Sequel

.

.

.

The Truth

.

.

.

"Ne Ne Ino?"

Sakura menyentuh bahu Ino.

Membuat siempunya bahu yang masih betah menenggelamkan wajah diatas meja dengan malas menoleh.

"Hm Nande..."

Untuk beberapa saat alis Sakura saling bertautan, didalam benaknya bertanya-tanya tentang ekspresi yang ditimbulkan Ino.

"Kau terlihat tidak semangat sekali ? Kau sakit Ino?" Tanya Sakura.

Sesaat bertemu pandang dengan Ino, sesuatu bagaikan kilat melintas begitu saja dikepalanya.

Seketika menimbulkan seringaian dibibir Sakura.

"Atau jangan-jangan kau..."

Melihat senyuman ganjil yang tergambar diwajah Sakura, Ino sesegera mungkin menenggelamkan kepalanya.

Ino sudah sangat hafal dengan tindak tanduk Sakura, jika ekspresi menyebalkan itu terpasang diwajah Sakura, tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengejeknya.

"Hamil anak Tobirama Sensei?"

Dugaan Ino seratus percent benar.

Ino sebenarnya malas meladeni Sakura, namun karena tidak terima dengan lontaran kalimat yang Sakura, Ino dengan terpaksa mengangkat kepalanya dan melemparkan tatapan tajam pada Sakura.

"Tentu saja tidak!"

Sakura menahan tertawaannya.

"Terus kenapa kau terlihat lesu sekali, kau kelihatan tidak bertenaga tahu. Tidak sepeti biasanya kau seperti itu"

Ino menghela nafas lesu dan kembali menekuk wajahnya.

"Aku tidak bisa tidur belakangan ini, aku memikirkan cara bagaimana mengambil ponsel ku. Setelah apa yang terjadi aku tidak berani meminta ponselku pada Tobirama Sensei"

Ino menggigit ibu jarinya.

Sakura sesaat turut perihatin, "Sou Sou, tapi kenapa bisa ponselmu tertinggal? Bukannya kau berada diatas... Tobirama Sensei ?" Bisik Sakura, seketika wajah Ino memanas, daun telinganya bahkan ikut memerah.

"Sakura!" Desis Ino seraya berbisik.

"Nande? Aku benarkan ?!" Sakura balas berbisik.

"Tobirama Sensei melepas semua bajuku...! dan menaruhnya disembarang tempat, mungkin ponselku terjatuh saat Tobirama Sensei membuang bajuku"

Shock dan tidak percaya mendera Sakura, "Hah?!"

Kedua mulutnya bahkan menganga.

"Setelah kami selesai melakukannya, aku langsung meninggalkan ruangan Tobirama Sensei. Aku malu Sakura!"

Mulut menganga Sakura kini membuka, bersiap untuk meledakan tawa, namun saat melihat raut wajah gusar Ino, Sakura menahan tertawaannya.

Setelah cukup lama menahan tertawaannya, mulut Sakura pun akhirnya kelepasan meledakan tertawaan keras.

Kontan membuat beberapa teman sekelas mereka yang berada tak jauh menatap penuh heran pada Sakura.

Ino yang melihatnya mendecak kesal, seraya mendengus ia mengalihkan perhatiannya keluar jendela, ia lebih memilih menatapi beberapa siswa yang berkumpul dilapangan.

"Tidak lucu tahu!" Sungutnya kesal.

Sakura berusaha menghetikan tertawaannya, ia menekan perutnya yang terasa menggelitik.

.

.

.

"Kalian berdua ?" Aburame Shino menginterupsi.

Teman sekelas mereka yang selalu memakai kacamata diluar maupun dalam sekolah tersebut mendekat, sontak membuat Ino dan Sakura mengalihkan pandangannya .

"Shino" Ino maupun Sakura menggumam secara bersamaan.

"Apa yang kalian tertawakan dari tadi?"

Ino dan Sakura saling berpandangan, lalu kembali menatapi pria yang menjabat sebagai ketua kelas tersebut.

"Tidak ada, Nande ?" Tanya Sakura.

Ino hanya mengangguki.

"Ayo berkumpul di Aula, ada yang ingin kepala sekolah sampaikan untuk pelaksanaan Festival"

"Baiklah" Jawab Sakura, setelahnya Shino meninggalkan Ino dan Sakura.

Sakura pun berdiri seraya menggamit lengan Ino dan bersiap akan pergi, namun langkah Sakura terhenti saat merasakan Ino menahan pergerakan tubuhnya.

Kening Sakura ganti berkerut saat merasakan perubahan suhu badan Ino yang mendadak turun.

"Ayo Ino! Nanti kita terlambat"

Tidak ada jawaban dari Ino, temannya tersebut mendadak bisu.

Entah apa sebabnya, namun saat lama memandangi Ino yang membatu, Sakura sedikit demi sedikit dapat memahami.

Sakura melepaskan tangan Ino.

"A– aku.. aku dikelas saja Sakura, bilang pada Shino kalau kepalaku pusing"

Sembari menahan senyum Sakura mengangguk.

"Baiklah, kau segeralah ke UKS biar Shino percaya"

.

.

.

Beberapa murid yang baru memasuki aula mengambil barisan yang sesuai dengan letak barisan berdasarkan kelas, beberapa murid yang terlihat tidak sejajar terlihat mendapat arahan dari masing-masing ketua kelas.

