BEHIND THE CABINET
Author: Hermione Mania
Harry Potter by J.K Rowling, The Lord of The Rings (Novel) by J.R.R Tolkien, & The Lord of The Rings (Film) by Peter Jackson.
Warning: Based on LoTR Movie, author amatiran, mungkin ada typo yg kelewat, n tata bahasa yang gak baku. So, Don't Like? Don't Read!
.
Bab I.
Pertemuan Tak Terduga
.
Hermione merasa melayang di lautan warna yang tidak bisa dinamainya. Kepingan-kepingan memori berputar di sekitarnya seperti film. Hermione menonton kepingan-kepingan itu dengan penasaran, matanya fokus meskipun sensasi melayang aneh masih melandanya.
Salah satu kepingan memperlihatkan dirinya yang berusia tiga tahun, berlari sambil berjingkrak, melompat ke pelukan ayahnya. Di kepingan lain, dirinya berusia tujuh tahun sedang mendorong sepedanya di jalan komplek rumahnya, menatap penuh kerinduan ke arah sekumpulan anak-anak kecil yang bermain lompat tali, namun tidak punya keberanian untuk mendekat ke sana. Kepingan lain memperlihatkan dirinya berusia dua belas tahun yang sedang memandang takjub pertokoan Diagon Alley, ekspresi serupa yang ditunjukkan oleh orangtuanya. Profesor McGonagall menonton antusiasmenya dengan senyum lembut. Kepingan lain memutar memori dirinya berusia tiga belas tahun yang berlari dan menubruk Harry dengan pelukan erat, lalu dia dan Ron bersalaman. Ron mengucapkan selamat datang kembali padanya yang baru saja dipulihkan oleh Mandrake.
Semakin lama film-film itu semakin cepat dan Hermione tidak bisa lagi mengikuti pergerakan memori itu. Sekelilingnya mendadak kabur dan berputar seperti gasing, semakin lama semakin cepat. Hermione memegang kepalanya yang pusing, mengerang pelan, matanya terpejam. Masih merasa pusing, ia membuka matanya lagi dan langsung diterpa cahaya menyilaukan. Mengedipkan-ngedipkan kelopak mata, ia berusaha melawan sinar menyilaukan itu. Erangan kecil keluar dari mulutnya saat tangannya yang memegang kepala ternyata menyentuh bagian yang terasa sakit. Dan Hermione baru sadar kalau dari tadi yang ditekannya adalah luka.
"Kau sudah sadar rupanya," sebuah suara asing menyeruak pendengarannya.
Hermione sontak menoleh ke sumber suara dan langsung merintih karena rasa nyeri di lehernya.
"Jangan terlalu banyak bergerak, lukamu masih belum sembuh," ujar suara itu lagi.
Pelan-pelan Hermione menggerakkan kepala, berusaha mencari si pemilik suara. Dan matanya terbelalak melihat seseorang yang duduk di sampingnya.
"Profesor Dumbledore!" pekiknya tak percaya.
Pria tua itu sesaat bingung, lalu tersenyum, "Aku tidak tahu kalau ada nama julukan lain untukku. Tapi yang jelas kau orang pertama yang memanggilku Dumbeldon."
Hermione terpaku menatap pria ini, mengerjapkan mata untuk lebih memperjelas penglihatannya. Ketika matanya sudah fokus, dia menyadari pria ini jelas bukan Albus Dumbledore. Tapi dia benar-benar mirip dengan mantan Kepala Sekolahnya. Rambutnya abu-abu terang dan panjang, begitu pula dengan jenggotnya. Matanya biru, meskipun tidak seterang mata Dumbledore, tapi memiliki kerlip yang sama seperti Dumbledore. Satu-satunya yang paling meyakinkan Hermione bahwa dia bukan Dumbledore adalah busananya. Pria ini mengenakan pakaian bermodel aneh abu-abu dan agak dekil, sama sekali berbeda dengan busana Dumbledore yang biasanya nyentrik dan berwarna-warni. Namun sesuatu yang ada pada pria ini membuatnya resah. Tatapannya seolah menembus jiwanya. Pria ini duduk di atas batu cadas besar, mengamatinya.
Hermione mengangkat tubuhnya untuk duduk dan tanpa melepaskan pandangan dari si pria asing, dia bertanya, "Kau siapa?"
Pria itu tersenyum, "Orang-orang biasanya memanggilku Gandalf. Gandalf si Abu-abu. Kau sendiri?"
Nama yang aneh. Kening Hermione berkerut, "Hermione Granger."
Pria bernama Gandalf itu tidak mengatakan apapun lagi, hanya mengamatinya.
Hermione melihat ke sekitarnya. Mereka sepertinya berada di puncak sebuah bukit cadas. Di beberapa bagian, bukit ini ditutupi oleh semak dan pepohonan. Hermione bingung. Setahunya, dia berada di Kamar Kebutuhan yang terbakar, lalu ia masuk ke dalam lemari dan lemari itu meledak. Dan kenapa dia ada di sini sekarang? Dia pasti sudah mati sekarang karena tidak ada lagi jalan keluar dari Kamar Kebutuhan. Dia kembali menatap Gandalf yang masih mengamati tingkahnya. Agak ragu sejenak, namun dia tetap penasaran.
"Dimana kita sekarang?" tanyanya penasaran.
Gandalf melihat ke sekelilingnya, lalu menjawab, "Kita berada di salah satu bukit di Gwaihir. Beberapa mil dari hutan Mirkwood."
Hermione semakin bingung, "Dimana itu Gwaihir? Mirkwood? Aku tidak pernah dengar."
Pria bernama Gandalf itu memandangnya bingung, "Gwaihir masih daerah bagian Rhovanion, seti-"
"Dimana itu Rhovanion?" Potong Hermione, tambah bingung dengan semua yang dikatakan Gandalf.
Sekarang pria itu menatapnya sedikit khawatir, "Tentu saja di Middle Earth, Bumi Tengah."
