluar.

Chanyeol bahkan bukan milikku. Ada apa denganku?

Chanyeol terkekeh. "Buatkan dua."

"Ada yang lain?" dia bertanya pada Chanyeol, dengan tajam mengabaikan ku, dan aku tersenyum kepada diriku sendiri ketika Chanyeol hampir tidak meliriknya sebelum menggumam, "Tidak, terimakasih."

"Aku pantas mendapatkan margarita setelah hari yang kumiliki." aku menyesap airku.

"Dan hari seperti apa itu?"

Chanyeol bersandar ke belakang dan aku menyukai bahwa dia benar-benar tampak tertarik.

"Well," aku duduk melihat ke langit-langit seperti aku berpikir keras. "Mari kita lihat. Aku tidak bisa tidur dengan cukup tadi malam, jadi aku memutuskan untuk berjalan pagi hari untuk mendapatkan beberapa foto yang bagus, yang mungkin bisa mengasilkan sesuatu. Dan saat itu, aku hampir dirampok." Aku menatap kembali kearahnya dan memberikan pandangan menyindir yang horror. Chanyeol tertawa, terbahak-bahak, dan perutku mengepal turun lagi. Ya Tuhan, dia sangat indah.

"Dan kemudian…?"

"Dan kemudian, setelah aku membuat penyelamatan diri yang sangat berani," aku tersenyum padanya dan dia menyeringai dari telinga ke telinga, dagunya menumpu di telapak tangannya. "Aku pulang ke rumah, sarapan bersama teman sekamarku, lalu mengambil tidur yang singkat."

"Aku akan senang melihat itu." Matanya menyempit dan aku merasa diriku merona.

"Senang melihat ku sarapan bersama temanku?"

"Bukan, sok pintar, senang untuk melihatmu tidur."

"Aku yakin tak semenarik itu." Aku berterima kasih pada pelayan untuk minumanku dan membawa ku lama menyesap. Oh, itu bagus.

"Dan kapan kau terbangun?"

"Kau benar-benar ingin tahu tentang keseharianku?"

"Ya, kumohon." Chanyeol menyesap minumannya dan aku melihat bibirnya mengerut di atas sedotan. Oh my.

"Um…" aku menjernihkan tenggorokanku dan Chanyeol menyeringai lagi, menikmati reaksiku padanya. "Aku mempunyai sesi foto di siang hari, selesai sekitar jam 2. Kemudian aku mengantarkan beberapa di sekitar perumahan dan berlari pada perampok tampan yang aku tahu sekarang sedang menikmati minum denganku."

"Aku suka bagian terakhir yang terbaik."

Oh.

"Dan apa yang kau lakukan hari ini?" tanyaku dan mengistirahatkan sikuku di meja, senang telah mengalihkan perhatian kembali padanya.

"Kebetulan, aku juga tidak bisa tidur nyenyak tadi malam, jadi aku bangun pagi untuk berjalan-jalan dan menikmati pantai," dia memberi jeda untuk menyesap minumannya.

"Mmm hmm…"

"Lalu aku membuat diriku terlihat bodoh di depan wanita cantik dan luar biasa seksi." Aku terkesiap dan menggigit bibirku.

Seksi dan cantik? Wow.

Mata Chanyeol menyipit ke bibirku.

"Apakah dia memaafkanmu karena menjadi bodoh?" suaraku terdengar berat.

"Aku tidak yakin. Ku harap begitu."

"Lalu apa yang kau lakukan?"

"Aku berjalan ke rumah untuk membaca."

"Membaca apa?" Mmm, margarita ini sangat enak.

Chanyeol sedikit mengernyit kemudian mengangkat bahu. "Hanya membaca beberapa pekerjaan."

"Oh? Apa pekerjaanmu?" aku bergerak pada Nona Penggoda untuk mengisi ulang, menaikkan alisku pada Chanyeol dan memberi sinyal untuk isi ulangnya juga pada anggukannya.

"Mengapa kau ingin tahu?" dia membisikkan ini dan tiba-tiba terlihat pucat.

