Disclaimer: I do not own Bleach. Bleach only belongs to Tite Kubo.
[Semua hal yang terkandung dalam fanfiksi ini murni fantasi belaka.]
Semua terjadi tidak seperti apa yang Rukia harapkan. Kemungkinan dirinya terpilih, Rukia tidak pernah memikirkan ini, seolah jika Raja menaruh perhatian kepadanya, masa itu hanya akan datang ketika Rukia menjadi wanita terakhir yang tersisa di muka bumi.
Sisi normalnya berkata, bahwa ini adalah berita baik. Bagaimana pun juga, terpilih menjadi selir Raja bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang orang, selain penampilan tentu saja wanita ini haruslah wanita yang cerdas, paham betul bagaimana menjaga perilaku, kadang latar belakang keluarga yang baik juga diperhitungkan. Jika salah satu putri dari sebuah klan menjadi selir Raja, bukan hanya putri mereka saja yang mendapat status tinggi, hal ini juga akan berdampak pada status keluarganya yang akan naik di mata sosial. Sementara sisi tidak normal Rukia berkata, bahwa ini sangat buruk! Rukia tidak berencana untuk tinggal di istana lebih lama lagi, ia ingin segera pulang dan kembali menjalani kehidupannya yang (menurut Rukia) normal.
Maka saat Momo mendengar ini dari mulut Rukia, gadis itu tak dapat membendung rasa bahagianya, namun kala ia menemukan wajah murung majikannya, kebahagian itu di sisi lain juga terasa pahit.
Momo tahu apa yang tengah Rukia pikirkan. Sejujurnya ia juga sedih, karena jika begini keadaannya, setelah ini Momo harus pulang ke mansion Kuchiki seorang diri. Istana sudah pasti akan menyiapkan seorang pelayan pribadi yang baru untuk Rukia. Dia tidak akan bisa berada di sisi Rukia lagi, membuatkannya teh, menyiapkannya manisan, membangunkan gadis itu jika tertidur, ikut bersujud di depan Byakuya sambil mendengarkan pria itu berceramah. Momo sudah pasti akan sangat merindukan masa-masa itu.
Saat ini keduanya sedang berhadapan, Rukia duduk tenang di sebuah kursi, sementara Momo memandangnya dari seberang meja, suasana hening.
Gadis itu memeluk sebuah buntalan di dadanya, Momo telah bersiap keluar istana. Tapi sampai detik ini, Rukia tetap tidak mengatakan apa-apa. Momo meremas buntalan berisi pakaian itu kian erat, berniat menyampaikan kata perpisahan. Tapi ia merasa tidak memiliki cukup kekuatan. Maka, ia hanya tetap berdiri di sana, lalu membungkuk dalam.
"Rukia-sama, aku pergi sekarang."
Momo pun berlalu, tubuhnya terasa memberat tiap kali ia mengambil langkah. Tapi ia tidak boleh berbalik, jika ia melihat wajah Rukia lagi, mungkin akan sulit baginya meninggalkan istana. Rukia memang tidak mengatakan apa pun, tentu saja dia tidak akan mengucapkan kata selamat tinggal, karena dia yakin, suatu saat nanti mereka pasti masih bisa bertemu lagi.
Setelah Momo menjauh, seseorang diam-diam mengambil napas panjang, suasana tegang barusan sungguh terasa janggal. Kyoko tidak pernah tahu adegan perpisahan seorang majikan dan pelayannya bisa sedramatis ini.
Pelayan pribadi Rukia yang baru itu juga bernapas lega, menyimpulkan dari apa yang dilihatnya, ia merasa kalau dirinya mendapat majikan yang baik. Bibir Kyoko mengembangkan senyum, melirik Rukia, Kyoko berpikir untuk mengingatkan gadis itu bahwa sebentar lagi adalah waktunya makan siang.
Kakinya perlahan berjalan mendekat, tapi ia sangat terkejut ketika mendapati air mata mengalir deras dari kedua violet indah itu.
"Ru-Rukia-sama?!"
Kyoko langsung panik, buru-buru mengambilkan Rukia saputangan untuk mengelap air mata di kedua pipinya.
Rukia yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mengaku. "Aku sangat sedih, hiks. Momo sudah bersamaku sejak lama, hiks, tiba-tiba sekarang harus berpisah, hiks. Aku sangat sedih, hiks."
Dengan mengelap air matanya yang tak juga berhenti mengalir, Rukia terus berceloteh hingga lelah dan jatuh tertidur.
