Halo, ini chapter duanya sudah di update yah^^ seneng deh ada yang me-review :D semoga di chapter ini aku bisa dapat review yang membangun lagi dari Para Readers. Oh iya, balasan review akan kutulis di bagian akhir cerita, jadi kalian yang sudah me-review tinggal melihat fic ini (lagi) dan lihat balasanku mehehe :3 Thanks bagi yang udah mereview: yowkid, attachan, Lily love snowdrop, Just Ana g login, dan least-normaliter! Mau review lagi disini? :) jadi langsung di baca saja dan klik review yang dibawah^^, terimakasiiih.

Disclaimer: Punya J. K. Rowling, tapi plot dan another characters yang gak ada di buku itu punyaku ;)

Warning: Gajelas, typo, rada OOC, alur terlalu cepat, dan keanehan lainnya.

Chapter. 2: An Agreement.

Kicauan Burung mulai terdengar menembus jendela Kamar Tidur Ketua Murid Putri. Sama sekali tidak memperdulikan hal itu, Hermione Granger masih bergelung dalam tempat tidurnya, berselimut sutra halus dan mendengkur pelan.

Jam kecil di samping tempat tidur Hermione sudah menunjukkan waktu pukul 07.30 pagi, yang berarti Hermione terlelap lebih lama 1 seperempat jam, karena biasanya ia bangun pukul 06.15. Tanpa disadari-nya, pintu Kamar Hermione terbuka dengan perlahan, menunjukkan kehadiran seorang lelaki tampan berambut pirang platinum dan mata kelabu yang sedang merencanakan sesuatu—

"KRIIIIIIING!" Suara bel alarm terdengar sangat—lebih dari sangat—sangat teramat lebih dari sangat—pokoknya sangat-sangat kencang, menggetarkan kedua gendang telinga Hermione Granger—yang sedang tertidur lelap.

Hermione Granger terloncat bagun dari tidur-nya—langsung terloncat bangun dan mengacungkan tongkat sihir, yang untunglah, selalu ia bawa tidur. Itu merupakan kebiasaannya setelah pengalaman mencari Horcrux. Gendang telinganya serasa mau meledak karena suara alarm yang sangat kencang itu.

Wajah Hermione tampak kaget dan masih linglung. Matanya merah, pipinya merah, rambutnya awut-awutan, bibirnya masih ternganga sedikit, pokoknya seperti lazimnya seseorang yang baru saja bangun dari tempat tidur karena mendengar hantaman Bom Atom. Kepalanya segera berputar, mecari siapakah biang kerok yang telah kurang ajar membangunkan tidur lelapnya.

Draco Malfoy terpingkal-pingkal di samping tempat tidur Hermione. Tangan kanannya memegang tongkat sihir, dan tangan kirinya memegang Jam yang memiliki corong seperti alat pembesar suara. Muka-nya merah karena terlalu banyak tertawa dan ia memegangi perutnya.

Hermione berdesis sangat marah, dan meledak. "WHAT THE HELL MALFOY! KAU-MENGGANGGU-TIDURKU! APA MAKSUDMU MENEROBOS KAMARKU BEGITU SAJA DAN MEMBANGUNKANKU DENGAN ALARM SIALAN ITU, HAH? AKU KAGET SETENGAH MATI, KUPIKIR VOLDEMORT BANGKIT KEMBALI, DAN PARA PELAHAP MAU TMELANCARKAN KUTUKAN PADAKU! KAU. HARUS. BERTANGGUNG. JAWAB!" Hermione berkata dengan sengit, meludahkan kata-kata tersebut semeter di depan wajah Draco. Draco bangun dengan tenang.

Draco yang masih tersenyum puas mendengus gembira. "Hey.. hey, easy, Granger. Asal kau tahu, Granger, McGonagall menyuruh kita berpatroli jam 07.00 pagi hari ini, untuk mengetahui siapa saja yang melanggar jam malam, dan ahhh, seperti yang kita tahu, kita terlambat setengah jam dari yang diperkirakan kita. Dan seperti yang kau tahu—kau masih terbaring tidur disini. Ouuuh—bukankah itu suatu teladan?"

