WARNING: minor-noncon for this chapter.
Festival Panen diadakan di alun-alun kota di akhir pekan setelah panen berakhir. Kota yang biasanya tampak mati tiba-tiba dikerumuni oleh keramaian dan ingar-bingar. Musik, lampu, rantai bendera, dan orang-orang memakai kostum memenuhi jalan. Ini seperti Halloween di bulan Juli minus kostum dan topeng seram—kecuali beberapa orang yang sengaja menjadi jack-o-lantern atau manusia jerami dan melakukan prank sehingga satu atau dua teriakan terdengar di antara kerumunan. Suasana pesta yang meriah membuat mood Levi naik dan ia tak sabar untuk mengirim video yang ia ambil kepada mamanya dan Erwin besok.
Kenny membawa teman kencannya, Cynthia, seorang cewek 23 tahun yang beberapa inci lebih tinggi dari Levi. Dia penunggang kuda pro dan sudah memenangkan banyak piala dan medali sejak usia 9 tahun dan orang tuanya juga mengelola semacam peternakan kuda di kaki bukit—terkenal sampai ke luar kota tambah Kenny dengan bangga. Levi ingin membenci Cynthia karena cewek itu terlalu sempurna untuk Kenny, terlalu muda, terlalu cantik, terlalu cerdas, tetapi Cynthia super cool—keren, sikap tak acuhnya bukan terkesan sombong dan Levi kepingin bisa sekeren dia.
Setelah selesai makan burger di Diner mereka bertiga pergi menuju pameran/perlombaan buah dan sayur raksasa di tengah alun-alun yang menjadi pusat perhatian. Kenny merangkul Cynthia sedari tadi, di sepanjang jalan, botol bir di tangannya yang kosong begitu pula dengan Cynthia. Mereka berhasil mendapatkan posisi yang jelas untuk melihat zucchini raksasa—yang Levi bisa kira nyaris setinggi tubuhnya—diberdirikan secara vertikal di atas sebuah timbangan di atas pentas kayu seadanya. Di bawah pentas, lebih banyak dan lebih besar hasil panen dipamerkan di samping petaninya.
Mereka melihat perlombaan itu hampir setengah jam setelahnya, kemudian merasa bosan dan memutuskan untuk melihat-lihat sampai ke ujung jalan. Levi berjalan tak jauh di belakang Kenny dan Cynthia karena, 1) ia merasa menjadi orang ketiga di antara dua orang yang sedang dimabuk cinta itu dan, 2) ia terseret arus ke belakang sehingga sempat tertinggal jauh dari Kenny. Karena semakin tertinggal jauh, Levi memutuskan untuk menjelajah sendirian, berbalik dan menyelinap ke gang-gang. Toh mereka sedang berada di festival, kemungkinan buruk apa yang bisa terjadi?
Semakin ke dalam, semakin jauh ia berjalan, kerumunan orang semakin menipis, lampu semakin remang, dan bau alkohol di mana-mana. Di sekelilingnya hanya orang-orang berwajah kasar atau prostitusi yang salah satunya sempat menggoda Levi sehingga nyalinya sedikit menciut dan langsung menolak secara sopan. Kemudian ia melihat sosok itu, si pria Laundromat—eurika!—berjalan dengan kedua tangan di kantong celana ke dalam salah satu bar yang memutar musik super kencang. Levi menoleh ke belakang, berpikir bahwa ia masih punya waktu untuk berbalik dan kembali menuju kerumunan, lupakan soal pria itu, tetapi gagasan untuk bisa bertemu dengan pria itu kembali—paling tidak hanya sekali ini—membuatnya berjalan menuju bar dengan langkah besar dan tekad kuat. Tak ada bouncer yang berjaga untuk meminta kartu identitasnya di pintu depan, jadi Levi menelan gumpalan yang mencekat tenggorokannya dan berjalan masuk sambil merapatkan jaket hoodienya ke tubuhnya ketika menyadari betapa dingin malam itu.