Hingga seluruh barisan terlihat rapi, kepala sekolah baru dipersilahkan masuk oleh staf dan wakil, saat kepala sekolah mengambil langkah kedepan, beberapa murid yang terlihat berbisik dengan teman sebelahnya segera menghentikan kegiatan berbisiknya dan segera mengambil posisi tegap.

Sementara pria yang menjabat sebagai kepala sekolah terlihat mengamati satu persatu murid ditiap barisan.

Cukup lama, hingga sang kepala sekolah membuka suara.

"Selamat pagi semuanya"

Beberapa murid menjawab secara serentak setelah sang kepala sekolah menyelesaikan kalimat sapaannya.

"Apa kalian semua sehat?"

Beberapa murid menjawab secara disiplin dengan alunan nada yang tegas.

Mendengarnya sang kepala sekolah terlihat mengangguk.

Dibarisan lain, Sakura mulai mengamati sang kepala sekolah.

"Bagus. Terutama untuk murid kelas tiga, saya harap kalian dapat menjaga kesehatan kalian dengan baik, agar tidak ada yang jatuh sakit saat mengikuti pelaksanaan ujian kelulusan"

"Baik. Alasan saya meminta kalian berkumpul diaula ini adalah untuk membahas perihal pelaksanaan festival."

"Mengenai proses penyelenggaraan festival, disekolah ini tidak hanya diikuti oleh semua kelas, namun juga diikuti oleh beberapa Club, kita semua mengetahui bahwa banyak sekali Club yang terbentuk disekolah ini"

Beberapa murid mengangguk-anggukan kepala.

"Sebelum pelaksaan festival berjalan, saya hanya ingin mengingatkan beberapa hal dan meminta kerjasama dari kalian untuk ikut menjaga fasilitas sekolah, dan property sekolah yang digunakan pada saat festival."

"Agar sekolah terhindar dari kerusakan dan terhindar dari perbuatana yang bersifat merugikan sekolah kita."

"Mengerti semuanya?"

"Mengerti Sensei" Jawab seluruh siswa secara serentak.

Kepala sekolah tersebut sekali lagi memberi anggukan kepala, dan saat akan membuka mulut sesuatu disakunya terlihat bergetar dan membuat sang kepala sekolah menjeda kalimatnya untuk beberapa saat.

Kepala sekolah itu mengeluarkan ponselnya, membaca sesuatu diponselnya kemudian menekan tiap Keypad diponselnya.

Setelahnya kepala sekolah tersebut memasukan ponselnya disakunya, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada seluruh siswa.

"Untuk kelas tiga saya kembali mengingatkan untuk menjaga kesehatan, jangan pulang terlalu larut saat mengikuti festival. Kurangi ijin sakit dan ijin dengan alasan yang tidak jelas"

Disalah satu barisan murid kelas tiga, berdiri Sakura, iris Emerald miliknya masih mengawasi kepala sekolah yang berdiri didepan.

Kelopaknya beberapa kali mengerjap, saat mengamati kepala sekolah itu Sakura tidak merasakan perubahan sikapnya sedikitpun.

Kepala sekolah tersebut masih saja dingin, datar, dan tegas seperti biasanya.

Ia pikir perlakuan Ino pada kepala sekolah itu akan memberi dampak yang besar pada karakter sang kepala sekolah, namun ternyata tidak.

.

.

.

Ditempat lain, bosan menenggelamkan wajahnya dimeja, Ino berpindah posisi dengan menyandarkan tubuhnya disamping jendela dan menatap kearah luar.

Tap.. Tap..

Derap langkah terdengar terhenti, penasaran dengan pemilik langkah, Ino pun mengalihkan pandangannya, dan pada saat menoleh iris biru lautnya bertemu pandang dengan seorang guru yang berdiri diambang pintu.

Mata Ino membulat saat melihat Hinata lengkap dengan tasnya berdiri disamping sang guru.

Guru bagian kesiswaan yang sering disebut Kagami Sensei itu tidak mengenal toleransi, dalam hal kecil apapun, terlebih pada murid yang terlambat dan murid yang sengaja tidak hadir dalam pengarahan yang diberikan guru maupun kepala sekolah.

Guru yang memiliki tatapan lembut itu tidak mengenal negoisasi jika berhubungan dengan pelanggaran sekolah, senyum ramahnya tidak menjamin jika ia akan mempertimbangkan alasan-alasan yang diutarakan oleh murid yang ditanganinya.

"Siapa namamu?"

Ino menelan ludahnya.

ooOoOoo

"Ck!?"

"Haaahhh...!?"

Ino menahan kedua tangannya yang gemetaran, ia menarik nafas dalam-dalam, setelah menghembuskannya Ino baru melanjutkan pekerjaannya merapikan meja didepannya.

Menyusun dengan asal buku yang tergeletak, dan kemudian membersihkan debu dimeja tersebut secepat mungkin.

Gerak gerik Ino tersebut untuk kesekian kalinya menarik perhatian Hinata.

"I.. no? Daijoubu ?"

Ino setengah terkejut saat diinterupsi oleh Hinata, Ino kemudian mengelus dadanya.

Sejak memasuki kantor kepala Sekolah Ino jadi bertingkah layaknya Paranoid.

