MY WEDDING

.

ONESHOOT

.

Cast : Kai, Sehun, Jaehyun, Jaemin, Taeoh, etc

Tadinya udah mau hiatus sementara untuk nulis ff, tapi karena tadi malam baca ff dengan tema serupa seperti ini di wp ( cerita soal pernikahan ) dan endingnya menyedihkan, jadilah aku kepikiran lagi untuk ngetik ff dengan tema seperti ini. Yang ga suka karya aku tolong langsung klik close. Ga usah paksakan diri untuk membaca ya.

No edit.

Syakila8894

.

.

.

.

.

.

Sehun tak pernah menyangka di umurnya yang ke 22 tahun ini, ia sudah harus menghadapi beberapa hal yang membuatnya sempat berpikir kalau ia pasti tidak akan pernah beruntung. Bagaimana tidak, di umur 19 tahun, ia mendapati kekasihnya selingkuh dengan sahabat karibnya sendiri. Di usia 20 tahun, ia di lamar oleh salah seorang gebetannya, namun pernikahan mereka harus gagal karena sehari sebelum pernikahannya, seorang wanita datang padanya dan mengaku kalau ia sedang mengandung anak dari calon suaminya tersebut dan kandaslah impian Sehun untuk segera menikah. Di usia 21 tahun, orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang pengusaha muda, Sehun sih sudah pasrah saja karena ia yakin kali ini pun nasibnya akan sama seperti dahulu. Dan benar saja, tak lama berselang setelah keduanya tunangan, istri pengusaha itu datang dan mengamuk di depan rumah Sehun. Sehun dan keluarganya yang merasa malu dengan para tetangga segera memutuskan pertunangan itu dan langsung pindah tempat tinggal setelah itu.

Dan disinilah mereka sekarang, berada di kota Seoul, dengan kehidupan baru yang harus mereka jalani. Hingga kini di usia Sehun yang ke 22, lagi lagi ia harus menghadapi permintaan kedua orang tuanya.

"Eomma... tidak bisakah kita membicarakan hal yang lain saja." Sehun memijit keningnya, wajahnya terlihat begitu lesu, tak bergairah.

"Jangan mengalihkan pembicaraan Sehun, umurmu sudah 22 tahun, sudah pantas untuk menikah."

Sehun merasakan kepalanya semakin pusing, andai saja ia mempunyai saudara dan bukan anak tunggal pasti ini tak akan terjadi. Ibunya begitu terobsesi segera mendapatkan cucu. "Eomma... eomma tau kan beberapa tahun ini Sehun selalu gagal dalam menjalin hubungan, bagaimana kalau gagal lagi, eomma mau melihat Sehun dipermalukan lagi?"

Eomma Oh menatap prihatin pada putranya itu, "Itu karena kau yang terlalu kaku, makanya mereka menjauh darimu."

"Eomma, kenapa menyalahkanku..." Sehun merengut.

"Eomma tidak menyalahkanmu," bantah Eomma OH. "Ah sudahlah, jadi apa kau mau kalau eomma menjodohkanmu lagi?"

"Eomma... sudah cukup..."

"Baiklah kali ini yang terakhir dan eomma yakin kalau kau dan dia akan benar benar menikah."

"Bagaimana kalau dia ternyata sudah menikah?" tanya Sehun.

"Eomma jamin kali ini dia benar benar single. Dulu memang salah eomma yang tidak menyelidiki lebih dulu latar belakang calon menantu eomma, tapi kali ini eomma sudah menyelidikinya, dia single."

"Bagaimana eomma bisa seyakin itu?" Sehun mencomot pizza yang tadi ia pesan dan memakannya.

"Tentu saja yakin, karena ia seorang duda."

"Uhuukkk..." Sehun tersedak pizza yang ia makan dan cepat cepat namja manis itu menyambar segelas air di atas meja dan meneguknya hingga tandas. "Duda?"

"Ya, tidak apa apa kan yang penting single. Nanti malam dia dan keluarganya akan kemari untuk melamarmu, kau sebaiknya bersiap siap."

"Eomma..."

"Tidak ada penolakan Oh Sehun..."