Akhirnya Hermione benar-benar yakin bahwa dia sudah mati dan sekarang berada di dunia lain, sedikit tidak percaya tapi penjelasan apa lagi yang lebih masuk akal? Middle Earth, nama yang cukup cocok untuk 'dunia setelah kematian'. Dia mengamati Gandalf lagi, mungkin pria ini kebetulan mati di saat yang bersamaan dengannya, atau bisa jadi dia malaikat yang ditugaskan untuk menjemput roh orang-orang mati untuk dibawa ke tempat pengadilan. Mungkin Gwaihir itu tempat khusus untuk roh orang-orang yang meninggal untuk menunggu dibawa ke tempat selanjutnya.
"Jadi kita di alam barzah? Apa kau juga baru meninggal sama sepertiku? Atau kau malaikat yang menjemput orang-orang mati?"
Saat ini bukan hanya kekhawatiran yang muncul di wajah pria tua itu, tapi juga syok. Gandalf memandang Hermione seolah-olah dia sudah gila atau punya kepala tiga. Hermione jadi grogi sendiri ditatap seperti itu. Kenapa pria ini menatapnya begitu? Seolah-olah dia alien.
Hermione berdehem, "Kenapa kau melihatku begitu? Ada yang salah?"
Gandalf terbatuk, mungkin tersedak ludahnya sendiri, "Ada yang salah? Tentu saja, gadis kecil. Apa yang membuatmu berpikir bahwa ini alam barzah?"
"Emm... karena aku sudah mati?" Hermione berkata ragu-ragu, merasa konyol dengan ucapannya sendiri.
Gandalf tersenyum geli, kerlip di matanya benar-benar mengingatkannya pada Dumbledore, "Dan kenapa kau mengira bahwa kau sudah mati?"
Hermione menjawab pelan, memutar logikanya, "Karena badanku sudah hancur dan cair oleh api. Sebelumnya aku berada di ruangan terbakar, lalu aku sekarang di sini. Dan aku belum pernah mendengar ada tempat bernama Gwaihir, Rhovanion, atau apalah. Dan tadi kau menyebut Middle Earth, kita pasti sedang berada di dunia tengah di mana roh orang-orang mati pergi. Iya tidak?"
Ia terkejut saat Gandalf tertawa, "Lord Elrond pasti kaget kalau kuceritakan ada yang mengartikan Middle Earth sebagai alam barzah. Tentu saja bukan, Hermione Granger," Gandalf mengucapkan namanya agak aneh, mungkin asing dengan ejaannya, "Middle Earth bukan tempat orang-orang mati, semua yang ada di sini hidup. Dan kau pun belum meninggal, meskipun dua hari yang lalu aku mengira kau sudah tidak bernyawa. Tapi sekarang kau sadar, berangsur sehat, dan...hidup."
"Hah?" hanya itu respon yang bisa diberikan Hermione, membuat ekspresi Gandalf semakin terlihat geli.
"Dan kalau kau mau bukti, cek saja tubuhmu. Kau masih bernapas, luka-lukamu masih ada, meskipun sudah tidak berdarah lagi. Dan setahuku, roh orang mati tidak ada yang nyeri leher," Gandalf terkekeh lagi setelah mengatakan itu.
Gandalf semakin geli melihat Hermione yang melongo.
oooooooooooo
Selama satu jam Hermione mendapatkan penjelasan dari Gandalf mengenai tanah asing tempatnya sekarang. Dia akhirnya mengerti bahwa dirinya belum meninggal. Hermione menduga Middle Earth merupakan semacam dunia lain yang berjalan paralel dengan dunianya. Tujuh tahun berada di dunia sihir tidak membuat Hermione heran kalau ada dunia lain seperti Middle Earth ini. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya dia bisa masuk ke tempat ini?
Menurut cerita Gandalf, dia menemukan Hermione tergeletak di tepi sungai dikelilingi serpihan-serpihan kayu hitam. Saat itu Gandalf baru saja tiba di hutan di daerah Gwaihir menaiki burung elang besar. Gandalf menuju ke sungai untuk membersihkan luka-lukanya ketika akhirnya melihat Hermione tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah. Pria itu tidak mau membahas lebih lanjut ketika Hermione bertanya kenapa dia dapat luka-luka itu. Setelah memastikan Hermione masih hidup, Gandalf langsung membawanya ke atas bukit dengan bantuan si elang karena tempat ini dianggap lebih aman. Pria itu yang menyembuhkan dan merawatnya selama dua hari.
Ketika Gandalf mengakui bahwa dia adalah penyihir, akhirnya Hermione pun menceritakan dirinya. Dia mengakui bahwa dia juga penyihir, membuat mata pria itu melebar sedikit. Hermione bercerita bahwa dia terjebak di tengah kebakaran hebat dan berlindung di dalam lemari hitam. Tapi lemari itu meledak dan setelah itu dia pingsan. Hermione juga menceritakan kecurigaannya bahwa lemari itu adalah penyebab dia ada di Middle Earth. Entah bagaimana lemari itu membuka portal sihir dan membawanya ke sini. Gandalf tampak menerima ceritanya, meskipun dia masih sedikit bingung.
Hal pertama yang dilakukan Hermione adalah mengecek luka-lukanya. Sebagian besar sudah kering dan berangsur sembuh, terima kasih pada Gandalf. Namun, dia meringis melihat banyaknya luka yang membekas. Untungnya bekas lukanya hanya terlihat samar, tapi jika dari dekat maka semuanya akan terlihat jelas. Pakaiannya pun menggenaskan. Blus dan jeans yang dipakainya robek di sana-sini. Kondisinya pun kotor, warnanya gelap oleh darah. Hermione mengutarakan niatnya untuk mandi pada Gandalf, tapi pria tua itu menolak karena luka-luka Hermione masih belum sembuh benar. Kakinya pun belum bisa dibawa berjalan. Jadi mau tak mau Hermione harus menunggu beberapa hari lagi untuk mandi.
Hari sudah beranjak malam dan keadaan di sekitar bukit sudah gelap. Gandalf mengumpulkan beberapa kayu dan menumpuknya jadi satu. Mengeluarkan tongkat panjangnya, pria itu mengarahkan ujung tongkat ke kayu dan api pun menerangi puncak bukit mereka. Melihat Gandalf menghidupkan api dengan sihir membuatnya mendesah iri. Hermione tidak tahu apakah dia masih bisa menggunakan sihirnya atau tidak. Dia sedikit tahu tentang sihir tak bertongkat, tapi belum pernah mempraktekkannya. Dia sedikit menyesal karena terlalu bergantung pada tongkatnya dan tidak terlalu mendalami wandless magic.