Ia mengira setiap suara yang terdengar ditelinganya adalah langkah kepala sekolah.

Secara fisik maupun batin Ino belum siap bertatap muka dengan kepala sekolah itu, mengingat hal yang pernah dilakukannya pada kepala sekolah itu, tiap kali membuat Ino ingin segera terjun kejurang.

Ia malu sekali.

Sungguh malu sekali.

Ia sangat beruntung guru Uchiha itu tidak menyerahkannya pada kepala sekolah.

Setidaknya Ino bisa bernafas lega, saat diberi hukuman untuk membersihkan kantor guru dan kantor khusus kepala sekolah.

"Daijoubu Hinata. Pekerjaan ku sudah selesai, ayo kita pergi!?"

Ino menarik pergelangan tangan Hinata.

"Tapi– Ino aku belum selesai merapikan–"

"Biarkan saja Hinata, aku... –"

Ino menggantung ucapannya, pandangannya yang awalnya menoleh kesembarang arah kini terlihat terpaku pada salah satu objek disudut sana.

Hinata yang penasaran otomatis menoleh dan mengikuti arah pandang Ino, dan ketika menoleh Hinata tidak mendapati sesuatu yang menarik selain ruangan kepala sekolah yang tampak lengang.

Pintu ruangan yang setengah terbuka menunjukan jika tidak ada seorangpun yang berada disana.

Mendapati situasi tersebut, ekspresi gelisah yang tercetak diwajah Ino seketika berganti menjadi ekspresi penasaran.

"Hinata kau tunggu disini ya?"

Hinata menatap Ino penuh tanya.

"H ..ai?"

"Aku– pokoknya kau tunggu disini saja ya? jika ada orang panggil saja aku. Okay?"

Hinata dengan berat hati mengangguk, "M– memang apa yang –"

"SSSSSStttt!?"

Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya Ino sudah terlebih dahulu memotong perkataan Hinata, dan meletakan jari telunjuknya didepan bibir.

"Kau diam saja, aku ingin mengambil kembali ponselku"

"T– tapi Ino, "

Ino sekali lagi meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya, "SSSSssstt!? Kau diam saja"

"Kau pura-pura saja merapikan meja, jika ada yang datang panggil saja namaku ya Hinata? Aku mengandalkanmu"

Ino menepuk bahu Hinata, dan melesat pergi menuju ruangan kepala sekolah. Meninggalkan Hinata yang menatapnya resah.

Saat sampai diruangan kepala sekolah, Ino segera menghampiri meja sang kepala sekolah, meneliti tiap sudut meja untuk mencari dimana ponselnya diletakan.

Tak menemukan ponselnya diatas meja, ino beralih kearah laci, dan mencari ponselnya ditiap laci yang tertera didepan matanya, tak mendapati keberadaan ponselnya, Ino kembali membuka laci-laci yang lain.

Namun tetap tak ia temukan, hingga matanya mendarat pada laci terakhir.

Ino pun membukanya dengan harap-harap cemas, dan saat laci tersebut terbuka Ino seketika terduduk lemas dilantai, lalu tanpa ragu menjedukan kepalanya pada laci yang tertutup.

"Baka. Ino No baka!" Gerutunya kesal.

"Dimana ponselku terjatuh sebenarnya?" Gumamnya setengah berbisik.

Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Ino pun segera bangkit dan bermaksud ingin melangkah keluar.

Namun terhenti ketika mendapati keberadaan seseorang didepan pintu.

Ino tidak mampu mengeluarkan kata-kata sedikitpun.

Yang ada dipikirannya hanya Hinata, ia bertanya-tanya kemana perginya Hinata sekarang, mengapa Hinata tidak memberitahunya jika ada yang datang.

"Ada keperluan apa murid sepertimu diruangan kepala sekolah?"

Lagi-lagi ia tertangkap basah oleh guru Uchiha itu, dan ia yakin kali ini hukuman yang akan diberikan tidak ringan.

"Apa yang kau cari dilaci kepala sekolah? Apa kau tahu tindakan seperti itu termasuk dalam tindakan kriminal?"

Ino menahan nafasnya.

"Apa kau tahu tindakan seperti itu dapat melibatkan ahli hukum?"

Guru tersebut memandangnya dengan tatapan ramah, sekilas membuat Ino bingung sekaligus heran.

Dari intonasi dan geriknya guru Uchiha itu tidak terlihat sedang memberikan sanksi.

"Karena tindakan ini terjadi diruangan kepala sekolah, sebagai guru bagian kesiswaan aku tidak berhak memberi hukuman."

Ino sudah menduga ini.

"Biar kepala sekolah yang menangani kasus ini"

Ino merasakan nafasnya sejenak berhenti, seakan udara yang melewati kerongkongannya tertahan, dimenit selanjutnya Ino merasa dunia sekitarnya menggelap.

ooOoOoo

"Aku hampir tidak percaya jika ada siswa perempuan yang berani menyerangmu, bahkan diruanganmu pula"

Tobirama tersenyum miring, sembari menatap lawan bicaranya, ia sesekali menatap Ino yang terbaring dengan mata menutup diatas sofa.

"Hingga saat ini aku masih belum mengetahui motifnya melakukannya. Aku berkali-kali berpikir jika dia kemungkinan pelaku PSK?"

Kagami dengan senyum penuh arti menggeleng pelan, lalu menarik nafas.

