Aku mengarahkan teropongku keatas, menatap setiap bintang yang menggantung dengan indahnya dilangit malam yang gelap.

satu,dua,... banyak. Mungkin sebanyak itu juga malam-malam yang telah ku habiskan di atap sekolah, duduk pada semen usang yang sudah berlumut, bahkan sudah ada beberapa rumput yang tumbuh disana.

Hari ini aku kembali menunggu disini, atau mungkin tidak. Sekarang hal ini sudah menjadi salah satu rutinitasku. Pergi ke atap sekolah dengan teropong andalan yang menggantung di leherku, dan sebuah komik kesukaanku yang ku bawa jika tiba-tiba saja aku merasa bosan. Walaupun dia memang tidak pernah datang, aku akan selalu ada disini. Menikmati udara malam yang menusuk namun menyejukkan. Singkatnya, aku menyukai suasana malam hari.

Sekolah tidak mempunyai penjaga pada malam hari membuatku leluasa untuk mengunjungi tempat ini. Gerbang yang terkunci tidak membatasi ku karena aku cukup lihai untuk memanjat tembok pembatas yang tidak terlalu tinggi di belakang sekolah. Rumah ku tidak jauh dari sini, itu juga menambah keuntunganku.

Aku tidak peduli saat siswa lainnya ketakutan akan gosip-gosip hantu yang ada disekolah ini, mungkin jika benar ada, mereka sudah hafal dengan ku dan mungkin menganggap bahwa aku adalah salah satu dari mereka.

Masih dengan kepala yang mendongak keatas, aku menyandarkan punggungku pada salah satu tiang pendek yang tersedia. Aku melepas teropongku agar dapat memangdang langit dengan leluasa membiarkan imajinasi ku berkembang sekarang. Aku tidak mengetahui apapun tentang rasi bintang. Hanya sagitarius, leo, taurus, gemini, dan sebagainya, sama seperti orang awam. Aku tidak pernah memikirkan apa artinya tapi jika aku meneliti setiap titik yang bersinar dan menyambungkannya, aku dapat membuat sebuah gambar baru yang cukup menarik. Aku senang melihatnya, dan aku tidak membutuhkan arti apapun untuk itu.

Sebelumnya aku tidak begitu memperhatikan benda-benda bersinar ini, namun semuanya berubah setelah ia dengan caranya yang santai, berkata disaat upacara. tepat disamping pembina, ia memegang sebuah piala besar mewakili teman satu tim nya selaku pemimpin mereka.

"Aku selalu ingin menjadi bintang disetiap apapun yang ku kerjakan, agar aku dapat memberikan sinar kepada orang-orang yang ada disekitarku"

Aku bahkan begitu hafal atas apa yang ia katakan 1 tahun yang lalu itu. Ia akan selalu menjadi bintang. Ya, ia adalah bintangnya, ia selalu jadi yang terhebat. Oleh karena itu aku menyukai mereka mulai sekarang.

Merapatkan jaketku, aku melihat pergelangan tangan ku dengan arlogi yang melingkar disana. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Sudah cukup malam, dan aku memutuskan untuk turun dan pulang ke rumahku.

Ia tidak datang lagi hari ini.

-like a dumb-

Wonwoo baru saja sampai saat lapangan sekolahnya sudah dipenuhi dengan kerumunan murid yang berteriak heboh. Wonwoo dapat mendengar salah satu dari teriakan bersahutan itu "kim mingyu memenangkan olimpiade matematika"

Oh ayolah, apakah mimpi wonwoo terlalu tinggi untuk mendapatkan, atau mungkin tidak perlu mendapatkan, ia hanya ingin menjadi bagian dari hidup sang bintang. Wonwoo sadar ia terlalu jauh untuk itu. Mereka berada dalam satu galaxy yang sama, hanya saja mungkin wonwoo hanyalah sebuah asteroid yang bahkan tidak ada apa-apanya dibanding bintang. Wonwoo benar-benar jauh, sangat jauh.

Melanjutkan langkahnya, wonwoo menyusuri koridor dengan langkah malasnya. Ia tarik lengan jaketnya sehingga jari-jarinya benar-benar tenggelam pada jaket yang ia pakai. Kacamatanya yang sedikit turun, ia naikkan kembali lalu sedikit meniup pony nya yang menghalangi pandangannya.