Apa-apaan? Apakah dia benar-benar pembunuh berantai? Mata-mata? Apakah dia seorang pengangguran yang mencari sugar Mama? (wanita kaya yang membayar laki-laki untuk keluar bersamanya) Aku mengabaikan pemikiran terakhir, dia tidak akan mungkin bisa hidup di perumahan ini jika dia pengangguran.

"Yah, sekarang aku tertarik." Aku bersandar ke belakang. Dia terlihat sangat tidak nyaman. Aku memutuskan untuk mengeluarkannya dari kesedihan. "Tapi itu benar-benar bukan urusanku. Jadi, kau membaca, dan kemudian?"

Chanyeol tampak rileks, dan aku tak tahutapi lebih dari kecewa bahwa dia tidak mau memberitahuku apa yang dia lakukan untuk bertahan hidup.

"Aku juga tidur siang."

Aku menyeringai dan melihatnya ke atas dan kebawah. "Aku akan masukan ke dalam daftar berhargaku. Bahwa tidur itu sangat berharga. Sesuatu yang jarang aku dapatkan akhir-akhir ini. Dan ternyata ada algi yang sama sepertiku."

Oh, aku hampir lupa bagaimana menyenangkannya ini untuk bercanda!

Dia tertawa dan itu menggelitik ku, membuat ku tertawa juga.

"Lalu aku berbelanja untuk hadiah ulang tahun saudaraku, dan menemukan benda yang sempurna."

"Oh? Dan apa itu?" aku memiringkan kepalaku ke samping menikmati senda gurau pagi ini, lalu menyesap minuman lezatku.

"Yah, ada seniman brilian lokal yang mengambil foto-foto yang indah, dan aku cukup beruntung untuk menemukan beberapa pekerjaannya."

Dia hampir terlihat bangga dan itu memberikan aku kehangatan, rasa bahagia tiba-tiba saja berpendar di dadaku.

"Itu luar biasa." Aku tak tahu harus mengatakan apa.

"Jadi, kau memiliki sesi foto hari ini?"

Whoa… pergantian topik.

"Ya." Aku pikir aku membutuhkan margarita lagi jika percakapan ini akan putus di diriku. Aku memberi sinyal pada Nona Penggoda dan tanpa bertanya memesankan satu untuknya juga.

Dia menaikkan alisnya. "Aku tidak berpikir kau melakukan potret fotografi."

"Mengapa kau berpikir seperti itu?" aku bertanya sambil mengerutkan dahi.

"Karena kau berkata begitu tadi pagi selama pertemuan tidak biasa kita."

"Oh, itu benar. Aku tidak melakukan potret fotografi yang biasa." Aku menjernihkan tenggorokanku dan melihat sekitar bar, dimanapun tapi padanya, berdoa dia tidak menanyakan pertanyaan selanjutnya, dan meringis ketika dia bertanya lagi.

"Jenis potret fotografi biasa seperti apa yang kau lakukan?" dia terlihat bingung.

Aku mengambil nafas dalam. Sial.

"Yah, bervariasi. Tergantung klien." Aku gugup lagi. Aku tidak memberitahu banyak orang tentang sisi bisnis fotografi ku yang ini. Aku menemukan kebanyakan orang terlalu menghakimi, dan sejujurnya itu bukan urusan satu orangpun kecuali urusanku dan klienku.

"Lihat aku." Suaranya rendah dan serius, dan dia tidak bermain-main lagi.

Brengsek.

Aku melihat matanya, dan menelan ludah.

"Kau dapat mengatakan padaku, Baekhyun."

Oh, dia sangat… Seksi. Dan baik. Apakah itu mungkin?

"Mungkin suatu hari aku akan memberitahumu. Ketika kau memberitahu ku apa pekerjaanmu." Aku tersenyum sinis dan menendangnya di bawah meja dan mood nya otomatis terangkat.

"Jadi akan ada 'suatu hari'?"