"Bagaimana bisa dia menjadi wanita PSK? Sedangkan ayahnya sendiri bekerja sebagai intel dikepala kepolisian"

Tobirama sukses tercengang.

"Hah?"

"Aku tidak salah dengarkan?" Tanya Tobirama dengan mulut menganga.

Kagami tertawa geli, "Tidak. Ngomong-ngomong Tobirama, ayahnya termasuk salah satu petinggi kepolisian negara, asal kau tahu"

Tobirama mengangguk dengan keterkejutannya, ia kembali mendaratkan pandangannya pada Ino, kali ini lebih lama.

"Lantas kenapa dia berani sekali melakukannya padaku? Bahkan.. dia yang mendatangiku. Padahal kami tidak saling mengenal"

Kagami ikut menoleh kearah Ino yang masih tertidur.

"Kau bisa mendapat jawabannya sendiri jika ingin, lagipula..."

Tobirama menoleh, dan mengembangkan senyuman ganjil saat bertemu pandang dengan Kagami.

"Ya~h"

Kagami terkekeh.

"Pemikirannya belum sematang bagian bawah perutnya"

Tobirama menyeringai.

"Berani sekali seekor kelinci kecil sepertinya membangunkan singa yang sedang tertidur lelap."

Kagami menatap kearah Ino yang terlihat menggeliat, dan dalam sekejap tatapan Tobirama berubah liar.

Melihatnya Kagami segera beranjak, masih dengan menahan senyum ia berbalik pergi.

"Aku masih punya banyak urusan, aku pergi dulu"

Tobirama menoleh sekilas. "Silahkan"

Kagami pun melangkah keluar, dan tak lupa menutup pintu.

Sedangkan Ino yang daritadi menggeliat, kini membalik posisinya menjadi menyamping dan spontan membuka mata.

Sesaat membuka mata, pandangan disekitarnya terlihat mengabur, ia lalu mengerjapkan matanya beberapa kali, dan saat menatap kearah depan, lensa matanya baru menangkap dengan jelas sosok pria yang sedang duduk dikursi sembari menatap kearahnya.

Menyadari pria didepannya siapa, Ino dengan tergesa-gesa bangun dan seketika mundur kebelakang saat melihat tatapan intens pria yang sangat dikenalnya.

"T– Tobirama Sensei? Kenapa bisa ada disini?" Tanyanya Shock.

Lama terdiam akhirnya pria yang menjabat sebagai kepala sekolah tersebut tersenyum seraya mengangkat sebelah alisnya.

"Harusnya aku yang bertanya begitu, apa yang kau lakukan diruanganku? Apa yang kau cari didalam laci-laciku? Sampai-sampai berkas dan dokumen yang sudah tersusun rapi jadi berantakan?"

Tubuh Ino membeku, lidahnya secara mendadak menjadi kaku, bahkan untuk mengeluarkan sepatah kalimat pun.

Kejadian saat ia pertama masuk kedalam ruangan ini, hingga kejadian saat ia membuka seluruh laci untuk mencari sesuatu, sampai akhirnya ia dipergoki oleh guru badan kesiswaan, mulai berputar dikepalanya.

Banyak sekali pertanyaan yang timbul dikepala Ino terkait nama Uchiha Kagami, namun tidak satupun berhasil ia keluarkan dari mulutnya.

Apalagi saat melihat Tobirama yang berjalan mendekat.

Seluruh tubuh Ino mendadak dingin, ia bahkan tidak dapat merasakan keberadaan rangka yang menopang tubuhnya.

Ia dan Tobirama kini saling bertatapan.

Keringat dingin mulai menetes dipelipisnya saat Tobirama memeluk pinggangnya.

"Aku sudah lama menunggumu datang kemari. Dan ternyata hari ini kau datang juga"

"Apa akhirnya kau jadi merindukanku? Hm?" Tangan Tobirama menelusup masuk kedalam rok Ino dan mengelus paha bagian dalam Ino.

"S Sensei...A no"

Tobirama menahan tangan Ino yang mencoba menjauhkan tangannya, hingga tangan Tobirama berhasil mencapai sesuatu dibagian bawah Ino.

"Kau belum menjawab pertanyaanku satu pun, Yamanaka"

Ino memejamkan matanya, ia mengapit kedua pahanya untuk menahan pergerakan tangan Tobirama didalam Roknya.

"Kau tahu tindakanmu yang seperti pencuri saat membongkar laci-laciku bisa menyeretmu kedalam penjara."

Ino baru membuka matanya ketika Tobirama menghentikan tindak pelecehannya, dan menarik tangannya keluar.

Tobirama menyangga sikutnya di pembatas sofa seraya menatapnya.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan dari laci-laciku? Hn?"

Ino dengan tubuh gemetar menoleh.

"A– Aku... aku mencari ponselku Sensei? Aku.."

"Oh apa baru saja kau menuduhku mengambil ponselmu dan menyembunyikannya didalam laciku?"

Tobirama memasang ekspresi wajah tidak terima.

Sedangkan Ino memilih menunduk.

Ia tidak sanggup berhadapan dengan Tobirama.

Yang dirasakannya sekarang hanya perasaan malu.

Ino dengan kaku menggeleng.

"T– Tidak.."

Tobirama mengerutkan keningnya dan diam-diam menarik senyum.