Kalau eommanya sudah mengatakan seperti itu, Sehun hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Yah, semoga saja orang yang dikatakan eommannya bukanlah orang yang seperti ia bayangkan saat ini.

Sehun tak tahu kenapa eommanya lagi lagi ribut saat ia keluar dari kamar hanya mengenakan kaos putih dan juga celana santainya.

"Eomma, tak perlu berlebihan seperti itu, belum tentu juga aku menerimanya dan dia menerimaku." Lama lama Sehun kesal juga dengan eommanya yang cerewet itu.

Pletakk

"Aww, eomma..."

"Tidak menerima apanya, eomma sudah menerima lamaran namja itu dan malam ini mereka datang kesini untuk menentukan tanggal pernikahan kalian."

"Mwo, eomma... kenapa tidak menceritakannya padaku." Sehun menepuk jidatnya sendiri.

"Kalau eomma menceritakannya padamu, kau pasti akan menolaknya. Sekarang ayo keluar dari kamarmu dan lihatlah calon suamimu."

"Eomma, aku juga seorang laki laki kalau kau lupa," Dengan malas malasan Sehun mengikuti langkah ibunya keluar dari kamar dan menuju ruang tamu tempat semuanya sudah berkumpul.

"Kenapa terdengar rame sekali, apa banyak yang datang?" Sehun tiba tiba merasa gugup sendiri mendengar celotehan ramai di luar.

"Tidak banyak kok, ayo cepat jalannya, jangan seperti perempuan seperti itu, kau namja kan. Cobalah terlihat gagah sedikit."

Sehun mendengus kesal, ibunya ini kenapa sering sekali mengatakan hal seperti itu padanya sih."

"Maaf kalau kalian lama menunggu, Sehunie sempat tertidur tadi."

"Eomma..." mata sipit Sehun inginnya sih melotot pada ibunya, tapi ia sadar diri kalau dirinya sekarang sedang diperhatikan, karena itu ia memaksakan senyumnya dan membungkuk di hadapan semua orang. "Maaf atas keterlambatan saya," ucapnya kaku.

"Cantik..." seorang yeoja separuh baya tersenyum ke arah Sehun yang dibalas Sehun dengan senyuman canggung, ia tak pernah suka saat ada orang yang memujinya cantik, tapi demi kesopanan, tak mungkin bukan ia marah marah di sini?

"Bagaimana, Jaehyunie suka?"

"Jae sih terserah apa saja?"

Sehun yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara dan ia langsung disambut senyuman manis dari namja tampan tersebut.

Senyuman di wajah Sehun memudar, apa ini calon suaminya, eomma bilang dia adalah seorang duda, tapi kenapa ia terlihat lebih muda dari dirinya, apakah namja ini menikah muda?

"Annyeong... eomma..."

"Uhukkk..." Sehun tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan itu. "Eomma?" ia membulatkan mulutnya.

"Iya sayang, ini Jaehyun, calon anakmu yang paling tua, nah yang duduk disampingnya itu Jaemin dan yang ada di pangkuan Jaemin itu si bungsu, Taeoh."

"Uhukkk..." Sekali lagi Sehun tersedak, ia melirik pada ibunya yang cengengesan di sampingnya dengan tatapan galak. "Kenapa eomma tidak bilang kalau dia punya anak?" bisiknya pelan.

"Yang penting kan single sayang." Balas eommanya tak kalah pelan.

Sehun hampir saja menjitak kepala ibunya, demi Tuhan bahkan yang yang paling tua saja sudah sebesar itu, bagaimana ayahnya?

"Berapa usiamu?" Sehun memberanikan diri bertanya pada si sulung yang entah siapa tadi namanya. Jaeho? Jaekhyung? Jaehyun? Ah ya, Jaehyun.

"Sembilan belas tahun, eomma..."

Spontan saja Sehun kembali terbatuk batuk, yang paling tua bahkan hanya selisih 3 tahun darinya, ngomong ngomong Sehun tidak sanggup lagi membayangkan seperti apa calon suaminya, apa setua ayahnya. Oh tidak, apa Sehun akan menikah dengan kakek kakek?

"Maaf telah membuat kalian menunggu cukup lama."