Mereka menetap di atas bukit selama beberapa hari. Gandalf menceritakannya banyak kisah penting yang terjadi di dunia tengah ini. Cerita yang membuat Hermione tertarik adalah tentang makhluk-makhluk yang ada di Middle Earth. Dia mendengarkan dengan takjub saat Gandalf bercerita tentang hobbit, peri, kurcaci, Orc, dan Istari. Hermione merasa mulai mempercayai pria ini. Dia terharu ketika Gandalf menawarkan diri menjadi walinya di dunia tengah ini dan menawarkan Hermione untuk melakukan perjalanan bersamanya. Kalau ada yang bertanya tentang Hermione, maka Gandalf akan mengakuinya sebagai putrinya.
"Apakah memang hal wajar kalau Istari sepertimu punya anak?" tanya Hermione penasaran.
Gandalf terkekeh, "Memang jarang terdengar ada Istari yang memiliki keturunan. Tapi dulu sekali, ada jenis kami yang menikah dan punya keturunan. Namanya Melian."
Alis Hermione terangkat, "Bukannya Melian itu seorang Maia yang menikah dengan peri?"
Gandalf mengangguk sambil bergumam, "Ingatanmu ternyata bagus, gadis kecil."
"Aku tidak kecil," protes Hermione sewot, yang hanya dibalas kekehan dari pria tua ini.
"Sebenarnya kau ini Istari atau Maia?" tanya Hermione blak-blakan, membuat Gandalf tersenyum geli.
"Aku ini Istari dan Maia," melihat kening Hermione yang berkerut, pria itu cepat-cepat meneruskan, "Begini, Maia adalah salah satu jenis makhluk di sini, sama seperti hobbit, peri, dan kurcaci. Kami semua adalah penyihir yang diciptakan langsung oleh Valar. Dari sekian banyak Maia, ada lima orang yang terpilih menjadi Istari. Mereka semacam pemimpin di kalangan kami, bisa dibilang Istari adalah yang terkuat di antara yang lain. Singkatnya, semua Istari itu adalah Maia, tapi tidak semua Maia adalah Istari. Istari juga punya pemimpin. Sekarang pemimpin Istari adalah Saruman si Putih."
Hermione memperhatikan raut wajah Gandalf yang muram saat menyebut nama Saruman. Dia penasaran kenapa, tapi Hermione menahan dirinya. Cepat atau lambat Gandalf pasti akan menceritakan tentang penyihir bernama Saruman itu padanya.
Tiga hari sejak Hermione sadar, Gandalf selalu memeriksa luka-lukanya dan melanjutkan proses penyembuhan dengan sihirnya. Hermione berusaha tidak terlalu sedih karena kehilangan tongkat sihirnya, tapi tetap saja dia merasa sedih. Tongkat sihirnya sudah seperti tangannya sendiri, tidak pernah absen kemana pun dia pergi. Tapi bagaimanapun juga dia harus bersyukur nyawanya selamat.
Setidaknya kali ini aku bisa pastikan jasadku utuh kalau aku mati, batinnya sambil mendengus.
ooooooooooooo
Di hari keempat dia sudah bisa berjalan tanpa dipapah, Gandalf membawanya turun bukit dan menuju sungai. Hermione girang bukan main. Butuh kesabaran ekstra untuk tetap bertahan tanpa mandi selama hampir seminggu. Sesampainya di sungai, dia sudah tidak sabar untuk menceburkan diri ke air yang segar. Tubuhnya hanya dibalut selembar kain abu-abu (mana mungkin dia telanjang di sungai terbuka seperti ini). Pakaiannya (pemberian Gandalf) diletakkan di atas batu besar di pinggir sungai. Sungai itu tidak dalam, bagian yang paling dalam mungkin cuma sebatas dadanya. Bahkan di beberapa tempat, kedalaman airnya hanya sebatas lutut. Sementara Hermione asyik mandi, Gandalf berkeliling di hutan tak jauh dari sungai untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Hermione melihat air mancur keluar dari sela-sela batu di pinggir bukit. Langsung saja ia memposisikan diri di bawah air pancuran itu.
"Huaaahhh!" Hermione berseru senang seperti anak kecil saat air dingin segar menyiram tubuhnya.
Kalau saja Harry dan Ron melihat tingkahnya sekarang, mereka pasti tidak akan percaya. Tingkahnya memang kekanak-kanakan, tapi setelah hampir seminggu tidak mandi, jelas air sungai ini seperti surga baginya. Rambut cokelat keriting sepunggungnya yang sebelumnya lepek dan bernoda darah, sekarang sudah segar dan bersih. Hermione tidak tahu sudah berapa lama dia mandi, tapi rasanya masih belum cukup. Dia menarikt kainnya ke atas sehingga sebagian besar pahanya terbuka. Rasanya agak aneh mandi memakai kain seperti ini karena agak susah untuk membersihkan semua bagian tubuhnya. Dia menoleh ke kanan-kiri. Setelah yakin tidak akan ada orang yang datang, dia mengangkat salah satu kakinya ke atas batu dan mulai menggosoknya. Mulutnya melantunkan senandung riang.
Hermione menceburkan diri lagi ke dalam air, memercik-mercikkan air ke badannya. Tapi mendadak instingnya langsung siaga. Dia selalu merasa seperti ini tiap kali ada orang asing di dekatnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, matanya tiba-tiba bersirobok dengan sepasang mata abu-abu kebiruan. Hermione mematung di tempatnya, mata cokelatnya menatap wajah paling indah yang pernah dilihatnya. Mata abu-abu itu milik seorang lelaki. Hermione terpana melihat ketampanan lelaki itu. Struktur wajahnya sempurna, dengan rahang tegas, bibir tipis, dan hidung mancung dan lurus. Kulitnya porselen tapi sama sekali tidak pucat. Yang menambah keindahannya adalah rambut pirang emasnya yang panjang dan lurus, membingkai wajahnya dengan sempurna. Hermione belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih tampan dibandingkan pria ini.