Hermione masih marah. "Tetapi bukan dengan cara seperti ini! Apa kau tahu apa saja yang dapat kau timbulkan dari membangunkan seseorang dengan tiba-tiba dan mengagetkan? Orang itu bisa terkena serangan jantung, yang pertama. Kedua, orang itu bisa terkena gangguan saraf, dimana seluruh saraf dipaksa aktif mendadak, dan ketiga, orang itu dapat mati!"

"Wow, wow. Santai. Tapi ternyata kau sama sekali tidak merasakan dampak apa-apa bukan?" Hermione dengan tidak percaya menunjuk dirinya. "Yah iya, selain gangguan kecil seperti mata merah, rambut riap-riapan, dan rasa marah yang luar biasa. Tapi kuakui—kau merupakan hiburan. Bersyukurlah, karena tidak biasanya Mudblood dapat menyenangkan hati seorang Pangeran sepertiku. Kau mendapatkan kehormatan dariku, Granger," kata Draco—menyebalkan dan kalem.

Hermione memutar bola mata. "Apakah suatu kehormatan apabila aku menjadi Hiburan Untuk Yang Tersayang Ferret? Cukup sudah basa-basinya, kita akan terlambat. Aku mau mandi!" ujar Hermione, lalu secepat kilat ia segera berlari ke kamar mandi setelah mengambil handuknya. Draco terdiam sesaat. Lalu ia tersadar.

"SIALAN! Aku didahuluinya memakai kamar mandi!" batinnya, dan ia juga ikut melesat ke kamar mandi.

-OoOoOoOoOo-

"Maaf Professor McGonagall, sepertinya saya terlambat berpatroli pelanggaran jam malam. Saya—eh—saya.." Hermione tak bisa memberikan alasan. Ia terengah-engah, karena berlari sampai ke tingkat bawah, dan terlalu lelah untuk berpikir alasan.

Professor McGonagall menatapnya heran. "Patroli, Granger? Patroli Pelanggaran Jam Malam hanya dijalankan oleh Guru-Guru dan Mr. Filch, sudah tertera di buku tugas Ketua Murid, dan baru saja selesai 30 menit lalu, apakah kau tidak menyadarinya?"

Hermione mengerutkan kening. "T—tapi, M—Malfoy menyuruh saya… dan jam saya…" Hermione tergagap. McGonagall mentapnya dengan mata memicing.

"Begini, Miss Granger, kusarankan kau mencari kesibukan lain selain menggerecokiku. Aku akan memastikan Para Peri Rumah telah membuat makanan untuk sarapan." Kata McGonagall, dan setelah tersenyum tipis, ia berjalan kea rah dapur Hogwarts.

Hermione menatap McGonagall yang menjauh dengan lelah dan tidak berdaya. Lalu ia menyadari satu hal. Ia telah dibohongi oleh Ferret Sialan itu, dan… Draco Malfoy memang betul-betul Brengsek.

-OoOoOoOo-

Draco bersiul-siul pelan sambil berjalan menuju Aula Besar. Waktu telah menunjukkan pukul 08.00, dan keriuhan anak-anak yang sedang sarapan terdengar sampai ke koridor. Suasana hatinya sedang cerah hari ini, karena ia telah berhasil dua kali mengelabui si Ketua Murid Putri.

Setelah Draco memberitahukan Patroli Bohongan itu, Hermione kembali setelah melalui 4 tingkat (Asrama Ketua Murid memang berada di tingkat 5) dan menggeram marah kepadanya seperti singa betina. Rambutnya awut-awutan (untuk kedua kalinya dalam hari ini) dan dadanya naik turun terengah-engah. Setelah adu mulut dahsyat dengan Draco (dan kalah) ia segera berlari menuju Kamar-nya dan melanjutkan tidur.

Dan lihatlah, sampai sekarang si Kerbau itu belum saja bangun, yang akan membuatnya makin puas. Tetapi betapa terkejutnya Draco ketika menjumpai Hermione di Aula Besar. Ia sedang makan dengan lahapnya di meja Ravenclaw (sekarang memang siswa dari asrama manapun boleh duduk dimanapun) dan duduk di sebelah Luna dan Neville.