Suara itu, pasti dia orangnya, Sehun hanya terus menunduk, tak sanggup lagi kalau harus melihat seperti apa rupa orang yang akan menjadi suaminya nanti.

"Tidak apa sayang, apa bisnismu berjalan dengan lancar?"

"Berkat doa eomma dan anak anak, semuanya lancar."

"Nah, karena calon pengantinnya sudah ada di sini, apa tidak sebaiknya kita mulai menentukan tanggal pernikahan mereka?" Eomma Sehun terlihat bersemangat sekali, berbeda dengan Sehun yang terus terusan menunduk.

"Tentu saja, karena anakku sangat sibuk mengurus bisnisnya, ia jadi tidak punya banyak waktu untuk mengurus anak anaknya.

'Oh, dia berarti jarang berada di rumah, baguslah, aku bisa kabur nanti.' Pikir Sehun.

"Karena itu bagaimana kalau pernikahannya dipercepat menjadi seminggu lagi?"

"Eomma, itu terlalu cepat." Gumam Sehun pelan.

"Tak apa sayang, eomma juga setuju, lebih cepat lebih baik, soal tempat resepsi dan sebagainya serahkan saja pada kami, kami akan mengurusnya."

Oh rupanya calon mertuanya itu kaya, baguslah, Sehun bisa menghambur-hamburkan uang mereka nanti dan pasti setelah itu suami tuanya akan menceraikannya.

"Jadi apa kalian berdua setuju?"

Sehun sudah ingin menjawab tidak tapi calon suaminya lebih dulu mengatakan ya dan Sehun hanya bisa diam, pasrah dan menunggu akan seperti apa nantinya pernikahannya.

.

.

.

.

.

.

Selama seminggu menjelang pernikahan, Sehun hanya bisa terus terusan diam di dalam kamarnya, ia hanya sesekali keluar saat calon mertuanya datang dan mengajaknya memilih pakaian yang harus ia kenakan nanti, dan pada akhirnya juga bukan Sehun yang memilih tapi ibunya yang cerewet itu.

Dan kini hari ini, setelah acara yang membuat Sehun lelah jiwa dan raga, ia dan juga namja yang ia sendiri sudah lupa lagi siapa namanya itu telah resmi menikah. Ngomong ngomong sampai sekarang Sehun masih belum berani memandang suaminya dan ia masih belum tau setua apa suaminya itu, karena bahkan saat resepsi, Sehun menolak untuk bahkan sekedar melirik pada namja yang berdiri disampingnya itu, tapi melihat bagaimana tamu tamu yang datang yang katanya lebih banyak dihadiri rekan bisnis suaminya, Sehun jadi meringis sendiri, mereka bahkan lebih tua dari ayahnya.

"Sehuna, kau malam ini akan menginap di hotel ini bersama suamimu." Eomma Oh duduk disamping anaknya yang baru selesai mandi itu

"Eomma tidak ikut menginap?"

Pletakkk

"Ini malam pertama kalian mana bisa eomma ikut, bisa bisa nanti suamimu salah mengira kalau eommalah istrinya."

"Begitukan lebih baik," sahut Sehun.

"Ck, jangan bercanda Sehuna." Eomma Kim menepuk puncak kepala Sehun. "Eomma akan pulang, jangan lupa layani suamimu."

"Yak, eomma... aku bukan pelayan." Gerutu Sehun.

Cklek

"Ah, Jongina... kau sudah ingin istirahat, Sehunie sudah mandi tadi dan eomma juga mau pulang."

"Nde, sopir kami akan mengantar eomma pulang nanti."

"Ah, kau memang menantu yang baik, Sehuna eomma pulang dulu, dan ingat jangan membantah apa kata suamimu."

"Ya ya ya, eomma pulang saja sana." Sehun bahkan tidak menoleh saat ia mengatakan itu, namja itu masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Ck, dasar kau ini tidak ada manis manisnya dengan eomma. Jongina tolong jaga Sehun dengan baik, kalau perlu ikat saja dia agar tidak bisa kabur."

"Yak, eomma... aku bukan hewan."