Musiknya terdengar jauh lebih parah ketika Levi berada di dalam, menghentak dan memekak. Bau alkohol dan rokok menggantung di udara, semakin diperburuk lagi dengan bau parfum murahan yang membuat pusing. Semuanya orang dewasa yang berada di sana. Levi takut salah satu dari mereka menyadari keberadaannya, jadi ia memasang hoodienya dan buru-buru berjalan ke salah satu meja yang kosong menghadap ke dinding. Meja itu masih memiliki bir dan gelas di atasnya, jadi ia akan baik-baik saja selama menunduk dan berpura-pura minum.
Levi mencari pria berambut shaggy di antara setiap meja dan orang-orang yang berlalu lalang dari sudut mata dan belakang bahunya. Sumpah, ia benar-benar yakin yang ia lihat adalah si pria Laundromat. Ia tak mungkin salah lihat karena tak mungkin ia melupakan orang se-badass itu.
"Fuck!" umpatnya sambil meremat gelas shot di tangannya. Ia mencari lagi, benar-benar menyeluruh dan tenang sekarang, dan ketika menemukan pria itu di tengah lingkaran paling berisik di sudut ruangan, napas Levi serasa di rampas. Di sana. Pria itu berdiri paling menjulang di antara semuanya, rokok terselip di sela bibir. Lebih baiknya lagi, dia tersenyum. S-E-N-Y-U-M. Levi juga sadar ia memakai pakaian yang sama dengan seluruh anggota yang terbahak di sana, jaket sleeveless berbordir semacam bintang. Mereka terlihat seperti geng motor ketimbang anak emo.
Benang-benang kusut di benaknya perlahan terurai.
Jadi, mereka itu pack yang dibicarakan oleh paman Grizzly? Jadi, dia bukannya eks-militer? Jadi, paman Grizzly bukan bercanda?
Perut Levi terasa berputar. Ia jadi menyesali keputusannya dan kepingin cepat-cepat keluar dari sini sebelum Kenny menyadari kehilangannya. Dia bisa lari ke tempat di mana mereka memarkir mobil kemudian berbohong kalau ia merasa tak enak badan. Ya, Levi sudah bertekad untuk pergi, tadinyasampai seorang pria paruh baya dengan rambut brunet sebahu duduk di seberangya. Menyeringai jahat memamerkan giginya yang berjarang. Wajahnya merah dan penuh freckles terbentang dari ujung tulang pipinya yang satu ke ujung lainnya.
"Well, apa yang kau lakukan di mejaku, anak muda?" bau alkohol menerpa wajah Levi. Bahaya. Levi langsung berdiri, hendak berlari pergi tetapi tangan gesit paman itu menangkap pergelangan tangannya, menariknya dengan kasar supaya ia kembali duduk.
"Shh, Shhh! Kemana kau mau pergi, Dear? Kau sadar, kan, kalau mereka mengetahuimu di sini kau akan terlibat bahaya. Jeez, entah apa yang akan mereka lakukan denganmu..." ibu jarinya membentuk lingkaran di tulang pergelangan Levi yang menonjol.
Ya Tuhan. Apa ini. Levi ingin berontak, melempar botol atau gelas ke wajah paman mesum ini tetapi, ingatlah untuk bersikap sopan-nya Kenny menghalangi niatnya. Jadi ia memohon, "Paman, tolong lepaskan tanganku.", seramah dan sesopan mungkin.
"Yeah?" balasnya melonggarkan rematannya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba jadi bersemangat setelah itu, tetapi Levi tahu itu sesuatu yang buruk. "Kalau begitu ikut aku sebentar."
Paman itu bangkit sementara Levi masih duduk, menahan tubuhnya di kursi sekuat tenaga sambil menggeleng, masih memohon untuk dibiarkan pergi dan tenggorokannya mulai terasa mencekik. Ia takut. Ia tahu apa yang diinginkan paman itu dengannya. God, Levi tahu betul karena mamanya sering memperingatinya tentang predator yang bersembunyi di antara orang dewasa. Tentang, ya, anak laki-laki juga bisa menjadi korban perkosaan.
"Oh, ayolah, Nak." Katanya berdiri di samping dan memandang Levi dengan mengancam. Ia setinggi Kenny tetapi lebih berotot dan bau. "Jangan buat aku terlihat seperti penjahat."
