Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki
Pair: GoM + Kagami x OC/Reader
Warning: AU, OC, OOC, Typo, tak sesuai EYD, jalan cerita ngawur bin amburadul, dsb
Summary: Bagaimana jadinya jika tujuh pemuda tampan ini yang berasal dari Miracle Rainbow World berubah menjadi binatang lucu nan menggemaskan demi mendapatkan gadis di Bumi yang mereka inginkan? GoM + Kagami x Reader. (Pet 1: Kuroko The Dog)
A/N: Hai, semuanya! It's me again.
Kyaa! Youkatta, kalian ternyata mau aku melanjutkan FF baruku ini. Arigato, arigato, arigato... Arigato gozaimasu, minna-san~! *bungkuk-bungkuk saking senangnya* XD
Dan... Ta-Da! FF ini sudah kulanjutkan alias update. Kali ini Author memberi kalian hadiah karena kalian mau mendukungku untuk melanjutkan FF ini. Episode, eh maksudku cerita yang akan kupersembahkan di sini adalah Tetsuya Kuroko (suamiku~ *o* #plak) yang akan menjadi seekor anjing lucu seperti Nigou. Hehe~ :3
Ehm, masalah Chara x Reader di sini. Hmm... Sumimasen, Author nggak bisa menyisipkan Reader Insert di sini karena tak berani. Takut melanggar Guidelines. Aku dapat infonya dari teman sesama Author. Jadi harap maklum, ya...
Sebagai gantinya, Author menyisipkan OC. Jadi kalianlah yang akan berperan sebagai OC di sini atau kalian bisa ganti nama OC-nya dengan nama kalian. Kalau bisa, usahakan pakai imajinasi kalian ketika membacanya agar terasa feel-nya. OK?
Semoga kalian takkan kecewa dengan pemberitahuanku. Saa, kita mulai saja FF-nya...
Enjoy my story! ;)
Pet 1
*Kuroko The Dog*
Di Bumi, Dunia Manusia...
Ada sebuah kota bernama Tokyo yang terletak di Jepang, sebuah negara besar dan maju di dunia. Kota itu terlihat ramai dengan penduduk yang jumlahnya jutaan. Di kota itu, ada sebuah menara tinggi berwarna merah yang merupakan simbol kota tersebut. Kota itu juga memiliki beberapa bangunan tinggi yang menghiasinya. Baik itu kantor, hotel dan semacamnya.
Tiba-tiba di suatu tempat, muncul cahaya biru muda menyilaukan. Cahaya itu perlahan-lahan memudar. Kemudian, muncul sosok seekor anjing di cahaya tersebut. Setelah cahaya itu menghilang, sudah terlihat jelas sosok anjing itu.
Anjing itu memiliki mata biru muda dengan bulu hitam di seluruh tubuhnya. Sisanya di bagian wajah, perut, bawah ekor dan kaki berwarna putih. Ekornya melengkung. Telinganya berbentuk seperti serigala dan bagian dalam telinganya berwarna pink. Moncongnya dihiasi dengan hidung hitam. Di bagian lehernya terpasang dog tag berwarna biru muda dengan batu kristal berwarna nila. Tingginya seperti boneka anjing menggemaskan yang sering kita lihat di toko mainan.
"Akhirnya aku sudah sampai..." kata anjing itu. Kalau didengar baik-baik suaranya, sepertinya itu suara laki-laki. Sudah jelas kalau jenis kelamin anjing itu jantan.
Anjing itu baru menyadari ada yang berubah darinya. Dia lalu berdiri, memperhatikan tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian dia melihat bagian pantatnya. Di situ dia melihat ekornya bergerak, sedang dikibas olehnya.
"Ah, aku berubah jadi anjing..." gumamnya. "Oh ya, aku ingat. Yang Mulia berpesan padaku kalau aku sudah sampai di Bumi, aku harus berubah menjadi binatang."
Anjing itu celingukan, seakan sedang mencari sesuatu. "Dimana yang lain? Apakah mereka tidak bersamaku? Dimana Kagami-kun? Aomine-kun? Kise-kun? Akashi-kun? Midorima-kun? Murasakibara-kun? Semuanya?"
Lalu anjing itu menunduk. Dia tidak berhasil menemukan teman-temannya. Dia menghela napas. "Hufft... Tidak ada siapa-siapa. Hanya aku sendirian di sini," katanya. "Tapi, setidaknya aku harus mencari gadis manusia yang mungkin berhasil membuatku jatuh cinta. Dan aku akan berubah menjadi manusia lagi," tekadnya.
Setelah berkata begitu, dia lalu berjongkok seperti anjing biasa pada umumnya dan mulai berjalan meninggalkan tempat dimana dia mendarat. Dia terus melanjutkan langkahnya tanpa henti, menyusuri jalan kota Tokyo demi mencari gadis impiannya. Namun dia tak menemukan satu gadis pun.
"Hmm... Sulit juga mencarinya..." gumamnya. Dia hampir saja putus asa. Tapi ketika dia sampai di sebuah halte bus, kedua bola matanya menangkap sosok seorang siswi sekolah bersama temannya yang duduk di sebelahnya sedang menunggu bus datang sembari ngobrol.