Dilihatnya Hermione menoleh dan tersenyum penuh kemenangan. Tangannya melambai-lambai menjengkelkan. Draco segera membuang muka dan berjalan dengan dagu diangkat menuju meja Slytherin.

Hermione kembali melanjutkan obrolan seru dengan Luna.

"Aku sudah mengeksplorasi tentang apa itu Blibbering Humdinger, Luna, tetapi kau lihat, tidak ada riset apapun yang berhasil membuktikan keberadaannya," desah Hermione tenang, memotong-motong kalkunnya.

"Ada kok! Daddy menunjukkannya kepadaku kemarin. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat seperti apa Blibbering Humdinger itu! Bentuknya seperti Pixie, namun sorotan matanya lebih ramah dan sayapnya bisa berubah warna bila ia dalam emosi tertentu. Dan, Blibbering Humdinger hanya bisa dilihat oleh seseorang yang jatuh cinta, seperti aku, misalnya," Luna tanpa sadar berkata seperti itu. Hermione terbelalak. Neville tersedak Steak-nya, dan Padma Patil melotot tak percaya.

"Kau, Luna, jatuh cinta?" Padma berkata geli. Luna melirik tenang dan merona. (Hal ini tidak biasa, karena Luna hamper tidak menunjukkan ekspresi lain selain ekspresi tenangnya).

Hermione melirik Neville, dan melihat pandangan tolong-tanyakan-siapa-yang-disukainya-kalau-tidak-aku-akan-mati! Hermione berdeham.

"Jadi, Luna.. siapa lelaki beruntung yang mendapatkan cintamu?" kata Hermione dramatis. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak terkikik.

"Tentu saja aku tidak bisa menceritakannya padamu disini. Apalagi ada dia, dia, dan dia, yang sedang menguping," kata Luna tenang menunjuk Dean, Seamus, dan Neville.

Seamus melotot. "Dari mana kautahu aku menguping?"

"Wrackspurt di dekat telingamu semakin banyak," gumam Luna sederhana, dan Seamus dengan panic mengibas-ngibas sana-sini, membuat Hermione dan Padma tertawa.

-OoOoOoOo-

Hermione duduk dengan nyaman di sofa coklat yang menghadap perapian dengan nyaman. Ia mengaduk-aduk susu coklat-nya yang tadi telah dibuatnya di pantry kecil di Asrama Ketua Murid, dan menyesapnya pelan-pelan. Sampai terdengar suara seseorang yang sangat familier.

"Bezoar Beracun," katanya, dan pintu Asrama Ketua Murid terbuka, menampakkan kepala pirang platina milik Draco—Busuk—Malfoy. Hermione agak puas, karena ia berhasil meminta McGonagall mengganti kata kunci yang menyebalkan itu.

"Hai, Granger. Tak kusangka kau sampai duluan."

"Dasar penganggu," batin Hermione sebal. "Hei, Malfoy. Kuharap kau tak menggangguku."

Draco tersenyum nakal. "Ah—sayangnya, hal itu tak mungkin tak aku lakukan…" desahnya, dan bersamaan dengan itu, ia menghempaskan tubuhnya disamping Hermione.

"Sofaku! Sumpah Malfoy, kau jorok sekali, mandi dulu sana! Kau habis latihan Quidditch, dan berkeringat, jadi tolong sopanlah agar tidak mengotori sofa nyamanku!" jerit Hermione.

"Sofamu? Sejak kapan kau mengklaim-nya?" jawab Draco santai, tapi ia segera membuka jubah Quidditch-nya. Hermione tidak tahu, bahwa sebenarnya Draco mati-matian menyembunyikan malu karena telah diejek JOROK, dua suku kata yang ia benci.

"Suka-suka dong. Dan mengapa kau membuka bajumu disi—" kata Hermione, terpotong ketika ia melihat tubuh di dalam baju Draco.