Dia memperhatikan bagaimana mulut lelaki itu membuka sedikit, mata abu-abunya lebar, seolah-olah terkejut akan sesuatu. Dan saat itu juga Hermione tersentak. Dia baru sadar dengan kondisi tubuhnya yang hanya dibalut kain mini. Secepat kilat Hermione berjongkok, membuat tubuhnya masuk ke air, menyisakan kepalanya saja. Tangannya tersilang di depan dada. Akhirnya dia pun menyadari lelaki itu bukan satu-satunya orang yang ada di sana. Di belakang lelaki itu, ada sekitar tiga orang lelaki lagi. Mereka bertiga memakai ekspresi yang sama seperti lelaki tadi, semuanya mematung menatapnya. Ketiga lelaki itu memiliki bentuk fisik yang hampir mirip seperti lelaki pertama, dengan kulit porselen dan rambut panjang lurus. Bahkan semuanya berwajah di atas rata-rata.
Menyembunyikan kepanikannya, Hermione membentak mereka, "Siapa kalian?"
Keempat lelaki itu tersentak kaget mendengar bentakannya, tersadar dari posisi mematung mereka. Mau tak mau Hermione merasa takut. Bagaimana kalau mereka penjahat? Gandalf pernah cerita daerah Gwaihir ini terkadang dilewati oleh perampok-perampok yang tidak segan membunuh. Padahal dia sama sekali tidak bersenjata.
Dan aku nyaris telanjang, Demi Merlin! Pekiknya dalam hati.
Lelaki yang berdiri paling depan menegang, matanya menyipit saat menoleh ke arah tiga lelaki lainnya. Sepertinya lelaki itu sedang marah pada mereka, meskipun Hermione tidak tahu alasannya, dan dia tidak mau tahu. Hermione memperhatikan kedua tangan lelaki itu mengepal kuat, seakan ingin menyerang tiga lelaki yang ada di belakangnya.
Apa yang terjadi? Pikirnya curiga.
Lelaki itu terlihat menghembuskan napas panjang dan tubuhnya mulai rileks. Dia pun mengalihkan perhatiannya kembali pada Hermione. Mata Hermione menyipit.
"Apa mau kalian?" bentaknya lagi, benar-benar panik. Dimana Gandalf di saat-saat seperti ini?
Lelaki itu maju selangkah, dia memandang Hermione dengan tatapan menyesal, "Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud jahat, kami hanya mencari tempat untuk istirahat dan kebetulan lewat sungai ini. Kami sama sekali tidak mengira Nona sedang...umm...mandi."
Lelaki itu menunduk, pipinya sedikit merah. Sebenarnya bukan hanya dia yang memerah, ketiga pipi rekannya juga ikut memerah. Mereka semua terlihat sangat tidak nyaman dan bergerak agak gelisah. Hermione mengamati mereka curiga, masih sedikit tidak percaya pada mereka. Kalau memang cuma kebetulan lewat, kenapa mereka tidak langsung pergi begitu melihatnya. Pasti mereka ambil kesempatan dalam kesempitan, pikir Hermione kesal sekaligus malu.
"Tapi kalia−"
Ucapan Hermione terpotong ketika merasakan satu-satunya penutup tubuhnya terlepas. Dengan ngeri dia menyaksikan kain abu-abu milik Gandalf yang tadi membalut tubuhnya mengapung di air dan bergerak menjauhinya. Refleks Hermione menundukkan badannya, berusaha melindungi bagian depan tubuhnya dengan lutut dan tangannya. Dia berteriak kecil saat kain itu berenang menjauhinya. Kalau saja tidak ada penonton, dia pasti sudah berdiri dan berlari mengejar kain itu dengan mudah.
Merlin, ini benar-benar memalukan!
Air mata menggumpal di sudut matanya. Seumur hidupnya, Hermione belum pernah mengalami hal yang sangat memalukan seperti sekarang. Dia hanya berharap ada lubang di bawahnya dan menelannya bulat-bulat. Pipinya merah padam karena malu. Dia tidak menyadari air matanya sudah menetes. Belum pernah dia merasa tidak berdaya dan putus asa seperti sekarang. Ia memberanikan diri melirik keempat pria asing di pinggir sungai. Mereka juga memandang adegan di depan mereka dengan syok. Pandangan Hermione bertemu dengan mata abu-abu itu lagi. Muka lelaki itu lebih merah dibandingkan tadi. Tapi melihat aliran air mata Hermione, lelaki itu langsung menggelengkan kepala seolah mengusir pikiran yang menggangu.
Hermione memperhatikan si lelaki pirang berlari ke sungai dan mengejar kainnya. Gerakannya cepat dan tangkas. Dalam waktu sekejap, kain abu-abu basah sudah berada di tangannya. Ragu-ragu sejenak, lelaki itu berjalan mendekati Hermione yang meringkuk di bawah pancuran. Berusaha tidak melihat ke arahnya, lelaki itu menjulurkan kain basah itu padanya. Tanpa ba-bi-bu lagi Hermione menyambar kainnya dan membungkus tubuhnya rapat-rapat. Tidak membuang waktu lagi, Hermione berdiri dan berlari ke tepi. Meraih pakaian kering yang tadi diletakkannya di atas batu besar, Hermione berlari masuk ke hutan tanpa menoleh ke belakang sekalipun. Meninggalkan keempat lelaki rupawan yang menatap kepergiannya dengan pipi yang masih memerah.
oooooooooooo
Setelah berganti pakaian, Hermione berjalan ke atas bukit. Untungnya ingatannya sangat bagus sehingga tidak kesulitan menemukan tempat peristirahatannya dan Gandalf. Ketika sampai di sana, ia langsung menjemur kainnya di atas batu cadas. Gandalf tidak terlihat dimana pun, mungkin dia masih berkeliaran di hutan bawah bukit. Hermione menghela napas lega, merasa segar karena tubuhnya sudah bersih. Pakaian yang diberikan Gandalf untuknya terasa nyaman. Modelnya memang aneh, tapi setidaknya pakaian ini adalah busana yang pantas dipakai oleh perempuan di Middle Earth. Dua hari yang lalu Gandalf membelikannya pakaian baru di desa kecil di Gwaihir.