"Aku menemukannya," sahutnya singkat. "Baiklah, aku akan mendekatinya. Pasti dia tertarik padaku," lanjutnya sambil berjalan menuju halte dan mendekati siswi itu.
Sayang, karena hawa keberadaan anjing itu yang tipis, siswi itu tidak merasakan kalau anjing itu sudah berada di dekatnya. Walaupun sudah menunggu beberapa detik lagi, tetap saja siswi itu tidak memperhatikannya.
Karena kesabarannya sudah habis, anjing itu terpaksa menggonggong agar gadis sekolah itu mendengarnya. "Guk! Guk!"
Akhirnya gadis itu beserta temannya menghentikan keasyikannya mengobrol. Mereka celingukan mencari gonggongan anjing itu berasal.
"Eh, kamu tadi dengar itu?" tanya gadis itu.
"Ya, itu gonggongan anjing. Tapi dimana, ya?"
Ah, mereka mendengarku. Aku akan menggonggongnya lagi, batin anjing itu. Kemudian dia mulai mengonggong lagi. "Guk! Guk!"
Kedua siswi sekolah itu menoleh. Mereka akhirnya bisa melihat keberadaan anjing itu. Sepertinya usaha anjing itu berhasil.
"Wah, kawaii!" seru temannya itu gemas melihat kelucuan anjing itu. "Lihat itu, anjingnya lucu sekali."
Gadis sekolah itu juga gemas melihat anjing itu. Dia tersenyum manis seraya mengelus kepala anjing itu. Merasakan tangan gadis itu di kepalanya, anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya, merasa senang. Aku berhasil. Sepertinya gadis itu tertarik padaku, pikirnya.
"Eh, bagaimana kalau kamu merawatnya?" kata temannya memberi saran.
"Mau sih, tapi..." Gadis itu terdiam sesaat. "Aku sudah punya anjing di rumah."
Jawaban gadis itu membuat anjing itu seakan disambar petir di siang bolong. Matanya terbelalak, kaget. Hatinya terasa perih, seolah-olah panah imajiner menusuk dirinya. Usahanya untuk memikat gadis itu dengan kelucuan dalam dirinya gagal total.
"Kenapa bukan kamu saja yang merawatnya? Kurasa kamu belum punya peliharaan deh," usul gadis itu.
"Ah, aku nggak bisa. Apartemen tempat tinggalku nggak mengizinkan memelihara hewan," bantah temannya.
Lagi, panah imajiner kedua menusuk hati anjing itu. Rasanya dia mau pingsan karena ditolak.
"Hei, lihat! Bus sudah mau datang, tuh!" seru gadis sekolah itu sambil menunjuk sebuah bus yang berjalan menghampiri mereka di halte. Temannya mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk tadi.
"Iya, benar juga..." Temannya itu segera mengambil tas sekolahnya yang ada di bangku dimana dia duduk tadi. "Ayo, kita pulang," ajaknya.
Gadis itu mengangguk. Kemudian mereka segera menaiki bus yang sudah menunggu mereka. Setelah itu, bus itu bergerak maju, meninggalkan anjing itu yang masih berada di halte itu.
*Kuroko POV*
Ternyata gadis itu menolakku, batinku sedih. Aku hanya bisa menunduk dalam. Tak kusangka kalau manusia di Bumi sangat egois. Mementingkan diri mereka sendiri. Mengambilku untuk merawatku di rumah saja sudah keberatan.
Dengan perasaan sedih yang menyelimutiku, aku berlalu meninggalkan halte itu. Aku berjalan tak tentu arah. Tak tahu kemana aku harus melangkah. Bahkan sepanjang perjalananku untuk mencari gadis manusia lagi sia-sia bagiku.
Aku merasa putus asa. Pupus sudah harapanku untuk menemukan gadis yang kuinginkan. Sepertinya seluruh gadis manusia itu tak ada yang menginginkanku. Sama sekali tidak. Air mataku sudah mulai menggenang di pelupuk mataku. Kecewa dengan keadaanku sekarang. Sepertinya berubah menjadi binatang untuk mencari gadis manusia itu ide yang buruk. Kenapa aku harus melakukan ini?
Tes! Tes! Tes!
Aku merasakan tetesan air di kepalaku. Kemudian tetesan air itu mengenaiku lagi, lagi dan lagi. Aku melihat ke atas langit. Awan-awan mulai menutupi Bumi dan mulai mengeluarkan butiran air yang cukup banyak.
Oh, tidak! Aku mulai basah sekarang. Bulu-bulu yang ada di tubuhku terasa lepek karena hujan. Aku harus mencari tempat berteduh, pikirku. Lalu aku segera mencari tempat untuk melindungiku dari tetesan air hujan. Aku tidak mau tubuhku basah begini.
Tak lama kemudian, kedua mataku menangkap sebuah kardus di pinggir sebuah bangunan. Ukurannya cocok untukku. Sebab kardus itu tidak terlalu kecil. Dengan perasaan senang, aku berjalan menghampiri kardus itu dan masuk ke dalam.