Empat hari berselang, paviliun tempat tinggal Rukia yang baru telah selesai dari renovasi. Paviliun Barat terletak cukup jauh dari kediaman Raja. Kediaman Rukia sendiri terletak paling jauh dari gerbang utama paviliun. Pertama kali melihatnya, Rukia tidak percaya bahwa paviliun itu lebih luas dari apa yang ia bayangkan. Tepat di depan kamarnya terdapat taman kecil yang dihiasi kolam buatan, ada jembatan yang menghubungkan dari tepi ke tepi yang lain, ada pula pohon sakura yang sedang memunculkan kuncupnya berdiri kokoh di sana. Pemandangan ini sangat mengingatkannya pada rumah.
Rukia menggeleng cepat, ia tidak ingin terus terlarut dalam kesedihan. Sekarang Dewa dengan kebaikan hatinya mengizinkan Rukia memiliki semua ini, poin apa yang ia dapat dengan terus menyesalinya. Lagi pula Raja memberinya fasilitas ini untuk Rukia nikmati, bukan untuk ia sia-siakan.
Satu bulan berjalan bagai kedipan mata. Rukia sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang, Kyoko juga dengan sabar mengajarinya tentang detail protokol-protokol kerajaan yang harus Rukia ketahui. Rutinitasnya sebagai seorang selir, selain memberi penghormatan pada Ibusuri setiap tiga hari sekali, yang Rukia lakukan hanya sesekali berbincang dengan selir lain yang kadang datang ke tempatnya untuk menghilangkan kejenuhan. Pada minggu pertama, setiap harinya Rukia selalu merasa was-was menunggu kunjungan Raja untuk melakukan malam pertama, namun hingga bulan terlihat membulat di atas langit sana, Raja tak juga menginjakan kaki di kediamannya. Kyoko kadang khawatir jika Rukia mulai merasa cemas, tapi justru sebaliknya, Rukia sama sekali tak terlihat terganggu, bahkan dari hari ke hari Rukia lebih sering menunjukan ekspresi lega? Kyoko tanpa ia ketahui sering menaikan alisnya heran. Gadis itu selalu membuatnya terkejut, sebagai wanita bangsawan Rukia memang memiliki kepribadian yang bebas, yang mana juga diluar perkiraannya, begitu pula dengan kebiasaan Rukia yang bisa tertidur kapan pun gadis itu merasa menginginkannya. Kesukaan Rukia memakan sesuatu yang manis juga tak luput dari perhatiannya, maka pada waktu tertentu Kyoko akan memerintahkan pelayan di dapur untuk membuatkan nyonya mereka berbagai camilan manis.
Tapi dalam hatinya ia diam-diam bersyukur karena Rukia bukan majikan yang kejam dan merepotkan. Kyoko justru senang bisa melayaninya.
"Rukia-sama? Boleh aku masuk?"
Bunyi ketukan pintu terdengar beberapa kali, Rukia berguling ke samping, menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, pura-pura tidak mendengar. Tapi jangan mengira Kyoko akan menyerah begitu saja, karena gadis itu pasti akan kembali lagi untuk mengetuk pintu, memastikan kalau tiba-tiba Rukia sudah terbangun.
Dan setelah itu, Rukia yang luluh dengan kesabaran gadis ini akan membuka setengah matanya, kemudian mengeluarkan suara lemah. "Masuklah."
Dengan hati riang Kyoko memasuki kamar Rukia, meletakan baskom berisi air hangat. Kyoko membantu Rukia bangun, memposisikannya untuk duduk. Kedua violet itu masih terus disembunyikan oleh si pemilik, seperti layaknya rembulan yang hanya menunjukan bentuk penuhnya di waktu tertentu.
"Rukia-sama, biarkan aku membasuh wajah anda." Kyoko mengambil kain sutra yang telah disiapkan, mencelupkannya pada air hangat. Setelah memastikan Rukia mengangguk, gadis itu pelan-pelan mulai mengusapkannya pada wajah putih pucat itu.
Sesekali Kyoko akan melihat Rukia tersenyum kecil, itu tandanya Rukia sudah mulai merasa nyaman dan bersedia untuk membuka matanya. Turun dari ranjang, Rukia berdiri, merentangkan kedua tangannya untuk mempermudah Kyoko membasuh tubuh dan membantunya berganti pakaian.
Kimono hijau tua dengan motif bunga-bunga kecil membalut tubuh ramping Rukia, rambutnya yang sehitam bulu gagak diikat ke atas. Bibirnya yang sudah semerah ceri dipoles tipis menggunakan pemerah bibir.