"A– aku hanya mengira ponselku mungkin terjatuh disini. Setelah h– ng waktu itu.. em"

Ino menggelengkan kepalanya asal.

Bahunya terlihat bergetar.

Tobirama sendiri berpura-pura tidak mengetahui kerisauan yang memenuhi hati Ino, matanya menatap sekilas kesembarang arah sebelum kemudian kembali mendaratkan pandangannya pada Ino.

"Oi Yamanaka Ino"

Ino dengan gugup menoleh.

Dan pada saat menoleh kedua belah bibirnya langsung dibungkam oleh Tobirama, Ino dengan keterkejutannya hanya mampu diam dengan dengan mata membola.

Dikepalanya timbul pertanyaan atas tindakan tiba-tiba Tobirama, hingga tubuhnya dibaringkan oleh Tobirama ia baru mengerti.

Menyadari maksud dari perlakuan Tobirama, Ino pun memberontak, mendorong dada Tobirama agar menjauh darinya, namun kedua tangannya dicengkeram kuat oleh Tobirama dan ditahan disamping wajahnya.

"Bukankah waktu itu kau yang menginginkan ini?" Tanya Tobirama.

Dan tanpa memberikannya kesempatan untuk menjawab, Tobirama kembali meraup bibirnya, melumat dan menghisap bergantian bibirnya, tanpa mengindahkan penolakannya Tobirama memperdalam ciumannya, mengklaim bibirnya secara bergantian, tanpa henti, hingga akhirnya Ino terbuai.

Dan berhasil membuat Ino menutup matanya.

Mengetahui Ino menikmati perlakuannya, Tobirama beralih menyingkap seragam yang dikenakan Ino, dan menyingkap serta dalaman Ino hingga tubuh bagian atas Ino terbuka seluruhnya.

"Shh~"

Sudut bibir Tobirama mengembang, melihat Ino yang hanya diam pasrah membuat nafsunya semakin naik.

Ia bermaksud ingin memindahkan ciumannya dikedua payudara Ino, sebelum kemudian dering telepon menghentikan aktifitas Tobirama.

Seakan tersadar, pandangan mata liar serta senyuman mesum yang sempat terkembang dibibir Tobirama perlahan lenyap.

Seakan menyadari yang dilakukannya adalah hal yang salah, Tobirama dengan perlahan bangkit, melirik Ino sekilas kemudian berjalan menuju telepon yang berdering.

"Moshi Moshi?"

Heran dengan perubahan sikap Tobirama, Ino pun bangkit.

Ino dengan penuh tanya membenahi penampilannya, lalu duduk memperhatikan Tobirama yang masih menerima telepon.

Selang beberapa menit, Tobirama menutup telepon dan menoleh kearah Ino yang memperhatikannya.

Ino memutus tatapannya dengan Tobirama dan beralih menatap lantai, sedangkan Tobirama bergerak mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya, kemudian mendekati Ino lalu memberikan benda berupa ponsel pada Ino.

"Ini ponselmu, ambillah"

Ino dengan kebisuannya mengangguk, lalu mengambil ponsel tersebut dari tangan Tobirama.

"AArigatou.. Sensei"

Tobirama tersenyum tipis, "Ah, pulanglah. Bel pulang sudah lewat satu jam yang lalu"

"Nanii..?"

Tidak ada jawaban dari Tobirama, Tobirama memilih mengambil beberapa dokumen dari lacinya dan memilih menyibukan dirinya dengan selembaran yang terselip disana daripada menggubris perkataannya.

Ino mengerutkan keningnya.

"Apa hanya aku siswa yang berada disekolah ini" Ino memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Hm"

Ulu hati Ino serasa disayat, Ino berpikir mungkin perubahan Tobirama disebabkan oleh kesalahan kecil yang tidak disadarinya.

Sikap Tobirama secara tiba-tiba berubah drastis.

"SSensei?"

Tobirama menoleh sekilas.

"Apa Sensei marah?" Tanya Ino To The Point.

Tobirama menaikan sebelah alisnya.

"Aku tidak punya alasan untuk marah padamu. Pulanglah, orang tuamu pasti sedang khawatir"

Ino menarik senyum kaku.

"Tidak apa-apa selama aku masih berada disekolah, ayah dan ibu tidak akan khawatir"

Tobirama tidak menjawab.

"Ano Sensei.. bagaimana dengan yang... tadi" Tanya Ino ragu.

Tobirama berhenti membalik lembaran selanjutnya, dan kali ini memfokuskan pandangannya pada Ino.

"Lupakan, lupakan hal bodoh yang kulakukan barusan. Sebagai orang terpelajar harusnya kau mengetahui jika moral yang ada pada dirimu telah rusak."

Mendengar kalimat barusan membuat Ino diam tak bergeming.

"Hal yang kau lakukan beberapa hari lalu adalah perbuatan yang melanggar etika, kau harusnya mengenal batasan. Lewat kejadian kemarin kau harus menyadari jika harga dirimu sudah jatuh"

"Lagipula untuk apa kau mau melakukan hal rendah itu pada gurumu sendiri? Apa kau tahu yang sebenarnya rugi adalah dirimu?"

Ino menekuk wajahnya kebawah.

Kata-kata barusan adalah sindiran untuknya, tapi Ino tidak merasakan sakit.

Yang dikatakan Tobirama memang benar.