Mendudukkan bokongnya di salah satu batu, Hermione kembali mengingat kejadian memalukan tadi. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki asing dengan kondisi seperti tadi. Sepertinya mereka memang bukan orang jahat, tapi tetap saja. Demi Merlin, dia adalah Penyihir Terpintar di Zamannya, dia tidak pernah ceroboh melakukan segala sesuatu. Lagipula kejadian tadi bukan salah mereka sepenuhnya. Dia juga salah. Siapa suruh mandi di sungai terbuka cuma pakai kain kecil! Ditambah mandi hingga berjam-jam, tidak awas pada sekitar. Apalagi ini tanah asing baginya. Dia tidak akan pernah tahu akan berpapasan dengan siapa. Bisa saja dia bertemu Orc, hobbit, kurcaci atau bahkan penjahat.
Mengedarkan pandangan ke arah pegunungan, Hermione menyadari senja telah datang. Meskipun Middle Earth adalah tanah asing, tapi pemandangan seperti ini sudah biasa baginya. Selama setahun lebih dia menjalani hidup di tengah hutan dan pegunungan. Dia, Harry, dan Ron selalu berpindah tempat agar tidak mudah terlacak musuh. Kadang mereka berkemah di pinggir sungai, di tengah belantara, di atas bukit cadas, di pegunungan bersalju, kadang juga di dekat pemukiman warga. Hidup dalam pelarian memang tidak mudah, tapi itu membuatnya lebih kuat, hidup, dan mandiri.
"Kau di sini rupanya?"
Hermione mendongak, ternyata Gandalf sudah kembali. Pria tua itu menenteng kantung kulit lalu meletakkan benda itu di atas batu. Ternyata dia sudah mengumpulkan banyak buah-buahan segar dari hutan.
"Tadi aku menyusulmu ke sungai, tapi tidak ada orang di sana. Bagaimana kau bisa menemukan lagi tempat ini?" tanya Gandalf penasaran.
Hermione memutar matanya, "Tentu saja karena ingatanku bagus, Pak Tua."
Gandalf terkekeh, "Aku belum setua itu, gadis kecil."
"Dan aku tidak kecil!" Hermione melotot sebal. Kekehan Gandalf semakin keras.
"Tangkap ini!" Gandalf melemparkan buah apel padanya. Hermione menangkapnya dengan mudah.
"Trims."
"Ini malam terakhir kita di sini. Besok pagi kita akan meneruskan perjalanan," kata Gandalf lalu melemparkan sesuatu ke Hermione, "Nih, sepatumu. Tadi aku mampir di desa mencari sepatu. Kau tidak mungkin berjalan dengan kaki telanjang bukan?"
Hermione mengamati sepatu itu. Bentuknya hampir sama seperti sepatu bot, namun modelnya agak berbeda. Meskipun begitu, sepatu ini kelihatannya nyaman dan enak dipakai untuk perjalanan.
"Trims, Gandalf," Hermione tersenyum pada pria itu, sedikit terharu karena Gandalf sangat memperhatikannya. Pria itu balas tersenyum.
Mereka makan dalam hening. Tidak ada yang mengatakan apapun selama beberapa saat. Hermione mengamati penyihir di depannya. Pakaian Gandalf sudah lebih bersih daripada pertama kali dia melihatnya. Pria ini benar-benar mirip Dumbledore. Kalau saja Gandalf memakai jubah kuning atau biru dengan corak-corak merah terang, maka Hermione pasti mengira dia adalah Dumbledore. Tapi entah kenapa Hermione merasa Gandalf jauh lebih tua dibandingkan penampilannya. Kalau dugaannya benar, maka kaum Maia memang benar-benar hidup abadi. Kisah tentang makhluk-makhluk abadi sedikit membuatnya bergidik. Selama ini dia selalu memandang keabadian sebagai sesuatu yang mengerikan. Mungkin itu karena satu-satunya orang –hampir- abadi yang dia tahu hanya Voldemort. Itu pun karena monster itu menggunakan benda menjijikkan seperti Horcrux untuk membuatnya abadi. Tapi di Middle Earth, keabadian bukan hal asing. Satu-satunya mortal di dunia ini mungkin hanya manusia, hewan dan kurcaci. Dia penasaran seperti apa rupa mahkluk-makhluk itu di dunia yang ini.
Memikirkan itu, Hermione jadi teringat keempat lelaki muda yang ditemuinya tadi. Apakah mereka manusia? Jelas fisik mereka seperti manusia, tapi Hermione merasa ada yang berbeda dengan mereka. Mereka semua begitu berbeda, tapi sangat mirip. Dan ketampanan mereka rasanya...tidak manusiawi. Dia ingin bertanya pada Gandalf, namun langsung mengurungkannya. Sudah cukup sekali saja dia malu, dia tidak ingin lebih malu lagi dengan menceritakannya pada kakek tua ini. Lagipula orang-orang tadi tidak berbahaya. Mungkin mereka memang cuma lewat dan kebetulan berpapasan dengannya.
"Gandalf."
Gandalf berhenti mengunyah dan menoleh ke Hermione. Alisnya terangkat, menunggunya untuk lanjut bicara.
"Tadi kau bilang kita akan pergi besok pagi. Memangnya kita mau kemana?" tanya Hermione datar, tidak terdengar ingin tahu.
"Kita akan ke Rivendell. Kau masih ingat tentang peri bernama Lord Elrond, bukan?" Hermione mengangguk, "Lord Elrond adalah penguasa Rivendell, atau bisa disebut juga Imladris, salah satu pemukiman peri. Beliau mengundangku kesana. Beberapa jenis ras di Middle Earth juga diundang kesana. Nanti kau akan bertemu kurcaci, hobbit, peri, dan manusia."
Mendengar tentang pemukiman peri membuat Hermione merasa antusias, "Memangnya kenapa kau diundang kesana? Apakah ada perayaan atau apa?"
Ekspresi Gandalf menggelap mendengar pertanyaannya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum memandang Hermione. Tatapannya sedih sekaligus muram.
