Ternyata ada yang mau baca fic Kai yang ini~~ ohh senangnyaaa #alay #dibuang.
Tapi dengan ini, nambah lagi satu tanggungan Kai :'D Kai ra popo xD
.
Kai mau balas review dulu, ya? ^^
Nuruhimechan19: iya, disini Hibari bukan guardian Tsuna ^^ nanti akan dijelaskan seiring berjalannya fic ini… ahaha… akan Kai usahakan dalam memperpanjangnya, terima kasih telah review, Kai tunggu review Anda di chap berikutnya. ^^
.
Disclaimer: bukan punyaku! Punya Amano Akira! Tapi fic absurd ini punya Kai, Hibari-san juga punya
Kai ^^ (jangan percaya)
Warning: sedikit OC untuk penjahat, OOC, ga jelas, typo, yaoi, dll.
Genre : well, Kai bingung dengan genre. Kalau secara lengkap sih, maunya Action, Crime, sedikit sci-fi, dan Romance
Rated : T (Mungkin bisa berubah… entah #dibuang)
.
.
BRUUK.
Sedetik kemudian Tsunayoshi terjatuh. Sebenarnya, yang disasarkan oleh orang itu adalah Hibari. Akan tetapi Tsunayoshi melindunginya. Lawannya yang tadi menembakkan jarum itu pun kemudian pingsan setelah Hibari memukulnya lagi.
"Hhh…" Hibari hanya menghela napas dan memikul Tsunayoshi seperti memikul sebuah karung. "Akan kubawa dia pulang."
.
Bab 2 : Mafia Boss And Detective.
.
.
.
Di sebuah kamar berukuran sedang, nampak Hibari sedang memeriksa sang Juudaime atau yang kita kenal sebagai Tsunayoshi. Hibari memegang bibir Tsunayoshi perlahan. Tsunayoshi sendiri masih pingsang akibat terkena jarum lawannya tadi.
"Tidak ada perubahan pada bibir." Hibari mulai mendiagnosia Tsunayoshi. "Detak jantung, nadi, serta napasnya berjalan dengan normal. Kurasa jarum itu hanya jarum bius."
Beberapa saat kemudian Hibari langsung disadarkan oleh sesuatu. Segera Hibari langsung mengambil laptopnya dan duduk diatas kursi dengan meja belajar didepannya. Laptopnya kemudian menyala dan menampakkan sebuah kalimat 'Seseorang sedang berusaha menerobos data Anda'
"Ada yang berani menghackerku, huh?" Hibari mengangkat sebelah alisnya.
Kemudian dengan tenangnya Hibari membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan sebuah laptop lain berwarna putih dan menyalakannya. Sementara menunggu laptopnya yang putih menyala, Hibari mengetikkan beberapa sandi untuk mengunci data-datanya dari sang hacker yang sekarang sepertinya sedang beraksi. Selang beberapa waktu kemudian laptop Hibari yang putih telah menyala. la lalu menderetkan laptopnya yang putih dengan laptop satunya lagi yang berwarna hitam.
"Baiklah, aku akan mendownload virusnya…" kata Hibari sembari mengetikkan sesuatu dilaptop putih Hibari dengan tangan kirinya.
Tangan kiri? Oh, ayolah. Hibari bahkan bisa mengendalikan EMPAT laptop sekaligus dan bisa memegang mouse dengan kakinya.
'Tangguh juga, hm?' batin Hibari sembari menyeringai sadis. 'Kalau begitu akan kuserang langsung databasenya'
Sedetik kemudian virus yang telah selesai didownload langsung dikirim Hibari menuju orang yang berani-beraninya menghackernya. Kemudian pembobol yang tadinya agak menyusahkan Hibari langsung berhenti. Tak ada tanda-tanda ia berkutik lagi. Hibari sendiri sudah memeriksanya apakah dia menggunakan DCwords ataupun spyware untuk menghilangkan jejaknya, tetapi tidak. Semua sudah berakhir.
