Author's note: Sebenernya saya kurang suka sama hasil akhir dari chapter ini, tapi saya mau bilang apa? Udah gregetan buat nulis tapi mau dipikir berkali-kali juga hasilnya kayak begini. Saya juga gak mau nulis ulang karena itu terlalu ribet (maaf author tidak bisa memproses hal yang terlalu ribet) jadi yah...hasilnya seperti ini deh...Mungkin bakal banyak yang gak seneng, tapi yah mohon maaf sebesar-besarnya.

Warning : (1) Seperti biasa, terdapat banyak kesalahan pengejaan dan juga bentuk kalimat yang mungkin tidak enak untuk diucapkan/dibaca, karena itu bila ada yang menemukan hal ini tolong segera diberi tahu. OOC, AU.

(2) Now T later M for mild sexual stuffs, tapi gak sampe lemon karena author masih kecil~ (emang gak kreatif, harap maklum)

Disclaimer: Wah, saya lupa taro disclaimer (baru nyadar sekarang), yah ok deh, Kuroshitsuji bukan punya saya, kalo ia maka gak bakal ada character cewe (meskipun saya suka lizzie...) dan saya gak perlu nulis fanfiction lagi. Kuroshitsuji (c) Yana Toboso, nama-nama lain yang tercantum milik.. um Jerman? =_=


Heart of the King

ハート オブ ザキング

第一話:クローバーの王:死、呪いと復讐

Chapter 1: King of Clover : Death, curse and revenge

Buckingham Palace, Istana Buckingham, selalu sibuk. Deru suara para penghuni istana sudah terdengar semenjak mentari memperlihatkan dirinya di hadapan dunia. Suara para pelayan yang sedang membersihkan seluk beluk istana -sembari berbicara mengenai keluarga, keadaan ekonomi, dan terkadang menyinggung politik dan suara pekerjaan para koki di dalam dapur, menyebarkan aroma lezat yang menggugah selera siapa pun. Meski pun begitu, semua keceriaan di dalam istana tak memiliki arti sedikit pun bagi tiga orang petinggi militer dan sang raja beserta butlernya yang ketika itu berada di dalam sebuah ruangan, sebuah peta besar diletakkan dihadapan mereka.

"Kita harus segera menyerang mereka!" salah seorang dari kelima berkata dan ia menghantamkan tangannya di atas meja kayu, memecah keheningan yang sebelumnya menyelimuti ruangan tersebut.

"Bodoh!" Teriak seorang lelaki berambut perak panjang, terdapat kantung hitam di bawah matanya. "Kita harus memikirkan hal ini dengan matang. Kingdom of Spade bukanlah kerajaan yang bisa dianggap enteng."

"Kalau begitu kau mau menunggu dengan tenang selagi mereka mengikis perbatasan kerajaan tepat di bawah hidung kita? Berarti kaulah si orang bodoh!" Lelaki itu, Bardroy, berkata dengan geram terhadap lelaki lebih muda yang berada di hadapannya.

"Apa katamu! Kaulah yang bodoh! Bila kita menyerang mereka tanpa persiapan, itu sama saja dengan bunuh diri! Lagipula kita tidak boleh meremehkan kekuatan udara mereka!"

"Aku tahu itu! Karena itulah aku mengatakan hal itu sekarang juga, sehingga kita bisa membuat persiapan dari sekarang, dan mungkin menyerang mereka pada pertengahan musim panas tahun depan tepat di jantung mereka!" Ia menunjuk kepada sebuah titik di atas peta yang bertuliskan 'Moskow', pusat jantung dari Kingdom of Spade.

Lelaki berambut perak, Charles memandang Bardroy seakan-akan lelaki itu baru saja memberitakan bahwa ia tengah berkepala dua. "Kita akan kalah! Menurutku sebaiknya kita menyerang dulu wilayah perindustrian mereka sebagai sebuah umpan, barulah ketika mereka memfokuskan kekuatan disini," Ia menunjuk terhadap sebuah titik (1). "Kita akan menyerang disini." Kali ini ia menunjuk Moskow.

"Aku tak setuju! Mereka hanya akan mendatangkan bala bantuan terus menerus! Kau tahu bahwa kita kekurangan sumber daya manusia, sedangkan mereka jelas mempunyai tanah dan penduduk yang lebih berlipat. Karena itulah untuk menghentikan datangnya gelombang terus menerus kita harus menyerang langsung tepat di inti mereka." Bardroi, atau yang lebih sering disapa Bard, mengacak-acak rambut pirang kotornya, dan ia mengambil sebuah cerutu dari saku seragamnya. Ketika ia hendak menyulutkan benda tersebut, ia dihentikan oleh tak lain, Joker, salah satu Jendral yang belum menyatakan pendapat sepatah kata pun semenjak rapat dimulai.