"Kau masih ingat tentang kisah cincin-cincin kekuasaan yang pernah kuceritakan?" tanya Gandalf pelan.
Hermione mengangguk, sedikit terganggu dengan suasana hati Gandalf, "Tiga cincin diberikan kepada kaum peri. Tujuh cincin diberikan ke kaum kurcaci. Sembilan cincin diberikan pada raja-raja manusia. Lalu ada satu cincin lagi yang disebut sebagai Cincin Utama, ditempa di Gunung Neraka oleh seorang Maia bernama Sauron. Benar?"
Gandalf mengangguk, terkesan dengan ingatannya yang sangat tajam. Namun Hermione belum selesai, dia pun mulai mengeksplorasi otaknya, mencari ingatan tentang kisah Cincin Utama itu.
"Sauron yang haus kekuasaan menggunakan cincinnya untuk menguasai Middle Earth dan mulai menyerang kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Tapi Pangeran Isildur dari Gondor membunuhnya, dia memotong jari Sauron yang memakai cincin menggunakan pedang milik ayahnya, Raja Elendil. Isildur mengambil cincin itu dan mengklaimnya sebagai pusakanya. Tapi di perjalanan menuju Arnor, Isildur terbunuh dan cincin itu hilang. Cincinnya lenyap selama ribuan tahun," Hermione menyelesaikan ceritanya.
Hermione mengerutkan alis melihat raut wajah Gandalf semakin menggelap. Mengambil napas panjang, Gandalf mulai menceritakan tentang cincin sakti, Bilbo Baggins, Frodo Baggins, pengkhianatan Saruman, dan Sauron yang hampir bangkit kembali. Karena cincin itu masih utuh, maka Sauron pun tidak bisa mati dan akan terus bangkit lagi selama cincinnya belum dihancurkan. Hermione akhirnya mengerti betapa rumitnya masalah ini. Dan karena sekarang dia adalah 'putri' Gandalf, mau tak mau dia juga ikut terlibat. Masalah cincin dan kebangkitan Sauron adalah masalah besar, sampai-sampai berbagai jenis ras Middle Earth berusaha untuk menemukan solusinya. Dan di Rivendell nanti hal ini akan dibahas. Hermione bergidik membayangkan bagaimana bentuk Cincin Utama itu. Benda itu bisa dibilang sejenis Horcrux untuk Sauron. Rasanya menakutkan dan menjijikkan karena lagi-lagi harus terlibat dengan masalah 'Horcrux'.
Sepertinya hidup di Middle Earth lebih sulit dari yang dibayangkan, Hermione mendesah.
oooooooooooo
"Legolas, lebih baik kita mencari tempat istirahat sekarang. Menurutku wilayah ini aman untuk beristirahat,"
Legolas menengok ke belakang dan langsung menghentikan kudanya. Meskipun samar, namun dia masih bisa melihat raut lelah di wajah teman-teman seperjalanannya. Legolas mengamati lingkungan sekelilingnya. Wilayah ini sepertinya memang aman.
"Kau benar, Faelyn. Tempat ini memang aman, tapi sebaiknya kita beristirahat di dekat mata air," jawab Legolas, menggunakan penglihatan supernya, ia melihat berkeliling lagi untuk mencari dimana sumber air yang bisa mereka datangi.
Legolas melihat tiga temannya yang lain, Galan, Ruith dan Kindroth, yang tengah mengamati sekeliling mereka. Lalu wajah Kindroth mendadak cerah,
"Aku melihat ada aliran sungai kecil di sebelah barat," katanya sambil menunjuk arah menuju sungai, "Kita bisa bermalam di sana."
Legolas mengangguk, "Kita menuju sungai."
Menarik surai kudanya, Legolas dan teman seperjalanannya mulai memacu kuda mereka ke arah barat. Semakin ke barat, pepohonan yang mereka lewati semakin merapat jaraknya. Kecepatan mereka semakin berkurang karena rapatnya pepohonan. Legolas mengamati hutan yang dilewatinya. Hutan ini cukup lebat meskipun tidak selebat Mirkwood. Meskipun dia dan teman-temannya adalah bangsa peri yang bisa bertahan tanpa tidur berhari-hari, tetap saja mereka bisa lelah. Apalagi mereka sudah melakukan perjalanan tanpa berhenti selama tujuh hari dari Mirkwood.
Menjelang sore, Legolas dan rombongannya tiba di hutan Gwaihir, hutan ini sebenarnya tidak terlalu lebat karena wilayah Gwaihir didominasi oleh bebatuan dan bukit cadas. Setelah beristirahat satu malam di sini, mereka akan melanjutkan perjalanan selama tiga hari lagi menuju tanah Imladris. Suasana hati Legolas memuram saat memikirkan kembali alasannya mengunjungi Rivendell. Ayahnya, Raja Thranduil, mengirimnya ke Rivendell sebagai balasan dari undangan Lord Elrond beberapa hari yang lalu. Berita tentang ditemukannya Cincin Utama sudah menyebar di seantero Middle Earth, termasuk Kerajaan Mirkwood. Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan kembalinya Cincin Utama, maka masalah yang dihadapi seluruh bangsa di Middle Earth tidaklah enteng. Akhir-akhir ini berita-berita penyerangan oleh bangsa Orc selalu datang ke Mirkwood. Tidak hanya Orc, rumor tentang Ringwraith yang berkeliaran dari desa ke desa semakin banyak terdengar. Penyerangan Orc dan Ringwraith ini sudah cukup menjadi pertanda bahwa Pangeran Kegelapan Sauron sudah bangkit kembali. Dan itu merupakan ancaman terbesar bagi Middle Earth.
Legolas hanya berharap Lord Elrond mampu menemukan solusi yang tepat untuk masalah pelik ini. Tapi keningnya berkerut kesal ketika memikirkan siapa saja yang ikut diundang ke Rivendell. Sudah pasti bangsa kurcaci dari Erebor juga akan datang. Semua juga tahu hubungan peri dan kurcaci sangat buruk. Setiap kali bertemu, peri dan kurcaci pasti akan adu mulut dan saling menghina satu sama lain. Para kurcaci itu memang menyebalkan. Legolas masih teringat pertemuannya dengan si raja kurcaci, Thorin dan rombongannya puluhan tahun yang lalu, dan itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan baginya. Kurcaci itu terlalu keras kepala. Setidaknya suasana hatinya sedikit membaik karena dia akan bertemu lagi dengan teman lamanya, Aragorn.