"Ah, nyaman sekali..." gumamku. Sambil duduk seperti seekor anjing pada umumnya, mataku memperhatikan keadaan jalan kota. Aku melihat banyak manusia lewat sambil memakai payung, tapi mereka sama sekali tidak memperhatikan aku yang sedang berdiam diri di sini.
Mengingat kejadian gadis manusia itu, aku menundukkan lagi kepalaku. Entah kenapa rasa sakit ini masih membekas di hatiku. Sebetulnya aku kesal sekaligus sedih karena gadis itu ternyata sudah memiliki peliharaan.
Aku ingin menangis, tapi kutahan air mataku kuat-kuat. Biasanya aku bisa menahan emosiku, tapi kali ini aku tak bisa melakukannya.
Tes! Akhirnya air mataku jatuh. Kemudian air mata itu turun lagi. Begitu seterusnya. Hiks... Aku begitu sedih sekali. Kelihatannya gadis impianku di Bumi sulit untuk ditemukan. Banyak manusia berlalu-lalang, tapi mereka tidak memperhatikan aku di sini yang merasa kesusahan dan kedinginan karena hujan yang semakin deras. Aku terus menangisi nasibku yang malang ini.
"Hei..."
Tiba-tiba, suara kecil tertangkap di telingaku. Sepertinya itu suara perempuan...
Aku mendongak. Di mataku seorang gadis cantik berpakaian seragam sekolah dengan sebuah payung di tangannya. Dia terus memperhatikanku hingga...
"Oh, anjing yang malang..." katanya padaku. Lalu tangannya terjulur ke arahku dan mengelus buluku. Tangannya... Lembut sekali. Aku menikmatinya. Kemudian aku menyongsong kepalaku ke tangannya.
"Hihi..." Gadis itu merasa geli karena aku menyongsongkan kepalaku ke tangannya. "Kamu lucu sekali," pujinya padaku.
Ah, kelihatannya aku berhasil memikat gadis cantik itu. Tapi, dalam hati aku takut kalau gadis itu akan menolak untuk memeliharaku seperti yang dilakukan gadis di halte bus tadi.
"Ayo, kugendong kamu..."
Ternyata perkiraanku di luar dugaan. Gadis itu menggendongku erat. Oh, tubuhnya hangat... Aku merasa sudah tak kedinginan lagi.
"Sepertinya kamu kedinginan, anjing kecil. Ayo, akan kubawa kamu ke rumahku," ujar gadis itu.
Ternyata gadis itu akhirnya mau membawaku ke rumahnya! Youkatta... Aku merasa senang mendengarnya. Aku harap dia mau memeliharaku...
Lalu gadis itu pergi meninggalkan tempat itu denganku yang sekarang berada di gendongannya.
*Normal POV*
Gadis itu mengeringkan bulu anjing itu dengan hair dryer di kamarnya. Anjing itu tersenyum, menikmati udara hangat yang keluar dari hair dryer itu. Dia merasa bulu yang ada di tubuhnya sudah terasa kering.
"Nah, sudah kering..." kata gadis itu sambil menghentikan hair dryer-nya. Dia lalu melepaskan colokan hair dryer dari stopkontak dan menyimpannya di laci meja riasnya.
"Arigato." Tiba-tiba kata itu terucap dari mulut anjing itu.
Gadis itu kaget. Dia celingukan mencari siapa yang mengucapkan terima kasih padanya. "Siapa yang bicara padaku?" tanyanya.
"Ups!" Anjing itu spontan menutup mulutnya dengan kedua kaki depannya. Gawat, aku kelepasan bicara. Aku lupa kalau aku ini seekor anjing. Makanya gadis itu tak tahu kalau yang barusan mengucapkan terima kasih padanya itu aku sendiri, batinnya.
Apakah aku harus memberitahunya kalau aku ini adalah salah satu pengawal Raja Shuuzo Nijimura yang berubah menjadi hewan? pikirnya. Dia merasa bimbang apakah dia harus memberitahunya kalau dia bukan anjing biasa pada gadis itu. Namun dalam hatinya, dia khawatir kalau gadis itu akan takut padanya.
Merasa sudah tak ada pilihan lagi, anjing itu memilih untuk memberitahu hal yang sebenarnya pada gadis incarannya itu. Dia juga harus menanggung resikonya. Akan kuberitahu padanya kalau siapa aku sebenarnya, tekadnya dalam hati.
"Guk! Guk!" Anjing itu menggonggong, membuat gadis itu menoleh ke arahnya. "Itu aku. Yang tadi mengucapkan terima kasih padamu, gadis manis... Guk!" katanya.
"Eh?" Dahi gadis itu berkerut. Heran dengan anjing itu yang ternyata bisa berbicara. "Kamu... Bisa bicara, anjing kecil? Apa aku bermimpi?" tanyanya sambil menggosok-gosokkan matanya untuk memastikan kalau dia tak bermimpi atau mungkin berhalusinasi.
"Ehem..." Anjing itu berdehem. "Ano... Sumimasen kalau aku membuatmu terkejut, Nona. Aku tadi ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu. Kamu telah membawaku ke rumahmu untuk melindungiku dari hujan dan merawatku," jelas anjing itu, berusaha untuk sopan.