Rukia berjalan keluar, menghirup udara segar. Duduk di depan ruangannya, Rukia menyesap teh yang telah Kyoko siapkan.
"Aku akan memberitahu mereka untuk menyiapkan sarapan."
Rukia mengangguk sekilas, mengantar kepergian Kyoko ke dapur paviliun.
Punggung Rukia menyandar pada kursi, tersenyum tipis, Rukia menghirup dalam energi positif yang berada di sekitarnya, lalu menatap jauh pada langit pagi yang biru.
Rukia tidak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah sedamai ini. Kali ini Rukia harus mengakui kalau kakak tercintanya tidak salah mengambil keputusan. Pasalnya tidak seperti dulu, sekarang Rukia tidak perlu lagi mengikuti pelajaran merajut, tata krama dan sejenisnya. Rukia hanya perlu sesekali menahan kantuk ketika Ibusuri dan selir lain melakukan perbincangan monoton pada saat melaksanakan kunjungan rutin, selain hal itu yang ada hanyalah hari-hari penuh kedamaian, Rukia bisa melakukan apa pun yang ia mau, tidak akan ada orang yang berani melarang atau memarahinya, asal Rukia tidak sembarangan keluar dari paviliun.
Humph! Lagi pula siapa orang bodoh yang ingin menghabiskan tenaga untuk menyelinap pergi keluar sana hanya karena alasan bosan? Tentu saja, para selir yang tidak mengerti cara menikmati hidup, tidak seperti Rukia.
Terhanyut dalam pikirannya sesaat, Rukia tidak sadar kalau Kyoko sudah kembali dengan beberapa pelayan lain. Setelah memberi perintah menggunakan gerakan tangan, dengan cekatan para pelayan itu mulai memenuhi mejanya dengan berbagai hidangan.
Sup ayam dan bermacam hidangan sederhana yang berbahan sayur menggugah selera makan Rukia, meski tidak terlihat mewah, semua bahan yang digunakan merupakan yang terbaik.
"Kalian boleh pergi."
Memberi instruksi agar mereka meninggalkan keduanya, Rukia mengambil sumpit, menunjuk satu per satu mangkuk di hadapannya.
"Hari ini istana akan mengadakan hanami. Apa Rukia-sama akan pergi melihatnya?"
Ketika Kyoko menanyakannya, Rukia sedang meneguk teh. Gadis itu mengangguk. "Tentu saja. Aku bosan terus berada di tempat ini."
Bohong. Rukia sama sekali tidak berniat meninggalkan paviliunnya. Lagi pula di sana pasti akan ada banyak orang yang datang, Rukia tidak terlalu suka berada di tengah-tengah keramaian. Apalagi ini merupakan acara tahunan, dimana istana akan membuka gerbangnya untuk masyarakat umum melakukan hanami di pelataran istana. Semua orang bisa berpartisipasi untuk melihat bunga sakura yang mekar sempurna. Dan konon katanya, istana memiliki pohon sakura yang paling indah di negeri ini.
"Benarkah? Aku tidak sabar ingin melihatnya lagi tahun ini," ucap Kyoko. Meski ekspresinya terlihat tenang, Rukia tahu gadis ini sangat antusias.
"Tapi, aku akan pergi saat malam tiba. Aku yakin akan lebih menyenangkan jika kita melihatnya dalam kegelapan."
Rukia berbohong lagi. Sesungguhnya ia hanya berpikir kapan waktu yang tepat saat tidak ada banyak orang di sana.
"Baik."
Rukia tersenyum memandang Kyoko, tidak percaya ia melakukan ini demi kebaikan pelayanannya. Gadis ini masih muda, namun dia tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati indahnya hidup seperti apa yang dirinya lakukan. Dan lagi, semenjak Rukia memasuki istana, ia tidak pernah sekali pun keluar dan pergi berkeliling, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk menghirup udara bebas.
Meneguk tehnya lagi, Rukia selesai dengan sarapannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Rukia melangkahkan kaki keluar paviliun. Tidak seperti perkiraan Rukia, pelataran istana masih tetap ramai di kunjungi warga kota dari berbagai kalangan. Kaum bangsawan, pedagang, dan rakyat biasa semuanya bercampur menjadi satu di bawah guyuran kelopak sakura.
Rukia membungkuk sekilas pada kerumunan wanita berparas cantik itu, sebelum memutuskan mengundurkan diri. Jika Rukia tidak melakukannya, mungkin bibirnya tidak akan bisa kembali normal, bibirnya terasa kram karena terus dipaksa tersenyum.