Legolas menghentikan laju kudanya dan keempat temannya juga ikut berhenti. Legolas melompat turun ke tanah diikuti semua rombongannya.
"Kita istirahat di sini malam ini. Kita tidak jauh dari sungai sekarang," katanya pada yang lain.
Mereka mulai mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berserakan di tanah untuk membuat api. Setelah banyak ranting yang terkumpul, Legolas segera mengalihkan pandangan ke arah sungai dan mulai berjalan ke sana. Dia mendengar Galan berkata pada yang lain.
"Kalian ke sungai saja, kumpulkan persediaan air. Biar aku yang menjaga kuda-kuda di sini."
Legolas memimpin di depan, Faelyn, Ruith, dan Kindroth mengikutinya di belakang. Indera penciuman Legolas terbuai oleh aroma wangi pepohonan dan air sungai. Rasanya tidak sabar untuk memuaskan tenggorokannya dengan air segar. Wangi buah-buahan juga ikut bercampur dengan aroma air. Jelas di sekitar sini banyak persediaan makanan buat rombongannya. Legolas pun akhirnya keluar dari tepi hutan dan langsung mendapati sungai yang sangat jernih. Sepertinya hanya mata air kecil meskipun lumayan lebar. Air sungai ini tampaknya berasal dari mata air di puncak-puncak bukit. Kakinya menyusuri tanah yang ditutupi kerikil-kerikil kecil.
Legolas berjalan ke pinggiran sungai diikuti oleh ketiga rekannya. Belum sempat mencapai air, indera pendengarannya menangkap suara bersenandung dari sebelah kirinya. Legolas menoleh ke sumber nyanyian itu. Tubuhnya seakan membeku dan matanya membulat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Di bawah air mancur, seorang gadis muda sedang bersenandung riang sambil menggosok kakinya.
Legolas memang peri berdarah bangsawan, dia adalah pangeran dan pewaris tahta Raja Thranduil yang dihormati, tapi bagaimanapun juga dia tetap laki-laki. Dan laki-laki mana yang tidak berdesir darahnya ketika melihat adegan di depannya. Legolas belum pernah melihat sesuatu seindah ini. Gadis itu cantik sekali, meskipun dia seorang manusia. Legolas bahkan tidak ingat pernah bertemu peri wanita yang secantik gadis ini. Pandangannya jatuh ke paha si gadis yang nyaris terbuka semuanya. Seumur hidupnya, Legolas baru pertama kalinya melihat wanita yang hampir tak berbusana. Gadis ini mungil, tubuhnya ramping namun berlekuk di tempat yang tepat, dan kain pendek yang menutupinya sama sekali tidak menyembunyikan keindahan lekukannya. Rambut panjang cokelat basah gadis itu semakin menambah kecantikannya. Lalu si gadis cantik pun menceburkan diri ke dalam sungai dan bermain-main dengan air. Suara tawanya berdengung indah di telinga Legolas yang sensitif. Saat ini Legolas bahkan bisa mendengar degup jantungnya yang menggila.
Dan dunianya seakan berhenti ketika sepasang mata cokelat bening bertemu dengan matanya. Mungkin itu adalah mata terindah yang pernah dilihatnya. Legolas tidak bisa memikirkan apapun, mata cokelat itu seakan memiliki magnet berkekuatan hebat. Butuh kekuatan dan pertahanan diri yang sangat kuat untuk Legolas agar tidak langsung berlari mendekati gadis itu dan mencumbunya di tempat ini juga. Dia tidak mengerti kenapa dia merasakan perasaan seaneh ini, tapi Legolas sedang berusaha matian-matian menahan keinginan untuk menyerbu ke arah air mancur.
Legolas tersentak kaget saat gadis cantik itu berteriak lantang padanya.
"Siapa kalian?"
Kalian? Keningnya berkerut bingung.
Legolas akhirnya sadar bahwa dia tidak ke sungai sendirian. Faelyn, Ruith, dan Kindroth juga ikut bersamanya. Tubuhnya menegang. Amarah mulai mengalir di darahnya, membuatnya mendidih oleh emosi. Itu artinya mereka juga menyaksikan pemandangan tadi. Kemarahan aneh menguasainya. Dia memutar kepala, menoleh ke belakang. Dan matanya menyipit melihat ketiga teman seperjalanannya masih mematung memandang gadis itu. Berani sekali mereka terang-terangan menonton tubuh gadis itu. Perasaan aneh yang tidak menyenangkan semakin tajam dirasakannya. Dia tidak mengerti perasaan apa itu. Tapi yang jelas, dia sangat tidak suka teman-temannya ikut menikmati adegan indah yang tadi dinikmatinya. Kindroth yang merasakan tatapannya mengalihkan pandangan padanya. Peri berambut cokelat itu terkejut melihat kemarahan tercetak sangat jelas di mata sang pangeran.
Secepat kilat Kindroth menurunkan pandangannya, kepalanya menghadap ke bawah. Semua penghuni Mirkwood tahu bahwa bukan hal bagus kalau sampai membuat Pangeran Legolas marah. Legolas akhirnya berhasil menenangkan diri setelah beberapa saat dan menghembuskan napas panjang. Dia kembali menghadap ke sungai, menatap si gadis yang terlihat panik.
"Apa mau kalian?" Gadis itu benar-benar takut sekarang, meskipun kelihatannya dia berusaha keras untuk menyembunyikannya.
Legolas berusaha menjelaskan situasi. Dia tidak mau gadis cantik ini berpikiran bahwa dia akan menyakitinya. Tentu saja tidak. Legolas mengambil satu langkah ke depan. Dia merasa bersalah ketika melihat wajah si gadis yang semakin pucat. Apa jadinya kalau gadis ini tahu isi pikirannya beberapa saat yang lalu. Dia akan berusaha sekuat mungkin meyakinkan gadis ini bahwa dia bukan pria jahat, berharap untuk tahu nama si gadis.
"Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud jahat, kami hanya mencari tempat untuk istirahat dan kebetulan lewat sungai ini. Kami sama sekali tidak mengira Nona sedang...umm...mandi."
Mengingat betapa indahnya pemandangan yang dilihatnya tadi membuat pipi Legolas memanas. Bagaimanapun juga gadis ini tidak bisa menyalahkan naluri lelakinya. Mana mungkin dia sanggup mengabaikan begitu saja ketika seorang gadis muda cantik bertubuh indah, dengan hanya berbalut kain pendek, mandi di sungai sambil bersenandung. Tapi dia tidak ingin membuat gadis ini semakin marah, jadi dia ingin cepat-cepat memberi penjelasan. Yang dia inginkan hanya mengenal gadis ini. Namanya, asalnya, dan kenapa dia bisa ada di tengah hutan terpencil sendirian. Siapa tahu gadis ini tersesat dan butuh pertolongannya. Mungkin Legolas bisa mengantarnya pulang ke rumahnya. Dengan begitu dia tahu dimana gadis ini tinggal. Dia dengan senang hati akan menawarkan mengantarnya dengan kudanya. Membayangkan bersama gadis ini di atas kuda, lalu Legolas duduk di belakangnya, dan mereka melakukan perjalanan berdua membuat pipinya semakin memanas. Dan Legolas berjanji pada dirinya sendiri akan mampir sebentar di rumah gadis ini ketika dia pulang dari Rivendell nanti. Mungkin dia akan mengajak gadis ini berkunjung ke Mirkwood, ayahnya pasti tidak akan keberatan.
"Tapi kalia-"
Ucapan gadis itu terputus. Legolas mendongak untuk mengetahui apa yang menyebabkan perkataannya terputus. Dan matanya membelalak, syok menyaksikan pemandangan lain di depannya. Kain abu-abu tipis yang tadi membalut tubuh gadis itu sekarang hanyut mengikuti aliran sungai. Konsentrasi Legolas hampir kacau melihat tubuh telanjang gadis itu. Memang dia tidak bisa melihat seluruhnya karena ditutupi oleh kedua tangan dan lutut si gadis. Tapi bagaimanapun juga air sungai ini sangat jernih, bahkan dasar sungai pun terlihat jelas. Legolas menahan napasnya, dia sama sekali tidak siap untuk ini.
Demi Valar, dia ini peri! Tidak seharusnya pikiran-pikiran tak senonoh muncul di otaknya. Dia adalah salah satu bagian dari ras paling terhormat. Tapi dia hampir tidak menahan diri lagi saat matanya disuguhkan makhluk seindah ini. Meskipun tengah meringkuk, gadis ini sama sekali tidak bisa menyembunyikan kerupawanan sosoknya. Sangat sempurna. Cahaya matahari senja kekuningan membuat makhluk di depannya semakin bersinar. Ketika akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu. Legolas terkejut melihat air mata mengalir di pipinya.
Legolas mengutuk diri sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia memikirkan hal-hal yang sangat tidak pantas tadi. Jelas sekali gadis ini sangat malu. Mengutuk dirinya karena ternyata dia tidak berbeda dengan banyak laki-laki brengsek di luar sana, Legolas menggelengkan kepala, berusaha menjernihkan otaknya. Dia berlari masuk ke sungai yang dangkal, mengejar kain abu-abu yang hanyut. Menyambar kain itu, Legolas mendekati gadis itu. Matanya melihat kemana pun asalkan bukan gadis ini. Dia hanya tidak ingin pikiran tidak senonoh muncul lagi. Menjulurkan kain pada si empunya, Legolas memandang ke hutan di depannya.
Gadis itu mengambil kain dari tangannya dan dari sudut mata, Legolas melihatnya sedang menutupi tubuhnya dengan kain tipis tadi. Tanpa berkata apapun, gadis itu berlari ke tepi sungai dan meraih setumpuk pakaian kering di atas batu. Belum sempat Legolas mengucapkan apapun, gadis itu sudah lenyap ke dalam hutan. Gadis itu masuk ke hutan di seberang sungai, berlawanan arah dengan hutan tempat Legolas datang tadi. Legolas berlari mengejar gadis itu, tidak menghiraukan tatapan terkejut teman-temannya. Namun begitu di tengah-tengah hutan, dia kehilangan jejaknya. Gadis itu berlari cukup kencang. Legolas menggunakan penglihatan jarak jauhnya untuk mencari keberadaan gadis itu, tapi hasilnya nihil. Dadanya dipenuhi kecemasan, bagaimana kalau gadis itu tersesat? Bagaimana kalau gadis itu terjatuh lalu terluka? Bagaimana kalau ada hewan buas yang menyerangnya? Tapi di balik kecemasannya, ada perasaan lain yang jauh lebih kuat. Perasaan itu menyentak perutnya seperti sengatan yang sangat tajam.
Kekecewaan.
Dia bahkan belum tahu siapa namanya, darimana asalnya, dan dimana dia tinggal. Gadis itu menghilang begitu saja, seolah ditelan bumi. Legolas ingin sekali menghancurkan sesuatu. Keinginan untuk mengenal gadis itu begitu kuat sampai-sampai rasanya sangat menyakitkan. Setelah memutari hutan beberapa kali, dia pun menyerah. Dengan kekecewaan yang teramat dalam Legolas berjalan kembali ke tempat rombongannya beristirahat.
.
Bersambung
.
A/N:
Apdet dua chapter dalam sehari, luar biasa buat saya... wkwkwk...
Ah, Legolas...
Salah satu karakter fiksi terfavoritku. Sangat suka dengan pair ini, sayang mereka berdua berbeda dunia, berbeda jenis ras, berbeda cerita, berbeda novel, dan berbeda pengarang. Kelihatannya sangat mustahil buat Legolas Greenleaf dan Hermione Granger untuk bertemu.
Tapi bukankah itulah gunanya Fanfiction? Untuk mempertemukan dua makhluk beda dunia ini! Hanya dengan imajinasi, rangkaian kata, kalimat, dan paragraf, koneksi internet dan VOILA! Mereka akhirnya bertemu.. Hahaha... (Maafkan ketidakjelasan author, :D)
Enjoy!