Bola mata gadis itu melebar, takjub melihat anjing itu. Tak kusangka, aku merasa seperti berada di manga yang pernah kubaca atau anime yang pernah kutonton. Soalnya ada jalan cerita seperti ini. Seekor hewan ajaib ditolong oleh seorang gadis baik hati dan akhirnya dia mengucapkan terima kasih pada gadis itu, katanya dalam hati. Dan aku sendiri... Benar-benar seperti aku berperan di dalamnya dan aku yang menjadi gadis itu!
"Ah, doitashimashite, anjing kecil. Sebenarnya... Ehm..." Gadis itu terdiam sesaat sambil memainkan jarinya. "Waktu itu, aku mendengar isak tangis dan menemukanmu sendirian di kardus. Aku tak tega meninggalkanmu di dalam kardus itu. Apa lagi di luar hujan deras. Karena itulah, aku membawamu kemari..." jelas gadis itu. "Aku sungguh tak percaya kalau kamu bisa berbicara. Aku tak tahu kalau kamu anjing ajaib. Kukira kamu itu anjing buangan biasa. Maaf, ya."
Anjing itu tersenyum kecil. "Tak apa. Lagipula, tak hanya kamu kok yang mengira aku ini anjing buangan. Yang lain juga berpikir begitu," balasnya. "Tapi, aku sangat berterima kasih padamu. Karena kamu telah memperlakukanku dengan baik. Guk!" Lalu dia menggonggong.
"Hmm... Anjing kecil, apa kamu bisa berdiri?" tanya gadis itu.
"Tentu saja," jawabnya singkat sambil berdiri.
"Sugoii ne... Kalau bersalaman?" tanya gadis itu lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Bisa." Anjing itu mengulurkan satu kaki depannya dan bersalaman dengan gadis itu. Gadis itu takjub melihat anjing itu bersalaman dengannya.
"Kalau melakukan salto, bagaimana?"
Sebagai jawaban, anjing itu melakukan salto dengan mudahnya.
"Wah..." Gadis itu terpesona dengan anjing itu yang melakukan salto dengan lincahnya. Lalu dia memeluk anjing itu erat. "Sugoku kawaii! Bahkan kamu bisa bicara. Berdiri juga bisa. Seperti hewan ajaib di manga atau anime. Kyaa! Gemasnya aku lihat kamu," kata gadis itu gemas.
"Hmmmph..." Anjing itu mulai sesak karena pelukan maut dari si gadis. "Tolong... Lepaskan... Aku..." ucapnya terbata-bata.
"Ups, gomen." Gadis itu melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya masih memegang anjing itu yang sekarang lega karena asupan oksigen mulai memasuki hidungnya lagi. "Mulai sekarang, aku akan memeliharamu. Kamu tahu? Aku ingin sekali memelihara anjing..." tuturnya sambil tersenyum manis.
"Hontou desuka?" Bola mata anjing itu membundar. Senang mendengar penuturan gadis itu. "Doumo arigato..."
Gadis itu hanya mengangguk. "Doita."
"Meong!"
Terdengar suara dari luar pintu kamar. Anjing itu dan si gadis menoleh bersamaan. Mata mereka tertuju pada seekor kucing yang sedang berada di sudut pintu sambil mengeong.
"Kucing?" sahut si anjing.
"Ya, itu kucingku. Namanya Sakura," ujar gadis itu sambil tersenyum menatap kucingnya yang sedang berjalan ke arahnya. "Sakura, ayo kuperkenalkan kamu dengan peliharaan baruku. Namanya... Eh?"
"Kuroko," jawab si anjing, menyebut namanya. Sebetulnya anjing itu adalah wujud binatangnya pengawal Raja Shuuzo yang mewakili warna biru muda dan nila, Tetsuya Kuroko. Tapi anjing itu memutuskan untuk menyebut nama belakangnya saja.
"Ya, namanya Kuroko. Sesuai dengan warna bulunya. Hehe..." Gadis itu tertawa canggung.
"Meong?" Kucing itu menatap Kuroko. Kuroko yang balas menatapnya datar hanya diam saja. Tak tahu dia harus ngomong apa. Dia mana tahu bahasa kucing?
Ehm, sepertinya dia merasa asing dengan diriku. Atau jangan-jangan... Dia tak menyukaiku?
Tapi perkiraannya meleset. Sakura malah mendekati Kuroko dan menjilati bulu kepalanya. Sepertinya kucing itu menerima Kuroko dan ingin mengajaknya berteman. Kuroko kegelian karena Sakura menjilat kepalanya. Lucu sekali.
Gadis itu hanya tersenyum senang. Dia bersyukur kalau kucing kesayangannya mau menerima peliharaan barunya itu.
"Ano..." Kuroko menatap gadis itu. Si gadis menoleh ke arahnya.
"Ya, ada apa, Kuroko?"
"Kalau boleh tahu, siapa namamu? Sumimasen, aku adalah peliharaanmu tapi aku tak tahu namamu," pinta Kuroko. Hmm... Benar juga, ya. Masa peliharaan tidak tahu nama majikannya sendiri? Kan aneh jadinya.