Mau tak mau ia membelalakan matanya kagum. Siapa yang tidak kagum ketika melihat tubuh Draco yang—aih—eksotis dan berkeringat. Hermione menghitung otot perut Draco. 1..2..3..4..5..6! Astaga. Draco Malfoy six pack? Sejak kapan? Tubuh pucatnya tampak atletis dan terbentuk, berkat latihan meregangkan otot yang rutin ia lakukan. Draco menyeringai puas.

"Mau sampai kapan kau melihat-ku seperti itu? Lebih baik kau foto saja tubuhku ini, lalu jadikan poster di kamarmu agar lebih tahan lama. Selamat datang di Draco Malfoy Fans Club."

"Wait tunggu. Berhenti menatapnya Hermione!" seru akal sehat-nya. "Aku tidak kagum, Malfoy. Aku hanya tak menyangka—well—bahwa err—tubuhmu—err—terbentuk, seperti itu. Selama ini kan aku megiramu kerempeng yang hanya tulang berbalut kulit," kata Hermione, mencoba dingin dan tak tertarik, tapi kedengarannya kurang meyakinkan.

"Haa, benarkah seperti itu, Hermione? Bukankah tubuhku memang seksi..?" desah Draco, mendekatkan wajahnya ke Hermione yang terkejut dan mendesah. Hermione merogoh sakunya dengan panic, dan tiba-tiba—SSSH! Terdengar suara gas yang disemprot.

"Jauhkan benda itu dariku!" dengus Draco jijik, sambil menjauhkan mukanya dari Hermione. Hermione tengah menyemprot muka-nya dengan parfum Muggle untuk wanita.

"Pertama, itu untuk ketidak-sopananmu telah membuka baju di depan wanita. Dan kedua karena ketidak-sopananmu mendekatkan wajahmu seenaknya ke depan wajahku," kata Hermione tenag, menyelipkan parfum ke balik jubahnya. "Dan, Malfoy. Aku ingin kita bicara sebelum kau tidur. Jadi, cepat mandi!" kata Hermione seraya memantrai Draco yang kakinya tiba-tiba sudah melesat sendiri ke kamar mandi. Hermione menghembuskan napasnya jengkel.

-OoOoOoOoOo-

Hermione masih berdebar mengingat kedekatan wajahnya dan wajah Malfoy, yang hanya berjarak kurang dari setengah meter, dan ia merona merah. Setelah mendengar pintu kamar mandi dibuka, Hermione segera memasang mimik datarnya, Hermione melanjutkan membacanya.

"Lama sekali, Malfoy," katanya monoton, tetapi cukup terdengar ke seberang ruangan.

"Ah—menunggu saat-saat gemilang berbicara denganku, eh?"

"Hmph, kau harus menghilangkan sifat PD-mu, Malfoy. Duduklah di depanku, dan aku ingin meluruskan satu atau dua hal," jelasnya, tetap memasang mimik tenang. Padahal dalam hatinya ia berdebar kencang, sekaligus merasa cemas akan omongannya yang akan dibicarakan.

"Jadi?" kata Malfoy cuek, masih menggosok rambutnya dengan handuk.

"Duduk."

Draco duduk. Malam ini ia memakai celana boxer hijau zamrud dan kaos tanpa lengan putih yang membuatnya seperti cowo keren penjaga penjaga pantai.

"Jadi?" ulangnya.

Hermione berdeham. "Begini, aku ingin berbicara denganmu tiga hal—"

"Katamu, satu atau dua hal, Granger."

"Bodoh. Itu hanya perumpamaan! Dan jangan menginterupsi!"

Draco berpura-pura mengunci mulut, dan membuang kuncinya jauh-jauh dengan muka badut. Hermione menahan diri agar tidak tertawa.

"Pertama, kau tahu perseteruan antar bangsa penyihir sudah mereda, dan Voldemort sudah jatuh bersama para pengikutnya (Hermione menekankan kata Pengikutnya, Draco mengangkat alis.) Jadi tak ada alasan untuk kau mendiskriminasikan perlakuan terhadap Darah Lumpur, Darah Murni, Darah Campuran, ataupun Squib. Jadi, aku tidak mau kau mengataiku Darah Lumpur ayau Mudblood lagi, Malfoy, yang lain boleh, kecuali itu," jelas Hermione panjang-lebar dengan satu tarikan napas.