"Pergilah, jangan pernah menemuiku lagi. Lagipula kau murid angkatan terakhir, fokuslah belajar, dan usahakan lulus secara terhormat dari sekolah ini"

Ino mengangguk kaku.

" HHai.."

"Silahkan keluar"

ooOoOoo

Hari-hari yang dilewati Ino berjalan seperti biasanya.

Seminggu atau mungkin dua minggu telah berlalu, dan pertemuannya dengan Tobirama Sensei diruangan kepala sekolah merupakan pertemuan dan interaksi terakhir secara pribadi.

Sejak ponselnya dikembalikan Ino tidak merasakan gugup, gelisah ataupun gusar saat hal yang dikerjakannya berhubungan dengan kepala sekolah.

Beberapa kali mereka sempat bertemu, bahkan berpapasan, dan reaksi kepala sekolah tersebut biasa-biasa saja.

Tidak ada rasa canggung atau sejenisnya saat menatap dirinya, kepala sekolah itu bersikap seolah mereka tidak pernah saling mengenal.

Dilubuk hati Ino sebenarnya merasakan sakit.

Setelah bersentuhan dengan pria itu, Ino merasakan perasaan asing yang menelusup masuk direlung hatinya.

Perasaan itu seolah tumbuh dan memenuhi ruang hatinya.

Perasaannya tiap kali terasa sesak saat sang kepala sekolah memberikan tatapan datar.

"Hiks..."

Ino menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"YO!? INOO"

Sakura dan diikuti Hinata menyerukan namanya bermaksud untuk membuatnya kaget, sayang sekali Ino tidak sedang dalam Mood.

"Ino ayo pulang" Ajak Sakura.

Setelah beberapa menit Ino tidak memberikan respon sediktipun.

Sakura dan Hinata saling berpandangan.

"Kau sedang memikirkan apa Ino?" Sakura menepuk-nepuk punggung Ino.

"Jangan terlalu banyak pikiran, bulan depan kita sudah menghadapi ujian kelulusan. Ingat yang dikatakan kepala sekolah"

Ino refleks menoleh kearah Sakura, entah apa yang menarik dari dua suku kata barusan, tiap mendengar orang-orang disekitarnya menyebut kalimat kepala sekolah, sesuatu bagaikan arus listrik seakan menyengatnya.

Sedangkan Sakura dan Hinata, terkejut saat menangkap mata sembab Ino.

ooOoOoo

"Oi Tobirama?"

Kagami menarik kursi lalu duduk didepan meja Tobirama yang sedang menikmati minuman dicangkir.

"Hn Kagami?" Sahutnya, setelahnya Tobirama menyesap air dicangkirnya.

"Aku mendapat info baru dari teman dekat Yamanaka Ino"

"Brusssssh! Uhuukk! Uhhukk!"

Tobirama meletakan cangkirnya dimeja, dan segera menutup mulutnya yang mengeluarkan batuk.

Melihatnya Kagami hanya melayangkan senyum, "Ada apa denganmu Tobirama?'

Tobirama berusaha menghentikan batuknya, "Ap– Uhhukk!"

"Kau tahu, kurasa hubungan ranjangmu dengan Yamanaka Ino mulai tercium dikalangan anak kelas tiga. Mereka menyebutnya dengan kata 'pembuktian'"

Bola mata Tobirama melebar, "Hubungan ranjang? Kurasa kami hanya melakukannya sekali. Hanya disini, diruangan ini. Selanjutnya tidak pernah lagi"

Kagami tertawa geli.

"Tumben kau tidak tertarik dengan gagasan itu lagi?"

Tobirama menghela nafas bosan.

"Aku sudah tidak butuh alat pemuas nafsu"

Kagami tersenyum seraya mengangkat alis, "Apa maksudnya kau sudah kembali kejalan yang benar?"

"Uruse! No Bakayaro"

Kagami tertawa terbahak.

"Aku membutuhkan tempat untuk bersandar"

"Yamanaka Ino wanita yang cocok" Celetuk Kagami.

Tobirama melayangkan tatapan mematikan.

"Aku tidak suka perempuan jalang"

Kagami menahan tertawaannya, "Penghakiman yang sangat kasar untuk ukuran seorang murid, Sensei"

"Tidak apa-apa selagi orangnya tidak berada diruangan ini"

Kagami menepuk bahu Tobirama.

"Aku mendapat info dari keponakanku yang berpacaran dengan teman dekat Yamanaka Ino, kau tahu apa? Yamanaka Ino menyukaimu"

Tobirama sesaat terpaku, sebelum kemudian menjawab dengan gumaman singkat.

"Sou"

Kagami masih menyematkan senyum, "Kau tidak tertarik?"

"Hm."

Kagami bersiap untuk melepaskan tertawaan.

"Yamanaka Ino wanita yang cantik, dan juga berasal dari keluarga yang tepandang. Tapi.."

"Tapi.. ?"

"Dia bukan tipe wanita yang masuk dalam daftar pencarianku"

Kagami menarik senyum.

"Maksudmu bagian bawahnya?"

Tobirama mengangguk.

"Sudah ternoda"

Kagami tertawa geli, "Bukankah kau termasuk yang mencemari? Bahkan tidak terhitung"

"Aku pikir wanita yang mudah termakan rayuan lelaki adalah wanita yang tidak punya moral. Gegabah dan –"

"Murahan"

"Kau kejam sekali"

Tobirama mengendikan bahunya.

ooOoOoo

SREETTT!