Gadis itu tertawa geli. "Oh, maaf. Aku lupa perkenalkan diriku. Namaku Rizuki Kinomoto. Yoroshiku, Kuroko..."
"Rizuki-san..." gumam Kuroko.
Kruyuk!
Bunyi perut keroncongan tertangkap di telinga Rizuki dan Kuroko. Ternyata asal bunyi itu berasal dari perut Kuroko. Tapi dia masih memasang wajah datar.
"Aku lapar, Rizuki-san..." ujar Kuroko singkat sambil memegang perutnya.
Rizuki tertawa kecil melihat ekspresi Kuroko. "Kamu lapar, ya? Akan kuberi makan untukmu," katanya.
"Meooong..." Sakura mengeong panjang. Kelihatannya dia juga lapar.
"Ah, Sakura juga lapar, ya? Kalian berdua akan kuberi makanan. Ayo, Sakura, Kuroko. Kita akan ke dapur," ajak Rizuki sambil keluar dari kamarnya.
"Meong..." Sakura berjalan mengikuti majikannya. Tapi, Kuroko hanya diam di tempat.
"Rizuki-san..." gumam Kuroko pelan. Entah kenapa, setiap kali dia menyebut nama gadis yang telah menolongnya tadi membuat perasaannya tak karuan. Dia merasakan sesuatu yang berdesir di dadanya.
Apakah aku jatuh cinta padanya? tanyanya dalam hati. Gadis itu... Dia begitu baik dan manis. Dia bahkan rela membawaku ke rumahnya untuk memeliharaku. Perasaan ini...
"Kuroko!" Lamunan Kuroko buyar begitu mendengar suara memanggilnya. Dia mengarahkan pandangannya ke pintu kamar. Ada Rizuki di sana sedang menunggunya.
"Ayo, ke dapur bersamaku. Aku sudah membuatkan makanan untukmu..." ucapnya lembut.
"Guk! Guk!" Kuroko menggonggong. "Aku akan datang, Rizuki-san..." katanya sambil berjalan menuju gadis itu untuk pergi ke dapur bersamanya.
*OC/Reader POV*
5 hari telah terlewati...
Aku dan anjing peliharaan baruku, Kuroko sangat dekat. Tak hanya aku, kucingku, Sakura juga dekat dengan Kuroko dan dia sering mengajaknya bermain bersama. Aku juga ikut bermain dengan mereka saat waktu senggang.
Ah, sangat menyenangkan bermain dengan hewan peliharaanku yang lucu-lucu ini. Menghibur diriku...
Aku juga mengajak Kuroko jalan-jalan sore. Yah, karena dia seekor anjing sih, biasanya kan suka jalan-jalan sama majikannya. Kupikir mungkin Kuroko pasti senang bisa melihat dunia luar bersamaku.
Menurutku, Kuroko itu... Dia anjing yang manis dan tak banyak tingkah. Dia selalu patuh dengan apa yang keperintahkan dan apa yang kularang. Pokoknya, hubungan aku dan dia sangat dekat dan tak terputuskan. Aku bahkan selalu memeluk dan menggendongnya setiap hari. Si Kuroko malah membalasku dengan menjilati pipiku. Ah, kawaii ne...
Tapi ada suatu hal yang mengganjal di hatiku. Waktu itu, di sore hari, Kuroko hanya duduk berdiam diri memandang jendela. Aku khawatir kalau anjingku itu kenapa-kenapa. Soalnya, hampir sepanjang hari dia berdiam diri di sana. Maka, aku mendekatinya.
"Kuroko?" panggilku pelan. Anjingku itu menoleh, tapi ekspresi wajahnya terlihat aneh. Dia kelihatannya sedih.
"Ada apa denganmu, Kuroko? Apa kamu sakit?" tanyaku khawatir.
Kuroko hanya menggelengkan kepalanya. Ah, dia ternyata sehat-sehat saja, tuh.
"Terus? Kalau kamu tak sakit, apa kamu cemburu dengan Sakura?" tanyaku lagi.
Kuroko menggelengkan kepalanya lagi.
"Kalau begitu, kamu kenapa?"
Dia tak menjawab. Dia hanya menunduk seraya menghela napas.
"Kuroko? Tolong ceritakan apa yang terjadi padamu... Aku tak bisa tenang kalau kamu diam saja," kataku memohon.
"Rizuki-san..." Akhirnya Kuroko membuka mulut. "Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu..."
Aku terdiam. Aku hanya menunggu jawaban anjingku itu.
"Sebenarnya, aku... Ano..." Kuroko terdiam sesaat. "Rizuki-san, kurasa kamu harus tahu ini. Sebenarnya aku..."
Hening. Dia tak berbicara lagi. Melihat itu, aku malah makin penasaran dengan apa yang Kuroko katakan padaku.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Kuroko?" tanyaku.
"Aku... Aku suka kamu..."
Jawaban dari mulut anjingku itu sungguh membuat mataku seakan meloncat keluar. Aku terkejut sekali mendengarnya. Dia... Menyukaiku?
"Kamu suka aku?" ucapku perlahan. Kuroko mengangguk.
"Oh, souka. Youkatta... Aku suka kamu juga," ujarku sembari tersenyum. Lalu aku mengusap kepalanya. "Aku kan majikanmu. Mana mungkin aku membencimu, anjingku yang manis."