Ia kembali menyeret Levi, kali ini betul-betul mengerahkan tenaganya sehingga tubuh Levi dibuat tersentak sampai kursinya jatuh. Ketika itu, entah apa yang membuatnya menoleh ke meja si pria Laundromat, tetapi mata mereka bertemu. Tepat saat itu, pria Laundromat melihat ke arahnya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Ia ditarik ke belakang bar, dilempar ke dinding bata dan mulutnya dibungkam oleh tangan besar paman itu. Tepat saat paman itu sibuk menjilat dan mencium tengkuk dan lehernya, pintu di dekat mereka didobrak. Pria Laundromat di sana, masih dengan rokok di sela bibirnya, menatap mereka dengan tenang.
"Satu..."
Ia mulai menghitung. Levi tak tahu kenapa dia malah menghitung dan bukannya menolong Levi. Tetapi belum hitungan kedua, paman mesum itu langsung menjauh dari tubuh Levi kemudian bergegas pergi sambil mengumpat seolah melihat hantu atau sesuatu yang menakutkan.
"Ya Tuhan," Ia masih tak percaya apa yang terjadi.
Pria Laundromat berjalan ke arahnya, berdiri menjulang di sampingnya, menyembunyikannya dari kemungkinan orang yang keluar dan melihat mereka.
"Maaf aku terlambat."
Levi menengadah. Ya Tuhan. Pria ini mungkin saja terlambat tapi tetap saja... ia datang. Datang menolongnya sebelum keadaan menjadi jauh lebih buruk. Levi menarik ingus dan menyeka air mata yang kembali membasahi wajahnya dengan tumit tangannya. Pria itu tak perlu meminta maaf.
"Kau ingat aku? Aku mencarimu." aku Levi. Suaranya terdengar parau. Lehernya sakit karena terus menengadah. "Aku mengikutimu ke dalam dan paman itu tiba-tiba duduk didepanku—"
"Yeah. Maafkan aku." potongnya. Ia kemudian menarik hisapan panjang sebelum melempar puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya. "Di sini berbahaya. Biar kuantarkan kau ke tempat yang lebih aman. Ayo.".
Tangannya membantu Levi berdiri. Salah satu kakinya masih belum stabil sehingga Levi sempat oleng. Untung si pria Laundromat cepat menangkapnya.
Mereka berjalan berdampingan dalam diam. Ada banyak hal yang ingin Levi tanyakan kepada pria yang mengaku bernama Mike itu. Tetapi suasana di antara mereka sangat canggung entah karena apa. Mungkin karena kejadian barusan. Levi sesekali mencuri pandang ke Mike, mengambil kesempatan untuk melihat pria itu lebih baik lagi. Ia punya tato di bawah telinga dan kedua lengannya sampai pergelangan. Dia juga punya semacam gelang dari tali sepatu terikat longgar di pegelangan kanannya. Urat tangannya terlihat jelas, menonjol keluar dari punggung tangan, lengan, bisep, sampai ke balik pelipit lengan kaosnya.
Ketika alun-alun dan keramaian terlihat tak jauh di depan mereka, Mike berhenti di depan toko pangkas rambut yang tutup. Agak sedikit dekat dengan tiang lampu.
"Kau bisa sendiri, kan?" matanya mencari kepastian di gunmetal Levi yang terlihat lebih pucat di bawah sinar lampu.
Levi menjilat bibirnya yang kering, mengangguk. "...yeah. Ya, aku akan baik-baik saja mulai dari sini.. jika itu maksudmu..."
Mike menyentuh bahunya, meremat lembut, dan Levi bisa merasakan sengatan listik di sekujur tubuhnya. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan kemari lagi tanpa orang dewasa, oke?"
Ia hendak berbalik, siap untuk pergi, namun Levi memanggilnya, menahannya dengan namanya. "Bisa kita ketemu di Laundromat besok? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan." tanyanya penuh harap.
Jeda.
"Dengar, aku tak bisa." balas Mike ketika akhirnya berbalik. Bahunya turun, ia mengucek hidungnya. "Mungkin kau salah orang. Aku, aku tak ingat pernah ke Laundromat—jadi..."
Bohong. "Aku tahu kau bohong soal eks-militer. Aku tahu kau tinggal bersama packmu di selatan. Aku sekarang tahu kenapa kota ini an—
Mike menatapnya. Terlalu intens. Terlalu tajam. Tatapan yang menyuruhnya untuk tutup mulut dan enyah.