"Kedua, kau dan aku sama-sama partner. Kita Ketua Murid, dan harus membangun kerja sama. Jadi tolonglah—mulai membentuk kerjasama yang baik denganku, karena lama-lama aku lelah dengan perseteruan kita. Tapi bolehlah sekali dua kali untuk hiburan (Draco menaikkan alisnya lebih tinggi lagi, Hermione memutar bola mata) dan tidak boleh kita memperlakukan satu sama lain musuh. Atau bentuk yang lain," tambahnya.

"Dan ketiga, mulai detik ini, aku akan memanggilmu Draco," Hermione berjengit sedikit. "Dan kau. Akan. Memanggilku. Hermione," tutupnya. Muka Hermione tampak dihiasi rona merah—sedikit. Lalu ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perjanjian.

Draco tercengang. Tunggu! Apa maksud peraturan ketiga? Yang pertama dan kedua, masih masuk akal dan yah—bisa sedikit ditoleransi lah, tetapi yang ketiga? Memanggilnya Hermione? Benar-benar tak habis pikir. Dan, Draco juga agak merona merah.

"Oke, oke begini. Aku tidak keberatan dengan peraturan satu dan dua, meskipun agak berat melakukannya," Hermione mendelik. " Tapi apa-apaan tuh peraturan nomor tiga? Apa aku tak salah dengar? Benar-benar lucu," dengus Draco.

"Hei! Jangan salahkan aku. Peraturan nomor tiga itu diatur oleh Slughorn. Meskipun aku tidak suka juga, well—tak ada ruginya juga kan?" sergah Hermione. Mukanya memerah lagi.

"Okay, okay. Tapi jangan salahkan aku kalau satu-dua kali aku melanggarnya, Grang—ewh—Hermione," katanya berat, dan menjabat tangan Hermione. Hermione tersenyum puas. Setidaknya ini merupakan langkah awal memperbaikin hubungannya dengan Draco.

-OoOoOoOo-

Hari-hari berlalu dengan cepat setelah perjanjian antar Draco dan Hermione, semuanya berjalan lancar kendatipun mereka masih sering bertengkar tentang beberapa masalah.

Hogwarts sempat geger ketika mereka mengetahui Kedua Ketua Murid mulai 'mesra' ditandai dengan Hermione yang memanggil nama depan Draco dan Draco yang memanggil nama depan Hermione. Yah, untung saja kegegeran itu hanya berlangsung selama 2 hari, setelah mereka tahu alasan sebenarnya.

"Well, Draco. Kau benar-benar membuang waktu kita. Kita terlambat 30 menit," kata Hermione memutar bola matanya. Seminggu telah berlalu dan saat ini telah memasuki bulan Desember yang bersalju, dan mereka berdua akan melakukan patroli di Hogsmeade.

"Kau mau aku mati kedinginan? Aku kan harus memilih pakaian dengan tepat."

"Tapi sadarlah, kau menghabiskan 30 menit dari tadi! Ayo cepat!" desis Hermione, tanpa sadar menarik tangan Draco menuju keluar kastil tanpa ba-bi-bu lagi. Draco merasakan mukanya memanas. Hermione yang segera merasakan perubahan aura segera melihat tangan Draco dan tangannya yang masih bertaut dan melepaskannya cepat.

"Maaf," katanya membuang muka, takut warna merah yang menjalari mukanya terlihat. Draco mengangguk dengan seringaian di wajahnya dan mereka kembali berjalan.

-OoOoOoOo-

"Sejauh ini tak ada apa-apa. Hanya beberapa anak kelas 5 sedang membuat keonaran dengan Kembang Api Fillibusters meledak dalam baju," lapor Draco, menarik bangku dan duduk disamping Hermione di Three Broomstick.