"Bukan itu yang kumaksudkan, Rizuki-san..." sanggah Kuroko. "Aku menyukaimu sebagai kekasih."
"Eh?" Dahiku berkerut. Sejujurnya aku merasa heran dengan jawaban Kuroko yang menurutku aneh. Bagaimana bisa seekor anjing jatuh cinta dengan manusia sepertiku?
"Bagaimana bisa kamu menyukaiku, Kuroko?" tanyaku tak yakin. "Kamu kan seekor anjing dan aku sendiri manusia. Aku... Aku tak bisa menerima cintamu..."
"Rizuki-san, sebenarnya aku bukan seekor anjing ajaib yang kamu kenal saat kita pertama kali bertemu," kata Kuroko. "Aku adalah Tetsuya Kuroko, pengawal Raja Pelangi yang mewakili warna biru muda dan nila. Awalnya aku manusia sepertimu, tapi Sang Raja memerintahkanku untuk mengubah diriku menjadi binatang di Bumi. Aku tak bisa berubah menjadi manusia kalau aku tak menemukan cinta sejati di sini," jelasnya padaku.
"Kuroko... Kamu..." Aku tercekat. Dalam hati aku tak percaya mendengarnya. Lidahku terasa kelu. Tak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Rizuki-san, percayalah padaku. Aku tak bohong..." ucap Kuroko pelan. Matanya berkaca-kaca. "Aku cinta kamu. Aku suka dengan kebaikan hati yang ada pada dirimu. Waktu kamu membawaku ke sini dan merawatku, perasaan sukaku mulai tumbuh. Sejak saat itulah, aku menyukaimu sampai sekarang."
"Hontou ni?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Ha'i." Kuroko mengangguk sambil tersenyum. "Akan kutunjukkan padamu wujud manusiaku. Aku tahu kamu tak percaya ini, tapi aku yakin kamu pasti akan jatuh hati padaku," jelasnya.
Setelah dia berkata begitu, muncullah cahaya biru muda menyilaukan di tubuhnya. Karena cahayanya yang terang sekali, aku tak bisa melihat. Aku menutup mataku dengan tangan.
Setelah cahaya itu memudar, aku membuka mataku perlahan. Mengetahui apa yang terjadi pada Kuroko, anjingku. Setelah itu, mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat di depan mataku. Seorang pemuda tampan bersurai biru muda dengan warna mata yang senada dengan warna rambutnya. Kulitnya putih pucat. Tubuhnya cukup kekar dan lebih tinggi dariku. Wah... Apakah dia Kuroko dalam wujud manusia? Melihat fisiknya yang begitu memesona di mataku, aku merasakan debaran di hatiku.
*Normal POV*
Kuroko telah berubah kembali menjadi manusia. Dia berubah bukan karena sihir, melainkan karena rasa cintanya pada Rizuki.
"Itu kamu... Kuroko?" tanya Rizuki, terpesona.
Kuroko tersenyum. "Ya, ini aku, Rizuki-san. Inilah aku dalam wujud manusia," jawabnya tenang. "Aku berubah karena kamu..."
"Karena aku?"
Kuroko mengangguk.
"Ah, ano..." Rizuki menunduk malu. Dalam hatinya dia tak henti-hentinya mengagumi Kuroko dalam wujud manusia. Dia tak menyangka kalau anjing yang dia rawat selama ini bisa berubah menjadi pemuda tampan. Semburat merah tipis muncul di pipinya. Jantungnya berdebar tak menentu. "Ka, kamu tampan sekali... Sepertinya aku..."
"Tertarik padaku?" tebak Kuroko. Rizuki kaget mendengarnya. Yah, dia mengakui kalau tebakan Kuroko tidak salah. Rizuki benar-benar tertarik dan jatuh hati padanya.
"Hn..." Rizuki mengangguk ragu.
"Sudah kubilang, kan?" Kuroko tersenyum jahil. "Kamu pasti tertarik padaku kalau aku berubah menjadi manusia..."
"Eh, tidak hanya itu, kok. Aku..." Rizuki terdiam sesaat. "Aku juga suka wujud anjingmu. Kamu lucu kalau seperti itu. Tapi, ketika kamu menyatakan cintamu padaku, aku merasa aneh. Karena awalnya kamu itu seekor anjing. Meskipun begitu, aku senang karena kamu menyukaiku. Kelihatannya aku juga punya perasaan yang sama. Aku juga suka kamu, Kuroko," jelasnya panjang lebar. Bibirnya yang bagus menyunggingkan senyuman yang paling indah.
Bola mata Kuroko membundar. Perasaannya membuncah ketika mendengar pengakuan Rizuki. Dia begitu senang karena gadis yang dicintainya juga suka pada dirinya. Seulas senyum menghiasi bibirnya.
"Doumo, Rizuki-san," ucap Kuroko sambil menyentuh pipi kanan Rizuki. "Aku senang mendengar pengakuan darimu. Lega sekali rasanya..."
Deg! Jantung Rizuki berdebar kencang begitu Kuroko menyentuh pipinya. "Ku, Kuroko..."