Sebuah tangan menghentikannya dan cukup membuatnya terkejut dipagi hari. Nyawanya bahkan belum terkumpul sepenuhnya sampai ia benar-benar dibuat tak bergerak oleh sebuah permintaan

"Wonwoo, tolong bawa aku pergi dari mereka"

Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Kim mingyu, bintangnya kini ada dihadapannya, memintanya untuk membawa dirinya pergi dari sana.

"Hei cepatlah, kau wonwoo kan? Jeon wonwoo? aku mohon, tolong aku" pinta mingyu dengan wajah memohon yang sangat ia tampakkan.

Memberanikan dirinya dengan kesadaran yang minim, wonwoo menarik tangan namja itu dan membawanya lari menuju sebuah tempat seperti yang seseorang itu inginkan.

"Kenapa kita ke atap?" Tanya mingyu.

"Kau ingin selamat dari mereka kan? Disini tempatnya" sahut wonwoo seadanya. Ia mencoba untuk terlihat setenang mungkin walaupun kenyataannya tidak bisa dikatakan seperti itu.

Mingyu mengangguk, pandangannya ia edarkan keseluruh penjuru. Tempat ini cukup nyaman dan sejuk. mingyu melangkahkan kakinya mendekati pagar pembatas diikuti dengan wonwoo dibelakangnya. Bukan apa-apa, tapi tangan mereka masih bertautan, mau atau tidak, wonwoo terpaksa mengikutinya.

"Orang-orang itu terlihat sangat kecil dari sini hahaha" tawa renyah mingyu menguar begitu saja membuat wonwoo semakin merasakan sebagian tubuhnya menjadi es.

"Kau sering kesini?" Mingyu menolehkan wajahnya kearah wonwoo.

"Hei wonwoo-ya" panggil mingyu yang berhasil membuat wonwoo terlonjak kecil.

"Hm?"

"Astaga kau tidak mendengarku?" Tanya mingyu yang hanya dijawab dengan senyuman oleh wonwoo.

"Bodoh, perhatikan jika kau sedang bersama seseorang. Jangan terlalu larut dalam dunia mu. Aku tadi bilang, apa kau sering kesini?" Tanya mingyu lagi.

Wonwoo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan, ya. Ia memang bodoh. ia sangat bodoh karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Dan ini sungguh memalukan. Orang yang kau sukai memanggil mu bodoh. Wonwoo rasanya ingin mati saja.

"K-kenapa kau ingin aku membawamu pergi?" Tanya wonwoo hati-hati. Ia sangat gugup hanya untuk bertanya seperti ini.

"Aku lelah. Mereka terus mengejarku dan tidak membiarkan ku pergi" jawab mingyu.

"Kenapa harus aku?" Tanya wonwoo menunjuk dirinya sendiri.

"Kurasa hanya kau yang berbeda dengan mereka" ucap mingyu santai.

"Maksud mu?" Tanya wonwoo lagi.

"Hanya kau yang mengabaikan seorang pemenang olimpiade matematika dan memilih berjalan dengan malas di koridor daripada menyalamiku di lapangan" jelasnya. Wonwoo terhenyak.

"Kurasa kau memang tidak terlalu peduli padaku" lanjut mingyu.

Wonwoo memang menyukai mingyu, tapi wonwoo tetaplah wonwoo. Ia tidak suka keramaian. Apalagi untuk berdesakan dengan orang banyak, wonwoo lebih baik menunggu paling belakang atau tidak sama sekali.

"Benarkan?" Tanya mingyu.

"K-kau... kau punya banyak orang yang mempedulikan mu" jawab wonwoo terbata. Ia tidak tau harus bicara apa

"Tapi kau tidak mempedulikanku"

"Hanya aku. Jangan bicara seolah tidak ada yang peduli dengan mu mingyu-ssi" jawab wonwoo.

Mingyu tersenyum. Bukan senyuman hangat seperti biasanya, hanya sebuah senyum kecut. Mingyu melepaskan tangannya dari wonwoo kemudian memilih duduk disana.

Wonwoo terdiam. Apa kata-katanya tadi salah? Ia merasa kebodohannya semakin bertambah. Tak seharusnya ia berkata seperti itu.

"M-maaf" ucap wonwoo. Mingyu menoleh.

"A-aku... maksudku..." ucapan wonwoo terhenti saat tangan mingyu menariknya dan menyuruhnya untuk duduk tepat disampingnya.

"Kau benar. Banyak orang yang mempedulikanku. Hanya saja... mungkin aku yang kurang peduli pada mereka"

Tbc

.

.

Review?