"Hmp.." Hibari menyeringai penuh kemenangan. "Aku yakin komputernya atau laptopnya sekarang sedang terserang ribuan virus…"
"Ungghh…" Tsunayoshi melenguh ditempat tidur. "Di-dimana ini?!"
Hibari bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan kearah ranjang. "Sudah bangun, hm?"
"Si-siapa kau?!" Tsunayoshi tampaknya mengalami lupa ingatan sementara. "Ah… Hibari Kyoya, kan?"
"Hn," Hibari kemudian mendudukkan dirinya pinggir ranjang. "Mengapa kau bisa diserbu begitu banyak or-"
DUAAARR!
Suara ledakan menginterupsi perkataan Hibari. Langsung saja Hibari dan Tsunayoshi bangkit lalu menuju kearah sumber ledakan.
"Astaga!" pupil mata Tsunayoshi membulat.
"Kami…korosu!" Hibari sudah ancang-ancang untuk membunuh semua yang ada didepannya.
Rumah Hibari yang tadinya bersih dan tampak aman sekarang banyak kobaran api dan bekas tembakan dimana-mana. Tampaknya rumah Hibari diserang oleh segerombolan mafia.
DUAAKK!
Hibari mulai menyerang beberapa mafia dengan tonfanya.
"Sial…" kata seorang mafia sembari menekan pelatuk pada pistolnya. "Ini salahmu karena kau ikut terlibat dengan Decimo Vongola ke sepuluh!"
DOORRR!
Pria itu menembak kearah Hibari namun meleset karena Tsunayoshi menendang orang tersebut. Hibari yang dari tadi sedang sibuk menghajar orang untuk beberapa saat napasnya tercekat.
'Boss… Vongola? Mafia terbesar didunia itu?!' batih Hibari.
"Aku malas, kubekukan saja semuanya…" kata Tsunayoshi yang sudah masuk kedalam mode Hyper Dying Will-nya.
Tsunayoshi kemudian terbang keatas dan berteriak kepada Hibari. "Minggir Hibari-san!"
Hibari yang tahu Tsunayoshi akan melakukan sesuatu langsut melompat dengan cekatan kebelakang.
"ZERO POINT BREAKTHROUGH!" dan seketika semua mafia itu membeku.
Kemudian Tsunayoshi turun dan kembali ke mode normalnya. Ia mereganggkan bahunya yang pegal. Sesaat kemudian Tsunayoshi merasakan aura neraka menguar di belakangnya.
"Kau mempunyai banyak hal yang harus kau ceritakan padaku herbivore!" kata Hibari sarkastik.
"Hi-hiiieeee!"
.
.
.
"Jadi, kau itu boss dari Vongola, hm?" tanya Hibari.
"Ya… dan maaf juga telah merusak rumahmu… aku akan menyuruh kuli bangunan untuk memperbaikinya dan maaf juga telah menyeretmu ke dalam masalahku.." Tsunayoshi menundukkan wajahnya.
Saat ini mereka sedang berada didalam sebuah café. Abaikan tentang rumah Hibari karena pemiliknya sendiri acuh tak acuh. Café ini cukup sepi bahkan hanya ada mereka berdua didalamnya. Yah, untuk hal itu berterima kasihlah pada aura Hibari.
"Hei, apakah Hibari-"
Trilililit~. Handphone Tsunayoshi berdering. Tertulis nama Gokudera di kontaknya. Segera, Tsunayoshi mengangkatnya.
"Halo Gokudera-kun…" sapa Tsunayoshi.
"Juudaime, kita mendapatkan hasilnya!" jawab Gokudera disebrang sana.
"Oh ya?! Apa yang kau dapat?" Tsunayoshi bersyukur dalam hati.
"Akan segera kukirim data-data tentang pria itu. Dan ia ternyata lahir di kota Biei." Kata Gokudera.
"EH?! Itu jauh dari Kyushu'kan?! Kenapa kau bisa tahu?!" wajar saja jika Tsunayoshi terkejut.
"Yahh, ini berkat si Yakyuu-baka itu Juudaime…" Gokudera menghela napas.
"Oke, kirimkan data secepat mungkin."
"Ya…"
.