"Humph! Dasar wanita bermuka dua!" Di samping Rukia, Kyoko mendengus sebal. Matanya sekali lagi melirik ke arah para selir yang terlihat asik mengobrol.
"Apa yang kaubicarakan?" Rukia memijat area bibirnya ringan, ia merasa bibirnya belum juga kembali ke tempat semula.
"Mereka hanya berpura-pura baik di depan Rukia-sama. Tapi di belakang, mereka selalu berbicara buruk tentang Rukia-sama."
"Hm, apa ini soal rumor itu?"
Oh ya, Rukia hampir lupa soal rumor yang sedang beredar di paviliun selir. Mengenai Raja yang tak kunjung juga datang ke tempatnya. Rukia tidak tahu mengapa persoalan itu dihubungkan dengan alasan dibalik keputusan Raja memilihnya sebagai selir. Rumor yang beredar mengatakan bahwa alasan mengapa Raja mengambil Rukia sebagai selirnya adalah karena ia datang dari klan Kuchiki. Sementara semua orang tahu kalau klan Kuchiki memiliki pengaruh yang cukup besar di antara klan bangsawan yang lain, apalagi jabatan tinggi mereka di istana, mereka secara tidak langsung menjadi pendukung Raja karena keberadaan Rukia sebagai selirnya. Belum lagi setelah mereka melihat Rukia secara langsung, dibanding selir yang lain Rukia memang tidak mempunyai penampilan yang istimewa, jangan lupa mengenai hobinya yang suka tidur.
Dari apa yang Rukia dengar melalui mulut Kyoko, kabar ini sudah sampai ke telinga Ibusuri, bahkan menjadi topik hangat pembicaraan tukang cuci di paviliun. Tidak heran Rukia sering melihat para pelayan tersenyum aneh sambil menatapnya.
Hah! Benar-benar merepotkan. Rukia tidak pernah peduli apakah Raja menyukainya atau tidak. Rukia juga tidak menginginkan hal semacam ini menimpanya, ia hanya mencoba memanfaatkan keberuntungan yang datang kepadanya, apa itu salah? Bahkan jika Rukia harus keluar dari istana sekarang, ia tak akan keberatan.
"Haah, sangat melelahkan, kepalaku pusing." Rukia memijat pelipisnya lembut, lalu melirik gadis di sampingnya, meminta Kyoko untuk melakukan hanami sendiri saja. "Setelah kau selesai, cari aku di sebelah sana." Telunjuk Rukia mengarah pada pohon sakura yang tumbuh tinggi di pelataran istana paling ujung.
Kyoko mengangguk pasrah, sedikit khawatir, tapi tampaknya Rukia sedang ingin menyendiri. Kyoko pikir mungkin Rukia belum terbiasa bersama pelayan pribadinya sepanjang waktu. Lagi pula menuruti perintah Rukia adalah salah satu tugasnya. Seakan disihir oleh keindahan sakura di depan matanya, Kyoko langsung melupakan Rukia yang mulai menghilang di telan lautan manusia.
Rukia berjalan mengikuti jalan setapak, berbalik gadis itu memastikan kalau dirinya sudah cukup jauh dari keramaian. Mengembuskan napas lega, Rukia mengistirahatkan tubuhnya di atas karpet rumput. Sudah lama sejak ia berbaring memandang langit penuh bintang di alam terbuka. Dulu sewaktu ia kecil, Rukia sering melakukan ini untuk membantunya tidur nyenyak dan selalu berakhir dengan kakaknya yang menggendong Rukia ke dalam kamar jika ketahuan. Tapi setelah dirinya beranjak remaja, kakaknya melarang keras Rukia untuk tidak melakukannya lagi.
Diam-diam Rukia mengembangkan senyum. Suasana ini benar-benar membuatnya merindukan rumah sekaligus membawa rasa kantuk. Segera saja Rukia menggunakan kedua tangannya menjadi bantal, dengan posisi menyamping Rukia memejamkan matanya damai.
Suara langkah banyak kaki yang berasal dari jalan setapak itu bahkan tak cukup ampuh untuk menganggu tidurnya. Pastilah Rukia tidak menyadari kalau rombongan itu berhenti tak jauh dari tempatnya berbaring.
Kimono berwarna putih dengan lotus merah muda yang menempel di kainnya terlihat kontras dengan kegelapan malam. Namun kurangnya pencahayaan di area itu tak membuat Ichigo salah mengenali orang ini.