Bau Butterbeer yang hangat dan menyenangkan menguar di udara, dan udara dalam Kafe Minum ini hangat sekali. Hermione telah memesan Butterbeer lebih dulu, dan menghangatkan jari-jarinya. Bibirnya tampak biru. Ia agak gemetaran.

"Hei, Hermione. Kau tak apa-apa?" Tanya Draco, matanya agak memicing. Bahaya juga bila Hermione pingsan di depannya, nanti dia dituduh melancarkan mantra bius.

"T—tidak. A—aku hanya kedinginan," gumam Hermione gemetaran. Tanpa sadar memindahkan tangannya ke leher yang tidak dilindungi syal.

"Napasmu masih mengeluarkan uap. Dan astaga, Hermione, kau tak membawa syal? Sinting," Draco berkata-kata padanya, tetapi Hermione tidak berkomentar apa-apa, malah gemetarannya makin tak terkendali.

Draco menghembuskan napas dan membuang muka. "Pakai syalku."

Hermione membelalakkan matanya, meskipun masih dalam keadaan kedinginan. Ia menerima syal putih sutra itu, dan mengalungkan nya di leher. Bau "Draco" yaitu bau mint bercampur dengan bau kayu jati yang enak terciumnya.

"T—t—terima kasihhh," desah Hermione singkat, lalu menyesap Butterbeer-nya.

"Jangan GR duluan. Aku hanya takut kau nanti akan jatuh pingsan dan merepotkanku," gumam Draco dingin, walaupun diam-diam ia merasa gugup dan malu juga.

Tiba-tiba Hermione berdiri. "Ada yang harus kulakukan. Kau, temui aku di Shrieking Shack satu jam lagi. Dan sekali lagi, terimakasih," kata Hermione, lalu memberikan seyumannya (untuk pertama kali) kepada Draco. Muka Draco memanas.

-OoOoOoOo-

Draco telah menunggu Hermione di depan Shrieking Shack dan ia masih belum menunjukkan batang hidungnya. Draco mulai merasa kesal dan curiga. Jangan-jangan Hermione berusaha mengelabui-nya? Ini sudah lewat 15 menit dari yang dijanjikannya. Suhu udara musim dingin awal Bulan Desember semakin rendah, dan butiran salju mulai turun. Draco menggigil. Ia harus kembali cepat-cepat ke kastil kalau begini.

"Tapi, bagaimana dengan Hermione?" Draco bertanya dalam hati, tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya saat tiba-tiba matanya menangkap warna yang janggal di tengah putihnya salju. Draco menoleh ke kiri dan kanan, melihat apakah ada orang lain. Jalanan Hogsmeade sudah mulai sepi dari 30 menit yang lalu, dan Draco berjalan dengan ragu ke "sesuatu yang janggal" itu.

Dari dekat, Draco dapat melihat dengan jelas "Seseuatu itu". Seorang perempuan memakai mantel ungu gelap, syal putih, sarung tangan putih gading, celana hangat hitam, tutup kepala berwarna ungu-perak dan rambut cokelat madu yang menutupi wajahnya sedang berbaring telungkup tanpa menunjukkan tanda-tanda hidup. Draco merasa seperti tersambar petir. Ia segera berlari kearah perempuan yang familier itu, dan…

"HERMIONE!" serunya panik, membalikkan badan perempuan itu, dan membopongnya sambil berlari ke arah kastil dan mencari pertolongan untuk perempuan yang sudah tidak bergerak dalam gendongan Draco tersebut.

-OoOoOoOo-

"Hipotermia, Kurang Tidur, Keletihan Syaraf tingkat Medium, dan Suhu Tubuh yang tidak dapat beradaptasi dengan baik. Astaga, Mr. Malfoy, apakah kau tidak dapat melihat penyakit yang ia alami?" Sang Matron Hogwarts—Madam Pomfrey menatapnya dengan tidak percaya. Ia menggeleng-geleng.

"Tetapi ia memang tidak menunjukkan keberadaan suatu penyakit, Madam Pomfrey," kilah Draco. Ia merasa agak bersalah dan lalai juga, tetapi hei! Hermione memang masih baik-baik saja kok paginya.