Oh , aku harap begitu! "Jika kau memberitahu, aku juga akan memberi tahumu apa yang kau ingin tahu."

"Kau sangat tahu untuk bertaruh, bukan begitu?"

"Kau tidak tahu, Chanyeol."

"Aku suka belajar, Baekhyun." Dan wajahnya kembali serius, membuatku menggeliat.

"Kau perayu yang baik."

Chanyeol menyeringai, lebar, seringaiannya yang indah. Aku tersenyum sinis lagi, dan menghabiskan minuman ketigaku.

Kepalaku mulai pusing dan aku tahu sebaiknya aku berhenti minum alcohol.

"Minuman lagi," Chanyeol memanggil Nona Penggoda, tapi aku menggelengkan kepalaku.

"Aku lebih baik minum air saja."

"Tentu. Lebih banyak air untuk teman wanitaku dan aku, please." Pelayan yang terlalu ramah itu berlalu pergi, sengaja menggoyangkan pinggulnya, dia berharap mendapat perhatian dari Chanyeol, tapi dia menatapku, mengabaikannya.

"Jenis film apa yang kau suka?"

Huh? Apa dia mengajak ku menonton film?

"Aku tidak terlalu banyak menonton film."

Dia memiringkan kepala indah itu ke samping dan melihatku seperti aku baru saja mengatakan padanya bahwa ada babi terbang di luar pub (sesuatu yang tidak mungkin). "Benarkah?"

"Aku tidak punya banyak waktu untuk itu."

"Siapa aktor favoritmu?" dia tersenyum, dan aku merasa ini seperti semacam tes, tapi aku tidak diberi buku catatan.

"Aku bahkan tidak tahu siapa yang sedang popular saat ini." Aku duduk di kursi konter dan mengerucutkan bibirku, memikirkan tentang itu.

"Ketika aku remaja aku suka Robert Redford." Aku mengangkat bahu.

Chanyeol terlihat seperti dia baru saja ditendang di perut dan aku tiba-tiba merasa malu. Lalu wajah yang indah itu berubah ke dalam senyumnya dan matanya yang melembut ketika mereka membawaku tenggelam.

"Kenapa? Tidakkah dia terlalu tua untukmu?"

Aku terkekeh. "Ya, tapi aku melihat The Way We Were dengannya dan Barbara Streisand ketika aku umur lima belas dan jatuh cinta pada Hubbell. Dia seperti mimpi. Aku tidak terlalu memperhatikan film nya. Terlalu banyak omong kosong di sana."

Chanyeol tertawa. "Omong kosong?"

"Ya! Jika aku melihat sebuah trailer untuk satu lagi film vampire bodoh, aku akan membunuh diriku sendiri."

Dia mengerutkan dahi lagi, melihat sekitar bar dan kembali padaku, matanya menyempit dan khawatir.

"Apa? Apa yang telah ku katakan?"

"Bukan apa-apa. Kau hanya sangat tidak terduga. Berapa umurmu? Dua puluh tiga?"

Kenapa dia ingin tahu umurku? "Dua puluh lima. Kau?"

"Dua puluh delapan."

"Jadi, kau Oppa-seorang laki-laki lebih tua beberapa tahun-?." Aku terkekeh.

"Kau punya tawa yang luar biasa. Panggil Chanyeol saja." Matanya berbinar senang dan aku memeluk diriku lagi, melupakan gugup dan aku menyadari aku sangat nyaman bersamanya. Dia hanya sangat gampang diajak bicara.

Aku melihat jamku dan terkejut. Kami telah duduk disini selama tiga jam!

"Aku harus pergi." Aku tersenyum padanya.

"Kita telah berada disini sangat lama."

"Waktu berlalu sangat cepat ketika kau bersama seseorang yang cantik." Dia bersandar dan menggenggam tanganku dan aku terperangkap dalam mantranya sekarang. Mataku tertuju pada bibirnya dan dia menjilatnya, membuatku menggeliat. Sebelum aku mengetahui itu, dia menarik kembali tangannya dan aku merasa frustasi dan kehilangan kehangatan dari sentuhannya.