Pekikan Sehun hanya ditimpali oleh suara pintu yang tertutup. Eomma OH sudah pergi dan kini hanya menyisakan mereka berdua. Suasana yang mendadak canggung, membuat Sehun bahkan enggan untuk beranjak dari duduknya di depan meja rias.

"Kau benar benar tidak menginginkan pernikahan ini ya." Terdengar suara langkah kaki mendekat dan suara ranjang yang sedikit berderit menandakan ada orang yang duduk disana.

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak menginginkan pernikahan ini bukan."

"Kenapa kau bisa menyimpulkan hal seperti itu?"

"Kau bahkan tidak pernah mau memandang wajahku sejak pertama kali kita bertemu."

"Bukan begitu..." Sehun cepat cepat menoleh. "Aku hanya..."

Plukk

Handuk yang tadi di pegang Sehun terjatuh ke lantai dan namja manis itu hanya bisa menganga saat melihat suaminya yang duduk santai di tepi ranjang.

Plakk

Sehun menampar pipinya sendiri untuk meyakinkan diri kalau yang ada di depannya ini adalah suaminya yang baru tadi ia nikahi. Kalau ya, Sehun sungguh merasa menyesal telah menyia nyiakan waktu seminggu ini untuk menangis di dalam kamar.

Namja itu tampan, dengan kulitnya yang tan, meski sekarang tampilannya agak berantakan dengan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka, rambut acak acakan dan juga dada bidangnya yang terlihat. Sehun menelan ludahnya, ini sih hot papa. Persetan dengan dia yang sudah punya tiga anak, Sehun rasanya ingin menjerit bahagia, suaminya tampan sekali.

"Kau kenapa? Benar benar merasa menyesal ya? Kalau kau tidak ingin menikah denganku, kau harusnya mengatakan di awal."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau tampan..."

"Eh..." Jongin mengernyitkan alisnya.

"Suamiku tampan..." Sehun menangkup kedua pipinya dengan tangannya.

"Kau bilang apa?" Jongin tak bisa mendengar karena Sehun yang berbicara amat pelan. "Kau ingin pulang ke rumah ibumu? Yah, belum terlalu terlambat sih, aku bisa menelpon sopirku dan..."

"Andwae..." Sehun menjerit dan melompat ke pangkuan Jongin. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Jongin dan menggelengkan kepalanya. "Jangan... nanti eomma marah... lagi pula..."

"Lagi pula apa?"

"Aku menerimamu kok sebagai suamiku." Ucap Sehun malu malu.

"Apa kau menerimaku karena aku kaya dan tampan?"

"Ish, kau narsis sekali." Sehun mencubit pundak Jongin.

"Lalu kalau bukan lalu apa lagi."

"Yah, awalnya aku memang tidak menyukai ide eomma untuk menikah denganmu, karena kau duda. Tapi karena kau tampan aku tidak keberatan." Sehun menjawab jujur.

"Jadi kalau aku sudah semakin tua nanti, aku tidak akan menyukaiku lagi?"

"Yah, kau semakin tua dan akupun juga begitu, lagi pula, memang ada yang akan menerima aku yang punya banyak anak." Sehun cemberut membayangkan hal itu.

"Kalau begitu, aku akan memberikanmu anak yang banyak agar kau tidak bisa lepas dariku."

"Memangnya kau masih kuat?" sindir Sehun.

"Hei jangan remehkan aku, meski umurku sudah 38 tahun, aku masih sanggup memberimu anak yang banyak, kau mau aku buktikan sekarang."

Sehun yang menyadari apa maksud Jongin, langsung memukul pundak namja itu. "Kau mesum..."

"Hei, mesum dengan istrimu sendiri bukan dosa kok. Ayo buat anak..."

"Kyaaa... mesuuummmm..."

.

.

.

.

.

.

END

Ini apa? absurd ? ga jelas? Ya aku ngetik sekedar iseng n buat senang senang aja...

Selamat liburan buat yang lagi liburan... mohon reviewnya ya.

For kak Juju Jongodult, Killa tunggu ff hadiah ultahnya, sama kek momma, Killa todongin bikinin ff satu satu. Hahahaha #plakk

Syakila8894