"Ano... Rizuki-san..." Kuroko menatap mata Rizuki lekat-lekat. Perlahan-lahan wajahnya mendekati wajah Rizuki. "Bolehkah aku mendapat ciuman darimu?"
Rizuki terbelalak. Mulutnya terkunci, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia terkejut ketika pemuda itu ingin mendapat ciuman darinya.
"Su, sumimasen..." Kuroko segera menjauhkan wajahnya dari Rizuki dan berpaling ke arah lain. "Maaf kalau aku tak sopan."
Namun Rizuki malah menyentuh kedua pipi Kuroko dan mengecup bibir pemuda itu. Kuroko terkejut, tapi dia membalas ciumannya. Kedua matanya tertutup. Menikmati kelembutan bibir gadis itu. Dia lalu memeluk erat Rizuki.
Ketika mereka berciuman, muncul cahaya biru muda menyelimuti mereka. Cahaya itu ternyata berasal dari batu kristal milik Kuroko. Itu pertanda misi Kuroko mencari cinta di Bumi telah berhasil. Setelah itu, cahaya itu melesat ke atas langit. Kemudian menghilang dari pandangan.
Sementara itu, di Miracle Rainbow World...
"Aya-sama! Cepat kemari!" seru suara berat memanggil permaisurinya. Suara itu milik Sang Raja Pelangi, Shuuzo Nijimura.
"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" sahut Aya Nijimura, Sang Ratu pada suaminya yang telah memanggilnya.
"Ada sesuatu yang bersinar di sini. Ayo, cepat kemari! Kamu pasti kaget!" seru Raja Shuuzo.
"Hontou ni?" Sang Ratu bangkit dari singgasananya. "Aku akan segera datang!" serunya sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di salah satu ruangan istananya.
"Dimana, Shuuzo-sama? Apa itu yang bersinar?" tanya Ratu Aya pada Raja Shuuzo.
Sebagai jawaban, Raja Shuuzo menunjuk sebuah batu kristal berwarna nila kebiru-biruan yang bersinar terang. "Kamu lihat itu? Batu kristal milik Kuroko bersinar terang!" lapornya.
"Wah, sugoii ne... Indah sekali!" ucap Sang Ratu kagum. "Ini pertanda baik, Shuuzo-sama! Kuroko-kun telah berhasil menyelesaikan misi darimu..."
Raja Shuuzo terpana dengan jawaban permaisurinya. Tapi tak lama kemudian, dia tersenyum. "Iya, kamu benar. Kuroko telah berhasil menemukan gadis impiannya di Bumi. Sekarang dia sudah berubah menjadi manusia seutuhnya dan tinggal di Bumi," jelasnya.
"Hehe... Dia telah beruntung," kata Ratu sembari tertawa kecil. "Aku penasaran, kira-kira siapa lagi salah satu pengawal kita yang akan beruntung kali ini?"
Pet 1: Kuroko The Dog End
*to be continued*
Bagaimana ceritanya, minna-san? Bagus, kah? Mohon maaf kalau ada kekurangan dan kesalahannya di FF-ku ini seperti Kuroko-nya OOC, alurnya kecepatan dan lain sebagainya di sini. Author minta maaf, ya... :'3
Kalau bagus, akan kulanjutkan. Tapi kali ini aku akan minta vote dari kalian siapa yang akan muncul di chapter selanjutnya. OK, aku akan mengeceknya dulu... ;) *ambil daftar*
Kuroko sudah... *beri tanda ceklis* Sekarang sisanya adalah:
_Akashi
_Midorima
_Kagami
_Aomine
_Kise
_Murasakibara
Nah, sekarang tinggal 6 chara yang akan di-vote! Ayo, beri vote chara favorit kalian sebanyak-banyaknya agar salah satu dari 6 chara ini akan muncul di chapter selanjutnya. Jangan lupa, beri komentar lewat Review. Mau fav atau foll silakan.
Ah, ada Review masuk! Yosh, aku akan membalasnya satu persatu:
mikasuchi kisara: Arigato gozaimasu. Ah, kurasa Akashi-kun dan Mido-kun takkan menjadi kedua hewan itu. Hehe... But, it's a secret! Jadi, aku takkan memberitahu jenis hewan apa nanti... :p #ditabok
Gomen ne, aku bukannya mengabaikan saranmu. Awalnya sih, mo bikin FF ini pake (name) alias Reader Insert, tapi itu nggak boleh. Makanya aku memilih untuk menyisipkan OC saja.
Semoga Kisara-san takkan kecewa. Kuharap kamu masih mau membaca FF- ku ini. Salam pelangi juga untukmu~ #eh :v /
Yeran: Trims atas Review darimu, Yeran-san. Hmm... Mereka akan jadi hewan apa, ya? Jawabannya itu di ujung langit. Eh, salah. Maksudku, itu nanti akan kuceritakan di chapter selanjutnya. Kalau Kuroko sudah jelas, dia berubah menjadi anjing imut kayak Nigou. Hehe... ^^
I think that's enough...