"Begitu juga denganmu." Aku tersenyum lancang dan mengambil bon nya.

"Oh tidak. Itu milikku." Chanyeol mengambil bon dari jari-jariku dan mengeluarkan dompetnya.

"Aku senang membayar minumanku sendiri."

Dia melotot padaku, dan aku tertegun bahwa dia tampak benar-benar marah. Whoa.

"Tidak."

"Oke. Terima kasih."

Senyumnya kembali ketika dia berkata, "Sama-sama."

Chanyeol membayar tagihannya dan kami kembali menuju trotoar. Dia terburu-buru memakai kacamatanya kembali, dan tampak sangat peduli pada siapa saja yang berada di sekitar kami. Jantungku terbalik ketika dia mengambil tanganku dan kami mulai berjalan menuju mobilku.

Matahari mulai terbenam dan aku melihat ke atas hamparan Selat yang cantik, air biru, perahu dan gunung dan lama untuk kameraku. Aku menengadah pada Chanyeol dan rahangnya tegang, dia melihat ke bawah dan kami berjalan dengan cepat.

"Hey, pelan-pelan." Aku menarik tangannya sedikit dan sengaja melambatkan langkahku. "Apa kau terburu-buru menyingkirkanku?"

"Tidak, tidak seperti itu." Dia melihat ke sekitar kami lagi, lalu menyeringai ke bawah kepadaku, memperlambat kecepatannya.

"Ini akan menjadi sunset yang luar biasa. Ingin berjalan di sepanjang air? Aku janji, tidak ada kamera." Aku mengangkat tanganku untuk menunjukkan padanya bahwa itu kosong.

Chanyeol menyeringai, dan kemudian melihat sekitar sekali lagi, dan aku mengikuti pandangannya. Ada banyak orang dan menikmati hari yang indah di Pantai Alki. Chanyeol menggelengkan kepalanya dan terlihat sedih untuk beberapa waktu.

Kami berhenti di mobilku dan ku pikir dia melihatku tapi itu sulit untuk mengatakannya melalui kacamata gelapnya.

"Aku tidak menyukai keramaian, Baekhyun. Itu seperti phobia." Dia menggelengkan kepalanya lagi, melarikan tangannya melalui rambut seksi itu dan melepaskan tanganku, meletakkan tangannya di atas pinggulnya.

"Tidak masalah." Aku menyesal untuknya dan ingin menghiburnya.

Aku tidak pernah ingin menghibur satupun pria sebelumnya. Aku tidak pernah mempunyai perasaan halus terhadap pria. Mereka hanya selalu menjadi pengalihan yang menyenangkan, atau mimpi terburukku. Membingungkan, aku menemukan diriku menggapai dan menangkup wajahnya di telapak tanganku untuk menenangkannya.

"Hey," aku berkata lembut. "Jangan mencemaskan itu, Chanyeol."

Dia bersandar di sentuhanku dan membuang nafas, menempatkan tangannya di atasku, lalu mengaitkannya dan mencium buku-buku jariku.

Oh my.

"Ayo," aku sengaja menginterupsi momen menyenangkan ini, butuh sedikit tempat, "Aku akan mengantarkan kau ke rumah."

Rahang Chanyeol terbuka.

"Aku tidak akan membuatmu berjalan kaki membawa foto-foto jenius brilian itu, melalui keramaian. Masuklah."

Dia berkedip seksi, tersenyum dan melompat masuk ke kursi penumpang.

Oh Baekhyun, apa yang kau perbuat? Berlari ke pelukan lelaki asing yang bahkan baru dua puluh empat jam lalu kukenal. Semoga aku tidak menyesali apa yang telah dan aku lakukan.

:: ::

:: ::

note;

Aku baru tahu kalo Series With Me in Seattle juga banyak yang remake ya? wahhh aku cuma pernah baca Rock With Me Versi Chanbaek, makanya aku pilih opsi cerita lain buat di bikin remakeable...

Jadi, ini di lanjut, jangan?