Bibirnya menarik senyum ketika menyadari bahwa wanita yang tengah tertidur di sana adalah wanita yang sama yang beberapa minggu belakangan membuatnya bertingkah bodoh. Ichigo sampai malu jika mengingat dirinya yang selalu merasa tidak siap setiap kali merencanakan kunjungan ke Paviliun Barat. Padahal ia tidak pernah merasa seperti ini terhadap selir-selirnya yang lain.
Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya? Ichigo sudah mempertanyakannya puluhan kali.
Ekspresi tidak nyaman Ichigo membuat Ishida yang berada di belakangnya tersadar akan sesuatu. "Haruskah kita membangunkannya, Yang Mulia?"
"Tidak perlu. Kelihatannya dia lelah. Panggil pelayan pribadinya untuk menemani," kata Ichigo tenang.
Ishida mengangguk paham. Mereka kembali melanjutkan perjalan setelah Ishida memerintahkan salah satu pelayan untuk memanggil Kyoko.
Sementara itu dalam mimpinya, telinga Rukia menangkap kegaduhan.
"Cepat tangkap!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
"Ke sana! Ke sana!"
Keributan itu terdengar sangat nyata bagi Rukia. Namun tubuhnya tak mau diajak bekerja sama, ingin menggeliat saja rasanya sulit. Pada akhirnya Rukia tetap berbaring di sana meski ia jelas mendengar banyak suara pasang kaki yang berlarian menuju ke arahnya.
Pada saat itulah Rukia merasa kakinya terserang rasa sakit yang luar biasa karena terinjak kaki seseorang.
"Hya!" Rukia menjerit, tubuhnya berguling dan berakhir pada posisi tengkurap.
Situasi sebenarnya bukanlah mimpi Rukia belaka. Pelataran istana menjadi gaduh setelah diketahui ada pembunuh bayaran yang berhasil menyusup masuk, penjaga gerbang yang sudah menaruh curiga sejak awal terus mengikuti gerak-gerik penyusup itu hingga membuatnya panik dan mencoba kabur. Malang bagi penyusup itu, ia mengambil jalur yang salah hingga para penjaga bisa dengan mudah mengepungnya.
"Jatuhkan senjatamu!" Kepala Penjaga berteriak dengan mengacungkan pedangnya.
Rukia yang masih tidak sadar tengah berada dalam bahaya belum merubah posisinya, ia mengutuk pada siapa pun yang sudah menginjak kakinya dan menganggunya tidur. Berencana untuk kembali ke alam mimpi, tiba-tiba sebuah pergerakan asing membawa kesadaran Rukia ke alam nyata. Tubuh Rukia terasa melayang saat seseorang menarik bagian belakang pakaiannya secara paksa. Badannya yang kurus harus berbenturan dengan badan keras milik pria lain, tidak normal jika Rukia tak menjerit, kan?
"Kyaa!" Jeritnya.
Rukia langsung ingin mengeluarkan protes jika saja ia tidak melihat benda panjang nan mengkilap menempel di dekat lehernya. Kedua matanya membulat, sepenuhnya sadar.
"Jangan mendekat atau kubunuh wanita ini!" Kali ini si penyusup yang memegang kendali. Sepertinya orang ini hanya rakyat biasa yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Raja yang sekarang. Jika dia memang pembunuh profesional, seharusnya dia bukan orang yang mudah panik dan bertindak ceroboh.
Dan sekarang, Rukia sangat mengasihaninya karena telah salah memilih sandera.
"Ah, Tuan Penyusup, andai saja kau tahu aku hanya seorang selir yang tak dianggap."
Sayang, ratapan di dalam hati Rukia tak sampai ke telinga si penyusup, jika dia dapat mendengarnya mungkin dia akan sangat menyesal setelah ini.
Dari arah depan Raja datang dan membuka barikade. Kepala Penjaga langsung menghampiri Ichigo untuk meminta perintah menjatuhkan penyusup itu. Namun Ichigo memerintahkan mereka untuk menahannya sejenak, mereka tidak boleh gegabah, lagi pula Ichigo juga tak ingin Rukia ikut terluka jika mereka melakukan tindakan ceroboh.
"Lepaskan dia!" Meski ekspresi Ichigo saat ini terlihat setenang danau, hatinya tengah bergemuruh layaknya perut bumi. Apalagi setelah mendengar jeritan Rukia yang membuat hatinya terasa perih karena suatu alasan yang tidak jelas.