"Apakah kau yakin? Biasanya kurang tidur ditunjukkan dengan pucatnya seseorang, adanya lingkaran hitam dibawah mata, dan bibir agak memerah. Sedangkan Keletihan Syaraf ditunjukkan dengan banyaknya seseorang terhuyung dan tampak kehilangan keseimbangan. Apakah kau yakin Ms. Granger tidak terhuyung atau tampak letih?"

Draco terdiam. Memang benar Hermione Granger menampakkan 'gejala' itu semua.

"Baiklah. Ini daftar ramuan yang harus kau minumkan untuk Hermione. Semuanya ada 5—" Draco terbelalak tetapi Madam Pomfrey melanjutkannya. "Ia akan sembuh dalam waktu 3 hari, dan kuharap kau mau menjaganya, kan Mr. Malfoy? Secara tak langsung, ini tanggung jawab mu juga" Draco Malfoy mengangguk tanpa daya.

-OoOoOoOo-

Hermione membuka kelopak matanya yang terasa berat pelan-pelan. Matanya yang masih agak berkunang-kungan tampak melihat nuansa putih. Apakah ia masih terbaring di salju? Ingatan terakhirnya adalah setelah ia memastikan Luna sudah bersama Neville, tiba-tiba tubuhnya yang memang sudah menggigil ambruk ke tanah dan ia merasa kehilangan kesadaran.

Tidak, tidak mungkin. Udaranya tidak sehangat ini. Hermione memfokuskan pandangannya, dan semuanya sudah tampak jelas sekarang. Tampak rambut seorang yang berwarna pirang platinum terbaring dibawah telapak tangannya. Draco Malfoy.

"D—Dra—Draco.." panggilnya parau. Suaranya terdengar sangat kering dan tercekik.

Draco mengangkat kepalanya. Hermione Granger sudah bangun. Hermione menunjuk-nunjuk air putih sambil berusaha berbicara. Draco menghembuskan napas dan mengambilkannya.

"Minum pelan-pelan, Granger," katanya dingin sambil mengangkat kepala Hermione.

Hermione berjengit sedikit saat air putih itu melalui kerongkongannya, tetapi, sekarang ia sudah dapat berbicara dengan baik lagi.

"H—hari apa ini?" tnya Hermione.

"Selasa. Sudah dua hari kau tidak sadar. Dan kuakui kau sangat bodoh Granger," kata Draco, dingin dan tajam. Masih menolak memanggilnya dengan nama depan.

"Oh, berhentilah merajuk Draco. Aku hanya berusaha menjodohkan Neville dan Luna, apa itu salah?" Tanya Hermione tidak logis. Ketika melihat pandangan Draco ia segera melanjutkan. "Ya kuakui itu agak salah, keluar di musim dingin dengan keadaan tidak fit, tapi kan Madam Puddifoot tidak terlalu jauh dari Three Broomstick—oke oke, cukup jauh—"

Hermione tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu Draco mendesis marah.

"Tidak bodoh, begitu? Oh Hermione, tahukah berapa ramuan yang harus kucecoki setiap hari? Lima! Dan tahukah kau penyakit yang Madam Pomfrey sebutkan yang ada pada dalam dirimu? Empat! Dan itu. Diakibatkan. Dari. Kau. Yang. Menjadikan. Dirimu. Mak. Comblang. Dadakan!"

Hermione tertawa letih. "Maaf, Draco."

"Dan kau memotong waktu belajarku 2 hari. Dan waktu tidurku, 2 malam," lanjut Draco, dia masih marah.

Baru Hermione merasa bersalah. "Astaga! Maaf, Draco. Aku tak menyangka kau sampai harus merelakan waktu belajarmu. Begini saja, aku akan mengerjakan semua PR mu, tapi tolong, jangan marah dan menganggapku musuh," pinta Hermione, matanya agak berkaca-kaca.

Draco melunak. "Kau berlebihan. Ya, aku marah. Tapi menganggapmu mu musuh? Ada-ada saja," dengusnya. Draco mengambil sepotong kentang goring.

Entah mengapa, Hermione merasa hatinya menghangat.