SWIING!~!?

Jduarr Duarr Duarrr...!

Letusan kembang api saling bersahut-sahutan, terlihat percikan diatas sana mewarnai langit malam.

Sebuah senyum tipis terkembang dibibir Ino, ia suka suasana malam ini, begitu indah dan penuh warna.

Dan akan lebih indah jika ledakan bervariasi itu disaksikan bersama dengan seseorang yang dicintai, terakhir dia menyaksikan Moment indah seperti ini setahun yang lalu, dengan orang terkasihnya.

Orang terkasih sekaligus pelaku yang merenggut keperawanannya, dan telah lulus setahun yang lalu dari sekolah ini.

Dan setelah kelulusannya pria itu pergi tanpa memberitahunya, setelah beberapa bulan tak ada kabar, pria itu menghubungi dirinya dan secara sepihak memutuskannya.

"Ck!"

Ino tidak menyimpan dendam sedikitpun, hanya saja ia masih merasa kecewa.

Dan butuh waktu setahun untuk Ino menghilangkan rasa sedihnya.

Dan sekarang hatinya sudah mulai terbuka, dan pilihannya jatuh pada pria dewasa yang tak lain adalah kepala sekolahnya sendiri.

Ino mulai jatuh cinta saat pria itu menghentikan tindak pelecehannya, meski kata-kata yang dilayangkan pria itu padanya terdengar menyayat hati, rasa kagum Ino terhadapnya tidak berkurang.

Andai pria itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Ino berjanji tidak akan pernah melukai hati pria itu.

Bahkan untuk mendua sekalipun.

BRUGH!

"Ssshss..? Itaii~"

"Oh? Kau"

Sembari mengelus jidatnya Ino menoleh untuk melihat siapa yang ia tabrak.

"Gomennasai..Kagami Sensei"

"Ya tidak apa-apa. Kau mau kemana? Bukankah pesta kembang apinya belum selesai?"

Ino tersenyum kecil.

"Aku hanya ingin pulang"

"Jam ditanganku masih menunjuk pukul 19.00, masih terlalu awal untuk pulang kerumah"

"Apa orang tuamu menyuruh pulang?"

Ino menggeleng, "Tidak Sensei.. aku, tidak ada yang dapat ku bantu lagi, semua persiapan sudah selesai"

"Hanya itu?"

Ino mengangguk.

"Sayang sekali, padahal aku sedang butuh murid perempuan yang Free untuk menemaniku menyaksikan kembang api"

Ino menatap lama Kagami, sebelum kemudian mengangguk.

"Aku rasa aku bisa menemani Sensei, aku ingin pulang karena teman-temanku meninggalkanku"

Ino mencebik bibirnya kesal.

Kagami tertawa kecil.

"Sou Desu Ka, yasudah jangan dipikirkan, ayo kita melihatnya dari lantai dua saja"

"Baiklah Sensei"

Ino dan Kagami berjalan menuju gedung sekolah, lalu berjalan masuk kedalamnya.

Lalu Keduanya berjalan menuju tangga yang mengarah kelantai dua, sembari berbincang keduanya menaiki anak tangga, hingga akhirnya sampai pada lantai dua.

Namun saat sampai, Kagami malah meneruskan langkahnya menuju tangga lantai tiga, meski dilanda perasaan bingung Ino tetap mengikuti langkah Kagami.

"Sensei bukankah kita sudah berada dilantai dua?"

"Kita diatap saja, biar melihat kembang apinya lebih jelas"

Ino pun mengangguk. Lalu mengikuti Kagami hingga kelantai tiga, dan naik menuju atap.

Saat sampai Ino mengikuti jejak Kagami yang berdiri dekat pembatas atap.

Menatap percikan kembang api yang menghiasi langit.

"Indah.." Gumam Ino.

Kagami menoleh seraya tersenyum.

"Sudah kubilang kan?"

Ino balas menoleh, "Ehm~ Iya Sensei"

"Hm, ngomong-ngomong Ino"

Kagami menatap Ino, "Sebelumnya aku ingin bertanya"

"Tanyakan saja Sensei"

"Belakangan ini aku sering mendengar gosip yang beredar diangkatan kelas tiga, mereka menyebutkan tentang pembuktian yang terjadi antara kau dan kepala sekolah kita"

Ino sejenak mematung ditempatnya, sebelum kemudian menelan gugup salivanya.

"Aku– tidak tahu, sebelumnya aku hanya mendengar jika kepala sekolah kita adalah seorang Homoseksual. Jadi–"

Seakan tersadar Ino menjeda kalimatnya.

Sedangkan Kagami terlihat akan meledakan tawa.

"Pfftt!?"

"Jadi?" Tanya Kagami masih dengan menahan tertawaannya.

Ino menggeleng.

"Aku tidak tahu, jangan dengarkan anak-anak yang menyebarkan berita itu. Itu sama sekali tidak benar Sensei. Bagaimana aku bisa berhubungan dengan kepala sekolah padahal kami tidak pernah bertegur sapa"

Kagami mati-matian menahan tertawaannya.

"–Sou Desu"

"Benar yang kau katakan, bagaimana aku bisa percaya dengan gosip yang tidak diketahui sumbernya. Melihat kau dan kepala sekolah beinteraksi saja aku tidak pernah"

Ino menarik nafas gugup.