"Hentikan, Bard. Kau tahu kita tak boleh merokok di hadapan paduka." Joker hanya tersenyum ringan dan memandang lurus ke hadapan raja mereka, Sebastian Michaelis, yang memandang perseteruan diantara kedua jenderalnya dengan wajah bosan. Claude Faustus sang butler, berdiri di sampingnya tetap dengan wajah tanpa ekspresi.

"Maafkan hamba, paduka." Bard memasukan kembali cerutunya ke dalam saku. "Tetapi ini adalah saat yang genting. Bila kita tidak melakukan sesuatu secepatnya akan terjadi petaka terhadap kerajaan."

Sebastian, sebagai seorang raja, tentu tahu menahu mengenai permasalahan kerajaannya. Di dalam kehidupannya yang panjang, walau pun secara fisik ia berusia tidak lebih dari pertengahan dua-puluh, ia telah mengetahui hal apa yang berbahaya dan tidak. Karena itulah ketika ia mendengar berita bahwa salah satu garis perbatasannya telah runtuh, ia segera mengambil tindakan tegas dengan mengadakan rapat militer rahasia antara para petinggi militernya.

Bardroy, Oberbefehlshaber des Heeres(2), Joker, Oberbefehlshaber Der Luftwaffe(3), dan tentu saja Charles Grey sebagai Oberbefehlshaber der Marine(4). Ketiga orang inilah, yang akan memegang kunci penting di dalam pasukan kerajaannya. Merekalah yang disebut sebagai Three Commanders dan meski pun mereka masih berusia belia, kemampuan mereka tak dapat dipungkiri lagi. Bardroy dengan kelugasan dan sifatnya yang berani mengambil resiko, Joker dengan kemampuannya untuk membaca situasi, dan Charles yang penuh dengan tipu daya.

Lalu bagaimana?

Ia telah melihat perseteruan antara kedua jenderalnya, yakni Bard dan Charles. Lalu apa? Mereka tak kunjung tiba pada sebuah konklusi dan Sebastian tak mau ambil tangan di dalam permasalahan ini, kecuali bila keadaan mengharuskan. Sebastian tersenyum mengejek terhadap kedua jenderalnya sebelum ia membuka mulut. "Selagi kalian berdua, orang bodoh," Bard dan Charles meringis mendengar penekanan kata itu, "menghabiskan waktu kalian untuk beragumen, musuh mungkin telah melancarkan serangan lebih lanjut tanpa sepengetahuan kita."

Ia mendengar bisikan 'Maafkan kegagalan kami, paduka' tetapi ia menghiraukannya, dan lalu memusatkan perhatiannya terhadap Joker, salah satu yang lebih humoris diantara kelompok tersebut. Mata merahnya seakan-akan menusuk siapa pun yang ia tuju dan para bawahan biasanya memilih untuk tidak menatap matanya secara langsung, tetapi Joker dan kedua jenderalnya itu berbeda. Ia malah menatap balik dengan serius.

"Lalu, Joker, dari apa yang kuperhatikan sepertinya kau memiliki 'rencana' tertentu, betul?" Joker hanya tersenyum malu, seperti seorang anak lelaki yang orang tuanya telah mengetahui siapa gadis yang ia taksir. Ia pun membuka mulut untuk menjelaskan rencana yang telah tersusun dengan rapi di dalam kepalanya.


Sang raja bermimpi. Sebastian melihat mimpi dan ia terombang-ambing di antara alam sadar dan bawah sadar. Ia bergerak ke kiri dan ke kanan di dalam tidurnya, melihat kobaran api dan teriakan pasukan-pasukan yang mengenakan seragam berlambangkan permata, serta tank-tank pengebom yang meluluhlantahkan apapun yang ada di hadapannya. Kingdom of Diamond. Kerajaan yang ia ambil alih hanya dalam waktu semalam, menggunakan divisi-divisi berlapis bajanya dalam sebuah perang uji coba. Lalu ia melihatnya, lelaki itu, Bardroy, berdiri di atas tanknya, meneriakan perintah dengan senyum kemenangan menghiasi wajah.