"Itu kiriman dari teman-temanmu," katanya menunjukkan tumpukan yang cukup besar disamping tempat tidur. "Dan kiriman dari orangtuamu."

"Tolong ambilkan dari orangtuaku."

Draco menyodorkan sebuah kotak yang ditutup kertas kado. Mum dan Dad memberikan kartu ucapan 'Get Well Really Soon'. Hermione tersenyum hangat. Ia membuka kotaknya.

Ternyata sebuah Walkman terkejut.

"Astaga, Walkman kan mahal sekali.." gumamnya. ( BM: Walkman pas jaman itu kan barang langka, jadi harganya pasti mahal :P)

"Apa itu?" Draco mencondongkan badannya tertarik.

"Walkman. Barang Muggle. Kau tak akan tertarik," jawab Hermione singkat.

"Hei, siapa bilang? Coba perlihatkan bagaimana cara kerjanya?"

Dengan tidak sabar, Hermione menjelaskannya. "Ini seperti semacam Radio, tetapi lagunya kita yang memiliki sendiri. Dan energinya berasal dari baterai, bukan listrik maupun elektromagnetik," jelas Hermione. Kerutan di dahi Draco belum hilang.

"Begini cara memakainya," kata Hermione, menunjukkan tombol on/off dan mengarahkannya ke 'on', dan seketika itu walkman menyala dan menampilkan menu tampilan. Draco terlonjak mundur.

"Apakah berbahaya?"

Hermione terkikik. "Tentu saja tidak. Sini, dengarkan bersamaku," katanya menyumpalkan headset yang ada dalam kotak ke telinga Draco lalu memilih lagu.

"Ini penyanyi Muggle favoritku, Mariah Carrey. Dan ini lagunya, My All," gumam Hermione. Dan mereka mulai mendengarkan dalam kesunyian yang tidak biasa, tanpa sadar sepasang mata Hijau Emerald menatap mereka dengan geli.

Harry Potter memandang mereka dan bergumam, "Jadi inilah alasan mengapa Hermione menjadi lebih ceria." Lalu tak berapa lama, ia berbalik dan tersenyum tenang.

-OoOoOoOo-

A/N: Setelah aku baca ulang jadi rada-rada parno ceritaku gaje-_- eh emang gaje yaaa, aku harap kalian masih mau mereview dan setia menunggu chapter selanjutnya :'( aku mohon banget di revieeew, karena review itu sangat membangun semangat nulis para Author disini loh ;) nah, langsung aku balas review yang sebelum-sebelumnya:

yowkid: Terima Kasih! Iya.. aku memang sengaja memperbanyak perdebatan di antara mereka biar seru(?) Terima Kasih atas ketelitiannya, kuharap typo yang di chapter ini lebih berkurang (atau lebih bagus gaada samsek) dibandingkan chapter selanjtunya. Ini sudah update yaa ;) terima kasih reviewnya, mau mereview lagi?^^

attachan: Terima kasih atas tanggapannyaa, ini sudah diupdate. Mau review lagi?^^

Lily love snowdrop: Iyaa, Draco sama Hermione emang benar-benar keras kepala XD tapi disitulah letak ke-Sweet-an mereka :P terima kasih atas reviewnya, mau mereview lagi?^^

Just Ana g login: Terima kasih atas tanggapan dan reviewnya! Iya, ini sudah ku update :) mau mereview lagi?^^

least-normaliter: Terima kasih atas review yang sudah membangun! Iyaa, chapter sebelumnya memang masih pembukaan, aku agak kurang mahir menulis di pembukaan, aku harap konflik di chapter ini sudah lebih banyak dan ceritanya gak pasaran, amin. Kalau tentang Ferret dsb, kan Hermione di chapter sebelumnya belum terlalu menyadari fisik Draco karena ia masih berduka atas kehilangannya, jadi kata-kata seperti itu belum terlalu banyak :D Terima kasih reviewnya, mau mereview lagi?^^

Akhirnyaaa. Aku baru sadar Title cerita ini kurang menarik T_T RnR yaa? :"