Selanjutnya Kagami tertawa lepas dan menyebutkan berkali-kali suku kata Homo disela tertawaannya.

.

.

.

Handphone Flip masih bertengger ditelinga Tobirama, ia meremas pinggiran kertas yang sejak tadi terselip dijari tangannya.

'Kenapa kalian bisa mengira kepala sekolah seorang Homo?'

'Karena Tobirama Sensei tidak memiliki kekasih, jadi semuanya mengira Tobirama Sensei seorang Homo'

'Lalu atas alasan apa kalian bisa menghakimi kepala sekolah kalian sendiri seorang Homo?'

'Aku tidak tahu, aku tidak pernah mau mengurusi hal orang lain.'

'Aku hanya mendengar berita itu dari siswa perempuan lain yang sering mengikuti Tobirama Sensei, saat mengikuti Tobirama Sensei mereka tidak pernah melihat Tobirama Sensei berjalan degan seorang wanita, makanya mereka mengira jika Tobirama Sensei seorang penyuka sesama jenis'

'Lalu bagaimana tanggapanmu pertama kali?'

'Aku memang tidak percaya, bisa saja Tobirama Sensei sedang menjalani hubungan jarak jauh'

'Ternyata begitu'

'Hn'm'

'Dan pendapatmu pada Tobirama Sensei bagaimana?'

'Aku –percaya jika Tobirama Sensei adalah seorang pria normal. Ya.. seperti itulah'

Tobirama beranjak dari meja kerjanya dan berjalan keluar.

Berjalan menaiki tangga yang mengarah pada atap gedung, sembari berjalan Tobirama masih mendengarkan percakapan antara Kagami dan Ino.

Setelah sampai, Tobirama memasuki pintu atap yang terbuka, lalu melangkah tanpa suara mendekati dua orang didepan sana yang masih asyik berinteraksi.

Tobirama berhenti dijarak satu meter, lalu menutup sambungan ponselnya dan memasukan ponselnya kedalam saku.

Kagami ganti bergeming, menyadari kedatangan sahabatnya, ia segera berbalik dan mengulas senyum.

Sesaat membuat Ino kehernan.

"Kau sudah tahu alasannya"

Tobirama mengangguk.

Dengan rasa penasarannya Ino pun berbalik.

Saat mendapati sosok Tobirama dibelakangnya kedua bola mata Ino membelalak.

'S Sensei .." Gumam Ino kaku.

Rangka ditubuhnya serasa ingin lepas saat Tobirama balik menatapnya.

Dibenak Ino bertanya-tanya akan kemunculan Tobirama, ia sejenak bertanya apa maksudnya ini?

Dilihatnya Kagami mulai berbalik pergi, berjalan menuju pintu meninggalkannya berdua dengan Tobirama.

"Jadi pelaku penyebaran berita tentang 'pembuktian' adalah kau? "

Ino mati-matian menahan degub jantungnya, lalu menatap Tobirama dan menggeleng setenang mungkin.

"Tidak Sensei, setelah kejadian yang waktu itu. aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun"

Tobirama masih menatapnnya.

"Lagipula anak-anak kelas tiga hanya menebak-nebak, mereka menyebut namaku karena salah satu anggota osis ada yang pernah melihatku keluar dari kantormu hanya seorang diri"

Tatapan menusuk Tobirama diwajahnya semakin intens, Ino bahkan hampir lupa caranya menarik nafas.

"Kau harus bertanggung jawab atas kasus ini"

Ino menelan liurnya dan menatap Tobirama segan.

"Bertanggung jawab seperti apa yang Sensei..maksud ?"

Tobirama berjalan kedepan dan berdiri membelakanginya.

"Apa kau pura-pura bodoh untuk tidak menyadari penyebab berita ini tersebar karena ulah siapa?"

Ino mengaitkan jari-jarinya dan mencengkeram satu dari beberapa jarinya, ia memikirkan tiap inci perkataan Tobirama.

Jika tanggung jawab yang diminta Tobirama adalah untuk menghilang Ino tidak keberatan, lagipula setelah ujian kelulusan Ino akan pindah kekota yang jauh untuk melanjutkan kuliahnya.

Dan.. Ino pikir mungkin ini kesempatannya untuk menyatakan perasaannya.

Jduarr duarrr!

Kressssshhhhh!

Ledakan kembang api seolah menginterupsi Ino.

Ia memejamkan mata saat hendak menggerakkan tungkai kakinya, dengan berbekal nekat Ino melangkahkan kakinya mendekati Tobirama, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua lengannya dipinggang tobirama.

Kemudian menyandarkan sisi wajahnya dipunggung Tobirama.

"Aku.. mencintaimu Sensei"

Tanpa diduga Tobirama meraih jemarinya dan dengan gerakan canggung menyatukannya dengan jemari miliknya.

.

.

.

END

Haloo~? All? Gimana Sequelnya? :D

Haha terserah apa kata kalian deh, yang penting kewajiban saya buat ngelanjutin Oneshoot Dare udah Finish, and i hope you like it ya.

Buat review Oneshootnya Arigatou Gozaimasu :)

Gak nyangka bakal ada yang suka.

Sekali lagi makasih banyak ya atas reviewnya.