Adegan berpindah, ke atas sebuah menara, kali ini ia melihat dirinya tersenyum dengan wajah maniak, pedang ia hunuskan tinggi ke arah langit berwarna merah, di hadapannya terbaring seorang lelaki. Ia bersimbah darah, dan pada lengan bajunya terdapat lambang, coat of arms, permata. Ah, ia ingat. Ia adalah adik dari sang raja, Jenderal besar Tanaka. Api berkorbar di sekitar mereka, lalu sebuah pilar jatuh, memisahkan Tanaka dan sang raja. Secara refleks, Sebastian mengambil langkah mundur, dan ia merasakan dirinya jatuh. Jatuh, ke dalam kegelapan yang pekat dan dingin. Nafasnya tercekat, gelembung udara keluar dari dalam tubuhnya dan air bergantian masuk. Ia berusaha untuk berenang, ketika ia merasa jatuh untuk kedua kalinya dan ia memejamkan mata.

Perasaan itu menghilang, tak ada rasa jatuh, tak ada air, tak ada rasa dingin ataupun nafas yang tercekat. Hanya desiran ombak, angin badai dan suara meriam. Ia membuka mata, dan kali ini ia sedang melayang-layang di atas langit, menyaksikan armada kapal perang dengan berbagai jenis dan ukuran. Kecil dan besar, penjelajah ringan dan berat, sebuah kapal induk di masing-masing pihak, dan beberapa pesawat perang yang bertugas sebagai konvoi. Semuanya memuntahkan bola-bola api ke arah satu sama lain. Beberapa tenggelam, beberapa mengalami kerusakan berat. Tetapi semuanya tetap berada pada sebuah formasi yang absolut. Para pelaut berlarian ke sana dan ke mari, melompat terjun ke dalam laut, menghiraukan gulungan ombak besar yang segera menghanyutkan mereka. Lalu ia memperhatikan, di atas kapal induk musuh dan di dalam ruang komando mereka, seorang pria berkacamata sedang memuntahkan perintah. Ia tersenyum, senyuman mengejek yang selalu ia pamerkan terhadap semua orang. Claude.

Mimpi itu terasa lama. Ia hanya memperhatikan bagaimana kapal musuh perlahan-lahan hancur, luluh lantah atau digulung oleh ombak raksasa yang jauh lebih besar dibandingkan kastil-kastil yang pernah Sebastian lihat. Pada akhirnya, musuh pun kalah. Kapal induk itu menyerah, dan para perwira serta pelautnya digiring berbaris, memasuki kapal mereka sendiri. Claude, berada di antara mereka. Kedua tangannya diikat tetapi ia tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresi.

Dari tempat ia berdiri, melayang-layang di atas udara, ia melihat pesawat-pesawat pengebom, ah Luftwaffe, yang terbang mengitari kapal induk sebelum menjatuhkan bom seberat 20.000 pound (5) ke atas geladak kapal induk musuh yang sekarang telah kosong dari kehidupan.

BOOM

Suara menggelegar yang dihasilkan, dan kebulan asap yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan ombak yang menerjang. Sebastian tertawa dengan puas. Kingdom of Heart berhasil ia taklukan.

Kemudian, semua seakan-akan berputar. Suara-suara, ombak dan angin, semuanya hilang menuju ketiadaan. Pemandangan yang ia lihat, akan kapal dan peperangan, semuanya menjadi kabur. Warna biru berubah menjadi warna hijau, dan ia sadar bahwa saat ini ia sudah tidak berada di atas langit atau pun laut, melainkan di tengah-tengah hutan yang jauh dari peradaban.

Hutan itu gelap, menandakan bahwa suasana sudah malam. Tetapi ia merasakan hal yang janggal. Mana suara para binatang malam yang mencari makan? Mana suara hewan-hewan malang yang dikejar oleh pemangsa mereka?

'Terlalu hening,' pikir Sebastian. Ia melangkah terus, kemana pun ia tak tahu. Ia hanya mengikuti insting yang terbukti selalu meloloskan dirinya dari hadapan jurang kematian. Ia berjalan terus, mengikuti pepohonan dan melalui jalan yang hanya dilewati oleh hewan. Lalu ia melihatnya, sekelebat cahaya yang tak mungkin berada di dalam hutan. Ia mempercepat gerak langkahnya, mengikuti, menghiraukan pasangan mata yang menatapnya dari dalam kegelapan, membuat suara-suara lapar dan geraman.