Terima kasih atas Review, fav dan follow dari kalian. Aku berterima kasih sekali karena karyaku ini diterima. Hehe... ^w^
Sudah saatnya aku harus pergi dari sini. Tapi sebelum itu, ada Omake buat kalian. Semoga kalian menikmatinya. See you next story! ^o^) /
Oh, yes, happy new year everyone! Semoga di tahun 2016 ini akan menjadi tahun yang lebih baik daripada tahun yang sebelumnya...
Omake
Rizuki melepaskan ciumannya karena merasa kehabisan oksigen. Dia lalu tersenyum menatap pemuda yang telah membuatnya jatuh cinta seperti ini. "Hehe... Aku malah menganggap kalau itu sangat manis, Kuroko," ucapnya malu-malu. "Ciuman itu... Sebagai tanda cintaku padamu."
"Rizuki-san..." Kuroko masih terpaku di tempat. "Kupikir kamu bakal marah padaku."
"Kenapa aku harus marah, Kuroko? Bukankah kita sebagai pasangan kekasih selalu melakukannya, kan?" tanya Rizuki heran plus bingung.
"Pasangan kekasih? Tapi-"
"Anggap saja itu ciuman pertama kita," sela Rizuki sambil menyentuh kedua pipi Kuroko. "Kamu tahu? Baru pertama kalinya aku berciuman dengan cowok yang kusukai, yaitu kamu..."
Kuroko terdiam. Dalam hati dia senang mendapat ciuman romantis dari gadis yang disukainya. Lalu dia menempelkan dahinya ke dahi Rizuki. Mereka saling bertatapan dalam diam. Detak jantung mereka seirama. Namun mereka menikmati momen ini.
"Kiki-chan, Mama pulang!"
Terdengar suara ceria dari balik pintu rumah. Rizuki terkejut. Gawat! Mama sudah pulang, jeritnya dalam hati. Masalahnya, dia kan berduaan sama lelaki yang belum dikenal orangtuanya di rumahnya sendiri. Wah, bisa-bisa bahaya nih. Nanti dikiranya Kuroko mau berbuat macam-macam padanya.
"Kuroko! Ayo, cepat sembunyi! Mama sudah pulang," seru Rizuki panik pada Kuroko yang masih diam di situ.
"Tak apa, Rizuki-san. Aku akan tetap di sini," balas Kuroko datar, tapi dia kelihatannya tenang-tenang saja.
"Nanti Mama akan melihatmu!" sahut Rizuki sambil memperhatikan pintu rumah. "Bisa gawat kalau kamu-"
Lho? Rizuki heran begitu dia menoleh lagi ke arah Kuroko. Pemuda itu menghilang tepat di hadapannya. Kemana dia? Tadi dia kan ada di sini, tanyanya dalam hati sembari celingukan.
"Kiki-chan..." Muncul seorang wanita dari balik pintu yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu yang ternyata ibunya Rizuki. Dia memasuki rumah sambil membawa kantung plastik berisi belanjaannya. "Mama sudah beli makanan untuk malam nanti, Sayang," katanya.
"Wah, Mama. Bahan makanannya apa-apa saja nih?" tanya Rizuki, berusaha untuk tersenyum meskipun dia sendiri kebingungan mencari dimana Kuroko berada.
"Ada bahan untuk membuat sukiyaki. Jamur shiitake, tahu, daging sapi..." Ibunya menyebutkan nama-nama bahan makanan sambil mengeluarkannya dari kantung plastik. "Pokoknya Mama akan memasak sukiyaki malam ini!"
"Sugoii, Mama... Pasti sukiyaki-nya enak sekali. Aku sudah tak sabar untuk memakannya," papar Rizuki gembira. "Mama bawa saja bahannya ke dapur. Nanti biar aku yang akan membantumu, Ma..."
"Baiklah, Sayang. Mama akan bawa bahannya dulu ke dapur, ya," sahut ibu Rizuki sambil membawa belanjaannya ke dapur.
"Hufft..." Rizuki menghela napas lega. "Tadi itu hampir saja..."
"Rizuki-san..."
"Kuroko?" Rizuki celingukan begitu dia mendengar suara Kuroko menyapanya. "Kamu ada dimana?" tanyanya sambil mencari Kuroko.
"Aku di sini. Di balik sofa..."
Sofa? Dahi Rizuki mengernyit, heran. Lalu dia menghampiri sofa ruang tamu untuk memastikan kalau Kuroko berada di sofa. Setelah diperiksa, ternyata benar. Kuroko ada di sana. Bersembunyi di balik sofa.
"Oh, ternyata kamu di sini..." ucap Rizuki lega.
"Sudah kubilang, kan kalau aku ini jago bersembunyi?" ucap Kuroko retoris. "Mamamu tidak akan melihatku di sini..."
Rizuki tersenyum. "Tapi suatu hari nanti, aku akan mengenalkanmu pada Mamaku, Kuroko. Kurasa Mamaku senang bertemu denganmu," tutur Rizuki penuh harap. Dalam hati dia ingin sekali mengenalkan pacar barunya pada Mamanya, namun dia memilih untuk menahan keinginannya.
"Kurasa aku belum siap untuk bertemu Mamamu. Nanti dikira aku akan melamarmu," canda Kuroko.
"Ah, kamu ini..."