"Ma...Maafkan aku." Levi melangkah mundur, kedua alisnya melengkung turun. "Ya... ya, terima kasih telah menolongku. Selamat tinggal!"
Ketika ia sampai di mobil, terengah, lelah, Kenny nyaris meneriakinya jika Levi tak langsung melempar diri dan membenamkan wajah ke dada pamannya. Ia ingat berada di pelukan Cynthia selama di dalam mobil setelah itu, di kursi belakang, parfum manisnya menempel di baju Levi. Ia tak tahu kenapa menangis.
Air matanya mendesak begitu saja tanpa ia perintahkan.
Ia tak bilang soal nyaris diperkosa.
Ia tak bilang soal Mike yang menolaknya.
Levi tak mengerti kenapa Mike begitu menarik bagi otaknya. Kenapa otaknya memilih untuk mengkhayalkan Mike atau mengulang kembali permintaan maafnya dari segala hal yang bisa diulang. Cynthia bermalam di rumah mereka. Rambut emasnya digerai kali ini. Ia membuat sarapan bersama Kenny di dapur, sementara Levi mengganti siaran TV berulang-ulang. Dari 0 ke 15, dari 15 ke 0. Ia merasa kosong dan hampa dan di antara keduanya.
Tak ada yang mencurigainya sampai ketika ia dengan refleks menepis tangan Cynthia yang mengajaknya untuk sarapan. Membuatnya terbelalak tak percaya dengan menganga. Ia kemudian menyadari pergelangan Levi meraung plum pekat. Levi mencoba melawan dan melepaskan diri dari Cynthia yang memegang bahunya, menahannya, dan tak sengaja melihat hickey di tengkuk dan bawah lehernya dan Kenny datang mendengar kegaduhan yang mereka buat.
Levi kembali menangis.
Cynthia memeluknya.
"Kau ingat siapa yang melakukannya?!"
"Kenny!" Cynthia mengusap-usap bahunya, mengelus kepalanya dan Levi teringat akan mamanya. "Kau lihat dia masih terguncang. Kau bisa tahan pertanyaanmu nanti."
Kenny mengerang, menyisir rambutnya ke belakang. Ia berjalan mondar-mandir untuk menenangkan diri. Tetapi gagal karena yang ingin ia lakukan adalah menghancurkan sesuatu. Ia cuma melihat merah.
"Sumpah, aku akan mencari tahu anjing sialan itu dan ketika aku menemukannya, akan kuhabisi dia!" desis Kenny. "Dan kalau dia orang yang kukenal, aku akan membakarnya hidup-hidup dan mengiris dagingnya tipis-tipis sebelum kuberikan ke babi!"
Cynthia meringis, tetapi ia tak mengatakan apa pun.
Begitu situasi mulai tenang, Levi bangkit dari paha Cynthia. "Dia, dia cuma menciumku di tengkuk dan leher dan dan meraba tubuhku, tapi ia tak melakukan apa pun Kenny, aku bersumpah. Aku bukan menangis karena dia. Aku menangis karena..." Mike menolakku. Mike mengiraku anak-anak dan tak masuk akal.
"Karena apa?!" bentak Kenny, tak sengaja terlalu keras sampai Levi dan Cynthia tersentak di tempat duduk.
"Kenny! Astaga..."
Levi membasahi bibirnya. "...a.. aku... aku rindu mama."
Tangan Cynthia kembali merangkulnya dan membawanya ke dalam dekapannya. Kenny mengumpat tak percaya.
"Astaga. Benar. Mamamu mesti tahu tentang ini. Aku akan menghubung—"
"JANGAN!" pekik Levi menarik wajah yang ia benamkan di perpotongan leher Cynthia. "Kumohon jangan beritahu mama. Kenny, kumohon jangan beritahu mama."
Kenny lemah jika seseorang memohon kepadanya. Terlebih lagi keponakannya sendiri. Jadi ia membiarkan Levi dan Cynthia di ruang tamu sementara ia pergi ke beranda belakang untuk merokok meredamkan amarahnya.
Merah, menyulut, menari di balik pelupuknya.
thanks for reading. ill appreciate any kind/constructive feedback. (: -xoxo