Semakin mendekat, ia mendengar suara yang memecahkan keheningan. Suara teriakan dan tembakan senjata. Akhirnya ia tiba, pada sebuah tebing yang terjal dan apa yang berada di hadapannya itu membuatnya kaget. Matanya membelalak, tetapi ia segera memperoleh ketenangannya kembali, dan ia mengucap di dalam hatinya, 'Ini hanyalah sebuah mimpi.' Berkali-kali, berkali-kali dengan harapan bahwa kata-kata itu akan menjadi kenyataan kelak. Tetapi tidak. Api tetap berkobar, pada sebuah desa yang terlihat dari tempat ia berdiri. Hancur, luluh lantah.

"Hiks…hiks…"

Ia tak menyadari, ataukah ia berusaha untuk tidak menyadari, keberadaan anak kecil, yang ketika itu menangis terisak-isak, pakaiannya bersimbah darah tapi ia tampak tak terluka. Sesosok wanita tua berbaring di sampingnya dengan wajah tertutup oleh rambut hitam panjang, dan ia tidak bernafas apalagi bergerak. Ah, ia pasti mati.

Kemudian suara, entah dari mana asalnya, merasuk ke dalam benaknya. Seperti sebuah bunyi dering yang mengilukan dan Sebastian mengatupkan giginya, kedua tangan menutupi telinga.

"Hihi,"

Sesosok lelaki berambut panjang yang menutupi wajahnya muncul di hadapan si anak. Ia tersenyum, seakan-akan senang dengan keadaan itu.

"Kau mau bermain denganku, boy?"


Sebastian membuka matanya dan terengah-engah. Ia menelan ludah dan memandang lurus ke atas, ke arah langit-langit kamarnya. Ia bangun dan duduk pada pinggir ranjang, sekujur tubuhnya mengucurkan keringat. Ia berdiri, berjalan dengan sedikit linglung ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar, membiarkan udara segar berhembus masuk ke dalam ruangan. Sebastian menghela nafas lega dan menutup matanya, menikmati belaian angin yang menyentuh kulit.

Ketika ia menutup mata, pemandangan dan suara-suara kembali muncul, hidup seakan-akan hal tersebut baru saja terjadi. Kali ini Sebastian tidak melawan, ia tak tahu mengapa, dan membiarkan dirinya terbawa oleh pusaran ingatan yang telah berpuluh-puluh tahun lamanya ia coba untuk lupakan.

Ia mengingat semuanya, dari suara dan pemandangan, merah membara dan merah pekat, teriakan dan erangan. Ia mengingatnya, tak mungkin ia bisa melupakannya bukan?

Ketika itu, ia hanyalah seorang anak kecil, seorang manusia biasa yang kelak akan mati dan ia tak pernah menyangka, bahwa hidupnya akan berubah menjadi seperti ini. Semuanya bermula dengan kedatangan mereka. Mereka yang tidak pernah ia lihat, yang menapakkan kakinya pada pesisir pantai bersama dengan kendaraan yang terbuat dari besi, sekarang ia tahu bahwa itu adalah kapal pengangkut. Mereka yang membunuh seisi penduduk pulau, hanya untuk mencari seorang wanita yang nama atau pun wajah tak mereka ketahui, dan merekalah yang telah membunuh ibu serta membakar seisi pulau, tak menyisakan apapun kecuali puing-puing dan abu.

Kemudian lelaki itu muncul dan mengulurkan tangan kepadanya.

"Aku akan membantumu," katanya, dengan kata-kata manis, sampai sekarang pun ia masih hafal semua yang lelaki itu katakan.

"memberikan kejayaan dan kekuatan seperti yang kau pinta," dan ia pun, Sebastian, menerima perkataan manis itu dengan mudah, tanpa mempertanyakan. Tentu saja, lelaki itu pasti telah merencanakan hal itu semenjak semula.

"dan membawamu sebagai seorang penguasa." Ia mengangguk, kedua mata merahnya memandang lurus ke arah lelaki yang tak ia kenal. Hujan mulai turun, membasahi tubuh mereka berdua.

"Tetapi ingatlah," Sebastian membuka matanya, melepaskan dirinya dari kenangan yang tercetak di dalam kepalanya. Ia membuka mulutnya dan dengan suara serak ia pun mengucapkan kontrak yang telah mereka, ia dan sang dewa kematian, ciptakan.

"Pada hari kau memutuskan untuk mencintai seseorang," Bagaikan sebuah gema, suaranya dan suara lelaki itu saling bertumpang tindih, saling mengejar satu sama lain dalam frekuensi yang sama. "akan menjadi hari dimana kejayaanmu akan direbut beserta pula dengan hidupmu."