Sementara itu di pihak Rukia, gadis itu terus saja menahan napas, jantungnya berdegup kencang tiap kali lehernya tak sengaja menyentuh logam tajam itu. Semua ini gara-gara tangan penyusup nekat itu yang terus saja gemetar, dan tambah bergetar lagi ketika target utamanya telah muncul sambil menyatakan perlawanan. Mau tidak mau Rukia harus mencari cara agar orang ini tidak ceroboh menggerakan tangannya yang bisa saja berakibat pada berjumpanya Rukia dengan Dewa Kematian lebih cepat dari takdirnya.
Cara satu-satunya yang dapat ia tempuh adalah bernegosiasi.
"Tu-Tuan Penyusup Yang Terhormat, kumohon tenangkan dirimu. Raja sudah berada di sini, mari kita bicarakan masalah ini secara baik-baik." Walau Rukia sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, setidaknya ia harus menenangkan orang ini dan menyuruhnya menyerah secara baik-baik untuk menghindari jatuhnya korban.
"Diam kau! Dan kau juga, Raja Sialan! Jika kau menginginkan wanita ini selamat, serahkan nyawamu sebagai gantinya!" Kata penyusup itu.
Pernyataannya sontak semakin membuat Rukia berkeringat dingin. Yang benar saja! Bahkan nyawa sepuluh orang seperti Rukia tidak akan cukup untuk menukarnya dengan nyawa Raja.
"Tuan Penyusup Yang Terhormat, kumohon letakan pisaumu. Apa pun yang ingin kau keluhkan, Raja pasti akan mendengarnya." Rukia mencoba membujuknya lagi.
"Sudah kubilang diam! Dan lagi, aku memegang pedang! Bukan pisau!" Teriaknya kian emosi.
Rukia sempat menahan napas saat pedang itu menggoda kulitnya. "O-Oh, kalau begitu, Tuan Penyusup Yang Terhormat, silakan letakan pedangmu dan bicaralah pada Raja. Aku tahu, untukmu sampai mempertaruhkan nyawamu datang kemari, kau pasti punya sesuatu yang ingin disampaikan." Rukia entah bagaimana merasa sedikit simpatik.
"Diam! Diam! Kau tidak tahu apa-apa! Yang aku inginkan hanyalah membunuh Raja sialan itu!"
"Baiklah, baiklah aku mengerti. Jadi, Tuan Penyusup Yang Terhormat ..."
"Argh! Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh itu!"
Ichigo ingin sekali tertawa. Tidak, tidak, ia tidak boleh tertawa. Tapi, tapi, percakapan yang Rukia lakukan dengan penyusup itu terdengar lucu jika terjadi dalam keadaan seperti ini. Ichigo pikir, gadis ini selalu membuatnya tersenyum dan tertawa di manapun dirinya berada.
Ah, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya. Ichigo harus mengambil tindakan selagi Rukia mengalihkan perhatian si penyusup.
"Tangkap penyusup itu, tapi jangan sampai sanderanya terluka."
"Baik!"
Pergerakan tiba-tiba para penjaga itu membuat sang penyusup terkejut, mendesaknya untuk melakukan hal nekat. Orang itu melempar Rukia kasar, mengambil kuda-kuda dan segera menghunuskan pedangnya pada Raja yang hendak menangkap Rukia. Namun karena penyusup itu mendorong Rukia terlalu kuat, Rukia tidak jatuh ke pelukan Raja melainkan jatuh di bawah dadanya. Mata pedang yang seharusnya menembus jantung Raja justru mendarat pada bahu kanan Rukia.
Kimono putih itu kini di penuhi darah segar, disusul pandangan Rukia yang menggelap. Sebelum jatuh tak sadarkan diri, Rukia mendengar suara berat seseorang berteriak di dekat telinganya.
"KUCHIKI RUKIA!"
Ah, siapa yang akan menyangka kalau ternyata Raja mengingat namanya.
TBC
[Balasan review untuk geust]
[70v3nim] Ahaha ... cerita ini memang sederhana. Ok, ini udah dilanjut. Terima kasih, ya :D
[Mozuotaku] Yup, aku juga suka tema-tema kayak gini. Dan setuju banget soal Rukia dan kimono-nya XD Terima kasih, ya.
[malas login] Thanks. Yup, kita lihat nanti gimana takdir Rukia XD
[Geust] Hehe ... thanks. Yup, ini udah dilanjut, ya :D
Oke deh, sampai ketemu di chapter selanjutnya!