.
"Eheheh… tuhkan? Instingku selalu benar!" Yamamoto tertawa ringan.
"Hhh… iya…" jawab Gokudera sembari mengirimkan data-data tadi padi Tsunayoshi melalui e-mail.
Gokudera dan Yamamoto sekarang berada di perfektur Sapporo atau lebih tepatnya mereka sekarang berada di kota Furano. Mereka tiba di Furano setelah menyelidiki di kota Biei dan belum menemukan hasil yang cukup memuaskan. Karena lapar, akhirnya sekarang mereka berakhir disebuah tempat makan kecil di pinggir jalan yang menjual ramen.
"Gokudera… kita cari penginapan ya? Sudah jam sepuluh malam…" kata Yamamoto sembari melihat jam tangannya.
"Ya, besok kita akan pulang pagi-pagi..." kata Gokudera tanpa menoleh kepada Yamamoto.
"Gokudera~ nanti kita sekamar ya?~" goda Yamamoto "Biar biayanya murah…"
"Bayar sendiri-sendiri! Lagipila aku tak sudi sekamar denganmu baka!" semprot Gokudera.
.
.
Di Namimori, Tsunayoshi sekarang sedang memeriksa data-data dari Gokudera di markasnya bersama Hibari. Hibari juga ikut karena Tsunayoshi yang memintanya. Yah, Hibari sendiri tidak keberatan sih, toh rumahnya juga setengah hancur karena telah menjadi medang perang. Lagipula, Hibari berpikir bahwa setelah ini akan ada hal yang bisa menarik keluar instingnya.
"Hibari-san, kau tahu Schizophrenia?" tanya Tsunayoshi yang masih memperhatikan laptopnya.
"Schizoprenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan atau lebih tepatnya psikosis, halusinasi, khayalan, pikiran yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial." Jelas Hibari. "Atau lebih tepatnya gangguan karena khayalannya menjadi nyata."
Tsunayoshi yang sedari tadi duduk diam sambil mengutak-atik laptopnya langsung melihat kearah Hibari yang berada disampingnya.
"Waaahhh.. hebat…" komentar kagum Tsunayoshi.
"Memangnya ada apa dengan hal itu, hm?" sekarang Hibari yang bertanya.
"Lihat…" Tsunayoshi menggeser laptopnya agar bisa dilihat oleh Hibari. "Lihat ini, data-datanya menunjukkan bahwa pria itu mengalami halusinasi dan kemungkinan besar bahwa itu adalah Schizophrenia…"
"Yang mana? Yang asli atau yang copycat, hm?" tanya Hibari sembari membuka tas ranselnya dan mengeluarkan laptop hitamnya.
"Co-copycat?! Pelakunya ada dua?!" Tsunayoshi sekali lagi terkejut.
"Apa kau tak tahu, huh? Tak kusangka mafia gelap seperti Vongola tak mengetahuinya" jawab Hibari sarkastik. "Aku punya datanya yang baru saja kuhack siang tadi."
"Jadi kau ini benar-benar detektif, heh?" Tsunayoshi mengangkat alisnya.
"Hn," jawab Hibari singkat. "Ini, lihatlah…"
Tsunayoshi kemudian melihat kearah layar laptop Hibari. Disana nampak foto seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan rambut cokelat muda dan bermata biru. Disebelah foto tersebut terdapat biodata tentang pemuda itu tetapi anehnya, tak ada nama pemuda itu. Hanya ada tanggal lahir, kota asal, dan jenis kelamin.
"Jadi dia copycatnya?" tanya Tsunayoshi.
"Hn," jawab Hibari.
"Darimana kau tahu?" Tsunayoshi sekarang memandang Hibari.
"Dari beberapa barang bukti yang hanya ditinggalkan oleh sang copycat…" kata Hibari. "Tahu obat penghilang rasa sakit berbentuk serbuk, hm?"
"Ah, iya… tadi siang aku ke lokasi kejadian dan menemukan serbuk itu…" kata Tsunayoshi. "Memang itu untuk apa?"