Dan sekarang, disinilah ia berada, sebuah eksistensi yang melebihi manusia, tetapi bukan dewa. Ia menguasai setengah dari dunia, dari bumi Eropa, dan kekuasaannya akan terus bertambah, membentangkan sayap untuk melingkupi dunia di bawah suatu pemerintahan yang absolut. Sebuah mimpi yang mustahil, mimpi yang berawal dari keinginan balas dendam seorang anak, menjadi penguasaan dunia. Tetapi ia tahu, dari lubuk hatinya yang terdalam, dan dari pandangan pengikut-pengikutnya, bahwa mimpi itu tidak mustahil lagi sekarang.

Ia memandang lurus, ke arah kerajaannya yang terbentang luas dan jauh. Darahnya bergejolak, dan ia tahu, bahwa ini adalah waktu untuk bertindak, waktu untuk mengambil alih apa yang merupakan miliknya, kekusaannya.

Sebastian segera berganti pakaian, mengenakan jubah dan berjalan keluar dari ruangannya, menyusuri lorong-lorong istana yang gelap. Ia menuju ruang konfrensi, meminta salah seorang penjaga untuk memanggilkan Claude, butlernya.

Setibanya di sana, Sebastian duduk di atas singgasana, menantikan Claude dan beberapa orang tamuanya. Tak lama kemudian suara ketukan pintu pun terdengar.

"Maafkan keterlambatan kami, Your Highness." Dari ujung ruangan, suara Claude pun terdengar. Ia masuk, sudah mengenakan suit hitam lengkap dengan rambut hitam yang telah disisir sedemikian rupa rapihnya. Sebastian hanya tersenyum puas ketika melihat penampilannya, 'Tetap sempurna seperti biasa.'

Claude pun masuk, diiringi oleh dua orang pria. Yang seorang adalah Joker, yang tetap tersenyum meskipun ia terlihat mengantuk dan masih mengenakan pakaian tidur lenkap dengan topinya.

"Claude, Joker, kalian terlalu lama membuatku menunggu." Ia pun tersenyum mengejek ketika matanya jatuh pada seorang lelaki yang mengenakan suit persis seperti Claude. "Ah, dan tentu saja, aku tak bermaksud untuk melupakanmu, Tanaka."

Dengan demikian, para pion telah terkumpul dan jam pasir yang telah lama terhenti pun mulai bergerak, jatuh dari tempatnya dan berkumpul menjadi satu. Tirai telah terbuka, dan babak pertama menuju tragedi, akan segera dimulai…


(1) : Hm, kalo secara peta sih, yang ditunjuk itu di Finlandia dan Swedia~ (silahkan buka atlas)
(2) :
Oberbefehlshaber des Heeres, berarti Commander-In-Chief of the Army (atau Commander of the Army), ia merupakan Commander-In-Chief bagi oberkommander der Heeres (OKH) atau Supreme Command of The Army, sama seperti TNI AD, dan secara teori diketuai oleh OKW atau Oberkomando der Werhmarcht, tetapi secara de facto OKW memerintah operasi militer yang berada di Front Barat, selagi OKH memerintah Front Timur. Nama ini digunakan pada masa PD 2 oleh Nazi-Jerman.
(3) : Oberbefehlshaber der Luftwaffe : Commander-In-Chief of Air Force yang merupakan ketua dari oberkomando der Luftwaffe (OKL) atau Supreme Command of the Air Force, sama seperti TNI AU. Nama ini digunakan pada masa PD 2 oleh Nazi-Jerman
(4) : Oberbefehlshaber der Marine : Commander-In-Chief of Navy yang merupakan salah satu cabang dari Kriegsmarine (Navy), dan merupakan TNI AL kita. Nama ini digunakan pada masa PD 2 oleh Nazi-Jerman.
(5) : sama dengan 9070 kg (yah kira-kira sekitar itu)

Author's note: huff, penjelasannya panjang juga... maaf kalo bikin pusing, tapi menurut saya perlu dikasih nama kayak begini (karena secara saya ngebayangin Kingdom of Spade itu sebagai Jerman yang berkedudukan di Inggris =,=) , tapi yah, mohon maaf lagi kalo banyak kesalahan, dan semua nama-nama dan penjelasan ini saya ambil dari Wikipedia, jadi saya juga gak tau bener apa kagak, bakal lebih bagus lagi kalo ada yang mau kasih tau ke saya kalo ada yang salah. Yak, kira-kira sebegini dulu, oh iya, preview buat chapter selanjutnya di hapus, berhub Author blom kebayang chapter dua kayak gimana (chapter satu yang kebayang aja udah kayak gini apalagi yang kagak kebayang...)
Review, kritik dan saran akan sangat diterima oleh author :D