"Sepertinya sang copycat sebenarnya menderita suatu penyakit." Jawab Hibari sembari mengutak-atik laptopnya.
"Dan mungkin motifnya adalah balas dendam kepada beberapa orang… kemudian ia memanfaatkan berita pembunuhan itu…" Tsunayoshi nampak menganalisa. " Seperti novel berjudul ABC Murder karya Agatha Christie"
"Wao… kau suka membaca buku seperti itu, huh?" ejek Hibari.
"Tidak… tapi salah satu guardianku suka membaca novel-novel semacam itu, secara tidak langsung aku tahu isinya." Jawab Tsunayoshi. "Hei Hibari-san…"
"Hn?"
"Maukah kau bekerja untuk Vongola?" tanya Tsunayoshi.
"Tidak." Jawab Hibari tegas sembari mengetik. "Aku tak suka terikat…"
"Baiklah, kuberi kau penawaran. Aku akan memfasilitasi SEMUA yang kau butuhkan dan kita akan bekerja sama menangkap pria itu…" kata Tsunayoshi.
"Baiklah…" jawab Hibari. "Ini akan jadi menarik."
"Benarkah? Syukurlah… terima kasih, Hibari-san…" kata Tsunayoshi sembari tersenyum.
.
.
.
Seorang pria setengah baya berambut hitam cepak tengah mengasah sebuah pisau. Disampingnya terdapat banyak senjata api maupun senjata tajam yang berderet rapi. Sang pria kemudian menoleh ke samping kirinya.
"Hei, apa kau yakin aku harus membunuh orang lagi?" tanyanya pada sebuah ruang kosong disampingnya. "Yah, baiklah asal kau senang. Tapi jauh juga ya, harus ke Italy…"
.
.
.
Malam telah berganti menjadi pagi. Jam telah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh. Meskipun begitu, sepertinya seluruh pelayan di markas cabang ini telah melakukan tugasnya. Sang Juudaime sendiri masih terlelap dalam tidurnya. Dia capek. Begadang semalaman dengan Hibari membuatnya benar-benar lelah, padahal ini masih hari kamis yang berarti ia harus sekolah.
CKLEK.
Semenit kemudian pintu kamar Tsunayoshi terbuka. Nampak seorang pria dengan jas dan topi fedora berwarna hitam masuk ke kamar tersebut. Ia kemudian melihat wajah sang Juudaime dan kemudian melihat jam tangannya.
"Hhh… masih jam enam lebih, akan kubiarkan dia tidur sejam lagi…" kata pria tersebut sembari menaruh sebuah map.
"Mungkin pekerjaanmu memang terlalu berat melihat berapa usiamu…" pria itu membuka pintu dan akhirnya keluar dari kamar Tsunayoshi.
.
.
.
Sementara itu, dikamar tamu markas vongola nampak Hibari yang sudah terbangun sembari duduk di atas ranjangnya. Punggungnya ia sandarkan ditembok. Laptop-laptopnya sudah berada dipangkuannya. Sedetik kemudian ia terkejut dan langsung memindahkan laptopnya kemudian berjalan cepat kearah kamar Tsunayoshi.
BRAAAKK!
Pintu kamar Tsunayoshi terbuka dengan keras menyebabkan sang pemilik langsung terlonjak dari tidurnya.
"A-apa?! Serangan musuh?!" racau Tsunayoshi.
" Ayo kita ke Italy sekarang." Hibari menatap tajam Tsunayoshi.
.
.
.
TBC
Chap yang ini sudah lebih panjaangg~ update kilat 3 hariii~~
Untuk yang nunggu Its Tough, fic itu masih terlantar… Kai bahkan baru ngetik judul chapnya QAQ maafkan Kai m(_ _)m
Yah, apa boleh buat kan? ^^")a
Dimohon untuk review… ^^ dan kalau bisa apresiasikan perasaan Anda ketika baca fic ini…
Kai sangat terbuka dengan kritik dan saran ^^
Special thanks:
VandQ x Kazue Ichimaru x EstrellaNamikaze x Hikage Natsuhimiko x Nuruhimechan19
KAI
